#Happy2ndAnniversaryKSF Apocalypsoo

apocalypsoo Apocalypsoo

xianara | Bae Suzy / Lee Jongsuk, Park Shinhye, Xi Luhan | Adventure,  AU, Romance, slight! | Teen and up | Onehot (6554 words count) | disclaimer: beside the story and poster I own nothing!

special thanks for liakyu

special dedication for all readers that been thru many hardworks together with us within 2 years! 🙂

 –

“All the things we shared colors in my heart every day. A nameless and lonely island connect me to you again with the same light. We are made as one, forever as we look at each other.” Islands – SUPER JUNIOR

Happy Birthday KSF! ❤

Washington D.C. March 24, 2014.

“BREAKING NEWS! Jumat siang, pesawat sukhoi milik kantor berita CNN hilang kontak pada pukul 14:15 setelah meminta izin untuk naik sampai ke titik 30.000 kaki. Pesawat yang bertolak dari Isla Mederao tersebut mengangkut 10 penumpang, termasuk 5 awak kapal, pilot dan co-pilot, serta ketiga jurnalis CNN; Jongsuk Lee, Shinhye Park, dan Xi Luhan. Mereka bertiga berkunjung ke Penjara Isla Mederao guna menginvestigasi fakta dan kebenaran yang selama ini disamarkan oleh Gedung Putih demi kepentingan golongan … “

-Apocalypsoo-

Alkisah di sebuah pulau tak bernama, terdapat tiga makhluk hidup ciptaan Tuhan yang saling bersahabat. Mereka di antaranya: monyet berbulu abu tak berekor, panther albino yang masih balita, dan seorang gadis berkulit putih lesi namun kumal.

Si gadis tersebut tersenyum; memamerkan deretan tulang berbentuk kubusnya ketika menyuapkan kedua sahabatnya itu setandan pisang California jumbo.

“Hei hei Arbeloa! Makannya pelan-pelan dong! Kalau terburu-buru seperti itu nanti kau tersedak. Masalahnya di sini tidak ada klinik hewan untukmu.”

Aikkk, aikkk, “ jawab si monyet bernama Arbeloa itu yang bisa diartikan: Oke oke!

Sang gadis segera beralih ke samping Arbeloa, di mana terdapat seekor panther albino balita menatapnya setengah protes karena belum kebagian. Hewan buas bertaring yang tampangnya sangat menggemaskan itu sedikit mendengus.

Grraaauum, “ deram si panther dengan suara agak sengau.

“Oh Dear. Pisangnya tinggal sedikit. Arbeloa makannya banyak. Bagaimana ini?” Ia menatap jengkel pada Arbeloa yang cengar-cengir sambil mengusap perut buncitnya. “Aduh, aku juga lapar. Bagaimana kalau kita berbagi?” Si gadis memberikan solusi pasti.

Panther albino itu mengangguk senang. Sang gadis pun segera melahap pisang California itu sehingga tersisa separuh. Lantas ia tidak langsung mengunyahnya, melainkan menyuapi si panther albino itu dengan mulutnya. Ya, dengan mulut!

“Bagaimana? Rasanya enak, ya? Ya sudah pisang ini untukmu saja, Jaggu.” ucapnya sembari membelai rahang mungil milik Jaggu – nama panther albino itu .

‘Kreek! Kreeetek!’

Terdengar suara deritan ranting kering yang terinjak. Jaggu dengan sigap bangkit dari posisinya, lantas menggeram dengan keras. Arbeloa malah bersembunyi di balik punggung si gadis. Kedua manik cokelat itu ikut menatap ke arah suara itu berasal: semak belukar buah mulberry magenta liar yang berjarak sekitar lima meter dari tempat mereka. Si gadis menahan Jaggu agar tidak menyerang. Ia maju perlahan, dengan Jaggu yang mengikutinya.

Ssst, “ Si gadis menempelkan telunjuk di atas bibir. Mendiamkan monyet yang bergelayutan sambil meringkik di lehernya.

Tepat saat ia akan menyibakkan dedaunan yang menghijau itu, teronggok sepasang kaki manusia berwarna biru lebam dan membengkak disertai luka sayatan yang menganga. Cairan berwarna merah pekat pun merembes di sekitar luka itu.

Grrrr!” Jaggu mundur selangkah. Panther albino betina itu tersentak. Ia pun langsung mengikuti Arbeloa yang bersembunyi di balik punggung kurus gadis itu. Jaggu fobia dengan darah.

Ia merangsek maju. Di balik semak belukar itu, ia menemukan sesosok pria yang mengaduh kesakitan. Wajahnya dibanjiri peluh. Tangan kanannya pun bertengger manis pada betisnya yang terluka.

Pria itu mendongak.

Ia memandang gadis itu dengan mata yang terbelalak. Gurat wajah pilunya berubah. Ekspresi tegang dan ketakutan terpancar jelas. Apalagi kalau bukan karena penampakan dua ekor hewan liar di balik punggung gadis itu.

Haaaa!” teriaknya kencang.

Jaggu yang biasa merengek pun dibuat mengerut di balik punggung sang gadis. Tak ketinggalan dengan Arbeloa yang mendekap panther balita bermental anak gajah itu erat.

Sang gadis memberengut. Ada apa dengan pria ini? Eh tunggu, kakinya terluka! Wah kalau tidak cepat diobati bisa infeksi! batin gadis itu.

Selanjutnya, ia berjongkok di hadapan pria itu.  Jangan-jangan gadis yang berjongkok di depanku ini wanita jadi-jadian, batin pemuda itu. Sang gadis yang masih belum diketahui namanya itu tidak tinggal diam. Begitu juga dengan pemuda itu.

“Kau?! K-k-kau! Kau manusia, ‘kan?!” serunya dengan nada yang menuntut sembari mengacungkan telunjuknya ke hadapan wajah gadis itu.

Si gadis mengangguk. Entah bagaimana bisa sebuah anggukan bisa membuat pria itu mengendurkan ekspresi ketakutan di wajahnya.

Jaggu dan Arbeloa sudah bisa menguasai diri mereka masing-masing. Mereka pun keluar dari persembunyiannya. Pria itu kembali memasang ekspresi mau matinya lagi. Melihat panther albino di depannya seketika membuat jiwanya terbang di awang-awang.

Si pria bongsor itu mempunyai mental kerupuk. Dua setengah detik kemudian ia pun ambruk.

Yaa?! Hei bangun!!! Aduh, malah pingsan. Hei, Jaggu ini semua gara-gara kamu! Hoo!”

Percikan air membasahi permukaan wajahnya yang kumal. Seketika pria itu pun tersadar. Ia mengerjapkan kedua matanya. Mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam kornea matanya. Ia pun mendapati sang gadis sedang membalurkan sesuatu pada luka di betisnya. Perih, itulah yang ia rasakan.

Aww!” pekik pria itu. Mendengar pekikan tersebut sontak si gadis menoleh ke arahnya. Ia pun segera menyelesaikan pengobatan pada luka sayatan yang cukup parah pada betis lelaki tersebut.

Haaaa!

Matanya menangkap seekor phanter yang menyipratkan air ke wajahnya langsung dari mulutnya, yang terlihat lebih seperti sedang meludahinya. Jaggu yang diteriaki seperti itu pun kaget. Lagi, ia kabur dari situ dan berlindung di balik tubuh mungil gadis itu.

