The Chronicle of GYU and ME

TCOGAM

The chronicle of Gyu and Me

@xianara | miss A’s Bae Suzy, SJ’s Cho Kyuhyun, minor appearances from: SJ’s Lee Sungmin, Kim Heechul and SISTAR’s Yoon Bora, OC | AU, Family, Fantasy, Fluff, Surrealism, slight!. | One shot | Teen and Up | disclaimer: beside the story and poster I own nothing! |

Kekuatan apa yang digunakan untuk mengalahkan kekuatan jahat?

 Enjoy Reading!❤

Angin kencang bertiup dari utara ke selatan membawa kristal-kristal berbentuk pipih yang apabila bersentuhan dengan kulit akan menimbulkan sensasi dingin. Hujan salju pertama di awal Desember seakan membangunkan Suzy dari mimipi buruk. Ya, setelah hampir setengah tahun bergumul bersama kalor yang menguar di musim panas, gadis dengan surai gelap sebahu itu kembali menikmati musim favoritnya; musim dingin dengan hujan salju.

Menyusuri jalanan di area Gwanghwamun sendirian memang bukan pilihan yang buruk. Pasalnya, gadis yang menyumbat kedua telinga dengan earphone berwarna kuning pisang yang kontras sekali dengan mantel kokoanya, merasa damai. Fakta bahwa libur natal dan tahun baru yang tiba lebih awal membuat Suzy melonjak kegirangan dalam diam.

Suzy menurunkan topi kupluk rajut hadiah natal dari neneknya itu sampai menutupi dahi. Hawa dingin yang menyergap mau tak mau harus segera dilewati. Dengan gerakan cepat, Suzy pun melangkahkan kaki meninggalkan Gwanghwamun Square dan patung Raja Sejong menuju sebuah Hanok Village di dekat Gyeongbokgung.

Mendekati destinasi yang dituju, yakni Bukchon Hanok Village, di dekat gerbang utama, terlihat kerumunan orang yang mengerubungi sesuatu. Awalnya Suzy ingin melewatinya begitu saja. Bersikap tidak peduli seperti biasanya. Tetapi sesuatu yang aneh muncul. Tiba-tiba hatinya seperti digelitik rasa penasaran sehingga membuatnya bergegas menghampiri kerumunan tersebut. Sesampainya di barisan paling belakang, Suzy pun mendongakkan kepala guna melihat apa yang terjadi.

“Permisi, apa yang terjadi??” tanya Suzy kepada seorang wanita paruh baya dengan setelan yang cukup necis di dekatnya.

Oh, itu ada anjing yang terluka.”

Suzy menggelengkan kepalanya tak percaya. Ada seekor anjing yang terluka tapi mereka malah menjadikannya sebagai sebuah tontonan tanpa ada niatan untuk menolongnya. Sungguh manusia masa kini. Sebagai seseorang yang selalu gagal diterima sebagai anggota palang merah, Suzy merasa terpanggil untuk menolong anjing malang tersebut. Diserobotnya kerumunan tersebut oleh Suzy dengan paksa. Seekor anjing serigala berbulu putih terlihat tergolek lemah tak berdaya. Luka seperti bekas sayatan yang menganga terpampang di kaki sebelah kiri anjing tersebut. Si anjing putih itu pun meraung kesakitan pelan.

Tanpa membuang waktu gadis itu pun mendekati anjing tersebut. Dan dengan gerakan yang hati-hati Suzy membelai bulu-bulu halus di sekitaran leher anjing itu. Laksana seorang ibu yang menggendong bayi mungilnya, Suzy lantas menaruh anjing tersebut ke dalam pelukannya. Kentara sekali ia berusaha agar tidak membuat si anjing merasa kesakitan.

Langkah seribu pun segera diambil gadis itu. Tak lama kemudian, ia pun sampai di sebuah rumah tradisional korea yang merupakan klinik di Bukchon Hanok Village.

“Dokter Yoon!” panggil Suzy kepada seorang dokter jaga yang ia kenal.

Siluet di balik tirai yang diketahui sebagai pintu geser itu pun menjelma menjadi sesosok wanita dengan pipi yang agak tembem dan jas putih sebagai aksen seorang dokter. Sepasang mata bulatnya dibuat terbelalak mendapati Suzy yang menggendong seekor anjing yang terluka itu.

“Ya Tuhan! Cepat bawa ke dalam! Ayo!”

Selang beberapa menit, proses perawatan luka anjing serigala itu pun selesai dengan perban yang melilit kaki bagian belakang sebelah kirinya. Suzy mengusap lembut bulu putih anjing itu. Ekspresi si anjing yang terlihat lebih baik dari sebelumnya membuat Suzy dapat bernapas lega. Melihat Dokter Yoon yang sedang memberesi perkakas macam perban, gunting, kapas, dsb, tak lupa Suzy menghanturkan ucapan terima aksih.

“Terima kasih, Dokter, atas bantuannya.”

“Tidak perlu berterima kasih lagipula mana mungkin aku bisa membiarkan anjing semanis ini terluka begitu lama. Untung ada kau, ya.”

“Ya? Tidak berkat diriku juga kok.” sergah Suzy cepat.

Dokter Yoon tersenyum maklum. “Orang-orang lain salah menilaimu. Kau gadis yang baik, Soo.”

Suzy kelu. Ia tak dapat membalas pernyataan Dokter Yoon barusan. Ia pun menyibukkan diri dengan mengelus bulu-bulu halus di pinggiran leher anjing putih itu. Ia tak menghiraukan ocehan Dokter Yoon kepadanya. Pikirannya sibuk menelaah pernyataan Dokter Yoon barusan.

Ia gadis yang baik?

Orang-orang yang salah menilainya?

Ck, kenapa Suzy jadi peduli gitu. Toh, selama ini ia cukup bisa menutup kedua kupingnya atas penilaian orang mengenai dirinya yang tidak biasa. Sementara sang anjing yang menangkap ekspresi mendung tercetak di wajah Suzy sontak menjilati tangan gadis itu yang mengelusnya.

