It’s Love, but? (Chapter 7)

kiyomizu-miuzki-copy

It’s Love, but? (Chapter 7)

 Kiyomizu Mizuki’s Storyline

Main Cast : Kim Myungsoo [INFINITE’s L] – Bae Suzy [Miss A’s Suzy] || Genre : Romance, Friendship, Comedy/Humor, Hurt/Comfort, Fluff, Sad, and other || Rating : PG-15+ || Length : Chaptered || Disclaimer : Plot and story is mine. I’m sorry if there same any title or characters. Main cast belong to God, their parents, and their agency. I’m sorry if there’s any same title or characters. Sorry if you find typo(s)

Previous : Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4 || Chapter 5 || Chapter 6

Big thanks to Ladyoong Graphics for amazing poster!

Happy Reading ^^

And.. Sorry for late post.

Myungsoo memutar bola matanya. Menyadari betapa bodohnya Suzy sekarang. Harusnya gadis itu peka bahwa sekarang sedang hujan, kenapa masih harus menggunakan kacamata hitam sekarang? Sangat tidak masuk akal dan terkesan konyol, maka dari itu sejak tadi Myungsoo sudah melepas kacamatanya. Nanti juga akan berembun. Oke, awalnya Myungsoo tidak percaya tadi. Apakah Suzy tidak lulus Taman Kanak-kanak atau Sekolah Dasar bisa berperilaku sebodoh tadi? Lagipula, siapa yang ingin keluar rumah disaat hujan deras seperti ini? Myungsoo yakin bahwa orang-orang di sana sedang bersantai di rumah ditemani dengan makanan atau minuman yang menghangatkan perut mereka. Seperti dirinya dan anggota Infinite lain saat sedang hujan. Ia berdecak kesal. “Harusnya kau yang aku ledek dengan sebutan bodoh! Kau ini tidak lulus TK atau SD bisa sebodoh itu? Sekarang sedang hujan, aku tanya. Siapa yang mau keluar rumah disaat seperti ini? Tidak ada, mereka pasti banyak menghabiskan waktu dirumah. Dan satu lagi, jika kau malah memakai kacamata itu terus-menerus nanti malah akan berembun. Bodoh,” ledek Myungsoo balik. Sedikit membalas dendam pada Suzy karena telah mengatainya dengan sebutan bodoh, mana yang lebih bodoh dan pintar? Myungsoo atau Suzy? Myungsoo lebih yakin kalau yang paling bodoh diantara mereka itu adalah Bae Suzy.

Suzy memundurkan sedikit wajahnya agar tidak terkena jari-jari panjang milik Myungsoo. Jari terlunjuk lelaki itu sedang dicondongkan kearah Suzy dan menatapnya tajam. Suzy mencerna terlebih dahulu kata-kata yang yang disampaikan Myungsoo tadi, benar juga apa di ucapkan oleh lelaki itu. Tidak mungkin juga ada seseorang yang mau berkeliaran ditengah cuaca hujan seperti ini dan benar juga perkataan Myungsoo yang kedua. Semakin lama juga akan berembun juga kacanya dan menghalangi jarak pandangannya yang akan buram. Suzy menatap kearah langit-langit halte, posisi berpikir sejenak. Selain bodoh soal tadi, Suzy juga sedikit lama dalam berpikir. Padahal wajahnya cantik, tapi kenapa otaknya lama untuk dicerna? “Siapa yang bodoh Myungsoo? Aku atau kau? Tapi ucapanmu tadi itu sangat benar setelah aku pikir tadi. Tidak ada orang yang mau keluar tadi rumahnya dan kacanya pasti aka nada embun yang bersarang disana.” Suzy mengangguk-anggukan kepalanya pelan dan melepas kacamatanya yang juga membuatnya tidak nyaman.

“Sepertinya kau yang bodoh Suzy,”

Yak! Aku tidak bodoh!”

