#HAPPY2NDANNIVERSARY – [VIGNETTE] Maquillage

maquillageKSF

Piqueen || Bae Suzy, Wu Yifan || Vignette || Fluff, Romance (so chessy) || PG-15

pi says ::

HAPPY 2ND ANNIVERSARY KINGDOM OF SUZY’s FANFICTION

thanks for owner yang telah mendirikan blog yang dikhususkan untuk Suzy ^^ juga telah mau menerima author yang moodnya abal abal kek Pi ><

Wishes nya semoga blog ini akan selalu aktif apapun yang terjadi sama real idolnya, selalu bisa menyertai langkah idola kesayangan kita (re : Suzy) semoga blog nya semakin berkembang dan menjadi satu satunya blog yang aktif di FF khusus Suzy ^^

Summary ::

“Aku lebih menyukai polesan makeup alamimu karena aku, dear.”

here

we

go

and the story begin…

Kecepatan mobil audi berwarna putih membelah jalan kota Seoul yang masih saja padat diwaktu yang melangkah menuju malam hari. Pukul delapan malam dikategorikan sebagai jam dimana para pekerja kembali dari rutinitas kantornya menuju tempat mereka beristirahat, baik itu rumah maupun kedai soju dipinggiran jalanan Seoul. Jadi, tak heran jika lalu lintas kota itu masih ramai.

Pengendara mobil audi putih itu menjejalkan kembali kaki panjangnya yang beralaskan sepatu pantofel hitam pada pedal gas mobilnya membuat laju mobilnya semakin cepat, meluncur bak anak panah yang terlepas dari busurnya. Sementara sang pengemudi dengan tenang menjejalkan kaki panjangnya ke pedal gas, gadis yang duduk dikursi penumpang hanya bisa menyumpah serapah kecil, dengan tangan kirinya yang memegang cermin sementara tangan kanannya mencoba memoleskan bedak tipis dan sapuan blush on ke wajahnya membuat sang gadis kerepotan menyamakan polesannya karena mobil yang ditumpanginya bergerak lincah menyalip kendaraan lain di depan, kanan, kiri mencari celah jalan.

Ya!! Wu Yifan!! Bisakah kau sedikit mengurangi kecepatanmu dan mengurangi gayamu berkendara? Kau lihat aku sedang mengoles makeup.” Wu Yifan-sang pengemudi, hanya bisa memiringkan bibirnya mengulas senyum kecilnya yang  membuat lengannya menjadi sasaran empuk tangan halus namun pedas saat beraksi -menampar kecil atau tepatnya menepuk sedikit keras- milik gadis yang tengah berkomat kamit tidak jelas disampingnya. “Bisakah kau hati-hati?” Pekik gadis disamping Wufan -Sooji- ketika mobilnya hampir bersentuhan dengan sebuah mobil lain yang tengah didahuluinya, ia mencengkeran lengan Wufan seolah ikut mengerem, namun Wufan tetaplah Wufan ia malah semakin menjejal pedal gasnya.

Sementara Wufan masih tidak peduli dengan pekikan pekikan kecil dari mulut Sooji, gadis itu dengan tidak sabar memukul lengan kokoh Wufan yang membuat mobil yang mereka tumpangi sedikit oleng. Wufan melirik gadis yang kini telah menurunkan cermin dan membereskan beberapa helai anak rambutnya, “Kau tidak sayang umurmu huh? Untung aku sudah memiliki sertifikat mengemudi sejak aku berumur lima belas tahun, jadi sedikit sentuhan tanganmu tidak membuatku kehilangan kendali.” Ucap Wufan santai.

Yaaa!! Kau yang tidak sayang umurmu sendiri. Kau mengemudi dengan brutal membuat jantungku yang malang harus berdentam-dentam tak normal.” Jawab Sooji dengan kesal. Ia memegang dadanya dan masih merasa jantungnya itu berdetak tak normal seperti biasanya karena laju mobil yang ditumpanginya diatas rata-rata.

“Salahkan dirimu, aku sudah mengingatkanmu untuk bersiap pukul tujuh, dan kau lihat? Bahkan pukul delapan lebih lima belas menit kita masih dijalanan sementara acara dimulai pukul delapan. Daebak.” Balas Wufan dengan nada sarkastik yang membuat Sooji diam karena kalah.

Lelaki itu benar, ia yang membuat keduanya terlambat untuk sebuah acara penting. “Tapi, itu salahmu juga, jika saja kau mau mengantarku mengambil…”

“Aku juga mempunyai tanggung jawab lain mengambil sesuatu yang penting Sooji.” Wufan memotong alasan yang siap dilontarkan Sooji, membuat gadis itu mengerucutkan bibirnya lucu merasa kesal dan kalah untuk kedua kalinya. “Kau selalu menyalahkanku, terus saja menyalahkanku.” Merasa tidak terima kalah, Sooji mengeluarkan kartu as andalannya, merendahkan dirinya menyalahkan dirinya dengan suara yang dibuat semenyedihkan mungkin agar Wufan mengalah dan akhirnya ia yang menang.

Wufan melirik kearah Sooji yang menunduk dari kaca tengah mobilnya, ia menangkat tangan kananya kepucuk kepala Sooji mengacak rambut gadis itu pelan, “Aku sudah hafal tabiat dan kelakuanmu saat kau merasa terpojok, dear.” Ucap Wufan diiringi tawa kecil yang membuat Sooji mendengus karena kartu as nya sudah tidak mempan untuk lelaki itu. Ia kembali menyibukkan diri dengan kaca serta beberapa peralatan makeup dan lipsticknya tak mempedulikan tatapan Wufan yang menghujam kearahnya. Singkatnya, ia merasa marah. Marah yang kekanakan, seperti anak kecil yang meminta permen kapas ketika di taman hiburan tapi ditolak oleh sang ibu.

