It’s Love, but? (Chapter 8)

kiyomizu-miuzki-copy

It’s Love, but? (Chapter 8)

Kiyomizu Mizuki’s Storyline

Main Cast : Kim Myungsoo [INFINITE’s L] – Bae Suzy [Miss A’s Suzy] || Genre : Romance, Friendship, Comedy/Humor, Hurt/Comfort, Fluff, Sad, and other || Rating : PG-15+ || Length : Chaptered || Disclaimer : Plot and story is mine. I’m sorry if there same any title or characters. Main cast belong to God, their parents, and their agency. I’m sorry if there’s any same title or characters. Sorry if you find typo(s)

Previous : Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4 || Chapter 5 || Chapter 6 || Chapter 7

Big thanks to Ladyoong Graphics for amazing poster!

Happy Reading ^^

***

“Yak hyung kau kena! Sekarang, kau mau pilih yang mana? Truth or Dare?” tanya Woohyun seraya mengerlingkan matanya jahil kepada sang korban yang kini hanya bisa menunduk pasrah. Sekarang, anggota Infinite memang sedang bermain ToD atau Truth or Dare untuk mengisi waktu luang mereka dengan memainkan suatu permainan bersama di ruang tengah, walaupun terkadang di selingi dengan melirik mata sedikit ke arah TV yang menyala. Kasihan sekali TV itu, tidak ada yang mau menontonnya karena mereka sibuk dengan permainan yang kini mereka mainkan. Listrik nya terbuang dengan sia-sia. Tapi mereka masa bodoh tentang itu, tadi sebenarnya mereka menonton K-Drama, tapi karena Sungyeol mencetuskan ide untuk memainkan permainan. Akhirnya mereka terlarut dengan Truth or Dare, ide dari Sungyeol. Sekarang yang menjadi korban adalah sang hyung, Sunggyu. Sungguh malang nasibnya. Mungkin dia juga harus hati-hati jika memilih salah satu dari Jujur atau Tantangan. Mengingat Woohyun sangat menyiksa sang korban. Hihi..

Sunggyu menghela napas pasrah. Kemudian matanya tampak menatap mata Woohyun yang terlihat sangat niat untuk menyiksanya. Jika dia menjawab jujur, pasti dia akan mendapatkan pertanyaan yang aneh-aneh dan tidak sesuai dengan keinginannya. Jika ia memilih tantangan, pasti akan diberikan tantangan yang lebih menantang dan ekstrim untuk dilakukan. Mengingat ada Suzy di sekitar mereka. Sunggyu menghalau wajahnya dengan tangan agar tidak terkena coretan dari Hoya. “Hentikan,” ucapnya pelan. “Jujur,” Sunggyu menghela napas pasrah. Dia bergidik ngeri melihat reaksi anggota yang lainnya dengan evil eyes mereka yang sekarang terlihat sangat menakutkan baginya. Dia sendiri mengakui bahwa dia adalah korban dalam permainannya ini, tapi tidak dengan pertanyaan yang macam-macam juga, membuatnya hampir tidak bisa menjawab saja. Sunggyu berdecak kecil.

Yang lainnya tampak berpikir, pertanyaan apa yang pantas mereka berikan untuk Sunggyu. Sebenarnya sih tidak ada pertanyaan yang menantang, kecuali jika Sunggyu menjawab tantangan, mungkin itu akan lebih seru. “Apa yang hyung pikirkan tentang kedatangan Suzy kesini?” Hoya kembali mencetuskan pertanyaannya. Pikirannya tadi sempat mengarah ke Suzy yang belum terlihat batang hidungnya. Mengingat sejak mereka pulang wanita satu-satunya disana itu tidak ada di sekitar mereka. Mereka yakin kalau Suzy kini bersama Myungsoo, mereka ‘kan yang paling dekat. Mereka saja yang belum melihat keduanya.

Sunggyu berpikir sejenak, mencerna baik-baik perkataan yang diajukan Hoya. “Tentang Suzy… Sejak kedatangannya kesini aku cukup nyaman dan merasa kalau dia sudah seperti adikku sendiri. Walaupun dia baru beberapa hari disini. Aku tidak keberatan jika dia terus menerus tinggal disini,” ungkap Sunggyu jujur. Dia mengeluarkan apa yang berada di dalam hatinya. Awalnya ‘mengurus’ Suzy memang sulit, kelamaan mereka juga bisa membangun chemistry yang lebih baik dengan gadis itu. Lebih merasakan apa itu sifat kekeluargaan. Sunggyu dulu sempat enggan mengizinkannya tinggal di dorm ini. Sekarang tidak. Mungkin karena mereka lebih sering merasakan keberadaan Suzy di sekitar mereka. Dia sangat menyukai sifat lucu Suzy dan sikap polosnya yang terkadang membuat Sunggyu gemas padanya. Sifatnya yang suka mencarikan suasana disaat mereka bersitegang. Mendengar cerita dari Suzy dengan kebiasaannya di London sebelum ke Korea Selatan sekarang. Melihat senyum manisnya yang meluluhkan hati siapa saja yang melihatnya. Sunggyu juga sudah berjanji pada dirinya sendiri, kalau Myungsoo sampai menyakitinya atau membuatnya menangis. Myungsoo akan habis di tangannya. Sunggyu hanya berperasaan sayang saja pada Suzy, tidak lebih.

“Oh….”

“Ehm, Myungsoo darimana saja kau? Kenapa Suzy?” Sungyeol langsung mengalihkan mereka dengan mengajukan pertanyaan pada Myungsoo yang sudah menunjukan rupanya di sekitar mereka. Baru saja tatapannya berhenti ke sosok Myungsoo yang sudah duduk rapi di sekitar mereka. Raut wajahnya tadi terlihat sangat menyimak apa yang mereka tadi lakukan. Matanya terus menerus menyusuri semua tempat di daerah dorm mereka, berusaha mendapatkan sosok Suzy. Tapi kini tetap saja tidak terlihat sama sekali. Sungyeol dan yang lainnya––kecuali Sungjong––sudah tahu kalau tadi Myungsoo izin pada mereka ingin mengajak Suzy, tidak dengan alasan ingin membeli bahan makanan tadi. Jadinya mereka tidak bertanya kenapa keduanya baru jam sekarang pulang. Asal mereka sampai di dorm dengan selamat. Tidak boleh sampai ada luka di tubuh mereka, apalagi Suzy. Mengingat tadi sempat hujan, semoga saja keduanya sempat berteduh dan tidak bersin-bersin saat tengah malam yang sangat sunyi tiba-tiba menjadi bising hanya karena suara bersin.

