Adopta (2/3)

Adopta - Dina copy

Title : Adopta | Author : dina | Genre : Angst, Romance | Main Cast : Kim Myungsoo, Bae Sooji

Disclaimer

Storyline pure by Me, all cast belongs to God and their familiy

Poster by my lovely saengi rosaliaaocha

.

.

.

The life-time before we met has faded away

 *

Sooji melepaskan rautan pensilnya. Terhitung sudah 5 hari ia berada di rumah appa-nya. Suasana duka masih menyelimuti kediaman keluarga Bae. Eomma Sooji menitipkan pesan jika dirinya tidak perlu tergesa-gesa kembali ke Edinburgh. Edison bersedia membantu eomma-nya untuk menjalankan bisnis laundry yang mereka miliki. Bisnis yang cukup besar dan menjadi francise karena kepiawaian eomma Sooji mempromosikan ke teman-teman Scotland-nya.

Sooji mengarsir desain yang ia buat. Untuk mengurangi kekosongannya di sini, ia memutuskan untuk kembali membuat desain sepatu yang ia perjualbelikan lewat online shop dan menjadi trendsetter sepatu berhias di Edinburgh. Setidaknya ia cukup terkenal di kalangan para model. Adopta ia pilih sebagai label produknya, mengingat ia tidak ingin terdengar seperti orang Asia. Separuh hidupnya ia habiskan di Edinburgh. Casey mengirim pesan padanya jika Eric sangat merindukan dirinya. Seakan-akan pria yang kehilangan arah, bahkan Eric berniat untuk menyusul Sooji kembali ke Korea. Eric Nam seorang warga Scotland keturunan Korea. Meskipun Sooji lama tinggal di sana, namun baik dirinya maupun eommanya masih berkewarganegaraan Korea Selatan. Jika Sooji berhasil bersanding dengan Eric, maka bisa dipastikan ia akan menjadi warga Scotland dan menanggalkan kewarganegaraannya. Ini berarti kesempatan Myungsoo untuk mendapatkan kembali hati Sooji tertutup sudah.

Sooji mendengus kesal tatkala konsentrasinya buyar, sebuah suara anjing menyalak mengganggu mood-nya pagi ini. Sooji dahulu dengan sekarang sangat berbeda. Sooji bertumbuh menjadi sosok yang sangat dingin, bahkan Eric sempat ditolaknya berkali-kali sebelum berhasil meyakinkan hati Sooji. Atas nama persahabatan atau lebih tepatnya kasihan. Namun karena Sooji tidak punya pilihan lain untuk menerima pernyataan cinta dari Eric maka ia dengan susah payah membangun kembali hati dan cintanya untuk Eric. Lelaki sabar yang dengan senyumnya selalu menerangi hari-hari sepi Sooji.

Melihat kembali Myungsoo membangkitkan gairah jiwanya akan cintanya yang pupus. Siapapun akan menganggap dirinya bodoh. Bagaimana tidak ketika seorang Myungsoo menyatakan cinta kepadanya justru bukan jawaban iya yang keluar dari mulutnya yang terkunci rapat. Bae Eunji alasan utamanya melepaskan Myungsoo. Demi kebahagiaan kakaknya ia rela melepaskan Myungsoo.

“Eonni-ya..apa ini?”

“Hem?”

“Kuperhatikan kau setiap hari meminum obat ini?”

“Ini…” Eunji tersenyum kecut, “pemanjang hidupku..” senyumnya sembari menatap lekat Sooji.

“Maksudmu?”

“Kelenjar getah bening…dokter menemukannya di tubuhku, aku harus bertahan Sooji-ya. kata dokter kemungkinan karena keturunan. Aku tidak ingin penyakit ini berubah menjadi kanker yang akan menggerogoti tubuhku.”

“Eonni…”

“Sst! Jangan katakan pada Myungsoo, kurasa dia akan sedih mendengarnya.”

