It’s Love, but? (Chapter 10)

kiyomizu-miuzki-copy

It’s Love, but? (Chapter 10)

Kiyomizu Mizuki’s Storyline

Main Cast : Kim Myungsoo [INFINITE’s L] – Bae Suzy [Miss A’s Suzy] || Genre : Romance, Comedy (little bit), Fluff, Friendship, and other || Rating : PG-15+ || Length : Chaptered || Disclaimer : Plot and story is mine. I’m sorry if there same any title or characters. Main cast belong to God, their parents, and their agency. I’m sorry if there’s any same title or characters. This is just a fan fiction. Sorry if you find typo(s)

Previous Chapter : Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8 | Chapter 9

Big thanks to Ladyoong Graphics for amazing poster!

Enjoy Reading ^^

.

.

.

Sesaat kemudian setelah sadar, Suzy langsung menundukan kepalanya. Dia malah lebih memilih untuk menatap ujung sepatu yang di kenakannya daripada harus bertatap dengan Myungsoo. Karena itu membuat jantungnya akan semakin berpacu dengan cepat tanpa bisa dia tahan. Dirasakan nya kalau wajahnya sekarang sangat panas setelah kejadian tadi, Suzy bisa memastikan kalau bukan pipinya saja yang sekarang memerah bak kepiting rebus. Tapi seluruh wajahnya, bahkan telinga memerah dengan sempurna. Menahan rasa malunya. Lagian tadi kenapa Suzy tidak langsung menundukan kepalanya saja ya? Bukannya terasa sulit, tapi karena tubuhnya terasa dikendalikan oleh Myungsoo agar tetap seperti itu. Nafas Suzy tadi juga sempat dia tahan. Ayolah kemana seorang Bae Suzy yang suka membuat malu seorang Kim Myungsoo? Sekarang mereka malah sama-sama terbalik. Semoga saja nanti dia maupun Myungsoo tidak mengungkit kejadian ini lagi.

Begitupula dengan Myungsoo. Saat melihat Suzy langsung menundukan kepalanya, sontak Myungsoo juga langsung menjauhkan wajahnya dari wajah Suzy. Lelaki itu seolah sudah tersadar dari dunia nya sendiri tadi, seharusnya dia tidak melakukan hal seperti itu di depan umum atau dia akan menerima kenyataan pahit nantinya. Dia langsung mengutuk dirinya sendiri, menyadari ketelodarannya. Sekarang Myungsoo sendiri juga sudah tidak bisa mengelak lagi apa yang dilakukan. Semuanya sudah terbukti. Dia melakukan hal yang seharusnya tidak dia lakukan di sini, banyak orang. Takutnya ada yang melihat ataupun sudah menyadari kalau dia adalah L Infinite. Myungsoo langsung menjauhkan tubuhnya dari Suzy dan berpura-pura kembali melihat-lihat sekitarnya. Awalnya dia sempat cemas, apakah yang lain mendengar nyanyiannya? Dengan ragu, Myungsoo sedikit melirik kearah sekitarnya.

Semuanya sibuk dengan urusan masing-masing.

Jadi, tidak ada orang yang melihatnya bukan? Kalau begitu syukurlah, dia masih bisa terselamatnya. Tapi Myungsoo masih berdoa dalam hati, semoga tidak ada hal buruk yang akan terjadi pada dirinya setelah ini. Dia melakukannya secara tidak sengaja dan tidak sadar. Pokoknya dia langsung sadar dan melakukannya dengan begitu saja tanpa dia rencanakan sebelumnya.

Sesaat kemudian, semuanya menghening. Tidak ada pembicaraan diantara mereka ataupun nyanyian merdu dari Myungsoo sendiri. Myungsoo yang awalnya asyik menggoda Suzy dengan tingkahnya yang menurut sang gadis aneh itu. Sekarang tidak ada lagi. Mereka berdua sama-sama tidak mau menatap satu sama lain dulu karena kejadian Myungsoo. Harusnya Myungsoo yang meminta maaf karena dia yang memulai semuanya. Sekarang, hanya terdengar suara ribut dari sana-sana. Ya, saking banyaknya manusia disana. Keduanya masih bisa tenang. Coba saja sekarang tidak ada orang dan Myungsoo melakukan hal tadi, bersiaplah mereka berdua. Saling berdiam diri satu sama lain karena kejadian yang tidak sengaja itu.

