Wedding Dress [chapter 5]

wdjpg

xianara presents

Wedding Dress [chapter 5] #Consolation part II

Bae Suzy and Kim Myungsoo, OC, with special appearances from: Shin Donghee / SJ’s Shindong, Kim Junmyeon/Suho and Park Chanyeol | Romance, Angst, Drama, AU, Friendship, Family | PG13 | Chaptered : teaser – 1 – 2 – Interlude – 3 – 4

beside the poster and story i own NOTHING!

warning! beware of typos! this chapter contains 5492 words count, better prepare a spare time first. last, please have a seat, ENJOY READING😀

“But if I can wordlessly hug you. If I can hug you. If I can wordlessly hug you right now.”

At the past,

AWASSS!!

“Yaa, apa? Huwaa –

Pemandangan selanjutnya, Suzy jatuh tersandung papan peringatan berwarna kuning telur. Lutut sebelah kirinya pun menjadi lecet. Tanpa membuang waktu, Myungsoo segera memapahnya dan mendudukkanya pada bangku panjang yang ada.

‘Fuuh! Fuuuhh!’

Myungsoo meniupkan udara bebas di atas lutut lecet Suzy karena bergesekan dengan trotoar jalan. Suzy itu gadis yang ceroboh. Karena terlalu asyik mengobrol dengan Myungsoo ia sampai menabrak papan peringatan kemudian jatuh tersungkur. Duh, masa papan peringatan sebesar pinggang anak gajah begitu tidak dilihat sih?

Makanya kalau jalan itu matanya menatap ke depan, Non, “ ujar Myungsoo ketika memopol lutut gadis itu dengan kain antiseptic yang dibelinya di minimarket. “Satu lagi, aku tahu aku tampan. Oleh karena itu jangan memandangiku terus.”

“Mwohae?!” Suzy memekik dan mencubit ujung hidung kepunyaan Myungsoo . “Eh Tuan muda Kim! Dengar ya, ini juga salahmu tahu!

Lepaskan dulu cubitanmu ini! Ak! Jangan mempermalukan aku di depan publik seperti ini dong!“ pinta Myungsoo karena pandangan menggelikan orang-orang yang berlalu lalang di depan mereka.

Oke.” Suzy pun melonggarkan cubitannya lantas menjulurkan lidahnya. Ih, gadis itu benar-benar. “Dengar ya, andai saja kita pulang ke rumah melalui jalur biasa, aku tidak akan seperti ini; tersandung sehingga menyebabkan lecet di lututku, lihat nih!” tunjuk Suzy dengan dagu.

Sengaja, kain antiseptic yang dipopol Myungsoo pada lutut gadis itu ditekan dengan kencang sehingga membuat Suzy merintih kesakitan dan kembali menjawil hidung Myungsoo. Oh, lihatlah, bahkan ekspresi yang sedang ditunjukkan gadis ini sangat menggemaskan. Ingin sekali Myungsoo membelai pipi yang selalu merona itu. Namun, kini saatnya belum tepat.

Tunggu saja sampai kau datang ke taman besok malam lalu kuakan memintamu untuk menjadi kekasih yang seperti teman, sahabat, kakak, dan segalanya untukku. Kuharap kau juga merasakan apa yang kurasakan. Meskipun kau tidak menunjukannya terhadapku, izinkan aku berharap kau merasakan sesautu yang serupa denganku di dalam hatimu.

Suzy menatap Myungsoo kesal. Yang ditatapi pun berpura-pura tidak mengacuhkan tatapan kesal itu. Hansaplast sudah merekat sempurna pada dengkul di tungkai kiri Suzy. “Selesai! Bisa berjalan sendiri ‘kan?

Suzy mengangguk.

Rok seragam bermotif kotak-kotak yang agak tersingkap itu segera dirapikan oleh Myungsoo. Gulp. Aku ini seorang pria normal. Aku masih dan selamanya normal. Pikiran bocah lelaki itu serasa ditaburi jarum karatan kala maniknya disuguhkan paha mulus itu.

‘Plak!’

Apa-apaan? Kenapa sih dengan gadis itu? Bukannya bilang ‘terima kasih Myungsoo, kau baik sekali sih’ atau apalah, ia malah menghadiahi kepala Myungsoo dengan tanda – bukan – cinta ini.

Dasar pervy!! Ewwhh!” Suzy memukul kepala bocah itu dari samping. “Mencari kesempatan dalam kesempitan kau ya! Sambil menyelam minum bubble tea!”

Rona serupa kulit apel Washington D.C. menghiasi sepasang pipi agak chuby Suzy. Oh, Myungsoo sadar penyebabnya. Ia pun mencoba menutupi gelak tawanya dengan berdehem. Ujung bibir pria itu pun menukik sehingga membentuk senyuman timpang khas seorang Kim Myungsoo.

Tenang saja, kau bukan tipeku sama sekali , “ kau gadis idamanku, tahu! “Lagipula paha milik Seulgi lebih kecil dan lebih mulus ketimbang punyamu. Paha ayam broiler seperti ini lebih enak digoreng! Hahaha!” Myungsoo pun tertawa dengan nada yang mengejek.

“Mwohae?! Yaa, kau Kim Myungsoo, kuhaj –“

Sudah, ayo cepat jalan, “ Myungsoo memotong ucapan Suzy lantas menarik pergelangan tangannya. “Aku tidak ingin dimarahi bibi karena membawa anak gadisnya pulang telat dalam keadaan seperti ini.

“Yaa! Menyebalkan!

At this moment,

Myungsoo membelalakkan matanya ketika menyadari lampu raksasa itu akan menimpa kepala Suzy. Sial! Tidak ada banyak waktu lagi! Pria itu segera meretas jarak dengan gadis yang berada lima meter di hadapannya.

“AWASSS!”

Suzy menoleh – ada apa si – ? – ucapannya terputus. Matanya pun terbuka dengan lebar melihat lampu tinggi itu siap menimpanya kalau ia tidak segera menyingkir. Terlambat. Suzy sudah membeku di tempat. Bodoh! Suzy memaki dalam hati. Tiba-tiba Myungsoo menyambar pinggang Suzy dan membawanya jatuh ke dalam pelukannya.

‘Srett!’

‘Brakk!!’

‘Prang!!’