“Eonni…”

Sooji tidak sanggup untuk berkata-kata, tanpa Eunji mengatakan apapun, ia cukup mengerti jika Myungsoo sangat berarti untuk Eunji. Esok harinya ketika ia akan bertolak menuju Edinburgh, Myungsoo menariknya ke rumah pohon dan menyatakan cintanya. Seketika itu juga ia memutuskan untuk merelakan Myungsoo, melepaskan dengan berbesar hati tanpa mau mendengarkan penjelasan Myungsoo maupun Eunji. Karena Sooji tetaplah Sooji yang tertutup. Ia terjebak dalam pemikiran piciknya ihwal Eunji menyukai Myungsoo, walaupun sebenarnya pemikiran yang ia simpan rapat-rapat ternyata hanya sebuah kesalahpamahan tanpa Eunji sempat menjelaskan. Hingga saat itu datang, kecelakaan yang berhasil merenggut nyawa saudari satu-satunya ketika Lee Hongbin memutuskan pertunangan mereka tanpa alasan jelas. Eunji yang dalam pengaruh alkohol melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, hingga ajal menjemputnya.

—–

“Ji-ya..” suara berat Tuan Bae memecah kesunyian. Di dalam kamar seluas 5×8 meter persegi ini, Sooji duduk di sisi ranjang appanya.

Mianhe…tidak seharusnya appa memisahkan kalian.”

Gwenchana appa, semua sudah tertulis dalam suratan Tuhan.” Sooji memaksakan diri untuk tersenyum. Dokter menyarankan agar Sooji mendekati Tuan Bae yang tengah berduka. Melihat wajah Sooji seakan-akan menghidupkan kembali Eunji, putri kesayangan appa mereka.

“Apa Mae menjagamu dengan baik?”

Ne…sangat appa.”

“Bagaimana kabar keluarga barumu?”

“Edison cukup baik, ia membantuku mempromosikan labelku meskipun pekerjaannya lebih banyak ia habiskan bersama eomma dan daddy..”

Tuan Bae menatap Sooji lekat, tatapannya mendadak sayu. “Apa kau bahagia di sana?” tanyanya.

Sooji hanya diam tanpa mengucap, hanya sebuah anggukan sebagai jawaban. Sooji menyendokkan bubur, menyuapkan ke Tuan Bae.

Appa harus kuat!”

“Hem…” perlahan Tuan Bae mengangguk sembari menatap jendela luar. Langit tampak cerah, meskipun semalam hujan deras namun pagi ini matahari dengan cantiknya berusaha menyembulkan diri di balik awan mendung yang mulai tergeser angin.

“Kau sudah bertemu Myungsoo?”

Sooji menghentikan kegiatannya. Sejenak ia terdiam kemudian mengambil air minum di nakas sisi ranjang.

“Sudah.”

“Dia tampak sangat terpukul dengan kematian kakakmu. Ia yang mengurus segala keperluan pemakaman.”

Arra appa..”

“Maafkan dia, maafkan Eunji..”

“Apa maksud appa?”

“Eunji mengatakan padaku ketika mabuk. Ia penyebab kau tidak ingin kembali kemari. Apakah karena Myungsoo?”

Sooji menatap manik mata appa-nya. Sungguh dalam hati ia tidak tega melihat appa-nya semakin bersedih, terlebih curhatan Eunji menjelang kematiannya seakan-akan pertanda bahwa ia akan menghilang untuk selamanya.

“Aku ikut eomma karena keinginanku, bukan paksaan atau pelarian dari siapapun.”

“Kau yakin?”

Ne appa..” Sooji kembali menyuapkan buburnya.

“Kalau seperti itu, bersediakah kau menemui Myungsoo?”

Sooji terkejut bukan kepalang. Sebuah permintaan dari appa-nya yang tidak pernah terbayangkan di benaknya. Myungsoo berada jauh dari Seoul, ia masih setia tinggal di Ulsan. Itulah sebabnya sahabat Myungsoo yang datang melayat tidak cukup mengenal Eunji karena Eunji ikut berpindah ke Seoul selepas masa kuliahnya. Hanya Siho yang tahu pasti siapa Sooji dan Eunji.

“Ulsan?”

“Hem…pak Cho akan mengantarmu ke sana, kau mau bukan?” pinta Tuan Bae.