Myungsoo yang merasa namanya dipanggil langsung menatap orang yang mengajukan pertanyaan singkat padanya. “Suzy? Berganti pakaian,” sahutnya singkat. Myungsoo hanya mendengarkan jawaban Sunggyu, pendapat sang leader dengan kehadiran Suzy di sekitar mereka. Melihat bahwa mereka sedang memainkan permainan Jujur atau Tantangan dan membiarkan TV yang menyala tanpa ada seseorang pun yang berminat menonton acara benda itu.

Hyung makanannya aku habiskan ya,”

Sebuah suara menginterupsikan mereka untuk segera menengok ke asal suara yang sangat mereka kenali itu. Sambil terus melongok dan menatap tajam ke sang sosok yang kini meleletkan lidahnya bak seseorang yang habis mengalahkan sebuah lawan yang jatuh tersungkur sambil merintih kesakitan dan memegangi kaki. Kemudian meraih juara diajak kemenangan yang bergengsi, menunjukan gigi bahwa dirinya juga bisa dan tidak akan pernah terkalahkan oleh siapapun. Lee Sungjong. Siapa lagi kalau bukan maknae Infinite itu yang menatap para hyung-nya dengan tatapan meledeknya. Dengan santainya ia memegang sebuah snack dengan ukuran jumbo yang menjadi cemilan anggota Infinite yang lainnya saat mereka bermain, terkadang juga diselingi dengan obrolan seputar kegiatan mereka atau curahan hati mereka dan juga memakan sesuatu. Sambil terus menerus memasukan makanan itu ke dalam mulutnya dan berjalan pelan menjauh dari mereka. Dengan wajah sok santai, dia terus melayangkan senyuman kemenangan miliknya. Padahal itu sebenarnya belum seberapa. Mungkin itu adalah awal kejahilan maknae mereka yang mulai berani bersikap nakal. Hey! Itu ‘kan makanan untuk bersama, seenaknya saja dia mengambilnya tanpa berbagi dengan orang-orang disana yang bersiap untuk menghajar mereka dan memasukannya ke dalam kantung kemudian membuangnya keluar dorm. Sungjong terus menerus memandang mereka dengan padangan sok berkuasa. “Aku habiskan ya, hyung. Kasihan melihat snack ini di diami oleh kalian, lebih baik aku memakannya. Dan kalian cukup pintar, memilih snack yang cocok untuk sekarang.”

“Lee Sungjong!!!!”

Yang lainnya segera beranjak dari tempat yang mereka duduki tadi. Meneriaki nama sang Sungjong dengan buasnya. Tatapan mata mereka menyiratkan bahwa tidak lama lagi, maknae mereka akan segera habis tidak bersisa. Bukannya kenapa, harusnya Sungjong berbagi makanan itu untuk mereka. Seperti itu hanya makanan satu-satunya saja. Bukankah berbagi lebih baik? Daripada dia harus menghabiskannya sendirian dengan ukuran jumbo yang pantas untuk berbagi dengan orang di sekitarnya? Lebih menyebalkan lagi saat Sungjong meleletkan lidahnya dengan pandangan seenaknya. Mereka berlari menuju lelaki termuda itu yang sudah bisa merasakan aura pembunuh dari hyungdeul-nya. Otomatis, Sungjong langsung melesat untuk menghindari hukuman yang membuatnya menderita selama sebulan itu. Pernah satu kali, Sungjong tidak sengaja mengambil minuman kesukaan milik Sunggyu dan Woohyun disaat yang bersamaan. Dia malah mendapatkan hukuman, yaitu: anggota Infinite yang lainnya langsung mendiaminya begitu saja selama seminggu. Jujur, Sungjong begitu sangat menderita saat itu. Tidak ada yang mengajaknya mengobrol dan yang lain sebagainya. Mengambil makanan sendiri. Yang paling penting, mereka tidak mengizinkan Sungjong makan selama seminggu. Itu sama saja menyiksa fisik sang maknae yang bisa dipastikan, minggu berikutnya dia akan jatuh sakit. Dan yang lainnya juga akan mendapatkan omelan dari sang Manager. Sungjong terus menghindar dari mereka seraya menengok ke belakang, sekumpulan hyung-nya masih mengejarnya tidak pandang bulu. Tidak melihat kearah depan.

Brak!

Bruk!

Naas sekali nasib Sungjong dan anggota Infinite yang lainnya. Mereka terjatuh dengan cara yang sangat tidak elite bagi para idola papan atas yang sekarang meraih angka kesuksesan mereka. Mereka terjatuh dengan cara saling bertindih-tindihan di depan pintu kamar Myungsoo––yang sekarang menjadi tempat Suzy––dan sukses membuat pintu tersebut terbuka dengan sempurna karena ulah mereka yang sangat kekanak-kanakan. Apalagi yang paling merasakan sakit dipunggungnya adalah Sungjong, karena dia yang paling dibawah. Suara rintihan sangat terdengar jelas dari mulut mereka yang tidak henti-hentinya menyuruh seseorang yang paling atas untuk segera turun kebawah, tidak menyiksa mereka. Apalagi Sungjong yang sekarang paling patut untuk di kasihani. Mereka memang berebutan snack itu yang jatuh tepat di kaki Suzy yang baru saja keluar dari kamar Myungsoo. Untung saja, gadis itu sudah selesai berganti pakaian. Bersyukurlah, Suzy. Sebenarnya tadi Suzy juga hendak membuka pintu kamar, tapi mungkin karena Sungjong dan lainnya lebih cepat mendobrak-nya. Mungkin perbuatan mereka yang tadi ingin mengenang masa kecil mereka yang––mungkin––kurang bahagia. Berkejar-kejar dengan teman dan menepuk tangan sang teman. Hihi~ Mungkin itu sangat menyenangkan untuk dilakukan. Tapi harusnya mereka berkaca dulu sebelum melakukan hal tersebut. Jika saja sekarang tidak diluar dan mereka di dalam dorm, jadi rahasia terbesar mereka tadi tidak tersebar di internet. Pasti mereka akan menahan rasa malu karena ketahuan melakukan hal konyol seperti tadi, yang seharusnya dilakukan oleh anak kecil ketika bermain bersama temannya di tengah lapang. Memalukan.

“Astaga!”

