It’s Love, but? (Chapter 12)

cp006

It’s Love, but? (Chapter 11)

Kiyomizu Mizuki’s Storyline

Main Cast : Bae Suzy [Miss A’s Suzy] – Kim Myungsoo [INFINITE’s L] – Park Jiyeon [T-ARA’s Jiyeon] || Genre : Romance, Fluff, Comedy, Friendship, Hurt/Comfort, and Sad || Rating : PG-15+ || Length : Chaptered || Disclaimer : Plot and story is mine. I’m sorry if there same any title or characters. Main cast belong to God, their parents, and their agency. I’m sorry if there’s any same title or characters. This is just a fan fiction. Sorry if you find typo(s)

Big thanks to Kiyorel @ Cafe Poster for amazing poster!

Previous Chapter : Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8 | Chapter 9 | Chapter 10 | Chapter 11

Enjoy Reading ^^ !!

.

.

.

Myungsoo langsung membuka pintunya dan menarik lengan kekar milik Hoya sebelum pemuda itu benar-benar menghilang dari tatapan nya. Sebenarnya Myungsoo hanya ingin memanggil Hoya, dia kira pemuda itu hanya berjalan dengan lambat sehingga memudahkan Myungsoo untuk memanggilnya lagi. Tapi, karena Hoya berjalan sedikit jauh, Myungsoo segera keluar dari kamar dan menarik lengannya. Dia berencana hari ini, ingin berdiam diri di kamar saja.

“Sudah ku duga,” gumam Hoya, dia langsung menyunggingkan smirk andalannya.

“Kau ingin bicara apa hyung? Segeralah,” Myungsoo berkata dengan sedikit enggan, raut wajahnya belum ikhlas jika ada keberadaan Hoya disini. Salahkan saja rasa penasarannya yang sudah menjadi-jadi. Myungsoo langsung berpura-pura memandang sekelilingluar kamarnya, dia terlalu malu untuk bersitatap dengan Hoya, walaupun pemuda itu sudah di kenal nya bertahun-tahun. Myungsoo langsung menyembunyikan wajahnya di balik pintu, kalau seperti ini sudah terlihat kalau Myungsoo masih gugup.

Pemuda Lee yang usia nya lebih tua dari Myungsoo itu langsung terkikik geli melihat tingkah lakunya. Persis seperti anak SD yang baru saja mengalami pubertas kemudian merasakan rasa cinta pertama. Baiklah, Hoya memaklumi sikap Myungsoo yang seperti ini. Dia tahu betapa gugup nya Myungsoo saat kepergok beraksi semalam. Semalam dia hanya menjahili Myungsoo saja, dan semua itu juga tidak di rencana ‘kan nya dari awal. Hanya tidak sengaja saja, matanya menangkap bayangan tubuh tegap Myungsoo. Mungkin saat itu, Myungsoo tidak sadar kalau Hoya sudah mulai sadar ada keberadaan nya. Hoya langsung menggelengkan kepalanya, “kau masih malu padaku Myungsoo? Aku tidak menyangka kalau hanya kejadian sepele semalam benar-benar mengubahmu.” Ujar nya.

Myungsoo langsung membulatkan matanya dan menarik lengan milik Hoya lagi. Dia hampir lupa kalau pembicaraan Hoya tadi memang penting, jadi dia langsung menarik lengannya saja sebelum ada yang mendengar pembicaraan mereka. “Pelan-pelan saja Myungsoo, kau masih terlihat gelisah.” Tegur Hoya.

Myungsoo mencondongkan jari telunjuknya tepat di depan wajah Hoya, pandangannya benar-benar masih terbesit rasa kesal. “Kau kata masalah sepele? Ini bukan masalah sepele saja hyung! Kau tahu ‘kan kalau aku itu sangat malu jika ada rahasia ku yang terbongkar? Jika Suzy dengar bagaimana? Harusnya tidak ada Woohyun hyung saat itu dan kau juga akan mengunci mulutmu ketika kau mulai menyadari keberadaan ku. Ini bukan masalah kecil saja hyung, sudah ada dua orang di dorm ini yang mengetahui kalau aku mulai menyukai seseorang. Dan itu adalah Suzy!” kata Myungsoo menggebu-gebu. Myungsoo bahkan lebih tenang jika wanita yang di sukainya itu berada jauh darinya, dia hanya menjadi seorang stalker untuk mengetahui keadaan sang pujaan hati. Tapi ini sekarang? Sangat berada dekat dengannya dan berada di sekitarnya! “Dan, kalau bicara jangan keras-keras! Kalau sampai anggota Infinite yang lainnya tahu—kecuali Woohyun—aku bisa dibunuh Sunggyu hyung!” Myungsoo langsung mengunci pintu kamar.

Hoya masih bisa menghadapi sikap Myungsoo yang seperti ini dengan tenang. “Memangnya kenapa? Bukankah menyukai itu memang sudah hak setiap manusia? Tidak ada yang melarang Myungsoo, perasaan cinta itu memang sudah ditakdirkan oleh para manusia sebelum lahir ke dunia ini. Lagipula, tidak ada seorang pun yang boleh melarangnya. Kalau tidak ada yang seperti tadi, mana mungkin sekarang kau lahir dari rahim Ibu mu yang merupakan hasil cinta nya dengan Ayah mu? Begitu pula denganku dan anggota yang lainnya,” Hoya berusaha memberikan pengertian.

