A WHITE PAPER 03 [“I PITY YOU…”]

A White Paper

**************

Bae Suji; Lee Jongsuk; Kim Soohyun; Kim Myungsoo; Lee Jieun; Jung Soojung; Song Jaerim; Kim Soeun II kyunita11 II genre: melodrama, romance, angst II length : chaptered

******

03

“I Pity You,…”

******

  awhitep

Kim Soohyun sedang berada di dalam mobil van-nya setelah mengantarkan Jung Soojung pulang ke salon. Salah satu actor terbaik korea ini sempat khawatir melihat wajah pucat Soojung semenjak mereka meninggalkan StarAgency, tapi sang hairdresser tersenyum meyakinkannya bahwa dirinya akan baik-baik saja setelah beristirahat. Sebuah desahan keluar dari bibir Soohyun saat dia mengingat kembali tengkuk leher Soojung yang memiliki sebuah tanda lahir berbentuk bulan sabit.

‘Dimana ya aku pernah melihat tanda lahir seperti itu?’, batin sang hallyu star. Soohyun merasa kepalanya dipenuhi memori yang tiba-tiba keluar seperti pop corn yang baru matang akhir-akhir ini. Ia mencoba beranggapan bahwa hal itu terjadi karena dirinya terlalu kelelahan dengan jadwal pemotretan dan shot drama yang sangat padat semenjak kepindahannya ke managemen StarAgency kemarin.

Kemudian, Soohyun merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel, membuka aplikasi televisi dan menyaksikan tayangan talkshow paling popular setiap sore hari di korea saat ini, “K-Star Live”, yang sedang berlangsung. Episode hari ini adalah episode yang istimewa karena K-Star Live menampilkan wawancara eksklusif dengan seorang aktris legendaries korea yang juga ibu Soohyun di halaman rumah pribadinya.

“Nyonya Kim Sungryung, terima kasih anda mau menyempatkan waktu anda untuk acara K-Star Live…” sapa sang pembaca acara dengan ramah.

“nee… sudah lama sekali saya tidak tampil diacara talkshow seperti ini” jawab sang aktris yang kini sudah berusia lima puluh Sembilan tahun. Rambutnya berpotongan pendek diatas bahu dan lurus, dengan poni yang menutupi dahi, Kim Sungryung terlihat lebih muda dua puluh tahun dari usianya yang sebenarnya dikamera. Wajah wanita yang juga terkenal dengan julukan ‘Queen of Tears’ pada era 90an ini terlihat berseri dan bebas dari garis-garis halus, hal yang sangat mudah dilakukan dengan mudah di zaman serba modern ini dengan bantuan make-up.

“kapan terakhir kali anda tampil diacara selain drama seperti ini, Nyonya Kim?”

“hmm… sudah lama sekali… sekitar empat belas tahun, mungkin…”

Kim Soohyun mendesah pelan mendengar jawaban ibu yang ia kenal sejak empat belas tahun lalu itu. Ia pun menutup ponselnya dan menyandarkan kepalanya di kursi mobil sambil menutup mata.

“Soohyun-ah, kamu istirahatlah di apartemen… wajahmu kelihatan lelah” ujar Sungyeol dari balik kursi kemudi

“Yeol-ah, antar aku ke rumah nae omonim…”

“nyonya Kim Sungryung?? Waeyo?”

“molla, aku tiba-tiba merindukan nae omonim..”

“soohyun-ah, bukannya nyonya kim tidak begitu menyukaimu?” Sungyeol merasa keceplosan bicara dan buru-buru menambahkan, “hmm… maksudku kan, beliau tidak pernah menyuruhmu pulang kerumah semenjak kamu pindah ke apartemen”

“tapi aku kan tetap anaknya, yeol-ah… omma tidak pernah mengusirku dari rumah. Kau tahu sendirikan, Aku pindah ke apartemen kan supaya meringkas waktu ke lokasi stasiun tv”

“arraso. Tapi aku tidak bisa menjamin beliau mau langsung membukakan pintu pagar dalam waktu setengah jam saja. Kau ingat sendiri kan kita harus menunggu berapa lama sampai omonim-mu membukakan pintu?”

