It’s Love, but? (Chapter 6)

kiyomizu-miuzki-copy

It’s Love, but? (Chapter 6)

Kiyomizu Mizuki’s Storyline

Main Cast : Bae Suzy [Miss A’s Suzy] – Kim Myungsoo [INFINITE’s L] || Genre : Romance, Comedy, Fluff, Friendship, and other || Rating : PG-15+ || Length : Chaptered || Disclaimer : Plot and story is mine. I’m sorry if there same any title or characters. Main cast belong to God, their parents, and their agency. I’m sorry if there’s any same title or characters. This is just a fan fiction. Sorry if you find typo(s)

Previous Chapter : Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4 || Chapter 5

Big thanks to Ladyoong Graphics for amazing poster!

Happy Reading ^^

Sorry for late post😀

***

Cinta…

Perasaan yang sudah ditanamkan dalam lubuk hati para manusia secara permanent. Manusia memiliki perasaan Cinta dan Kasih Sayang. Terlebih perasaan itu di tolerkan untuk kekasih mereka dan juga orang-tua mereka, kalau itu tentu saja tidak lupa. Perasaan itu begitu perasaan yang begitu indah dan juga sangat mendebarkan.

Kata itu…

Perasaan yang akan semakin tumbuh semakin lama semakin kencang, layaknya angin yang berhembus dan menyejukan hati siapa saja yang ingin terbang bersamanya. Perasaan itu juga akan muncul dengan sendirinya, tanpa kita sadari. Jika kita tidak menyadarinya diawal pertama, mungkin akan terbukti yang kedua. Karena kita tidak tahu hati kita akan tertuju pada siapa. Perasaan itu akan semakin dirasakan ketika kita berdekatan dengan seseorang, hati akan semakin berdegup dengan kencang. Barulah terbukti bahwa kita mulai mencintai orang itu dengan segenap jiwa dan raga kita.

Cinta layaknya angin yang berhembus dengan sendirinya, kadang hembusan itu begitu lembut. Namun ada akhirnya jika hembusan itu akan semakin kencang. Perasaan itu akan tumbuh dengan sendirinya, dan kau dengannya akan bersama. Entahlah, mungkin masih banyak waktu yang harus kalian jalani untuk bisa bersama.

.

.

.

Suzy pun terdiam sejenak mendengar ucapan Myungsoo tadi. Namun, sepertinya ia sedikit risih jika tidak memakai kacamata. Ia takut semua orang menyadarinya bahwa ia adalah seorang gadis yang berjalan bersama idol bernama Kim Myungsoo, visual dari Infinite dan lebih parah lagi akan terungkap bahwa mereka tinggal bersama. Astaga! Jika itu sungguh terjadi, rasanya Suzy hanya ingin menghilang dari dunia dan kawasan itu dan berjanji tidak kembali ke tempat semula itu. Dan bahkan ia tidak bisa membayangkan hal itu, rasanya jika membayangkan hal itu nafasku tercekat dan jalur pernafasannya juga sangat terasa sesak. Suzy menelan ludahnya dan menggeleng-gelengkan kepalanya, berharap bahwa baying-bayangan ia pikirkan tadi sudah sirna dari pikirannya. “Aku berharap yang aku bayangkan tidak terjadi. Jika terjadi? Oh, Tuhan! Aku harap semua itu hanyalah mimpi dan berharap bahwa ada seseorang yang membangunkanku dari mimpi buruk itu,” lirihnya. Ia terlalu takut, ya takut berbuat masalah lagi. Suzy memukul kepalanya dengan pelan. Ya semoga saja aman dan berjalan dengan lancar, pikir Suzy seraya mengambil napas dan mengaturnya agar tetap tenang dan mengusir semua pikirannya itu.

“Wajahmu tampak terlihat cantik dari sisi kiri,” ucap Myungsoo tiba-tiba. Myungsoo sedikit tersadar apa yang ia katakan lagi dan kemudian mengalihkannya dengan menutup mulutnya. Ya, sebenanya ia ingin menutup mulutnya setelah mengucapkan kata-kata tadi. Tapi, ia memikirkan kenapa ia tiba-tiba menutup mulutnya dan dengan sukses Suzy mendengarnya dan melihat lelaki itu menutup mulutnya. Yang pasti, ia tidak mau kepergok memuji gadis yang berada di depannya kini. Malu. Itulah yang dirasakan oleh Myungsoo ketika ia kepergok Suzy melihatnya sedang menutup mulutnya. Kalian tahu bukan ketika hal itu terjadi? Maka dari itu Myungsoo berusaha mengalihkannya dengan cara lain dan tidak terlalu dipandang dengan curiga. Jika itu hal itu sungguh terjadi, habislah image Myungsoo di depan Suzy. Kalian tahu bukan sikap asli Myungsoo kepada Suzy itu seperti apa? Jujur saja, sikap Myungsoo kepada Suzy itu labil, kenapa bisa labil? Ya, karena terkadang lelaki itu bersikap lembut dan manis pada Suzy, terkadang lelaki itu menghadapi Suzy dengan sikap emosional dan mengomeli-nya dan juga Myungsoo selalu memasang wajah cool pada Suzy. Jika itu terjadi, rusak sudah image-nya dan tidak bisa di obati (?) lagi.