Suzy terlonjak kaget melihat sekumpulan lelaki tampan itu terkapar di lantai dengan cara yang konyol dan membuat siapapun yang melihatnya pasti akan tertawa. Apalagi saat merasakan ada sesuatu yang jatuh kearah kakinya. Suzy mengerutkan dahinya bingung. Sebenarnya apa yang dilakukan oleh mereka dan sukses membuat kekacauan seperti ini? Batinnya bingung. Sungguh, Suzy baru pertama kali melihat seorang idola papan atas yang melakukan hal konyol ini. Walaupun ia tidak menyaksikan secara langsung apa itu perkaranya. Tapi tetap saja, jatuh seperti itu terlihat sangat konyol. Ternyata~ Dibalik ketampanan dan gaya cool yang mereka pancarkan di muka umum tidak se-cool kehidupan reality mereka di dalam dorm atau di sekitar keluarga masing-masing. Ya, setiap orang pasti mempunyai jati diri mereka masing-masing. Tidak selamanya mereka harus ber-acting baik, jika dia seorang idola pasti harus bertingkah secara professional dan tidak boleh sembarangan. Oke Suzy berpikir seperti itu. Ia pasti yakin kalau suasana di dorm Infinite pasti akan kacau balau, karena mereka menunjukan diri mereka masing-masing dengan cara mereka sendiri. Dan hanya di hadapan anggota yang lainnya saja. Suzy tertawa kecil melihat mereka. “Hey oppadeul! Cepat bangun, kalian tidak kasihan dengan nasib Sungjong oppa yang berada di paling bawah?” Suzy menyadarkan mereka yang belum menyadari keberadaannya di sekitar. “Eh, Myungsoo oppa, apa yang terjadi dengan yang lain?” setelah menemukan keberadaan Myungsoo yang berdiri di ruang tengah dengan posisi yang sangat nyaman dan tidak terganggu dengan keadaan sekitar yang kacau. Suzy menghampirinya.

“Suzy.”

Sunggyu mendongakkan kepalanya. Gadis itu sudah tidak berada di hadapan dia, karena sudah berada tepat disamping Myungsoo dan bertanya pada lelaki Kim itu. Myungsoo sama sekali tidak terlibat dalam ‘kasus’ tadi. Lagipula Myungsoo hanya melihat perbuatan mereka dan tidak mau ikut. “Hey cepat turun, punggungku sakit bodoh!” rintih Sunggyu seraya menepuk dengan cukup keras tangan Woohyun yang berada di paling atas mereka. Lagipula kenapa mereka malah berlama-lama dengan posisi seperti itu yang pada akhirnya membuat mereka bertambah sakit? Bodoh. Mungkin karena mereka terlalu banyak mengeluarkan suara umpatan dan rintihan.

“Kalian seperti anak kecil saja hyung.”

Komentar Myungsoo melihat kelakuan anggota nya tadi seperti anak kecil berusia lima tahun yang bermain dengan teman-temannya. Kelakuan mereka memang ada-ada saja dan tidak terduga. Myungsoo dan Suzy tertawa bersamaan, tangan lelaki Kim itu merangkul Suzy dan mengelus tangan gadis Bae yang berada di sebelahnya. Menertawakan mereka yang masih kesusahan untuk turun dari sana. Myungsoo menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. “Lain kali, kalian harus lebih hati-hati! Jangan mudah terpancing emosi kalian sendiri. Lihat, bukanlah ini masih ada banyak pula! Tidak usah berebut, ini ‘kan ukuran jumbo. Kalian kan, bisa berbagi,” Myungsoo tampak menghentikan nafasnya sejenak. “Dan kau, Sungjong-ah. Jangan suka mencari perhatian pada orang lain jika membawa buruk padamu!” Myungsoo berucap dengan bijak.

Sungjong melayangkan pandangan berbinar-binarnya pada Myungsoo. Tentu saja hal itu hanya bercanda. “Aku baru pertama kali melihat hyung berbicara sebijak itu. Tumben sekali, biasanya tidak pernah. Karena seorang Kim Myungsoo yang ku kenal hanyalah bersikap sok cool dihadapan para penggemarnya dan terkadang di dalam dorm,” katanya seraya tersenyum mengejek kearah Myungsoo. Sungjong juga sempat berpikir. Apakah karena keberadaan Suzy yang membuat hyung nya menjadi seperti ini? Dan bertingkah bahwa dialah orang yang baik? Pikirnya. Sungjong tadi sebenarnya hanya bercanda untuk menarik perhatian para hyungdeul-nya. Maksudnya bukan mencari perhatian yang lebih, hanya saja ia hanya terbesit di pikirannya untuk sesekali menjahili mereka dengan caranya yang berbagai. Semoga saja habis ini ia tidak hokum oleh mereka. Asal tahu saja, Sungjong sudah sering mendapatkan hukuman yang sadis dari mereka. Tapi itu tidak membuatnya menangis. Karena menurutnya, kewajiban maknae adalah menjahili sekalian menghibur diri. Bilang saja pendapatnya itu cukup aneh dan tidak masuk akal. Kalau menurut Sungjong, alasannya akan lebih ia bikin lebih terdengar masuk akal (?)

“Apa yang terjadi?” Suzy mendekat kearah Myungsoo. Tadi ia hanya melihat bahwa Sungjong dan yang lainnya terjatuh––kecuali Myungsoo––di depan kamarnya. Sisanya yang lebih ia tidak melihat yang asli. Dia menaruh rasa sedikit penasaran kenapa mereka bisa terjatuh dengan begitu tidak elite nya.

“Bukan sesuatu yang penting,” Myungsoo mengacuhkan pertanyaan Sungjong tadi dan malah menjawab pertanyaan Suzy yang baru saja dilontarkan oleh gadis itu. “Apakah baju itu cocok di tubuhmu?” tanya Myungsoo melihat pakaian yang dikenakan oleh Suzy. Tadi mereka sempat mampir sebentar untuk membeli pakaian wanita. Hampir saja mereka lupa dan malah hampir tidak membelinya, untung saja Myungsoo tiba-tiba mengingat sesuatu dan memutar jalan mereka. Daripada Suzy harus mengenakan bajunya yang lebih kebesaran ditubuh gadis itu? Lebih baik mengeluarkan uangnya lagi. Sebut saja sekarang Myungsoo sedang berperilaku baik dan tidak acuh lagi pada Suzy, ia hanya menanamkan rasa pedulinya pada gadis itu. Membantu seseorang yang sedang membutuhkan bukankah itu sangat bagus? Dan lebih menambah amal. Mungkin tadi juga sempat ada malaikat yang berbisik pada Myungsoo untuk berbuat baik. Kkk~

“Tepat sekali. Cocok sekali melekat ditubuhku. Maaf karena terlalu banyak merepotkanmu hari ini. Dan terimakasih atas bantuanmu,” kata Suzy lengkap dengan senyum yang menghiasi wajahnya kini. Myungsoo juga membalasnya dengan senyuman.