“Kau siapa!?! Kau manusia, ‘kan?!!”

Mendengus pelan lalu tersenyum tipis. Si gadis meresponnya dengan dua aksi sederhana itu barusan. Ck, pria ini penggerutu ulung. Jangan lupa, dia juga penakut. Sementara sang gadis berusaha menahan kekehan melihat ekspresi super ketakutan yang dipancarkan pejantan tidak tangguh di depannya, lelaki itu segera meraba pergelangan tangan kirinya. Ekspresi gusar pun terpancar jelas di wajah yang sudah tidak jelas rupanya itu. Gelang USB-nya raib!

Ia pun langsung mengorek tanah di sekitarnya. Berusaha mencari benda keramat itu. Trio yang melihatnya pun ikut mengerutkan kening. Lebih tepatnya hanya seorang deh. Aha!

Gadis itu pun segera merogoh saku celananya. Ia tahu apa yang membuat pria di hadapann ini terlihat pusing delapan keliling. Ia sedang mencari keberadaan si gelang merah. Dengan senyuman yang tercetak di bibir ia pun menepuk lutut pria itu. Tidak mempan. Ia pun ganti menepuk pelan luka di betis pria itu yang telah diberikan obat olehnya tadi.

‘Pluk!’

Argghhhhhhh! Awwww!

Mendapat atensi dari pria yang masih teraduh di hadapannya, ia pun menggoyangkan gelang merah. Si pria berhenti meratap kesakitan.

Ketika penglihatannya mendapati gelang USB terkutuk itu, ia pun melolongkan lenguhan kecil. Sebelum ia mengambil paksa dari genggaman gadis yang masih anonim itu, sang gadis sudah terlebih dahulu menyodorkan gelang itu kepadanya.

“Kamu tidak ingin pingsan lagi, Tuan?”

Ha?!

“Hei? Kamu mengalami pergeseran otak atau bagaimana?”

“Tunggu, kamu bisa berbahasa juga?” Pertanyaan konyol seketika meluncur dari bibir pria itu.

Dua detik gadis itu menjatuhkan rahangnya. Selanjutnya, ia pun tergelak. Sampai-sampai dua temannya itu memandang aneh si gadis tapi mereka pun tetap mengikutinya. Tertawa.

“Kamu lucu sekali. Tentu saja aku dapat berbahasa. Aku manusia juga. Sama sepertimu. Tidak usah takut, lah!” ujar si gadis setelah menyetop gelak tawanya. Ia pun segera meyentil kepala Arbeloa yang masih berhaha-hihi ria.

Ternyata ia bukan wanita jadi-jadian.

“Wah! Baguslah. Hm, terima kasih.”

“Ya, sama-sama.”

Jaggu yang baru saja berhenti tertawa tanpa bersuara itu pun segera menatap pemuda itu. Jaggu tersenyum. Hal itu tentu saja membuat pria itu mundur ke belakang seketika. Pikiran terliarnya pun berkata kalau seekor panther yang tersenyum kepadanya ini sedang memikirkan menu apa yang enak untuk dimasak dengan tungkai dan tengkoraknya.

“Jaggu! Jangan menatap seperti itu! Ya, aku tahu kamu menyukainya tapi jangan agresif begitu dong! Tuh lihat, dia ketakutan.”

Mendapat teguran seperti itu membuat Jaggu memberingsutkan diri ke belakang. Masih dengan tatapan mengagumi yang tak luput dari matanya.

“Dia, di-dia memangnya mengerti kau barusan berbicara apa?”

“Tentu. Heh, sampai lupa. Terlalu lama berada di rimba sedikit membuatku lupa tentang tata krama, “ ucap si gadis sambil terkikik. Ia pun mengulurkan tangannya ke hadapan pria itu. Setelah sebelumnya ia menggosokan telapak tangannya yang berlumuran ramuan herbal pada rompinya yang kucel.

“Suzy. Siapa namamu?”

“Jongsuk. Lee Jongsuk.” Ia pun menerima sodoran telapak tangan gadis itu. Menjabatnya dengan kikuk.

-Apocalypsoo-

“Jadi kamu sudah setengah tahun terjebak di sini?” tanya Jongsuk sesaat setelah ia menggigit rakus sepotong melon kuning di tangannya.

“Ya, “ jawab Suzy sekenanya sambil menyuapi Arbeloa dengan tomat.

Kali ini mereka sedang melahap menu makan siang mereka berupa tomat merah yang sebesar kepalan tangan gorilla dan sebuah melon berdaging kuning berbentuk kotak. Jongsuk yang baru pertama kali menjumpai melon seperti itu pun langsung menghabisi menu makan siangnya itu tanpa protes dengan lahap.

Jaggu masih menatap pria itu penuh minat. Harap maklum. Jaggu ialah seekor phanter albino, betina. Wajar saja jikalau ia mendapati seorang pejantan yang cukup manis wajahnya seperti Jongsuk. Arbeloa, si monyet pun menyadari perubahan sikap Jaggu. Ia pun tak bisa berkomentar apa-apa – toh monyet itu memang tidak suka berbicara panjang lebar.

“Kamu pasti bukan turis asing yang sedah berlibur di Hawaii, ‘kan?”

“Bukan,” jawab Jongsuk cepat. “lalu, bagaimana denganmu? Apa kamu turis juga?” Jongsuk memindai pandangannya pada setelan gadis itu.

Setelan ala cowboy. Kemeja kotak-kotak bergradasi cokelat susu dan cokelat kayu yang kumal. Rompi kulit sapi sintetis yang rombeng. Tak lupa celana jeans yang lututnya sobek dan warnanya yang memudar.

“Ah tunggu, sepertinya kamu bukan seorang turis.”

“Aku seorang pilot.” tukas gadis itu cepat.

‘Uhuk!’

Jongsuk tersedak tomat yang ia kunyah. Arbeloa yang berada di sampingnya pun menggeser kelapa berisi air kelapa muda kepadanya. Ia pun langsung menandaskan air di dalamnya dalam sekali tenggak.

“Kalau sedang makan itu pelan-pelan, Bung!”

“Maafkan aku sebelumnya, tapi apa yang barusan kamu bilang? Pilot? Kamu seorang pilot? Ha?

“Kalau tidak percaya, ya sudah. Tak apa, “ ucap gadis itu sarkastik. Tidak menaruh minat berlebih pada tatapan ‘Demi apa kau? Sungguh!? Aku tidak percaya!’ Jongsuk kepadanya.

“Lalu kamu sendiri, bagaimana? Apa pekerjaanmu? Turis juga? Atau seorang tour guide? Kalau dilihat dari penampilanmu, hm, “ gadis itu menilik penampilan pria itu.

Kemeja bergaris berwarna biru langit yang berubah warna menjadi cokelat lumpur. Celana satin yang pendek sebelah panjang sebelah. Pfft. Gadis itu tertawa kecil melihatnya.

“Aku seorang jurnalis.” ujar Jongsuk dengan nada bangga.

Namun itu semua tidak dibarengi dengan munculnya gurat ketidaksukaan saat ia mengucapkannya. Ekspresi seperti orang yang malu dan menyesal. Suzy menyadari perubahan air muka pria itu. Eh, pria aneh.

