The Fallen Eyelashes

tfe

The Fallen Eyelashes

xianara | Bae Suzy / Kim Myungsoo,and special appearance from Lee Joon (Actor)  | AU, College-life, Fluff | Ficlet | disclaimer: beside the poster and story i own nothing!

Sehun / Suzy Version (diposting ketika saya masih menjadi freelancer di KSF)

Mitos mengatakan jika ada bulu mata rontok di sebelah kanan berarti ada yang sedang merindukanmu!

-The Fallen Eyelashes-

Myungsoo mengepalkan kedua tangannya guna menahan agoni yang membara di dalam dada, layaknya api unggun perkemahan musim panas. Ia pun mencoba untuk tidak melepaskan amarahnya dengan menghajar pemuda tak bersalah yang sedang berbincang-bincang dengan Sooji.

Mereka – Sooji dan si pria –  terlihat sangat akrab. Keduanya bahkan tak jarang melakukan skinship. Si pria yang diketahui ialah senior Sooji saat ia masih SMA itu, menarik hidung Sooji pelan. Membuat si empunya  hidung membalas memukul lengan Lee Joon – senior itu – pelan diikuti gelak tawa keduanya. Tak jelas sih apa yang mereka sedang perbincangkan sampai-sampai Lee Joon berani beradu skinship dengan Sooji dalam skala kecil seperti itu.

Myungsoo kembali mencoba mencairkan bara api di hatinya. Berkali-kali, ia memukul dadanya untuk menahan sakitnya itu.

“Baiklah, aku pergi dulu ya. Salam untuk Paman dan Bibi di rumah.” Pamit Lee Joon kepada Sooji.

“Tentu. Hati-hati di jalan, Sunbae!” Sooji pun melambai atas kepergian Lee Joon.

Setelah memastikan Lee Joon telah meninggalkan Sooji, Myungsoo pun menghampiri gadis itu. Ia menepuk pelan pundak Sooji dan membuat gadis itu reflek menengok ke belakang, menghadap Myungsoo. Sooji menahan senyum agar tetap bersembunyi di balik bibirnya. Tak ingin pria melankolis bermarga Kim itu  megetahui bahwa ia telah bermain sesuatu di belakangnya.

“Kau lupa? Hari ini kita harus menyelesaikan laporan semiotik sastra yang diberikan oleh Mr. Punk!!” ucap Myungsoo mengingatkan.

“Tentu saja tidak. Ini aku sedang dalam perjalanan menuju perpus. Tempat kita akan mengerjakan tugas kita nanti. Kau lupa?” tanya Sooji balik.

Myungsoo tidak menjawabnya. Ia memilih berjalan mendahului Sooji menuju perpustakaan kampusnya. Myungsoo pun berusaha mati-matian agar tidak menengok ke belakang, mencuri pandang ke arah Sooji.

Eksistensi sang cemburu di hati Myungsoo atas peristiwa tadi sudah menguap, hilang entah ke mana. Disubstitusikan dengan perasaan jengah karena ia tidak bisa memandangi wajah rupawan Sooji yang berada di belakangnya.

Tuhan, mengapa kau ciptakan aku jadi selemah ini di hadapannya? Bantu aku!

Sooji menyadari perubahan gerak-gerik pria di depannya. Ia menangkupkan kedua tangannya di depan mulutnya agar ia berhenti tertawa secara intrapersonal. Bagaimana bisa ia tidak peka terhadap seorang Kim Myungsoo? Teman satu kelasnya dari semester pertama di fakultas sastra yang dari awal memang sudah menaruh perhatian lebih terhadap Sooji. Namun Myungsoo terlalu takut untuk menunjukannya secara langsung. Sebagai seorang pria, Myungsoo ternyata memilik urat malu yang lebih banyak dari wanita jaman sekarang.