“Pengecualian untuk dia appa..aku telah memiliki kekasih di Edinburgh.”

Tuan Bae menatap lesu. Demi apapun Sooji semakin merasa tidak tega. “Kita lihat esok appa..”

Tuan Bae menatap Sooji dengan tatapan sayang, membuka kedua tangannya. Sooji merapatkan tubuhnya dalam dekapan Tuan Bae.

“Appa…jika aku tidak bersama appa lagi, bujuklah Sooji untuk kembali ke sini..”

“Waeyo? mengapa seolah-olah kau akan pergi jauh?”

“Aniya appa..sebentar lagi aku akan menikah, jika aku menikah maka aku akan ikut Hongbin oppa ke Jepang. Appa akan semakin kesepian nantinya.”

“Tapi adikmu terlalu jauh di sana.”

“Appa bisa membujuknya.”

“Bagaimana caranya?”

“Kim Myungsoo…”

—–

Myungsoo melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tadi malam Tuan Bae mengabarkan jika Sooji berada Ulsan. Siapapun dapat melihat bagaimana raut wajah bahagia Myungsoo mengetahui Sooji berada satu kota dengannya. Dengan alasan menemui calon pemesan labelnya, Sooji memutuskan untuk tinggal selama 5 hari di Ulsan dan merahasiakannya dari Myungsoo. Namun bukan Myungsoo namanya jika ia tidak nekat memaksa Siho mencari tahu informasi keberadaan Sooji. Dan malam ini, ia memutuskan untuk menemui Sooji, bagaimanapun caranya.

Tok! Tok!

Suara ketukan pintu membuyarkan konsentrasi Sooji. Untuk menghindari Myungsoo, sengaja ia menyewa rumah kecil selama 5 hari ini di kawasan pinggiran Ulsan. Setidaknya ia merasa aman karena pak Cho menemaninya.

“Pak Cho, andakah itu?” Sooji melangkahkan kakinya menuju pintu ruang tamu.

Klek!

Pintu terbuka menghadirkan sosok Myungsoo yang tengah membalikkan badannya membelakangi Sooji. Sooji terdiam menatap punggung lelaki Kim yang pernah sangat ia cintai.

“Ehem..”

Eoh kau!” sapa Myungsoo yang sontak membalikkan tubuhnya menghadap Sooji.

“Kenapa kau di sini?” tanya Myungsoo.

Sooji enggan menjawab, masih dengan tatapan mengintimidasinya, ia hendak menutup kembali pintu rumahnya.

Geumanhe!” Myungsoo menahan pintu. “Mianhe..jika aku tidak sopan” Myungsoo menatap dalam mata sayu Sooji.

“Seharusnya aku yang bertanya, mengapa semalam ini kau kemari?” Sooji membuka suaranya.

“Aku ingin menemuimu, apa itu salah?”

“Salah!”

Waeyo?”

“Kau menemui wanita yang salah Tuan Kim, maaf saya ingin istirahat.”

“Kenapa kau seperti ini?” Myungsoo masih setia menahan pintu, tenaga Sooji hampir habis melawan penolakan Myungsoo. “Katakan apa salahku hingga kau memperlakukan aku seperti ini?” nada Myungsoo sedikit menekan dan tegas. Sorot matanya kehilangan kesabaran. Sooji berupaya menjaga ketenangannya. Tangannya ia kendurkan, membuka lebar pintu rumahnya.

“Kesalahanku adalah meninggalkanmu, dan aku tidak ingin mengulanginya lagi.”

Myungsoo menatap heran Sooji. Alisnya bertaut tanda ketidakpahamannya akan kalimat Sooji.

“Aku bukan lagi Sooji, aku Adopta. Wanita Korea yang sebentar lagi akan resmi menyandang marga Nam dan sah sebagai orang Scotland.” Kalimat panjang Sooji membuyarkan hati Myungsoo, mengaduk-aduk laksana ombak yang bergelung di tepi pantai.

“Apa maksudmu?”

“Kurasa kau cukup mengerti Tuan Kim, maaf saya harus istirahat.” Sooji masih mempertahankan sikap dinginnya, dadanya berdegup kencang ditatap oleh Myungsoo.