**

Sooji turun dari mobil milik Wufan setelah lelaki yang dengan gaya gentlenya membukakan pintu disampingnya. Ia menerima uluran tangan Wufan yang menuntunnya masuk ke sebuah hotel kelas A menuju ballroom. Ia menggenggam tas tangannya dengan gugup, ia tak pernah berada di acara yang membuatnya harus tampil anggun seperti ini meski ia sudah ribuan kali menghadiri pesta kolega ayahnya tapi ia baru sekali ini menghadiri sebuah acara yang penting, jauh lebih penting daripada sekedar pesta perkumpulan kaum elite pengusaha seantero Seoul.

Wufan menepuk pelan tangan Sooji yang melingkari lengan kirinya, menenangkan sang gadis yang terlihat gugup. “Oh no!” pekik Sooji setelah beberapa langkah ia memasuki ballroom. Ia berhenti sejenak didepan pintu besar yang terdapat cermin besar, ia menatap pantulan wajahnya dicermin dan menyadari adanya sedikit coretan lipstick merah disudut bibirnya, selain itu ia juga menyadari bahwa blush on di wajahnya yang tadi ia perbaiki di mobil dengan kecepatan tinggi malah membuat warna wajahnya menjadi tidak karuan, paduan warna merah yang terlihat berbeda dipipinya.

Wufan menoleh kearah Sooji yang masih menatap pantulan wajahnya di cermin, ia melirik menyadari mereka menjadi pusat perhatian karena pekikan Sooji yang cukup keras. “Kau kenapa?” Wufan menepuk pelan tangan Sooji yang membuat gadis itu menghadapkan tubuhnya kearah Wufan dengan kedua telapak tangannya yang menutupi bagian wajahnya, dan Wufan menarik keatas sebelah alisnya karena kelakukan gadis didepannya.

“Kenapa kau menutupi mukamu? ada yang salah huh?” Tanyanya, sementara Sooji menggeleng. Ia melepas satu tangannya dan memukul kecil dada bidang Wufan, “semua gegara kau, Wu Yifan. Jika saja kau tidak melajukan mobilmu dengan kecepatan tinggi tidak akan seperti ini.” Pekik Sooji lirih, ia masih saja tidak mau memperlihatkan wajahnya membuat Wufan mengerutkan wajahnya.

Ia menatap Sooji sebentar semantara ia masih merasakan pukulan kecil didadanya yang berasal dari tangan Sooji, ia mendekat kearah Sooji menyingkirkan tangan Sooji yang menutupi wajahnya dan memperhatikan dengan saksama apa yang dimaksud gadis didepannya. Ia tersenyum ketika ia menyadari apa yang membuat gadis itu menutup wajahnya.

Dengan tenang Wufan mengangkat tangannya meraup wajah cantik Sooji, ia tersenyum saat mata Sooji mengerjap seiring wajahnya yang mulai mendekat, Wufan memiringkan kepalanya membuat bibirnya bersentuhan dengan bibir plum Sooji yang berwana merah, dengan gerakan perlahan ia menggerakkan jemarinya dipipi Sooji seolah menyeimbangkan polesan blush on pada wajah gadisnya.

Ia melepas kecupan singkatnya, kembali menatap wajah Sooji yang memerah karena tindakan Wufan yang tiba-tiba dan berada ditengah-tengah kerumunan banyak orang yang merupakan kolega dari keluarga keduanya. Wufan mengusap sudut bibir Sooji merapikan warna merah dari lipstick yang dikenakannya.

“Sepertinya kita tidak perlu lagi memasukkan acara inti dari pesta pertunangan antara Wu Yifan dan Bae Sooji mengingat keduanya telah memberikan kita suguhan yang lebih dari sekedar bertukar cincin.”

Suara yang terdengar dari depan panggung seolah menyadarkan Wufan dan Sooji bahwa mereka bahkan belum menemui kedua orang tua yang sudah menunggu kedatangan keduanya di meja paling depan. Kedua insan itu akhirnya melanjutkan langkahnya menuju depan panggung dengan iringan tepuk tangan dari para hadirin dengan menahan malu.

“Kau terlihat cantik dengan blush on alami yang telah ku buat,” goda Wufan ditengah langkahnya menuntun Sooji kearah kedua orang tua mereka yang menunggu dengan senyum lebar Sooji melirik Wufan dan  menyikut perlahan rusuk pemuda tampan itu. “Semua karenamu, Wu Yifan…..” geram Sooji.

Wufan menghentikan langkahnya, “salahku ?” ia mengangkat sebelah alisnya bertanya.

“Kau yang membuat tatanan makeupku berantakan padahal aku sudah berada di salon sejak pukul dua belas siang. Kau merusak rencanaku berjalan dengan anggun, dan sekarang kau merusak dengan…” belum selesai Sooji berucap Wufan sudah kembali merapu wajahnya, mendekatkan bibirnya sampai bertemu dengan bibir milik Sooji.

“Aku lebih menyukai polesan makeup alamimu karena aku, dear.” Ucap Wufan disela sela kecupannya, dan ia dapat mendengar lagi tepukan tangan yang mengiringi aksinya saat ini.

–kkeeuutt–

nb. Maquillage itu artinya riasan dari bahasa Perancis ^^

sincerely, Pi.

12 responses to “#HAPPY2NDANNIVERSARY – [VIGNETTE] Maquillage

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s