[Vignette] Prosody

prosody

Prosody

@xianara | Bae Suzy / Kim Myungsoo, special mention: Heo Youngji (KARA) | AU, College-Life, Fluff, Linguistics-ish(?), Friendship | Vignette | disclaimer: beside the story and poster i own nothing!! WARNING!!! jumping plots!


Aku ‘kan orang yang terkenal banyak berbicara. Kalau balasanku sesingkat itu, citra yang sudah terbangun sejak SMP itu bisa luntur.


Prosody (ˈprɒsədɪ) n (Linguistics) the patterns of stress and intonation in a language.

Kuap dari mulutku sudah keluar lebih dari selusin. Ya, aku menghitungnya. Terlalu rajin memang. Namun keadaan memaksa. Saat ini adalah malam minggu yang langitnya berbintang. Dapat kulihat bulan sabit menggantung tepat di sebelah ikon ternama Seoul, Menara Namsan.

Di saat kakak perempuan tertuaku sedang memadu kasih dengan pacarnya di Lotte World dan orangtuaku  menonton serial telenovela favorit mereka,  aku malah memasung diri dengan setumpuk salinan jurnal usang milik John Rupert Firth.

Sumpah mati, aku kesal sekali dengan Dosen Fonologi yang dikenal bujang di jurusanku itu. Prof. Kim dengan tegas menyuruh kami semua, mahasiswa semester dua untuk menelurkan sebuah makalah Fonologi yang temanya dibagi acak olehnya.

Aku tak bisa mengklaim diriku beruntung. Waktu nomer absenku dipanggil, aku hanya bisa menganggukan kepala lemah saat aku membaca ‘Aliran Firthian’ pada secarik kertas yang diberikan Prof. Kim. Jadi, semenjak hari pembagian tema penuh kecaman dalam hati para mahasiswa di kelas itu, aku pun segera menyibukkan diri dengan menjamah perpustakaan kampusku dan memboyong dua buku yang berjudul The Tongues of Man and Speech dan Papers In Lingustics yang mengandung pandangan bahasa menurut Firth.

Kepalaku tak berhenti menyuarakan kata ‘pusing’ kala kuharus menelaah tiga macam pokok prosodi yang ada di dalam Teori London bulat-bulat dalam kurun setengah jam. Aku pun hanya mengangsurkan senyum penuh terima kasih ketika ibu datang membawa secangkir kopi instan yang masih mengepulkan asap. Dia meletakkan mug bergambar beruang jantan lucu, hasil tukar kado saat aku mengikuti acara perpisahaan SMP, di dekat meja belajarku. Tak lupa setelah itu ibu memberikan semangat kepadaku untuk segera menuntaskan tugas kuliahku.

“Semangat! Kau pasti bisa!!”

Setelah ibu menghilang di balik pintu yang catnya sudah mulai mengelupas, aku kembali memasang wajah penuh nestapa. Andai saja aku tidak lamban dalam mengerjakan tugas, pasti pembahasan yang mulai kurampungkan sejak siang hari ini sudah selesai dua jam yang lalu. Kemudian, aku sudah dapat dipastikan sedang bersender sambil menyilangkan kaki dan menyemburkan gelak tawa karena tingkah konyol Rowan Atkinson yang kutonton di DVD Mr. Bean koleksiku. Andai saja seperti itu. Bukannya mengencani setumpuk jurnal lapuk yang baunya seperti lem busuk dan sepasang modul yang tebalnya melebihi selulit Bugsy – bulldog peranakan Prancis milik Youngji.

Efek diseruduk selusin badak menyerang lobus di dalam otakku. Setelah hampir berkutat di depan layar selama satu jam tanpa istirahat, kuputuskan untuk rehat sejenak. Aku mengambil gelas kopiku dan langung menyeruputnya pelan-pelan. Sensasi hangat kurasakan ketika seteguk kopi berperisa susu madu itu meluncur dengan deras melewati tenggorokan.