Suzy yang sejak tadi sibuk memandang lukisan yang terpajang di café tersebut sedikit tersentak kaget ketika ia––sedikit––mendengar ucapan Myungsoo yang ditunjukan padanya. Ia sedikit terkejut ia mendengar Myungsoo berbicara. “Mwo?” seakan ingin meminta Myungsoo mengulangi ucapannya itu. Hmm, sebenarnya ia hanya sedikit mendengarnya dan tidak mendengar sepenuhnya apa yang di ucapkan oleh Myungsoo.

Ani. Lukisan itu tampak cantik jika di lihat dari sisi kiri,” sanggah Myungsoo. Myungsoo sedikit terlihat terkejut dan gugup, ia takut Suzy mendengar sepenuhnya apa yang diucapkan langsung olehnya. Tapi dengan cepat ia membetulkan perkataannya itu, sebenarnya… Bukan membetulkan, sekedar untuk menjaga dan tujuannya adalah menjaga image-nya juga agar tidak rusak. Ia sedikit bernapas lega ketika ia menyadari bahwa kata-kata ralatan itu dengan lancar ketika ia mengucapkannya dan tidak terlewat atau sama dengan kata yang sebelumnya. Syukurlah! Aku selamat kali ini, pikir Myungsoo lagi.

Kemudian, pelayan itu membawakan pesanan yang di pesan oleh mereka. Suzy segera meraih kacamata-nya dan kembali memakainya dengan gaya yang cukup cool. Ternyata, kalau di teliti lebih lanjut sebenarnya ia tampak sedikit keren dan err, cool ketika berpenampilan seperti lelaki. Tapi, jika kalian sudah tahu wujud asli-nya mungkin akan berkomentar bahwa ia tampak sangat manis dan cantik dan mungkin ada yang berkomentar bahwa tidak percaya kalau sebenarnya dia telah berpenampilan seperti lelaki ketika dibuka wujud aslinya adalah wanita dan mempunyai wajah yang sangat manis dan enak untuk dipandang. “Gomawo,” ucap Myungsoo dan pelayan itu segera beranjak dari tempatnya. Kemudian setelah kepergian pelayan itu dan ucapan terimakasih Myungsoo mereka tampak sama-sama canggung dan suasana tegang pun hampir terbuat oleh mereka. Tatapan mereka hanya menatap uap panas yang berasal dari minuman yang mereka pesan tadi. Rasanya lidah mereka terlalu kelu dan sangat sulit di gerakan untuk berbicara satu sama lain, seperti sangat kaku untuk digerakan. Rasanya juga, lidah mulut mereka terkunci rapat-rapat saat ini juga.

“Silahkan di minum,”

Ending pun tercipta. Myungsoo berhasil mencairkan suasana tegang mereka walaupun hanya lewat basa-basi saja. Tapi, suaranya juga terdengar sangat canggung. Suzy hanya mengangguk singkat dan langsung menyesap coklat panasnya dan meminumnya dengan pelan. Kemudian ia sedikit memakan makanan pesanannya itu, ya tentu saja dengan cara yang sangat canggung. Mereka berdua masih terasa canggung, sebenarnys keduanya sangat benci dengan keadaan canggung dan––sedikit––tegang mungkin. Ya, mungkin yang dirasakan mereka berdua kali ini adalah: ingin berlari secepat kilat dari sana. Aish, sepertinya rasanya tidak mungkin, karena mereka saat sudah akan berdekatan lagi beberapa hari jika hal itu terjadi dan menahan rasa malu dan… rasa yang bergejolak dalam hatinya. Suzy tidak sadar, karena tadi Myungsoo masih sempat meliriknya. Ya, karena gadis itu sibuk menyesap minuman miliknya jadi tidak sadar kalau sedang di perhatikan. Sebenarnya… gadis itu cukup sadar kalau sedang di perhatikan oleh Myungsoo tapi ia berusaha mengalihkan dan tidak menatap mata elang itu dan memilih menatap kea rah lain. Ia kira, tidak berhasil caranya untuk mengalihkan pandangan itu, tapi ternyata cukup berhasil. Walaupun ia berusaha mati-matian agar wajah merona-nya dan detak jantungnya tidak terlihat dan terdengar. Tunggu… Tadi, barusan di bilang apa? Jantung-nya berdetak dan wajahnya merona merah karena malu karena di tatap oleh sepasang mata elang lelaki bermarga Kim itu? Suzy sebenarnya tidak habis pikir dengan pikirannya barusan, kenapa bisa jantungnya berdetak dan wajahanya merona merah malu karena lelaki bermarga Kim itu? Baginya, itu sangat mustahil. Tapi, semua itu benar apa adanya. Dengan cepat Suzy menggelengkan kepalanya, mengusir pikirannya itu.