“Dia lucu, ya. Bulunya putih bersih. Aku jadi ingin mengadopsinya.” Suzy berkata dengan suara yang pelan namun masih bisa didengar oleh Dokter Yoon. Awalnya dokter berkacamata itu membulatkan matanya namun perlahan ia memulas senyum tipis di bibir.

“Ide yang bagus. Kau jadi tak kesepian lagi.”

Suzy mendengus. Ia menatap Dokter Yoon dengan tatapan ‘Aku tidak kesepian!’ yang dibalas lengkungan lucu kedua mata dokter muda itu.

“GYU. Namanya Gyu.” umum Suzy.

***

Gyu. Anjing serigala berbulu putih seperti kapas dengan sepasang netra berwarna biru safir terang itu menyalak kegirangan mengikuti Suzy yang mengayuh sepedanya. Pada setiap pagi di saat semua orang masih terlelap, ia mengantar susu-susu segar ke rumah-rumah di komplek perumahan elit distrik Gaepo-dong. Dengan dua kerat keranjang susu yang disampirkan pada kedua sisi sepeda gunungnya, Suzy melakukan pekerjaan ini dengan senang hati.

Semenjak kehadiran Gyu di dalam hidupnya kini, Suzy jadi lebih sering tersenyum. Ya, tingkah laku Gyu yang menggemaskan di mata Suzy tak ayal membuatnya dapat melengkungkan kurva di atas bibir tipisnya. Padahal, baru seminggu Gyu bersama dengan Suzy tetapi ikatan keduanya terasa begitu kuat.

Suzy menyetopkan sepedanya di depan rumah bergerbang kayu bernomor 87. Dua bungkus susu segar diambil dari kerat keranjangnya. Gyu yang melihatnya lalu mengekori Suzy dan menarik-narik celana training gadis itu.

“Ada apa?” tanya Suzy kepadanya.

“Gukk!! Gukk!!”

Oh, kau ingin membawa susu juga.” Suzy menunjuk bungkusan susu kepada Gyu yang dijawab salakan senang. Suzy mengelus kepala anjing itu. “Oke, panggil Dokter Yoon kalau begitu. Cepat!”

“Gukk!! Guk!!! Guk!!!”

Langkah kaki manusia terdengar sesaat setelah Gyu menggonggong nyaring. Pintu gerbang kayu di depan mereka pun berdecit tatkala seorang wanita dengan setean piyama tidur kotak-kotak yang dibalut dengan mantel hangat berwarna merah hati muncul.

Oh, kalian. Hello Gyu! Ayo masuk!”

Senyum tipis yang tercetak di bibir Suzy menyapa Dokter Yoon. Dia pun mempersilakan Suzy dan Gyu untuk masuk ke rumahnya. Kotak susu yang ada di genggaman Suzy segera diberikan kepada Dokter Yoon. Namun ia tak kunjung melangkahkan kaki ke dalam pekarangan rumah Dokter Yoon.

“Maaf, Dokter, tapi kami hanya mengantar susu.”

“Lho? Tidak apa, apa kalian sedang buru-buru?”

“Iya, maafkan kami.” ucap Suzy dengan nada sesal yang samar. “Gyu, kemari!”

“Sayang sekali. Ya sudah, “ sambil berkata seperti itu, Dokter Yoon berjongkok di depan Gyu dengan raut wajah yang agak mendung. “mungkin lain kali kita bisa bermain bersama, oke?”

“Gukk! Gukkk! Gukkk! Gukkkk!”

“Baik. Kami pamit, Dokter!” kata Suzy sambil menundukan kepalanya. “Gyu mari!” digiringnya Gyu menuju sepedanya. dan dikayuhnya sepeda dnegan keranjang susu yang telah kosong itu meninggalkan Dokter Yoon yang menatap kepergian mereka sambil lalu.

***

Tiga hari menjelang malam natal, Suzy masih berkutat di tempat-tempat kerja paruh waktunya. Di pagi hari, ia mengantarkan susu segar di distrik Cheongdam. Pada siang hari, ia pun menjadi kurir pengantar pesanan ayam goreng milik restaurant keluarga di Hongdae. Selanjutnya pada malam hari, ia berkutat di tempat cucian piring restaurant udon terkenal di distrik Yeouido. Akhir pekan pun tak luput dari sergapan gadis itu. Setiap hari Sabtu dan Minggu, ia membantu tetangganya berjualan Dalgona di salah satu sudut di Bukchon Hanok Village.

Akan tetapi, Suzy hanya melakukan itu semua jikalau ia mendapat jatah liburan sekolah. Kalau sudah masuk waktu sekolah, ia pun menjalani rutinitas kerja paruh waktu sehabis jam sekolah berakhir. Sebagai siswi tingkat akhir SMA, dibandingkan mengikuti jam tambahan pada Hakwon setelah pulang sekolah, Suzy lebih memilih mendulang pundi-pundi rezeki di kafe franchise milik selebritas ternama Korea Selatan.

Sejujurnya, gadis yang cenderung menenggelamkan diri di dalam kolam mispersepsi ini nekat mengarungi jadwal super hectic di waktu libur natal seperti sekarang ada alasannya. Suzy kesepian. She’s been more than lonely almost a half of her life. Ia bisa menikmati kesendirannya. Namun dia tidak bisa mengusir rasa kesepian yang melanda jika ia hanya berdiam diri tanpa melakukan apa-apa.

Kamar sepetak yang terletak di atap pada pemukiman padat penduduk di jantung kota Seoul itu terlihat lebih terang dibandingkan rumah lain di sekitar. Waktu menunjukkan hampir tengah malam. Namun itu tidak berpengaruh kepada Suzy yang baru pulang bekerja. Ia memeluk Gyu yang menggelendot di bahunya. Bulu-bulu halus yang menjadi favorit gadis itu pun dibelai dengan lembut.