“Hm, bagaimana kamu bisa terjebak di sini? Tadi kamu bilang, kamu seorang pilot? Apakah kamu ditinggal pesawatmu pergi di sini?” tanya pria itu bermaksud untuk mengalihkan pembicaraan.

Oh, itu, aku –  “ ucapan Suzy terpotong. Jongsuk tiba-tiba menempel ke arahnya. Ekspresi ketakutan kembali terpancar di wajah pucat pria itu.

“Jaggu, sudah kubilang ‘kan? Jangan menatap Jongsuk seperti itu!”

Jaggu menunduk lesu. Ia mundur seketika, berguling ke samping Arbeloa yang terkikik geli melihat teman panther-nya gagal melakukan penjajakan pada pria kota yang baru ditemuinya itu.

“Hei! Sudahlah, tak apa kok.”

Gadis itu menepuk bahu pria di sampingnya. Wajahnya sudah semerah tomat yang barusan dilahapnya. Suzy kembali tertawa kecil melihat mental anak kecil yang terperangkap dalam tubuh pria dewasa di dekatnya ini.

“Astaga. Kenapa kamu bisa berteman dengan hewan buas seperti dia?”

Yeah, mungkin aku sedikit gila.” Ia meloloskan satu kekehan kecilnya. “Jaggu sebenarnya baik. Dia melakukan itu hanya karena ia menyukaimu, “

“Apa?!” sentak pria itu. Ia menelan salivanya. “Wah kamu benar-benar wanita tidak waras!”

Well, aku berani bersumpah demi martil ibuku. Jaggu tertarik padamu!”

-Apocalypsoo-

“Lucunya!” sembur Suzy ketika melihat Jongsuk yang menghindar dari Arbeloa yang berusaha bergelendot padanya. Ia tidak bisa menahan tawa melihat ekspresi tidak senang Jongsuk. Setelah tawanya usai ia pun kembali memetik apel yang memerah dan segar langsung dari pohonnya.

He? Kamu sedang mengada-ada ya? Bagaimana kamu tahu kalau pesawatmu itu telah disabotase?”

“Terserah kamu sajalah.”

“Tunggu, bukankah kalian selalu melakukan pengecekan secara rutin sebelum terbang? Aneh sekali.“

Suzy berhenti menggapai buah apel yang menggelantung di dahan untuk sekedar menoleh ke pria di belakangnya. Ia pun hanya mengangkat bahunya tak acuh guna merespon kuesioner pria tersebut.

“Menurutmu, kita bisa keluar dari sini tidak?”

Jongsuk memutarkan kepalanya ke arah jam lima, menekuri gadis bertelanjang kaki itu mengumpulkan buah-buah yang akan disantapnya nanti. Suzy memberikan pandangan ‘Apa kabar diriku? Heh? Setengah tahun terjebak di pulau tak bernama ini!’

“Aku tidak tahu.”

Jongsuk mengangguk lemah seraya menelusupkan jemarinya ke rambut hitamnya. Pemikiran terjebak selamanya di pulau ini pun semakin kuat menghantui. Sungguh, ia juga tidak ingin terjebak di sini. Bersama dengan seorang gadis yang lebih mirip suku asli pulau ini, seekor monyet yang sensitif dan berbulu agak lebat, serta panther albino balita yang senantiasa menatap kagum kepadanya. Memikirkannya saja sudah membuat pria itu menua sepuluh tahun lebih cepat.

Suzy pun kembali memetik apel yang masak dari dahan pohon apel yang tidak terlalu tinggi tersebut. Arbeloa yang asyik berpindah dari satu dahan ke dahan yang lain hanya bisa memandang heran ke arah panther albino yang bersandar malas di dekat batang pohon yang tumbang itu. Rupanya, ia sedang memandang takjub pada Jongsuk yang tengah berusaha berdiri.

Pria itu memegang batang pohon apel yang belum berbuah sebagai tumpuan. Setelah dirasa tumpuannya cukup kuat, pria itu lantas berusaha bangkit sekuat tenaga. Mengabaikan rasa perih dan nyeri yang tidak terkira pada tungkainnya yang masih dibebat ramuan herbal racikan gadis itu.

Butuh waktu lama sampai ia mampu berdiri tegak. Namun pada akhirnya, ia bisa bangkit dan berdiri tegap sembari memegang batang pohon tersebut. Ia pun menghampiri Suzy yang membelakanginya dalam langkah yang tertatih-tatih. Sambil masih terus berpegangan dari batang pohon ke batang yang lain.

Setelah keranjang buah dari akar pohon cendana yang tersampir pada bahu gadis itu sudah penuh, ia pun membalikkan tubuhnya. Sontak gadis itu tersentak ke belakang. Karena mendapati pria yang baru 48 jam ia kenal, tengah berusaha menopang tubuhnya pada sebatang pohon tua itu.

Tidak peduli dengan rasa sakit pada luka yang dirasakan Jongsuk saat itu. Tidak peduli dengan Arbeloa yang terantuk kepalanya pada ranting pohon tumpul di depannya. Tidak peduli dengan kelatahan Jaggu ketika ia dikagetkan oleh koloni semut yang menyapanya. Tidak peduli pula dengan sensasi aneh yang terjadi di dalam perut gadis itu ketika ia mendapati dirinya dihujani senyuman ringkih pria itu.

“Eh, kakimu itu masih belum sembuh benar tahu!”

“Biarkanlah saja, “

Ck, dasar kepala batu.”

“Itu nama belakangku. “

Suzy mencibir pelan mendengar balasan pria itu. Ia pun segera menghampiri pria itu dan memapahnya  untuk berjalan. Lengan kanan pria itu pun disampirkan ke bahu mungil Suzy. Dengan langkah pelan, keduanya pun mulai berjalan meninggalkan kawasan pepohonan itu dan segera kembali ke tempat peristirahatan mereka. Jaggu dan Arbeloa pun mengikuti dari belakang.

Suara cicitan burung yang saling menyahut serta bunyi desingan angin yang menyapa gendang telinga Jongsuk selama perjalanan membuatnya merasa sedikit santai. Rasa penat yang melingkup seluruh jiwa dan raganya pun lenyap. Digantikan dengan perasaan rileks dan damai.

Setiap kali mereka melewati anak-anak sungai kecil mereka pasti akan berhenti sebentar. Entah untuk meminum airnya atau hanya sekedar berefleksi di atas pantulannya. Arbeloa dan Jaggu yang paling top. Keduanya tidak pernah melewatkan sesi mengaca di atas air itu. Tingkah keduanya yang terlihat konyol di mata Jongsuk pun mau tak mau membuat pria itu meloloskan tawa kecil ataupun cibiran tak penting pada keduanya.

“Pantas kamu betah tinggal di sini, “ ujar Jongsuk di sela-sela usahanya menebas ranting-ranting yang menghalangi jalannya.

“Hm, “

“Kamu tidak akan menemukan kepenatan. Kamu tidak akan merasakan hectic luar biasa saat bekerja. Kamu memiliki alam seutuhnya. Tidak perlu dipusingkan oleh deadline yang mencekik leher. Kamu bebas melakukan apa saja sesukamu. Kamu, ya pokoknya kamu merasa bahagia di sini. Aku benar ‘kan?”

“Hm, “

He? Kenapa hanya ‘Hm, hm, hm’ saja?”