“Kau kenapa?”

Myungsoo bertanya tiba-tiba saat melihat gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Entah kenapa ia merasa cemas. “Kau kenapa, eoh? Kau lagi sakit? Kalau merasa sakit tinggal bilang saja lalu kita segera pulang. Mengingat bahwa sekarang sedang musim dingin.” Myungsoo memegangi pundak Suzy. Namun, gadis yang bermarga Bae itu hanyalah menggeleng pelan sebagai jawabannya.

Ani. Hmm, Myungsoo oppa?”

Astaga! Apakah gendang telinga Myungsoo sedang bermasalah atau ia hanya salah dengar? Atau kah gadis itu sedang sakit sehingga tidak menyadari apa ia katakan sebelumnya? Jujur saja, Suzy terkadang suka memanggil Myungsoo dengan memakai embel-embel ssi, dan terkadang ia mendengarnya ia merasa kesal dengan itu. Tapi, anehnya saat Suzy sedang memanggilnya memakai embel-embel itu, member Infinite yang lainnya di panggil dengan sebutan oppa. Tapi, kali ini ia mungkin baru saja mendengar kalimat itu langsung yang terlontar dari mulut Suzy. “Kau… Tadi? memanggilku dengan sebutan oppa? Oh, yeah! Aku bahkan tidak menyangka kau memanggilku dengan sebutan itu, biasanya kau selalu memakai panggilan itu untuk member Infinite yang lainnya daripada aku,” balas Myungsoo dengan nada menyindir. Hey bagaimana ia tidak merasa kesal atau merasa pilih kasih? Gadis ini selalu memanggilnya dengan embel-embel ssi. Tapi yang mengherankan, kenapa gadis Bae ini sekarang malah menyebutnya dengan kata-kata ‘oppa’? Huh, setahu Kim Myungsoo menurutnya gadis bermarga Bae ini adalah gadis yang jual mahal. Jadi sekarang sangat patut di herankan kenapa Suzy bisa memanggilnya dengan sebutan oppa. Atau gadis ini sedang ada maunya sampai memanggilnya dengan kata-kata mustahil seperti itu? Jika benar dugaannya, ia menolak dengan tegas. Sudah berapa kali ia membantu Suzy dengan menyumbangkan uangnya agar bisa menembus kesalahan gadis ini? Sudah banyak sekali. Bahkan anggota Infinite yang lain tidak pernah membantu Suzy, kenapa Suzy malah lebih baik pada anggota Infinite yang lain daripada dirinya? Pilih kasih. Sedikit ironis memang jika berada di posisi Myungsoo sekarang, ia harus menahan rasa kesal di dalam hatinya. Jika ia malah memarahi Suzy, ia juga yang terkena imbasnya dengan mendapatkan omelan plus jitakan gratis dari Sunggyu dan yang lainnya. Kau harus lebih bersabar Myungsoo, semua akan lebih indah pada waktunya.. Kkk~

