Mistakes and Regrets #7

poster

Title: Mistakes and Regrets | Author: Macchiato

Genre: Friendship, Sad, Romance | Rating: PG – 17 | Length: Chaptered

Main Cast: Bae Sooji, Kim Myungsoo, Kim Sunggyu

Poster by animeputri @HSG

I don’t own anything besides the storyline

Forgive

 

Previous chapter: Prolog | #1 | #2 | #3 | #4 | #5 | #6

Warning! Yang bercetak tebal dan miring adalah flashback

Myungsoo mengerang perlahan ketika sinar matahari menerpa wajahnya. Secara otomatis tangannya bergerak menarik selimutnya hingga melingkupi seluruh tubuhnya.

“Kim Myungsoo. Irreona!” Suara bass seseorang memecah sunyi pagi hari itu.

Myungsoo diam tak bergeming, masih bergentayangan di alam mimpinya.

“Yya! Kim Myungsoo, irreona!”

Myungsoo menggeliat pelan, tidak bangun, hanya membenarkan posisinya. “Sebentar lagi, abeoji. Aku masih mengantuk.”

“Astaga. Pria macam apa kau ini. Jam segini masih di atas kasur. Yya! Pantas saja kau tidak punya kekasih.”

Myungsoo tetap diam, masih dengan posisisi meringkuk, tergulung dalam selimut.

“Yya! Kim Myungsoo!” Dengan tidak sabarannya pria itu – yang dipanggil abeoji­ oleh Myungsoo – menarik paksa selimut Myungsoo.

Ne ne ne. Aku bangun, abeoji. Astaga. Kenapa kau bar-bar sekali sih.” Myungsoo akhirnya mengalah. Matanya menyipit menatap namja yang sudah berusia hampir kepala 5 itu dengan mata menyipit.

“Yya! Kau berani memelototiku? Dasar anak durhaka!” Dengan segulung koran di tangannya – yang entah didapat dimana – Tuan Kim memukuli Myungsoo dengan semangat membara.

“Yya! Appo!”

Tuan Kim menghentikan aksinya memukuli Myungsoo. Kini giliran matanya yang melotot menatap anaknya itu. “Yya?! Appo?! Yya!! Kau berani menggunakan banmal padaku? Dasar anak kurang ajar!” seru Tuan Kim marah dan kembali memukuli Myungsoo dengan senjata andalannya.

“Aa, jwesonghamnida abeoji. Aaa geumanhaeyo, abeoji. Jeongmal appayo.” Myunsoo berusaha mengehntikan pukulan abeojinya dengan melindungi tubuhnya menggunakan bantal.

Tuan Kim akhirnya berdeham pelan dan menghentikan aksinya memukuli Myungsoo. “Kau berjanji akan mengantarku ke bandara, Kim Myungsoo. Kau tidak lupa kan? Aku bisa ketinggalan pesawat jika kau tidak segera bangun.”

Myungsoo melirik jamnya yang tergantung di dinding. Matanya membesar begitu melihat jamnya. “Astaga, abeoji. Ini bahkan belum jam 7 pagi!” Teriak Myungsoo histeris.

Tuan Kim mengedikkan bahunya acuh, “Arra. Tapi memangnya kau tidak mau sarapan? Cepat buatkan aku sarapan, aku lapar.”

Myungsoo mendesis. “Abeoji, semalam aku tidur jam 2 pagi, ada design yang harus aku selesaikan. Dan kau membangunkanku untuk membuatkanmu sarapan?” suara Myungsoo perlahan meninggi mengahadapi kelakuan ayahnya itu.

Tuan Kim kembali menatap Myungsoo dengan mata tajamnya. Mata tajam yang sama dengan milik Myungsoo. Yeah, like father like son. “Kau berani menolak permintaan ayahmu. Dasar anak durhaka,” ujar Tuan Kim seraya menaikkan kembali senjata pamungkasnya – segulung koran.

Myungsoo cepat-cepat membungkukkan tubuhnya. “Ampun, abeoji. Jwesonghamnida. Aku akan membuatkanmu sarapan.

Tuan Kim tersenyum penuh kemenangan melihat Myungsoo. “Cepat bersiap, aku tunggu,” setelah mengucapkan itu Tuan Kim pun melangkah keluar dari kamar Myungsoo.