“Siapa yang sedang menyukai seseorang?” tanya Myungsoo santai. Seakan tidak terjadi apa-apa di dalam dirinya. Myungsoo menatap Hoya dengan enteng, apalagi wajahnya terlihat sangat meyakinkan. Tapi, jika di telusuri lebih jauh, raut wajahnya lebih dipaksakan dan bukan natural. Baiklah, sudah banyak yang tahu kalau kau adalah seorang aktor yang hebat Myungsoo! Jadi, tolong jangan perlihatkan akting mu sekarang. Hoya pasti juga tidak akan percaya meski kau sudah semampu mu mengeluarkan mimik wajah yang serius.

Hoya memijat pelipis nya. Frustasi. Sudah dibilang bukan kalau sehebat apapun Myungsoo dalam berakting, wajah asli nya di mata Hoya sangat terlihat. Ataukah dia harus memaksa Myungsoo supaya lebih mengakui perasaan nya? Myungsoo memang pendusta besar. “Aigo Myungsoo… kenapa kau tidak masih mau mengakuinya? Apakah semalam kemesraan ku dengan Suzy masih belum membuatmu cemburu buta?” ujar Hoya. Detik berikutnya Hoya langsung menahan tawa nya.

Myungsoo langsung terkesiap dengan ucapan Hoya tadi. “Apa katamu?” Kening Myungsoo berkerut. Lama-kelamaan Myungsoo merasa kesal dengan Hoya, kenapa hyung-nya itu masih saja bisa memaksanya untuk mengungkapkan perasaan yang sebenarnya? Rasanya dia sangat penasaran sekali dengan soal percintaan Myungsoo. Itu ‘kan soal Myungsoo sendiri, kenapa Hoya ikut campur—ralat, maksudnya membantumu. Tapi tidak dengan seperti itu juga.

“Sekarang kau masih mau berpura-pura? Aku boleh berucap jujur kalau kejadian semalam benar-benar membuktikan dirimu benar-benar sudah jatuh ke dalam pesona Suzy alias jatuh cinta padanya,” Hoya langsung memberikan senyuman jenaka nya. Benar-benar sangat meledek. Selanjutnya, dia langsung menunjukan senyuman creepy nya yang lumayan menyeramkan.

Myungsoo langsung menatap tajam Hoya kembali. Setelah tadi dia berhasil melihat tingkah Hoya, entah itu wajah meledek atau yang lain nya. Dia langsung bisa menafsirakan kalau Hoya memang berniat mengerjainya. “Kau? Mengerjaiku? Hoya hyung?” Dan sekarang Myungsoo benar-benar tidak percaya dengan ini semua. Tadi malam dia tidak bisa tidur karena terlalu memikirkan ini semua dan gara-gara Hoya yang sengaja membuatnya cemburu buta?! Belum lagi masalah dengan mulut ember Woohyun yang tambah membuat perasaan Myungsoo menjadi gelisah. Menyebalkan.

“Kau tidak menyadarinya?” Hoya bertanya dengan wajah tanpa dosa nya. sebenarnya yang bodoh itu Myungsoo atau Hoya sih?

Mata Myungsoo memicing, daritadi perasaan nya juga mengatakan kalau Hoya memang sengaja mengerjainya. Dan benar saja. “YA!!!! Hoya hyung!!! Kau benar-benar menyebalkan!!!!” pekik Myungsoo kesal. Pria bermarga Kim itu langsung mengambil sebuah bantal dari sebelahnya, mendekati Hoya dengan berlari. Karena ulah Hoya semuanya menjadi seperti ini, sungguh! Myungsoo sangat kesal sekarang. Kalau boleh dia ingin memukuli Hoya terus menerus.

“Ya! Cukup Myungsoo, cukup! Aku menyerah,” Hoya masih menggunakan kedua tangannya untuk melindungi diri sendiri agar tidak mengenai pukulan maut Myungsoo. Masih saja Myungsoo terus memukulinya. Sekarang dia hanya bisa menggunakan tangannya sebagai penyelamatan. Tapi, kalau Hoya boleh jujur, tenaga Myungsoo dalam memukul menggunakan benda yang empuk cukup bagus. Karena, dia merasa kesakitan sekarang. Hoya mengaku kalau dia memang menyebalkan.

“Dasar hyung menyebalkan!!!!!!” rutuk Myungsoo. Dia masih tetap setia pada memukul Hoya yang meski sekarang sudah pasrah dengan perlakuannya, namun masih saja melindungi diri. Masa bodoh sekarang Hoya merasa kesakitan pada bagian lengannya, yang penting masih aman. Myungsoo menggunakan alat yang berbahan empuk untuk ‘melukai’ Hoya. Ini juga tidak berlebihan.

“Myungsoo, berhenti! Dengarkan aku dulu! Kalau bukan karena rencakan ku semalam, mana mungkin kau bisa yakin dengan perasaan mu sendiri! Kalau kau memang sudah jatuh cinta pada Suzy! Aku tahu, kau itu bukanlah tipe orang yang belum bisa yakin kalau kau memang sudah jatuh cinta pada seorang wanita.” Hoya langsung menarik benda empuk yang dipakai Myungsoo, dia tahu kalau Myungsoo masih berniat untuk ‘melukai’ nya lagi. Jadi, sekarang Myungsoo tidak menggunakan bantal lagi untuk memukul nya.

“Tidak juga. Aku sudah merasakannya sejak lama,” Myungsoo berkata tanpa sadar sembari meleletkan lidahnya. Meledek Hoya yang mungkin salah penafsiran dibalik kata-katanya tadi. Kalau boleh jujur, dari dulu memang Myungsoo pernah merasakannya. Tapi, dia belum bisa percaya. Masa’ dia harus jatuh cinta pada wanita yang membuat kehidupannya menjadi jungkir balik dan bertambah aneh lagi? Belum lagi Suzy adalah tipe wanita pembuat masalah dan dulu hampir membuat kepala Myungsoo seakan pecah. Apalagi, dia terus yang di marahi oleh hyung nya yang lain karena telah lalai menjadi Suzy.