“Aku kira sendiri itu lebih baik. Tidak berteman tidak masalah. Walaupun aku sering merasa kesepian, aku masih bisa melewatinya dengan mudah.” kata Suzy sambil menatap kosong jendela yang disibakkan gordennya dan menampakkan kelap kelip lampu dari gedung-gedung di Seoul.

“Tetapi setelah ada kamu, berdua denganmu itu lebih baik.”

Gyu seperti mengerti maksud dari perkataan Suzy. Ia pun menjilat pipi gadis itu lalu kembali menyenderkan kepala di pangkuannya. Mendapat respon seperti itu mau tak mau Suzy mengembangkan senyumannya.

Di tengah kesibukan kerja paruh waktunya, dengan setia Gyu tetap mengikuti kemanapun Suzy pergi. Pernah sekali, Suzy membawa anjing itu pulang saat ia tengah bekerja. Namun saat ia kembali ke tempat kerjanya, ia menemukan Gyu yang sedang duduk manis sambil menggoyangkan ekor menunggunya.

Berangkat dari situ ia pun akhirnya membiarkan Gyu mengikutinya. Muncul sebersit keinginan untuk menitipkan Gyu di tempat penitipan hewan peliharaan tetapi mengingat ia harus merogoh kocek untuk melakukannya tak ayal ia pun mengurungkan niatnya. Sosok Gyu di mata Suzy benar-benar seperti teman yang tidak pernah ia jumpa dan punya selama hidupnya. Seorang teman yang setia dan menyayanginya. Layaknya seorang teman sungguhan.

Bulan raya yang menggantung di angkasa kota Seoul nampak tersenyum kepada Suzy. Berkas sinar yang mengelilingi pun berkilauan, sepadan dengan bintang belantik dalam gugusan bintang Orion. Benda-benda langit itu seperti memberi suntikan energi pada Suzy. Setelah itu, ia pun segera bangkit. Gerakan yang tiba-tiba itu pun membuat Gyu yang sedang bersenggayut manja jadi terjungkal.

“Ikkkkk! Ikk!”

Suzy mengerutkan dahinya setelah endengar fon bernada aneh dari Gyu. “Astaga! Maaf ya, Gyu. Aku tidak sengaja.” Suzy mengusap dagu anjing itu sambil tersenyum tipis. “Aku lupa aku harus menyuci seprai. Kamu tunggu di dalam saja ya.”

“Gukkk! Aufffhhhh! Aikkkkkkkk!”

“Eh, kamu mau ikut menyuci? Tidak, terima kasih.” tolak Suzy.

Ia tahu Gyu pasti ingin membantunya tetapi yang ada nanti ia pasti bermain-main dan malah membuat cuciannya terbengkalai. Seprai yang tergolek di dekat kasurnya, ia ambil dalam satu gerakan.

“Auffffh!”

Gyu pun mengguling-gulingkan badannya. Suara yang ia keluarkan juga lemah. Ia menunjukkan bahwa ia ingin ikut. Suzy tersenyum kecut. Anjing yang mirip dengan Belgian sheepdog namun berbulu lebih lebat ini sedang bertingkah imut.

“Gyu, aku tak akan termakan aksi aegyeo payahmu itu.” ucap Suzy final sebelum membanting pintu di hadapannya.

Hanya orang tidak waras yang menganggap hypothermia seperti penyakit bisul dan menyuci seprai malam-malam saat udara dingin di puncak musim dingin menyergap. Suhu yang hampir menyentuh 2° C di malam hari itu tidak membuat Suzy berhenti menginjak-injak seprai di dalam bak besar yang busanya tumpah ke mana-mana. Ia memang gila. Ia bisa saja terkena hypothermia karena berada di udara dingin terlalu lama. Anehnya, ia sama sekali tidak terlihat menggigil. Rupanya, ia sudah memakai setelan berlapis-lapis yang di luarnya dilapisi windbreakber gibahan dari Dokter Yoon tempo lalu.

“Dia aneh. Pantas saja dia tidak punya teman.”

“Kalau saja dia tidak pintar, kuyakin dia bukan apa-apa.”

“Wajahnya saja kusam begitu. Sudah pasti ia tidak pernah perawatan.”

“Dia pasti tidak bisa membedakan yang mana krim wajah dengan minyak rambut!”

Kepulan uap putih keluar dari mulut gadis itu. Dengan wajah yang memerah ia semakin kuat menginjak-injak seprainya itu. Penilaian orang-orang mengenai dirinya di masa sekolah terngiang di rumah keong Suzy. Anak-anak gadis dengan tampang yang standard di kelas Suzy memang merasa kesal dengannya. Mereka tidak bisa secerdas Suzy. Hanya itu. Akan tetapi Suzy hanya menganggapnya sebagai angin lalu. Tak pernah sekalipun ia menanggapinya. Toh, cara hidup menyendirinya membuat dia baik-baik saja. Malah bisa membantunya bertahan sampai sekarang.

Tetapi itu semua menjadi jauh berbeda saat anjing serigala itu datang di kehidupannya. Setelah mengadopsi Gyu, ia berubah menjadi pribadi yang berbeda. Kepada Gyu, ia sering tersenyum. Dengan Gyu, ia merasa punya teman. Dengan Gyu, ia merasa dicintai dan mencintai. Dengan Gyu, ia sadar bahwa manusia tidak bisa berdiri sendiri. Mereka butuh pegangan. Dan itu teman.

Busa-busa yang meluap di mulut ember berwarna merah itu semakin banyak. Suzy menatap angkasa gelap berbintang itu dengan seksama. N Tower yang terlihat seperti sebatang korek api di sebelahnya terdapat bulan penuh dengan cahaya kuning terang. Ia memandang penuh arti bulan yang menggantung di atasnya. Meninggalkan semua kesan suram yang dimiliki, di bawah telapak kakinya.

Tepat tengah malam.

Saat jam berdentang dua belas kali. Saat jarum panjang dan jarum pendek menunjuk angka 12. Tepat saat itu, di dalam kamar Suzy, muncul cahaya dan percikan api berwarna biru yang berpendar di sekitar tubuh Gyu. Lama kelamaan cahaya itu pun membungkus tubuh Gyu seutuhnya.

