Mistakes and Regrets #6

poster

Title: Mistakes and Regrets | Author: Macchiato

Genre: Friendship, Sad, Romance | Rating: PG – 17 | Length: Chaptered

Main Cast: Bae Sooji, Kim Myungsoo, Kim Sunggyu

Poster by animeputri @HSG

I don’t own anything besides the storyline

Sleepless

Warning! Yang bercetak tebal adalah flashback

  “Lembur lagi, Sooji-ah?” Nyonya Nam bertanya kepada Sooji yang baru saja melangkahkan kakinya ke dalam rumah.

Sooji tersenyum tipis. “Ne, yimo. Ada beberapa dokumen yang harus segera aku selesaikan.”

Nyonya Nam menghela nafas. Sudah 3 minggu ini Sooji terus lembur dan pulang malam. Semenjak acara ulang tahu Jaesan, Nyonya Nam tahu Sooji benar-benar semangat untuk bekerja dan terus lembur. “Segera ke kamarmu, Sooji-ah. Yimo buatkan cokelat hangat, ya?”

Sooji kembali tersenyum tipis kemudian mebungkukkan tubuhnya perlahan, “Ne, gamsahamnida yimo.

Nyonya Nam tersenyum kemudian melangkahkan kakinya menuju dapur dan Sooji kembali berjalan menuju kamarnya.

Sesampainya di kamarnya, Sooji meletakkan map berisi dokumen dan berkas-berkas lainnya beserta hpnya di meja kemudian melangkahkan kakinya menuju balkon. Sooji membuka pintunya perlahan kemudian melangkah keluar. Angin malam menerpa wajahnya. Meskipun begitu, Sooji sama sekali tidak merasa dingin. Setidaknya belum. Sooji memejamkan matanya kemudian menarik nafas perlahan. Hari-harinya terasa semakin melelahkan.

Tok tok tok

Ketukan di pintu kamarnya menyadarkan Sooji. Sooji membalikkan tubuhnya dan melihat yimo-nya lah yang membuka pintu kamarnya. Nyonya Nam tersenyum kemudian menghampiri Sooji yang masih berada di balkon.

“Ini cokelat hangat untukmu Sooji-ah,” Nyonya Nam memberikan Sooji segelas cokleat yang masih mengepul.

Sooji tersenyum kecil. “Gamsahamnida, yimo.”

Nyonya Nam sedikit bergidik kedinginan setelah melepaskan genggamannya pada gelas cokelat hangat yang diberikannya pada Sooji. “Aigoo, kau tidak kedinginan apa? Udara malam tidak baik untuk yeoja muda sepertimu, Sooji-ah.”

Sooji tidak menjawab malah menyesap cokelat hangatnya perlahan. Nyonya Nam tersenyum kecil melihatnya. Diperhatikannya baik-baik keponakannya itu. Sooji terlihat semakin kurus semanjak tinggal di Korea. Lingkar hitam di bawah matanya pun bertambah dalam. Nyonya Nam menghela nafas, merasa gagal menjadi seorang yimo yang baik bagi keponakan satu-satunya itu.

Sooji yang menyadari yimonya menghela nafas mengerutkan dahinya bingung. “Ada apa, yimo?”

Nyonya Nam menyentuh perlahan lingkar hitam di bawah mata Sooji. “Lihat lingkar matmu. Aigoo, aku akan meminta samchonmu mengurangi pekerjaanmu. Kau baik-baik saja kan, Sooji?” ucap Nyonya Nam lirih.

Sooji sedikit tersenyum mendengar ucapan yimonya yang terdengar benar-benar khawatir. “Ani, ini tidak ada hubungannya dengan Nam samchon, yimo. Ini murni kemauanku ssendiri. Aku memang haru berusaha keras, iya kan yimo?”

Nyonya Nam terdiam mendengar jawaban Sooji. Dia memang sudah diceritakan oleh suaminya mengenai rencana mereka tapi tetap saja dia tidak menyangka Sooji akan sengotot ini. “Aku mengerti, ini memang hakmu, ini memang kemauanmu. Geundae, perhatikan juga kesehatanmu, Sooji. Kau sudah lembur di kantor sebaiknya sampai di rumah kau instirahat saja, tidak perlu melanjutkan lagi pekerjaanmu.”