“Yasudahlah.” Myungsoo menyerah untuk tidak bertengkar pada gadis keras kepala seperti Suzy. Tidak ada jalan keluar lagi selain mengalah padanya, bagaimanapun juga Suzy akan tetap bersikap egois agar tetap menyalahkan bahwa Myungsoo sendiri bodoh. Lagipula ia juga sudah baik mengalah padanya. Mengalah pada wanita itu baik..

Mereka sama-sama mengalihkan pandangannya pada rintik-rintik hujan. Masih lebat dan belum ada tanda-tanda bahwa hujan akan reda. Sebenarnya Myungsoo tadi bisa memutar otaknya untuk memainkan ponselnya dan menelpon anggota Infinite yang lain agar bisa membantunya untuk pulang dan tidak terlalu lama terjebak di tengah hujan seperti ini. Apakah ini adalah hari kesialan mereka berdua? Ah! Sebenarnya tidak ada hari kesialan itu. Hanya mereka saja yang berbuat ceroboh yang membuat mereka menerima takdir sial seperti ini, jika saja mereka lebih hati-hati dan tidak terlalu terburu-buru untuk membalas kesalahan mereka. Keburukan ini juga tidak akan terjadi. Harusnya mereka lebih berpikir secara dua kali. Myungsoo dan Suzy juga sama sekali tidak menyukai terjebak di tengah hujan, menurut mereka itu sangat menyebalkan bahkan lebih menyebalkan daripada harus dimarahi oleh Ibu masing-masing karena pulang kemalaman. Tentang Ibu, Suzy mengingat Ibu nya yang berada di London. Selama beberapa hari, Suzy belum juga memberitahu keadaannya yang berada di Korea Selatan. Salahnya juga karena lupa dimana letak hotelnya, Suzy tetap tidak mau menerima kalau semua itu salahnya. Pasti ia akan mengelak. Suzy takut kalau Ibu nya cemas dengan keadaannya sekarang.. Suzy berdiri dan menengadahkan tangannya hingga tetesan hujan itu jatuh ke telapak tangan.

Ia teringat saat pertama kali bertemu dengan Myungsoo dan akhirnya menetap di dorm Infinite. Semua itu terjadi diluar pikirannya. Suzy menikmati itu, tapi bukan sebagai lucky fans. Suzy kembali merasakan bahwa ada juga orang yang perhatian padanya. Merasakan nyaman dan aman, terutama dengan Myungsoo. Ya, bisa dibilang Suzy paling dekat dengan Myungsoo meski mereka berdua hampir setiap hari selalu berantem hanya karena masalah sepele. Bilang saja itu kekanak-kanakan. Tapi sudahlah, menyenangkan juga berantem bersama Myungsoo. Yang membuat Suzy merasakan hal aneh adalah, ia sering merasakan canggung dan aneh saat bersama Myungsoo. Apalagi saat lelaki itu memberikan perhatian atau melakukan sesuatu yang tidak pas. Seperti menggenggam tangannya dan lainnya. Sesaat kemudian, Suzy mengela napas. Mencoba menjernihkan otaknya yang memikirkan sesuatu yang tidak cocok dan harusnya tidak ada dipikirannya. Suzy mengalihkan pandangannya pada Myungsoo, ternyata lelaki itu malah tertidur. Eh? Kenapa Suzy tidak sadar kalau sedaritadi Myungsoo tidak mengeluarkan suaranya? Mungkin karena terlalu sibuk dengan pikirannya sampai tidak sadar kalau Myungsoo mengunci mulutnya.