Dengan jeda seujung rambut keduanya berhasil menghindar dari tindihan lampu. Bunyi bedebam cukup keras serta bunyi serpihan kaca dari si lampu membuat orang-orang yang mendengarnya pun segera berhamburan ke tempat mereka berdua. Mereka pun segera mengangkat kaki lampu yang menindih tungkai Myungsoo.

“Kau tidak apa-apa?” Myungsoo memaksa  senyum di bibirnya. Suzy yang berada di bawah pria itu hanya bisa menilik manik hitamnya. Sebelum gadis itu menjawab, ia mendengar rintihan tertahan yang lolos dari mulut pria itu. “Argh!

Sebelum gadis itu sempat berkata-kata, pria yang telah menolongnya itu pun terlihat menutup tirai kelopak matanya. Tunggu, apakah ia akan pingsan? Oh tidak, sepertinya firasat gadis itu akan berbubah menjadi kenyataan. Karena, dalam hitungan detik Myungsoo pun ambruk tepat di atas gadis itu.

“Siapapun, TOLONGGGGG!!!!”

***

Di sebuah klinik yang tersedia di dalam Hotel Burj Al – Arab, tepatnya di dalam sebuah kamar rawat, terbaring Myungsoo yang kaki sebelah kirinya sudah dibebat dengan gypsum. Yunho, BoA dan Duo Min memilih menunggu di luar kamar rawat berukuran 6 x 6 m tersebut. Sementara, Suzy terlihat duduk di samping bangsal tempat Myungsoo tengah tertidur.

Tatapan gadis itu kosong. Laksana embun yang mencair, bongkahan kristal dalam sepasang soca Suzy perlahan bertransformasi menjadi lelehan mineral. Entah karena apa Suzy menangis dalam diam tersebut, apa karena melihat sikon pria yang terbaring tak sadarkan diri di depannya? Mungkin saja.

Air mata yang mengalir melewati pipi dihapus dengan gerakan menyapu oleh telapak tangannya. Suzy memberanikan diri untuk menggengam jemari kokoh milik Myungsoo, menghantarkan kehangatan pada jemari yang terasa seperti ice cream tersebut.

“Kenapa kau menyelamatkanku?” Suzy kembali meloloskan mineral dari kedua matanya. “Kutanya, kenapa kau menyelamatkanku!?”

Oh, kau tidak mau menjawabnya? Ingin balas dendam karena aku tidak memaafkanmu ya?”

Rupanya, Suzy melemparkan soal itu pada Myungsoo. Percuma, toh pria itu tidak akan menjawabnya sampai ia mendapatkan kembali kesadarannya. Tangis gadis itu semakin pecah dan terisak saat mengetahui orang yang dibencinya justru menyelamatkannya. Orang yang dua hari belakangan ini selalu diguyur hujan kebencian darinya malah mengorbankan tungkainya untuk melindungi dirinya yang tidak tahu diri, ironis.

Pilu. Itulah yang dirasakan sepotong hati milik Suzy. Tetapi, gurat sembilu itu justru tidak pernah menyentuh space terdalam di lubuk hatinya. Ada saja beton penghalang yang berhasil menahan agoni tersebut. Walaupun dulu, ia sempat kehilangan memori seorang Myungsoo namun hal tersebut tidak terlalu berpengaruh pada special space tersebut; sekelebat bayangan seseorang yang jelas-jelas pria telah lama bernaung di dalam selter tak bernama itu.

‘Tok, tok, tok!’

Bunyi ketukan teratur terdenngar pada pintu bercat putih putih tulang tersebut. Sontak membuat Suzy melepaskan genggaman pada tangan Myungsoo dan bergegas menghapus air mata yang membekas di wajahnya. Ia pun segera mengatur ekspresi agar tidak terlihat seperti sehabis menangis.

Ya, silahkan masuk,

‘Ceklek!’

Pintu terbuka menampilkan Tariq, Yunho, BoA, dan Duo Min yang berbaris memasuki kamar rawat tersebut. Air muka tegang, panik dan khawatir tergambar jelas di wajah mereka. Minah pun melepaskan tautannya dengan Minho dan berjalan menghampiri Suzy lalu mengusap bahu gadis itu yang masih sedikit bergetar.

Oh, kalian. Jadi, Tariq, dokter bilang apa?

Well, beruntung luka di tungkainya tidak terlalu parah jadi tidak perlu melakukan tindakan operasi untuk mengobatinya. Lalu, untuk sementara ia harus beristirahat di sini.” Tariq berbicara dalam suara yang pelan.

Benarkah? Lalu, kapan dia akan tersadar?” Suzy menatap pria berlesung pipi itu dengan tatapan harap-harap cemas.

Secepatnya. Lagipula dia hanya tertidur. Dokter jaga yang bilang begitu.” jawab Tariq.

Syukurlah, ” lirih Suzy. “Geureonde, ini semua salahku. Andai saja waktu itu aku cepat menghindar tentu saja semuanya tidak akan berakhir di sini ‘kan.” aku Suzy. Minah yang berada di sampingnya pun bersuara,

“Hei, ini bukan salahmu. Jangan menyalahkan dirimu seperti itulah, “

“Minah benar, lagipula itu adalah kecelakaan yang bukan disebabkan olehmu.”

Yunho dan BoA pun mengangguk. “Akan tetapi kami tidak bisa berada di sini untuk waktu yang lama. Jadwal kami di Seoul sudah menanti dan itu tidak bisa diganggu gugat.”

“Dan besok pagi, sesuai dengan jadwal, kami akan pergi dengan jadwal penerbangan pertama. Maaf sekali, Suzy-a.” BoA berkata dengan nada yang lesu dan mengusap bahu Suzy.

Oppa wa Eonniga, gwaenchanayeo. Toh, Myungsoo bisa seperti ini bukan salah kalian – ini salahku –  jadi kalian tidak perlu meminta maaf, “ Suzy sudah bisa tersenyum sedikit. “ untuk soal itu kurasa aku dan Duo Min bisa melakukannya di sini, benar ‘kan?”

So sorry dear, kami juga tidak bisa berlama-lama di sini. Lusa aku sudah ada jadwal di Jejudo bersama Minah. Mian, ” Minho berkata dengan raut sesal yang tersurat.