Apa yang telah aku lakukan barusan? Astaga! Batin Myungsoo kesal. Kim Myungsoo!!!! Harusnya kau bisa menahan semuanya dan tidak melakukan hal seperti tadi. Ini sungguh memalukan. Astaga! Kim Myungsoo bodoh. Sadarlah, kenapa tadi kau sama sekali tidak sadar? Aish.. Kau benar-benar lelaki yang bodoh Kim Myungsoo!!!!!!! Batin Myungsoo, merutuki dirinya sendiri. Melampiaskan semuanya pada sebuah kerikil kecil yang ditendangnya hingga terlempar ke udara, dan entahlah dimana tempat mendaratnya kerikil malang itu. Akhirnya dia sendiri yang mengomeli dirinya. Jujur dan rupanya saja, Myungsoo melakukannya secara tidak sadar. Dan terjadi begitu saja. Seperti ada dorongan di dalam hatinya untuk melakukan hal senekat tadi. Bukannya tadi dia harusnya menepisnya malah melakukannya dengan begitu santai dan senangnya. Karena melihat wajah bahagia yang dipancarkan di wajah Suzy tadi, jadinya Myungsoo kembali kehilangan kesadarannya dan ingin ‘lebih’ membahagiakan Suzy. Lelaki itu bahkan tidak bisa mengendalikan perasaannya, bahkan di tempat umum seperti ini sekalipun.

Tentu saja hal tadi memang akan mengakibatkan resiko yang besar untuknya, bahkan Suzy. Takutnya ada yang mulai menyadari dirinya di sekitar sini bagaimana? Myungsoo hanya bisa diam dan kembali mengutuk dirinya sendiri. Dia sendiri juga sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi jika hal yang paling dibenci oleh Myungsoo. Myungsoo masih berdoa, semoga hal yang dia angan-angan nya itu tidak akan pernah terjadi di dalam hidupnya. Dia masih ingin menjadi seorang idola yang sudah go international. Walaupun dia sempat pernah di gosip kan sesuatu, tapi itu hanya gosip tentang dirinya yang di duga berpacaran dengan salah satu aktris maupun anggota girlgroup Korea dan tidak lebih setelah itu. Dia belum mau karir nya hancur, dia masih ingin membuat penggemar nya tersenyum dan memandang bangga dirinya yang sudah seperti sekarang ini. Dia masih ingin membanggakan kedua orang-tuanya bisa melihatnya dikenal banyak orang seperti sekarang ini. Apalagi juga harus penuh dengan perjuangan yang berat. Yang dilakukannya itu benar-benar membuatnya malu setengah mati.

Bagaimana mungkin dia bernyanyi dan menari untuk Suzy seperti tadi? Bahkan hampir ingin mencium gadis itu. Oke, mungkin sekarang Myungsoo sendiri sudah bisa menyimpulkan kalau dia sudah jatuh ke dalam pesona gadis berdarah asli Korea Selatan itu. Tidak bisa diragukan lagi. Awalnya Myungsoo juga berpikir kalau itu hanyalah perasaan sesaat dan akan menghilang dikemudian hari tanpa dia sadari. Dan yang paling tidak bisa dia sangka ada, rasa cinta Myungsoo sudah semakin besar pada Suzy. Sebelumnya, dia belum pernah merasakan perasaan cinta yang terlalu berlebihan. Ini baru pertama kalinya pada diri Myungsoo. Seharusnya dia tidak menunjukan yang seperti ini, lagipula ini di tempat umum yang sering di kunjungi banyak orang dari seluruh penjuru Seoul bahkan seisi Korea Selatan ini. Karena… Terlalu beresiko dan membahayakan.