Myungsoo menghela nafas panjang kemudian menghembuskan dengan berat. “Jika itu maumu, maka aku akan menggagalkannya.” Ucap Myungsoo dengan ketenangan luar biasa yang telah menguasai dirinya.

“Aku akan segera kembali ke Edinburgh.”

Myungsoo melepaskan tangan Sooji dari handel pintu. Ia menatap tangan putih Sooji yang tampak pucat dan dingin. Myungsoo sangat hapal jika Sooji merasa tidak nyaman maka tangannya akan sedingin es. Myungsoo melangkah mendekati Sooji.

“Kau mau apa?”

Myungsoo semakin mendekatkan tubuhnya. Sooji melangkahkan kakinya mundur perlahan. Dalam hatinya ia berdoa semoga pak Cho segera tiba. Namun seakan sia-sia, Myungsoo berhasil masuk ke dalam rumah. Sooji yang tidak mau kalah akhirnya berdiri tegak, menghentikan langkah kakinya. Kepalanya mendongak menatap manik mata Myungsoo.

“Kau berhadapan dengan orang yang salah Tuan Kim..” wajah angkuh Sooji terpampang jelas.

“Aku tidak sepicik pikiranmu Sooji-ya,” ucap Myungsoo yang kembali menjaga jarak dengan Sooji. Dia mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu, menyandarkan kepalanya di sisi sofa.

“Aku tidak tahu setega itu dirimu terhadap kakak perempuanmu satu-satunya.” Kembali Myungsoo menatap lekat Sooji. “Eunji sangat terpukul ketika kau menolak menghadiri pernikahannya, yah meskipun pernikahan itu tidak akan pernah terlaksana. Kau tahu alasan konyol pria itu memutuskan kakakmu? Hanya karena dia tahu Eunji bukan putri kandung appa kalian.”

Sooji berdiri terpaku menatap Myungsoo. Sebuah cerita yang ia tidak pernah sebelumnya meluncur dari mulut Myungsoo. Dadanya bergetar hebat, seakan bersiap akan menerima kejutan demi kejutan Eunji. Kemarin appa-nya, sekarang lelaki Kim di hadapannya hendak mengatakan sesuatu yang mungkin akan membuat dirinya semakin syok karena rasa bersalah.

“Mungkin ini salahku juga, karena rasa kesalku, Hongbin kuhadiahi sebuah pukulan di pelipisnya. Eunji sangat marah padaku dan berusaha mengejar Hongbin. Aku tidak habis pikir mengapa Eunji sangat berat melepas Hongbin…hingga rahasia itu kuketahui.”

“Rahasia?” Sooji semakin terpaku, rasa penasaran menyelimutinya.

“Eunji mengalami keguguran…ia sempat mengandung anak Hongbin,” lirih Myungsoo. Matanya tiba-tiba memerah.

“Ya Tuhan!” Sooji menutup mulutnya. Bukan ini yang ingin ia dengar tentang kakaknya.

“Apakah appa tahu semua ini?”

Ani…sampai sekarang Tuan Bae tidak tahu, hanya aku dan Hongbin bagsat itu yang mengetahuinya!” Myungsoo memukul kasar sofa yang ia duduki. “Rasanya aku menyesal mengapa tidak menghabisi nyawanya malam itu!” Myungsoo mengusap wajahnya kasar.

Sooji yang merasa sangat bersalah tidak sadar menitikkan air matanya. Eunji, kakaknya yang periang menyimpan rahasia yang berat bagi seorang wanita. Hubungan 5 tahun bersama Hongbin berakhir sia-sia, bahkan ajal menjemput paksa tanpa persiapan apapun. Sooji terduduk lemas di sofa samping Myungsoo. Dia tidak bisa berkata apa-apa, mulutnya tertutup rapat, lidahnya kelu untuk digerakkan. Sooji menangis.

Myungsoo menatap Sooji, tangannya ingin merengkuh tubuh Sooji namun ia urungkan. Hanya penolakan yang akan ia dapatkan. Myungsoo akan menunggu saat yang tepat mendapatkan kembali hati Sooji, secepatnya sebelum Sooji meninggalkan Korea.