“Apa?!” Hoya melebarkan matanya kala mendengar penuturan blak-blak kan Myungsoo tadi. Hoya langsung sedikit mendekatkan dirinya pada Myungsoo. Dia ingin lebih mendengar lagi apa yang di ucapkan oleh dongsaeng nya sekarang. Entah kenapa, sekarang Hoya benar-benar merasakan sikap Myungsoo yang telah berubah. Tidak seperti dulu. Mungkin sedikit lebih—gila? Oh yeah, apalagi kalau bukan kata tadi. Sudah sering melamun sendiri, senyum-senyum sendiri, dan yang lainnya. Diantara anggota lain, sepertinya Hoya yang paling peka.

Myungsoo ikut melebarkan matanya. Beberapa detik kemudian setelah dia mengucapkan kata itu, dia sadar apa yang telah di ucapkan nya tadi. Myungsoo terdiam, tangan nya yang tadi sibuk melayang di udara sekarang sudah berpindah tempat. Menutup mulutnya. Dia merasakan pipi nya memanas sekarang. Pengakuannya yang secara tidak sadar itu lah, berhasil membuat pria ini malu setengah mati. Kalau boleh berucap jujur, Myungsoo belum pernah berkata jujur seperti tadi. Dan ini lah pertama kalinya, biasanya Myungsoo tidak mementingkan perasaan suka yang tumbuh di dalam hatinya, dia hanya membiarkannya saja, hanya menunggu waktu yang seiring berjalan. Sulit bagi Myungsoo untuk berkata jujur, apalagi kalau soal perasaan.

“Tapi hyung? Ada yang masih menjanggal pada perasaan ku,” Myungsoo menunduk.

“Tapi kenapa?” Hoya mengangkat salah satu alisnya. Wajah heran yang sekarang dia tampakan, beberapa detik kemudian, terdengar helaan napas darinya. “Kau masih tidak yakin karena ‘dia’ ? Lupakan saja dulu.” Saran Hoya, nada suaranya masih terdengar rendah. Dia tahu, takutnya Myungsoo masih terjebak dalam masa lalu nya.

“Apa ya aku harus melupakannya?”

“Entah. Ikuti saja kata hatimu Myungsoo. Aku tidak bisa terbuat banyak.”

“Kalau begitu,” Hoya segera merangkul Myungsoo yang ada di sebelahnya. “Cepat. Menyatakan perasaan mu pada Suzy.” seru Hoya dengan penuh semangat yang membara dalam dirinya. Dia sangat mendukung apa yang terbaik bagi Myungsoo dan anggota lainnya, apalagi kalau cinta atau perasaan.

Hyung, kau tidak sadar dengan kata-kata mu tadi?! Gila kau hyung?” Myungsoo berucap dengan wajah terkejut. Ekspresi wajahnya tadi yang sangat murung, menangkupkan kedua belah pipi nya dengan tangan, sekarang penuh dengan kekejutan. Berlebihan. Matanya kembali memicing, menatap sepasang mata tajam milik Hoya. Pandangan menyelidik. Tumben sekali Hoya sangat semangat mendukungnya. Biasanya ‘kan Hoya cuek. Apa jangan-jangan karena kejadian semalam?

“Aku tidak gila,” kata Hoya ketus. Kemudian tangannya mengangkat, menjitak kepala Myungsoo yang suka seenaknya berbicara. “Kalau kau memang sudah merasa jatuh cinta padanya, segera nyatakanlah. Aku tidak mau kau menyesal di kemudian hari Myungsoo. Lebih cepat lebih baik, sebelum Suzy di ambil oleh orang lain. Dan, jangan salahkan aku jika hal itu terjadi.” Hoya berucap, sekaligus memicingkan matanya. Kali ini, dia merasa yakin kalau ucapannya memang benar. Lakukan lah yang terbaik, sebelumnya semuanya malah menjadi suram karena kau terlalu lama menunda nya.

“Tidak! Memalukan sekali,” elak Myungsoo, helaan napas terdengar darinya. Mungkin karena terlalu banyak menggunakan tenaga nya, tentu saja dia langsung merasa lelah. Kini, dia sudah tidak memukuli Hoya lagi. Pasti, Hoya akan menahannya lagi untuk berhenti.

“Memangnya kenapa lagi? Kau takut anggota Infinite yang lain tidak menyetujui keputusanmu? Kau takut Sunggyu hyung memarahimu?” Hoya seakan bisa menebak apa yang berada dalam isi pikiran Myungsoo. Dia langsung melatakan tangannya pada pundak tegap Myungsoo, “kalau boleh berucap jujur. Kau itu munafik pada perasaan mu sendiri Myungsoo dan tidak punya keberadaan bagaimana seorang pria. Jangan memikirkan bagaimana reputasi mu di mata Suzy nantinya, tidak hak manusia untuk melarang manusia untuk jatuh cinta.” Hoya berucap. Dia tahu kalau ucapannya tadi—sedikit—memojokan Myungsoo. Semoga saja dalam benak Myungsoo, itu hal yang benar.

Myungsoo mendongak, menatap dalam manik mata Hoya yang memancar. Bola mata berwarna kecoklat hitaman itu memandangnya yakin. Seakan tidak ada keraguan dan penuh dengan kedukungan. “Aku tahu,” Myungsoo berucap lirih. Mengakui perasaan nya tadi. Untuk tadi, menjawab pertanyaan Hoya yang kedua. Myungsoo menganggukan kepalanya pelan, menjawab pertanyaan Hoya yang pertama.