“bukankah kita sudah terbiasa, yeol-ah? Nae omma biasanya kan membuka pintunya untuk kita setelah dua jam…”

“ckk…” Sungyeol menggelengkan kepalanya karena tidak pernah paham dengan hubungan ibu dan anak satu ini.

******

Myungsoo mengayuh sepeda yang baru saja ia dapatkan dari Staragency tadi untuk menyusuri jalanan yang padat di daerah Gangnam sore ini sambil mendengarkan music dari headset yang tersambung ke mp3 playernya. Kopernya terikat rapi di boncengan sepeda belakang. Dipinggir jalan, ia banyak melihat coffee shop berjejer dan menawarkan berbagai menu special. Myungsoo ingat sekali tiga tahun yang lalu sebelum dirinya pergi ke amerika, coffee shop di jalanan ini masih bisa dihitung dengan jari.

Myungsoo membelokkan sepedanya masuk ke sebuah gang kecil yang berada dikanan jalan. Jalanan di gang ini sangat sempit hingga sebuah mobil tidak akan mungkin bisa melewatinya. Dari kejauhan Myungsoo bisa melihat sebuah papan tanda toko buah “FRESH” yang merupakan milik kedua orang tuanya.

Begitu tiba didepan toko rumahnya, Myungsoo segera turun dari sepeda, memarkirnya di samping toko, dan masuk kedalam toko sambil tersenyum. Di belakang kasir, ia bisa melihat ibunya sedang menghitung bon pembayaran seorang pelanggan dengan seksama dan tak menyadari kedatangan anaknya.

“Omonim..” sapa Myungsoo sambil mendekati ibunya.

Ibu Myungsoo, Nyonya Kim Hera, mengangkat wajahnya dari kertas bon, matanya terbelalak melihat anak lelaki kebanggaannya itu sudah pulang.

“Myungsoo-yaaa….!!” Ibunya segera menghambur keluar dari meja kasir untuk memeluk anaknya.

“omonim, sehat kan?” tanya Myungsoo yang masih mendekap hangat ibunya.

“bagaimana ibu bisa sehat??! Ibu benar-benar khawatir kamu tak kan pulang lagi, Myungsoo!!”  Nyonya Hera memukul dengan gemas pantat putra kesayangannya ini.

“appo…” rintih Myungsoo sambil berusaha melepaskan pelukan ibunya.

Myungsoo melihat wajah ibunya yang berkaca-kaca. Ia tahu bahwa ibunya pasti sangat merindukannya. Setelah kepergian ayah tercinta Myungsoo, tuan Kim MinSoo,  untuk selamanya, Nyonya Hera harus berjuang sendirian untuk tetap mempertahankan toko buah yang sudah puluhan tahun ia kelola.

“kamu sudah makan? Omma akan buatkan makanan untukmu ya?”

“nee… aku sudah rindu makan masakan omonim…” balas Myungsoo manja sambil menggandeng tangan ibunya untuk masuk ke dalam rumah.

******

awhitepaper

Suji kini berada di kursi penumpang di samping Jongsuk yang sedang menyetir mobilnya. Mereka berdua akan datang ke rumah ayah Jongsuk, tuan Lee Jinhyuk, yang baru tiba dari business tripnya di Jakarta. Seikat bunga krisan kuning yang berada dipangkuan Suji tampak segar dan mengeluarkan aroma sedap. Bunga yang melambangkan harapan untuk panjang umur dan sehat sentosa itu malah mengingatkan Suji pada percakapannya dengan dokter Jaerim pada dirinya tadi pagi ditaman rumah sakit.

‘dokter Jaerim, apa anda yang memberitahu nona Kim Soeun tentang obat Anti Memory Depression?”

‘uhmm… nee… mianhae Sujiya, aku tidak bermaksud…’

‘geurigo, empat orang karakter utama dalam novel Sky of heaven itu, apa benar ada orang lain yang meminum obat yang sama denganku? Atau itu hanya karangan nona kim?’

‘nee? A..apa… maksudmu..?’