Suzy berbalik dan menghampiri Myungsoo. Ia berjongkok dan mendekatkan wajahnya ke wajah Myungsoo, menjaga sedikit jarak. Matanya terpejam sempurna. Terlihat damai dan tenang. Mungkin Suzy dulu lebih sering merasakan ada aura kejahilan yang dipancarkan oleh Myungsoo. Tapi tidak, sekarang Suzy malah berpikir bahwa Myungsoo memiliki jiwa yang tenang dan lembut. Entah kenapa Suzy sekarang malah memandang Myungsoo layaknya melihat sebuah objek. Suzy merasakan ada aura dingin yang membuat Myungsoo semakin merasakan kantuk yang menyerangnya tadi. Disaat hujan memang lebih baik untuk tidur. Hihi~ Aneh. Suzy kembali merasakan bosan, sebenarnya ia ingin membangunkan Myungsoo. Tapi merasa tidak enak karena lelaki itu sangat lelah dan pulas sekali, membuatnya tidak tega untuk membangunkannya. Biarkanlah Myungsoo tertidur sampai ia terbangun, asal Myungsoo tidak kelewatan untuk bangun. Suzy bersumpah! Sekarang ia tidak akan membangunkan Myungsoo, tapi jika lelaki itu tidak bangun juga saat sore mendatang, sudah dipastikan kalau Myungsoo akan menjadi amukannya saat itu juga. Suzy benci menunggu. Semoga saja Myungsoo mengingat waktu, walaupun dalam keadaan tertidur. Kemudian Suzy menunduk, tentang Ibu nya. Apalagi kalau bukan itu? “Maafkan aku eomma, aku tidak bisa memberimu kabar. Aku sendiri juga yang ceroboh karena lupa dengan letak hotelku. Aish! Kenapa aku harus menerima nasib sial dan selalu membuat repot orang sih?” gerutu Suzy seraya menendang kerikil kecil yang ada di depannya. Untung saja, tidak ada orang sekarang dan dirinya tidak dimarahi karena telah membuat orang itu terluka terkena kerikil hasil tendangannya.

Suzy menyenderkan kepalanya pada pundak lebar Myungsoo. Cukup lelah untuk berdiri sedaritadi. Suzy memejamkan matanya sejenak seraya memeluk tubuh Myungsoo. Layaknya memeluk guling kesayangannya saat berada di London. Entahlah sekarang Suzy sadar atau tidak melakukan itu pada Myungsoo.

Myungsoo membuka matanya perlahan. Melihat keadaan sekitar yang masih hujan. Rintik-rintiknya masih setia menemani dirinya dan Suzy yang menunggu air hujan itu mereda. Di edarkannya pandangan kearah Suzy. Gadis itu tidak memandangnya. Suzy mengalihkan pandangannya kearah lain, dan Myungsoo melihat kalau Suzy belum sadar kalau dia sudah terbangun. Myungsoo mendengar seluruh ucapan Suzy tadi, ia hanya berpura-pura tidur seraya mamantau Suzy. Untunglah gadis itu bisa bersabar menunggunya bangun. Ia mendengar ucapan Suzy kalau gadis itu merindukan Ibu nya. Dan setelah Myungsoo mendengar itu ia tersenyum kecil. Ternyata dibalik sifat keras kepala Suzy, ia masih bisa menyimpan perasaan bersalah didalam lubuk hatinya. Pikirannya melayang. Mengingat beberapa hari yang lalu ia menemukan Suzy terkapar di trotoar jalan, situasinya pun sama. Hujan. Seperti mimpi, menurut Myungsoo. Myungsoo sendiri juga sering merasakan heran, kenapa pikirannya saat itu membawa Suzy ke dorm nya? Semuanya terjadi dengan cepat, tanpa da siapapun yang merencanakannya. Anehnya, semakin lama Myungsoo malah menikmati keberadaan Suzy disekitarnya. Walaupun harus cek-cok setiap harinya. Myungsoo sekarang sudah bisa merelakan kamar di dorm nya untuk Suzy dan tidur di kamar anggota lain. Walaupun awalnya harus terasa begitu sulit. Dan Myungsoo sendiri tidak tahu, mengapa bisa begini. Karena Suzy paling dekat dengan Myungsoo, karena dialah yang menemukan dan menyelamatkan nyawa Suzy saat itu. Lagipula seluruh kejahilannya pada Suzy hanya sebatas bercanda saja, walaupun terkadang keterlaluan. Ia hanya ingin lebih dekat dengan Suzy dan lebih menjaganya. Myungsoo merasa aneh pada dirinya sendiri, kenapa ia harus merasa nyaman dan lebih hangat saat bersama gadis itu? Harusnya ia merasa risih dan mereka hanya sebatas akrab saja. Bukan perasaan lain! Ayolah, Myungsoo belum siap menerima perasaan.. Suka, apalagi Cinta. Dan yang lebih membuatnya ingin balik memeluk tubuh mungil Suzy yang sudah memeluknya, apalagi saat gadis itu menyederkan kepalanya di pundaknya. Rasanya tangan Myungsoo gatal ingin kembali menyenderkan kepalanya juga dan mengelus rambut berwarna batang mahoni di sampingnya.