Aku mengecek layar ponselku yang tiba-tiba berkedip. Oh, ada pesan masuk ternyata. Paling dari Youngji, pikirku. Karena orang yang sering mengirimiku pesan tidak penting hanya teman wanita sekelasku  yang gemar mem-parody-kan tarian Mister milik KARA menjadi tarian tradisional – Youngji. Namun ketika aku melihat nama dan contact-photo yang tertera aku sukses berteriak kalap.

“Kyaaaaaaaa!!!”

Sontak aku langsung membekap mulutku. Takut kalau kedua orangtuaku datang dan mengira aku mengalami gejala epilepsi sedang. Oh Tuhan, apakah aku tidak salah membaca? Apakah kemampuan membacaku menurun?

Pasalnya, aku melihat nama seorang bocah lelaki yang sangat kurindukan kehadirannya. Kim Myungsoo. Pemuda kelahiran Australia yang menjadi teman sekelasku saat aku berada di tingkat kesembilan saat SMP. Duh, terkahir kali kubersua dengannya adalah dua tahun yang lalu.

Kami berdua pergi ke warung makan di Hongdae. Sebelumnya ia berjanji akan membawaku untuk makan bersamanya. Namun sudah hampir dua bulan ide tersebut berlum terealisasikan. Sampai akhirnya, di bulan Oktober, ia datang ke rumahku dan minta izin pada orangutaku untuk mengajakku makan malam. Ibu dengan heboh pun memproklamirkan kalau aku dan Myungsoo adalah sepasang kekasih. Namun aku bersikukuh kalau Myungsoo hanya temanku saja. Pada saat itu, ia menraktirku seporsi nasi goreng kimchi dan lima tusuk odeng. Kami pun bersenang-senang pada saat itu. Dan itu sudah lama sekali.

Aku membuka pesan yang masuk darinya itu,

Hoi, apa kabar yang sedang mengarungi kawah candradimuka perkuliahan yang bertajuk semester dua?😀

Aku tidak bisa menahan senyuman di atas bibir. Sejenak, aku  berhasil mengenyahkan cara untuk menentukan arti pada tataran fonetis yang sedari tadi bergejolak melalui jari-jariku yang kubawa menari di atas keyboard laptopku. Perasaan ringan seperti dibawa terbang oleh ayunan taman kanak-kanak menyelubungiku. Aku pun segera membuat balasan untuknya.

Tidak baik. Aku seperti balon gas yang terlalu banyak diisi gas karbon. Rasanya mau meledak.

Beres. Namun aku pun tak kunjung menekan tombol ‘kirim’. Lalu aku hapus kembali pesanku itu. Setelah kupikir lagi, isi pesanku barusan terlalu blak-blakan dan terkesan aku ini suka menggerutu.

Ya, begini sajalah. Bagaimana denganmu di sana?

Aku kembali menghapus pesanku itu. Uh, terlalu singkat. Aku ‘kan orang yang terkenal banyak berbicara. Kalau balasanku sesingkat itu, citra yang sudah terbangun sejak SMP itu bisa luntur.

Ternyata membalas pesan seorang teman lama itu memusingkan juga. Aku pun kembali meneguk kopiku yang sudah dingin. Aneh, kenapa cepat sekali kopiku menjadi dingin? Setelah kuingat-ingat, suhu di kamarku ini rendah karena aku belum menyalakan pemanas. Uh, pantas saja aku tidak merasakan jari-jari kakiku tadi.

Ponsel yang ada di hadapanku segera kusingkirkan. Lima menit cukup untukku berisitirahat. Aku pun kembali melanjutkan makalahku yang terhenti di pembahasan satuan prosodi dalam satuan fonematis yang terdapat di dalam Fonologi Prosodi.