Dan malam itu, Myungsoo setia menemani Sooji yang masih terisak. Mereka masih saling menjaga jarak, Sooji dan Myungsoo terhalang Eric. Seorang pria yang akan Sooji pertahankan meskipun Myungsoo memaksanya kembali. Tapi hanya Tuhan yang tahu, apakah pernikahan dirinya dengan Eric akan terlaksana atau tidak.

—–

Sooji terbangun dari tidurnya. Matanya masih menyisakan sembab akibat menangis. Pagi ini ia akan menemui calon pembeli yang akan memakai labelnya. Dengan cekatan ia menyingkap tirai jendela, membukanya agar udara segar masuk ke dalam kamarnya. Semalam Pak Cho menginap di rumah saudaranya. Sebenarnya Sooji telah mengetahuinya namun ia lupa, terlebih melihat sosok Myungsoo yang tiba-tiba berada di teras rumahnya.

“Aku harus kuat!” gumamnya. Beberapa saat kemudian ia mengambil handuk bersiap untuk mandi. Jam 10.00 nanti ia akan bertemu dengan pelanggan pertamanya di salah satu butik.

Sooji melepas kimono mandinya, memakai dres selutut berwarna peach dengan aksen pita sederhana sebagai pemanis kerah lehernya. Rambutnya sengaja ia kuncir. Memoleskan make up tipis dan berjalan menuju teras rumahnya. Di halaman depan, pak Cho telah menunggu dengan setia.

“Kita kemana aghassi?”

“Alamat ini Pak Cho,” Sooji menyodorkan sebuah kartu nama yang appa-nya rekomendasikan tempo hari.

Ne algeseumnida..”

Pak Cho melajukan mobilnya menuju sebuah butik di salah satu sudut kota Ulsan. Setelah dua kali bertanya, akhirnya mereka berhasil mendapatkan alamat yang dituju. Sebuah butik yang cukup besar terpampang jelas. Sooji menapakkan kakinya.

Kling!

“Selamat datang!” sapa pelayan yang disambut senyum Sooji.

“Ada yang perlu kami bantu?”

“Saya Bae Sooji, hendak bertemu dengan pemilik butik ini.”

“Anda sudah membuat janji sebelumnya?”

Ne…”

“Silakan ditunggu, saya beritahukan kepada Nyonya Choi.”

Ne..” Sooji mendudukkan dirinya di sofa tamu, menatap sekeliling butik.

Tap..tap..

Sooji mendongakkan kepalanya, matanya menyipit seperti mengingat seseorang.

“Sooji?” suara wanita terdengar memanggil namanya, “Bae Sooji keutchi?”

“Ah ne…” Sooji menatap heran wanita tinggi semampai di hadapannya, “Dasomi?” tanyanya.

“Hem..ini aku Kim Dasom,” senyumnya.

“Ya Tuhan! Kau semakin cantik!” pekik Sooji yang berdiri memeluk Dasom.

Aigo..Sooji-ya, kukira kau tidak akan datang ke sini lagi. Hampir 10 tahun keutchi?”

Ne…terakhir aku kemari saat SMA.”

“Kau semakin cantik Nyonya Choi!” goda Sooji.

“Darimana kau tahu aku Nyonya Choi?”

“Mereka yang mengatakannya.”

Eoh…” senyum Dasom.

“Kau tidak ingin menjelaskan padaku Nyonya Choi?”

“Haha…aku telah menikah sayang..”

Nuguseyo?”

“Choi Seungwoo, sunbae saat kuliah..”

Aigo…pasti anak kalian cantik dan tampan.”

“Hem..putra kembar” kekeh Dasom.

Omo!”

Pagi itu Sooji menghabiskan waktunya bersama Dasom. Bercerita banyak hal.

“Oppa sudah menemuimu?” tanya Dasom.

Ne..” Sooji mengaduk salad buahnya.

Jinca?! Onje?”

“Beberapa kali, semalam juga.”

“Astaga! Dia memang pantang menyerah.”

“Apa dia tidak memiliki kekasih?”