Suzy menghentikan langkahnya lantas menoleh ke belakang sehingga ia berhadapan dengan pria itu. Jongsuk yang ditatap seperti itu pun lantas berhenti sebelum menabrak gadis di hadapannya. “Kamu cerewet.”

Ha?!” Jongsuk memekik tak terima.

“Kalau yang kamu maksud dengan kesendirian itu membahagiakan, kamu salah besar Tuan Jurnalis. Sudahlah, ayo lekas kembali ke pondok, langit sudah gelap tuh. Kamu tidak ingin kehujanan ‘kan?”

Jongsuk mengurungkan niat untuk membalas tuduhan gadis itu dan menggeleng. Arbeloa dan Jaggu yang berjalan di belakangnya pun lantas mendorong pria itu untuk kembali berjalan.

-Apocalypsoo-

Kantor Berita CNN, Washington D.C.

Bunyi bip panjang menggema di salah satu sudut ruangan komunikasi yang terletak di perkantoran real estate lantai nomor 26. Seorang pria yang tengah mengunyah donat pun tersedak karenanya. Lantas ia pun segera memuntahkan donat yang ada di dalam mulutnya dan menekan tombol merah besar yang langsung menghubungkan ke ruangan pimpinan.

Kami berhasil melacak keberadaan Jurnalis Park! Lokasi radarnya berada di 5°00’ LU 180°05’ BT. Kemungkinan besar berada di dekat Isla Frafero.” seru staff yang tersedak donat tadi.

‘Bip!!!!!’

Kami juga mendapatkan radar milik Xi Luhan di titik koordinat yang sama dengan milik Jurnalis Park!

Sontak semua staf yang berada di ruangan itu pun menghembuskan napas dengan lega. Setelah mengetahui berita laka pada pesawat yang ditumpangi oleh jurnalis kebanggan CNN itu, akhirnya kabar gembira pun datang.

Seluruh staf yang berada di ruangan itu pun sibuk dengan komputer yang menampilkan titik koordinat keberadaan mereka. Komputer yang tersambung dengan satelit CNN itu pun berhasil menangkap gambar Luhan dan Shinhye yang mengapung di lautan.

Kami berhasil mendapatkan gambarnya Pak!

Seorang pria paruh baya terlihat memasuki ruangan komunikasi itu dengan tergesa. Tampangnya yang kusut selama berhari-hari kini telah berganti. Senyum yang merekah di bibir tipis itulah tandanya. Kemeja abu-abu tuanya yang kusut tergulung sampai siku. Jambang yang memenuhi dagunya pun ia abaikan demi kabar dari anak buahnya yang hilang kontak selama berhari-hari itu.

Apa kalian juga mendapatkan radar milik Lee Jongsuk?

Ya?” salah seorang staf pun segera mengecek komputernya. Lalu, ia pun menggeleng pelan sambil menggumamkan kata maaf.

Tolong perbesar gambarnya!” pinta pria paruh baya tersebut.

Pria tersebut mengamati sepasang anak buahnya itu dengan seksama. Lantas, ia pun menjatuhkan pandangannya dari layar 14” inci tersebut. Malah meloloskan napas dengan berat.

Kirim regu penyelamat untuk mereka! Satu lagi, kerahkan helicopter di sekitar perairan Gleasio dan di sekitar Isla Frafero! Temukan Lee Jongsuk secepatnya!”

-Apocalypsoo-

Arbeloa mendengkur dalam tidurnya. Jempol mungilnya pun perlahan terangkat dengan sendirinya menuju ke mulutnya. Monyet itu pun menghisap jempolnya. Jaggu yang berada di sebelah monyet itu juga menampakkan hal yang tidak berbeda jauh dari Arbeloa. Ia mendengkur. Bedanya, ia tidak menghisap jempolnya yang dihiasi cakar semua itu. Sesekali panther albino itu pun bergerak mencari posisi yang nyaman sehingga ia mendekat ke Arbeloa dan perlahan memeluk monyet abu-abu itu.

Suzy masih terjaga dari tidurnya. Melihat tingkah laku temannya itu malah membuat ia tertawa kecil tanpa bersuara. Perlahan jemarinya pun terangkat, mengusap punggung Jaggu yang putih bersih itu.

Gadis itu pun lantas mengalihkan pandangannya ke arah jam tiga. Posisi di mana jurnalis malang itu tengah terlelap. Diam-diam ia mengamati tiap lekuk wajah pria itu.

Kulit wajah yang cenderung pucat kini berubah menjadi kumal. Hidung bangir yang elok dipandang. Sepasang mata yang terpejam, di dalamnya tersimpan kelereng dengan warna cokelat pekat yang menghipnotis siapa saja yang memandanginya – lihat saja Jaggu. Dan, episentrum dari segala keajaiban dunia nomor delapan tersebut, bibir berwarna merah muda itu.

Ck, pantas saja Jaggu tergila-gila padanya. Ia begitu sempurna.

Suzy tersadar. Ingin rasanya ia mempunyai alterego sehingga yang barusan bersuara mengenai kekaguman pada pria kota tersebut bukan dirinya melainkan alter yang lain. Tetapi itu mustahil. Toh, dia pun segera menepuk kedua pipinya guna menghempaskan delusi gilanya mengenai pria yang pertama kali ia jumpai setelah setengah tahun terjebak di sini.

“Aku sudah gila. Ck, “

Tiba-tiba Jongsuk membuat pergerakan kecil dalam tidurnya. Ia mengulet sebentar sambil menggumam sesuatu tidak jelas. Mulutnya terlihat komat-kamit. Suzy melihatnya dan tersenyum geli. Hampir saja ia ketahuan.

‘Pluk!’

Mata gadis itu menemukan sebuah kepingan entah apa itu yang merosot dari tubuh pria itu. Tanpa ragu ia pun mendekati pria yang tengah terlelap itu dan mengambil benda yang merosot dari balik kemeja lusuhnya itu. Rupanya itu sebuah ID card.

Gadis itu pun berusaha membaca tiap kata yang tertera di sana. Meskipun ditemani dengan pencahayaan yang minim.

Jongsuk Lee

Senior Reporter

CNN

Suzy tersenyum samar. Lantas ia pun segera menempatkan kembali ID card milik pria itu di sampingnya. Tanpa menunggu waktu yang lama setelah ia berbaring tepat di sebelah pria itu, ia pun lekas menutup tirai matanya dan mengantarkan dirinya rehat sejenak di rumah imajinya.

‘Bip!!!!!’

 

-Apocalypsoo-

Seminggu telah berlalu semenjak pria itu terdampar dengan tidak keren di pulau tak bernama ini. Luka sayatan pada betisnya pun berangsur pulih hingga ia bisa berjalan seperti biasa. Jadinya semenjak saat itu, ia pun selalu membantu gadis itu. Jongsuk yang sudah bisa beradaptasi dengan alam rimba perlahan mulai memahami mengapa Suzy itu berbeda dari wanita-wanita yang pernah ia kencani sebelumnya.

Suzy bukan berasal dari kalangan sosialita. Ayahnya seorang mantan Jenderal Angkatan Laut US sedangkan ibunya hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa. Tidak heran kalau ia sudah terbiasa dengan aturan militer yang diterapkan sang ayah.