“Hm, apa kau tak keberatan bila menemani Myungsoo seorang diri? Eh tidak seorang diri jug kok,  “ Minah melirik Tariq yang asyik mengotak-ngatik ponselnya sambil tersenyum menanggapi percakapan yang tidak terlalu dimengerti. “Ada Tariq yang akan bersamamu. Yeah, walaupun tidak sampai 24 jam sih tapi bisalah.”

Suzy tahu hal ini akan menimpanya. Well, sebagai penebus rasa bersalahnya pun terpaksa ia akan melakukan ini. Menemani sekaligus meraawat – oh, ini mengerikan – Myungsoo sampai ia benar-benar pulih.

Geurae, aku akan menemaninya sampai dia sembuh.” Suzy mengatakannya dengan nada sungguh-sungguh yang dibuat-buat. “Kebetulan, jadwalku satu minggu ke depan sedang kosong jadi tak apalah. Hitung-hitung ini kulakukan un – “

Jangan lakukan ini kalau kau merasa bersalah.“ potong Tariq cepat. Oh, dia mengerti juga. Ternyata oh ternyata, dari tadi dia merekam percakapan mereka dalam fitur penangkap suara di google translate.

Suzy diam tak berkutik. Omongan pria Timur Tengah itu tepat sasaran. Suzy lantas segera memberingkus ekspresi kagetnya dan menampilkan wajah pokerface. Kuartet warga korea lainnya – tidak termasuk Myungsoo dan Suzy – pun segera membuang pandangan ke segala arah dengan gerak tubuh yang pilon.

Well, aku hanya mengingatkan hakikat sebagai manusia, sudah sepatutnya kita mengulurkan bantuan kepada sesama tanpa ada embel-embel di belakangnya.” sambung Tariq sambil mengusap tengkuknya kikuk.

Absolutely,

***

Seoul, 15:00 KST

Nyonya Choi menatap layar ponselnya cemas. Pasalnya, saat sang anak menelepon lima belas menit yang lalu, ia justru dikejutkan dengan kabar tak terduga. Sang putri harus menunda kepulangannya ke Seoul karena persoalan yang bersifat darurat. Tetapi Suzy tidak menjelaskan secara detil kepada sang ibu mengenai persoalan darurat itu – secara, Kim Myungsoo.

“Suzy-a? Kau masih di sana?”

Ne, “ selanjutnya, dapat diengar helaan napas yang keluar dari mulut Suzy di seberang telepon. “Ibu, tidak usah khawatir kepadaku. Aku baik-baik saja.

“Tapi kau – “

Ibu, dengar, “ gantian, kini Nyonya Choi yang menghela napas dengan berat di depan kasir toko kelontongnya. “Ibu harus menjaga kesehatan Ibu. Jangan mengonsumsi soju berlebihan dan menonton tv sampai larut malam. Aku tidak mau mendengar kabar Ibu sakit. Satu lagi,

“Apa?”

Untuk sementara, Ibu tidak usah menghubungiku dulu. karena, karena a-aku akan sibuk sekali. biarkan aku saja yang menelepon Ibu terlebih dahulu. Tolong ya, Bu?”

“Baiklah, Ibu mengerti. Ah, boleh ibu bertanya sesuatu?”

Eung, tentu sajalah Bu, “ terdengar kikikkan di seberang sana. “Masa aku melarang ibuku sendiri untuk bertanya. Ngomong-ngomong, soal apa itu?”

“Ti-tidak jadi.”

Lho, kenapa Bu?”

“Ya sudah, jaga diri baik-baik Sayangku.”

Eo, baik! Aku menyanyangimu! Bye!

Konversasi yang berputar di dalam pikiran wanita paruh baya itu seketika buyar. Gemerincing lonceng yang dipasang di atas pintu kaca tokolah penyebabnya. Tiga sosok pria berpakaian formal pun memasuki toko kelontong Nyonya Choi. Ibu Suzy itu pun mengernyitkan dahi. Para pria berjas hitam dengan alat komunikasi nirkabel yang menempel di telinga mengunjungi toko kelontong di tengah pasar, aneh sekali bukan?

“Selamat siang, maaf mengganggu waktu Anda tapi apakah Anda Nyonya Choi Jiwoo?”

“Benar. Saya sendiri. Ada apa ini?” Nyonya Choi pun mengamati penampilan ketiganya. Seperti punggawa intelijen saja, batinnya.

“Mari ikut kami, Nyonya.”

Ne? Ikut kalian?” Nyonya Choi memandang ragu ketiga pria tersebut. “Ke mana? Dan, yaa, siapa dulu kalian sebenarnya?!!” Tanpa sadar wanita berambut bob itu berbicara dengan nada yang tinggi.

Pria dengan postur tubuh yang tinggi pun berbisik pelan kepada pemuda berambut cepak di tengahnya. “Maafkan kami, Nyonya. Tapi tolong ikut dengan kami, sekarang.”

“Tidak mau!!”

Hyeong? Sudah, bawa dengan paksa saja!” usul pria beralis tebal yang berdiri di samping kanan pria berkepala plontos tersebut. “Ahjumoni yang satu ini merepotkan sekali!”

Yaa! Aku dapat mendengarnya!!” bentak Nyonya Choi sambil mengacungkan payung ke hadapan ketiga pemuda tersebut.

“Anak baru, Kim Junmyeon, jaga ucapanmu!” hardik pria jangkung sambil menatap tidak suka pada pria yang dipanggil Kim Junmyeon tersebut.

“Kalian berdua, diam!!” pria yang berdiri di tengah keduanya pun memberikan tatapan mengancam yang mampu membuat keduanya mengerut di tempat. Selanjutnya, ia pun berdehem. “Maafkan kami, baiklah singkat saja. Perkenalkan, saya Shin Donghee, “ ucap pria bernama Shin Donghee tersebut sambil menundukkan kepala yang dibalas anggukan samar Nyonya Choi.

Saya datang ke sini atas perintah Miranda untuk membawa Anda ke kantonya.”

“Miranda?” Nyonya Choi menurunkan payungnya. Nama itu pun terdengar tidak asing bagi kedua koklea Nyonya Choi. Seperti pernah mendengar  nama itu sebelumnya. Tapi, kapan dan di mana? “Aku tidak punya teman bernama Miranda seumur hidupku.”

“Miranda Kim, CEO OBSTV.”

***

Suzy mendekap Minah erat. Ia pasti akan merindu dengan gadis imut berponi depan itu. Disusul dengan Minho yang memberikan sebungkus roti croissant dari brand serupa yang sebelumnya ditolak Suzy di Incheon dua tiga hari yang lalu.