“Kau tenang saja. Aku yang akan mengurusnya. Aku berani jamin, kalau semua anggota Infinite akan menyetujui apa yang sudah menjadi keputusanmu, jika itu yang terbaik. Lagipula, kalau dilihat sebenarnya Suzy itu baik. Walaupun dia ceroboh dan—sedikit—dingin dan jutek, tapi dia memiliki hati yang hangat sebenarnya. Dan, aku yakin! Tidak ada alasan anggota Infinite tidak menyetujui kalau kau ber pacaran dengan Suzy,” Hoya mengangguk mantap. Dia langsung mengusap pelan, pundak Myungsoo yang tadi dia rangkul.

“Berpacaran?! Aku rasa kau memang sudah bertambah gila hyung,” cemooh Myungsoo lagi. Untuk kesekian kalinya Myungsoo terkejut dengan ucapan dari Hoya.

“Kenapa? Kau tidak mau menjalani hubungan Suzy? Atau…. Kau takut Suzy tidak menyukaimu?” tanya Hoya lagi. Dia kembali berusaha menebak apa yang ada di pikiran Myungsoo untuk tidak menyatakan perasaan nya.

“Bisa dibilang begitu. Kau tahu sendiri ‘kan bagaimana sikap ku padanya? Aku merasa dia pasti tidak menyukaiku karena sikap mu yang tidak baik,” sahut Myungsoo lemas. Rasanya Myungsoo sudah mulai merasa kalau perilaku Myungsoo pada Suzy selama ini memang tidak baik. Sekarang dia yang menjadi salah sendiri, kenapa tidak dari dulu Myungsoo merasakannya? Habis itu dia akan memperbaiki semuanya. Sekarang sudah tidak bisa. Tapi, entahlah. Myungsoo merasa kalau sudah tidak ada harapan lagi untuknya.

Hoya berdecak. “Aku lupa berucap kata ini. Aku baru sadar kalau kau lemah dalam urusan cinta, Myungsoo. Apa kau tidak mampu membaca dari tatapan Suzy ketika dia memandangmu? Jelas-jelas dia yang menyukaimu. Astaga! Apa kau tidak terlalu peka atau bagaimana?” Hoya memandang malas kearah Myungsoo. Ini siapa yang sebenarnya tidak peka? Myungsoo atau Suzy? Keduanya sama-sama mempunyai perasaan sedingin es. Tapi akan leleh ketika di tempur oleh perasaan cinta.

Myungsoo memutar bola matanya. “Sejak tadi kau memang seperti seorang peramal saja hyung. Seolah kau tahu semua apa yang di rasakan orang lain. Kenapa kau tidak berubah posisi menjadi peramal saja hyung?” Myungsoo melayangkan senyuman jenaka nya. Dia sedikit mencairkan suasana diantara mereka. Menurut Myungsoo, suasana nya bersama Hoya terlalu banyak ber selisih satu sama lain. Myungsoo bersedekap. Entah kenapa dia merasa kalau Hoya sangat cepat tanggap soal perasaan, tidak seperti dirinya yang ragu.

“Bodoh,” Hoya menjitak kepala Myungsoo lagi. “Aku tidak sedang meramal. Aku hanya mengatakan apa yang sebenarnya sudah aku lihat,” Hoya berkata dengan tenang. Dia bersedekap, memandang Myungsoo lagi. Segera meminta jawaban darinya.

Myungsoo terdiam, dia masih mencerna apa yang di katakan oleh Hoya. Dia memikirkan perkataan Hoya yang tadi di ucapkan oleh nya. Apa semua yang di katakannya itu benar? Kalau Myungsoo jujur, setelah dia pikir-pikir. Semuanya memang benar, ternyata selama ini Hoya memperhatikannya ya? Tapi kenapa dia tidak sadar juga? Apa karena terlalu lama berdebat dengan Suzy?

Sungguh, Myungsoo masih tidak yakin kalau Suzy menyukainya? Seharusnya salah, tidak mungkin sosok Suzy yang baik serta polos itu jatuh cinta pada pria macam Myungsoo yang selama ini telah melakukannya dengan tidak baik. Myungsoo juga memikirkannya, kalau sampai anggota Infinite dan Sunggyu tahu dia menyukai Suzy atau bahkan sampai menjalani hubungan dengannya. Apa reaksi mereka?

Apa benar yang selama ini dia pikirkan kalau sampai Sunggyu marah dia menjalin hubungan yang lebih? Sebenarnya, Myungsoo sendiri juga tidak tahu apa alasan yang tepat jika Sunggyu marah padanya atas apa yang dirasakannya. Benar juga apa yang di ucapkan Hoya, menyukai seseorang itu hak manusia. Tidak ada yang bisa melarangnya atau mencabut hak itu. Cinta itu random. Tidak bisa di paksakan. Semuanya sudah terjadi secara otomatis dan memang sudah di takdirkan untuk manusia. Hanya satu permasalahan yang masih menganggu pikiran Myungsoo, dia seorang idola terkenal. Bisa saja, berita nya berpacaran sudah tersebar luas. Mengingat banyak paparazzi yang selama ini sering mengawasinya.

Jika semua ini terbongkar, menjalani hubungan lebih dari kalangan masyarakat akan menjadi berita besar akan terus menjadi trending topic di dunia sampai semua masalah itu selesai setelah mendapat konfirmasi resmi dari dia sendiri dan agensi. Yang terutama akan menyangkut agensi yang di naungi Myungsoo sekarang. Rasanya memang terasa berat, tapi mau bagaimana lagi? Tidak bisa juga. Semuanya memang memusingkan. Di sisi lain memang baik, tapi di sisi lain harus lebih di pikir-pikir lebih jernih dulu.