Hasilnya, ia pun menjadi gadis yang tangguh. Suzy merupakan blasteran Amerika – Korea. Dia tidak mempunyai adik ataupun kakak – dia seorang anak tunggal. Sejak lahir sampai usia remaja ia tinggal di Atlanta. Namun tepat setelah ia lulus dari SMA, ia pindah ke Oregon untuk mengikuti sekolah tinggi ilmu penerbangan guna menjadi pilot. Mewujudkan cita-cita yang bukan sekedar mimpi.

“Hei, kamu sedang apa di atas?” seru Jongsuk seraya menengadahkan kepalanya.

“Mau tahu? Naik saja, “

Mendapati jawaban seperti itu membuat Jongsuk bergegas memanjat sebuah pohon dengan akar yang besar dan batang yang selebar bulldozer itu. Tanpa kesulitan berarti ia berhasil mencapai puncak pohon tersebut.

“Waaaaaaaw!” decak kagum terdengar dari labium milik Jongsuk akibat interpretasi visual yang terhampar di hadapannya.

Warna hijau keemasan dari pantulan sinar mentari pada dedaunan pohon-pohon yang menjulang. Burung-burung Galapagos yang berterbangan secara beregu. Semburat jingga yang belum terlalu pekat. Sinar mentari yang melukis cakrawala di ufuk barat menjadi tontonan gratis nan fantastis yang pernah ia saksikan dengan mata kepala sendiri selama hidupnya.

Sewaktu di Washington D.C. paling-paling ia hanya bisa menemukan matahari terbenam di balik gedung-gedung pencakar langit. Tak ada yang spesial. Mataharinya tetap satu dan sama. Tetapi, kali ini berbeda. Dengan siapa kau menonton matahari terbenam, itulah yang spesial.

Sudah ratusan kali Suzy memotret alam di pulau ini dengan lensa matanya. Terlebih pemandangan matahari terbit dan terbenam dari atas sini. Jadi hal seperti itu merupakan prevalensi baginya. Namun ternyata ada seseorang, yang mampu mengubahnya menjadi suatu distorsi yang indah.

“Jurnalis Lee, “ panggil Suzy.

Mendengar namanya disebut, pria itu pun mengalihkan perhatiannya dari lukisan lembayung senja di atas samudera luas itu kepada gadis di sampingnya.

“Ya, Pilot Soo?”

“Pilot Soo?”

“Kenapa? Ada yang salah?”

Suzy menggeleng. Ia menggaruk cuping telinga sebelah kanannya dengan gerakan yang malu-malu.

Eung, hanya saja panggilan ‘Soo’ itu terdengar asing.“ Ia pun terdiam sebentar. Maniknya pun ia sibukkan dengan menyeruput lapisan langit senja yang yang terbentang luas. “Ayah dan ibuku tak pernah memanggilku dengan nama koreaku. Aku tidak tahu kenapa dan memilih tidak bertanya kepada mereka. Karena tadinya kupikir, ya sudahlah toh itu juga bukan masalah besar.”

“Tetapi aku lebih menyukai Soo daripada Su.”

Lipatan pada soca milik Suzy melebar. Diikuti dengan koklea gadis itu yang menyimpulkan bahwa pria itu baru saja melontarkan pujian tak tersirat padanya.

Yeah, menurutku sama saja.”

Suzy meraih sebuah ranting kering tak terpakai di sebelahnya. Dengan cekatan, ia pun mematahkannya menjadi empat bagian. Selanjutnya ia pun menyusun ranting-ranting tersebut menjadi satu silabel beraksara Hangeul.

soo

Soo

“Kalau dilafalkan akan terdengar ‘Su’ ‘kan? Well, sudah kubilang tadi bukan? Sama saja.”

Sooji, dorong aku sampai jatuh ke bawah jika itu memang nama koreamu?”

Suzy mengeluarkan secarik senyuman tipis di bibir. Ia pun memandang Jongsuk dengan binar jenaka di kedua matanya. Jongsuk dapat melihatnya. Manik hazel gadis itu berwarna cokelat tua  jernih dan bersinar. Melebihi terpaan sinar mentari di sore.

Tiba-tiba lengan Suzy terulur untuk mendorong bahu Jongsuk. Refleks, pria itu malah menarik tangan yang mungil itu sehingga membuat jarak di antara mereka menjadi setipis filamen. Jongsuk pun mengunci kedua mata gadis itu. Suzy yang tidak punya opsi apapun hanya balik menatap dua kelereng di depannya.

‘Deg, deg, deg’

Entah detak jantung milik siapa itu (bisa jadi milik keduanya yang saling berkolaborasi?). Bunyinya kenapa nyaring sekali ya?

“Apakah aku benar?”

Uhm, yeah kamu benar. Sooji. Bukankah itu nama yang indah? Sama seperti orangnya.”

Tck, Nona Pilot yang satu ini percaya diri sekali. “

Keduanya pun masih terdiam pada posisi seperti itu. Entah dorongan dari mana tetapi perlahan keduanya mulai merapatkan jarak di antara mereka. Suzy yang seumur hidupnya baru pertama kali merasakan sensasi seperti ini, merasakan adrenalin  dalam tubuhnya bergejolak hebat. Tanpa gentar, ia pun mengikuti kemana intuisinya berlayar.

Jongsuk yang dikenal sebagai playboy cap gedung putih di Washington D.C. juga merasakan hal yang sama.

Tidak butuh waktu lama. Tanpa sadar kedua mata terpejam. Sepasang penghidu lancip pun mulai saling bersentuhan di ujungnya. Tinggal beberapa millimeter lagi. Jarak yang tadinya terbentang selebar sayap lalat kini tinggal sepotong kaki nyamuk. Hembusan napas yang saling beradu seakan mewarnai pori-pori di sekitar labium keduanya.

Sejenak, mereka terdiam sebelum memangkas jarak habis di antaranya. Mereka pun menyempatkan diri untuk tersenyum. Setengah detik kemudian,

Bibir Jongsuk perlahan mendekat. Suzy mengepalkan tangannya. Finalè, kedua bibir itu menempel seperti cicak pada dinding. Tanpa pergerakan. Begitu bibir Suzy yang ternyata lebih hangat dan lembut dari dugaannya itu menyentuh bibirnya, Jongsuk tanpa sadar mengulum bibir gadis itu dengan gerakan yang sangat lembut.

Sang mentari yang menyaksikannya seakan ikut tersenyum meskipun dirinya tengah beranjak kembali ke peraduannya. Untuk merestui kedua sejoli itu, ia pun seperti sengaja menahan sinar terakhirnya untuk menyorot dua manusia itu.

Sunset, langit senja, dan ciuman.

Bohong kalau Lee Jongsuk tidak tertarik pada makhluk Tuhan keturunan Hawa itu yang telah bersamanya dalam rentan waktu delapan hari ini. Diam-diam tatkala Suzy terlelap, Jongsuk memberanikan diri merebahkan tubuh ke samping dan menatap paras bak Pocahontas berkulit putih meta itu.

Ia menikmati setiap jengkal wajah tidur Suzy yang seperti malaikat. Kadang jemarinya pun berangsur membelai surai berwarna cokelat cengkih itu secara perlahan. Atau, mengusap wajah bidadari itu dengan sayang. Sepasang alis mata tebal yang terlihat menyatu. Bulu mata selentik semak mulberry. Hidung mancung mungil yang menggoda. Tak ketinggalan lapisan bibir pulm gadis itu yang merekah melebihi buah perssimon yang dimakannya setiap pagi.