***

Suzy menguap lebar saat mereka sudah sampai di dorm Infinite. Setelah dua jam mereka berteduh di halte bus dan hujan baru mereda saat menginjak petang. Tapi tidak apalah, yang penting Myungsoo bangun tepat waktu. Suasana dorm yang sunyi membuat mereka sedikit merinding. Sungguh, mereka lelah setelah sekian lama hanya menunggu sembari duduk tanpa diselingi oleh obrolan yang membuat suasana semakin canggung dan seakan risih satu sama lain. Dan mereka sama-sama membenci suasana canggung seperti tadi. Memandang hujan yang lebat dan suaranya yang menggetarkan jiwa yang tenang, menendang-nendang kaki di udara. Tapi, bukankah disamping mereka ada beberapa makanan ringan yang sebelumnya mereka beli dulu di supermarket? Dan, mereka lupa kalau mereka membawanya. Harusnya mereka masing bisa mencicipi salah satu makanan ringan itu bukan? Apalagi saat perut Myungsoo dan Suzy sama-sama berbunyi karena belum di isi oleh makanan apapun. Bukankah mereka tadi hanya ‘memakan’ air saat berada di café? Kaki mereka juga seakan lemas harus berjalan beberapa kilometer untuk menuju tujuan mereka, tangan mereka juga seakan lemas karena membawa banyak makanan. Rasa kantuk juga menyerang mereka, tapi tidak mungkin mereka tertidur disana. Padahal mata mereka sudah beberapa watt lagi untuk terbuka, mereka tetap terjaga agar tidak ketiduran ditempat umum seperti itu. Jika itu terjadi sangat memalukan dan langsung menjadi topic hot yang menggetarkan Korea Selatan! Melihat seorang Kim Myungsoo yang tertidur bersama seorang gadis dengan wajah asing disampingnya. Hihi~ Terdengar ekstrim dan konyol untuk didengar.

“Infinite oppadeul kemana? Kelihatannya dorm sangat sepi,” komentar Suzy saat mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru dorm Infinite yang sunyi senyap, seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Sedikit horor jika hanya dimasuki sendirian. Suzy bergidik. Sekarang ‘kan sudah hampir malam, setau Suzy sekarang anggota yang lainnya sudah berkumpul di ruang tengah atau menghabiskan waktunya di kamar dengan beristirahat. Dan Suzy mendengar tadi, pembagian jadwal mereka. Myungsoo free, pantaslah dia ‘kan yang membantu Suzy untuk belanja. Yang lainnya tidak terlalu padat, mungkin saat sore juga sudah pulang. Tapi sekarang tidak. Jika ia sudah menginjakan kaki di dorm Infinite saja, suasana dorm juga sudah tampak ramai. Bahkan suaranya sedikit bisa di dengar dari luar. Jika tidak dipasang kedap suara, mungkin suasananya seperti orang-orang yang ingin demo saja. Sangat ricuh. “Eh, Myungsoo. Belanja ini taruh dimana?” tanya Suzy segera mengalihkan topik lain.