Tuan Kim mengunyah sandwichnya dengan cepat. Matanya memperhatikan anaknya yang sedang membaca koran. “Kau tidak ada kegiatan hari ini?”

“Ada.”

“Apa itu?”

“Mengantarmu ke bandara.”

Tuan Kim mendesis. “Selain itu maksudku.”

Ani. Aku tidak memiliki rencana apapun.”

“Kau tidak berkencan?”

Ani”

Wae?”

“Geunyang…”

“Geunyang mwo?”

Tidak memiliki teman kencan.”

“Tidak mencarinya?”

Ani.”

“Wae?”

“Geunyang..”

Tuan Kim kembali mendesis. “Yya! Cepat cari kekasih sana, Bahkan Yuta yang berusia 14 tahun saja sudah punya kekasih. Aigoo, kau ingin jadi bujangan lapuk?”

Myungsoo tertawa mendengar pernyataan ayahnya. “Aigoo, abeoji kenapa jadi bawel begini sih? Dikasih makan apa oleh Ayumi?”

Tuan Kim berdecak. “Yya! Jangan kurang ajar, Ayumi itu ibumu, arra? Jangan hanya menyebut namanya begitu.”

Waeyo? Dia bahkan tidak keberatan dipanggil Ayumi.”

Tuan Kim mendesis lagi namun kemudian tersenyum kecil. Senang mengetahui hubungan istri barunya dengan Myungsoo yang masih berjalan baik meskipun semenjak 3 tahun lalu Tuan Kim memutuskan pindah ke Jepang. Usia Myungsoo 11 tahun ketika Tuan Kim memutuskan untuk menikah lagi. Ayumi, istri kedua Tuan Kim adalah seorang Korea keturunan Jepang maka dari itu Tuan Kim memutuskan pindah ke Jepang. Anak mereka – Yuta – berselisih 7 tahun dengan Myungsoo dan sangat dekat dengan kakak tirinya itu. Tuan Kim bersyukur keluarganya berjalan harmonis – meskipun sebelumnya tidak.

Tuan Kim kembali menataap putranya yang masih sibuk dengan koran paginya.

“Kau tidak ada acara dengan Soojungie?”

Myungsoo melipat korannya kemudian mulai menyantap sandwichnya.

Ani.”

Tuan Kim menatap putranya heran. “Kenapa? Tumben sekali.”

“Kami bertengkar.”

Wae?”

“Dia melarangku bertemu, melihat, atau dekat-dekat dengan Sooji.”

Tuan Kim terdiam. Dia memang tahu masalah mereka bertiga – berempat dengan Sungyeol. Myungsoo memang selalu terbuka padanya. Lagipula Tuan Kim juga kenal dengan mereka semua.

“Sooji sudah kembali ke Seoul?”

Myungsoo mengangguk

“Kapan?” Tanya Tuan Kim lagi.

“Entahlah, sudah lumayan lama sepertinya. Aku bertemu dengannya kira-kira 3 bulan lau di pemakaman Sungyeol.”

Kini giliran Tuan Kim yang mengangguk. “Lalu soal permintaan Soojung, apa kau menyetujuinya?”

Myungsoo menghentikan kunyahannya kemudian menatap ayahnya.

“Entahlah, aku masih memikirkannya. Menurut abeoji?”

Tuan Kim mengangkat alisnya, “Apa kau menyesal melepaskannya dulu?”

Myungsoo terdiam.

Tuan Kim menghela nafas. “Kurasa sudah cukup kau mengikuti Soojungie, Myungsoo-ya. Kau harus mulai memikirkan masa depanmu.”

Myungsoo mendengus. “Tentu saja aku memikirkannya, abeoji. Aku..”

“Masa depanmu bersama Soojung? Yang benar saja! Kau sudah bersamanya selama 22 tahun hidupmu Myungsoo-ya, kalau memang Soojung memiliki perasaan padamu, seharusnya dia sudah menyadarinya dan bukan melabuhkan hatinya pada Kang Minhyuk.”

“Tapi aku mencintainya, abeoji. Aku ingin melindunginya.”

“Kau yakin dengan perasaanmu, Myung? Kau yakin perasaanmu pada Soojung itu cinta?”

Myungsoo terdiam.

“Lalu bagaimana dengan Sooji?” Tanya Tuan Kim lagi tanpa melepaskan pandangannya dari putranya itu.