Belum lagi Myungsoo harus bersiap menahan rasa malunya yang sudah sangat mendalam kini. Seorang Kim Myungsoo atau L, anggota dari boygroup terkenal dari Korea Selatan ini melakukan itu pada gadis menyebalkan semacam Suzy? Gadis itu mungkin akan langsung tertawa terpingkal-pingkal setengah mati! Atau mungkin… Bahagia? Ini mungkin bisa dibilang rekor pertama kali yang dilakukannya hanya demi seorang gadis, apalagi secara tidak sadar pula. Hanya satu kata yang bisa mencerminkan bagaimana perasaan Myungsoo kali ini, yaitu memalukan. Ayolah~ Kenapa semuanya jadi malah seperti itu? Dia awalnya hanya ingin membelikan hadiah karena Suzy berhasil menang melawannya tadi. Tapi kenapa akhirnya malah seperti ini? Sungguh akhir yang tidak membahagiakan.

“Suzy….” panggil Myungsoo dengan suara pelan dan memecah keheningan diantara keduanya, namun masih bisa ditangkap oleh indra pendengaran gadis itu. Ya, sejak tadi Suzy hanya menundukan kepalanya sembari menunggu kata apa yang dikeluarkan oleh Myungsoo selanjutnya. “Maaf…”

“Ya?” Suzy langsung mendongakan kepalanya dan agak terkejut, kemudian matanya itu menatap Myungsoo yang masih berdiri agak berjauhan darinya dengan tubuh yang canggung dan gugup.

“Maaf. Karena aku… Aku tidak sengaja melakukannya,” Myungsoo langsung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Seperti ingin menghilangkan rasa gugupnya dalam berbicara dengan Suzy sekarang. Pertama kalinya juga mereka berbicara dengan sedikit canggung dan gugup satu sama lain. Biasanya mereka berdua akan langsung memotong pembicaraan mereka berdua, kemudian pasti ujungnya mereka akan bertengkar hanya karena masalah yang sangat sepele tapi bisa sampai seperti itu. Ya, sama-sama memiliki sifat yang seperti anak kecil alias kekanak-kanakan. Mungkin mereka saat pernah melakukan itu tidak sadar dengan umur mereka. Kkk~

“Ya. Tidak apa-apa,” sahut Suzy dengan suara pelan.

Suasana kembali hening setelah Suzy memaafkan Myungsoo tadi. Dan juga tidak ada topik pembicaraan yang harus mereka bahas sekarang dan itu pasti hanya basa-basi saja dan tidak ada artinya juga. Rupanya, hanya karena kejadian tak disangka tadi membuat kedua orang yang telah berdiri sedikit berjauhan itu salah tingkah dan mereka menjadi canggung seperti ini. Masing-masing dari mereka belum juga beranjak ataupun mulai berjalan duluan, ya takutnya salah satu diantara mereka tersesat atau tertinggal disini. Apalagi Suzy yang baru pertama kalinya ke Korea. Keduanya saling melakukan sesuatu hal yang tidak penting, demi berpura-pura menyibukan dirinya dengan kegiatan yang dibuat mereka supaya lebih masuk akal. Rasanya mereka ingin menghindar dari sana, tapi tidak juga sebenarnya. Jika diantara keduanya pulang lebih malam padahal mereka pergi diwaktu yang bersamaan pasti akan terasa aneh dan membuat banyak tanda tanya dibenak anggota Infinite yang terheran-heran.

“Myungsoo, lebih baik kita pulang saja. Takutnya mulai ada seseorang atau siapapun itu yang mulai menyadari keberadaan kita disini. Apalagi saat sadar kalau laki-laki nya itu adalah kau, L Infinite.” Sekarang, Suzy yang memecah keheningan dengan memberikan solusi yang singkat. Dia juga mulai sadar kalau sekarang banyak orang, ya tadi sebelumnya mereka kira ditempat ini hanya di isi oleh mereka berdua. Perasaan Suzy juga mulai ditakuti dengan perasaan aneh, apalagi dia belum menyamar sebagai laki-laki tapi sekarang sedikit terlihat feminim. Dan sangat terlihat kalau rambutnya yang sengaja dia gerai dengan indah hingga terjuntai kebawah. “Disini juga terlalu ramai.”