“Tidak usah di pikir lebih jauh dulu,” Hoya menepuk pundak Myungsoo. Menyadarkan pria itu dari lamunan nya yang cukup panjang. Sedaritadi Hoya memang sudah melihat sesuatu yang sibuk di pikirkan oleh Myungsoo. Dia tahu apa yang di pikirkan oleh Myungsoo dan apa penyebab yang telah menganggu pikiran pria itu. “Lakukanlah apa yang kau inginkan. Kau ingin menyatakan perasaan mu pada Suzy? Lakukan saja. Jangan sampai kau menyesal, waktu tidak akan bisa terulang lagi kecuali ada seorang manusia yang snagat pintar membuat mesin waktu. Lakukan lah semua itu sebelum terlambat, setelah kau merasa kalau itu akan membawa pengaruh baik bagimu.” Hoya kembali menyemangati Myungsoo yang di rasanya sudah pesimis duluan.

Myungsoo menatap kembali mata Hoya. Dia merasa kalau dia sedang terjebak di dalam manik mata kecoklat hitaman milik hyung-nya. Wajah nya sama sekali tidak menunjukan sebuah ketidak ikhlas kan dalam mengucapkan kata tadi. Yang dilihat Myungsoo hanya sebuah wajah dan tatapan mata yang tulus, seperti tersirat sangat mendukung jalan yang telah di ambil Myungsoo. Apalagi jika itu jalan terbaik yang di lakoni oleh nya. Baiklah, sampai sekarang Myungsoo belum bisa melihat sesuatu yang buruk. Semua yang dipandangnya sangat baik.

“Aku akan membantumu Myungsoo! Apa saja! Dan, kapan saja!”

Beberapa saat kemudian setelah Hoya mengucapkan kata tadi. Terdengar sangat tulus, tanpa ada keraguan dari ucapannya. Myungsoo menyunggingkan sebuah senyuman senang, raut wajahnya yang tadi sempat murung sekarang kembali menjadi cerah. Hatinya kini terasa lebih tenang daripada yang tadi, dia sempat gelisah dan pikirannya bercabang kemana-mana. Dan itu penuh dengan semua permasalahan dan pikiran. Nampaknya Myungsoo sudah tahu jawaban dari semua pertanyaan yang tadi sempat menjadi tanda tanya. Dan dia, juga sudah tahu apa yang akan di lakukannya nanti.

.

.

.

Cinta itu terkadang sulit di ungkapkan.

Cinta akan terasa lebih nyata ketika seseorang sudah melakoninya atau menunjukannya.

Cinta mungkin sulit di baca.

Namun, kita dapat merasakannya.

Entah itu getaran dalam dada atau merasa cemburu saat gebetan kita dekat dengan seseorang.

Kita bisa merasakan betapa besar cinta ini untuk nya.

Suzy mengerang pelan, dirasakannya sinar matahari yang terik mulai menembus kulitnya. Dengan jahil, cahaya itu malah bermain pada celah-celah jendela yang kini masih tertutup oleh gorden, jadi sinar itu tidak akan terlalu terasa silau. Tapi, tetap saja, sang wanita penghuni ruangan ini juga dapat merasakan betapa silau nya cahaya matahari pagi—yang sebenarnya baik untuk tubuh. Suzy mengerjab-gerjab matanya, berusaha menyesuaikan berapa sinar yang harus masuk ke retina matanya. Suzy perlahan membuka matanya, sinar matahari yang kini lebih menembus matanya itu harus memaksa Suzy mengalangi sinar itu dengan telapak tangannya yang terangkat ke udara. Tapi, sinar matahari ini terasa lebih panas dan menyilaukan daripada sinar matahari pagi yang biasanya terasa hangat dan belum terlalu terang.

Aigo, jam berapa sekarang ini?” gumam Suzy, tangannya masih meraba-raba kearah meja sampingnya untuk menemukan jam yang sekarang dia cari. Matanya masih setengah terututup, jadi dia hanya menggerakan tangannya saja. “Oh. Jam sebelas pagi,” Suzy mengucek-ucek matanya, melihat jarum pendek jam itu menunjukan kearah sebelas. Tunggu? Apakah wanita itu tidak sadar apa yang telah dia lihat? Mungkin otak Suzy sekarang masih ‘tidur’ jadi dia belum menyadarinya. Tunggu saja beberapa menit, pasti otak nya akan kembali ‘sadar’ dan juga tidak lama.

Connected.

“Tunggu. Jam berapa tadi?” Suzy membuka matanya tadi. Lirikan matanya langsung terarah pada jam yang sudah dia taruh kembali ke tempat asal. “MWO?! INI KAN SUDAH JAM SEBELAS PAGI!! KENAPA AKU TIDAK MENYADARINYA?!!” dia langsung meloncat dari kasur. Sudah dibilang bukan? Kalau otak milik gadis Bae itu akan kembali tersambung. Kalau di dengar-dengar memang seperti internet saja. Kalau sinyal lemah, pasti loading nya akan lama. Dan itu akan terjadi sebaliknya. Eh?

“TADI KAN AKU SUDAH MENGUCAPKANNYA!! Apa aku yang salah lihat atau salah ucap,” Suzy kembali memundurkan tubuhnya. Dia masih belum yakin dengan apa yang dia lihat dan di ucapkannya tadi. Sontak, dia langsung melebarkan matanya kalau semua ini memang nyata dan bukan dia yang salah lihat. Dengan cepat, Suzy langsung sedikit membereskan kamar milik Sunggu dan berjalan keluar kamar dengan rambut yang masih berantakan. Dia masih diliputi perasaan yang shock. Berlebihan.