Ani..setahuku oppa tidak dekat dengan siapapun kecuali eonni-mu..” suara Dasom perlahan memelan, “mianhe…aku turut berduka cita.”

Gwenchana..”

“Kau harus tegar Ji-ya.”

Arra…”

“Lalu apa yang akan kau lakukan? Kau akan tetap di sini bukan?” lanjut Dasom.

Sooji menggelengkan kepalanya sembari tersenyum kecil, “aku akan kembali ke Edinburgh.”

Waeyo? kau akan kembali meninggalkan oppa-ku?”

“Aku akan segera menikah.”

“Uhuk!” Dasom tersedak, tenggorokannya tercekat. “Aniya! Ini salah! Kau tidak bisa menikah sekarang, bagaimana dengan oppa?” protes Dasom.

“Tidak akan terjadi apa-apa diantara kami.”

“Kau bodoh atau apa? Oppa-ku sedari dulu sangat menyayangimu ani..mencintaimu tepatnya!”

“Aku tahu…tapi semua terlambat. Aku akan segera menjadi milik orang lain.”

Paboya! Kapan kau akan menikah?”

“4 bulan lagi..”

Heol~ semoga pernikahanmu gagal Sooji-ya!”

“Hei kau mendoakan yang buruk untukku?!”

Aniya….aku hanya ingin kau kembali bersama Myungsoo oppa, kau harus bersatu dengannya.”

“Hilangkan pikiran konyolmu Dasomi, aku akan segera kembali ke Edinburgh.”

Dasom terdiam menatap Sooji. Sahabat mereka tahu seperti apa rasa yang Myungsoo berikan untuk Sooji.

“Aku tidak ingin kau menyesal nantinya..” lirih Dasom.

“Aku tahu apa yang harus aku lakukan.”

—–

Sore itu Sooji memutuskan untuk tidak segera kembali ke rumahnya. Ia masih enggan meninggalkan Ulsan sesegera mungkin, kenangan masa kecilnya berputar selayaknya tape recorder, menampilkan kepingan-kepingan memori yang ingin ia lupakan.

“Pak Cho, tinggalkan saya di sini.” Pinta Sooji.

“Apakah aghassi akan saya jemput kembali? Dimana?”

“Tidak…saya hanya ingin menyendiri. Gwenchana…saya tahu kemana arah kembali ke rumah.”

Alegeseumnida…hubungi saya jika aghassi memerlukan bantuan.”

Ne…terimakasih pak Cho.”

—–

Myungsoo menunggu di teras rumah Sooji. Ia memutuskan untuk langsung menemui Sooji selepas meeting dengan rekan kerjanya. Suara mobil memasuki halaman rumah yang Sooji sewa. Tampak Pak Cho keluar dari mobil seorang diri.

Chogiyo..dimana Sooji?”

Ne? Ah..Sooji aghassi minta untuk diturunkan di suatu tempat.”

Oddisoyo?”

“Sebuah rumah besar milik keluarga Shim jika saya tidak salah baca.”

Eoh!” Myungsoo berlari menuju mobilnya. serta merta ia melajukan mobilnya.

“Rumah pohon…tunggu aku di sana Sooji-ya..” gumam Myungsoo.

—–

Sooji menatap matahari yang beranjak tenggelam. Rumah keluarga Shim telah berganti penghuninya. Halaman belakang telah berubah, rumah pohon yang dulu menjadi tempatnya bermain bersama Siho, Dasom dan Myungsoo telah lapuk termakan usia. Hanya tersisa ayunan menggantung di dahan besar nan kokoh pohon Oak.

Sooji memejamkan matanya dalam keheningan. Angin bertiup lembut menerpa wajahnya.

Srek!

Terdengar suara daun kering terinjak kaki. Sooji membuka matanya. Di hadapannya telah berdiri seorang Myungsoo. Lengan kemejanya ia lipat sampai siku, dasi telah terlepas dari kerah lehernya.

“Kau?”

“Mengapa kau di sini?” sela Myungsoo.

“Aku hanya ingin melihat matahari terbenam..” jawab Sooji.

Myungsoo masih menatap Sooji lekat. Tangannya berpindah dari dalam kantong, terulur meraba pohon yang telah lama tidak ia kunjungi.