Myungsoo langsung mendongak ‘kan kepalanya dan juga sedikit terkesiap dengan ucapan Suzy tadi. Dia langsung menatap sang gadis lekat-lekat. Tetapi Suzy hanya tertunduk, seakan benar-benar ingin menjauhkan pandangan mereka masing-masing. Ya, ini juga yang membuat Myungsoo sedikit trauma karena kejadian tadi. Dan tidak mau lagi menatap Suzy terlalu lama. Ini pertama kalinya terjadi dalam hidup mereka berdua, baru pertama kali berkenalan tapi secara tidak sadar Myungsoo bisa langsung berbuat sesuatu yang ‘lebih’ padanya. Sungguh, hari ini terasa sangat aneh diantara keduanya. Pada akhirnya, Myungsoo menghela napas berat. “Baiklah,” dia setuju kemudian berjalan di duluan di depan Suzy.

Entah kenapa saat dia merasa kalau nada Myungsoo tadi sangat terdengar berat, dia mulai merasa tidak enak hati pada Myungsoo yang awalnya sudah berbaik hati ingin membelikannya sebuah hadiah sesuai dengan perjanjian awal mereka tadi saat bermain permainan bersama tadi. Suzy masih menatap punggung Myungsoo yang tegap itu berjalan di depannya dengan rasa canggung. Sama seperti yang telah dirasakan kali ini. Kemudian matanya menatap Myungsoo dengan tatapan aneh dan sayu. Tapi, apakah ada kesalahan kata yang dia keluarkan tadi? Setelah Suzy mengoreksinya tadi, tidak ada yang salah. Dia sudah berbicara dengan nada yang baik-baik dan mengaturnya agar tidak terdengar seperti nada singgungan. Daripada dia harus berlama-lama disini, Suzy kemudian berbalik. Berjalan di belakang Myungsoo, lebih baik mengikutinya dari belakang daripada harus disamping lelaki itu jika kahirnya menimbulkan rasa canggung yang luar biasa. Gadis itupun bingung sendiri dengan dirinya. Apakah ada yang aneh? Entahlah. Perasaannya kini pun terasa campur aduk. Suzy sendiri juga mulai merasa bersalah. Biar bagaimanapun, Myungsoo sudah bermaksud baik mengajaknya ke Myeongdeong, tetapi dia malah membatalkannya dan menolaknya secara tidak langsung.

Myungsoo yang berjalan di depan Suzy pun kini merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh Suzy, perasaannya kini terasa campur aduk. Myungsoo merasa bersalah karena telah bernyanyi dan menari, tapi sepertinya untuk kata yang tadi juga tidak masalah untuk Suzy. Bernyanyi dan menari juga tidak apa-apa dan tidak melebihkan. Tapi yang menambah perasaan bersalah Myungsoo adalah: saat dirinya hampir mencium Suzy. Gadis itu sendiri pasti juga merasa tidak nyaman dengan sikapnya yang seenaknya saja tanpa memandang dulu, kemudian bingung dengan yang dilakukannya. Dan akhirnya, Suzy mengajaknya untuk pulang ke dorm saja tanpa melanjutkan perjalanan mereka yang ingin membeli hadiah. Sama saja tidak ada arti, padahal Myungsoo juga ingin menghabiskan waktunya bersama Suzy walaupun hanya sebentar. Walaupun yang bertama mengajaknya hingga seperti ini adalah Suzy, tapi kalau urusan perjanjian diantara keduanya untuk membeli hadiah bagi siapapun yang menang adalah Myungsoo. Dan, akhirnya malah Suzy yang memenangkan itu. Di sisi lain, Myungsoo juga merasa sedih karena rencananya telah batal untuk membelikan hadiah untuk Suzy yang sudah disusun rapi olehnya sejak awal. Kenapa semuanya jadi berakhir dengan memusingkan keduanya?

***

“Ya eomma. Aku tahu.. Aku akan menjaga kesehatannya, jadi jangan perlu cemas lagi.”