“Kumohon ambillah. Kau belum sarapan tadi. Jangan sampai kau jadi sakit. Ah, satu lagi, croissant asli buatan Chef Turki.” gurau Minho.

“Terima kasih, “ Suzy mengambil bungkusan tersebut dan mengembangkan sebuah senyuman.

Announcement! Panggilan kepada para penumpang pesawat dengan tujuan penerbangan Incheon dari maskapai Etihad Airways –

Seruan tersebut seakan menyadarkan mereka yang sebentar lagi akan terpisah dengan lautan dan daratan yang jaraknya beribu-ribu kilometer. Tariq pun kembali menyalami rombongan yang akan kembali ke Seoul itu sambil menggumamkan terima kasih dan kalimat “Semoga mampir ke sini lagi”.

Alright, kami pergi dulu, jaga dirimu dan Myungsoo baik-baik.” pesan Yunho. “terima kasih juga atas segalanya. Tariq, we gotta go. Senang bisa berjumpa dengan dirimu.

Ne, Eonni, Oppa hati-hati di jalan!”

It’s a pleasure to meet you too, Sunbae. I just knew that you were the student of Economy Faculty in Boston too, from Myungsoo.”

Yunho pun menepuk bahu pria itu pelan. Setelahnya, rombongan pun bergegas meninggalkan area keberangkatan menuju pesawat.

“Aku pasti akan merindukanmu Suzy-a!”

***

Minibus berwarna silver metalik yang ditumpangi oleh Tariq dan Suzy melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan Dubai International Airport menuju ke hotel tempat Suzy menginap. Jalan bebas hambatan yang terlihat lengang membuat gadis itu betah membelah jalanan lama-lama dengan sepasang kelereng matanya. Tariq yang memegang kemudi pun tak ikut bersuara dan memilih untuk fokus mengemudi saja.

Bagaimanapun caranya, Suzy harus bisa bersabar selama berada di sisi Myungsoo saat pria itu sadar. Gadis itu duduk di kursi penumpang belakang. Tanpa membelokkan pandangannya pada Tariq yang sibuk memegang setir, Suzy pun bersuara,

“Tariq, “

“Suzy, “

Keduanya pun tertawa kecil. Menertawakan kebetulan yang barusan melintas. Tariq melirik pada kaca spion tengah,  “Lady first, kamu dulu.”

Baiklah, “ jawab Suzy. Ia pun membenarkan posisi duduknya yang sedari tadi menyerong ke jendela bis. “Eung, kamu dan Myungsoo berteman sudah lama ya?

Suzy tidak bisa menahan sensasi gatal pada lidah tak bertulang pada organ tutur miliknya. Sumpah mati, ia sebenarnya berusaha mati-matian menahan rasa kelewat ingin tahunya mengenai hubungan pertemanan kedua pria itu. namun ternyata, egonya berhasil ditaklukkan.

Ya bisa dibilang begitu. Kami berteman sejak masa orientasi penerimaan mahasiswa baru selesai, “ Tariq mengucapkannya dengan santai. Pemuda itu melambatkan laju kendaraan karena pintu gerbang jalan tol yang terlihat tinggal 100 meter di depan.

Suzy pun hanya ber-oh ria sambil menggerakan kepalanya ke atas dan ke bawah. Lalu memilih membisu kembali.

Tariq melirik gadis di belakangnya melalui kaca spion tengah kembali. “Suzy, boleh ‘kan aku bertanya sesuatu?

Tentu. Silahkan, kamu mau tanya apa memangnya?

“Hm, “ Tariq menggumam terlihat menimbangkan apakah perlu bagi dirinya untuk bertanya soal itu. “tidak jadi deh.”

***

Sinar mentari senja yang menembus jendela kamar rawat klinik itu menyinari wajah Suzy. Ia melirik pada Myungsoo yang masih belum terjaga dari tidur panjangnya. Wajah pias pria itu terlihat damai. Sesekali mulut tipisnya bergerak kecil seperti berkomat-kamit. Ia pun kembali memalingkan wajahnya dari malaikat pencabut nyawa berwujud mantan sahabatnya itu.

Tiba-tiba perut gadis itu terdengar seperti berkeriuk. Oh, sedari pagi gadis itu memang belum menyantap apapun. Hanya meminum segelas kopi arabika ditambah susu yang disediakan pihak hotel.

Ia pun teringat akan roti croissant pemberian Minho yang belum sempat disentuhnya karena selera makannya yang menguap entah ke dunia bagian mana. Tas selempang yang tergeletak di lantai itu pun segera diambil. Sebungkus roti croissant telah berada di tangan. Telapak tangannya meraba permukaan bungkusan itu yang terasa seperti ada kartu atau semacamnya. Aneh. Ia pun lantas mengambil sepotong croissant yang sudah dingin tersebut.

Benar saja. Di dalam sana, jemarinya merasakan beberapa lembar kertas tapi terasa lebih tebal dari kertas biasanya. Ia pun mengangkat bungkusan berwarna cokelat itu dan melongok ke dalamnya. Terlihat seperti bagian belakang dari foto yang berwarna putih yang tersemat salah satu logo brand alat fotografi terkenal. Baru saja ia akan mengambilnya tiba-tiba terdengar bunyi erangan.

“Euhhhh, “

Erangan itu berasal dari Myungsoo yang menggerakan kedua kelopak matanya berat. Suzy yang tersadar pun segera mendekat kea rah Myungsoo dengan situasi wajah yang menafsirkan kelegaan luar biasa. Akhirnya, pemuda itu sadar juga!

Suzy menahan lengan pemuda itu agar tidak terlalu banyak bergerak. Jemarinya yang menganggur pun segera menekan tombol merah di bawah ranjang guna menghubungi dokter jaga. Mata gadis itu terasa panas. Entah kenapa tapi rasanya ia mau menangis. Kemudian, gadis itu pun membantu Myungsoo untuk mendudukkan diri dengan sandaran bantal yang diletakkan oleh gadis itu.

Eung, Su-suzy?

“Jangan banyak berbicara dan bergerak dulu!”

“Kau-kau di sini? Eh tunggu, apa kau baik-baik saja?” cerocos Myungsoo dengan suara lemah dan dijawab anggukan oleh Suzy. Lagi, entah kenapa rasanya lidah Suzy seperti bertulang; terlalu kaku untuk digerakkan.