Cahaya biru safir bercampur dengan biru ningrat dan biru kobalt itu pun memuntahkan percikan api biru yang terang. Suzy yang berdiri membelakangi jendela kamar pun tidak menyadari dengan aksi cahaya biru yang saling bertubrukan itu.

Keempat kaki anjing itu seketika berubah menjadi sepasang tangan dan kaki yang kokoh. Perban putih yang masih melingkar di kaki anjing itu pun terlihat pada tungkai sosok baru dari Gyu. Sinar biru yang menyelimuti tubuh anjing itu selanjutnya memunculkan sebuah bayangan tubuh manusia. Cahaya biru beragam corak dan warna yang berbeda-beda itu semakin lama memudar. Percikan-percikan sinar biru zamrud yang seperti kunang-kunang itu pun menipis.

Tubuh Gyu lenyap digantikan sesosok pria dengan badan yang tegap. Pria dengan kulit seputih salju dan agak pucat itu membuka mata terpejamnya perlahan. Bola mata berwarna cokelat pekat namun terlihat bening itu memancarkan tatapan yang meneduhkan. Surai legam miliknya pun berantakan karena tiupan angin dari jendela yang terbuka.

Suzy yang tidak menyadari kejadian di luar akal sehat manusia barusan itu pun mengalihkan tatapannya dari langit yang gelap gulita. Tiba-tiba pijakan pada seprainya berubah jadi tidak seimbang. Telapak kaki kananya tanpa sadar menginjak jempol kaki kirinya sehingga membuatnya oleng. Dalam hitungan ketiga ia pasti akan terjungkal dari bak cuciannya.

1

2

3,

‘Hap!’

Suzy merasakan sepasang lengan kokoh menahan tubuhnya. Ia menatap kedua lengan yang melingkar di perutnya. Muncul rasa takut karena orang asing yang tiba-tiba menyusup ke rumahnya. Dalam sekali hentakan ia pun menyikut perut orang di belakangnya yang memeluk tanpa minta izin.

‘Bugh!’

“AKKKKK!”

Suara pria jelas.

Suzy membalikkan tubuhnya. Seorang pria berpakaian kemeja putih panjang dan celana hitam yang membungkus badannya sedang memegangi perut yang kesakitan karena sikutannya. Ia pun turun dari bak cuciannya dan mengambil ancang-ancang untuk memukul pria asing itu.

“Siapa kau!!?!!” teriak Suzy kalap.

“Akk, i-ni aku. G-gyu!”

“TIDAK MUNGKIN!! Gyu itu anjing! Kau?! Kau?! Kau, pria mesum!”

“Suzy, memang benar ini aku Gyu! Anjingmu! Aku ini seorang manusia! Hanya saja, aku disihir oleh seseorang menjadi seekor anjing. Dan hanya bisa berubah menjadi manusia hanya pada periode bulan purnama di tengah malam!!” jelas Gyu dengan susah payah sambil menahan rasa nyeri di perutnya.

“APA?! Sihir?! Hahaha!” tawa mengejek tumpah dari bibir gadis itu. “Wah, kau mau mati, ya!!”

Suzy tak habis pikir dengan perkataan pria di hadapannya. Di era millennium seperti ini yang semuanya bisa dirambah dengan teknologi tatap muka dalam sebatang lempengan tembaga dan jaringan nirkabel; tidak mungkin masih ada komunikasi via mantera-mantera atau jampi-jampi. Terlebih kutukan yang mengubah manusia menjadi seekor hewan dan semacamnya. Astaga, dia ‘kan hidup di abad ke-20 yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan dongeng imajinasi Walt Disney itu!

Selanjutnya, Suzy pun menatap manik cokelat pria yang mengaku sebagai Gyu di hadapannya. Nihil. Aneh sekali. Ia justru tidak menemukan setitik dusta di sana.

“Coba tatap mataku. Aku ini Gyu! Anjingmu!”

“Dengar, “ Suzy memindai penampilan Gyu dari atas sampai bawah sambil mengitarinya. Ia pun menghentikan langkahnya tepat di depan pria itu. “Tungkaimu kenapa ada perbannya?” tunjuk Suzy menggunakan dagu.

Pria yang mengaku Gyu itu pun mengikuti pandangan gadis itu.

“Terluka karena ada manusia jahat yang mencoba dengan paksa membawaku. Tetapi aku melawannya. Dan inilah yang aku dapat. Luka sayatan. Tapi sekarang sudah sembuh, berkat kamu dan Dokter Yoon.”

Suzy menggelengkan kepalanya. Matanya memicing mendengar jawaban barusan. “Tunggu, apakah mungkin?”

‘Woooosshhhh!’

Angin dingin tiba-tiba menerjang dengan tak gentar. Belum sempat pria yang meyakini dirinya sendiri adalah Gyu mengatakan sesuatu pada Suzy, tahu-tahu windbreaker yang tadinya dikenakan Suzy kini bertengger manis di tubuh pria itu. Tanpa membalas tatapan kedua soca gelap yang tengah menatapnya takjub, Suzy segera berjalan menuju pintu rumahnya dan membukanya. Gyu – ya, mungkin sekarang Suzy percaya kalau pria di hadapannya ini memang Gyu –  masih terpaku di tempatnya dan menatap gadis itu dengan sorot yang bingung dan linglung.

“Bagaimana bisa seorang manusia bertahan dengan cuaca dingin seperti ini hanya dengan balutan kemeja setipis itu?”

***

Sepanjang hari ini Suzy tidak bisa fokus terhadap pekerjaannya. Dia selalu gagal fokus. Pernyataan tentang Gyu semalamlah penyebabnya. Dengan gamblangnya pria itu menceritakan kepada dirinya mengenai kutukan yang menimpa dirinya sejak 6 tahun yang lalu.