Suzy sontak langsung menengokan kepalanya ketika telinganya mendengar sebuah suara lelaki. Sejak tadi, gadis itu habis termenung sendirian sembari memandangi langit malam dari jendela ruang tamu dengan kesunyian yang menyelimutinya. Memikirkan sesuatu yang terjadi akhir-akhir ini dan kejadian tadi pagi di Myeongdeong. Dan kemudian, lamunannya pun disadarkan oleh suara berat yang bisa dia yakini kalau itu adalah suara dari seorang lelaki. Dia sebenarnya tidak mau ada seseorang yang menganggunya ketika sedang sedih, dia hanya ingin tenang tanpa di ganggu oleh siapapun. Ya, memang harusnya Suzy berdiam diri di kamar dan bukan di ruang tamu yang pasti akan dipenuhi oleh banyak orang nantinya. Tapi, entah kenapa dia ingin berdiam diri disini supaya tidak ada yang curiga dengannya. Maksudnya, kenapa dia terlalu lama di kamar.

Ya. Setelah mereka sudah sampai di dorm. Myungsoo maupun Suzy sama sekali tidak mengeluarkan mereka sedikitpun dan hanya berdiam diri di sepanjang perjalanan pulang ke dorm. Bahkan mereka menjaga jarak. Suzy pun bingung. Sebenarnya apa yang dilakukannya tadi? Sampai harus menjaga jarak diantara keduanya yang dulu sangat akrab. Dan, kenapa malah menjadi sangat canggung ketika kejadian tadi yang tak terduga. Suzy semakin tidak enak hati dan bingung dengan keadaan seperti ini. Dia mengertilah, kalau yang pertama membuatnya mereka menjadi seperti ini karena ulah Myungsoo. Dia yang bermula, tapi semua itu terjadi dengan tidak sengaja. Dan pemuda itu jujur kalau dia tidak sengaja melakukannya dan Myungsoo sendiri bilang seperti ada dorongan yang membuatnya melakukan seperti itu. Tapi, entahlah…

“Ya eomma. Eomma juga harus tetap sehat. Aku akan segera mengunjungimu,” ucap seorang pemuda yang berbicara pada benda persegi panjang itu yang dia dekatkan ke telinganya, alias ponsel.

Setelah merasa kalau pemuda ini dan sang Ibu sudah selesai berkomunikasi lewat ponsel. Setelah merasa sudah mengucapkan salam perpisahan dengan sang Ibu, ya daripada dia harus secara tiba-tiba memutuskan sambungannya, itu tidak sopan. Dia langsung memutuskan sambungan telpon nya secara sepihak dan menjauhkan ponselnya segera dari telinga. Kemudian, dia berbalik.

“Hoya oppa,” gumam Suzy setelah melihat rupa sang pemuda yang tadi berbicara sambil membelakanginya. Suzy kira dia siapa, ternyata Lee Howon atau Hoya. Dia juga cukup lama mendengar pembicaraan yang dilakukan oleh Hoya, bisa Suzy pastikan kalau anggota Infinite itu habis melakukan pembicaraan dengan sang Ibu nya lewat ponsel. Tapi, dia sendiri juga tidak tahu apa yang diucapkan oleh Ibu Hoya dan hanya bisa mendengar suara yang dilontarkan pemuda itu saja.

“Eh! Suzy, sedang apa kau disini? Tumben sekali,” tanya pemuda atletis bernama Howon atau Hoya itu sembari berjalan kearah Suzy yang tengah menatap kearahnya. Dia lihat, sekarang Suzy malah mengalihkan pandangannya kearah lain. Padahal sebelumnya telah menatap kearahnya. Hanya beberapa langkah saja yang dia tempuh kemudian bisa berada disebelah gadis itu.

“Tidak. Hanya menatap langit,” sahut Suzy dengan sedikit gugup. Takutnya dia dikira telah menguping pembicaraan Hoya dengan Ibu nya, siapa tahu tentang masalah privacy yang tidak boleh diketahui oleh sembarang orang. Dan, sebenarnya Suzy sendiri juga tidak mendengar semuanya. Hanya beberapa kata tadi saja, dia sendiri juga baru sadar kalau ada Hoya di sekitarnya.