“Bagaima- “

Ucapan gadis itu terpotong saat telapak tangan Myungsoo menempel di dahi sempit Suzy. Gadis itu pun cepat-cepat mengusir telapak tangan yang memegang dahinya tanpa permisi.

Yaa, apa yang kau lakukan?!” ujar Suzy dengan nada tidak suka.

Duh, bukannya bersikap manis atau apa karena sudah ditolong, gadis itu masih saja bersikap dan berujar dingin pada Myungsoo. Senyum setipis kumis pada kucing malah terpatri di bibir Myungsoo. Entah kenapa, pria itu seperti sudah terbiasa.

“Demamnya sudah turun. Baguslah kalau begitu.”

Oh rupanya pria itu sedang mengecek suhu tubuh Suzy. Tak ayal diperlakukan tiba-tiba seperti itu oleh Myungsoo, membuat aliran darah di sekujur tubuh Suzy berhenti di pipi gembil miliknya itu. Memalukan, pikir Suzy.

“Minah yang memberitahuku, katanya kau sedang demam. Makanya, dari kemarin aku selalu mengawasimu. Takut-takut kau malah drop atau semacamnya.“ lanjut Myungsoo.

Uh, Bang Minah!!

Otak kiri – yang mengatur kemampuan berbicara – Suzy sudah mengalami degradasi fungsi, pikir gadis itu sendiri. Pasalnya, sekarang ia tidak bisa berbicara apa-apa kepada pria di hadapannya. Bukan itu persoalannya. Ternyata, saking banyaknya kata yang ingin ia ucap, mulut gadis itu terasa berat untuk digerakkan. Sekedar mengatakan ‘terima kasih Myungsoo’ saja seperti akan merobek mulutnya saja. Terlebih setelah mengetahui fakta bahwa pria yang telah mengorbankan tungkainya untuk menyelamatkannya ini masih sempat mengawatirkan dirinya yang pada saat itu memang sedang tidak dalam keadaan fit benar.

“A – “

Baru sempat Suzy membuka mulutnya, pintu kamar rawat terbuka, disusul penampakan dokter jaga dan seorang perawat. Keduanya pun segera menghampiri Myungsoo dan memeriksa keadaanya.

Well, Tuan Kim, keadaanmu sudah membaik. Rupanya tertidur selama 20 jam membantu juga ya, “ Sang dokter berkata sambil mengetuk-ngetukkan palu kecil pada tungkai Myungsoo. Pria itu pun sedikit mengerang kala bunyi ‘Tuk’ terdengar. Sang dokter pun mengangguk. “hanya saja untuk sementara kau memerlukan bantuan tongkat penopang atau kursi roda untuk berjalan, mengingat kakimu yang masih dibalut gyps.

Terima kasih, Dok.” Myungsoo mengangguk senang. Sementara, gadis di sebelahnya pun ikut mengangguk. Lalu, meskipun agak ragu, Suzy pun bersuara,

Permisi, “ ujar Suzy, mengalihkan perhatian dokter yang sedang menulis pada catatannya. Myungsoo pun membobok netra pada gadis yang terlihat sangat tidak acuh padanya ini.

Ya? Silakan, Nona. Ada apa?

Kira-kira berapa lama proses pemulihan pada kakinya?

Myungsoo yang mendengarnya sontak tersenyum tipis sambil menundukkan kepala. Oh, jadi rupanya gadis itu sudah mulai menaruh atensi padanya?

Paling cepat satu minggu.”  Sang dokter pun tersenyum tipis. “Nanti sore  sesudah final check,  Anda sudah bisa kembali ke hotel dan beristirahat.”   sambung dokter.

Matilah! Pias menyinari wajah gadis itu seketika. Seminggu? Astaga. Habislah riwayatnya.

Suzy mengangguk sangsi tatkala mendengar pernyataan dokter dan mengucapkan sebaris terima kasih kala dokter jaga muda dan perawat tersebut bertolak dari ruangan.

Myungsoo hanya bisa membuang pandangannya pada tungkainya yang dibebat gypsum berwarna putih tulang. Ia pun membuang gerak ekspresif miris pada bibir tipis miliknya lantas menilik Suzy yang menatapnya dengan tatapan kosong melompong.

Organ tutur di dalam rongga mulutnya – lidah – Myungsoo bergetar.  Gatal sekali rasanya, seperti ingin berkata sesuatu namun kata-kata itu tersendat di ujung lidah. Mata kucingnya pun bergerak tatkala korneanya mendapati Suzy yang bergerak mengambil tas selempangnya, menggumam sesuatu tak jelas yang terdengar seperti meminta izin untuk keluar.

“Kalau kau melakukan ini karena merasa bersalah ataupun kasihan kepadaku, lebih baik kau kembali ke Seoul saja.”

Peluru kata Myungsoo melesat jauh hingga menembus jantung Suzy. Akibatnya, gadis itu menghentikan langkahnya jauh sebelum menyentuh lawang bercat putih. Tangan kirinya yang menganggur pun mengepal hingga memunculkan ruam pada tangannya yang seputih porselen.

Museun mariya?

I said, stop it here. It’s okay, I can handle it by my self. Don’t do it if you keep seing me as a pathethic beggar.

“…..“

Langkah Suzy terputus kala ia membalikkan badan dan merasakan genggaman hangat pada tangannya yang mengepal. Myungsoo dengan susah payah merangsek maju ke depan bangsal dan menggamit jemari Suzy, lantas berusaha mengendurkan kepalannya. Suzy menatap jemari kokoh Myungsoo yang membungkus jemari mungil miliknya dengan tatapan pilu.

“A-aku tidak bermaksud seperti itu, geunyang, “ Suzy bertutur dengan tersendat-sendat. Kepalan tangannya perlahan mengendur setelah merasa sapuan lembut jemari Myungsoo. Suzy menggelengkan kepala samar. Jeongshin charyeo! Gather your self, Suzy-a!

Just?” Myungsoo pun melepas tautannya pada jemari Suzy lantas berusaha menjatuhkan kaki kanannya yang bebas bergerak. “Hanya karena kau merasa bersalah?”

No.” Suzy mengeratkan pegangannya pada selempangan tasnya. Matanya pun berkedut ketika pria kesakitan itu kembali melontarkan pertanyaan-pertanyaan absurd lainnya.