“Memangnya aku tidak pernah memanggilmu dengan sebutan oppa ya?” Suzy bertanya dengan wajah polos tanpa dosa miliknya. Gadis ini amnesia, ya? Ia sendiri yang memanggil dengan tidak sopan tapi kenapa dia sendiri yang tidak mau mengakuinya? Suzy memang sedikit menyebalkan. “Ah, aku baru ingat bahwa aku tidak pernah memanggilmu dengan sebutan oppa. Yah~ Aku berencana untuk membangun hubungan yang lebih baik denganmu karena selama ini aku selalu membantuku, aku tahu aku sangat sering merepotkanmu juga anggota lain karena kehadiranku di tengah-tengah kalian. Aku bahkan tidak bisa menghitung lagi beberapa kebaikan yang telah kau berikan kepadaku? Tidak apa bukan aku ingin mengubah hubungan kita menjadi lebih baik? Maksudku kita menjadi bersahabat, selama ini kita seperti bermusuhan satu sama lain. Padahal kita berdua yang bersalah. Ah, ralat! Terlebih aku yang merasa bersalah karena sudah pingsan di tengah hujan. Makanya aku ingin mengucapkan rasa terimakasih ku padamu, menjadi lebih baik tidak masalah bukan?” ucapan itu terlontak begitu saja dan lolos dari mulut Suzy. Apakah gadis ini serius atau hanya mempermainkan dan menipu dirinya dengan bakat acting nya yang luar biasa? Ah, tidak mungkin! Myungsoo tidak boleh tertipu oleh acting–menurutnya––milik Suzy yang sebenarnya patut di acungi jempol oleh Myungsoo. Entah kenapa kata-kata Suzy sangat tidak meyakinkan bagi dirinya.

“Kau benar-benar gadis terbodoh yang pernah aku temui beberapa bulan ini. Kenapa dari kemarin kau tidak pernah merasakan kesalahanmu itu dan malah bersikap sangat santai bagimu? Ini memang sangat menyebalkan. Ku kira kau adalah tipe seorang gadis yang anti untuk mengaku dengan kesalahan dan hanya akan mengaku jika ada kesalahan terbesar yang menimpamu. Ternyata aku salah, kau masih bisa berfikir secara dewasa untuk mengakui suatu kesalahan yang kau buat.” Myungsoo tertawa kecil. Sebenarnya di dalam kata-katanya tadi sedikit ada kalimat sindiran untuk Suzy, tapi entah kenapa kalimat itu malah tidak ketahuan oleh sang gadis. Kenapa? Bukankah biasanya kalimat sindiran itu selalu terdengar? Jawabannya adalah: setiap kali Myungsoo ingin menyindir seseorang saat mereka sedang berbicara berdua atau membicarakan sesuatu, ia hanya berbicara dengan santai dan tenang, dan juga sangat menyambung ke jalan pembicaraan. Kau memang actor yang hebat Kim Myungsoo, aku salut padamu. Kkk~

Suzy mem-pout ‘kan bibirnya setelah mendengar ucapan Myungsoo tadi. “Kau berniat mengejekku atau memujiku? Kalau ingin mengejek jangan setengah-setengah, kau ‘kan lelaki. Jika ada ingin kata-kata kritikan yang ingin di keluarkan, keluarkan saja. Jangan di pendam seperti itu,” cibir Suzy balik. Lihat~ Ia tidak sadar kalau sedang di sindir oleh Myungsoo. “Hmm kenapa kau malah mengajakku kesini? Bukankah tadi kita berniat untuk membeli bahan-bahan makanan di kulkas yang sudah aku hancurkan tadi? Bukannya bergegas, malah mengakku duduk bersantai disini dengan sejuta penyesalan yang sudah bertumpuk di hatiku. Kau tahu, betapa aku sering berbuat kesalahan pada kalian? Apalagi tadi, menghancurkan pagi hari kalian tanpa sarapan. Aku ingin membalas kebaikan kalian itu dengan cara ini dan untunglah kau mau membantuku untuk kembali membelikan bahan makanan itu, sayangnya itu bukan sepenuhnya aku yang membalas. Setengahnya kau juga yang telah berbuat baik padaku, kau yang memberikan uang mu untuk membeli ini dan itu. Aku tidak mengeluarkan uang sepeser pun, bagaimana aku tidak semakin merasa bersalah lagi? Lagian juga salahku kenapa aku harus mempunyai sifat ceroboh tingkat tinggi! Aish, menyebalkan!!” keluh Suzy seraya memukul kepalanya pelan. Betapa bodohnya dirinya. Tunggu, jadi sekarang gadis bermarga Bae ini sudah berani mengungkapkan apa itu kesalahannya yang sesungguhnya. Yah, sebaiknya memang seperti baiknya. Ada baiknya seseorang mengakui kesalahannya daripada di pendam yang pada akhirnya membuat orang-orang lain merasa benci padanya, karena tidak mau meminta maaf ataupun langsung pergi begitu saja, melupakan kesalahannya itu.