“Aduh, pinggangku sakit!” rintih Sungjong tak tertahankan. Siapa suruh dia duluan yang melakukan kejahilan yang mengakibatkan dia yang paling menerima banyak balasan? Karena karma itu berlaku. Ia memegangi pinggang belakangnya dan sedikit memijatnya pelan, berusaha menghilangkan rasa sakit di sekitar pinggangnya. Sudah jatuh paling dibawah dan langsung di tindih oleh hyung yang lainnya. Sepertinya nasibnya tadi sangat sulit. Sungjong sendiri seharusnya juga mengakui kalau dialah yang menyebabkan dirinya sendiri jatuh dan mereka kesakitan. Tapi karena ego nya yang terlalu tinggi. Hehehe~

“Woohyun oppa..” Suzy berlari kecil kearah Woohyun yang terlihat sedang memakan snack yang baru sembari menonton tayangan di televisi. Daripada ia tidak diceritakan apa yang terjadi sebenarnya, lebih baik ia meminta maaf pada Woohyun. Lagipula Suzy juga tidak terlalu penasaran apa yang terjadi dan ia juga tidak tahu apa-apa tadi. Suzy melupakan hal tersebut dan hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah anggota Infinite yang ternyata jauh dari kata cool. Mungkin inilah jati diri mereka masing-masing. Tidak seperti yang ia bandingkan dari layar kaca. Suzy malah lebih suka melihat mereka yang seperti ini, apa adanya dan bersifat lebih terbuka dengan sifat asli mereka yang macam-macam. Anggota Infinite juga selalu menghargai penggemarnya, Suzy juga sangat suka dengan sifat mereka yang tadi. Jika saja ada salah satu orang yang merupakan penggemar mereka yang berada disini, mungkin mereka hanya bisa menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah asli mereka yang jauh dari yang sering mereka lihat. Tapi, menurut perkiraan Suzy, penggemarnya justru akan tambah menyukai sifat mereka yang berani bertingkah seperti itu dihadapan penggemarnya dan akan bertambah bangga karena menjadi Inspirit, nama penggemar untuk Infinite.

“Ya, kenapa?” Woohyun membalikan tubuhnya saat mendengar namanya dipanggil oleh Suzy yang merupakan satu-satunya wanita yang ada di dorm mereka. Woohyun memberhentikan acara makannya sejenak dan memilih untuk mendengar ucapan Suzy kali ini.

“Maaf soal tadi pagi. Aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuk kalian dan tidak ada maksud yang buruk dari itu. Lagipula aku juga tidak pernah mencoba untuk memasak ketika di rumahku disana. Jadi, aku mencobanya dengan cara mengingat apa yang pernah diajarkan oleh Ibuku saat memasak, meski hasilnya aku malah menghancurkan dapur kalian. Maaf,” raut wajah Suzy terlihat sangat menyesal apa yang telah dilakukannya saat tadi pagi. Ia menunduk. Tidak berani menatap mata Woohyun. Melihat raut wajah mereka yang sangat tulus menjaganya ketika berada disini. Suzy juga ingin memberikan sesuatu yang special pada mereka, meski itu sederhana dan hasilnya akan jauh dari kata sempurna tapi Suzy yakin mereka akan menerimanya jika hasilnya tidak bagus. Suzy juga akan tetap berusaha agar hasilnya memuaskan.

“Tidak apa-apa Suzy-ah. Aku saja sudah melupakannya,” Woohyun menghentikan tawanya tadi setelah mendengar penjelasan Suzy tadi. Kemudian tangannya mengacak-acak surai berwarna batang mahoni Suzy itu dengan gemas. Woohyun sebenarnya sudah tidak memasalahkan hal itu lagi, ia malah melupakannya.

“Dan saat tadi pagi juga. Terimakasih banyak karena sudah membantuku,” kata Suzy lagi. Ia mengusap belakang tengkuk-nya dengan pelan. Menghilangkan rasa canggung yang sudah menggelayutinya tadi dan masih menundukan kepalanya.

“Tidak apa, jangan menunduk terlalu seperti itu. Aku sungguh senang telah membantumu Suzy,” sahut Woohyun menenangkan gadis bermarga Bae itu dan tersenyum senang.

***

“Astaga! Mworago? Kenapa aku malah mendengarkan lagu seperti tadi? Astaga Myungsoo, apa yang telah terjadi padamu? Siapa yang telah merasukimu sehingga bisa mendengarkan lagu seperti itu?! Ayolah~ Siapapun yang telah merasuki pikiranku sekarang, segera keluar!!” Myungsoo segera mencabut earphone nya dari gendang telinganya dan menghempaskan benda yang akhirnya bernasib malang itu terjatuh dengan naasnya di kasurnya. Ketika ia mulai ada sesuatu perasaan aneh yang muncul di permukaan hatinya. Baru saja ia sadar kalau ia mendengarkan hal seperti itu, sebelumnya ia tidak pernah merasakannya sama sekali. Sekarang baru pernah, kecuali saat ia merasakan halnya cinta pertama saat ia masih sekolah dulu. Tapi setelah itu sudah tidak pernah lagi dan sekarang sudah muncul lagi? Myungsoo sendiri juga bingung pada dirinya sekarang ini. Siapa yang telah membisiknya dengan seperti itu yang membuatnya menjadi sangat terdorong untuk mendengarkannya?

“Ya Tuhan! Aku bahkan tidak pernah percaya dengan hal ini! Kenapa aku bisa mendengarkan lagu ballad dan lagu seperti orang jatuh cinta tadi?” Myungsoo mengomel sendiri seraya memukul pelan kepalanya yang dirasanya bersalah. Saat mendengarkan kedua lagu tadi, ia merasakan bahwa hatinya merasa sedih dan galau. Saat mendengarkan lagu yang kedua, ia malah tersenyum-senyum sendiri seperti seorang anak kecil yang baru saja merasakan getaran aneh dalam hatinya yang biasa di sebut oleh dengan nama cinta pertama. “Apa yang terjadi denganku?! Huah eomma! Ada apa dengan dirimu? Lupakan!” Myungsoo menghentak-hentakan kakinya kesal dengan cara melampiaskan rasa kesalnya pada lantai yang dilapisi karpet lembut dan sangat nyaman untuk di duduki karena kelembutannya yang sangat terasa. Myungsoo mengacak-acak rambutnya frustasi, dan sekarang rambutnya menjadi sangat berantakan dan tidak tertata rapi lagi. Sebut saja kelakuan Myungsoo tadi sangat kekanak-kanakan. Kemudian tangannya kembali memungut earphone nya tadi dan melemparkan alat itu yang kembali bernasib naas yang menabrak dinding.