“Hanya karena kau merasa berhutang budi padaku?”

Ani.

“Kau kasihan padaku?”

“Hentikan!” gertak gadis itu dengan nada yang bergetar.

“Lalu apa? Kau tidak merasa bersalah sedikitpun, kau juga tidak merasa kasihan kepadaku, lalu kau juga tidak merasa bersalah apapun terhadapku. Sebenarnya apa yang kau rasakan terhadapku sih? Apa jangan-jangan kau sudah menggadaikan hatimu di pegadaian? Ha?”

Myungsoo pun dengan santai mengucapkan deretan kata-kata tersebut. Beban yang selama ini menghimpit rongga dadanya selama ini seakan terangkat setelahnya. Walaupun ukurannya hanya seujung kuku.

“Aku, a-aku melakukan ini karena, “ Suzy menggantungkan ucapannya. Ia pun berbalik menghadap Myungsoo. “lupakan. Aku ingin mengurus biaya administrasi perawatanmu dulu. Permisi.”

Pria itu tahu. Suzy pasti akan terus menghindar. Lagi, beban sebesar truk molen pun kembali menjejali rongga dada Myungsoo. Rasa sesak itu pun hampir membuat jantungnya berpindah tempat karena perih selama ini mengendap di hatinya sudah melebih kuota. Semburat jingga yang memenuhi tembok putih kamarnya pun menyadarkan pria itu bahwa rasa sakit hati hanya satu obatnya. Waktu.

Punggung kecil Suzy yang menghilang di balik lawang pun seperti magnet polar yang tidak dapat dilawan. Myungsoo kembali menelan pil pahit untuk yang kesekian kalinya. Tuhan memang suka bermain-main dengan hambaNya.

***

Aku melakukan ini karena kau itu sahabatku, Bodoh. Mana ada seorang sahabat yang tega membiarkan sahabatnya terluka?

***

Suzy memaki dalam hati keinginan pria berkursi roda yang tengah memandang takjub hamparan flower wall sepanjang 1 kilometer. Myungsoo tidak mengendurkan syaraf tepinya kala sejauh mata memandang, ia disuguhi pemandang bunga dengan berbagai warna dan corak serta bentuk yang indah. Sontak, Myungsoo menepuk halus tangan gadis yang bertengger pada gagang kursi roda yang ditumpanginya.

flowe  wall

flower wall^^

“Ayo, jangan diam saja! Cepat antar aku keliling Miracle Garden ini!”

“Apa?!”

“Kubilang, antar aku berkeliling Miracle Garden yang luas ini! Ah cepat ke sana! Yang itu!” tunjuk Myungsoo antusias pada ribuan kelopak bunga warna-warni yang disusun menyerupai bentuk limas dan lebih terlihat seperti piramida bunga. Suzy pun hanya bisa menghela napas pasrah.

limas

Kursi roda itu pun bergerak perlahan. Nyeri di tungkai Myungsoo hilang digantikan dengan perasaan sejuk tatkala manik matanya disuguhi bunga-bunga yang bermekaran. Walaupun itu semua berbanding terbalik dengan ekspresi mendung yang ditampilkan Suzy.

“Hei, tersenyumlah sedikit. Nikmati pemandangan indah ini. Jarang sekali kita dapat menemui pemandangan seperti ini di Seoul.“

“Ck, kamu bisa kok mengunjungi Everland, di sana kan ada taman bunga yang serupa seperti ini.” jawab Suzy sarkatis.

Bohong. Dalam hati, gadis itu pun mengamini perkataan Myungsoo barusan. Pemandangan jutaan bunga di sini benar-benar indah. Hanya saja untuk saat ini ia tidak bisa menikmati keindahan itu karena presensi dari makhluk hidup bertitel pengkhianat bernama Kim Myungsoo.

Sst, kamu tidak ingin bilang sesuatu padaku?”

“Tidak ada.”

“Ah, begitu. Okelah.”

Keduanya pun kembali pada mode sunyi. Myungsoo lebih memilih berbicara pada jejeran bunga tulip berwarna kuning yang menyapanya di sisi kiri jalan pria itu. Sedangkan Suzy, dia lebih senang menyumbat kedua telinganya dengan earphone putih susunya yang menyenandungkan alunan lagu Flower milik L’Arc-En-CieL (baca: laruku) dengan volume yang dapat memensiunkan gendang telinga.

Dalam masa itu, sepasang manusia tersebut pun rupanya sedang menyelami alam bawah sadar masing-masing.

Gadis bersurai cokelat cengkih dengan poni yang panjang itu mempunyai harga diri setinggi langit. Terlampau perfeksionis. Tidak dapat menerima kritikan apalagi koreksi. Benar-benar tipikal manusia yang susah ditaklukan. Suzy terlanjur menaruh stigma buruk kepada Myungsoo yang lalai dalam menjaga kepercayaan yang diberikan. Sampai-sampai ia pun menggembok hatinya dan membuang jauh kunci pintu maaf untuk Myungsoo. Dia, justru kebalikannya. Myungsoo itu seperti kerupuk yang diletakkan di depan kipas angin yang menyala dengan tombol daya nomor tiga; melempem. Kesalahpahaman sepele yang menimpa mereka pun semacam benang kusut yang tidak bisa diurai. Titik penyelesaiannya pun tersisa satu, yaitu mediasi dengan mengundang pihak ketiga – keladi (?) dari permasalahan mereka; Jiyeon.

***

Ruangan kerja yang didominasi kaca dan perabotan minimalis, di dalamnya terdapat presensi sepasang wanita berbeda usia. Ibu Suzy dan wanita yang lebih cocok menjadi ibunya. Yang satu mengenakan mantel terusan berwarna abu-abu tua sedangkan wanita yang rambutnya digelung dan terdapat kerutan samar di sekitar mata memakai setelan kantor berwarna ungu muda. Bibir yang keriput itu pun tersenyum.

“Aiguu, kamu masih cantik saja. Pantas saja, putrimu – Suzy juga begitu manis dan cantik.”

Ne?” tukas Nyonya Choi. “Tapi maaf, Anda siapa ya?”

“Aku Miranda Kim. Mi – ran – da.” Ucap wanita yang mengaku bernama Miranda itu da menekankan setiap silabel katanya. “Kau sudah lupa padaku?”