Cho Kyuhyun, pewaris tunggal Choigo Group tetapi tepat sehari sebelum pelantikannya sebagai pemegang saham utama, ia hilang sampai sekarang. Jiwa dan raganya tidak hilang. Hanya saja, ia dikutuk menjadi seekor anjing, ya cuma dikutuk. Suzy yang mendengarnya pun cuma bisa memanggutkan kepala, entah ia mengerti atau tidak. Ataupun menimpali dengan jawaban YA atau TIDAK TAHU.

“Jadi, keluargamu menganggap kamu telah mati?” tanya Suzy kepada Kyuhyun. Pria yang tengah melahap seporsi ramen instan itu pun menganggukan kepala.

“Tenggelam di laut. Itulah penyebab kematianku. Saat itu aku sedang menghabiskan malam pergantian tahun di sebuah kapal pesiar. Milik ayahku.”

“Nah, lalu apa hubungannya dengan mantera, kutukan, atau sihir yang entah apalah namanya itu yang mengubahmu jadi seekor anjing seperti sekarang?” Suzy menyipitkan kedua matanya diikuti dengan dahinya yang berkerut. Tanda sedang berpikir.

“Aku tidak tahu. Dengar, aku tidak bisa mengingat kejadian saat malam tahun baru tersebut secara utuh, seperti hilang tak berbekas,” ucap Kyuhyun sambil menyudahi acara makan tengah malamnya itu. Dia meyakini kalau potongan memori yang hilang itu merupakan jawaban atas pertanyaannya selama ini. Kyuhyun menggerakan jemarinya seperti ombak di atas kepala. “memoriku seperti ada sebagian yang lenyap. Aku sudah mencoba untuk mengingatnya tapi tetap saja tidak berhasil.”

“Tidak salah lagi, demi sebuah tahta dan harta ada konspirasi di balik semua ini. Dan ada peran seseorang yang mempraktikan sihir jarak jauh. Seperti di zaman Joseon itu.” simpul Suzy. “Sulit untuk membuktikan siapa pelakunya. Tapi aku yakin, kutukan yang menimpamu pasti ada antidotnya. Tak mungkin tak ada penyakit yang tak ada obatnya ‘kan?”

Kyuhyun mengangguk tanda setuju. “Dan satu lagi. Terima kasih karena selama seminggu ini kamu telah merawatku. Aku tidak akan melupakan yang satu ini sampai kapanpun. Jika aku sudah menjadi manusia seutuhnya, izinkan aku untuk membalas semua kebaikanmu.”

“Tidak usah, simpan saja untuk yang lain. Toh, aku tidak berharap apa-apa padamu.”

Suzy berkata seperti itu karena ia sendiri kehabisan kata-kata. Mendengarnya saja membuat ia merasa geli sendiri. Entah kenapi tetapi Suzy yang sekarang bukanlah yang dulu. Yang selalu mempunyai cadangan frasa, klausa, dan kalimat sarkasme untuk membalas sindiran orang atau menggerutu. Namun ketika ia dihadiahi sebuah pujian, lidahnya menjadi kelu dan mulutnya terlalu kaku untuk digerakkan.

“Gyu. Aku juga suka nama itu. Kyuhyun dan Gyu. Tidak berbeda jauh.”

Suzy mengangkat pandangan dari karpet  usangnya kepada Kyuhyun yang kini tengah menatapnya sambil tersenyum. Gendang telinga gadis itu seperti dikelitik mendengar ucapan Kyuhyun barusan, terlebih yang satu ini,

“Kamu gadis yang tulus. Dan aku sangat menghargai itu.”

Tetapi ekspresi Suzy tiba-tiba mengeras. Kedua pipi gadis itu memerah dan matanya jadi segaris secara horizontal. Kyuhyun menyadarinya dan langsung melenyapkan lengkungan di bibir. Ia pun menatap Suzy heran. Apa gadis ini tidak suka dipuji?

“Selama kamu menjadi Gyu, kamu tidak mencuri kesempatan dalam kesempitan ‘kan?” tembak Suzy langsung. Kyuhyun menautkan kedua alisnya. Dia pun tidak mengerti mengenai konteks dari pertanyaan Suzy barusan.

“Maksudmu?”

Nampaknya pria itu memang lamban dalam berpikir. Dia tidak menangkap makna yang tersirat di dalamnya. Tidak mungkin bagi Suzy dengan menghakimi pria itu secara langsung kalau ia memanfaatkan wujudnya sebagai anjing untuk mengintip Suzy saat ia sedang bertukar pakaian.

“Kau ini tidak suka memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan ‘kan?” lagi, Suzy memberikan ilokusi kepada Kyuhyun. Ting! Pria itu kini tahu makna di balik konteks pembicaraan ini. Semburat merah yang merona di kedua pipi gadis itu juga menular kepadanya. Bahkan sampai dengan kedua daun telinga Kyuhyun.

“Oh itu, jangan salah sangka dulu. Aku bisa menjelaskan,”

“Mulai sekarang kamu tidur di luar. Titik. Selamat malam!” ucap Suzy final.

Ia pun melempari Kyuhyun dengan dua pasang selimut yang tebal dan mendorong bahu pria itu dengan kasar. Suzy memilih untuk tidak mengindahkan penjelasan Kyuhyun. Lebih baik tidak tahu sama sekali, batin Suzy.

***

Apgujeong Convention Center,

Tatapan orang-orang yang menghujam diri gadis itu, dihiraukan. Suzy memandang dengan pilon terhadap pintu besar dan lebar di hadapannya. Karangan bunga berisi ucapan selamat berjejer dengan rapi di sampingnya. Rangkaian bunga warna-warni itu semakin memusingkan gadis itu. Ia menelan salivanya dan memandang Kyuhyun – dia sudah kembali pada wujud anjing –  yang tengah berjongkok di sampingnya.

“Kenapa kamu membawaku ke tempat seperti ini?!”