Pesan dari Myungsoo bisa diibaratkan penawar racun kejenuhanku. Buktinya, sekarang dapat kurasakan aku lebih santai dalam memahami unsur-unsur segmental dalam satuan-satuan fonematis, berupa konsonan dan vokal. Kekehan geli Myungsoo dua tahun yang lalu tiba-tiba terputar di dalam gramofon yang tersedia di otaku. Aku pun tidak dapat menyembunyikan gerak ekspresif bibirku. Apakah aku terlalu rindu dengannya?

Lagi, tanpa sadar aku pun memasukan contoh kekehan manusia sebagai bunyi bahasa dalam ciri-ciri satuan prosodi yang sedang kutulis ini. Keasyikanku menyelesaikan mak(s)alah sialan ini pun sukses membuatku melupakan pesan dari Myungsoo yang belum kubalas.

Tiga jam kemudian,

Ya, begini, lah. Aku masih berdikari sedari tadi. Kkkk. Dirimu bagaimana?

Setelah hampir tiga jam menunggu balasan dari Suzy, pemuda itu pun menghembuskan napas lega, diakhiri dengan ekspresi cemas karena pesannya tak kunjung dibalas yang berubah menjadi ekspresi senang bukan main. Myungsoo menelusuri baik-baik tiap frasa pada tiga kalimat yang dikirim Suzy.

Dalam hati ia pun sebenarnya mengeluh, kenapa gadis itu lama sekali membalas pesannya? Apakah dia sedang berkencan? Ah, tidak mungkin. Suzy masih betah men-jomblo karena, ya, karena sampai sekarang pun Myungsoo tahu kalau gadis itu termasuk orang yang malas kalau disinggung urusan percintaan.

Aku tidak beda jauh denganmu. Malah aku lebih nyaman berkencan dengan layar laptop dan modul setebal lemak mamoot selama dua minggu ini.

Beres. Makalah Fonologiku sudah selesai. Setelah melakukan revisi untuk terakhir kalinya, aku pun segera memencet ikon ‘Save’ dan menunggu file-ku segera rampung. Kulihat layar ponselku berkedip beberapa kali. Saat aku mengeceknya, ternyata ada pesan dan itu dari Myungsoo.

Kuteringat pada pesan dari Myungsoo yang belum kubalas saat aku sedang mengetik referensi di akhir bab makalahku. Aku pun segera meraih ponsel yang tergeletak di bawah setumpuk diktat kuliahku. Tanpa berpikir panjang lagi, aku segera mengetikkan balasan yang kuanggap pas.

Sepuluh menit berselang, saat tugasku sudah siap dicetak besok pagi, aku mendapatkan balasan dari Myungsoo. Rupanya dia juga bernasib sepertiku. Namun lebih beruntung diriku pastinya. Aku toh disibukkan dengan segelontoran materi kebahasaan yang masih bisa diuraikan dengan teori pragmatik. Itu pun masih tak apa bila dibandingkan dengannya yang menua karena harus bisa membuat laporan keuangan yang haram hukumnya bila cacat dan tidak balance. Nestapa mahasiswa jurusan akutansi lebih kejam dibandingkan durjana seorang anak tiri, ungkap Myungsoo kepadaku.

***

Suzy: Try something new, lah, dari yang biasanya. Seperti membaca eBook.😀

Myungsoo: Sudah! Dan aku pun jadi semakin tak bisa bertahan lama di depan layar.

Suzy: Pakai kacamata!

Myungsoo: Tidak mau:/

Suzy: Kenapa?

Myungsoo: Kalau aku memakai kacamata, rabunku tidak akan sembuh. Malah semakin bertambah.

Suzy: Kalau kau tidak memakai kacamata, memang kau bisa bertahan di dalam kondisi seperti itu:/ ?

Myungsoo: Tidak. Tetapi aku harus, mau tidak mau.

Suzy: Dasar keras kepala!

Suzy: Myungsoo, aku mengantuk. Tugas Fonologi sukses merampas jatah tidur siangku. Aku pergi tidur dulu, ya. Semangat untuk kau di sana! Adios!

Suzy: Satu lagi, kalau kau tidak sibuk kuliah, mari kita bertemu! Kali ini aku yang traktir!