Nyonya Choi menggeleng lemah. “Ah, tunggu, kenapa Anda tahu Suzy itu putri saya?”

Miranda kembali mengulum seutas senyum. Ia pun bangkit dari kursi kebesarannya dan berjalan menuju Nyonya Choi.

“Jiwoo-ya, kau benar-benar sudah melupakanku. Aku Miranda alias Kim Miyoung, neneknya Kim Myungsoo – sahabat putrimu, Bae Suzy, nah, sekarang sudah ingat?” jelas Miranda atau Kim Miyoung pasti.

Ibu Suzy menatap Miranda dengan tatapan tidak percaya sekaligus heran. “Eommonim?!”

“Jiwoo-ya, oraenmanieyeo (Long time no see)!”

Miranda pun memeluk Jiwoo setelahnya. Menepuk lembut punggung wanita yang terasa mengecil itu.

Eommonim, kau kah itu?” tanya Jiwoo dengan nada yang tidak percaya.

“Ya, ini aku! Aiguu, teganya dirimu sampai melupakanku.”

Ani-ani, aku hampir saja memanggilmu dengan sebutan ‘eonni’.”

Tubuh Jiwoo pun menegang dan membuatnya menguraikan pelukan dengan Miranda. Kim Myungsoo. Penyebab Suzy menderita amnesia disosiatif! Teng! Dia pun segera bangkit dari kursi yang didudukinya lantas membungkuk kepada Miranda. Sementara Miranda pun dibuat keheranan dengan sikap Jiwoo yang berubah dengan tiba-tiba. Belum sempat Miranda bebricara, Jiwoo pun sudah memotongnya.

Jweoseonghamnida, sa-saya bukan Choi Jiwoo. Anda salah orang, Bu Presdir. Permisi.”

“Jiwoo-ya! Tunggu dulu!”

Jiwoo tidak menggubris ucapan Miranda. Dengan mantap ia pun pergi melangkah, meninggalkan ruangan yang terletak di lantai 30 tersebut.

“Jangan pergi dulu! Kau harus mendengar kenyataan yang selama ini ditutupi Myungsoo! Kumohon, Choi Jiwoo, berhenti di sana!” seru Miranda sambil menyusul Jiwoo.

Eommonim,

“Tidak seharusnya kau memisahkan Myungsoo dan Suzy.”

Eommonim, “ Jiwoo pun berbalik menghadap Miranda. Sedetik kemudian, air mata yang tadinya menggenang, meluncur perlahan melewati pipi tirus wanita usia awal 50 tersebut. “Maafkan aku, “

***

Bunga yang berada di Miracle Garden ini didominasi oleh jenis bunga tulip. Hamparan kembang tulip berwarna kuning mustard dan biru kobalt di samping jalan setapak yang dilewati kursi roda Myungsoo menawarkan feel berbeda dari hamparan dahlia berwarna putih dan merah jambu di seberang. Perasaan rindu yang menggebu diwakili oleh tulip biru kobalt sedangkan simbol persahabatan yang biasa diemban oleh si mawar kuning kini berpindah estafet pada tulip kuning mustard yang menguning luas.

kunin

Kerinduan seorang sahabat. Begitulah kira-kira persepsi yang ditangkap Myungsoo saat ia menyetop kursi rodanya dengan menyenggol lengan Suzy.

“Hm, kau masih memfavoritkan warna biru?” tanya Myungsoo sambil mengamati tulip biru kobalt di depan.

“…”

“Suzy?” panggil Myungsoo.

“….”

Masih tidak ada jawaban. Akhirnya Myungsoo menoleh ke arah Suzy. Pantas saja dia tidak merespon pertanyaannya, kedua lobang telinga Suzy disumpal oleh earphone. Tanpa rasa bersalah, Myungsoo dnegan santai menarik earphone yang menggantung di kedua telinga Suzy.

‘Tuk!’

“Yaa! Apa-apaan kau ini?!!!” seru Suzy tak terima. “Kau pikir kau itu siapa sih?! Seenaknya saja kalau berlaku! Menyebalkan!!” omel Suzy.

“Begitu aja sudah marah. Kenapa kau jadi temperamental seperti ini sih?”

Suzy lebih memilih tidak mengacuhkan pertanyaan retoris pemuda itu.

“Ya, baik-baik, maafkan aku soal yang tadi. Hm, kau masih memfavoritkan warna biru?” ulang Myungsoo. Satu detik, dua detik, sampai hitungan kesepuluh pun Myungsoo tak urung mendengar Suzy berbicara. Ia pun kembali mendongak pada Suzy. Tidak, ia tidak melihat earphone yang bergantung bebas di kedua telinganya.

“Kau mengacuhkanku. Yaa!” Myungsoo meremas jemari Suzy di pegangan kursinya.

Mwo?”

“Kau mengabaikanku!”

“Oh, kau sedang berbicara denganku toh?”

“Ah, lupakan!”

Myungsoo pun merogoh saku mantelnya, mengambil iPhone berwarna hitamnya. Dengan kesal ia pun menyapu jemarinya pada layar lebar ponsel tersebut. Tiba-tiba, matanya membulat sempurna.

“APA?!!! MATT DAMON MENINGGAL?! OH, SEMOGA TUHAN MEMBERKATINYA!!!”

Suzy tersentak. Ia pun segera merebut iPhone yang dipegang Myungsoo. Sepersekian sekon kemudian,

“Dasar pembohong!!!!”

***

Di kamar Hotel,

Myungsoo mengamati gadis yang tengah menjahit kancing kemeja miliknya dengan seksama. Suzy merasakan pandangannya terganggu karena anak-anak rambutnya yang berjatuhan dan menghalangi pandangannya. Tangan pemuda itu sebenarnya sudah gatal ingin menyibakkan helaian rambut itu. Namun Myungsoo memilih aman untuk tidak membuat dirinya menjadi sasaran empuk jarum jahit yang dipegang gadis itu.

“Kenapa lama sekali sih?”

“Cerewet!”

“Kau membentakku? Yaa, kau ini benar- benar – ”

“Apa?! Ha?” tantang Suzy. Ia pun menghentikan aksi menjahitnya lalu membanting kemeja pemuda itu. “Kau itu merepotkan sekali! Kenapa kau tidak menyuruh housekeeper saja yang menjahit kemejamu ini?! Lagipula, kemejamu kan tidak hanya ini saja! Bukannya kau membawa setengah lusin kemeja di dalam kopermu, ha?”