“Entahlah. Tumben sekali jika mereka sekarang belum pulang, aku baru bisa maklumi jika mereka memiliki jadwal yang padat. Tapi setahu ku mereka semua jadwalnya juga tidak terlalu padat sekarang ini. Jika mereka sudah berkumpul di ruang tengah, mereka juga akan bermain game atau menonton drama.” Myungsoo menjawab komentar Suzy. Ternyata pikirannya juga sama dengan pikiran Suzy. Apakah mereka pergi bersama tanpa memberi kabar pada Myungsoo? Oh tidak! Jangan sampai itu terjadi untuk kedua kalinya, sudah cukup saat itu hanya dirinya dan Suzy yang tertinggal di dorm. Jika benar pikiran Myungsoo tentang itu, lelaki itu akan memastikan bahwa anggota nya akan menderita selama seminggu. Ia berdecak. “Belanja itu? Taruh saja di meja makan,” sahutnya santai.

“L hyung! Suzy! Kalian habis darimana? Aku tidak melihat batang hidung kalian sejak aku kesini,” sebuah suara yang sangat dikenali oleh keduanya tertangkap oleh indra pendengar itu. Dan juga langkah kaki orang yang seakan berlari kearah mereka. Keduanya yang merasa bahwa namanya dipanggil, Suzy dan Myungsoo langsung menoleh keasal suara. Suaranya juga mengagetkan mereka karena suaranya tiba-tiba begitu saja, tanpa menyapa atau menyentuh pundak mereka dulu?

Ternyata Sungjong. Maknae Infinite. Yah memang terkadang Sungjong suka memanggil Myungsoo dengan nama panggungnya yang sangat singkat, padat, tetapi jelas. Atau terkadang, lelaki termuda itu juga memanggilnya dengan nama Myungsoo. Seperti tidak ada pendirian saja. Lelaki itu langsung menangkap postur tubuh yang sangat ia kenali ketika ia keluar dari kamar dan menangkap Suzy dan Myungsoo yang habis pulang dengan membaca banyak belanja. Ia juga menangkap paper bag, yang bisa dipastikan oleh Sungjong kalau itu adalah isinya pakaian wanita yang dibelikan Myungsoo untuk Suzy. Apakah mereka berkencan? Begitulah sepintas pikiran Sungjong tentang mereka berdua.

“Sungjong-ah!” sapa Myungsoo balik yang menjawab dengan sedikit gugup. Seperti seseorang yang kepergok sedang mencuri sebuah uang. Tapi Myungsoo langsung mengubah sikapnya agar tidak terlalu mencurigakan agar terlihat seperti biasa. Takutnya Sungjong menebak yang macam-macam tapi semua itu salah. Suaranya juga tadi, sangat besar dan membuat jantungnya hampir melompat dari sarangnya. Sungjong memang terkadang menyebalkan, kelakuannya juga seperti seorang maknae. Kekanak-kekanakan. Tapi tidak apalah, merekapun juga tidak mempermasalahkan itu. Tapi harusnya Sungjong lebih bersikap dewasa. Tersenyum seperti biasa. Menghilangkan rasa gugup yang kini menggerogotinya.