‘kumohon dokter Jaerim, anda tahu dengan sangat baik bahwa aku hanya ingin memori masa kecilku kembali. Seandainya,.. hmm, ini jika tebakanku benar, jika pertemuanku dengan Kim Soohyun kemarin bukanlah pertemuan pertama kami…’ Suji menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan perkataannya, ‘aku ingin tahu apa ada kemungkinan Kim Soohyun juga…meminum obat yang sama denganku’

‘kim soohyun? Hmm… jangan bilang Actor terkenal itu?’

Suji mengangguk pelan. Dokter Jaerim semakin rapat meremas kedua tangannya.

‘aku hanya berharap salah satu kunci untuk membuka masa kecilku berada ditangan kim soohyun’

‘kenapa kamu berharap begitu?’

‘karena aku merasakan kehangatan dimatanya. Aku tak tahu kenapa, tapi ada perasaan yang membuatku dekat dengannya’

‘Sujiyaa…’

‘nee?’

‘apa kamu tak takut dengan apa yang akan terjadi setelah memori masa kecilmu kembali? Kebanyakan orang malah ingin menghapus masa lalu mereka dengan berpura-pura tidak mengingatnya, tapi kau malah…’

“dokter tahu rasanya menjadi selembar kertas putih?”

Jaerim menggelengkan kepalanya atas pertanyaan Suji.

“kosong dok, rasanya kosong dan hampa, seperti bayi yang baru lahir. bayi itu hanya bisa bernafas, menunggu dengan semangat membuncah akan seperti apa kehidupannya nanti, cinta seperti apa yang akan ia temui, kesedihan seperti apa yang akan dia alami” Suji menarik nafas dalam sebelum melanjutkan ucapannya, “dan menurutku, selembar kertas putih pun mengalami hal yang sama dok…”

“Suji, mianhae…”

“aku Cuma selembar kertas putih tanpa coretan dok, Cuma halaman kosong tanpa tinta hitam. Aku tidak benar-benar hidup selama empat belas tahun ini dok…”

“arra…” jawab Jaerim.

Suji memandang lekat-lekat dokter Jaerim yang duduk disampingnya, sebuah senyuman getir menghiasi wajah ayunya, ‘untuk itulah aku ingin memoriku kembali, dokter. Aku tahu bahwa kemungkinan terburuk dari ini semua adalah kehilangan segalanya… orang tuaku, pekerjaanku, dan… cintaku untuk Jongsuk oppa…’

Suji tersadar dari lamunannya, ia menoleh ke samping dan melihat wajah pria yang begitu dia cintai sedang mengemudi.

“waaee?” Jongsuk yang merasa Suji memperhatikannya pun bertanya sambil tetap memfokuskan pandangannya ke depan.

“oppa, saranghae…” ucap Suji sambil terus memandangi Jongsuk dari samping.

Jongsuk membalas ucapan kekasihnya itu, “nado saranghae, Sujiya…”

******

Soojung berbaring di sebuah sofa merah yang berada di ruang karyawan salon. Kepalanya benar-benar tidak bisa diajak berkompromi untuk bekerja semenjak ia pulang dari StarAgency. Gadis berponi ini teringat kembali pada saat Myungsoo bersepeda dihalaman depan kantor agency dengan wajah sumringah tadi.

Soojung tertidur, seolah terhipnotis oleh sepenggal memori yang memanggilnya masuk. Ia bermimpi sedang berdiri disebuah padang rumput yang luas disiang hari yang terik. Dari kejauhan, seorang pemuda remaja sedang mengayuh sepeda dan datang menghampirinya. Soojung memicingkan kedua matanya agar dapat melihat dengan jelas wajah pemuda itu. Begitu pemuda itu menghentikan sepedanya dan berdiri menatap mata Soojung, gadis itu membelalakkan matanya seolah tak percaya.

‘myung..myungsoo??’ nama itu keluar begitu saja dari bibir Soojung.

Pemuda dihadapannya tersenyum kecil, ‘nugu? Kau mengigau ya, Reum-ah! Hahaha… ini aku, Yang!’

Soojung mengulang lagi nama yang disebut pemuda itu,‘Yang…?’

