Adopta (3/3)

Adopta - Dina copy

Title : Adopta | Author : dina | Genre : Angst, Romance | Main Cast : Kim Myungsoo, Bae Sooji

Disclaimer

Storyline pure by Me, all cast belongs to God and their familiy

Poster by my lovely saengi rosaliaaocha

.

.

.

The life-time before we met has faded away

 *

Myungsoo mendorong tubuh Sooji, menyandarkannya di sisi pohon. Seakan tidak ingin kehilangan, Myungsoo kembali menghujamkan ciumannya ke wajah Sooji, menelusuri wajah wanitanya perlahan. Sooji masih enggan membuka matanya. Nafas hangat Myungsoo menerpa wajah Sooji, di sisi lain nafas Sooji mulai terengah karena degupan jantungnya.

“Aku masih…mencintaimu” gumam Sooji dalam hati. Hingga tiba-tiba Sooji kembali terkesiap, sekelebat bayangan Eric berlari dalam pikirannya. “Eric…” lirih Sooji yang mampu didengar oleh Myungsoo.

Naya Myungsoo..”

Sooji membuka matanya, “andwe!” Tangan Sooji mendorong tubuh Myungsoo, menyisakan jarak diantara mereka. Myungsoo terkejut dengan perlakuan Sooji. Demi Tuhan ucapan Sooji menyebut nama Eric membuat dada Myungsoo tercabik-cabik. Momentum yang hanya mereka berdua miliki tergores dengan munculnya bayangan Eric di benak Sooji.

“Aku tidak bisa, maaf..” Sooji menyingkirkan tubuhnya dari tubuh Myungsoo yang diam terpaku. Tangan Myungsoo terkulai tiba-tiba. Sooji berjalan menjauhi Myungsoo. Airmatanya jatuh tak terbendung. Segala kenikmatan duniawi yang ia dapatkan sesaat dari Myungsoo menyeruak menjadi rasa bersalah yang teramat besar terhadap Eric.

Myungsoo yang masih pantang menyerah membalikkan badannya mengejar Sooji. Tangan kanannya menarik tangan Sooji, merengkuhnya dari belakang. Sooji sedikit meronta, melepaskan kedua tangan kokoh Myungsoo yang menahan kedua tangannya di depan tubuhnya yang membelakangi Myungsoo.

Kajima…kumohon!” pinta Myungsoo. Seorang lelaki pantang menangis dan Myungsoo tidak akan menangis memohon di hadapan Sooji. Cukup sekali ia menangis ketika Sooji menolaknya 10 tahun yang lalu. Bahkan Naeun mantan kekasih satu-satunya tidak mampu menggeser presensi Sooji di hati Myungsoo. Nonsense jika ia tidak pernah memiliki kekasih, namun semua tergantikan ketika Eunji mengatakan ia memintanya menghadiri pernikahan sahabatnya tersebut. Permintaan Eunji yang menginginkan Sooji menjadi pendampingnya. Myungsoo layaknya mendapatkan air di ladang kering menyambut antusias ide Eunji. Seketika ia memeluk Eunji erat yang di saat bersamaan Hongbin melihat adegan mereka. Hongbin yang salah paham, mendorong tubuh Myungsoo dengan kasar dan menggandeng tangan Eunji. Membawanya menjauh dari Myungsoo. Dari kejuhan Eunji mengucapkan kata maaf tanpa suara ke arah Myungsoo. Mengepalkan sebelah tangannya yang bebas pertanda jika Myungsoo harus berjuang saat Sooji datang nantinya. Namun kenyataannya Sooji menolak permintaan Eunji untuk datang karena di saat yang bersamaan, Eric menyatakan cintanya dan dengan gentle melamar Sooji. Perjuangan Eric selama 2 tahun terakhir demi mendapatkan hati Sooji berbuah manis. Sooji memutuskan untuk menanggalkan segala ingatannya tentang Myungsoo. Berusaha menerima kenyataan bahwa hanya Eric-lah pria satu-satunya yang menerimanya dengan tulus.

Selayaknya sebuah cerita novel, waktu membuat semuanya berubah perlahan. Kecelakaan yang dialami Eunji membawa Sooji kembali ke Korea. Presensi Myungsoo kembali mewarnai pikirannya. Hatinya yang hampa kembali berdetak melihat lelaki yang pernah sangat ia suka dengan gigihnya berjuang mendekatinya kembali. Sooji berada di persimpangan dilema, memilih diantara dua lelaki baik yang sama-sama mencintainya.