Myungsoo mengerutkan dahinya, “Kenapa dengan Sooji memangnya? Ini tidak ada hubungannya dengan Sooji, abeoji.”

Tuan Kim menyesap kopinya perlahan. “Tentu saja ada.”

Myungsoo mendengus, “Sooji hanya seseorang yang kebetulan lewat dalam hidupku. Tidak lebih. Aku saja tidak tahu mengapa Soojung tiba-tiba mengungkit kembali soal Sooji padahal bertemu lagi dengan Sooji saja hanya sekali.”

Tuan Kim terkekeh mendengar jawaban putranya. “Jika memang Sooji hanya kebetulan lewat, mengapa kau sulit sekali mencari penggantinya? Coba lihat, usiamu 22 tahun dan terakhir kali kau memiliki kekasih adalah saat kau kelas 1 SMA, bersama Sooji. Bukankah itu tandanya kau kesulitan melepasnya?”

“Karena yang kuinginkan hanya Soojung. Kau tahu itu sendiri, abeoji.”

“Kalau begitu mengapa kau tidak langsung mengiyakan permintaan Soojung untuk menjauhi Sooji, Myungsoo-ya? Jika memang kau sebegitu mencintai Soojung, seharusnya kau tidak perlu berfkir dua kali untuk menjauhi yeoja manapun.”

Skak mat. Myungsoo merasa pernyataan abeojinya begitu tepat sasaran. Bibirnya membuka hendak mengatakan sesuatu tapi kemudian dikatupkannya kembali. Ucapan abeojinya terlalu benar.

“Akui saja Myungsoo-ya, kau memang menyukai Sooji.”

“Sooji sudah mulai memasuki kehidupanmu ketika kau membawanya ke rumah, ketika kau mengenalkan Sooji padaku, pada Ayumi, pada Yuta. Kau membiarkan Sooji masuk ke dalam hidupmu ketika kau mulai membuka dirimu di depannya,” tambah Tuan Kim lagi.

“Kenali perasaanmu sendiri kali ini Myung, jangan sampai menyesal.”

Hening tiba-tiba menyelimuti percakapan ayah dan anak itu. Myungsoo masih terdiam, pikirannya kembali melayang pada malam ketika dirinya melihat Sunggyu memeluk Sooji. Dihirupnya udara banyak-banyak untuk menenangkan dirinya yang tiba-tiba kembali merasa mendidih.

“Sekalipun aku menyukainya, menyukai Sooji, kupikir aku sudah tidak memiliki kesempatan abeoji.”

Tuan Kim kembali mengangkat alisnya, “Kenapa memangnya?”

“Sepertinya…. Dia sudah memiliki namja.”

Tuan Kim tertawa. Tangannya kemudian terjulur meraih koran yang tergeletak di atas meja, menggulungnya kemudian mulai memukuli lagi anaknya.

Abeoji, appayo!” Teriak Myungsoo yang tidak siap diserang. Tangannya bergerak kesana kemari berusaha menghalau pukulan Tuan Kim.

Tuan Kim menghentikan aksi bar-barnya dan juga mengehntikan tawanya. “Aigoo. Aku tidak menyangka kau sebodoh ini Kim Myungsoo.”

Myungsoo mendengus begitu dikatakan bodoh oleh abeojinya namun tidak dihiraukan oleh Tuan Kim.

“Yya imma! Kau mengejar Soojung bertahun-tahun dan tetap mengejarnya meskipun dia sudah memiliki namja. Tapi kau langsung menyerah mengejar Sooji hanya karena ‘sepertinya’ dia sudah memiliki namja? Kau lucu sekali, adeul-ah. Aigoo.

Myungsoo terdiam. Ditatapnya abeojinya dalam-dalam. “Ini berbeda abeoji.”

“Berbeda bagaimana?”

Myungsoo tetap diam.

“Kau sudah melihat Sooji dengan ‘namja’nya?”

Myungsoo mengangguk mejawab pertanyaan Tuan Kim.

“Dimana?”

“Di acara ulang tahun kantorku, kira-kira 3 minggu lalu.”

Tuan Kim berdeham pelan. “Jadi kalian satu kantor?”

Ani. Dia datang sebagai wakil dari perusahaan lain.”