Hyung, kau mengajak Suzy…” ucapan Sungjong tadi sempat terpotong karena Myungsoo langsung membekap mulutnya. Benar apa yang dikatakan Myungsoo, Sungjong sangat suka seenaknya tanpa memikirkan konsekuensinya. Myungsoo langsung memberi tatapan mematikan untuk Sungjong, seenaknya saja berbicara. “Kecilkan suaramu bodoh!” tajam Myungsoo. Sungjong langsung memberontak pada hyung-nya, berbuat seenaknya saja padanya. Padahal ‘kan tadi ia hanya berniat menggoda sang hyung saja. Tidak ada niat lain. Sungjong langsung berubah melepaskan tangan Myungsoo dari mulutnya, sesak. “Hyung! Kau menyiksaku,” komentar Sungjong, dia langsung meraup oksigen dengan rakus. Bekapan tangan Myungsoo tadi cukup kuat yang membuat dirinya hampir tidak bisa bernapas. Kejam, pikirnya. Dia ‘kan maknae alias yang paling termuda dari yang lainnya. Harusnya Myungsoo mengucapkannya dengan kata yang baik dan halus, tidak dengan cara kasar seperti tadi. Dia juga akan mengerti, dia ‘kan bukan anak kecil lagi. Myungsoo malah lebih memilih untuk dengan perbuatan daripada menggerakan mulutnya.

“Jangan beritahukan hal itu kepada Sunggyu hyung ataupun yang lainnya! Aku tidak berbuat macam-macam padanya. Arraseo?” Suara baritone milik Myungsoo sangat terdengar menakutkan di telinga Sungjong. Lelaki Kim itu juga tidak macam-macam dengan ucapannya, atau Sungjong akan habis di tangannya saat itu juga. Sungjong bergidik ngeri dengan memundurkan wajahnya sedikit, ekspresi wajah Myungsoo seperti ingin menghabisinya saat itu juga. Akhirnya, ia mengangguk yakin. Sungjong bisa memastikan bahwa hal itu tidak akan bocor dari mulutnya. Sungjong sendiri juga tidak ingin menerima mimpi buruk dari Myungsoo.

“Tapi.. Kau hutang penjelasan yang hyung lakukan dengan Suzy saat berada di luar,” tagih Sungjong segera. Ia hanya mengira bahwa Suzy dan Myungsoo kencan, tapi tetap saja jelasan yang lebih akurat dari sang empu sendiri. “Kalau tidak.. Aku akan membocorkannya dengan yang lebih ekstrim,” Sungjong menyunggingkan smirk andalannya. “Ingat hyung, rahasia mu akan langsung tersebar dalam sekejap.” Katanya lagi. Bagaimana pun juga ia penasaran dengan kegiatan sang hyung dan Suzy.

Myungsoo langsung menjitak kepala sang maknae dan langsung mendengar rintihan sakit dari orang yang terkena jitakan mautnya tadi. Mau tak mau ia harus menjelaskan semuanya pada Sungjong jika semuanya tidak terbocorkan dari mulut ember maknae Infinite itu. Sebenarnya Myungsoo sangat enggan menceritakannya, karena itu hanya penjelasan yang tidak terlalu menarik untuk di dengar dan tidak terlalu penting juga. Karena dia di cengkoki (?) ancaman Sungjong, ia harus menjelaskannya. Ia memutar bola matanya malas, benar. “Baiklah. Tapi jangan memotongnya sembarangan!” Myungsoo melirik keadaan sekitar sebelum melanjutkan perkataanya. “Tadi pagi aku mengajak Suzy untuk membeli beberapa bahan makanan yang telah menjadi korbannya. Maksudnya, Suzy menghabiskan seluruh isi kulkas yang telah kita beli selama seminggu sebagai bahan percobaan masak pertamanya. Jadinya.. Aku dengan berbaik hati menawarkan diri untuk membelikannya mencari bahan-bahan masak yang baru,” jelas Myungsoo yang ia ringkas sedikit. “Bagaimana maknae-ku yang manis? Penjelasanku cukup tidak?”