“Jawablah…” suara Myungsoo membuyarkan lamunan Sooji.

Sooji masih terdiam, tenaganya mengendur. Myungsoo tidak lagi memaksakan kedua lengannya menahan Sooji. Dengan mudahnya Sooji melepaskan kedua tangan Myungsoo, membalikkan tubuhnya. Berusaha membalas tatapan Myungsoo.

“Biarkan aku pergi,” ucap Sooji dengan suara lembut. Kedua tangannya memeluk tubuh Myungsoo. “Jika 4 bulan lagi aku kembali lagi, aku akan sepenuhnya menjadi milikmu..”

“Jika tidak?”

“Berarti kau harus merelakanku..”

Aniya..aku akan menjemputmu, menggagalkan pernikahanmu, membawamu pergi menjauh dari kekasihmu!” Ucap Myungsoo tegas.

“Kau berkhayal oppa!” Sooji mendongakkan kepalanya menatap kembali Myungsoo. “Ini tidak seperti cerita dalam negeri dongeng yang dengan mudahnya menculik wanita yang dicintai, itu tidak akan menyelesaikan masalah.” Balas Sooji.

Myungsoo kembali terdiam. Entah mengapa di saat seperti ini justru pikiran Sooji lebih terbuka daripada dirinya.

Gidaryo oppa..”

“Hem..nan gidaryo..” jawab Myungsoo.

—–

“Adopta!” Eric membuka kedua tangannya lebar-lebar, bersiap menyambut kekasih hati yang hampir 3 minggu tidak ia temui.

I miss you so much dear!” Eric memeluk erat Sooji. Sooji seakan mengerti rasa rindu Eric ikut membalas pelukan kekasihnya.

“Mengapa kulihat kau tampak semakin kurus dear? Are you okay? Aku turut berduka cita atas kematian kakakmu..” Eric memasang wajah tulusnya sembari mengusap pipi putih Sooji.

It doesn’t matter Eric, I feel better now.

Thank’s God!”

Eric mendorong troli yang berisi koper Sooji. Sekembalinya dari Korea, Sooji memberikan beberapa bingkisan untuk keluarganya dan untuk Eric. Edison menyambut gembira kedatangan saudara tiri yang terkadang menjadi rivalnya. Sebuah hubungan yang naik turun karena memang mereka tidak terlahir dari rahim yang sama.

“Bagaimana kabar appa-mu?”

“Masih sedih ma, beliau memintaku untuk tinggal di Korea.”

Mae terdiam menatap Sooji yang sibuk menata baju dan peralatan tulisnya. Sebagai ibu yang sangat peka dengan anak perempuan satu-satunya, Mae tahu ada yang tengah terjadi dengan putrinya.

“Kau tidak ingin menceritakan ke mama tentang kepulanganmu ke Korea?”

Sooji menguncir rambut panjangnya, mengganti baju perginya dengan kaos dan celana training panjang. Ia masih terdiam enggan menjawab pertanyaan eomma-nya.

“Baiklah jika kau tidak mau bercerita, kuharap tidak terjadi sesuatu yang akan mengganggu pikiranmu nantinya.” Mae beranjak dari ranjang Sooji. Perlahan ketika ia akan meninggalkan kamar putrinya, terdengar isakan kecil. Sooji menangis. Seketika itu juga Mae menutup pintu kamar, menghampiri putrinya. Mengelus punggungnya perlahan.

“Kim Myungsoo?” sebuah nama yang semakin membuat Sooji mengusap air matanya yang mengalir semakin deras dengan kasar. Hidungnya mulai memerah, sebuah kebodohan dan kesalahpahaman yang ia pelihara selama lebih dari 10 tahun akan Myungsoo membuatnya menyesal. Ia sangat ingin tenggelam dalam dekapan Myungsoo, menikmati setiap inchi wajah lelaki yang mengisi pikirannya selama ini.

“Kau bertemu dengannya?”

Sooji menganggukkan kepalanya. ia mengusap air mata di pipinya. Menatap jendela luar, suaranya bergetar, “aku bodoh ma…” ucapnya.

“Apa maksudmu?”