“Kau yakin itu namjanya? Kau kenal dengan namja itu?”

Myungsoo kembali mengangguk. “Aku melihat mereka berpelukan.”

Nugu?”

Myungsoo diam. Tangannya kemudian terjulur mengangkat cangir kopinya yang mulai mendingin.

Nugu?” Tanya Tuan Kim lagi begitu Myungsoo sudah selesai dengan kopinya.

Hyung”

Mata Tuan Kim membelalak. “Mwo? Nugu?”

Hyung. Sunggyu hyung, abeoji.”

Tuam Kim diam. Ditatapnya lekat-lekat putra keduanya itu. “Wah, kau sial sekali Myungsoo-ya. Benar-benar sial.”

Myungsoo kembali diam mendengar perkataan abeojinya. Sementara Tuan Kim hanya menatap Myungsoo prihatin.

“Kau memang lebih tampan Myungsoo-ya, menurun dariku.”

Geundae, Sunggyu jelas jauh lebih berkharisma dan lebih gentle. Jelas kau kalah. Sifatnya menurun dari ibumu,” lanjut Tuan Kim lagi.

Myungsoo mendesis “Jinjja, Abeoji. Tidak bisakah kau membelaku

“Naega wae? Selama Sooji menjadi menantuku, tidak masalah.”

“Yya!”

“Kau meneriakiku lagi, Kim Myungsoo?! Dasar anak durhaka!”

Gamsahamnida,” ucap Myungsoo kepada pegawai toko musik. Setelah mengantarkan ayahnya ke bandara, Myungsoo memutuskan berjalan-jalan di sekitar Myeongdong sekaligus membeli sinar gitarnya yang sudah mulai lapuk. Saat ini sudah mulai memasuki musim semi makadari itu mulai banyak bunga-bunga bermekaran. Saat berjalan itulah Myungsoo melihatnya. Melihat seorang Bae Sooji yang sedang duduk manis terlihat seperti sedang menelefon di sudut sebuah café. Myungsoo dapat melihatnya meskipun café itu berada di seberang jalan karena ruang café itu yang nyaris transparan, memiliki jendela yang sangat besar sehingga membuat siapapun dapat melongok, melihat isinya. Dan saat melihat Sooji, kaki Myungsoo secara otomatis perlahan menyeberangi jalan, menuju café di mana Sooji berada.

Sejujurnya setelah mengakui pada ayahnya bahwa Myungsoo menyukai Sooji, perasaan Myungsoo lega luar biasa. Seperti beban berat telah diangkat dari pundaknya, membuatnya lebih leluasa bernafas. Saat itu lah Myungsoo menyadari bahwa selama ini Myungsoo membohongi dirinya sendiri, membohongi perasaannya bahwa dirinya masih menyukai Soojung. Myungsoo salah menilai perasaannya sendiri, atau mungkin terlambat menyadarinya. Myungso memang pernah menyukai Soojung namun perasaannya perlahan memudar. Kali ini Myungsoo meyakinkan dirinya sendiri untuk kembali mendapatkan Sooji.

Myungsoo menghela nafas kemudian mulai melangkahkan kakinya memasuki café yang sama dengan Sooji.

“Selamat siang.”

Myungsoo hanya mengangguk untuk menaggapi sapaan pelayan café. Myungsoo mengedarkan pandangannya ke pojok cafe, mencari sosok Sooji. Pandangannya tertuju pada seorang yeoja yang sibuk menunduk, terlihat mencoret-coret pada selembar kertas. Myungsoo berjalan perlahan menghampiri meja Sooji. Sejujurnya Myungsoo benar-benar gugup kali ini, jantungnya berdegup. Dengan cepat, Myungso menarik kursi di hadapan Sooji kemudian duduk di atasnya.

Myungsoo tersenyum kikuk. “Annyeong, Sooj.

Myungsoo dapat melihat Sooji yang mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Myungsoo juga dapat melihat sinar ketakutan di mata Sooji. Mata Sooji merefleksikan ketakutan dan juga… luka. Myungsoo tidak menyangka kehadirannya akan begitu menyakitkan bagi Sooji. Myungsoo menjadi semakin merasa bersalah.

Orenmaniya,” sapa Myungsoo lagi.