“Pohon ini masih kokoh, lihat sayatan ini masih ada,” tunjuk Myungsoo sambil tersenyum. Sooji berdiri hendak ikut melihat sayatan kreasi mereka 18 tahun yang lalu.

“Kau tahu, Dasom bahkan berkali-kali kesulitan memanjat akibat tubuh tambunnya,” kekeh Myungsoo.

“Aku baru saja bertemu dengannya..”

“Dia cantik keutchi?”

“Hem…sangat.”

“Siho menanyakanmu tempo hari, kurasa ia juga ingin mengobrol denganmu.”

Sooji tersenyum kecil.

“Lihat bahkan ukran nama kita berempat juga masih utuh, aigo…” ucap Myungsoo lagi.

“Masih ada?” Sooji berdiri dari ayunan, tangannya terulur ikut meraba badan pohon. Tanpa disadarinya, tangan Myungsoo menangkup punggung tangan Sooji yang menempel di badan pohon. Sooji terdiam menatap tangannya dan Myungsoo.

Hening.

Perlahan jemari Myungsoo menarik tangan Sooji, meletakkannya di pipinya. “Aku rindu tangan hangat ini.”

Seakan terkunci oleh tatapan Myungsoo, Sooji terdiam terpaku. Nafasnya kembali berat, dadanya berdegup kencang. Myungsoo meletakkan sebelah tangan Sooji di dadanya.

“Bisakah kau tidak pergi lagi? Apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu tetap di sini?”

Mata Sooji memerah, sungguh bertemu dengan Myungsoo menggoyahkan prinsipnya. Dia menggumamkan nama Eric dalam pikirannya agar terbebas dari belenggu Myungsoo. Namun apa daya, rasa Sooji untuk Myungsoo demikian besarnya. Sooji kalah.

Ottoke…” lirih Sooji. Buliran air mata berkumpul di ujung pelupuk mata. Myungsoo mendekatkan wajahnya, bibirnya perlahan menyentuh pipi Sooji, beralih ke bibir wanita yang sangat ia rindukan. Sooji masih terdiam hingga Myungsoo mengeratkan tubuhnya. Myungsoo sedikit membuka paksa bibir Sooji. Hingga 5 detik kemudian Sooji membalas ciuman Myungsoo. Bulir air mata lolos membasahi wajah Sooji. Seakan menyalurkan rasa rindunya, baik Myungsoo maupun Sooji enggan melepaskan ciuman mereka. Perlahan cahaya matahari terbenam menemani tautan panjang mereka. Sebuah ciuman yang tidak akan Sooji sesali. Myungsoo mendorong tubuh Sooji, menyandarkannya di sisi pohon. Seakan tidak ingin kehilangan, Myungsoo kembali menghujamkan ciumannya ke wajah Sooji, menelusuri wajah wanitanya perlahan. Sooji masih enggan membuka matanya. Nafas hangat Myungsoo menerpa wajah Sooji, di sisi lain nafas Sooji mulai terengah karena degupan jantungnya.

“Aku masih…mencintaimu” gumam Sooji dalam hati.

TBC

Oke lanjutannya saya buat dalam tempo singkat #baca ngebut! Mumpung mood kumpul. RCL nya ne, harus! Karena saya berusaha keras menyelesaikan ff ini yang tersisa 1 part lagi. Sesuai dengan genrenya, jangan heran akan seperti apa endingnya nanti. Ghamsahamida!!🙂

114 responses to “Adopta (2/3)

  1. Sedih, ternyata eunji menjalani hari2 yg sulit😦 dia harus kehilangan janin yg berada di kandungannya, kehilangan calon suaminya. Gak nyangka eunji meninggal secepat itu ;(
    semoga dengan ketulusan myungsoo, sooji bisa melepaskan prinsipnya itu^^

  2. omo… sooji udah relain eric.. masih cinta ke myungsoo kan yaa…
    lee hongbin jahat banget yaa.. masa mutusin ngebatalin pertunangan sama eunji grgr eunji bukan anak kandung tuan bae sih parahh

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s