Eonni dan Myungsoo oppa tidak pernah saling menyukai, semua hanya pikiran bodohku, pikiran picik yang ibu panti sangat benci. Kediamanku yang tidak sanggup menanyakan apakah eonni menyukainya atau tidak. Hari ketika kukira eonni menyukainya ternyata hanyalah perasaan posesif seorang sahabat. Eonni sakit parah kala itu dan ia tidak ingin kehilangan Myungsoo oppa, seharusnya aku bisa menerima itu jika saja aku menanyakan apakah eonni menyukainya atau tidak. Eonni tidak tahu jika saat itu gadis yang disukai Myungsoo oppa adalah aku. Semua menjadi rumit karena pikiran burukku ma…aku..aku…” Sooji tidak sanggup meneruskan kalimatnya.

“Ssh!” Mae mendekap erat tubuh putrinya, membelai lembut rambut Sooji.

“Dia menciumku ma, sama ketika 10 tahun yang lalu ia menyatakan cintanya padaku…what should I do?” isak Sooji.

Mae masih terdiam mendengarkan curahan hati Sooji. Sesungguhnya ia tidak tega mendengarkan cerita kedua putri angkatnya. Ia dan mantan suaminya berusaha sebaik mungkin membesarkan Eunji dan Sooji selayaknya anak kandung. Bahkan ia sangat terkejut perihal penolakan Hongbin di detik-detik menjelang hari pernikahan Eunji hanya karena ia anak angkat. Namun Sooji enggan menceritakan kehamilan Eunji yang ia tutup rapat-rapat sebagai aib kakak perempuan satu-satunya.

“Kau masih menyukainya?”

Sooji menganggukkan kepalanya, “bahkan rasa cintaku semakin besar ma..” isakan Sooji semakin keras.

“Ya Tuhan sayang!” Mae mencium puncak kepala putrinya. Memberikan kalimat-kalimat yang seharusnya seorang ibu berikan untuk menguatkan putri satu-satunya yang akan menjalankan pernikahan dalam waktu dekat.

—–

“Kau melamun?” Eric menyodorkan coffe cup-nya ke wajah Sooji yang tengah menatap Katedral tempat mereka akan melangsungkan pernikahan. Ia dan Eric semakin sibuk menyiapkan pernikahan yang telah berjalan 80%. Undangan pernikahan telah didesain oleh Edison, kakak tiri Sooji. Pun dengan gaun pengantin telah siap untuk dicobakan di tubuh Sooji. Baju pengantin putih gading sederhana dengan veil yang sangat cantik. Eric tersenyum puas melihat calon istrinya memakai baju yang akan mengesahkan dirinya memiliki Sooji seutuhnya.

Hari demi hari Eric lalui bersama Sooji. Mendekati hari pernikahan mereka, sesuatu menghampiri perasaan Eric. Wajah Sooji kembali seperti dahulu. Eric pernah menanyakan kepada Casey apakah Sooji menceritakan sesuatu ketika ia di Korea. Namun sama halnya dengan Erci, Sooji diam seribu bahasa, tidak membahas sama sekali perihal Sooji yang bertemu kembali dengan Myungsoo.

Pernah Eric menanyakan langsung kepada Sooji. Namun sebuah jawaban gamang ia terima.

“Kau tidak ingin menceritakan kepadaku seperti apa Korea?”

“Untuk apa?”

“Hei dear, meskipun aku berwarganegaraan Scotland, bukan berarti aku melupakan leluhurku!” protes Eric.

“Benarkah? Daebak!” Kekeh Sooji yang terasa lebih seperti ejekan menggoda.

“Jika aku berkesempatan ke Korea, kau akan mengajakku kemana?” tanya Eric lagi.

“Ulsan.” Sebuah jawaban spontan keluar dari mulut Sooji, “karena semua kenanganku di sana.” Sooji mengaduk teh hangatnya.

“Ulsan?”

“Hem…dan Seoul tentunya.” Ralat Sooji.

Eric diam sejenak memandang kastil dari kejauhan. Di jantung kota Edinburgh yang sangat indah ini, Eric menyadari satu hal. Hati Sooji kembali tertambat di sana, Korea.

“Apakah kau bertemu dengan lelaki itu?”

Sooji menghentikan aktivitas makannya. Melipat serbet di pangkuannya.

“Kurasa aku tahu jawabannya.” Eric kembali meneruskan makannya.

—–

Myungsoo menatap kalender di meja kerjanya. Hari menujukkan tanggal 27 Februari 2013, tepat 3 minggu lagi Sooji akan menikah. Hingga saat ini ia tidak mendapatkan kabar apapun dari pujaan hati, hatinya mulai rapuh, ia rindu dengan Sooji. Sebuah asa selalu ia simpan, berharap di hari itu sebuah pernikahan akan gagal.