Ada yang terjadi dengan dirinya? Siapa yang telah membuatnya menjadi seperti ini? Dan tiba-tiba pikirannya malah tertuju pada Suzy. Gadis bernama asli Bae Suzy itu yang masih berketurunan Korea Selatan itu membuatnya berhasil tersenyum-senyum sendiri memikirkannya. Sampai akhirnya ia tersadar kalau dirinya sedang memikirkan Suzy. “Astaga! Yang benar saja aku memikirkan gadis aneh bin ajaib itu? Tidak mungkin sekali seorang Kim Myungsoo berhasil jatuh cinta pada orang yang baru dikenalnya beberapa hari yang lalu. Tidak mungkin seorang Kim Myungsoo bisa tertarik dan menaruh hati padanya yang telah membuatnya sering kerepotan karena ulahnya yang selalu aneh itu! Tidak mungkin dan tidak akan pernah hal itu terjadi, kalau Kim Myungsoo tertarik pada Bae Suzy. It’s impossible!” Myungsoo mengucapkan hal itu sesuai dengan keinginan hatinya. Kemudian menghempaskan tubuhnya di kasur dan tertawa sendiri. Persis seperti orang gila. “Aku salah makan atau mataku yang telah bermasalah sehingga bisa berpikiran seperti itu?” tanyanya lagi. Myungsoo berdecak sebal, kemudian mencoba menghilangkan perasaan aneh itu yang telah berhasil menguasai hatinya dengan penuh.

Sekarang lelaki bermarga Kim itu sedang menyadari betapa bodohnya dirinya. Sejak tadi, ia memang sedang mendengarkan beberapa lagu ballad yang bagaikan seseorang yang baru saja merasakan jatuh cinta, walaupun itu pada pandangan pertama. Dan secara tidak sadar dia malah menikmati lagu-lagu tersebut dan kemudian tersenyum-senyum sendiri. Tentu saja itu bukanlah dirinya yang sebenarnya. Sekarang Myungsoo memang bersantai di dalam kamarnya yang sekarang tengah ditempatinya bersama Sungyeol. Kamarnya sendiri ia korbankan untuk Suzy, selama gadis itu masih tinggal disini. Myungsoo berdecak sebal, ditengah-tengah ia sedang ia dengarkan pikirannya tertuju pada Suzy. Saat mengingatkannya pun Myungsoo tersenyum dengan riangnya. Beberapa menit kemudian, dia tersadar dan segera mencabut earphone yang sedaritadi terpasang ditelinganya. Tadi rencananya sebenarnya, Myungsoo ingin bersantai sambil mendengarkan lagu kesukannya. Entah tangannya yang salah memencet atau bagaimana, ia malah memilih lagu ballad dan sampai akhirnya ia terus menerus mendengarkannya secara tidak sadar. Tidak henti-hentinya sekarang Myungsoo tengah berdecak dengan perasaan sebal yang berada di dalam hatinya. Menyadari betapa teledorannya dirinya, sampai tidak menyadari apa yang tengah ia dengarkan.

“Lama kelaman, aku bisa gila begini terus.” Ucapnya seraya mendudukan dirinya kembali diatas ranjang. Myungsoo akhirnya beranjak dari tempat terakhirnya tadi.

Lelaki bermarga Kim itu meletakan kedua tangannya di dekat kaca. Lelaki itu mengalihkan pandangannya pada langit yang sekarang berwarna biru cerah yang sangat indah jika dilihat sekarang. Pemandangan langit indah menyapa mata Myungsoo dan membuat mata lelaki itu berbinar-binar dengan penuh kekaguman. Yang telah seakan menyita mata Myungsoo untuk lebih dekat memandang langit biru yang indah itu. Entah kenapa Myungsoo merasa sangat tenang setelah melihat pemandangan indah yang begitu menyejukan hatinya. Merasa sangat senang. Myungsoo menjanggal kepalanya dengan telapak tangannya. Matanya terus menyusuri langit biru itu dengan seksama dan focus, seakan sedang menonton film di bioskop. Awan-awan itu seakan berjalan. “Rasanya aku lama sekali melihat langit seperti ini. Begitu indah,” komentar Myungsoo. Tangannya tampak seakan ingin menangkap sesuatu dari langit itu di udara. Menatap fokus kearah gumpalan-gumpalan awan tersebut. Pemandangan langit itu seakan menyita perhatiannya sejak tadi. Dan juga hembusan angin yang menerpa wajahnya dan memainkan anak rambutnya dengan jahil. Angin dari balkonnya seakan sejuk sekali. Rasanya Myungsoo ingin terus melihat keadaan langit seperti ini. Biru cerah yang seakan menambah semangat bagi siapapun yang melihatnya sekarang, gumpalan awan yang seakan membentuk sesuatu yang ukirannya sangat rumit, dan terakhir angin yang masih setia berhembus dengan lembut. Myungsoo menutup matanya sejenak, lebih terus menikmati sejuknya angin sekarang. Sungguh! Myungsoo sangat menyukai keadaanya sekarang. Kemudian, tidak ketinggalan dirinya mengambil ponsel dan memotret pemandangan yang jarang sekali terjadi itu. Menyimpan moment itu.

“Awan… Hmm~ Mau tidak mendengarkan ceritaku?” Myungsoo memainkan jemarinya. Bertanya pada gumpalan awan yang seakan setia menemaninya dan mendengarkan curahan hatinya. “Kau tahu? Akhir-akhir ini aku merasakan ada yang aneh pada diriku sendiri. Entah kenapa baru sekarang aku menyadari semuanya. Awalnya aku kira hanya perasaan sesaat saja yang kemudian menghilang bagaikan dibawa oleh angin. Tapi lama-kelamaan perasaan ini malah semakin gila. Perasaan ini memang aneh, tapi aku menyukainya,” Myungsoo memulai awal ceritanya pada awan itu. Ia bahkan membayangkan bahwa sang awan memang tengah mendengarkan ceritanya. Matanya mengerling, seperti membayangkan seseorang.

“Jujur. Dia itu memang pembuat masalah, tidak cantik tetapi tidak jelek juga. Dia menarik, iya gadis itu memang menarik. Dia berhasil meracuni otakku dan juga hatiku,” kata Myungsoo sembari tersenyum senang. “Dia memang sering merepotkan dan menyusahkan aku dan anggota lain. Tapi anehnya aku senang membantunya walaupun dia seperti itu. Dia itu lucu, lucu sekali! Apalagi ketika dia sedang salah tingkah, wajahnya terlihat manis. Dan dia bagaikan seperti matahari. Menyilaukan mata tetapi membuat hatiku bahagia..” lanjutnya diselingi tawa kecil. Mengingat seseorang yang sekarang terus membuat kepikiran. Sampai sekali tidak pernah focus mengerjakan sesuatu. Karena terlalu banyak memikirkan seseorang.