Sebenarnya gadis itu sudah biasa dengan tatapan merendahkan orang-orang kepadanya. Namun kali ini berbeda. Orang-orang menatapnya dengan pandangan aneh, heran, geli, bahkan ketakutan. ‘Aku gelandangan tulen’ seperti tertulis dengan sipdol permanen di dahi gadis itu. Bagaimana bisa seorang gadis dengan mantel tebal kelabu yang warnanya muntah sehingga kesan buluk terpampang nyata; berdiri di depan pintu utama ke dalam gedung yang sedang melakasanakan pesta meriah. Dengan seekor anjing pula. Ralat, seorang manusia berwujud anjing.

Para wanita nampak memakai setelan long dress ataupun winter dress berpotongan pendek dan sedang. Di wajah mereka juga terdapat riasan. Mulai dari yang tipis sampai yang tebal –  setebal kue dalgona yang biasa ia jual. Para pria pun tak ketinggalan memakai setelan tuxedo yang mayoritas berwarna gelap. Ada yang dilengkapi dengan dasi kupu-kupu ataupun tidak. Pandangan mereka terlihat sangat mengintimidasi Suzy dan Kyuhyun.

Oh, ayolah! Mana mungkin ada manusia yang menghadiri pesta dengan pakaian abnormal seperti itu? Untungnya, Suzy mengenal salah satu petugas keamanan di sana yang juga rekan kerja di restaurant ayam goreng sehingga ia tidak perlu takut diusir.

Suzy sekali lagi membaca tulisan bercetak tebal dan jumbo yang tercetak dengan seksama.

Pesta Ulang Tahun Choigo Group ke-97

“Jadi, kamu ingin mengikuti pesta itu?” bisik Suzy, ia pun membalas menatap tajam balik wanita dengan balutan one shoulder dress hijau giok yang memamerkan leher jenjangnya. “Kamu ingin meminum wine dan bercengkerama bersama vice holder lainnya? Dengan wujudmu sebagai seekor anjing? Sudah terbalik dunia rupanya.”

Kyuhyun menjulurkan lidahnya.

“Tunggu, yaa! Benar-benar tak dapat dipercaya.” Suzy mendesah pasrah. “Lihatlah aku sekarang. Berdiri di depan sebuah ruangan pesta mewah hanya untuk menemani seekor anjing jadi-jadian yang ingin menyesap white wine langsung dari gelas timpus. Ya Tuhan! Tanda kiamat sudah dekat memang benar! Dan aku menjadi bagian dari tanda kiamat itu! Oh!”

Dari samping gadis itu, seorang pria berjas hitam dengan alat komunikasi mutakhir yang menempel di telinga berjalan mendekat. “Suzy-a, aku sudah tidak bisa menahanmu terlalu lama. Atasanku sudah melobiku agar membawamu keluar dari sini tahu.”

Oh, li-lima menit lagi setelah itu aku janji aku langsung angkat kaki. Tolong ya?” pinta Suzy sambil memelas.

Pria itu menghela napas berat lantas mengangguk dan mengangsurkan kelima jari miliknya di hadapan Suzy. “Baiklah, lima menit lagi oke.”

“Tentu! Thanks, Sungmin-a!”

Kyuhyun menyalak senang dan langsung dihadiahi tatapan mengganggu dari orang-orang. Suzy langsung membekap bibir  Kyuhyun keras-keras dan melotot ke arahnya.

“Diam!!”

Kejadian selanjutnya terjadi begitu saja. Seperti pawana milik El Nino yang menyambar kesadaran Suzy. Kyuhyun menggigit jemari yang membekapnya dan langsung melarikan diri ke dalam ballroom. Meninggalkan Suzy yang mematung karena aliran hemoglobin yang berhenti di tengah jalan.

Sejurus kemudian, Suzy pun menyusul Kyuhyun ke dalam. Teriakan dan seruan menggema di dalam ruangan yang sangat luas. Para pelayan dan petugas keamanan terlihat berlarian berusaha menyudutkan Kyuhyun. Namun pria itu terlalu tangkas untuk menghindar sehingga selalu lolos. Para wanita dan pria berdandanan perlente di dalam pesta nampak kocar-kacir dan segera berhamburan menuju sudut-sudut yang tak terjamah Kyuhyun. Para wanita yang manjanya melebihi batas kewajaran. Bahkan ada salah seorang gadis yang sampai menitikkan air mata karena white long dress rancangan Christian Louboutin miliknya diinjak oleh kaki-kaki kotor Kyuhyun yang meninggalkan noda lumpur.

“Tangkap anjing itu!!! Sekarang!!”

Suzy ikut berlari menangkap Kyuhyun yang mendekat ke arah podium utama. Terdapat seorang wanita yang sudah tidak terlihat muda dan mungkin pantaran usianya sama dengan neneknya di Gwangju. Suzy juga dapat melihat seorang pria bersetelan necis ala pria borjuis kebanyakan. Namun ada yang janggal. Untuk ukuran pria wajahnya terlalu cantik. Ah, masa bodoh dengan itu semua. Titik episentrum Suzy hanya terletak pada Kyuhyun yang tinggal beberapa meter lagi untuk sampai di atas sana.

“Gyu! Berhenti di sana!” perintah Suzy.

Berhasil. Kyuhyun menghentikan langkah tepat sejengkal sebelum menyentuh tangga menuju podium. Kyuhyun memasang gurat kebingungan. Baguslah, dengan begitu Suzy dapat menyusul dan melindungi Kyuhyun dari sergapan koloni petugas keamanan dan pelayan pesta tersebut.

Kyuhyun sekarang telah berada di dalam dekapan Suzy. Para pemburu Gyu pun telah mengelilingi mereka berdua dan siap menangkap Kyuhyun. Gadis itu semakin mengeratkan pelukannya. Entah mengapa di saat genting seperti ini mengapa pita suaranya  tidak berfungsi. Suaranya hilang entah dibawa oleh Jin Suara dari region mana.

“Kenapa diam?! Cepat tangkap!!” pria berwajah cantik di atas podium itu memerintah kepada para awak pemburu yang tertahan.

“Kim Heechul, tunggu dulu!”

Oh, rupanya dia adalah Kim Heechul, presdir dari Choigo Group. Pantas saja, ia bisa menurunkan perintah seperti itu.