‘Reum-ah, kaja! Ayo kubonceng, kita pulang ke….’ucapan pemuda itu terputus karena Soojung ditarik kembali kealam sadar.  

Nyonya Jung yang baru tiba dari rumah sakit segera menghampiri putrinya dan menggoyangkan kedua pundak Soojung untuk membangunkannya.

“Soojung-ah, ayo kita pulang…” ujar ibunya sambil membantu Soojung duduk.

“tapi salon? Kan masih ada banyak pelanggan, omma” jawab Soojung lemah.

“aku akan menitipkan kunci salon ke Bomi. Yang penting sekarang kamu harus istirahat dirumah, kamu pasti kelelahan” jawab sang ibu.

“hm..neee..” balas Soojung sambil bangkit dari kursi.

******

“appa tidak akan pergi keluar negeri lagi dalam waktu dekat ini? Tumben sekali!” ujar Jieun yang kini sedang duduk disamping kanan appa-nya di meja makan. Keduanya sedang menikmati secangkir teh melati yang dibawa tuan Lee sebagai oleh-oleh dari Jakarta.

“wae? Putri appa tidak suka kalau appa dirumah?” tanya tuan Lee setelah menyesap teh dihadapannya.

Jieun menggeleng cepat,“aniyeyo… geunyang, appa sudah terlalu lama pergi keluar negeri. Kami takut tidak bisa menemani appa dirumah karena… hmm… ya, pekerjaanku dan kakak…”

“arra… appa tak perlu ditemani, kamu dan kakakmu pasti sibuk sekali kan? Appa mengerti, Jieunah” jawab Tuan Lee sambil tersenyum kepada anak perempuan kesayangannya itu. Wajah Jieun sangat mirip sekali dengan ibunya, matanya yang bulat besar, dan ujung bibirnya yang runcing menurun dari istrinya yang sudah tiada.

Seorang pelayan datang menghampiri Tuan Lee dan berkata, “Tuan Lee Jinhyuk, ada tamu yang datang. Tuan Lee Jongsuk dan Nona Bae Suji”

Tuan Lee Jinhyuk memasang smirk di bibirnya mendengar nama calon menantunya itu, “suruh mereka masuk!”

Tak lama kemudian, Jongsuk masuk kedalam ruang makan dan disambut pelukan hangat oleh ayahnya. Sudah hampir satu tahun mereka tidak bertemu karena kesibukan Tuan Lee Jinhyuk yang sedang mengembangkan bisnis dibidang obat herbal dan harus mengunjungi berbagai Negara untuk mencari tahu bermacam-macam tanaman yang bisa diolah menjadi obat-obatan alami.

Suji melangkah mendekati Tuan Lee Jinhyuk sambil menyodorkan seikat bunga krisan kuning kepada calon mertuanya itu.

“saya senang anda kembali ke korea dalam keadaan sehat, Tuan Lee…” ujar Suji sambil menyunggingkan senyum.

Tuan Lee menerima bunga krisan kuning itu dan mengamatinya sebentar, “bunga yang menjadi lambang keluarga kerajaan…”

“… juga dapat berarti harapan agar anda selalu sehat Tuan Lee..” sela Suji sambil menatap ayah Jongsuk.

“ahh… kau pintar sekali, Suji! pasti sang penjual bunga yang memberitahumu arti bunga krisan kuning kan?”

“aniyeyo… uri omma yang memberitahukannya padaku…”

Tuan Lee Jinhyuk yang mendengar nama ibu Suji itu menyunggikan sebuah smirk dan berkata, “kalian benar-benar mirip…”

“nee?” Suji tidak mengerti maksud ucapan dari tuan Lee.

Jongsuk menyela mereka dan berkata, “kita bisa ngobrol sambil duduk saja aboeji. Biar aku yang minta pelayan untuk mengambil vas bunga dan menaruhnya dimeja makan…”

“aku alergi bunga, oppa…” celetuk Jieun sambil menatap Suji dengan tajam.

“benarkah? Sejak kapan?” tanya Jongsuk dengan nada geram melihat kelakuan adiknya yang masih belum bisa menerima kehadiran Suji dirumah.