Sooji tersenyum kecut. Yimonya salah faham. Sooji memang langsung istirahat begitu sampai rumah. Sooji pastinya merasa lelah dan penat setelah seharian – ditambah lembur – menatapi dokumen kerjanya satu per satu. Hanya saja mimpi-mimpi buruknya tidak bisa diajak kerja sama. Meskipun lelah luar biasa tapi mimpi-mimpi buruknya – terutama mengenai Sungyeol – tetap mengejarnya, membuatnya selalu terbangun dengan nafas tidak beraturan dan hanya mengecap tidur selama 2 hingga 3 jam. Karena itulah Sooji kemudian kembali berkutat dengan dokumen kerjanya meskipun matanya masih sangat mengantuk dan tubuhnya yang belum merasa segar sama sekali.

Ne, yimo. Aku akan langsung beristirahat,”ucap Sooji pada akhirnya.

Nyonya Nam kembali tersenyum kecil. “Kalau begitu sebaiknya sekarang kau membersihkan diri kemudia tidur. Aku tinggal dulu ya, Sooji. Jaljayo.”

Jaljayo, yimo.”

Sooji mengeringkan rambutnya yang basah dengan sedikit kasar. Sooji baru saja selesai mandi dan kini rasa lelah benar-benar menderanya. Yeoja itu kemudian mendudukkan tubuhnya di Kasur dan sedikit menimbang-nimbang apakah perlu kembali meminum obat tidurnya atau tidak.

Drrttttt drrrtttttt drrrrrttttt

Drrttttt drrrtttttt drrrrrttttt

Getaran hpnya membuyarkan pikiran Sooji. Sooji melirik jam digitalnya yang berada di atas nakas samping tempat tidurmya. Hampir pukul 12 malam. Sooji merengut kesal. Sooji sudah sangat mengantuk namun getaran hpya tak kunjung juga berhenti. Sooji menyerah. Sooji beranjak dari duduknya kemudian melangkahkan kakinya menuju mejanya. Didudukkan kembali dirinya di atas kursi dan menatap hpnya malas. Caller id hpnya menunjukkan nama Jongin.

“Ya, Jongin?” Suara Sooji terdengar sedikit tercekat menahan kesal. Sooji mendengus begitu mendengar Jongin tertawa di seberang telfon.

“Ada apa? Aku sudah mengantuk, Jongin.” Sooji bahkan sudah tidak sanggup marah.

Mian. Aigoo, kenapa kau galak sekali sih?”

“Kubilang aku mengantuk Jongin, belakangan ini aku tidak bisa tidur nyenyak dan aku hanya bisa tidur sebentar sekali.” Sooji menekankan kata ‘belakangan ini’. Sooji kembali mendengus mendengar nada sarkastik dalam nada suaranya sendiri. Bukan belakangan ini sebenarnya, semenjak Sooji menjejakkan kakinya di Korea mimpi buruknya semakin sering muncul bahkan nyaris setiap hari.

Sooji menunggu Jongin mengatakan sesuatu. Namun nyatanya Jongin hanya bisa terdiam mendengar ucapa Sooji.

“Jongin?”

“…”

“Jongin? Kalau tidak  ada yang ingin kau bicarakan, kututup ya? Aku mengantuk.”

“Kau tidak berencana meminum obat itu kan?”

Sooji menghela nafas. Dia ingin bilang tidak sebenarnya, tapi Sooji tidak terbiasa berbohong kepada Jongin atau Jieun, dan Sooji sangat butuh obat tidur sekarang. “Sepertinya begitu. Aku sangat mengantuk, tubuhku sangat lelah tapi kemudian akan tetap terbangun karena… kau tahu itu Jongin.”

Sooji dapat mendengar Jongin menghela nafasnya. “Kau tidak boleh kembali tergantung pada benda itu Sooj.”

“Kau tidak mengerti. Aku benar-benar lelah belakangan ini, Jongin. Rasanya aku ingin tidur dan tidak bangun lagi.”