“Cukup hyung.. Tapi, aku bukan manis! Kau kira aku wanita? Aku lelaki sejati hyung, seharusnya kau bilang bahwa aku itu tampan bukan manis!!” Sungjong sedikit mengoreksi kata-kata Myungsoo. “Tapi, hyung serius? Aku tidak menyangka kalau wanita seperti dia tidak pernah memasak sama sekali. Setahuku, wanita itu harus pintar memasak atau sering bekerja di dapur. Karena ‘kan ia menjadi seorang istri untuk memasakan makanan untuk suaminya. Apa jadinya jika wanita itu tidak bisa memasak? Masa mereka harus sering delivery order atau menyewa pembantu rumah tangga. Itu ‘kan tidak enak hyung rasanya,” celoteh Sungjong tanpa batas yang membuat Myungsoo ingin menyumpal mulut maknae-nya itu dengan beberapa kertas yang telah ia bentuk menjadi bulat-bulatan yang besar. Myungsoo langsung menginjak kakinya, memang tidak ada masalah sih. Hanya saja, telinganya terlalu panas mendengar celotehan yang tidak bermutu berasalkan dari Sungjong. “Sakit hyung, kau tega sekali padaku.” Rintihnya sembari memegang kakinya yang menjadi korban injakan kaki Myungsoo. Satu lagi, tatapan tajam gratis dari Myungsoo. Sungjong kembali bergidik.

Ia berpikir sejenak. “Tapi hyung, aku tidak percaya dengan apa yang hyung katakan. Bagaimana kalian bisa melakukan hal ekstrim seperti itu dengan sangat lancar tanpa orang-orang di sekitar mengetahui bahwa yang disamping kau itu adalah wanita? Tidak ketahuan ‘kan?” tanya Sungjong. Matanya tampak terlihat panik jika hal yang tadi ia bicarakan benar-benar terjadi. Takut sebuah scandal kembali menimpa visual tertampan mereka, Kim Myungsoo. Matanya melirik kearah Suzy yang masih berdiri di sekitar mereka, menatap barang-barang yang mereka beli agar terlihat rapi. “Itu ‘kan…” Refleks Sungjong langsung membelakan matanya kaget. “Itu ‘kan.. Punyaku hyung kenapa kau bisa begitu saja mengambilnya tanpa meminta persetujuan alias izin pada pemilik aslinya hyung? Itu sama saja kau mencuri! Mengambil barang orang tanpa izin, oh! Aku tidak menyangka jika hyung berperilaku seperti itu. Singkirkan sifat burukmu itu hyung!” celoteh Sungjong untuk kedua kalinya. Yang terlihat sangan menolak ketika melihat penyamaran milik Suzy yang ternyata adalah miliknya. “Kenapa hyung memberikan pakaian itu padanya? Kenapa tidak dengan hyungdeul yang lain saja? Jangan mentang-mentang aku maknae, hyung jadinya bisa seenaknya meminjam barangku tanpa izin. Cih,”

“Menyamar,” sahut Myungsoo singkat. “Lee Sung Jong!” gertak Myungsoo tidak sabaran. Myungsoo mengepalkan tangannya, menahan emosinya yang ingin memuncak. Tangannya sepertinya gatal untuk menjitak kepala maknae-nya itu lebih keras. Sekali-kali mungkin dia harus diberi sedikit pelajaran, pikirnya. “Entahlah. Terlintas di pikiranku begitu saja ingin meminjam pakaian milikmu,” Myungsoo mengacungkan dua jarinya V. “Tadi pagi kau masih tidur, akhirnya aku mengambilnya begitu saja. Karena aku hyung yang baik, tidak mau menganggumu yang tampak tertidur dengan pulasnya. Tidak seperti Sunggyu hyung yang hanya bisa teriak ketika membangunkan para anggota untuk bangun pagi. Dan aku baru ingat jika kau ada jadwal, ternyata sudah selesai.” Myungsoo sedikit mengalihkan pembicaraannya dan sedikit narsis. Okey~ Anggota Infinite yang lainnya juga sudah mengakui bahwa Kim Myungsoo itu yang paling tampan diantara yang lainnya. Tapi tidak menunjukan kenarsisan-nya juga-_-