Suzy: Myungsoo? Oke, kau sudah telap seperti layangan putus rupanya. Baiklah, selamat tidur, Kawan!

Myungsoo: Iya-iya, akan kupertimbangkan saranmu, Nona. Cerewet.

Myungsoo: Ya, silakan. Selamat beristirahat. Lekas istirahat sana, Kawan! Bertemu? Boleh juga. Kebetulan jumat depan jadwalku kosong. Mari bertemu! Ah, benar kau yang traktir?! Wah, aku jadi tak sabar menunggu minggu depan!

Myungsoo: Astaga, kenapa SMS-ku panjang sekali, ya? Yaa, aku bukan layangan putus melainkan kenangan yang tak pernah putus …

Myungsoo: Besok pagi, kau akan kutelepon. Selamat malam! Mimpi indah, Kawan!

END.

a/n

yah, maafkan saya yang ngedrop ff berbau fonologi linguistik ini. jujur, ini adalah bentuk pelampiasan kekesalan saya karena materi fonologi yang belum kunjung dikirim sama dosen😦  dia gatau aja kali kalo tugas2 yg lain udh menumpuk.huhuh.. sekali lagi, maafkan saya, yang sok pakai isu linguistik yang sangat gak lazim di telinga kalian😦 nah tapi tenang, saya juga menyediakan kolom glosarium. semoga membantu🙂

last, terima kasih buat kalian yang udah menyempatkan menengok ff ini🙂 saya mah terbuka dengan kritik dan saran kalian di akhir^^

Glosarium:

Linguistik: ilmu yang menjadikan bahasa sebagai objek kajian yang menggunakan bahasa untuk mengkajinya.

Fonologi: sub-disiplin dari Linguistik yang mengkaji bunyi dalam bahasa.

Fonologi prosodi: suatu cara untuk menentukan arti pada tataran prosodi.

Prosodi: n Sas kajian tt persajakan, yaitu mengkaji tekanan, matra, rima, irama, dan bait dl sajak.

Fonetis: a Ling 1 bersangkutan dng bunyi; 2 bersangkutan dng fonetik.

26 responses to “[Vignette] Prosody

  1. pantas aja ceritanya keren dengan bahasa yg keren juga nan tinggi sulit untuk ku mengerti ini berasal dari mahasiswa jurusan sastra xD kkkk
    aku ketawa sendiri baca nih xD apalagi kata2 soal anak akuntansi tuh
    aku anak akuntansi lho ~ /gak nanya xD/

    • duh, maafkan saya atas cerita yang sulit dimengerti… aduh, bahasaku masih jauh dari kata keren, serius deh.
      wah, anak ak ya, haloo!😀

  2. Keren! Tapi sumpah! Aku brsyukr ga ngambil jurusan Sastra! Krn ga disangka, trnyata ga kalah mnjebak dan rumit dibanding Akuntansi dan hitung2an! #plak!
    Kkk
    padhl dulu pngen kuliah jurusan Sastra, tpi yg Inggris! Tapi juga ga kesampaian! Nyasar di Math, padhl Mathny aja pas2an! #plak!
    Dan cuma tau sistem KABATAKU a.k.a KAli BAgi TAmbah KUrang!
    Kkk
    ditunggu ff lain y Xi!
    Smangt kuliahnya!
    Fighting! ^^

    • ah, masih jauh dari keren ini kak🙂 nah, sastra itu gak rumit kok, serius… paling yang bikin otak keram cuma disaat dapet tugas analisis saja, butuh pemikiran yang tenang dan suasana hati yang plong(?) haha..
      wah, kak aya anak mipa?! keren juga😉

  3. Jadi cerita.a tentang teman lama toh #menarik
    ada banyak istilah”a saya jadi sedikit gak ngerti author,emz author jurusan sastra ,jurusan sastra tuh gimana author ,enak gak masuk jurusan itu,,?
    #mian_kepo
    next ff.a ditunggu author Fighting ne

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s