“Lho? Ada apa, Nek? Dua orang ini, no, maksudku, gadis dan anjing ini ‘kan telah berbuat onar di pesta kita! Apa Nenek tidak bisa lihat para tamu undangan kita yang wajahnya ketakutan?”

Wanita yang dipanggil Nenek oleh Presdir Choigo Group itu hanya menggelengkan kepala. Ia pun menuruni podium dan berdiri tepat di samping Suzy dan Kyuhyun. Para pelayan dan petugas keamanan serempak membuka jalan dan memberi hormat.

Suzy hampir menangis. Otaknya terlalu lelah menyempurnakan realitas yang bertebaran di sekitarnya. Untuk apa, ia harus memohon kepada rekan kerjanya agar bisa memasuki gedung ini. Untuk apa, ia datang ke ballroom mewah ini dan mendekap seekor siluman anjing setengah manusia yang hampir memensiunkan jantung di rongga dadanya. Untuk apa, ia harus bersitegang dengan puluhan pelayan dan petugas kemananan yang mengancam nyawanya dan Kyuhyun? Demi menyelamatkan Kyuhyun. Untuk apa?!!,

Interlude.

Hei, bukankah kamu telah berubah? Tidak berubah sih. But, didn’t you return to your true self? Ini ‘kan jati dirimu sebenarnya. Seorang gadis periang yang gemar mendermakan senyuman dan menolong sesama. Hanya karena kamu tinggal sendirian di muka bumi ini, jauh dari nenek – satu-satunya anggota keluargamu yang masih hidup – lantas kamu pun juga menarik diri dari sosial masyarakat. Bukankah itu semua karena keputusanmu? Kemauanmu? Kamu sendiri ‘kan yang menolak ajakan tinggal di Gwangju setelah kedua orang tuamu meninggal. Kamu sendiri ‘kan yang memosisikan diri sebagai penyebab kematian orang tuamu? Kamu sendiri ‘kan yang menyalahkan dirimu sendiri? Ayolah! Tidakkah kamu melihatnya lebih dekat agar kau mengerti?! Semuanya itu kembali kepada dirimu sendiri, Bae Suzy. Yes, your self, darling. Tidakkah kamu mencermati pernyataan Socrates di kala itu? Manusia itu adalah makhluk sosial – tidak dapat berdiri sendiri!

Interlude ends.

Kilapan air mata pun membasahi kedua pipi tembam Suzy dan menetes tepat di atas soca safir Kyuhyun, seolah-olah dia juga menangis. Cukup. Gadis itu sadar apa yang harus ia lakukan sekarang. Punggung tangan gadis itu terangkat dan menyapu halus seluruh air mata di pipi dan di wajah Kyuhyun. Ia tersenyum.

“Nona, bangunlah. Apa ada yang bisa kubantu?” tawar nenek itu seraya menundukkan badan dan mengusap bahu Suzy.

A-ah, “ Suzy menegakkan badannya dan masih merengkuh Kyuhyun. Sejenak, ia memberi salam kepada nenek tersebut. “A-aku sebenarnya, “

Gadis itu tergagap. Mengungkap kejujuran itu memang berat ya. Hebatlah orang-orang yang bisa berdusta dengan mudahnya di luar sana. Sang nenek mengangguk tanda meminta Suzy melanjutkan perkataan yang terputus-putus itu.

Antidot! Penawar! Aduh mama! Ia lupa memikirkan penawar yang bisa mematahkan sihir yang mengurung Kyuhyun. Duh! Matanya pun kembali memanas. Tatapan orang-orang semakin liar dan kelewat ingin tahu. Kasak-kusuk pun semakin terdengar.

“Sebenarnya? Apa?”

“A-aku, di-dia, “

Oke, tenang, Bae Suzy adalah seorang thinker. Kosongkan pikiran dan mulai berpikir! Serial dongeng jebolan Disney tentang kutukan, mantera, nenek sihir. Pangeran kodok, Si Ganteng dan Si Buruk Rupa, Ibu peri, Puteri Tidur, Putri Salju. Kekuatan apa yang digunakan untuk mengalahkan kekuatan jahat?

Bagaimana caranya Pemburu bisa menghidupkan kembali Snow White yang meninggal karena memakan apel yang beracun? Ayo pikirkan dengan cepat Bae Suzy! Apa yang dilakukan Belle untuk menyatukan cintanya dengan Beast? Tunggu, c i n t – ! Ah, itu dia!

“Nona?”

“Se-sebenarnya, di-dia – “

Kekuatan cinta!

“Sebenarnya dia adalah Kyuhyun!! Cho Kyuhyun! Pewaris utama Choigo Group!” ceplos Suzy sambil menunjuk Kyuhyun.

Seluruh pasang mata yang berada di dalam ruangan itu pun merasa tertarik ingin keluar. Kim Heechul reaksinya lebih heboh. Ia bahkan meloncat dari podium yang tingginya setengah meter. Ia pun menderapkan langkah dengan tegas laksana prajurit Sparta.

“Tidak mungkin!!!!” bentak Kim Heechul dengan suara yang menggelegar.

“Anjing ini adalah Kyuhyun! Ia disihir oleh kekuatan jahat! Dan dalang di balik perilaku kotor nan menjijikkan ini pastilah salah satu di antara kalian di sini!”

Sang nenek perlahan berjongkok di depan Kyuhyun dan mengusap kepala Kyuhyun. Air matanya berlinang. “Nak, “

Well, kalau begitu coba kau buktikan pada kami! Kalau seekor anjing ini adalah Kyuhyun! Ck, kurang ajar sekali Nona ini ya! Berani-beraninya menghina Uri Kyuhyun yang telah wafat!”

Nenek memandang tajam Heechul setelah berkata seperti itu.

Cinta suci. Cinta sejati. Cinta putih. Cinta yang tak menuntut untuk diberi. Cinta yang tidak harus dicintai. Ah! Demi Tuhan! Ini memusingkan! Oke, jadi karena cinta pada pandangan pertama, pangeran mengecup kening Putri Aurora la –

Bingo!