“Sooj! Jangan berkata seperti itu!” Sooji dapat merasakan suara Jongin yang menyiratkan kekhawatiran dan sedikit kemarahan.

“Sekarang kau tidur, aku akan bernyayi untukmu.”

“Kau bercanda? Kau bahkan tidak  bisa beryanyi.”

“Aku bisa Sooj. Sekarang cepat pergi ke tempat tidurmu.”

Sooji mendengus mendengar perintah Jongin namun tetap dilangkahkan kakinya menuju tempat tidurnya. Direbahkannya kepalanya di atas bantal dan ditariknya selimut melingkupi tubuhnya.

“Kau sudah di atas kasur?”

“Sudah”

“Sekarang tidur. Ak…”

“Aku butuh obat itu Jongin. Besok hari Sabtu dan aku ingin beristirahat total.” Sooji memotong ucapan Jongin.

“Tidak! Jangan coba-coba kau sentuh obat itu, Nona Bae. Kau akan berurusan dengaku dan Jieun jika itu terjadi.”

Sooji menggerutu pelan, tak lama karena kemudian telinganya menangkap suara pelan dari hpnya. Bukan, bukan sebuah nyanyian, lebih tepat jika disebut dengungan pelan. Sooji tersenyum kecil begitu mengenali nada-nada yang didengungkan Jongin. Over the rainbow. Lagu kesukaan dirinya dan ayahnya. Mata Sooji perlahan tertutup. “Jalja Jongin,” ucapnya pelan.

Sooji mengerang pelan begitu sinar matahari menerpa wajahnya.

“Apa aku membangunkanmu, nona?”

Sooji sedikit terkesiap begitu mendengar suara seorang namja di kamarnya. Matanya menyipit begitu mengenali sosok Woohyun di samping jendela kamarnya.

Woohyun terkekeh melihat Sooji yang bersikap defensive begitu mendengar suaranya.

Agoo, akhirnya kau bangun. Oemma memintaku membangunkanmu. Tidak biasanya jam segini kau belum bangun. Siapa sangka hanya dengan membuka tirai kau langsung terbangun. Kukira kau perlu kusiram dengan air terlebih dahulu.”

Sooji  melirik jam digitalnya di atas nakas. Hampir pukul 9. Pantas saja yimonya meminta Woohyun untuk membangunkannya. Sooji bangkit dari posisi tidurnya kemudian duduk bersandar pada kepala tempat tidur. Matanta tetap mengawasi Woohyun yang masih berkutat dengan tirai kamarnya.

“Bagaimanapun aku ini yeoja. Kau tidak boleh sembarang masuk ke kamarku.”

Woohyun kembali menatap Sooji. Alisnya terangkat dan senyum kecil terlihat di bibirnya. “Geure? Ah mian. Sepertinya aku tidak mengaggapmu seperti seorang yeoja.

Soojie kembali mendesis mendengar jawaban Woohyun.

“Kau masih adik kecil untukku, Sooj.” Woohyun tersenyum hangat menatap Sooji.

Sooji dapat merasakan hatinya menghangat mendengar ucapan Woohyun. Woohyun tersenyum kecil. “Cepat bangun dan mandi. Yang lain sudah sarapan, hanya kau yang belum,” Woohyun kemudian mulai melangkahkan kakinya keluar kamar Sooji.

Oppa.”

Panggilan Sooji seketika mebuat Woohyun berbalik menatap Sooji yang belum juga beranjak dari tempat tidurnya.

Gomawo,” Sooji tersenyum tulus menatap Woohyun.

Woohyun ikut tersenyum. Woohyun merasa Sooji kecilnya perlahan-lahan kembali.

Sooji melahat omelet buatan Bibi Ham dengan tenang. Yimo dan Samchonnya nya ikut duduk menemaninya di meja makan. Yimonya membaca tabloid langganannya sedangkan samchonnya sibuk denngan koran paginya.

Agoo, anak muda zaman sekarang. Jika idolnya ingin berkencan kenapa harus ribut begitu? Idol juga manusia kan.”

Sooji tersenyum tipis mendengar komentar yimonya. Yimonya memang tidak pernah ketinggalan gossip terbaru.