Hening seketika. Sooji yang membeku dan Myungsoo yang terlihat kaku. Namun kemudian Sooji bergerak perlahan. Myungsoo memperhatikan bagaimana Sooji merapihkan barang bawaannya. Myungsoo melihat bagaimana Sooji mengeluarkan selembar uang dari dompetnya dan meletakannya di atas meja Myungsoo melihat bagaimana Sooji meninggalkannya begitu saja. Meninggalkan Myungsoo yang masih mematung di tempatnya. Sooji meninggalkan Myungsoo, tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.

Myungsoo meghela nafas. Tangannya kembali memetik gitarnya asal. Semenjak bertemu Sooji tadi, pikirannya benar-benar kacau. Myungsoo memejamkan matanya, sorot ketakutan di mata Sooji kembali berputar di kepalanya. Myungsoo mendesis. Tentu saja Sooji ketakutan melihatnya, di pertemuan terakhir mereka Myungsoo memberikan tatapan tajamnya sekaligus ‘mengusir’ Sooji dari pemakaman Sungyeol. Padahal Myungsoo tahu Sungyeol sahabat Sooji. Tapi mau bagaimana lagi, saat itu ketika Myunngsoo melihat Soojung yang histeris melihat Sooji, insting Myungsoo otomatis berusaha melindungi Soojung. Myungsoo juga masih mengingat sorot penuh luka di mata Sooji…

Myungsoo membuka matanya kemudian mengacak rambutnya kasar. Tentu saja Sooji terluka. Berapa kali sudah Myungsoo menyakitinya. Semenjak Sooji memintanya menjadi kekasihnya dulu, ani, semenjak Sooji mengenal Myungsoo untuk pertama kalinya dulu, entah sudah berapa kali Myungsoo menyakiti Sooji. Dengan ucapannya ataupun aksinya. Myungsoo kembali menghela nafas. Mianhae, jeongmal mianhae.

“Soo-ya, ayo berkencan.”

Myungsoo mengangkat kepalanya dari buku yang dibacanya, menatap Sooji yang sedang menatapnya dengan mata berbinar. “Jigeum?”

Sooji tertawa, “tentu saja tidak sekarang. Pulang sekolah nanti bagaimana?”

“Dengan Jungie juga?”

Myungsoo dapat melihat binar di mata Sooji yang sedikit meredup. “Kau ingin pergi bersama Soojung dan Sungyeol juga?”

Myungsoo mengangguk, “Bukankah lebi seru jika ramai?”

Myungsoo dapat melihat Sooji memaksakan senyumnya, “Oke, call. Biar aku bilang pada Sungyeol.”

Dan sore hari itu, mereka kembali melakukan double date. Atau tepatnya Sungyeol dan Soojung yang berkencan, Myungsoo yang menempel pada Soojung, dan Sooji yang tertinggal di belakang. Sama seperti kencan-kencan sebelumnya, Sooji terlupakan.

“Soo-ya, apa kau kosong sore hari ini?”

Myungsoo mengerutkan dahinya. “Ne, ada apa?”

“Apa kau bisa mengajariku fisika? Aku sedikit ketinggalan pelajaran karena minggu lalu aku kan ke Gwangju, mengunjungi pamanku.”

Myungsoo menimbang-nimbang. Dilihatnya Sooji yang menangkupkan kedua tangannnya di depan dadanya sambil menatapnya memelas. Myungsoo tersenyum kecil, “Oke.”

“Jinjja? Gomawo Soo-ya!” seru Sooji riang.

Myungsoo terkekeh melihat Sooji yang begitu bersemangat. Kemudian dilihatnya Soojung yang menghampirinya dengan tergesa. Dahi Myungsoo mengerut, “Ada apa Jungie?”

Soojung menatap Myungsoo memelas, “Myungie, kau kosong tidak nanti sore? Apa kau bisa…”

“Soo akan belajar denganku Soojung-ah,” potong Sooji cepat.

Soojung terlihat terkejut mendengar ucapan Sooji, dan terlihat salah tingkah namun kemudian Soojung kembali menatap Myungsoo, “Ah mianhae. Aku kira kau kosong Myungie. Aku ingin memintamu menemaniku mencari kado untuk sepupuku. Dia ulang tahun besok. Sungyeol tidak bisa karena sudah ada janji dengan oemmanya.”