Myungsoo tersentak kaget. Oh, gadis ini sudah berani mengakui kesalahannya? Myungsoo merasa salut padanya, daripada Suzy terus-menerus tidak mengakui itu? Lebih baik ia akui sepenuhnya. Myungsoo menyeringai ketika melihat Suzy menundukan kepalanya dan juga kakinya juga sedikit menendang-nendang di udara. Seakan ia ingin melampiaskan semua kesalahannya. Seringaian jahil khas milik seorang Kim Myungsoo. “Sudah aku bilang kenapa aku berencana ke café ini adalah untuk beristirahat sebentar, kau tahu ‘kan kita ke sini dengan berjalan kaki? Beristirahat kemudian bersantai sebentar tidak apa-apa bukan? Aku lelah, jadi kumohon mengertilah aku. Sebentar lagi, kita juga akan pergi berlanjut untuk membeli bahan-bahan.” Jawab Myungsoo santai tanpa melihat kearah Suzy. Kemudian, mengusap pucuk kepala Suzy dengan lembut. “Ah tidak apa. Lagipula aku mengerti tentang kondisimu, jadi aku dengan senantiasa akan membantumu. Meski kau itu sedikit menyebalkan,” bibir Myungsoo melengkung keatas. Memperlihatkan senyumannya. “Ah ya~ Mungkin jika kita berbelanja tadi, masih banyak orang yang berdesak-desakan. Aku menyarankan bahwa kita tidak akan ke pasar hari ini, bagaimana kita berbelanja di supermarket saja? Cukup praktis, daripada nanti kau harus seperti tadi dan aku bersusah payah menangkapmu dari kerumunan orang-orang itu. Dan aku tidak mau kau kembali celaka seperti tadi, itu membuat khawatir tahu!” kata Myungsoo santai. Kemudian ia beranjak dari kursinya dan menarik lengan Suzy untuk mengikutinya.

“Uh! Harusnya kau merancanakan itu sejak tadi dan bukan sekarang Kim Myungsoo bodoh. Jadinya aku tidak akan terkena berdesak-desakan seperti tadi,” gerutu Suzy.

“Maafkan aku, bukankah begini lebih baik? Ingat! Aku sudah membantumu untuk tetap tinggal di Korea,”

***

Myungsoo memberhentikan langkahnya sejenak saat Suzy sedikit berjalan dengan lambat di sebelahnya. Kalau bukan dirinya untuk mencengkram kuat lengan Suzy dan mengajaknya berlari atau mungkin berjalan dengan sedikit cepat, langkah Suzy juga tidak akan selambat ini. Kakinya juga terasa begitu lelah, begitupun juga tangannya yang terasa menambah beban berat di kedua sisinya. Kalau bukan tugasnya untuk membawakan kedua kantung besar itu yang isinya sangat berat dengan banyaknya barang-barang yang tadi mereka beli di supermarket tadi. Dan Suzy, tentu saja dia hanya membawa barang-barang yang ringan saja yang cukup untuk kekuatannya. Dan dia? Dengan isi yang cukup berat dan membuat tenaganya cukup terkuras karena pegal. Ini tugasnya, kalau ini bukan kesalahan dan dia tugaskan untuk bertanggung jawab karena sudah membawa Suzy ke dorm nya sampai sekarang. Lelaki mana yang tidak tega melihat seorang gadis pingsan di tengah jalan raya ditengah cuaca yang sedang sangat memburuk? Hujan deras di sertai petir yang begitu memekakan telinga. Dan membuat siapapun yang mendengarnya akan merasa bahwa ia harus menutup gendang telinganya rapat-rapat. Niat Myungsoo memang sangat tulus untuk membantu gadis bermarga Bae ini. Bukan untuk macam-macam atau yang sebagainya. Ia hanya berniat untuk membantunya saja. Yah~ Walaupun pada akhirnya ia akan terus menerus mendapatkan cobaan yang berat. Yang berasal dari Bae Suzy.