Nyonya Nam kemudian meletakkan tabloidnya di atas meja. Matanya menatap keponakannya yang masih mengunyah sarapannya. “Bagaimana tidurmu semalam, Sooji?”

Sooji menenggak susunya kemudian mengelap mulutnya dengan serbet. “Nyenyak, yimo,” jawab Sooji.

Nyonya Nam mengangguk, “Syukurlah jika begitu setidaknya akhirnya kau mendapatkan istirahat yang layak.”

Sooji tersenyum kecil. Dia harus berterimakasih pada Jongin.

“Jadi apa rencanamu hari ini?”

Sooji mengerutkan dahinya. “Tidak ada rencana apapun, yimo. Seperti biasa, aku harus menyelesaikan pekerjaanku.”

Nyonya Nam berdeham pelan kemudian matanya melirik suaminya yang duduk di sampingnya.

Tuan Nam yang menyadari lirikan istrinya berdecak pelan kemudian meletakkan korannya di atas meja.

“Kau tidak perlu memikirkan pekerjaanmu dulu, Sooji. Sekarang hari Sabtu, sebaiknya kau berjalan-jalan. Sudah hampir 4 bulan kau kembali ke Seoul tapi belum sekalipun aku melihatmu berjalan-jalan.”

Alis Sooji kembali bertaut, “Nan gwenchana, samchon. Lagipula aku memang tidak terlalu suka berjalan-jalan. Lebih baik jika aku menyelesaikan pekerjaanku.”

“Aku tidak terima penolakan, Sooji. Kau seorang yeoja, alangkah baiknya jika kau juga mengenal dunia luar.”

Sepertinya ide samchonnya tidak buruk juga. Setidaknya hari ini moodnya sedang baik.

“Kau bisa minta Woohyun untuk menemanimu,”ucap Tuan Nam lagi sambil kembali membuka korannya.

“Woohyun sudah pergi dari tadi, yeobo,” ucap Nyonya Nam.

“Oh iya? Anak nakal itu tidak pamit padaku,” jawab Tuan Nam acuh tak cuh.

Nyonya Nam mendesis kesal melihat kelakuan suaminya. Matanya kemudian kembali beralih pada Sooji yang terlihat berpikir. “Sebaiknya kau mengajak Sunggyu, Sooji.”

Sooji mengernyitkan dahinya, “Apa, yimo?”

“Kubilang, sebaiknya kau mengajak Sunggyu. Aku yakin dia mau menemanimu.”

Sooji mendengus. “Tidak, terimakasih. Aku rasa aku akan pergi sendiri, yimo.”

Mengajak Sunggyu? Kim Sunggyu? Busajangnimnya? Ha! Yang benar saja. Yang ada dia diceramahi mengenai bagaimana menjadi atasan yang baik atau bagaimana membangun relasi bisnis yang bersih dan penuh tanggung jawab.

Sooji bangkit dari duduknya. “Kalau begitu aku pergi sekarang yimo, samchon.”

Nyonya Nam mengangguk, “Hati-hati. Jika ada apa-apa langsung hubungi Woohyun.”

Sooji mendorong pintu kaca itu dengan tubuhnya.

“Selamat siang.”

Sooji hanya menganggukan kepalanya singkat ketika pelayan toko menyambutnya di pint masuk. Dirinya masih berkutat dengan hp yang masih menempel di telinganya.

“Kumohon jangan ganggu aku hari ini, kau bisa mengubungi Kim Busajangnim Hyeri-ah. Moodku sedang bagus dan aku tidak ingin mendengar apapun mengenai pekerjaan. Keuno.”

Sooji menghela nafas setelah menutup telfon dari sekretarisnya. Dilaangkahkannya kakinya menuju meja di sudut ruangan. Benar kata samchonnya, sudah hampir 4 bulan Sooji di Seoul tapi ini pertama kalinya Sooji memanfaatkan weekendnya untuk berjalan-jalan. Tak lama setelah Sooji duduk, seorang pelayan datang menanyakan pesanannya. Sooji memesan segelas chamomile tea faforitnya dan sepotong red velvet.