Myungsoo tersenyum, “Geurae? Baiklah aku akan menemanimu, Jungie.”

Kini gilira Sooji yang terkejut. Namun, saat hendak berbicara, Soojung sudah bersuara duluan, “Jinjja? Gomawo Myungie, Myungsoo Jjjang!”

Kemudian soojung tersenyum penuh kemenangan pada Sooji kemudian kembali pada tempat duduknya.

Sooji diam, menatap Myungsoo, menunggu penjelasannya. Myungsoo berdeham pelan, “Mianhae, tapi urusan Jungie lebih urgent Sooji-ah. Kita bisa belajar lain kali, ottae?”

Sooji tetap diam membuat Myungsoo sedikit merasa bersalah, “Mianhae, aku janji akan mengajarimu.”

Sooji menghela nafas, “Geurae. Akan kutagih janjimu, Soo-ya.”

Myungsoo hanya tersenyum kecil menaggapi ucapan Sooji. Namun sampai kapanpun Myungsoo tidak pernah menuntaskan janjinya.

“Soo-ya, bisa kau jemput aku? Sekarang hujan dan Pak Han sedang sakit sehingga tidak bisa menjemputku,” Sooji baru saja selesai les piano dan kini sedang menunggu jemputannya namun sayangnya Pak Han supir pribadinya tidak bisa menjemputnya karena sedang sakit.

“Sungyeol?” Tanya Myungsoo di seberang telfon.

“Dia sedang menemani oemmanya, Soo-ya.”

Myungsoo mendesah enggan, diliriknya keadaan di luar jendelanya. Sudah malam dan hujan. Kemudian diliriknya Soojung yang sedang menatapnya memelas, memintanya tidak pergi. Tak lama suara petir menggelegar di tempat Myungsoo, membuat Soojung menutup telinganya dan gemetar ketakutan.

Myungsoo menghela nafas lagi, “Mianhae Sooji-ah. Tapi Aku tidak bisa meninggalkan Soojung sendiri. Dia takut petir.”

“…“

“Sooj?”

“Ah iya, gwenchana. Maaf mengganggumu,”

“Kututup ya. Hati-hati Sooji-ah. Keuno……Myungie aku takut…” Klap.

Sooji masih bisa mendengar suara Soojung sebelum Myungsoo benar-benar menutup telfonnya, membuat Sooji mengatupkan bibirnya rapat-rapat menahan tangis.

“Happy valentine, Soo-ya! Ini cokelat untukmu,” seru Sooji riang sambil memberikan Myungsoo sekotak cokelat.

Sooji dapat melihat Myungsoo sedikit meringis menerima pemberiannya.

“Aku membuatnya sendiri, Soo-ya,” ujar Sooji lagi.

“Ah gomawo,”

Sooji mengrnyitkan dahinya, “Kau tidak suka menerima pemberianku, ya?”

Myungsoo mengehal nafas pelan, “Mian. Bukan maksudku begitu. Tapi kau tahu aku tidak terlalu suka manis kan?”

Kini giliran Sooji yang menghela nafas. Sepertinya keputusan salah memberi Myungsoo sekotak cokelat meskipun Sooji benar-benar berupaya membuat cokelat yang enak untuk Myungsoo.

Sooji melihat Myungsoo meletakkan cokelat pemberian Sooji di atas meja kemudian bangkit berdiri menghampiri Soojung dan Sungyeol.

Sooji melihat Myungsoo merebut cokelat pemberian Soojung pada Sungyeol kemudian melahapnya, membuat Soojung dan Sungyeol berteriak. Sooji melihat Soojung yang memukul Myungsoo pelan kemudian menyebutnya pabo sedangkan Sungyeol hanya tertawa melihat kelakuan kedua sahabat itu.

“Salah sendiri kau tidak memberiku cokelat, Jungie. Kau tahu aku hanya ingin cokelat darimu.”

Sooji mendengarnya. Sooji mendengar ucapan Myungsoo pada Soojung yang terlihat masih kesal karena cokelat untuk Sungyeol dimakan oleh Myungsoo.

Sooji menghela nafas kemudian menatap cokelatnya yang tergeletak di meja. Matanya kemudian menatap tangannya yang penuh plester karena mencoba memasak cokelat kemarin. Sooji tidak terlalu pandai menggunakan pisau membuat tangannya terluka ketika memotong cokelat menjadi potongan kecil-kecil. Sooji menggigit bibir bawahnya perlahan. “Himnae Sooji-ah,” bisiknya pada diri sendiri. “Himnaeyo,” bisiknya lagi, namun sebulir air mata meluncur di pipinya.