“Suzy, bisakah kau mempercepat langkahmu sebentar? Sebentar lagi hujan akan turun, kalau kita tidak bergegas untuk segera ke dorm, habislah kita dengan baju yang basah kuyup.” Tegur Myungsoo. Matanya melirik kearah sang gadis yang masih sibuk dengan belanjaan yang berada di tangannya. Paper bag yang dibawa Suzy itu sebenarnya ada isi makanannya tadi dan juga beberapa baju untuk wanita. Mata elang lelaki itu menelusuri semua perbuatan yang tengah dilakukan oleh Suzy sekarang ini. Harusnya aku membawa mobil saja jika akhirnya kejadian seperti ini, pikir Myungsoo. Kemudian ia mengutuk dirinya yang kembali ceroboh tidak membawa mobil disaat yang sudah sangat genting ini. Langit sudah berwarna abu-abu dan juga sudah berawan dan bertanda bahwa hujan akan turun malam ini. Tadinya ia berpikir bahwa cuaca akan benar-benar akan terus cerah, karena matahari sejak tadi pagi memang memancarkan sinarnya dengan begitu terang dan cukup membuat mata siapapun yang melihatnya akan terasa silau terkena sinarnya yang menyengat, juga panas. Dan pada akhirnya ia tidak membawa mobil, lagipula tujuannya tadi memang berniat ke pasar di sekitar Seoul kok. Dan tempatnya juga tidak terlalu jauh untuk di tempuh, dan beberapa menit juga akan sampai. Tadi, tidak pernah terbesit dipikirannya untuk sampai ke supermarket, dan entah kenapa ia malah memilih tempat itu dan meninggalkan pasar yang sebenarnya tadi adalah tujuan utamanya. Tidak ada dipikirannya kalau ia harus membawa mobil, sekarang malah salah. Ini sudah terjadi dan membuatnya kerepotan sendiri akhirnya. Myungsoo merutuki dirinya dalam hati, betapa bodohnya ia tidak membawa mobil sebelumnya.

Tes!

Myungsoo merasakan ada setetes air jatuh di hidung nya. Tangannya perlahan mengusap air itu. Myungsoo langsung mendongakan kepalanya saat awan sudah menjadi hitam. Pantas saja tadi ada air yang jatuh ke hidungnya secara tiba-tiba, ternyata setelah ia pastikan. Hujan benar-benar akan turun dan tidak main-main. Myungsoo benci jika hujan akan mengguyur kota Seoul di saat genting seperti ini, harusnya sekarang ia berada di dorm dan menikmati secangkir coklat panas yang biasanya ia buat ketika hujan turun untuk menghangatkan perutnya. Menonton tayangan yang ada di televisi atau bergelayut malas di atas ranjangnya. Hujan itu membuat suasana Myungsoo menjadi bosan dan sering terasa ingin memakan sesuatu terus-menerus. Dan semuanya telah terbukti secara akurat. Ia pasti akan terus meminta pada hyung-nya untuk dibuatkan ramyeon yang akan mengisi perutnya. Kemudian bermalas-malas di dalam dorm. Harusnya sekarang Myungsoo berada di dorm dan menikmati suasana seperti itu, sekarang dia dan Suzy malah terjebak di tengah hujan yang akan semakin melebat kini. Ah, apalagi jika sedang hujan lebat! Bisa dipastikan dia dan anggota Infinite lainnya akan bermalas-malasan di dalam dorm. Entah itu berbaring diatas kasur dengan mengotak-atik remote di tangannya dan melakukan hal kemalasan yang lainnya. Yang paling rajin dilakukan oleh mereka adalah: memasak ramyeon. Mereka bilang bahwa makanan itu akan menghangatkan dan mengenyangkan perut, tapi juga tidak seterusnya mereka mengkonsumsi makanan instant seperti itu. Tidak baik juga untuk kesehatan. Atau salah satu dari mereka akan membuat soup. Yang akan dilakukan satu lagi, mereka akan lebih sering membuka kulkas untuk mencari makanan ringan berupa snack dan menonton acara kesukaan mereka, atau menyetel DVD horror. Suasananya akan semakin tegang, menonton horror ditengah hujan lebat begini, apalagi jika petir menyerang. Itu akan semakin membuat mereka tegang.

“Suzy, sebaiknya kita berteduh dulu. Hujan akan turun sebentar lagi.”

Myungsoo menarik lengan Suzy menuju halte bus terdekat yang menjadi tempat berteduh mereka. Jangan sampai Suzy kembali sakit, membuatnya kembali kerepotan sama seperti saat mereka pertama kali bertemu dan Myungsoo membawa gadis itu ke dorm nya. jika benar hal itu kejadian, sampai pulang nanti Myungsoo akan menjadi sasaran kemarahan anggota Infinite karena membuat Suzy sakit karenanya lagi. Sekarang, Suzy sudah menjadi keluarga dan seperti adik mereka masing-masing. Padahal baru beberapa minggu saja mereka sudah saling mengenal, tapi rasa kasih sayangnya sudah sebesar itu. Apalagi sikap Suzy yang kenakanak-kanakan dan ceria seperti anak kecil berusia lima tahun, yang menyebabkan mereka lebih ingin melindungi Suzy layaknya adik kandung mereka sendiri. Suzy sendiri juga semakin nyaman dengan sikap anggota Infinite padanya yang memperlakukannya dengan sangat baik. Suzy tidak mau membuatnya kecewa, seperti tadi pagi.