Sambil menunggu pesanannya datang, Sooji kembali mengutak-atik hpnya. Sooji sedikit menimbang-nimbang sebelum akhirnya menghubungi Jieun. Dering pertama dan Jieun sudah mengangkatnya.

“Yya, Nona Bae! Apa yang kau lakukan dengan kekasihku semalam?”

Sooji tertwa kecil mendengar suara Jieun yang tinggi melengking, tanpa menyapanya terlebih dahulu, dan langsung menanyakan mengenai Jongin.

“Tidak ada apa-apa Jieun-ah, sungguh. Dia hanya membantuku tidur, geokjongma.”

Hening. Sooji dapat membayangkan Jieun yang sedang menyipit, mempertimbangkan jawaban Sooji.

“Kau percaya padaku kan, Lee Jieun?”

Sooji dapat mendengar Jieun yang menghela nafas. “Kau mengambil jatahku mengobrol dengannya, arra? Sudah 4 hari ini Jongin di Osaka, Sooj. Aku merindukannya.”

Sooji tersenyum kecil mendengar cerita Jieun. “Mianhae. Selanjutnya kupastikan dia menelfonmu terlebih dahulu.”

Jieun terkekeh mendengar ucapan Sooji. Sejujurnya Jieun senang mendengar suara Sooji yang terdengar lebih ringan dibandingkan terakhir kali mereka bertelfon.

“Kau tidur nyenyak semalam, Sooj?”

Senyum Sooji terkembang mendengar pertanyaan Jieun. “Sangat, Jieun-ah. Nyenyak sekali.”

JIeun kembali tertawa kecil mendengar jawaban Sooji. “Aigoo, sepertinya moodmu sedang baik ya.”

“Begitulah. Sudah lama sekali aku tidak tidur selama itu. Nyaris 9 jam, kau tahu?”

“Sepertinya efek Jongin begitu besar padamu, Sooj. Membuatku cemburu saja.”

Sooji tertawa ringan mendengar ucapa Jieun. “Bukan karena Jongin, tenang saja Jieun-ah. Aku tidak bermaksud merebutnya, lagipula dia bukan tipeku.”

Sooji mendengar desisan Jieun yang membuatnya kembali tertawa.

“Terus apa, Sooj? Kenapa sepertinya kau senang sekali?”

Hening. Sooji masih menimbang-nimbang apakah perlu menceritakannya pada Jieun atau tidak.

“Sooj?”

Ye?”

“Kau tidak ingin bercerita?”

Sooji menghela nafas. “Aku bertemu, ani, maksudku aku memimpikan ayahku, nae appa.”

Kembali hening, lagi-lagi Sooji dapat membayangkan ekspresi sahabatnya itu. Jieun pasti sedang membelalakan matanya.

“Dia, maksudku ayahmu, tidak menyuruhmu macam-macam kan? Tidak memintamu melakukan apapun kan?” suara Jieun terdengar lirih dan tercekat di telinga Sooji.

Sooji menggeleng namun begitu menyadari Jieun tidak dapat melihatnya, Sooji menjawab, “Tidak. Dia tidak memintaku melakukan apapun. Uri appa hanya tersenyum lebar.” Sooji kembali tersenyum ketika mengingat mimpinya semalam.

“Syukurlah.” Sooji dapat mendengar Jieun yang mengela nafas dan terdengar lega.

Sooji dapat mengerti kekhawatiran sahabatnya itu. Saat di Jepang dulu, Sooji pernah melakukan tindakan bodoh hanya karena mimpinya.

“Aku senang jika begitu. Jika ada masalah apapun langsung hubungi aku dan Jongin ya. Kututup.”

Nee.”

Setelah mengakhiri telfonnya dengan Jieun, Sooji menatap hpnya. Pikirannya kembali pada salah satu kebodohan yang pernah dia lakukan.