“Kenapa sendiri? Dimana Myungsoo?” Hoya kembali bertanya dan duduk disamping Suzy. Sebelumnya tadi dia juga tidak membicarakan hal yang penting kepada sang Ibu dan itu hanya sekedar basa-basi saja dan hanya memberitahukan keadaannya saat ini. Sebelum menelepon pun, Hoya rasa tidak ada orang di ruang tamu ini dan hanya dia saja. Ternyata, terdapat Suzy yang duduk termenung ke belakangnya. Dia sendiri juga tidak sadar kalau ada Suzy disekitarnya. Pemuda itu menolehkan kepalanya ke belakang dengan tatapan yang seperti menyelidik kearah sekitarnya yang kosong, hanya ada dirinya dan Suzy. tadi, dia sendiri merasa kalau ada seseorang yang memperhatikannya atau mungkin memperhatikan Suzy yang sejak tadi hanya duduk di sofa ruang tamu ini.

“Ehmm, mollayo. Mungkin beristirahat di kamarnya,” Suzy menggaruk belakang tengkuk nya yang tidak gatal. Maksudnya, Suzy mencari jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan Hoya yang terakhir tadi. Dan itu hanya perkiraaan nya saja, jadi sebenarnya Suzy tidak tahu dimana keberadaan Myungsoo sekarang.

Hoya kembali menatap gadis itu dengan tatapan menyelidik, seperti ada yang menjanggal pada sikapnya. Sedikit aneh, maksudnya. “Ada apa? Kau sedang ada masalah dengan Myungsoo?” tanya Hoya mengutarakan apa yang berada di pikirannya. Benar bukan? Sikap Suzy memang terlihat sedikit aneh, meski gadis itu tetap berusaha mengubahnya agar terlihat tidak terlalu terekspos di mata orang yang melihat. Sekali lagi, Hoya kembali melirik kearah belakang. Seolah melihat ada seseorang yang mengintainya.

“Tidak. Oppa sendiri sedang apa?” Suzy kembali mengalihkan pembicaraan. Dia kembali bersikap aneh, menyembunyikan perasaan tidak nyaman di dalam hatinya yang terasa semakin menggerogotinya sejak tadi. Suzy seperti ingin menenangkan dirinya. Ada sesuatu yang aneh kembali terasa di dalam batin. Seperti ada sesuatu yang menjanggal, tapi dia sendiri tidak tahu itu apa.

“Tadi aku menelpon eomma,” jawab Hoya singkat sembari mengulas senyumnya, dengan memandang Suzy yang kini juga tengah menatapnya.

Suzy memandang kearah langit-langit ruang tamu dengan tatapan sayu. Seakan dia tengah memikirkan seseorang yang berada di pikirannya, atau merindukan seseorang? Entahlah. “Pasti senang ya, bisa berkomunikasi dengan eomma,” renung Suzy. Pandangannya menunduk, memandang sedih kearah lantai itu. Kemudian dia sibuk dengan pikirannya, memikirkan tentang sang Ibu yang berada di luar sana. Dan jauh darinya. Sebenarnya Suzy ingin berlibur di Korea dengan kedua ornag-tuanya, tapi karena keduanya sangat sibuk dan tidak ada waktu untuk sekeder berlibur. Walaupun itu sama saja menemani anaknya bersenang-senang dan menghabiskan banyak waktu bersama mereka.

Hoya mengangkat satu alisnya. “Ehmm.. Kau tidak berkomunikasi dengan eomma mu selama di Korea Selatan? Maksudku, walaupun hanya sekeder memberi kabar saja,” Hoya memandang Suzy dengan tatapan prihatin. Ya, pemuda itu tahu rasanya menjadi Suzy. Rindu dengan sang Ibu yang berada jauh diantara kita. Apalagi jika tidak berkomunikasi sama sekali. Memang terasa sangat berat. Awalnya Hoya sendiri juga bingung dengan keadaan Suzy selama disini. Dari kemarin semenjak Suzy menetap di dorm mereka, dia belum pernah melihat Suzy menelpon kepada Ibu nya. Jadi begitu… Pikir Hoya.

“Ehmmmmm….” Suzy semakin menundukan kepalanya. Berusaha menghindari tatapan Hoya yang semakin ingin meminta penjelasan padanya. Sepertinya lelaki Lee itu sangat ingin tahu kenapa dia tidak pernah mengabari sang Ibu. Dia sendiri bingung ingin menjawab dengan kata-kata apa. Suzy terdiam, sebenarnya dia ragu untuk menceritakan alasan kenapa dia tidak menelpon Ibu nya. Merasa tidak enak.