“Apa itu semua tanda bahwa aku mulai menyukainya atau.. aku justru malah mencintainya secara tidak sadar kalau perasaan itu terus tumbuh dan semakin menggila! Atau sekarang aku bukan menyukainya lagi, tapi malah mencintainya. Setelah aku mengingat kalau suka itu beda dengan cinta,” Lelaki itu mulai duduk diatas lantai dan mengangkat kedua lututnya dan membenamkan dagunya di kedua lututnya itu. Kemudian dia mulai berpikir seraya menerka perasaannya sendiri. Myungsoo mengakui kalau perasaan cinta itu akan tumbuh ketika kita mulai menyukai rasa pada orang lain. Catat! Menyukai dan mencintai itu beda. Kalau cinta adalah perasaan yang lebih dari perasaan suka dan akan hilang dengan sendirinya, sebenarnya kalau cinta itu terlihat lebih serius. Karena itulah urusan perasaan yang lebih. Kalau suka, suka adalah perasaan yang bisa dibilang labil. Kalau suka bisa hilang dengan cepat. Kalau cinta tidak. Cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya tanpa kita sadari yang kita ketahui saja adalah kita sudah ada perasaan dengan orang tersebut. Mungkin seperti itulah perkiraan yang telah dialami oleh Myungsoo. Dan Myungsoo mengakui kalau benci bisa menjadi perasaan cinta, mungkin itu kebalikannya. Itu lagi yang telah dialami oleh dirinya sendiri, awalnya ia sebal karena keberadaan Suzy yang bisanya hanya bisa mengacau saja.

Ini pertama kalinya yang terjadi di dalam hidupnya. Kecuali merasakan suka pada lawan jenis saat dia masih sekolah dulu. Pertama kalinya ia merasakan hatinya berdetak dengan kencang ketika berdekatan dengan seorang wanita. Tiba-tiba hatinya merasa senang, ketika hatinya terasa goyah ingin melindungi wanita itu terus menerus. Sampai tidak ingin melihat ada luka di tubuhnya. Sebelumnya Myungsoo juga pernah merasa ingin melindungi seorang wanita, sebelum Suzy. Tapi kali ini perasaannya sungguh lebih berbeda dari sebelumnya, perasaan ini lebih kuat dan yakin ingin melindungi gadis itu, bahkan lebih.. seperti ingin terus memilikinya. Dan gadis itu adalah…. Bae Suzy. Gadis pengacau, namun dalam benak Myungsoo sebenarnya Suzy itu sangat manis dimatanya. Gadis yang sering membuatnya kesal dan marah. Tapi kenapa gadis itu malah menarik hatinya dan menyingkirkan perasaannya yang dulu? Hatinya kini berganti. Tidak dengan ‘dia’ sekarang malah dengan Suzy. Bae Suzy. Bae Suzy. Bae Suzy. Bae Suzy. Myungsoo kembali mengacak rambutnya kasar ketika otaknya merasakan penuh dengan nama Suzy.

“Myungsoo!!!!!” tiba-tiba sebuah teriakan kencang menyambut indra pendengarannya. Myungsoo sendiri juga langsung tersadar dari lamunanya dan hampir terjungkal kebelakang. Tanpa berpikir dan berbalik siapa seseorang yang telah memanggil namanya dengan begitu kencang, suaranya sangat dia kenali. Siapa lagi kalau bukan gadis yang tadi sedang dipikirkannya.

“Myungsoo…. Ayo kita main lagi!!” seru Suzy dengan semangat, tidak lupa dengan senyum yang selalu setiap hari Myungsoo lihat.

Myungsoo langsung berbalik––menghadap Suzy, lalu menaikan satu alisnya. “Main apa?” tanyanya.

Games yang kemarin! Aku akan mengalahkanmu,” Suzy berucap dengan nada yang cukup menantang. Matanya memandang Myungsoo seakan kalau hari ini dia akan menang, mengalahkan Myungsoo setelah yang kemarin.

Myungsoo tampak mengingat-ingat permainan yang keduanya lakukan tengah malam kemarin. “Oh pertarungan tengah malam saat itu? Haha~ Kemarin kau kalah ‘kan? Mana hadiah untukku?” tagih Myungsoo setengah bercanda ketika dia berhasil mengingat pertarungan yang dilakukannya kemarin malam.

Kemarin tengah malam. Suzy terbangun karena insomnia nya kembali kambuh, entah apa alasannya. Kemudian dia berniat untuk pergi ke dapur kemudian membuat segelas susu yang mungkin bisa ia jadikan minuman agar membuat kantuk saat itu menyerangnya. Dan saat malam hari ia melihat Myungsoo habis keluar dari toilet dan melaju untuk ke kamarnya, kemudian Myungsoo bertanya kenapa Suzy tidak tidur padahal sudah tengah malam seperti ini. Suzy menjawab karena dirinya terkena insomnia, akhirnya ia belum bisa terserang kantuk lagi. Myungsoo akhirnya mencetuskan ide kalau mereka akan bermain PS atau Play Station saat tengah malam itu juga untuk sedikit melakukan ‘gerak’ walaupun itu hanya menarikan jemarimu. Mungkin akan cukup melelahkan mata karena terlalu fokus pada layar monitor di depan. Pertarungan samurai, kira-kira seperti itu. Dan Myungsoo menang, sedangkan Suzy yang kalah. Tapi seingat Suzy mereka tidak pernah sebelumnya membuat perjanjian macam itu sebelumnya? Siapa yang membuatnya?

“Hey? Memangnya kita pernah melakukan perjanjian yang seperti itu? Setahu ‘ku tidak,” Suzy mengangkat satu alisnya dan memandang Myungsoo sinis. Atau lelaki itu hanya membual saja? Padahal mereka tidak pernah melakukan perjanjian itu?

“Setiap yang menang pasti akan mendapatkan hadiah dari siapa itu yang kalah,” jelas Myungsoo dengan senyum mengejek miliknya. Mungkin dia memang benar hanya membual saja, padahal tidak ada. Memang terkadang menyebalkan menurut Suzy, tapi ternyata seru juga bertarung bermain game dengan visual Infinite yang bermarga Kim itu. Mungkin baru hari ini Myungsoo membuat perjanjian aneh sepeti tadi, semalam tidak ada.