Sungjong mengerucutkan bibirnya kesal. “Myungsoo hyung.. Itu ‘kan pakaian kesayanganku! Mana mungkin aku rela jika pakaianku dipakai oleh orang lain selain aku?” rengek Sungjong dengan menarik-narik ujung busana milik Myungsoo. Menatap memelas kearah sang hyung, layaknya seekor anjing yang meminta makan pada majikannya. Hihi~ Tentu saja hanya bercanda aku, tidak bermaksud meledek. Sungjong sedikit mengeluarkan aegyo andalannya, membuat hyung-nya yang paling tampan itu . Sengaja memasang wajah yang sedikit menderita, seperti pakaian itu hanya satu-satunya yang ia punya. Itu sangat berlebihan, astaga.

“Jangan mengeluarkan aegyo mu yang menjijikan itu dan tidak ampuh meluluhkan hatiku. Kau terlalu berlebihan Sungjong-ah,” Myungsoo langsung menepis tangan Sungjong yang menarik ujung bajunya. Kemudian memutar bola matanya malas. Kenapa maknae-nya ini masih berpikiran secara kekanak-kanakan? Padahal umurnya sudah sampai dua puluh tahunan. Harusnya ia lebih berpikiran dewasa. Ada-ada saja, pikir Myungsoo. “Maaf Sungjong-ah, aku tidak sempat meminta izin padamu.”

Sungjong mendengus seraya melayangkan evil eyes nya pada Suzy. Dan dia hanya bisa pasrah dengan apa yang diterima. Dia juga tidak akan menang melawan pada hyung-nya, walaupun dengan cara apapun itu. Jika ia malah melawan, siap-siap saja akan menerima sesuatu yang lebih buruk. Sungjong sendiri juga mengakui bahwa dia anggota yang paling muda, atau yang biasa lebih kita sebut adalah maknae. Tapi jangan karena dia maknae hanya bisa mengalah terus pada hyungdeul-nya. Itulah Sungjong. Pasrah menerima segala hal yang telah di tetapkan oleh hyung-nya. Terdengar memang sangat prihatin. Tapi mau bagaimana lagi? “Baiklah aku menyerah. Kau menang hyung,” Sungjong pergi dari tatapan mereka bertemu dan kembali menuju ruang tengah, tempat berkumpulnya pada anggota untuk melepas penat mereka.

“Ingat! Itu hanya rahasia kita bertiga, dan tidak boleh sampai ada yang tahu.” Tegas Myungsoo pada Sungjong sebelum lelaki itu benar-benar menghilang dari tatapannya. Lelaki Kim itu mulai mengalihkan pandangannya pada Suzy, yang sibuk memasukan beberapa bahan makanan yang mereka beli. Sebut saja sekarang Suzy sangat rajin. “Ayo Suzy-ah,” ajak Myungsoo. Menarik tangan gadis itu ke kamarnya.

“Kenapa harus aku yang terus menerus bisa mengalah pada gadis itu?” gerutu Sungjong menatap kedua pasangan itu beriringan masuk. Beberapa detik kemudian Myungsoo kembali berbalik meninggalkan kamarnya.

To be Continue…

Tada!!! Author fast update nih.. Tenang aja, akan banyak MyungZy moment kok di beberapa chapter ini.. Jangan lupa tinggalin comment kalian ya, jangan ninggalin page ini gini aja. Terimakasih^^ *bow*

26 responses to “It’s Love, but? (Chapter 7)

  1. Pingback: It’s Love, but? (Chapter 9) | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

  2. Pingback: It’s Love, but? (Chapter 9) | Kiyomizu Mizuki·

  3. Pingback: It’s Love, but? (Chapter 10) | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

  4. Pingback: It’s Love, but? (Chapter 10) | Kiyomizu Mizuki·

  5. Pingback: It’s Love, but? (Chapter 11) | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

  6. Pingback: It’s Love, but? (Chapter 12) | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s