“Myungsoo-ssi!”

Ne?”

“Ada yang mencarimu.”

“Siapa?”

“Tuan Bae Young Jin.”

Eoh..” Myungsoo beranjak dari tempat duduknya, berjalan keluar dari ruang kerjanya.

Annyeonghasimika abhoji,” sapa Myungsoo menundukkan kepalanya.

“Myungsoo-ya!” Tuan Bae memeluk Myungsoo. “Kau ada waktu untukku?”

Ne abhoji..”

Myungsoo membawa Tuan Bae ke salah satu restoran dekat kantornya.

Ige..” Tuan Bae menyodorkan sebuah surat undangan yang terkirim via pos bersama setelan jas sebagai pendamping dan tiket penerbangan menuju Edinburgh. Myungsoo tertegun. Bibirnya kelu tanpa bisa berkata apa-apa.

“Kau tidak ingin merebutnya dari sisi Eric? Aigo..aku akan sangat kesepian..mianhe Eunji-ya, appa gagal membawa adikmu kembali ke Korea.” Suara berat Tuan Bae bagaikan sesuatu yang menohok jantung Myungsoo. Sooji telah membuat keputusan besar, memilih untuk kembali meninggalkannya dan mengawali hidupnya bersama Eric.

—–

Eric menghentikan mobilnya di depan gereja Katedral. Kurang dari 3 minggu ia akan menikahi Sooji. Ia keluar dari mobil sekedar mengamati betapa gagahnya tempat yang akan menjadi saksi pernikahannya kelak. Pikirannya kalut akhi-akhir ini, ia merasa Sooji seperti orang asing. Meskipun senyuman Sooji menghiasi wajah ayunya, namun sebuah kesedihan tersimpan di sana. Dan Eric bimbang apakah ia akan sanggup mengembalikan senyuman Sooji. Angin berhembus menemani pikiran Eric yang saling beradu. Dengan kemantapan langkahnya, ia berjalan memasuki gereja Katedral.

—–

19 Maret 2013, 3 hari menjelang detik-detik pernikahan Sooji. Myungsoo semakin menenggelamkan dirinya dalam rutinitas pekerjaan yang super hectic. Ia sengaja mengambil lembur yang berlebihan untuk mengalihkan kesedihannya akan pernikahan Sooji. Hingga saat itu tiba. Dirinya yang tengah berdiri akan memasuki mobilnya melihat seorang anak kecil terlepas dari orang tuanya.

“Hei!” Myungsoo setengah berlari memperingatkan orang tua anak kecil tadi yang sepertinya tidak menyadari anaknya berjalan ke sisi jalan raya. Dengan tergesa-gesa, Myungsoo berlari ke sisi jalan mengetahui beberapa kendaraan berjalan di lajur cepat.

“Awas!” pekik Myungsoo yang berhasil mendekap tubuh anak kecil tadi, namun nahas bahu kanannya tertabrak mobil yang sedetik kemudian terdengar suara rem memecah keheningan. Myungsoo tidak sadarkan diri.

“Dia berdarah!” Teriak para pengguna jalan, sementara anak kecil tadi meraung-raung dalam dekapan Myungsoo.

—–

21 Maret 2013.

Seorang wanita dengan cantiknya memakai gaun pengantin, tersenyum lembut menyambut lengan ayahnya. Hari ini akan berlangsung sebuah pernikahan sederhana.

“Kau siap?”

“Iya daddy.” Jawabnya dengan mantap.

Pintu altar terbuka, mengantarkan pengantin wanita dan ayahnya berjalan perlahan menuju altar gereja Katedral. Eric tersenyum sembari menahan degupan dadanya. Menyaksikan betapa anggunnya sang pengantin wanita berjalan.

Pendeta berhasil meresmikan keduanya menjadi sepasang suami istri. Di hadapan jemaat dan dengan janji suci, sebuah ciuman tulus diberikan kepada sanga wanita. Sorak sorai dan tepukan membahana mengisi kesunyian gereja. Senyuman Eric mengembang. Perlahan ia berdiri, mengancingkan kembali jas hitamnya, berlalu dari hadapan sepasang pengantin. Setidaknya ia tidak menyesal dengan keputusan besarnya.