“Tapi ‘kan kita hanya bermain biasa, tidak mau!” elak Suzy dengan mengangkat dagunya sedikit dan melipat kedua tangannya dan menatap tajam Myungsoo yang bisanya hanya bisa membuatnya kesal saja. Ini ‘kan hanya permainan biasa dan bukannya secara langsung, kalau secara langsung sih Suzy juga akan menerimanya dan dia juga yakin kalau dia yang kalah. Tapi siapa tahu saat bermain langsung dia yang menang? Karena tidak ada yang mungkin ketika kita tidak mencoba dengan berjuang keras. Ini hanya lewat game saja dan tidak lebih dari itu, tapi Myungsoo sudah berani menuntut macam-macam.

Myungsoo berdecak sebal dengan sikap Suzy yang baru saja dia lihat. “Aishhh…. Dasar wanita! Egois!” cibirnya sambil beranjak dari kasur. “Kalau begitu, aku tidak mau lagi bermain dengan mu,”

“Eh, andwea..” Suzy langsung menarik lagi lengan Myungsoo yang hendak keluar dari kamarnya. Kemudian merengutkan bibirnya tanda dia sedang kesal padanya. “Aku masih ingin bermain, pokoknya sampai aku menang baru aku akan menganggap bahwa permainan ini selesai!” ucapnya tegas. Suzy memandang Myungsoo dengan tetap tajamnya yang seakan ingin menusuk manik mata lelaki itu. Jari telunjuknya tampak mengarah pada wajah Myungsoo.

Mwo?! Tidak mau! Mana ada peraturan permainan seperti yang kau katakan tadi,” tolak Myungsoo dengan wajah yang tak kalah menyebalkan dari wajah yang ditunjukan Suzy tadi. “Aku akan bermain lagi bersamamu. Tapi hanya sampai tiga round. Dan siapa yang menang, dia akan mendapatkan hadiah dari si kalah dan yang kalah mendapatkan hukuman dari siapa yang menang. Bagaimana?” tawar Myungsoo dengan senyuman jenakanya. Kemudian dia mendengus kecil apa yang diucapkan Suzy tadi. Permainan akan selesai jika gadis itu yang menang? Yang benar saja, Myungsoo baru pertama kali mendengar peraturan bemain seperti tadi. Kalau itu sama saja egois. Hey, bukankah setiap manusia membaut perasaan egois? Begitu juga dengan dirimu Kim Myungsoo…

Suzy berpikir sejenak, mencoba menimbangi tawaran Myungsoo tadi. Otomatis, jika dia yang akan kalah dari 3 round tadi dia harus memberikan hadiah untuk Myungsoo dan mendapatkan hukuman darinya juga. Itu sama saja menyenangkan di pihak Myungsoo dan rugi di pihak Suzy. Yang benar saja, itu sama saja memberinya hukuman ganda. Peraturan macam apa itu? batin Suzy protes.

“Baiklah!” Suzy menyetujuinya. Suzy akan terus meyakinkan dan optimis bahwa ia akan menenangkan game untuk permainan mereka kali ini.

Myungsoo langsung menyalakan televisi yang berada di ruang tamu dan mencolok kabel pada setop kontak yang akan menyambung pada televisi, lelaki itu sedang menyalakan Play Station. Karena Suzy tidak terlalu mengerti bagaimana caranya, ia hanya diam sembari memandangi Myungsoo yang sedang bekerja untuk menyalakannya. Matanya terus menerus memandangi apa yang dilakukan oleh lelaki bermarga Kim itu. Wajahnya tampak serius memasukan DVD kedalam tempatnya. Bukannya tidak mengerti, Suzy hanya saja tidak terlalu terbiasa menyalakan sesuatu di Korea Selatan. Karena dia mempunyai sifat yang sangat ceroboh, daripada dia harus sok tahu tentang hal yang baru dikenalinya tapi akhirnya merusak bagaimana? Lebih baik dia diam memandangi Myungsoo.

“Siap?” tanya Myungsoo yang telah duduk disamping Suzy seraya mengenggam analog miliknya yang sebelumnya sudah ia berikan kepada Suzy. Gadis itu mengangguk yakin, seraya menggenggam analog nya dengan erat. Setelah itu langsung mengalihkan pandangannya pada televisi yang sekarang sudah terdapat gambar permainan yang akan mereka pertarungkan hari ini. Akhirnya…. Pertarungan mereka pun dimulai.

Sebelum resmi dimulai. Mereka menggunakan animasi dulu. Myungsoo menggunakan seorang lelaki dengan berambut biru panjang dan memakai pakaian khas Jepang seperti animasi dalam kartun Inuyasha sebagai petarung yang akan berkelahi dengan Suzy. Sedangkan Suzy memilih seorang wanita dengan rambut panjang yang diikat satu dibelakang dengan rambut berwarna kecoklatan dan memakai pakaian khas Jepang. Kemudian mereka menamai diri animasi masing-masing dengan: Myungsoo menamai diri nya dengan nama Haruno L dan Suzy menamai dirinya dengan Ayane Zyeon. Mungkin nama belakang mereka memang terdengar aneh, tapi memang begitulah pilihan masing-masing. Terserah mereka lah, bukankah mereka yang bermain? Kenapa jadi kita yang membahas keduanya?

Dengan penuh konsenstrasi dan penuh dengan semangat yang tinggi. Pandangan mata Suzy hanya tertuju pada layar televisi saja, tangannya dengan lincah bergerak diatas analog itu. Suzy terlalu fokus memainkan game nya sekarang. Ia tidak perduli apa yang terjadi nantinya, yang sekarang dipikirannya hanyalah dia memenangkan permainan ini alias mengalahkan Myungsoo. Sungguh! Suzy mengutuk dirinya kenapa dia bisa begitu dengan mudahnya terkalahkan oleh Myungsoo semalam, padahal baru babak pertama dan belum babak kedua. Tapi sekarang ia hanya ingin mengalahkan Myungsoo, tidak dengan yang lain. Kalau Suzy terlalu semangat sampai tidak mau menengokan kepalanya kepada Myungsoo. Ya, gadis itu tampak menekan tombol-tombol analog disana dengan kuat, saking seriusnya, sampai tangannya mengeluarkan keringat dingin. Sedangkan Myungsoo? Lelaki itu tampak santai menghadapi Suzy, sesekali dia memang melirik kearah Suzy yang terlalu fokus dengan permainan yang mereka mainkan. Namun entah kenapa jurus-jurus samurai dari Haruno L berhasil membuat Ayane Zyeon jatuh tersungkur.