Makanya hampir selama tiga tahun ini, Myungsoo hanya mengamati Sooji secara diam-diam. Bukan seperti stalker  melainkan lebih kepada sesuatu kebetulan semata. Kebetulan Myungsoo dan Sooji bertemu di toko buku yang sama untuk mencari buku-buku keperluan kampus; tidak sengaja mereka bertemu di tempat fotokopi; berpapasan di taman kampus yang sering dijadikaan ruang bersantai sambil berdiskusi; ataupun berbarengan menuju tempat parkir.

Pada setiap koinsidensi di atas, Myungsoo selalu berpura-pura tidak melihat Sooji atau lebih tepatnya tidak mengenal gadis itu. Sooji yang memang sudah hafal betul akan ‘kebetulan’ itu pasti akan selalu menegur Myungsoo pertama kali. Gadis itu lebih memilih inisiatif dibandingkan Myungsoo.

Myungsoo yang menghentikan langkah secara tiba-tiba di depan sontak membuat Sooji harus mengerem mendadak agar ia tidak menubruk punggung pria itu.

‘Buk!’

Terlambat. Sooji sudah menubruk punggung Myungsoo cukup kencang sehingga membuat dia sekonyong-konyong mundur ke belakang. Sooji pun langsung mengusap dahinya yang menjadi objek tubrukan punggung Myungsoo barusan.

Yaa! Kenapa berhenti mendadak seperti itu sih!?” pekik Sooji tertahan.

Myungsoo pun berbalik sehingga berhadapan dengan Sooji. Pemuda itu pun menatap sosok gadis berkuncir itu dengan pandangan yang tak  bisa diartikan. Seketika, Myungsoo memegang kedua bahu Sooji dan mengadukan kedua matanya dengan netra yang mengerjap bingung. Myungsoo mencoba mengarungi samudera di kedua bola mata gadis itu.

Myungsoo mengabaikan keadaan sekitar, di mana orang-orang saling berkasak-kusuk mengomentari pemandangan yang dibuat oleh mereka berdua. Semburat tipis berwarna merah muda perlahan berakumulasi di satu titik: kedua sisi muka di bawah pelipis Suzy yang tembam.

Tiba-tiba, Myungsoo memangkas jarak dengan gadis itu beberapa senti dan menatap tepat di bawah mata Sooji. Dalam sekali gerakan, ia mengambil bulu mata yang rontok di mata bagian kanan Sooji.

“Bulu matamu ada yang rontok, nih. Sekarang tanggal berapa?” tanya pemuda itu kemudian menaruh rontokan bulu mata tersebut pada rambut Sooji.

“Tanggal 13 Maret.”

“Hm, mitos mengatakan jika ada bulu mata rontok di sebelah kanan berarti ada yang sedang merindukanmu dan seseorang itu memiliki inisial dari abjad ke-13.”

Sooji pun menjatuhkan rahang selebar-lebarnya. Kecanggungan di antara keduanya pun perlahan sirna. Myungsoo yang kikuk segera memasang haluan menuju perpustakaan kampus. Pemuda itu berjalan dengan langkah yang terseok-seok sambil menahan rasa malu yang mampu dibawa olehnya sampai turunan ketujuh. Sementara itu, Sooji hanya bisa mengukirkan senyum di bibir setelah mengetahui arti dari pernyataan pragmatik Myungsoo barusan.

“Abjad ke-13, orang yang selalu merindukanku, yang cintanya telah ikut mewaktu. Myungsoo.”

END.


1 2 3!!! saya akhirnya kembali lagi ke rutinitas ngepost ff di KSF^^ horayyy! #tebar konfetti#kaya ada yang nunggu situ saja, heungg, hahaha😀 # sebenarnyaa selain ini ff kambek, ini juga semacem hint untuk hubungan Myungsoo-Suzy di Wedding Dress chapter 5 nantinya lho, hohohooo😀 well, selamat berakhir pekan semuanya! have a nice weekend!😀❤

34 responses to “The Fallen Eyelashes

  1. Ya ampun author, ff ini sukses bikin aku senyum” sendiri kek orang gila tau, saking lucu nya si myung.. heh dan si suez yg sebenernya emang tau kan kalau myung itu diem” suka suez

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s