Ia tidak bisa tidak mengaggumi sosok wonder woman berkostum cowboy yang terlelap di sampingnya.

-Apocalypsoo-

Sebuah lengkungan jelas tercetak di bibir gadis itu kala mengingat pagi yang sudah ia lewati dua hari belakangan ini. Pelukan koala Jongsuk masih terasa di setiap inci tubuhnya. Ia juga tidak bisa melupakan bagaiman bunyi ‘chu’ tercipta setiap pagi. Aktivitas itu pun bertajuk Morning Kiss.

‘Sial!’

Suzy mengumpat dalam hati. Kenapa ia jadi lembek seperti ini? Terutama di hadapan pria yang ternyata seorang Casanova di Washington D.C. ini. Oh, wajar saja. Seperempat tahun ia hidup perasaan hangat ini hanya bisa ia rasakan saat bersama kedua orang tuanya. Bukan dari luring seperti Jongsuk.

Keping hemoglobin di seluruh tubuhnya kembali terpompa menuju kedua pipi gembilnya. Semburat merah muda seperti buah jambu klutuk pun muncul. Gara-gara koherensi yang dialami bersama jurnalis tampan itu, Suzy pun jadi sering tersipu.

‘Dretdretdretdretdret’

Samar-samar gendang telinganya mendengar bunyi seperti putaran baling-baling pada helikopter. Bagaimana mungkin dia tahu? Hei, dia itu seorang co-pilot.

Suzy yang berada di atas pohon tempat pertama kali ia berciuman dengan Jongsuk – uh, pipinya memerah mengingat hal absurd itu – dapat melihat helikopter yang bergerak mendekati garis pantai Helikopter bergradasi merah darah dan putih itu mendarat dengan mulus di bibir pantai pulau ini. Tunggu, ia seperti pernah melihat aksara di ekor helikopter itu. Tapi, di mana?

CNN.

Eh, itu bukannya kantor berita tempat Jongsuk bekerja? Itu artinya, mereka telah menemukan Jongsuk lalu membawanya kembali ke Washington D.C. ‘kan?

Suzy tersenyum hampa. Ia tahu, suatu saat pasti hal ini akan terjadi. Tetapi, mengapa harus secepat ini? Ia pun lantas melemaskan pegangannya pada dahan di dekatnya dan segera turun dari pohon tersebut. Mencari di mana Jongsuk berada.

“Jurnalis Lee?” seru Suzy.

“Lee Jongsuk?!”

“Jongsukkie!!!?”

“Jongsuk!!!!!”

Setelah berlakon layaknya Tarzan. Ia pun berhenti memanggil pria itu dan bergegas mencarinya. Tunggu, ia seperti melihat punggung seorang manusia tersembunyi di balik semak-semak berduri. Lihat, dia juga melihat sedikit punggung hewan berwarna putih pucat. Itu pasti mereka. Suzy pun segera mendekati semak itu.

“Kalian sedang main petak umpet?”

Ketiganya pun menoleh serempak. Jongsuk memasang wajah tak berdosanya diikuti dengan Arbeloa dan Jaggu. Ia pun menyikut perut monyet itu. Lalu berseru,

“Arbie, lihat? Gara-gara ekormu kita ketahuan ‘kan!“

Astaga. Bahkan ia sudah membuat nama panggilan untuk monyet itu. Arbie?

“Jongsuk, dia tidak punya ekor tahu.”

Pria itu malah menggaruk rambutnya yang tak gatal. Diikuti dengan kedua teman barunya itu. Astaga, apa mereka ini sekarang plagiator Jongsuk? Baik, gadis itu kini mulai memasang ekspresi yang tidak biasa ia pasang. Tegang dan ketakutan.

“Ikut aku,” pinta Suzy.

Jongsuk pun menurutinya. Mereka berdua langsung menuju ke pohon tertinggi. Suzy yang berjalan di depan langsung memanjat pohon itu, diikuti Jongsuk. Ia pun memasang wajah tidak mengerti.

Apa yang mau dia lakukan? Apa dia mau kuciu – ah pikiranku! Jongsuk mengusap batok kepalanya sangsi.

“Coba lihat ke sana, “

“Memangnya ada ap – “

Pria itu menyapukan punggung telapak tangannya pada kedua matanya. Apa penglihatannya tidak salah lihat? Ia melihat helikopter CNN sedang parkir di garis bibir pantai pulau ini. Yap, CNN, kantor berita tempatnya bekerja. Kedua lapisan bibir Jongsuk kini membentuk sebuah kurva. Senyuman.

Aha!

Ia menjetikkan jarinya. Ia melupakan sesuatu yang sangat fundamental. Ia baru sadar kalau ID card-nya itu terdapat microchip yang bisa dilacak keberadaannya apabila detektornya diaktifkan. Apabila detektornya diaktifkan. Tunggu, apakah tadi sudah disebutkan kalau dia lupa? Lalu, siapa yang mengaktifkannya?

“Jongsuk, mereka sudah datang untuk menjemputmu. Kurasa kini saatnya kamu untuk kembali.“

Jongsuk mengerutkan dahinya dalam-dalam. Apakah mungkin? Ia menjilat lapisan atas bibirnya. Tanda bahwa ia sedang bimbang. Ekspresi gembira yang muncul di awal pun langsung terkikis. Ia mendekati gadis yang terlihat tanpa ekspresi dan dengan enteng menyuruhnya kembali itu.

“Apa katamu? ‘kamu’? Tunggu, seharusnya kamu bilang ‘kita’ yang berarti untuk untuk aku dan kamu, kita berdua. Apakah kamu tidak ingin kembali? Jangan bilang kamu akan tinggal di – “

“Jongsuk-a, “

Suzy menjebloskan untaian rambut cokelat cengkihnya ke balik cuping telinganya. Lantas ia pun melemparkan senyum getir pada pria di hadapannya. Awal yang ragu untuk mengatakan hal yang sebenarnya.

“Jongsuk, aku – aku, aku –  “

“Katakanlah, ”

“Aku tidak bisa pergi, “

Aku tidak bisa pergi. AKU TIDAK BISA PERGI.

‘BLAAAR!’

Kata-kata yang disemburkan Suzy barusan seperti petir yang menyambar dan mengenai jantungnya tepat. Ia pun tidak bisa menyembunyikan raut kecewa. Ditatapnya nanar gadis di depannya itu yang tengah menarik kedua sahabatnya agar berdiri di sampingnya.

“Kenapa kamu tidak bisa pergi?”

“Karena aku tidak mau pergi.”

“Kenapa kamu tidak mau pergi?”

“Karena aku bahagia berada di sini, seperti yang pernah kamu bilang padaku sebelumnya.” Suzy masih mematrikan senyum getir. Ujung kemeja buluknya pun ia puntir untuk menyalurkan rasa gugup pada dirinya.

“Tapi, di sini bukan tempatmu!!!”

Ukiran senyum itu masih melekat di bibir. Mendengar bentakan pemuda itu tidak membuatnya memundurkan langkah gentar. Ia sudah tahu reaksi pemuda itu pasti akan meledak seperti ini.

“Jongsuk-a, aku akan hanya kembali jika aku mau. Lagipula, hutan ini rumahku.”