“Selamat pagi, sajangnim.”

Sooji hanya tersenyum kecil menaggapi sapaan dari para karyawannya. Dilangkahkannya kakinya dengan cepat menuju ruangannya. Sooji menghela nafasanya begitu dia duduk di kursinya. Dipejamkannya matanya perlahan. Kepalanya pusing dan badannya lelah. Sooji menghela nafasnya lagi begitu mengingat jadwalnya yang akan sangat padat hari ini. Tipikal hari senin pagi.

Tok tok tok

“Masuk,” ucap Sooji tanpa membuka matanya.

Didengarnya ketukan pasti langkah seseorang yang menggunakan heels.

Selamat pagi, Sajangnim, hari ini jadwal anda padat sekali,” ucap seorang yeoja sembari meletakkan secangkir teh di depan Sooji.

Sooji membuka matanya kemudian mendengus mendengar ucapan sekretarisinya.

Aigoo, sajangnim, ada apa dengan matamu?”

Sooji kembali mendengus.

“Yya.. di mana sopan santunmu. Jangan mentang-mentang kita seumuran kau bisa bersikap seperti itu pada sajangnimmu.”

Hyeri terkekeh melihat reaksi atasannya. Hyeri memang seumuran dengan Sooji. Dia bisa menjabat posisinya sebagai sekretaris Sooji saat ini berkat rekomendasi Woohyun yang merupakan sunbaenya saat kuliah dulu.

Mian. Tapi aku serius, Sooj – ah maksudku sajangnim. Kukira kemarin-kemarin matamu sudah bengkak dan hitam ternyata masih bisa lebih parah lagi ya.”

Sooji mendesis. “Yya… berhenti berkomentar, sana kembali ke ruanganmu.”

Hyeri berdecak. “Aku berkata sebenarnya Sooji, kau terlihat mengenaskan. Ambil cuti sana.”

Mata Sooji melotot mendengar ucapan Hyeri. “Kau mau kupecat?”

Hyeri menngaruk pipinya salah tingkah. “Ani,” ucap Hyeri yang kemudian menghela nafas. “Aku berkata begitu karena paduli padamu, Sooji. Kau…. Ada masalah?”

Sooji menatap Hyeri dalam-dalam. Bagaimanapun, Hyeri merupakan orang yang cukup dekat dengannya semenjak dia kembali ke Seoul. Sooji sendiri memang merasa menyedihkan ketika dia berkaca tadi pagi. Seperti biasa, mimpi buruknya soal Sungyeol menghantui tidurnya. Padahal pertemuannya dengan Myungsoo sudah membuatnya sulit tidur. “Tidak, Lee Hyeri, kau bisa kembali ke ruanganmu.”

Hyeri kembali menghela nafas. “Oke, kalau begitu.”

Hyeri kemudian mengeluarkan hpnya. “Hari ini kau ada rapat mingguan dengan dewan direksi, pukul 9 nanti. Lalu akan ada rapat dengan tim pembangunan project resort di Ulsan, yang dilanjutkan dengan pemilihan design resort yang juga akan diikuti oleh dewan direksi. Ah iya, kau juga harus ke Yongin Sooji-ah, memantau pembangunan komples condominium di sana.”

Sooji mengangguk. “Ada lagi?”

“Baru saja Woohyun sunbae menghubungiku. Kau juga harus menemuinya. Ada beberapa hal terkait keputusan mengenai project di Ulsan yang ingin dia bicarakan. Dia bilang di rumah juga tak masalah asalkan kau mengingatkannya karena dia sering lupa”

Sooji berdecak, dasar Woohyun. “Oke, ada lagi?”

“Itu saja sepertinya.”

Gomawo. Kau boleh kembali ke ruanganmu.”

Hyeri mengangguk kemudian membungkukkan tubuhnya sedikit sebelum melangkahkan kakinya keluar. Dan lagi-lagi Sooji menghela nafas.

“Bagaimana harimu?”

Sooji tersadar dari lamunannya ketika terdengan suara derit kursi di depannya dan seorang namja yang menanyakan harinya. Kim Sunggyu.