“Saya ingin membatalkan pernikahan.”

“Mengapa?”

“Kurasa kami tidak lagi mendapatkan kesamaan untuk mengarungi bahtera rumah tangga.”

“Mengapa seyakin itu anda memutuskan?”

“Sesuatu menyadarkan saya jika sebuah pernikahan tidak akan bahagia jika salah satunya tidak saling mencintai.”

“Tapi anda masih bisa berusaha memiliki hati calon anda, setidaknya itu yang telah anda lakukan selama 2 tahun ini.”

“Saya tahu, tapi sepertinya saya gagal memenangkan pertarungan ini..”

“Anda yakin dengan keputusan ini?”

“Tidak pernah seyakin ini Mr. Abbot,” Eric menjawab dengan ketegasn luar biasa.

—–

Sooji duduk tertidur di sisi ranjang ruang ICU Seoul Hospital. Myungsoo masih belum sadarkan diri dari masa kritisnya selama 3 hari ini. Sebuah telepon dari appa-nya berhasil membawa Sooji kembali ke Korea dari jadual sesungguhnya. Eric telah membatalkan pernikahan 3 minggu menjelang pernikahan mereka. Sooji merasa bahagia meskipun di sisi lain ia merasa sangat bersalah terhadap Eric. Namun nasehat eomma-nya semakin menguatkan dirinya untuk kembali ke Korea hingga saat itu tiba, sebuah kabar Myungsoo mengalami kecelakaan dan tidak sadarkan diri. Dan di sinilah ia, setibanya ia di bandara, Sooji langsung bertolak menuju rumah sakit. Mengisi 2 harinya di sisi Myungsoo.

Bunyi ‘bip’ masih mengisi keheningan ruang ICU, Sooji yang masih terlena dalam tidur lelahnya tidak bergeming. Myungsoo membuka matanya perlahan, ia merasakan limbung dan bingung. Menatap atap rumah sakit. Pandangannya ia edarkan ke seluruh ruangan. Hingga jemarinya merasakan sesuatu yang lembut melingkupinya. Tatapannya ia tujukan di sisi ranjang. Myungsoo sangat terkejut, jantungnya berdegup seakan tidak percaya melihat Sooji memegang jemarinya, matanya masih terpejam di sisi ranjang.

Myungsoo sedikit menggerakkan tubuhnya yang berhasil membangunkan Sooji. Setengah menahan kantuk, Sooji menegakkan tubuhnya. Ia tersenyum bahagia menatap Myungsoo. Jam menunjukkan pukul 04.40 pagi. Siapapun pasti masih terlelap tidur, begitupun dengan appa Myungsoo yang meninggalkan dirinya menemani anak lelakinya.

“Kau sudah sadar?” tanya Sooji dengan suara lembutnya. Myungsoo susah untuk mengucapkan kata-kata, jemari Sooji meraih tombol untuk memanggil perawat. Myungsoo diberi air mineral oleh perawat. Selepasnya, tangan Myungsoo memberikan tanda Sooji untuk mendekatinya.

“Kau tahu, aku sangat ketakutan mendengarmu kecelakaan oppa..” Sooji menatap sayang Myungsoo.

Mianhe…” suara Myungsoo hampir tidak terdengar. Demi apapun, Sooji mengusap pipi Myungsoo, memberikan kecupan di wajah lelaki yang sangat ia sayangi. Sooji menangis, tangis bahagia.

——

Edinburgh, 11 April 2015

“Mam, ada bingkisan untukmu.” Edison menyodorkan satu kotak besar paket yang di dalamnya terdapat satu bendel surat besar bertuliskan dari Korea. Ia tersenyum cerah. Paket dari putrinya telah tiba. Sebuah album foto dan beberapa oleh-oleh khas Korea. Tepat lima bulan yang lalu Sooji menikah dengan Myungsoo. Sebuah harapan akan kebahagian Sooji terwujud. Mae masih ingat kalimat yang ia berikan kepada Eric ketika calon menantunya kala itu meminta nasehatnya.

“Jalani apa yang menurutmu benar. Jika kau yakin bisa membahagiakan putriku, maka nikahilah dia. Jika kau tidak sanggup, masih ada waktu untuk menghentikan semua ini.”

“Dahulu aku tidak terlalu yakin putri anda menyukaiku, tapi sekarang..aku semakin yakin ia tidak mempunyai rasa pada pernikahan kita nantinya.”