Sekarang, Suzy mengangkat satu alisnya dengan wajah yang heran. Saat dia sudah menutup pintu kemudian menyusuri beberapa ruangan yang dekat dari kamar Sunggyu, dia hanya mendapat keadaan dorm yang sunyi senyap. Apa mungkin semua anggota Infinite masih tertidur? Atau mereka sudah pergi? Suzy kembali menuju kearah dapur, dia kembali mendapat tanda-tanda tidak orang yang habis memasak. Peralatan masak yang bisa dipakai itu masih tersimpan dan tergantung dengan rapi. Tidak ada sedikit noda atau piring-piring disana. Atau kah mereka sudah membereskan nya hingga se-rapi ini? Tidak mungkin. Kalau mereka habis sarapan langsung pergi, tidak ada waktu untuk membereskan hingga tidak ada noda sedikitpun. Apalagi mereka idola yang di kejar oleh jadwal yang padat. Sekali lagi, Suzy menyernyit. Kenapa hari ini dorm Infinite seperti tidak berpenghuni saja? Ada memang penghuninya, tapi merasa hanya Suzy saja sekarang yang menempati.

Seperti ada sebuah magnet tarikan yang mendorong Suzy untuk berjalan kembali, tepatnya langkah itu berjalan ke sebuah kamar. Kamar yang sejak kemarin sama sekali belum dia masuki, padahal selama ini Suzy sangat sering menghabiskan waktunya di dalam sana. Kamar yang entah kenapa sangat nyaman ketika dia tempati. Kamar yang pertama kali dia tempat di dorm ini. Kamar Myungsoo.

Wanita ini masih di selimuti rasa ragu, Suzy mendekati kamar Myungsoo dan memegang knop pintu itu dengan tangan yang bergetar. Sesekali terbesit dipikiran nya untuk memasuki kamar serba biru-putih itu, namun masih ada rasa ragu di dalam batinnya. Padahal doronagn itu sangat besar. Entah kenapa Suzy sangat merindukan kamar Myungsoo, di dalam sana dia merasa sangat tenang dan nyaman. Di kamar Sunggyu tadi, dia juga merasa nyaman. Tapi tidak se-nyaman di kamar Myungsoo. Rasanya, dia sudah sangat akrab dengan kamar milik pria bernama lengkap Kim Myungsoo itu.

“Apa Myungsoo masih tidur di dalam?” gumam Suzy sembari berpikir.

Walau rasa ragu itu masih bermunculan, tapi Suzy sangat ingin masuk ke dalam sana. Akhirnya wanita ini memutar knop pintu yang di pegang nya dan mendorong nya dengan pelan. Suzy melangkah masuk, aroma khas Myungsoo mulai menyerbu indra penciuman nya. Aroma ini lah yan sangat dia rindukan. Suzy kembali melanjutkan langkahnya yang tadi sempat tertunda, jemari nya sudah terlepas dari knop pintu yang tadi dia pegang.

Hasil dia dapatkan pun sangat berbeda. Sunyi dan kosong. Alat pendingin ruangannya pun masih di nyalakan. Sekali lagi, Suzy terasa heran ketika tidak menemukan Myungsoo di dalam sana. Hal yang seharusnya dia dapati kini telah hilang, biasanya Myungsoo masih terduduk disini. Berdiam diri dan menghindarinya. Sekarang kamarnya pun juga berantakan sprei, selimut, dan bantal juga menyebar kemana-mana.

“Kemana dia?” Dahi Suzy mengernyit, dia mulai mendekati ranjang milik pria itu.

Wanita itu ber-inisiatif untuk segera merapikan tempat tidur Myungsoo yang begitu berantakan, sehingga tidak enak di pandang mata. Suzy lalu duduk di pinggir ranjang Myungsoo. Matanya menyusuri sekeliling sudut kamar Myungsoo. Yang lainnya memang terlihat rapi, tapi tidak dengan ranjang tempat pria pemilik kamar ini berbaring. Seperti mencari sisi lain dari sang pemilik kamar. Suzy sendiri tidak tahu apa yang dilakukannya sekarang, kenapa perasaannya seperti merindukan pria itu? Baru kemarin mereka saling menarik diri. Ya, semua ini terjadi karena kecerobohan Myungsoo yang seenaknya menyanyi untuk dirinya.

Tuk!

Kaki nya yang sedaritadi terayun-ayun di udara, sekarang sudah terantuk meja yang terletak di samping ranjang. Suzy menoleh, kakinya terasa sedikit sakit terkena ujung meja. Kemudian, matanya tidak sengaja menangkap sebuah benda. Yang sekarang tengah menjadi objek yang di pandanginya. Sebuah buku. Yang telah menarik perhatian Suzy, seperti ada dorongan dalam batinnya untuk melihat-lihat apa isi di dalam nya. Dia langsung mendekatan wajahnya pada buku tersebut.

Itu seperti sebuah album yang tergeletak begitu saja di lantai—effect karena letak nya tadi sedikit berada di pinggir meja—dan tempat jatuh nya berada tepat di samping meja yang menyebabkan kaki nya sakit tadi. Suzy meraih album itu, sekarang rasa penasarannya sudah terasa sangat besar. Album itu berwarna biru laut, di cover nya juga tertulis tulisan hangul yang di tulis oleh tangan yang sangat rapi. Mata nya meneliti setiap seluk beluk album yang masih tertutup dengan rapi itu, Suzy belum membukanya. Wajahnya masih terlihat bingung, tadi sebenarnya Suzy tidak sengaja menendang-nendang kaki nya kecil di udara. Tahu-tahu nya kaki suda terantuk meja.