“sejak detik ini” cetus Jieun sambil beranjak dari tempat duduknya, “aku akan ada dikamar untuk latihan audisi drama, permisi!”. Adik Jongsuk itu pun segera meninggalkan ruang makan dengan wajah masam.

“jangan diambil hati, Sujiya…” Jongsuk berusaha menenangkan hati kekasihnya yang berdiri terpaku disampingnya.

“ayo duduk! Aku ingin dengar banyak cerita tentang Staragency darimu! Apa saja yang kau lakukan selama aku pergi, Sujiya?” Tuan Lee Jinhyuk menyilakan Suji dan Jongsuk duduk dengan ramah.

******

Bunyi ‘klik’ terdengar dari pintu pagar Nyonya Kim Sungryung. Seorang pelayan wanita membuka pintu pagar dan melihat Kim Soohyun berdiri di hadapannya sambil menyunggingkan sebuah senyum.

“maaf tuan Kim, Nyonya baru mengizinkan saya membuka pintu pagar sekarang. Anda pasti sudah lama sekali menunggu diluar. Mari silahkan masuk!” pinta sang pelayan sambil menyilakan anak satu-satunya keluarga Kim ini.

“satu jam… aku hanya menunggu satu jam kali ini… nae ommonim sedang berbaik hati sepertinya, ya kan bibi?” tanya Soohyun sambil mengikuti pelayannya itu di belakang.

“nee… keadaan nyonya mulai membaik semenjak nyonya bae Jonguk datang kemari”

“nyonya bae jonguk kemari? Kapan?”

“hmm… dua hari yang lalu, Tuan Kim. Nyonya sepertinya senang sekali bertemu dengan beberapa teman lamanya”

“ahhh…. Gomawo bibi. Aku akan menemui nae omonim…”

“nee… beliau ada di taman belakang, Tuan Kim. Silahkan…”

Kim Soohyun melangkah kakinya menuju taman belakang rumahnya yang menjadi latar belakang acara talkshow tadi sore. Ibunya, Nyonya Kim Sungryung, sedang membaca sebuah kartu ucapan dari “Lee Jinhyuk” yang dikirim bersama lima kotak teh melati. Wanita yang masih tampak cantik diusia lima puluhan ini pun menikmati secangkir panas teh melati sambil memandangi pohon bunga sakura yang mulai tumbuh diawal musim semi tahun ini. Wanita paruh baya itu sama sekali tidak menoleh saat Soohyun datang dan kini duduk disampingnya.

“wae? Ada apa kau kemari?” tanya Nyonya Kim sambil menuangkan segelas teh melati di cangkir untuk anaknya.

“aku merindukan ommonim”

“kau tahu kan aku tidak bisa merasakan hal yang sama denganmu. Aku tidak pintar berbohong dan berkata bahwa aku senang melihatmu datang kerumahku….”

“rumah kita, omma….”

“ani, ini rumahku dan suamiku. Kau sudah punya apartemen sendiri sekarang, jadi anggap saja itu rumahmu”

“aku tidak ingin punya rumah di seoul, omma”

“hmmm… lalu?”

Soohyun menyesap teh melatinya dan kemudian menjawab, “aku akan membeli sebuah vila di daerah pegunungan Taebaek”

Nyonya Kim Sungryung mengernyitkan dahinya, “gunung Taebaek??!!”

“nee… wae? Apa menurut omma terlalu jauh?”

Nyonya Kim menggeleng pelan, “itu lebih baik. Kau jadi tak akan bisa sering kemari”

Soohyun berusaha mengalihkan pembicaraan, “teh ini enak sekali… dimana omma membelinya?”

“seorang teman lama ayahmu mengirimkannya kemari sebagai oleh-oleh” jawab nyonya Kim.

“ah…”

“sebaiknya kau segera pulang. Sudah cukup basa-basinya…” Nyonya Kim melipat kedua tangan didada.

“nee, omma. Hajiman, izinkan aku bertanya satu hal…”

“mwo?”

“aboji, kapan beliau akan pulang?”