“Memangnya kenapa? Eomma mu pasti mencemaskanmu Suzy,” nasihat Hoya. “Pantas saja. Aku mau berpikir kalau selama kau berada disini, aku tidak pernah melihatmu menelpon seseorang. Itupun pasti mengabari kabarmu selama ada di Korea Selatan. Ini sudah beberapa hari semenjak kau disini, tapi kau sama sekali belum mengabarkannya. Tapi, aku tahu. Pasti setelah kau mendarat disini, aku mengabarinya dulu.”

“Suzy?” merasa pertanyaannnya tadi belum mendapatkan jawaban, Hoya pun kembali memanggilnya dengan suara yang agak keras. Tampaknya gadis itu melamun. Entah apa yang dipikirkannya.

“Ya?! Ehmmm, ponsel ku hilang,” ungkap Suzy pada akhirnya. Kemudian dia melempar senyum canggung pada Hoya. Merasa ada yang aneh di dalam dirinya ketika ingin menceritakan yang sesungguhnya.

Aigo… Kenapa tidak cerita padaku daritadi? Kau ‘kan bisa meminjam ponsel ku atau anggota Infinite yang lainnya,” Hoya tampak peduli. Sedikit dengan nada yang menasihat. Sebaiknya juga, Suzy ‘kan bisa menceritakannya atau sekedar meminjam dengan yang lain. Tapi, Hoya tahu. Karena Suzy sangat merasa tidak enak meminjam barang mereka.

Suzy tertunduk kembali. Entah kenapa hatinya merasa sangat sedikit tersentuh. Ya, sebenarnya dia hanya ditakuti oleh perasaan tidak enak dan takut saja. Tahu ‘kan? Kalau Suzy itu wanita yang sangat ceroboh? Takutnya dia tidak bisa memakainya dengan baik. Harusnya memang dia cerita pada mereka. Tapi sudahlah… Sekarang dia menjadi tahu betapa pedulinya mereka padanya. Tapi, kenapa Suzy tidak pernah merasakan kepedulian mereka kepadanya? Ya, ‘kan selama ini Suzy memang lebih dekat dengan Myungsoo. Walaupun, begitu dia sudah kapok saat pernah ‘kepergok’ meminjam barang pemuda Kim itu tanpa izin nya. Kemudian dia di marahi, bahkan sampai menangis.

“Ini. Pakai saja ponsel ku,” Hoya memberikan ponsel miliknya yang sejak tadi dia genggam kepada Suzy.

“Ehmmmm…..” Suzy masih terdiam sembari menatap Hoya dengan pandangan ragu nya.

“Tidak usah merasa tidak nyaman. Kau sudah aku anggap sebagai adik ku sendiri Suzy,” Hoya mengerti maksud dari tatapan Suzy padanya yang sedikit berbeda. Sangat terlihat pandangan gadis itu tampak meredup menatap ponselnya yang sedaritadi tergeletak begitu saja di telapak tangan miliknya. Kemudian, tangan nya mengacak-acak rambut Suzy.

Suzy sontak terkejut dengan perlakukan Hoya padanya.

Tanpa diketahui oleh Suzy. Pemuda Lee itu tersenyum dengan mengangkat salah satu sudut bibirnya. Sudut matanya mengekor kearah belakang, pada seseorang yang sepertinya tengah memperhatikan aktifitas yang dilakukan olehnya dan Suzy dengan kecemburuan yang mendalam. Seperti seseorang yang sangat kesal akibat telah merebut ‘kekasih’ seseorang dan ingin langsung membunuhnya saat itu juga. Mungkin, penafsiran Hoya terdengar terlalu berlebihan. Yeah, seseorang yang sejak tadi sudah dicurigainya.

“Ini. Ambil lah, dan segera telepon Ibu mu sebelum dia melapor ke pihak kepolisian karena dia telah berpikir kalau kau tersesat di Korea Selatan,” kata Hoya setengah bercanda. Kemudian dia membalik tangan Suzy dan menaruhnya di telapak tangan milik gadis itu. Daripada, Suzy terus menerus merasa tidak enak atau menolak. Lebih baik dia langsung memberikan ponsel nya. Walaupun ini terdengar seperti memaksa, tapi tidak apa. Hoya memang sangat senang sudah bisa membantu Suzy.