Sooji mendengus. “Sedang apa kau di sini?”

Sunggyu mengangkat sebelah alisnya. “Makan tentu saja. Memangnya apa lagi?”

Sooji kembali mendengus. “Iya, tapi kenapa di sini?”

Saat ini Sooji memang sedang makan siang – meskipun makanan di depannya belum tersentuh sama sekali – di restoran china yang cukup jauh dari kantornya. Sooji memang sengaja tidak makan siang di kafetaria kantornya karena merasa sangat penat setelah 2 rapat yang benar-benar menyita energinya, pemilihan design tadi benar-benar berlangsung alot.

Sunggyu terkekeh. “Memangnya tidak boleh? Bukankah seharusnya aku yang bertanya begitu? Biasanya sajangnim hanya makan di kafetaria kantor.”

Sooji diam tidak menjawab. Yang dikatakan Sunggyu memang benar apa adanya.

Sunggyu mengangkat tangannya memanggil pelayan untuk memesan makanan. Setelah menyebutkan pesanannya dan pelayan sudah meninggalkan meja mereka, Sunggyu kembali menatap Sooji – yang terlihat masih kesal dengan kehadiran Sunggyu.

“Kenapa kau menatapku seperti itu?”

“Siapa yang memperbolehkan kau duduk di situ?”

Sunggyu kembali mengangkat alisnya kemudian tersenyum miring. “Tidak boleh ya?”

Sooji kembali menghela nafas kemudian mengangkat sumpitnya “Terserahlah.”

Sunggyu kembali tertawa. Tak lama kemudian pesanan Sunggyu datang. Sunggyu meyendok supnya kemudian menyesapnya perlahan.

“Jadi… Bagaimana harimu?” Tanya Sunggyu lagi.

Sooji menghentikan kunyahannya begitu mendengar pertanyaan Sunggyu. Matanya menyipit menatap busajangnimnya.

“Kenapa memangnya?”

Sunggyu meletakkan sendoknya kemudian meminum air mineral yang dia pesan.

Geunyang.. kau terlihat tidak terlalu baik.”

Sooji diam. Selera makannya kali ini benar-benar lenyap.

“Kau tidak perlu ikut campu urusanku, Sunggyu-shi. Dan aku baik-baik saja, terimakasih.”

Sunggyu menatap Sooji lekat-lekat. Menatap bagaimana mata Sooji yang sudah seperti zombie.

“Kau tidak baik-baik saja Sooji.”

Sooji diam tidak menanggapi ucapan Sunggyu. Tenggorokannya tercekat karena apa yang dikatakan Sunggyu benar.

“Kau tidak baik-baik saja dan tidak akan menjadi lebih baik sampai kau mengakui keadaanmu sendiri”

Geumanhae,” bisik Sooji.

Namun Sunggyu tidak berhenti meskipun dia melihat mata yeoja di depannya mulai berkaca-kaca.

“Kau tidak akan lebih baik sampai kau memaafkan dirimu sendiri, Sooji-ah.”

“Sungyeol pasti sudah memaafkanmu, Sooji. Kini giliranmu yang memaafkan dirimu sendiri.”

Detik itu juga air mata Sooji meluncur perlahan.

 TBC-

a/n

Annyeong lagi chingu!

Jeongmal gomawo buat semua commentnya, jadi ngerasa bersalah kemarin naro tbc ga tepat banget kkk mianhae~

Ini udah agak panjangan kan? Hehe. Semoga ngefeel yaa

Drop comment yaa, kritik dan saran aku terima

Mian for typos or anything

Please enjoy :3

98 responses to “Mistakes and Regrets #7

  1. Saking sukanya sa ff yg ini, aku ampek baca part ini berapa kali thor, keren bgt ff nya…gomawo author, sebelumnya ku juga udah prnh komen kkk

  2. Pingback: Mistakes And Regrets #11 | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

  3. Aku lama gak buka ff disini thor, aku juga lupa baca ff ini terakhir episode brp,, jd aku flashback lagi ceritanya,,hehe
    Tp kayaknya yg ini udh baca 😂

  4. Pingback: Mistakes and Regrets #12 | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

  5. Pingback: Mistakes and Regrets #7 | Splashed Colors & Scattered Words·

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s