Nyonya kim mengangkat kedua bahunya, “molla. Mungkin dia akan menunggu ajal di amerika bersama suster-suster muda itu”

“tapi aku dengar akan ada pertemuan tahunan dokter herbal di seoul minggu depan. Harusnya dokter sekelas Kwon Sangwoon, nae abeoji, akan datang. beliau tidak pernah melewatkan pertemuan ini kan, omma?”

“molla…” jawab Nyonya Kim Sungryung sambil memandangi pohon bunga sakura ditamannya yang tertiup angin sore.

******

awhitepaperr

Jongsuk dan Suji kini sedang berada di taman perumahan yang berada dua blok dari rumah keluarga Bae. Setelah makan malam bersama dengan tuan Lee Jinhyuk, keduanya kini duduk berdampingan di ayunan taman tepat dibawah sinar bulan yang bersinar kekuningan. Jongsuk mengulurkan tangan kanannya untuk menggenggam tangan kiri Suji yang berada disampingnya. Keduanya pun saling bertatapan dan melempar senyum. Jongsuk sangat senang bisa berlama-lama bersama dengan pujaan hatinya itu.

“Sujiya, mian, kelakuan Jieun tadi…” Jongsuk merasa tidak enak hati pada kekasihnya.

Suji menggelengkan kepalanya, “tidak masalah. Jieun mungkin sedang banyak pikiran…”

“tapi seharusnya dia bisa menerimamu sebagai calon tunanganku. Jieun terlalu banyak berubah akhir-akhir ini…” Jongsuk mengelus lembut jemari Suji yang dingin.

“sudahlah oppa, jieun masih butuh waktu untuk menerimaku. Dia pasti khawatir kau akan melupakannya setelah bertunangan denganku” Suji berusaha menenangkan hati Jongsuk.

“hmm… ya, mungkin saja…” Jongsuk mencoba memahami ucapan Suji.

“oppa, aku mau menanyakan sesuatu. Ini tentang skrip drama Sky of Heaven… apa benar nona Kim belum membuat endingnya?”

“ya, aku sudah mengkroscek pada asistennya, tapi dia juga tidak bisa menemukan file tentang ending dramanya di laptop nona kim”

“keundae waae? Kenapa tidak disamakan saja dengan ending novelnya?”

“ahh, kalau tentang itu… aku sudah bertanya pada nona Kim sebelum dia masuk rumah sakit. Dan dia hanya bilang bahwa untuk membuka sebuah memori, maka yang dibutuhkan adalah kunci yang tepat”

“maksudnya?”

“nona Kim yakin karakter dalam dramanya akan mampu menjadi manusia yang lebih bahagia jika mereka sudah menemukan kunci yang tepat untuk membuka memori masa kecilnya. Dia akan menunggu hingga karakter-karakter itu berbahagia dengan cara mereka sendiri, maka disitulah drama ini berakhir, begitu katanya”

Suji tertegun mendengar jawaban Jongsuk.

******

Jieun baru saja keluar dari lift StarAgency di lantai Sembilan. Jam menunjukkan pukul sepuluh malam dan sang pop star ini akan melakukan dance practice untuk melemaskan otot-ototnya yang mulai kaku karena terlalu lama tidak tampil di atas panggung. Dari kejauhan, Jieun melihat Myungsoo berjalan kearahnya bersama enam orang pemuda yang merupakan anggota boyband baru yang akan segera debut. Mata keduanya pun bertemu.

Myungsoo duduk dihadapan Jieun di salah satu ruang dance practice yang sudah kosong. Pria bermata tajam inipun menatap wajah mantan kekasihnya dan berusaha menyapanya, “Jieun-ah…”

“kenapa kamu pulang kekorea?” pertanyaan itu tiba-tiba terlontar dari mulut Jieun.

“menurutmu?”

“aku tidak suka kamu membalik pertanyaanku, Myungsoo-shi” Jieun agak geram mendengar jawaban mantan kekasihnya.

“mianhae, aku…” ucapan Myungsoo dipotong oleh Jieun dengan,

“hanya ada dua kemungkinan kamu kembali ke korea. Yang pertama untuk bertemu denganku…”

“nee?” Myungsoo agak syok dengan sifat Jieun yang masih sering overconfindent.