Kembali ke masa lima menit sebelum Suzy bertransformasi menjadi tukang jahit,

Gadis itu menahan sekuat hati untuk tidak menyiram Myungsoo dengan kopi panas yang ada di meja makan. Mentang-mentang ia sedang sakit dan Suzy sudah berjanji akan merawatnya (tidak) sepenuh hati, dia pun jadi seenaknya menyuruh Suzy untuk mengancingkan kemejanya.

Seharusnya sebagai wanita ia merasa gugup atau apalah ketika dihadapi dengan kenyataan mengancingkan kemeja seorang pria. Tidak, ia tidak merasa tergiur sama sekali ketika dirinya disuguhkan lima abdomen pemuda itu. Justru, ia menekuk wajahnya dalam-dalam dan meratapi nasibnya yang terlunta-lunta sebagai suster gadungan untuk Myungsoo. Namun saking kesalnya, Suzy pun sengaja mengancingkan kemeja Myungsoo dengan gerakan yang kasar.

“Pelan-pelan sedikit dong, “

“….”

‘Tap!’

‘Tap!’

‘Tap!’

Satu, dua, ah tidak tapi tiga  kancing terbawah kemeja Myungsoo loncat sana-sani akibat Suzy yang terlampau kasar dan kuat mengancingkan. Suzy pun mendengus sebal. Dengan santainya, ia pun berujar maaf dalam tuturan yang hanya bisa didengar semut rangrang.

Mian.

Andwaee! Kau, jahit ini sekarang juga!”

“Tidak mau. Sebelum kau bilang kata ajaibnya aku tidak akan menjahitkannya untukmu.”

Myungsoo pun menghela napas pasrah. Walaupun merasa kesal tetapi perasaan nyaman menggerayangi hatinya kala Suzy meresponnya dengan jawaban yang di luar ekspektasinya. Suzy sudah mulai melunak kepadanya.

“Suzy-ssi, tolong jahitkan kancing kemejaku. Kumohon.”

Selesai. Jahitan pada kancing yang copot sudah selesai. Suzy pun segera melempar kemeja pria itu ke pangkuannya. Lalu meninggalkan pemuda berkaos putih berbahan tipis itu. Alih-alih menghentikan Suzy untuk bilang terima kasih, Myungsoo malah membiarkan gadis itu pergi. Karena, tanpa diminta untuk kembali ia pun pasti akan kembali padanya.

Suzy meraba kantong celana jeansnya di berbagai sisi. Nihil, ia tidak merasakan keberadaan ponselnya. Kebiasaan manis gadis itu, suka meletakkan barang sembarangan dan berakhir dangan lupa.

“Mencari ini?”

Myungsoo menggoyangkan ponsel Suzy dengan gerakan yang mengejek. Rupanya, sebelum gadis itu menjahit kemeja Myungsoo, pemuda itu terlebih dahulu meminjam ponsel Suzy dengan alasan ponselnya kehabisan daya sehingga tidak bisa untuk mengabarkan neneknya di Seoul. Suzy pun mengambil langkah tegap kembali pada Myungsoo.

Tuh, kan benar apa kubilang barusan?

“Kembalikan!!!!”

“Alzheimermu semakin parah ya.” ejek Myungsoo.

“Apa kau bilang?!”

Sial, tanpa gadis itu ketahui ada bantal sofa yang terjatuh dan tergeletak di lantai dekat kursi roda Myungsoo. Ia pun tidak memerhatikan hal kecil itu. Langkah lebar gadis itu tinggal seinci lagi dari si bantal beludru berwarna magenta itu. Tanpa Suzy ketahui, hal yang bersifat fatal akan menimpanya karena,

‘Brak!’

‘Hap!’

“Astaga!!”

Suzy terpeleset sehingga jatuh ke dalam pelukan Myungsoo. Posisinya pun benar-benar sangat buruk. Kepala yang menyender di bahu tegap pria itu dan kedua tangannya yang melingkar sempurna di leher Myungsoo. Kedua pipi gadis itu pun menghangat. Dentuman aneh pun terasa di dalam rongga dada gadis itu.

Myungsoo pun hanya tersenyum tipis mendapati semburat merah muda yang merona di pipi Suzy. Berbicara mengenai perasaan, kembang-kembang sakur bermekaran di sekujur tubuh pemuda itu. Musim semi yang yang membawa sensasi hangat singgah menduduki permukaan hati pemuda itu yang selama ini ditutupi salju abadi dari musim dingin yang tak pernah berakhir.

Detik-detik terbodoh yang pernah dilewati Suzy adalah saat ini!

Sadar, ia pun berusaha bangkit namun pemuda itu malah mencekalnya. Tiba-tiba, permukaan pipi Suzy merasakan sapuan hangat dan err sedikit basah. Myungsoo mengecup lembut pipi kanan gadis yang betah bergelayutan padanya dengan jeda waktu yang cukup lama. Suzy pun membelalakan kedua matanya.

Sang Waktu pun akhirnya, berhenti.

To Be Continued.


a/n

sorry for long updates T_T i hope this one will fulfill your expectations❤

IMPORTANT: next chapter will be probably the last chapter. please show a lot of your sincere supports to this ONE^^

last, a ton of thanks and love for every one of you who have sent a lot of support for Wedding Dress..

thank you, and see you in the last chapter❤ :*

xianara-sign

80 responses to “Wedding Dress [chapter 5]

  1. Uwaaaa keren endingnya, inikah awal dari kembalinya mereka? Wahhh gg sabar nunggu baca nya. Fighting!!!!

  2. Pingback: Wedding Dress Final Chapter (2/2) | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

  3. Untung juga ya Myungsoo ‘celaka’ jadi hubungan mereka mulai dekat lagi walaupun suzy masih keras2 banget ke Myungsoo

  4. aaaah sepertinya ada sedikit kemajuan nih^^ suzy bicara “Aku melakukan ini karena kau itu
    sahabatku, Bodoh. Mana ada seorang
    sahabat yang tega membiarkan
    sahabatnya terluka? ” ketika keluar untuk mengurus biaya rawat myungsoo

  5. ngeheheheh eniwei aku udah bilang belum seberapa ngaconya singkatan G6 chapter sebelumnya?😀 baru ingat hihi

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s