Para tamu undangan pun menanti aksi yang akan dilakukan Suzy untuk membuktikan kebenaran itu.  Sorot harap-harap cemas yang paling mendominasi. Tanpa mengurangi intensitas ketegangan di antara mereka, sebagian ada yang berinisiatif berdoa. Mengharapkan suatu akhir yang manis dan bahagia, sesederhana itu.

Tanpa membuang waktu Suzy segera merunduk ke arah Kyuhyun, mengunci sepasang manik safir itu, terakhir mengecup pelan bibirnya.

‘Tasss!’

‘Tasss!’

‘Tringggg!’

Cahaya biru berbagai corak berpendar tak karuan setelah Suzy mencium Kyuhyun. Perlahan-lahan sinar biru dengan kilauan biru metalik berhamburan saling berebut satu persatu. Keduanya pun dilingkupi cahaya putih keperakan. Gambar bentuk menyeluruh secara blok berwarna gelap dari Kyuhyun terlihat. Wujud seekor anjing pun ditukar dengan wujud asli seorang pria. Jati diri Kyuhyun yang sebenarnya. Kilap serupa kosmis biru susu galaksi bima sakti dan tirai ungu kebiruan aurora borealis pelan-pelan mulai menipis layaknya sirus.

Percikan api biru yang mengelilingi keduanya pun berpendar seperti kunang-kunang kala Kyuhyun muncul dan masih belum melepaskan tautan mereka. Pria itu menundukkan kepalanya berusaha menyejajarkan dengan Suzy yang hanya sepantaran bawah kuping. Kyuhyun memeluk pinggang ramping Suzy yang dibungkus oleh mantel tebal. Berusaha untuk mendekatkan ciuman mereka. Pria itu tidak menyadari perubahannya. Atau menyadari tapi membiarkannya. Ia enggan melepaskan senyuman yang bertengger manis di bibir.

Perasaan hangat menjalar dengan hebat di relung gadis itu dan menyambar ke seluruh aliran syaraf di tubuhnya. Ia pernah mengalami orientasi seperti ini kala ia bersama ayah dan ibunya. Fragmen saat Suzy kecil sedang mengitari taman lalu terjatuh karena pusing dan setelahnya tertawa terbahak-bahak bersama ibunya yang jelita berputar. Saat ia dan orang tuanya pergi ke peresmian Everland pertama kalinya, saat Suzy mengendarai wahana roller coster bersama ibunya. Saat ia merasakan pelukan penuh kasih di pinggangnya. Saat dahinya merasakan kecupan ringan dari ayah dan ibu sebelum ia pergi tidur. Serta doa termanis dan terhebat yang tak tergantikan dan pernah Tuhan ciptakan.

Kyuhyun pun telah mengembalikan sosok nyata yang manis dan hangat pada seorang Bae Suzy yang sudah lama hilang.

Dimulai dari titik nol yang memisahkan antara garis lintang dan bujur. Garis khayal yang melingkar pada takdir keduanya. Garis yang ditarik oleh Tuhan untuk menggambarkan titik-titik yang sama jaraknya antara kasih dan sayang. Untaian pada meridian yang menggabungkan keduanya. Kronik antara Gyu dan Suzy.

 “Aku mencintaimu, “

END.


a/n

*liat ke atas* kalo boleh curhat sedikit, sebenarnya draft ff  ini sudah ada sejak jaman kyuhyun at gwanghwamun alias november tahun lalu, dan baru saya rampungin jadi ff utuh awal maret tahun ini.. *ketauan malesnya kan saya,haha T_T * jujur nih, saya tuh ngerasa asdfghhjklkjhgf banget lah pas buat ff bergenre fantasy ini,haha, saya serius😀

so, let us say HELLO APRIL! i wish every one of u will always be blessed and happy!!😀

and also, CONGRATULATIONS miss A for the huge come back! dareun namja malgo neo, jjang!!!

21 responses to “The Chronicle of GYU and ME

  1. Kak Ratna kalo udah diksi dan kata-kata begini emang jagonya deh😀 uwaw. Nadia pangling sendiri. Kosakatanya banyak banget, aku suka! Dan katakter Suzy persis sama diriku yang suka menyendiri. Ih daebak banget deh gitu2 mataku pegel wuahaha

    • halo nad^^ duh kamu jangan bilang kek begituu. aku mah masih jauh dari kata jago, serius.. maafin akuh T_T sampe buat kamu pegel bacanya, hiks.. but, thanks for mampir, tunggu aku di lapak ff-mu ^^😀

  2. mau tau povnya kyu dan msh penasaran siapa yg mengubah kyuhyun dan itu siapa yg bilang aku mencintaimu?? jd aku mnta squel😄 wkwkwk ditunggu ff yg lainnya ya hwaiting ‘-‘)9

    • hai^^ wah sequel?? ditampung dulu yah.cos masih banyak unfinished ff yang ngantri di belakang, huhu T_T

      yeah, terima kasih dukungannya😀

  3. Wow!! Ffnya panjang bgt ya thor?!! Tapi aku suka!😀
    fantasi yg dikombinasiin sm modern-life itu jjang sekali!!!!daebakk!! Aku berasa baca fairytale versi 2015!
    Wah, suzy-ayou did it!kamu berhasil berjuang melawan kesepianmu ya!dn kyuhyunn!!!! Prince of gyu yg charming!! Happy eending buat mrk berdua ya!😀
    btw, author ini kyuzy shipper ya? Solany aku byk nemu ff kyuzy buatan author.hehe..

  4. utk kesekian kalinya thanks utk author yg udh bkin ff kyuzy,muuuaaaaccchhh deh! pkok’a ff yg kmu bkin aku suka semua alur cerita’a…

  5. Keren banget cerita.a
    q trharu baca ff ini ,trharu saat gimana suzy eonni kerja dari siang-malam hanya untuk mnghilangkan rasa kesepian.a
    good job author
    next ff.a ditunggu ne Fighting

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s