“Eh! Ih! Huh! YA!” gumam Suzy gemas berusaha mengeluarkan jurus-jurus mautnya. Suzy mengepalkan tangannya dengan analog yang dia pegang. Sungguh! Padahal dia sudah berusaha mati-matian demi mengalahkan seorang Kim Myungsoo yang tidak henti-hentinya mengalahkannya. Bahkan ia baru mendapatkan beberapa point, sedangkan Myungsoo point nya sudah sangat jauh darinya. Oke, saat ini Suzy mengakui kalau Myungsoo cukup lihai dalam mengalahkannya. Ia juga tidak hentinya sering berdecak karena selalu kalah dengan Myungsoo. Suzy mengerucutkan bibirnya dengan kesal. Rasanya dia ingin langsung berpikir untuk pasrah, tapi Suzy segera menepis pikirannya itu dan memilih untuk optimis dan lebih semangat mengalahkan Myungsoo. Letak tangannya yang sebelumya telah merenggang langsung kembali kuat, sebenarnya Suzy terlalu serius membawakan semua ini. sebenarnya ini hanya ajang untuk mencari kebersamaan dan refreshing saja tidak lebih. Suzy jika sudah serius, tidak akan bisa diganggu lagi. Jika diganggu dia akan malah mengomel tidak jelas dengan berkata kasar.

Myungsoo melirik kearah Suzy. Lelaki ini terkekeh pelan melihat tingkah Suzy yang dilihat terlalu berlebihan. Jujur, tingkah Suzy yang sekarang tampak gigih untuk mengalahkannya. Entah kenapa, Myungsoo berpendapat kalau tingkah Suzy sekarang sangat imut dengan wajah seperti itu. Entah itu; mengerucutkan bibirnya, mengembungkan bibirnya, berucap tidak jelas, dan yang sebegainya. Rasanya Myungsoo ingin mengacak-acak rambut Suzy itu, apalagi poni depannya yang sudah tidak tertata rapi lagi. Kkk~

“Yah! Game over!” seru Suzy kesal ketika melihat tulisan ‘GAME OVER’ yang bercetak tebal berwarna merah sekaligus tebal dilayar televisi dan menunjukan kalau Ayane Zyeon yang telah kalah pada babak satu ini. “Baiklah, babak dua.” Myungsoo berucap dengan santai.

“Uh! Ayane Zyeon, fighting!” kata Suzy sambil menyemangati dirinya sendiri yang sudah kalah di babak satu melawan Myungsoo. Kalau boleh Suzy mengajukan pendapatan, cara bermain Myungsoo sekarang tampak sulit juga. Dia hanya memainkannya dengan cara santai tetapi bisa menang begitu saja tanpa menekan keras tombol di analog itu. Seperti sudah professional saja, tapi setelah Suzy pikir lagi. Myungsoo memang sudah hebat bisa mengalahkannya sekarang, tapi apakah bisa menang melawan Kyuhyun Super Junior yang sudah maniak game itu. Suzy tertawa kecil dalam hati. Kenapa dia malah membicarakan Kyuhyun Super Junior? Ada-ada saja-_- Dan lupakan kata-kata tadi..

“Sudahlah, lebih baik kau menyerah saja daripada akan tetap kalah melawanku,” goda Myungsoo jahil.

Suzy membuang wajahnya. “Tidak akan!” Suzy menggertakan giginya kesal ketika Myungsoo yang menggodanya tadi, seakan lelaki itu bisa meremehkannya dalam permainan ini. Awas saja kau Kim Myungsoo, pikir Suzy. Seenaknya saja. Suzy berdecak seraya melayangkan pandangan sadisnya kearah Suzy.

Lagi-lagi Myungsoo terkekah melihat wajah Suzy yang begitu tetap kekeuh akan tetap bisa melawannya dalam permainan ini. Akhirnya babak kedua dimulai, permainannya tetap sama. Tetapi jika dilihat lebih dekat akan lebih seru. Apalagi saat memandangi perbedaan mimik wajah diantara Suzy dan Myungsoo. Myungsoo masih memandang santai layar televisi itu tanpa memandang tombol-tombol analog nya. Sedangkan Suzy memandangi dengan serius layarnya, dengan jari-jarinya dia berusaha kembali menggerakan jurus-jurusnya agar bisa mengalahkan Myungsoo yang ada di sebelahnya. Semoga saja babak kedua ini, Suzy menang. Tapi entah dengan babak ketiga, itulah babak penentuan terakhir siapa yang akan keluar menjadi pemenang. Entah itu Suzy atau Myungsoo. Tapi, Suzy tampak lelah karena terlalu menekan tombol-tombol disana. Tetapi rasa semangat dan optimis nya telah mengalahkan semua pikiran buruknya. Dan yakin akan bisa mengalahkan Haruno L.

Hingga… Babak terakhir tiba. Inilah akhir penentuan diantara keduanya. Siapa yang akan menang dalam permainan mereka kali ini. Semalam, Myungsoo memang menenangkan empat babak sekaligus dan Suzy lah yang semalam kalah. Rasanya Suzy mulai tampak tegang ketika memulai babak ketiga ini, jika dia yang akan kalah dia yang akan membelikan hadiah untuk Suzy. Tapi tetap saja, karena dia tidak mempunyai uang. Haruskah dia meminta uang pada Myungsoo untuk membelikan hadiah untuk lelaki itu? Tetap saja itu bukan hadiah namanya kalau dia masih meminjam uang Myungsoo––ralat Myungsoo-lah yang memberikan uang itu agar bisa menolong Suzy. Walau masih ada rasa semangat yang menguasai dirinya, tapi gadis itu merasa tidak sanggup.

To be Continue..

Yey!! Chapter 8 slese. Cepet update nya kan aku? Sebenarnya pengen tadi pagi, tapi karena aku pergi. Yaudah, aku update nya malem *curcol pemirsah* Nah, kira-kira siapa tuh yang menang? Suzy apa Myungsoo?

Jawabannya nanti di chapter 9, yang akan aku publish jumat besok. Udah selesai dan tinggal di publish, tapi jumat aja ya? Soalnya pengen sesuai berurutan.

Okee, jangan lupa tinggalin RCL (Rate, Comment, and Like) ya!! Jangan main tinggal aja sebelum ninggalin itu *nada ngancem* Haha, aku bercanda kok. Tapi bener ya, jangan lupa. Hehehe, terimakasih ^^ *bow*

25 responses to “It’s Love, but? (Chapter 8)

  1. Pingback: It’s Love, but? (Chapter 9) | Kiyomizu Mizuki·

  2. Pingback: It’s Love, but? (Chapter 10) | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

  3. Pingback: It’s Love, but? (Chapter 10) | Kiyomizu Mizuki·

  4. Pingback: It’s Love, but? (Chapter 11) | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

  5. Pingback: It’s Love, but? (Chapter 12) | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s