Sides of Myungsoo?” Suzy bergumam, membaca setiap tulisan hangul itu yang bertinta merah muda. Sekarang, hatinya kembali di gelayuti rasa penasaran yang berlebih daripada yang tadi. Seperti ingin mencari sesuatu yang lebih dalam diri seorang Kim Myungsoo. Tangan nya mengangkat, perlahan membuka lembar halaman pertama. Yang kemudian di sambut oleh tulisan berbahasa Inggris yang juga tertulis tangan dengan rapi, menggunakan sebuah tinta berwarna hitam.

My name is Kim Myungsoo. Born at Seoul, March 13 1992.

I’m just a little boy who wants to be good boy. Who wants loved and make everyone happy.

I love my family.

Eommanim, aboji, and my lovely brother! Kim Moonsoo.

Kim Myungsoo, handsome boy that love everyone!

Perlahan, sebuah senyuman terlukis di wajah Suzy. Dia terkikik kecil melihat tulisan pembukaan Myungsoo. Perkenalan dalam sebuah buku. Sangat lucu, mungkin pembukaan ini dia buat saat masuk duduk di bangku sekolah dasar dulu. Terdengar—tertulis, lebih tepatnya—sangat khas anak-anak saat itu, polos dan apa adanya. Tapi, entah kenapa hatinya malah terasa senang bisa membaca album yang seperti diary ini. Entah kenapa, Suzy malah menyukai tulisan Myungsoo yang seperti ini. walaupun sekarang dia sama sekali belum melihat rupa wajah Myungsoo, tapi hatinya cukup senang walaupun hanya bisa membaca tulisan milik pria itu. Rasanya dia seperti langsung berinteraksi dengan Myungsoo, yang penuh dengan canda tawa yang konyol mereka.

Helaan napas terdengar darinya, tangan Suzy kembali aktif untuk membuka lembar selanjutnya dari buku milik Myungsoo. Sekarang bukanlah sebuah tulisan, tapi sebuah foto yang tertempel di halaman kedua bukan seperti halaman pertama tadi yang dalam bentuk tulisan. Disana terdapat beberapa anak kecil sedang mengukir sebuah senyum yang hangat, namun penuh keceriaan di wajah mereka. Latarnya memang seperti foto zaman dulu, untung saja mata Suzy cukup jeli, sehingga dia masih bisa mengenali siapa saja yang berada di foto ini. Terletak di paling sudut bawah kanan tertulis: A Little Myungsoo ^^

Hanya sebuah foto sederhana yang menampakan wajah Myungsoo saat dia masih kecil dahulu, hati Suzy terasa begitu senang bisa melihat-lihat foto di buku ini. Setidaknya, wanita itu bisa mengetahui sisi lain Myungsoo saat masih kecil dulu. Tampaknya buku ini di gunakan olehnya sejak masa kecil atau sudah dewasa? Kemudian, Myungsoo mengumpulkan beberapa foto yang masih tersimpan di rumahnya. Kenangan foto saat dia masih anak-anak. Mungkin saja, Suzy sendiri belum tahu. Tapi, halamannya masih terlihat rapid an belum ada yang robek sedikitpun—ada memang, tapi hanya sedikit saja.

Suzy kembali mengaktifkan tangannya untuk membuka halaman ketiga dari buku ini. Kini tertera sebuah foto dua orang anak lelaki. Suzy menduga, salah satu diantara dua anak lelaki itu pasti Kim Moonsoo, saudara laki-laki Myungsoo. Keduanya tampak terlihat akrab satu sama lain disana, Suzy juga sudah menduga kalau masa kecil Myungsoo dulu pasti sangat dekat dengan sang kakak. Terlihat di foto sana, mereka saling memegang bola kemudian sang kakak merangkul tubuh Myungsoo yang sedikit lebih pendek darinya.

Sampai akhirnya…. Suzy terus menerus asyik mengorek (?) setiap halaman dari sana. Masih terdapat banyak foto-foto Myungsoo. Mungkin itu foto kenangannya yang dia simpan dengan sangat baik. Ada foto Myungsoo kecil saat sedang mandi, makan, belajar, bermain, dan tertidur. Foto-foto bersama keluarga Kim pun juga ada, wajah Myungsoo disana sangat terukir dengan bahagia. Mungkin masa kecil pria ini sangat bahagia. Sepertinya dulu, Myungsoo banyak sekali menyimpan kenangan tentang masa kecil nya. Kemudian dia menyimpan nya dalam gambaran sebuah foto.

Kini, Suzy sudah berhasil menemukan foto-foto Myungsoo sangat menginjak masa sekolah. Sudah saat masa kanak-kanak nya banyak foto, apalagi saat masa sekolah pria ini? Pantas saja, Myungsoo memilih sebuah buku yang bisa dibilang cukup menampung menyimpan foto-foto kenangannya ini. Suzy terkekeh pelan. Kalau boleh bilang jujur, Myungsoo tetaplah seorang lelaki yang tampan, apalagi sekarang? Ketampanan nya itu malah tambah melejit. Kkk~

Sampai akhirnya Suzy sampai ke halaman terakhir. Dia sendiri tidak sadar, dia kira masih banyak halaman dan menceritakan sosok Myungsoo disana. Sampai tidak sadar sudah sampai di halaman terakhir saja. Suzy sedikit terkejut, ketika matanya berhasil melihat sebuah foto berukuran sedang yang tertempel di halaman terakhir. Di foto itu….. Myungsoo terlihat memakai baju kelulusan sekolah menengah pertama, senyum bahagia sangat tercetak di wajahnya. Dan, terdapat seorang wanita disampingnya yang memandang Myungsoo dengan lembut, serta tersenyum sangat manis. Gadis itu juga memakai pakaian yang sama seperti yang di kenakan Myungsoo.