“Benarkah?” Suzy menatap mata bening milik Hoya dengan berbinar. Tampaknya dia senang. Rasanya, dia sudah yakin kalau Hoya benar-benar berniat akan meminjamkan kan ponsel nya. Tahu sendiri kalau Suzy itu sering melakukan kecerobohan yang berlebih, takutnya ada sesuatu yang terjadi.

“Pakailah,” Hoya mengangguk. Meyakinkan Suzy yang masih terbesit rasa ragu. Padahal, dia sendiri juga—sedikit—dengan cara memaksa. Kemudian, mengulas senyumnya.

Ahhhh!!! Gomawoyo, Hoya oppa. Jeongmal gomawoyo!!!” pekik Suzy senang. Kemudian dia menarik-narik lengan kekar Hoya. Kemudian, dia langsung berdiri dan berjingkrak-jingkrak saking senangnya. Raut wajahnya terlihat sangat terlalu senang. Walaupun ini terdengar sangat sederhana untuk dilakukan, tapi memang begitulah. Sudah tahu ‘kan? Kalau Suzy sudah menghilangkan ponsel nya sendiri dan hampir lost contact dengan sang Ibu karena ulah nya sendiri yang tidak bisa dihilangkan itu. mungkin setelah pulang dari Korea Selatan, dia harus segera membeli ponsel yang baru. Dan keterlaluan kalau sampai hilang lagi di Negara yang sama.

“Ya. Tidak apa Suzy,” Hoya sedikit tertawa kecil melihat reaksi Suzy yang sangat berlebihan dan seperti anak kecil lima tahun yang baru saja dibelikan sebuah balon kesukaannya oleh sang Ibu. Kemudian, Hoya menggenggam tangan Suzy. Hoya sendiri bingung, kenapa gadis itu sudah dewasa tapi tingkah masih seperti anak kecil saja? Tapi tidak apa-apa. Yang penting, Suzy adalah seseorang yang jujur, polos, dewasa, walau sedikit bersifat kekanak-kanakan. Sekali lagi, pemuda itu kembali menyungging senyuman setan miliknya dengan sudut mata mengekor kearah belakang, seperti—tidak sengaja—mengerjai seseorang yang sudah terbakar api cemburu yang sudah sampai di ubun-ubunnya.

Beberapa saat kemudian, Suzy sibuk menelepone Ibu nya dengan ponsel Hoya yang sudah di pinjamkan oleh lelaki itu sendiri. “Mom!!!” seru Suzy dengan nada ceria, saat ponsel Hoya sudah menempel di telinga kanan nya.

I’m so sorry, mom. My phone lost in Korea.”

What?! No. I don’t forget you mom.”

Suzy kini sibuk berinteraksi dengan sang Ibu yang berada di London, lewat ponsel. Hoya yang masih setia berada di sebelah gadis itu tampak tertarik mendengar pembicaan yang dilakukan oleh sang gadis dengan sang Ibu. Wajahnya sangat berona bahagia, apalagi saat senyum Suzy tidak pernah hilang dari wajahnya. Sesekali Hoya tertawa kecil, melihat wajah Suzy yang selalu berubah-ubah. Ya, mungkin gadis itu terlalu terbawa suasana sampai mimik wajahnya selalu berubah-ubah.

To be Continue…

Hallo!!! *teriak pake toa*

Yey!!! Akhirnya aku bisa fast update juga… Disini, belum ada MyungZy moment ya? Huehehe, kan di chapter sebelumnya aku banyakin😀..

Dan, satu lagi. Ayo, tinggalkan comment serta like! Jangan main tinggal begitu aja😀.

Terimakasih *bow* ^^

22 responses to “It’s Love, but? (Chapter 10)

  1. Hahaha hoya oppa bsa aja mgerjain myung
    myung jga sih law ska ungkapin dong
    kmu jdi korban ke jahilan hoya kan

  2. Pingback: It’s Love, but? (Chapter 12) | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s