Jongsuk memijit pelipisnya pelan. Ia yakin, sel kelabu milik gadis itu tidak digadaikan dengan sejumput asparagus menu makan siang kemarin tetapi kenapa pikiran gadis itu jadi sesempit ini?

“Ayah dan ibumu. Tidak bisakah itu menjadi alasanmu untuk pulang?!”

“Sayangnya tidak.“

“Bahkan diriku?”

Suzy tersentak namun sedetik kemudian ia berhasil memalsukannya dengan berdehem. Tangannya pun terangkat untuk meng-cover mulutnya.

“Maafkan aku, – “

“Baiklah. Kurasa semuanya sudah jelas.”

Suzy mengamini ucapan pria itu barusan. Jaggu dan Arbeloa yang sedari tadi hanya menonton pun mengikuti gadis itu yang sudah berjalan meninggalkan Jongsuk dalam badai keterdiaman.

“Semua yang kita rasakan dan lewati bersama itu hanya momen. Tidak lebih. Jika itu maumu, aku akan pergi.”

Jongsuk pun menghapus langkahnya mendahului Suzy. Sejenak, gendang telinganya seperti disetrum oleh ucapan Jongsuk. Ia pun hanya menatap punggung pria itu yang mulai menjauh. Anehnya, senyum yang ia lukis menjadi semakin lebar setelah melihatnya.

Ragu, pria itu membalikkan badannya dan menghampiri Suzy yang membeku di tempatnya. Jongsuk membawa gadis itu ke dalam rengkuhan terakhirnya. Ia pun mengeratkan pelukannya pada pinggang ramping gadis itu. Suzy otomatis mengangkat kedua tangannya, mengusap pelan punggung ringkih pria itu.

“Bisakah kita bertemu lagi? Sekali saja?” bisik Jongsuk pelan.

“Hm, “ Suzy bergumam pelan dan menganggukkan kepalanya di atas dada bidang Jongsuk. “mungkin saja, Jurnalis Lee.”

Arbeloa dan Jaggu tidak tinggal diam. Mereka pun ikut menghamburkan pelukan hangat. Jongsuk pun membalas dekapan Jaggu padanya. Sampai pada akhirnya, pelukan sehangat sinar mentari pagi itu harus diurai. Suara penyeru Jongsuk Lee telah diperdengarkan dan semakin santer.

“Terima kasih – ah demi sol sepatu nenekku, aku tidak tahu harus berkata apa lagi padamu, Lee.”

“Terima kasih kembali dan aku menyayangimu. Sst, “ Jongsuk menempelkan telunjuknya di atas bibir Suzy. “jangan bilang kalau kau juga menyukaiku di sini. Ada Jaggu.” Tunjuk pria itu pada Jaggu yang memasang senyum termanis sepanjang yang pernah ia lihat.

Suzy pun langsung menularkan gerakan ekspresif mengangkat kedua ujung bibir pada Jongsuk. Pria itu memang cassanova kelas kakap.

JONGSUK LEE?!!! JURNALIS LEE?!!!!

-Apocalypsoo-

Epilogue:

100 hari kemudian,

Jongsuk menjawil ujung bibirnya gemas. Membaca taglines berita di layar super lebar dan besar itu, membuat kelerengnya bergerak lincah ke sana-kemari. Ia pun merasakan tepukan di bahu sebelah kirinya. Benar saja, terlihat seorang pria Tiongkok bersurai cepak melampirkan tangannya pada bahu pria yang lebih tinggi beberapa senti darinya.

“Kerja bagus! Kamu memang bisa diandalkan. Kini aku tahu mengapa CNN mengangkatmu menjadi Senior Staff  hanya dalam kurun waktu dua tahun.”

Jongsuk memutar bola matanya malas. Kalau saja saat itu ia khilaf melempar pria yang lebih muda darinya ini ke lautan Bermuda tiga bulan yang lalu, ia tidak akan dicecar seperti ini.

“Luhan, kau ingin pensiun dini atau bagaimana, hm?”

“XI LUHAN!”

Seruan itu muncul tiba-tiba disusul dengan seorang gadis manis dengan rambut tergerai. Shinhye berlari menuju dua pria itu. Ia pun mengulurkan sebuah amplop cokelat yang diketahui berisi curriculum vitae seseorang yang berhasil lolos setelah menjadi calon tunggal wartawan berita CNN. Jemari lentiknya juga menepuk bahu kanan Jongsuk pelan seraya tersenyum bahagia melihat ketiganya bisa berkumpul kembali seperti ini.

Dalam kecelakaan pesawat yang mengangkut ketiga jurnalis CNN itu, Luhan dan Shinye selamat. Saat berada di tengah-tengah laut, mereka pun segera mengirim sinyal ke kantor pusat CNN di Washington D.C. dan menerima bala bantuan dari helikopter milik 911 utusan CNN.

Berita selamatnya Luhan dan Shinhye bisa diibaratkan kembang api yang meledak di tengah-tengah misa natal. Dalam sejarah aviasi, baru kali ini ada kasus penumpang selamat dari laka pesawat yang kemungkinan besar selamatnya seperti air liur kumbang tanduk yang menetes pada daun maple. Sangat tidak mungkin dari yang paling tidak mungkin.

“Kamu lupa memberi amplop ini pada Jongsuk. Padahal sengaja kutaruh di meja dekat gelas kopimu tahu!” bentak Shinye seraya menggeplak punggung Luhan.

“Ini apa?”

“Oh, itu CV anak buah kita yang baru. Dia yang akan bertugas denganmu di lapangan menggantikan Luhan. Kemarin ‘kan kamu sibuk dengan pemberitaan Isla Mederao-mu itu sehingga yang kebagian mengurus job-vacancy ini ya aku.” jelas Shinye.

Luhan pun hanya meringis sebal sembari mengusap punggung yang melindungi sumsum tulang belakangnya pelan.

Sama halnya dengan yang terjadi pada Jongsuk. Radar CNN dapat melacak keberadaan Jongsuk beberapa jam setelah radar mereka menangkap sinyal milik Luhan dan Shinhye. Saat malam di mana Suzy meletakkan ID card pria itu di sampingnya, tanpa disadari olehnya, dalam tidur tangannya tidak sengaja menindih benda pipih yang tergeletak itu dan ajaibnya mendarat tepat di atas tombol aktivasi yang warnanya menyaru dengan ID card milik Lee Jongsuk.

Jongsuk menarik keluar kertas yang bersemayam di dalam amplop. Netranya kembali mencermati tulisan dan gambar yang tertera dengan jelas di sana.

‘BLAM!’

Seperti dihadiahi jotosan bertubi-tubi dari Manny Pacquiao, Jongsuk merasakan ulu hatinya copot dari tempatnya. Ia mengerjapkan matanya tidak percaya lantas mendekatkan pandangan pada kertas tersebut.

“Dia kenapa?” tanya Luhan pada Shinhye.

“Tidak tahu.“ jawab gadis itu pada Luhan tak acuh. “Kudengar dia itu berasal dari Korea selatan juga lho.”

Luhan memasang tampang tidak percaya dan mencibir tingkah Shinhye.

“Yah, walaupun dia minim pengalaman akan tetapi pimpinan bersikeras untuk memilihnya. Satu dari 5.000 pelamar yang mendapat referensi langsung dari Edward. Mengagumkan!” tambah Shinhye sambil mengacungkan jempol.