Suzy memandang foto itu saksama. Pandangannya meneliti foto itu, seakan tidak mau salah satu detail foto itu dia lewati. Layaknya seorang ilmuwan yang meneliti ramuan yang akan di coba nya. Suzy merasa, kalau wanita ini sudah tidak asing baginya dan terasa sangat familiar di matanya. Dia juga sepertinya pernah melihatnya, tapi tidak tahu kapan dan dimana. Ada perasaan aneh juga yang menggelayutinya sekarang, Suzy memegangi hatinya. Terselip rasa sesak, dan entah kenapa rasa nya dia sangat merasa….. Cemburu melihat foto itu.

Suzy menggelengkan kepalanya cepat, berusaha menyingkirkan perasaan cemburu itu yang mulai mendatangi dirinya. Kembali ke topik awal. Suzy mencoba mencari clue yang bisa membantunya untuk mengetahui siapa gadis yang ada dalam foto ini. Tetapi, Suzy sama sekali tidak melihat apapun yang bisa dia dapatkan. Suzy juga tidak menemukan tulisan yang di tulis tangan oleh Myungsoo seperti halaan sebelumnya. Beberapa curhatan atau seputar foto yang dia tempel.

“Bae Suzy, kau dimana?”

Tiba-tiba terdengar suara lelaki yang membuyarkan lamunan serta pikiran Suzy yang bercabang kemana-mana. Sontak, wanita Bae ini langsung menutup buku yang dia pegang kemudian mengembalikan keadaan semula dan menyusun nya di posisi awal, sehingga tidak ada yang tahu kalau ada yang membukanya. Suzy menaruhnya di loker besar yang ada di bawah meja Myungsoo.

“Suzy!!!!” suara itu kembali memanggilnya.

Suzy langsung beranjak dari pinggir tempat tidur Myungsoo, sekarang dia bingung untuk melakukan apa. Dia langsung memutar otaknya untuk mencari ide yang tepat, apa yang harus dilakukannya sekarang? Suzy merasa takut, kalau sampai ada yang menemukannya yang tiba-tiba di kamar Myungsoo. Padahal, semalam dia tidur di kamar Sunggyu. Takutnya mereka curiga kenapa Suzy bisa ada disini. Suzy mendengus, sama sekali dia belum menemukan cara apa yang tepat.

Samar-samar Suzy mendengar suara derap langkah itu mulai mendekat kearah sini. Anehnya, dia malah mendekati pintu itu dan berniat mengunci nya. Pasti, suara terkunci nya pintu itu pasti terdengar dan malah akan membuat curiga dan berpikiran macam-macam. Suzy segera mengurungkan niatnya, dan tetap saja juga tidak bisa. Suara langkah kaki itu juga semakin lebih terdengar. Suzy menggigit bibir bawahnya, takut. Dia tidak kunjungi menemukan apa ide yang tepat, sehingga dia juga tidak mengeluarkan alasan apapun.

Suzy langsung menjauh dari pintu kamar, dia menggenggam kedua tangannya. Berharap, ada seseorang yang bisa menunda orang itu. Kenapa otaknya tidak bisa berpikir dengan baik sih? Dan malah semakin membuat Suzy merasa sangat takut. Saking tegangnya, otaknya tidak bisa berpikir sekarang. Apalagi, knop pintu itu mulai bergerak perlahan. Dia malah semakin tegang. Menyebalkan!

“Suzy,” pria itu mulai membuka pintu kamar Myungsoo. Woohyun—sang pelaku—langsung terkejut ketika dia sudah membuka pintu kamar Myungsoo dan melihat seorang gadis yang sangat dia kenali tertidur di lantai kamar Myungsoo. Untung saja, karena lantai itu di lapisi karpet lembut. Sehingga Suzy tidak akan merasa kedinginan. Dahinya mengkerut, menandakan sebuah keheranan. Wanita itu, tertidur dengan rambut yang acak-acakan.

“Suzy, itu kau?” tanya Woohyun. Dia berjalan mendekati tubuh Suzy yang masih tergeletak begitu saja dilantai, dari raut wajahnya seperti wanita itu belum sadar denga kehadirannya dan tempatnya yang berubah. Dengan ragu, tangan Woohyun terangkat. Dia duduk bersimpuh sembari menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah wanita itu. Melihat siapa wanita yang tertidur disana, tidak mungkin ‘kan orang lain?

Omona,” seru wanita itu sebelum tangan Woohyun menyentuh rambutnya.

Aigo..” Woohyun berkata dengan wajah yang terkejut. Wanita itu tiba-tiba terbangun, sebelum kulit permukaan tangannya menyentuh rambut sang wanita. Meski, Woohyun sudah tahu kalau itu pasti adalah Suzy.

Hoammmm…. Woohyun oppa, sedang apa kau disini?” Suzy mengucek-ngucek matanya seraya menguap lebar. Seperti orang bangun tidur.

To be Continue

Akhirnya~~ Chapter ini di publish juga, maaf kalo kelamaan nunggunya ^^ Tapi sekarang udah keluar kok.. Jangan lupa tinggalkan comment kalian ya~ Jangan sampai lupa okeyy ^^

22 responses to “It’s Love, but? (Chapter 12)

  1. kelakuan myungsoo bener2 deh kaya anak kecil, bener kata hoya jgn sampai nanti menyesal… suzy melihat buku harian myungsoo dan ada foto seorang wanita?apakah wanita itu jiyeon?suzy patah hati ?apa nanti ada namja yg suka sm suzy ?trus buat myungsoo cemburu..kkk ditunggu next chapternya ..hwaiting

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s