Sooji kembali melihat Sungyeol yang berlumuran darah. Sooji melihat semua orang menatapnya dengan tatapan tidak bersahabat dan menyalahkannya. Setelah itu perlahan-lahan semua orang menjauhinya, Soojung, Myungso, kedua orangtua Sungyeol, dan Appanya. Sooji dapat melihat wajah appa-nya yang terlihat kecewa kemudian mengikuti orang-orang melangkah menjauhi Sooji. Sooji menangis histeris. Sooji kemudian berlari mengejar appa-nya, berusaha menggapainya dengan tangannya. Begitu Sooji berhasil menahan tangan appa-nya, tangannya disentakan dengan kencang. Sooji kembali menangis, bingung mengapa appa-nya juga ikut membencinya. Sooji terus menangis hingga tiba-tiba appa-nya memeluknya. Appa-nya kemudian berbisik pelan, meminta Sooji menyusulnya.

Setelah itu Sooji terbangun dari tidurnya. Nafasnya naik turun tidak teratur. Perlahan air mata mengalir di kedua belah pipinya. Sooji menangis. Pikirannya kembali melayang pada mimpi buruknya yang baru saja ia lewati. Masih dapat didengarnya suara appa-nya yang memintanya menyusulnya. Sooji menghapus air matanya kasar. Tangannya kemudian terjulur menuju laci pada nakas di samping tempat tidurnya, mengambil sebuah botol kaca transparan yang berisi pil tidur dari dokternya. Di tumpahkannya beberapa pil ke atas tangannya. Kini terdapat 4 pil di tangan Sooji. Sooji menatap tangannya sejenak kemudian tersenyum. Appa-nya memintanya menyusulnya kan? Sooji kemudian menelan pil-pil tersebut. Sooji hanya ingin bertemu appa-nya.

Saat sadar, Sooji melihat jarum infus ditangannya, Jieun yang menangis keras dan Jongin yang berada di sampingnya. Jieun memukulnya bertubi-tubi mengatakan bahwa Sooji bodoh sedangkan Jongin berusaha menahan tangan Jieun. Sooji tersenyum miris melihat keadaan dua sahabatnya itu. Mereka terlihat lebih berantakan dari dirinya. Setelah itu Jieun dan Jongin melarang keras Sooji menggunakan obat tidur meskipun memakai resep dokter sekalipun. Jieun dan Jongin juga menjadi sangat sensitive apabila Sooji bercerita jika appa-nya muncul dalam mimpinya.

“Ini pesanan anda.”

Suara pelayan toko, secangkir teh, dan sepotong red velvet menyadarkan Sooji dari lamunan singkatnya.

Sooji tersenyum kecil kemudian menggumamkan kata gomawo kepada pelayan tersebut. Tangannya kemudian mengangkat carkir tehnya dan menghirupnya.

Sooji sangat menyuka chamomile tea. Minuman faforitnya dan oemmanya dulu. Setelah menyesapnya sebanyak dua kali, Sooji kembali meletakkan cangkir tehnya di atas meja. Sooji kemudian mengobrak-abrik isi tasnya kemudian mengeluarkan secarik kertas dan pensil. Sooji kemudian mulai mencoret-coret di atas kertas putih itu hingga dia mendengar kursi di depannya berderit. Sooji mengangkat kepalanya. Matanya kemudian membelalak melihat seseorang yang duduk di depannya. Oramg itu tersenyum kecil dan terlihat sedikit kikuk.

Annyeong, Sooj.

Sooji mengatupkan bibirnya. Menahan gejolak – entah apa itu – yang tiba-tiba muncul di dasar perutnya.

Namja di depannya itu kembali tersenyum. “Orenmaniya.”

Namja itu, Kim Myungsoo.

TBC-

 a/n

Anyyeong! This is another chapter of MaR.

Lagi-lagi ngerasa fail di chapter ini, datar banget pasti ya dan singkat. Aku usahain untuk chapter selanjutnya lebih cepet dan lebih ngefeel kkk

Enjoy reading, chingu! Drop comment juseyo. Kasih tau aku apa yang perlu diperbaiki hehe

Mian for typos or anything.

Gomawo :3

 

 

87 responses to “Mistakes and Regrets #6

  1. Pingback: Mistakes And Regrets #11 | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

  2. Pingback: Mistakes and Regrets #12 | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

  3. Pingback: Mistakes and Regrets #6 | Splashed Colors & Scattered Words·

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s