“Yang mantan pilot itu bukan?” sambar Luhan.

“Lebih tepatnya seorang co-pilot. Dan ah oya! Hari ini adalah hari pertamanya bekerja!”

Jongsuk tidak mengindahkan informasi yang diberikan Shinhye. Kenangan akan momen di pulau tak bernama bersama tiga makhluk hidup ciptaan Tuhan itu pun perlahan membobol pertahanan dirinya. Tidak mungkin.

“Nah, itu dia sudah datang. Eh kamu! Iya, kamu! Ke mari! Di sini!” Shinye berseru sambil melambaikan tangan.

Jongsuk masih belum kembali ke dalam ruang imajinya. Jiwa dan raganya masih mengambang bersama seekor monyet tak berekor dan panther albino balita yang asyik mengoleksi biji semangka kuning favoritnya.

Seorang gadis terlihat berjalan setengah berlari menghampiri Shinhye. Senyum yang tidak pernah absen dari bibir seakan-akan menggambarkan betapa bahagianya dia. Ia terkekeh geli menyadari sikap seseorang yang jiwanya tertinggal di dimensi lain seperti dalam film Insidious.

Gadis berambut sebahu berwarna hitam itu tersenyum manis. Ia pun membungkuk sopan. Gaya perkenalan timur yang tidak pernah ia lupakan, sampai kapanpun.

“Ah, akhirnya datang juga. Oh ya, dia ini yang akan menjadi partner tandem untukmu. Lee Jongsuk ini Ba – “ ucapan Shinhye terputus.  Ia menyenggol lengan pria itu.

“Hei!“ sentak Luhan.

Pria itu tersadar. Ia pun meraup oksigen melebih kapasitas maksimal paru-parunya. Lantas memandang kikuk Shinhye dan Luhan yang barusan memergokinya sedang melamun.

“Halo? Jurnalis Lee?”

Jongsuk terkesiap bukan main. Ketika pandangannya bersua dengan manik cokelat jernih kepunyaan si gadis, Jongsuk refleks memundurkan langkahnya. Apa ini namanya mimpi di siang bolong?

“Perkenalkan, saya Bae, –  “

Suzy?”

Pria itu memajukan langkahnya dan mengamati lekat-lekat paras seseorang yang familier ini. Wajah oriental khas ras Mongoloid, sepasang netra bak wonderland – indahnya bukan main, penghidu bangir, bibir tipis berwarna merah muda, dan ekspresi jenaka yang sangat ia rindukan selama tiga bulan belakangan ini.

“Senang bertemu denganmu, lagi.” sambar Jongsuk cepat tanpa menunggu gadis di depannya bersuara. Rasanya seperti lusinan kupu-kupu sayap renda menari shuffle masal di perut Jongsuk. Jongsuk pun tidak dapat menyembunyikan rona bahagia akut di parasnya.

“Benarkah. Kukira juga begitu, Jongsuk.

Luhan dan Shinhye kompak mengangkat telapak tangan untuk menutupi mulut mereka yang menganga lebar. Jongsuk dan Suzy sudah mengenal satu sama lain. Tapi, kapan, di mana, dan mengapa?! Kiranya, perihal ganjil yang tersurat antara Suzy dan Jongsuk membuat Luhan juga Shinhye perlahan meilipir meninggalkan ruang monitor itu.

“Hai, “ sapa Jongsuk canggung.

“Hai juga, Senior, “ balas Suzy dengan menaruh intonasi yang menekan pada kata Senior.

Keduanya kompak bersobok pandang. Menekuri galur-galur tipis di wajah masing-masing. Tidak ada yang berubah, yang ada malah makin cantik dan tampan – batin keduanya bersamaan. Sesungguhnya, pria itu sudah gatal ingin membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Sekaligus membuktikan apakah ini hanya mimpi di siang bolong belaka.

“Ini bukan mimpi,“

Jemari mungil Suzy terangkat untuk menyentuh pipi tirus Jongsuk dan mengelusnya. Jongsuk terbawa arus sampai memejamkan kedua matanya. Merasakan sentuhan gadis itu yang terasa hangat dari pipi hingga ke hati yang tersembunyi di rongga dada. Perasaan membuncah ini akhirnya hidup lagi.

“Kalau benar ini mimpi, aku lebih memilih untuk tidur selamanya.”

Jongsuk menangkap jemari Suzy yang bertengger di pipinya dan mengecupnya terlanjur pelan. Seolah-olah jemari tangan gadis itu masuk ke dalam kategori barang mudah pecah. Suzy meloloskan kekehan geli untuk menanggapi. Pria yang satu ini memang perayu ulung.

“Aku tidak bisa berkata banyak, Jongsuk-a, “ selanjutnya, ia pun merapatkan tubuhnya dengan Jongsuk dan menarik tubuh pria itu untuk mendekat. Ia menepuk punggung pria itu seraya berkata, “Aku merindukanmu.”

“Aku lebih merindukanmu.” balas Jongsuk dengan mengeratkan dekapannya pada gadis yang sangat ia rindukan itu.

Mimpi-mimpi di musim panas yang selama ini menemaninya kini hadir dalam bentuk realitas. Tidak dapat dipungkiri, ia pun sebenarnya sangat berat meninggalkan gadis itu dan menginginkan gadis itu untuk ikut bersamanya.

Tetapi, ada satu hal yang mengganjal hatinya ini sekarang. Sebuah kuesioner. Kenapa Suzy bisa berada di Washington D.C.?

“Kamu tidak perlu tahu. Semua yang terjadi pada kita ini adalah sesuatu yang sudah digariskan. Kamu percaya takdir ‘kan? Kalau aku sih percaya tapi tidak terlalu. Jongsuk-a, ikatan inilah yang menyatukanku denganmu lagi.”

Berawal dari sebuah pulau tak bernama dan sendirian kita bertemu. Ikatan magis inilah penyebabnya. Tidak perlu takdir untuk mengikuti garis yang sudah tertulis ini. Cukup kau ulurkan tanganmu padaku dan kita akan menemukan ujung dari perjalanan ini bersama-sama.

“Mencintaimu, aku.” bisik pemuda itu bersamaan dengan bibir Jongsuk yang menyapu permukaan bibir Suzy, mengecupnya dengan penuh rasa kasih dan sayang.

“Mencintaiku, kamu.”

END.


a/n

ksfanniv

THANKS FOR BEING MY SHELTER IN THE RAGING STORMY RAIN, THANKS FOR ALWAYS CHEERING UP MY DAY WITH THE ADORABLE FANFICTIONS!! WISH YOU ALL THE BEST THINGS IN LIFE! LET’S GROW OLD (?) TOGETHER!!!! LET’S LOVE! KSF FIGHTING!!! ❤ 🙂

Advertisements

23 responses to “#Happy2ndAnniversaryKSF Apocalypsoo

  1. Pingback: Apocalypsoo [Deleted Part #Suzy] – Classic Dreams·

  2. prok prok prok,tepuk tangan dan tepuk kaki utk author. crtnya daebakkk,euuummm romansa’a membuatku trsnyum spnjg membaca… gileeee bgt. coba yh di bikin drakor. hehehe hbs udh trhipnotis dg alur ceritanya yg daebak… jjaaaangggg

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s