[Freelance] New Destiny Chapter 6

New Destiny 3 poster

Title : New Destiny | Author : danarizf| Genre :  Fantasy – Romance | Rating : Teen | Main Cast : L [Infinite] as Kim Myungsoo, Suzy [Miss A] as Bae Suzy | Support Cast : Hoya [Infinite] as Putra Mahkota Lee Howon, Krystal [F(x)] as Jung Krystal (2015) / Putri Mahkota Jung Soojung (Joseon), Jiyeon [T-Ara] as Park Jiyeon, Irene [Red Velvet] as Bae Joohyun, Minho [SHINee] as  Choi Minho

….

 

Joseon, 1365

Hari semakin larut dan bumi semakin gelap seiring dengan berjalannya waktu. Di sebuah ruangan kecil, Suzy duduk terdiam. Tubuhnya bersandar pada dinding sedangkan dagunya Ia topang pada kedua lengannya yang tengah memeluk lutut. Keningnya berkerut dalam. Ia masih merasa janggal dengan kejadian yang dialaminya sekarang.

Mwoya? Apa yang sebenarnya terjadi?” gumamnya pelan.

Kemudian Suzy melongokkan kepalanya untuk melihat suasana diluar ruangan itu. Sepi. Hanya ada beberapa penjaga – atau mungkin para anggota kepolisian – yang berjaga di luar ruangan.

“Heish.. ini seperti di drama-drama saja. Apa aku sedang ada di penjara sekarang?” Pikiran Suzy terus menerka-nerka.

Ingatannya kembali berputar pada saat kejadian aneh beberapa waktu yang lalu menimpanya dan Krystal.

“OMO! Suzy! Gempa!”

“Kapjagi! Omo! Ottokhae?”

“Krystal-ah!”

“Suzy-ah!”

Kerutan di dahi Suzy semakin dalam ketika Ia mengingat gempa yang sebelumnya Ia alami bersama sahabatnya. Ia kembali mengingat apa saja yang Ia alami setelahnya. Namun Ia justru semakin bingung saat menyadari Ia terbangun di tempat yang sama dengan keadaan yang berbeda.

“Dimana ini?”

“Kemana perginya orang-orang?”

“Tolong bantu aku… temanku pingsan di dalam sana dan tak kunjung bangun. Aku mau mencari bantuan tapi tak ada orang sama sekali. Hanya kau.”

Sampai kemudian Ia bertemu dengan seorang pemuda bernama Kim Myungsoo yang mengaku merupakan pengawal Pribadi Putra Mahkota Lee Howon. Dan yang lebih membuatnya heran adalah reaksi Myungsoo saat melihat Krystal. Pemuda itu menyebut Krystal sebagai Putri Mahkota. Begitu pula seorang pemuda yang dipanggil ‘Choha’ oleh Kim Myungsoo tadi juga memanggil Krystal dengan sebutan Putri Mahkota.

Suzy terdiam cukup lama hingga akhirnya Ia mendesah frustrasi. Kedua tangannya bergerak mengacak-acak rambutnya sendiri.

Jinjja!”

Lalu Suzy kembali diam. Ia merangkakkan tubuhnya mendekati pintu kayu dan kembali melongokkan kepalanya melihat keluar.

“Apa benar ini penjara? Seperti di Joseon saja!” gerutunya pelan. Namun sejenak kemudian Ia termenung. Ingatannya kembali menangkap peristiwa yang Ia alami beberapa waktu yang lalu.

“Ck, di dunia mana aku berada sekarang? Ya! Mana ada Putra Mahkota di jaman modern seperti ini! Korea Selatan dipimpin oleh presiden, bukan Raja! Kau pikir ini jaman Joseon?”

“Tentu saja ini di Joseon.”

“Joseon?”

Kedua bola mata Suzy melebar saat menyadari sesuatu. Mulutnya ternganga tak mempercayai ingatannya sendiri.

Mwoya? Apa aku sedang bermimpi? Joseon? Benarkah aku berada di masa Joseon sekarang? Jinjja? Bukannya ini tahun 2015?”

Karena terlalu sibuk mencari jawaban membuat Suzy kelelahan hingga akhirnya Ia jatuh tertidur dengan kepala bersandar pada pintu kayu penjara.

….

Malam berganti menjadi pagi. Matahari yang harus kembali bertugas menyinari dunia pun terbangun dari tidurnya. Pagi yang cerah. Namun terlihat sekali cuaca pagi itu bertolak belakang dengan keadaan di aula istana. Para menteri tengah memasang wajah bingung sekaligus terkejut saat mendengar dari Raja sendiri kalau Putri Mahkota telah kembali.

“Karena Putri Mahkota telah ditemukan, aku rasa pemilihan Putri Mahkota yang baru tidak perlu dilanjutkan lagi,” kata Raja pagi itu.

Tentu saja hal ini membuat para menteri semakin tidak senang. Terlebih dengan pembatalan yang baru saja dituturkan Raja. Para menteri yang sebelumnya mengajukan permintaan untuk mengganti Putri Mahkota tentu merasa tidak nyaman dengan keputusan itu.

“Aku harap dengan kembalinya Putri Mahkota Jung tidak akan ada lagi permintaan-permintaan seperti pemilihan Putri Mahkota yang baru.”

Dan kalimat yang diucapkan Raja seakan menjadi penutup pertemuan pagi itu bersamaan dengan raut wajah para menteri yang semakin tak mengenakkan.

….