Myungsoo menaruh paper bag itu di atas kursi halte dan juga mendudukan dirinya di kursi tersebut bersama Suzy. Rintik-rintik hujan terus menerus berjalan (?) bagaikan air yang mengalir. Suara air beradu dengan aspal jalan sangat terdengar begitu bising, namun terdengar sangat menenangkan hati. Mungkin jika sekarang Myungsoo berada di dorm nya, ia akan melaju ke kamar dan melihat kearah balkon. Memainkan air hujan yang jatuh ke telapak tangannya. Tidak ada maksud apa-apa sebenarnya. Myungsoo juga tidak sedang sakit hati karena diputusi oleh pacarnya, karena melihat hujan turun itu tenang. Lagipula Myungsoo tidak mempunyai kekasih dan itu salah satu peraturan yang ditetapkan oleh agency nya bahwa mereka tidak boleh berpacaran dulu. Boleh saja sebenarnya, tapi harus dengan ekstra sembunyi-sembunyi dan itu juga terasa sulit. Mata elang Myungsoo beralih pada Suzy. Gadis bermarga Bae itu tampak merapatkan pakaian luar yang tengah dikenakannya, bibirnya tampak pucat. Suzy kedinginan. Kasihan, pikir Myungsoo. Lelaki itu kemudian melepas jaket yang ia kenakan dan mengenakannya pada pundak Suzy. Supaya gadis itu lebih terlihat nyaman dan hangat. Dia ‘kan lelaki, tidak masalah harus merasakan seberapa kedinginan itu. Yang penting ia harus mengalah pada wanita yang lemah. “Pakailah. Kau tampak kedinginan. Semoga kau terasa hangat,” kata Myungsoo.

Suzy tersadar. Ucapan Myungsoo sampai di indra pendengarannya. Matanya mengamati jaket berwarna hitam yang berada di pundaknya. Memang, sejak hujan tadi turun Suzy merasa kedinginan karena anginnya yang sering berhembus. Maklum, cuaca hujan memang dingin. Matanya menatap kearah mata tajam milik Myungsoo yang terlihat menawan. Berwarna coklat kelam yang lebih terlihat berwarna hitam. Tatapan mata Myungsoo membuatnya kembali terasa tersihir dan seperti tersengat listrik yang membuat tubuhnya tegang, apalagi saat lelaki itu menyunggingkan senyum manisnya. Ya, mulai mengakui kalau Myungsoo itu lelaki tertampan diantara anggota Infinite yang lainnya. Walaupun kelakuannya yang membuat Suzy kesal. Tapi, lama-kelamaan sifat menyebalkan milik Myungsoo sudah membuat menjadi nyaman. Tidak apalah ia sering dijahili olehnya. Myungsoo sebenarnya lelaki yang baik dan hangat, hanya saja saat pertama kali bertemu chemistry diantara mereka sangat tidak baik. Apalagi Myungsoo, berbicara dingin dan tidak mau menatap lawan bicaranya. Tapi saat kita sudah mengenal lama dengannya, kita akan merasakan bahwa sebenarnya Myungsoo bukan lelaki yang menyebalkan lagi dan berubah menjadi lelaki yang hangat. Hangat. Itulah yang dirasakan oleh Suzy saat jaket hitam milik Myungsoo mulai menyentuh pundaknya. Lebih terasa sangat daripada yang tadi. Apalagi saat suara baritone miliknya tadi, membuat tubuh Suzy kembali tersihir. Suaranya tidak terdengar dingin, tapi lembut. Mungkin Myungsoo akan melakukan itu pada istrinya dimasa depan nanti. Hehe.. Suzy sedikit berandai kalau dirinya yang menjadi pendamping hidup Myungsoo. Tapi dengan cepat, gadis bermarga Bae itu menyingkirkan pikirannya yang kacau dan aneh. Mana mungkin ia menikah dengan lelaki yang ia anggap menyebalkan dan dingin sebelumnya, lagipula kehidupan mereka berbeda. Myungsoo sibuk di dunia keartisannya dan Suzy hany seorang mahasiswi biasa. Dan lagi, jika itu benar terjadi mereka berdua tidak akan banyak menghabiskan waktu berdua dan disibuki dengan berbagai kegiatan yang melelahkan, terutama Myungsoo. Eh? Kenapa Suzy malah terpikirkan oleh pernikahan? Gadis itu dengan cepat menggeleng. Mengusir semua pikiran yang konyol tadi. “Terimakasih,” katanya dengan senyum tipis. “Myungsoo?” panggil Suzy lagi dan membuat empu nya yang merasa dipanggil menoleh. “Hujannya lebat sekali,” keluh Suzy polos.