“dan yang kedua..” Jieun menggigit bibir bawahnya sebelum akhirnya berkata, “apa kamu pulang untuk bertemu bae suji?”

“apa maksudmu??”

“berarti kemungkinan kedualah yang benar” bibir Jieun bergetar mengucapkannya, ia benar-benar masih berharap Myungsoo adalah laki-laki yang baik seperti dulu saat mereka bersama.

“Jieun-ah…”

“Myungsoo-shi, menurutmu kenapa kita putus tiga tahun lalu?” tanya Jieun sambil melipat kedua tangannya.

Myungsoo mengingat-ingat lagi ucapan Jieun di saat mereka putus, “karena kamu bilang ingin fokus pada karier mu…”

“aku bohong padamu…” jawab Jieun dengan jujur.

Myungsoo tidak menyangka akan jawaban Jieun, “nee??”

“aku memutuskanmu karena aku tahu kamu menyukai wanita lain… bae suji, kau menyukainya kan?”

Myungsoo terperanjat mendengar ucapan mantan kekasihnya itu. Ia pun mengalihkan pandangannya dari Jieun yang masih lekat menatapnya.

“Jieun-ah, aku tahu kamu pasti shock sekali melihatku tiba-tiba kembali lagi..” Myungsoo mencoba mengganti topic pembicaraan mereka.

“ya, aku sangat shock saat melihatmu pulang kekorea. Sejujurnya aku berharap kamu tidak akan pernah pulang kekorea sejak kamu pergi ke amerika, Myungsoo. Aku merasa lega karena kamu tidak lagi bertemu dengan wanita itu” Jieun menarik nafas dalam-dalam, “Sejujurnya, Aku tidak ingin kamu mengungkapkan perasaanmu kepada bae Suji! aku membenci wanita itu karena kamu sudah menyukainya sejak kita masih pacaran dulu. Aku merasa dimanfaatkan olehmu…”

“mian, tapi kamu harus tahu Jieun-ah, aku tidak pernah berniat memanfaatkanmu…” Myungsoo berusaha meluruskan opini Jieun yang menyudutkannya.

“aniya, sebenarnya aku lebih merasa kecewa pada diriku sendiri yang dengan mudahnya jatuh cinta pada pria rendahan sepertimu” Jieun menundukkan kepalanya.

“aku kembali ke korea untuk banyak alasan, bukan hanya untuk bertemu lagi dengan bae suji…”

Jieun mengepalkan kedua tangannya untuk menahan desakan airmatanya. Ia tak ingin harga dirinya jatuh dihadapan mantan kekasihnya itu, “heoksi, apa dari banyak alasan yang membuatmu kembali ke korea, adakah alasan untukku?”

“tidak ada. Seperti yang kamu ucapkan tadi, pria rendahan sepertiku, pria yang menyukai wanita lain saat aku berkencan denganmu tiga tahun lalu, pria itu bahkan tidak pantas untuk merindukanmu Jieun-ah…” Myungsoo tahu bahwa Jieun pasti akan sangat terluka atas ucapannya. Tapi Myungsoo benar-benar sudah tidak mampu lagi membohongi wanita yang berusaha mempertahankan harga diri dihadapannya saat ini dengan kata-kata penghiburan.

“arraso…” mata Jieun mulai memerah mendengar ucapan Myungsoo. Ia pun segera bangkit dari tempat duduknya.

“mianhae Jieun-ah…”ucap Myungsoo untuk kesekian kalinya sambil menatap mantan kekasihnya itu melangkah pergi meninggalkannya. Setetes airmata meluncur dari pipi Jieun yang terus berjalan tanpa menoleh kearah Myungsoo yang menatapnya dengan khawatir.

‘berakhir… semua diantara kita kini benar-benar sudah berakhir…’ batin Jieun.

******

awhitep

FIUH FIUH… SELESAI CHAPTER 03 ^^ LET’S READ!!! MAKIN SERU KANN!!!!! PLEASE LEAVE A COMMENT, KAY?? ^^ SEE YOU NEXT CHAPTER~~~~~

61 responses to “A WHITE PAPER 03 [“I PITY YOU…”]

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s