“Kau tahu benar jawabannya.”

“Apa yang harus saya lakukan?”

“Sooji tidak ingin menyakitimu Eric.”

“I know…”

—–

“Kau memasak lagi?” Myungsoo meraih buah apel yang telah dikupas Sooji. Beberapa minggu terakhir Sooji sangat gemar memasak dan mengupas buah. Namun hanya buah saja yang ia sentuh untuk ia masukkan ke dalam mulutnya.

“Hoek!” Sooji menahan rasa mualnya. Menurut perhitungannya, ia telah terlambat 2 hari dari hari datang bulannya. Myungsoo yangs seakan peka, serta merta mengajak Sooji untuk segera ke dokter. Namun Sooji berkilah, ia masih menunggu 2 hari lagi dokter kandungan rekomendasi Dasom pulang dari dinas luarnya.

Malam harinya.

Myungsoo membaca buku di teras belakang menghadap langit malam. Ditemani bunyi kumbang yang menyambut musim semi, Myungsoo tengah khusuk membaca buku bacaannya. Sooji berjalan ke arah suaminya, mengelus punggung Myungsoo kemudian mengambil buku dari tangan suaminya.

Oppa.”

“Hem?” Myungsoo mengalungkan lengannya di belakang tubuh Sooji.

Ige..” Sooji menyodorkan sebuah alat cek kehamilan, dua garis merah menghiasi.

Myungsoo termangu, terkejut dengan benda kecil yang diberikan Sooji. Ia menatap alat test pack dan wajah Sooji yang tengah tersenyum bergantian. Seakan mengerti maksud raut wajah suaminya, Sooji menganggukkan kepalanya.

Mata Myungsoo memerah, demi apapun ia sangat bahagia. Sebuah degupan menyeruak dari dalam dadanya mendapati Sooji hamil.

“Kau akan menjadi appa!” Ucap Sooji dengan lembut.

Gomawo sayang!” Myungsoo meraih leher istrinya, mendekap erat tubuh Sooji. Sesuatu membasahi pundak Sooji, untuk kedua kalinya Myungsoo meneteskan air matanya. Namun bedanya, ia bahagia saat ini.

Chukkae oppa!” Sooji melepas pelukan Myungsoo. Mengusap pelan pipi suaminya. Menghantarkan kecupan hangat di bibir Myungsoo.

—–

Mr. Eric Nam?” seorang wanita berdiri di hadapan Eric dengan anggunnya. Wanita keturunan Asia yang ia dapatkan dari kencan buta ide dari Edison.

Oh..yes I am.”

Wanita itu tersenyum, “Rika Aihara,” ucapnya memperkenalkan diri.

Nice to meet you..please sit here..” sambut Eric.

Sebuah jalan panjang kehidupan Sooji. Kenangan masa kecilnya, perjuangannya membahagiakan Eunji, keikhlasannya menerima Eric, pengorbanannya meninggalkan kenangan masa kecilnya mengantarkan dirinya pada suatu labuhan. Kim Myungsoo, lelaki yang dengan gigihnya menjaga cintanya untuk dirinya berhasil menemani hari-harinya saat ini. Setidaknya setiap orang pasti akan menemukan kebahagiaan walaupun Tuhan akan memberinya ujian sebelumnya. Dan Sooji yakini itu.

“Jika seorang lelaki mencintaimu lebih dari setengah usiamu, apakah kau akan melepaskannya sayang?”

“Tidak ma…”

“Maka kejarlah kebahagiaanmu, hanya kau yang bisa melaluinya..”

“ Arra…”

Dan hari ini, seorang Myungsoo berhasil memilki Sooji dan mahluk kecil di rahim istrinya. Leluasa mendaratkan rasa sayangnya lewat kontak fisik yang ia cita-citakan sedari dulu. Sebuah kecupan selalu ia berikan untuk Sooji. Myungsoo loves Sooji more and more

FIN

Akhirnya berhasil terselesaikan, mian jika di part sebelumnya bikin readers dag dig dug. RCL nya ne, GHAMSAHAMIDA!! Yeay utang saya lunas #jingkrak2🙂😉🙂

103 responses to “Adopta (3/3)

  1. Udah kaget kirain sad ending tapi untungny… happy hehehe… author fighting untuk next ffny ya gomawo…

  2. yeay yeay…. eric baik nyaa… lelaki gentelman beneran dia mah…
    happy ending and i like it..

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s