Pletak! Myungsoo menjitak kepala Suzy yang sukses membuat si empunya meringis kesakitan dan mengelus kepalanya pelan yang menjadi korban jitakan Myungsoo. Suzy membuat Myungsoo kesal, ia kira Suzy akan mengatakan sesuatu yang penting dan masuk akal padanya. Ternyata hanya suara keluhan bahwa hujannya yang lebat. Dan juga saat suara Suzy yang terdengar ragu dan serius saat memanggilnya. Kembali meyakinkan Myungsoo bahwa gadis itu akan mengatakan sesuatu yang penting. “Bodoh! Aku kira kau ingin mengatakan sesuatu yang penting sekali, ternyata hanya suara keluhan yang membuatku tambah bosan mendengarnya.” Kata Myungsoo kesal dan melebarkan tangannya untuk memeluk sedikit tubuh Suzy sejenak. Kemudian melepaskannya lagi. Walaupun sejahil-jahilnya sikap Suzy padanya jujur, Myungsoo sangat sayang pada gadis yang hanya ia ketahui namanya beberapa minggu lalu. Entahlah, rasa kasih sayangnya terhadap Suzy sudah semakin menjadi-jadi. Tetapi tidak mungkin secepat itu. Myungsoo sendiri tidak tahu kepastiannya. Entah itu perasaan sayang atau… Lebih. Lupakan itu! Myungsoo pun mengelus poni Suzy dengan sayang dan mengacak-acaknya pelan. Gemas, dengan sikap Suzy yang terlihat sangat lucu dimatanya. Apalagi saat gadis itu berkata dengan wajah yang polos. Myungsoo terkekeh melihat wajah Suzy yang cemberut. Lucu dan imut. “Baiklah. Lepas kacamatamu,”

Suzy langsung kembali mengangkat kepalanya. Dengan pandangan tanda tanya. “Nanti kalau ada yang melihat bagaimana? Aku tidak mau kalau nanti ada gossip yang beredar bagaimana? Bisa kacau, bodoh!” cibir Suzy. Ia sedikit keheranan, apakah Myungsoo tidak takut ada gossip tidak enak yang tertuju padanya? Sungguh, Suzy sangat kepikiran jika gossip itu benar-benar terjadi. Apalagi pada dirinya dan Myungsoo. Bisa-bisa ia menjadi sasaran amukan para fans Myungsoo yang sangat banyak dan tak terhitung. Tidak masuk akal. Sebenarnya Suzy sendiri juga konyol, memakai kacamata hitam ditengah hujan begini? Haha~ Itu salah satu kelakuan yang sangat lucu.

To be Continue..

Haii~~ Aku tahu ini late post banget. Sorry, aku terlalu sibuk sama real life, jadi gak bisa update dengan cepet. Tapi aku masih bisa nyempetin lanjut FF ini sampe ending nanti, semoga aja nanti aku bakal lebih cepet lanjutinnya. Hehehe~

Kalo ada yang lupa sama laurnya, silahkan klik link yang udah aku siapin diatas. Mungkin aja ada yang lupa dan pengen baca lagi supaya lebih nyambung sama kelanjutannya di chapter 6 ini.. Chapter 7 nya udah aku siapin sih.. Tunggu aja jadwal post nya, akan tambah lebih cepet kok ^^

Jangan lupa tinggal RCL (Rate, Comment, Like) ya!

See you soon in chapter 7🙂 Terimakasih ^^ *bow*

28 responses to “It’s Love, but? (Chapter 6)

  1. Pingback: It’s Love, but? (Chapter 9) | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

  2. Pingback: It’s Love, but? (Chapter 9) | Kiyomizu Mizuki·

  3. Pingback: It’s Love, but? (Chapter 10) | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

  4. Pingback: It’s Love, but? (Chapter 10) | Kiyomizu Mizuki·

  5. Pingback: It’s Love, but? (Chapter 11) | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

  6. Pingback: It’s Love, but? (Chapter 12) | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s