Howon masih setia menemani Soojung – Krystal – bahkan melewatkan jam tidurnya semalam. Matanya terus terjaga demi menunggui gadis itu hingga membuka mata dan bangun dari tidurnya. Sesekali Howon mengulurkan tangannya, mengelus pelan wajah putih Krystal, atau mengecup pelan kening gadis itu. Berharap si pemilik akan segera membuka kedua kelopak matanya.

“Heuh….”

Untuk kesekian kalinya Howon menghela nafas. Sejujurnya Ia sedang senang saat ini. Pertama, Putri Mahkota-nya yang hilang telah kembali. Lalu, dengan kembalinya Putri Mahkota – yang sebenarnya merupakan Krystal, bukan Soojung – membuat para menteri tak bisa berkutik saat Raja memutuskan untuk membatalkan pemilihan Putri Mahkota yang baru, termasuk juga neneknya.

Namun, Ia tak bisa memungkiri ada sebersit kesedihan karena gadis yang ditungguinya itu tak kunjung membuka matanya.

“Putri Mahkota, cepatlah bangun. Aku merindukanmu. Apa kau tak merindukanku? Soojung-ah…..”

….

Suzy mengerjapkan kedua matanya saat seberkas sinar matahari mengusik tidurnya. Ia membuka kedua matanya perlahan. Manik matanya memindai keadaan di sekitarnya. Ia masih ada di tempat yang sama. Penjara.

“Ah… pegal sekali,” keluhnya.

Ia kemudian mengalihkan pandangannya saat dilihatnya sepasang kaki tengah berdiri di depan selnya. Kening Suzy mengernyit. Ia pun mengangkat kepalanya untuk mengetahui siapa pemilik kaki itu.

Eoh? Kim Myungsoo? Apa yang kau lakukan disini?”

Kim Myungsoo – pemuda pemilik sepatu – merendahkan tubuhnya hingga sejajar dengan Suzy. Sorot matanya menatap Suzy penuh rasa iba.

“Mengunjungimu. Apa kau baik-baik saja?” tanyanya.

Suzy mengangguk pelan. “Eoh,” jawabnya lalu melanjutkan, “memangnya boleh masuk kesini sembarangan? Apa kau menyogok para penjaga di depan?”

“Ya begitulah…”

Hening.

Melihat Myungsoo di hadapannya tiba-tiba membuat Suzy kembali teringat pemikiran yang terlintas di otaknya semalam. Tentang Joseon. Dengan sedikit ragu, Suzy mencoba memberanikan diri untuk bertanya pada Myungsoo.

“Kim Myungsoo, ada yang ingin kutanyakan,” kata Suzy sedangkan Myungsoo yang mendengarnya hanya memasang raut bertanya pada Suzy. “Kau… apa benar yang kau katakan waktu itu kalau kita berada di jaman Joseon sekarang?”

“Apa yang kau bicarakan?”

Suzy berdecak pelan. “Jawab saja.”

“Tentu saja kita berada di Joseon. Kau ini aneh sekali,” balas Myungsoo.

Suzy tak bergeming di tempatnya mendengar jawaban Myungsoo. Kalau Ia berada di Joseon, berarti ada sesuatu yang terjadi. Apa Ia baru saja melintasi waktu hingga terlempar ke jaman ini? Tapi kenapa bisa?

“Apa yang kemarin itu benar-benar Putra Mahkota seperti yang kau katakan? Putra Mahkota Lee Howon?” tanya Suzy lagi.

“Ya. Ada apa?”

Suzy menggelengkan kepalanya pelan. “Anieyo,” sahutnya. “Apa aku akan diinterogasi? Sebenarnya kenapa aku dihukum? Krystal… dia temanku. Kenapa pemuda kemarin… ehem, maksudku Putra Mahkota menuduhku menculik Putri Mahkota? Lagipula gadis yang kemarin itu Krystal, bukan Putri Mahkota seperti yang kalian katakan. Apa yang terjadi sebenarnya?”

“Aku…”

Baru saja Myungsoo akan menjawab pertanyaan yang dilontarkan Suzy, tiba-tiba seorang penjaga mendekatinya dan menyuruhnya segera pergi.

“Waktumu sudah habis. Kalau kau masih disini, aku bisa terkena marah Kepala Polisi. Cepat kau pergi!” suruh penjaga itu dengan suara pelan.

Myungsoo beranjak berdiri. Ia kemudian menatap Suzy yang masih terdiam sambil menunggu jawabannya. Myungsoo tersenyum tidak enak pada Suzy.

“Maaf aku tak bisa menjawab pertanyaanmu. Aku harus pergi sekarang.”

Myungsoo pun beranjak meninggalkan sel tempat Suzy berada setelah mengucapkan kalimat itu, sedangkan Suzy hanya dapat menatap kepergian Myungsoo dengan kecewa karena tak mendapatkan jawaban yang Ia butuhkan.

Eottokhae jigeum?” lirihnya pelan.

….

Hari semakin malam dan Myungsoo belum beranjak sedikitpun dari duduknya semenjak tadi. Di hadapannya, seorang gadis cantik tengah terbaring dengan mata tertutup sedangkan jemari tangannya digenggam erat oleh pemuda berjubah biru tua, Putra Mahkota Lee Howon.

“Kim Myungsoo, ada yang ingin kubicarakan denganmu,” kata Howon tiba-tiba.

Myungsoo mendongakkan kepalanya menatap Howon yang masih duduk membelakangi dirinya. “Ne, Choha. Apa yang ingin Anda tanyakan?” balas Myungsoo.

Howon terdiam cukup lama. Kemudian Ia pun membalikkan tubuhnya hingga menatap Myungsoo yang masih duduk bersimpuh dengan kepala sedikit menunduk. “Kemarin… kau berada di sini bersama Soojung dan gadis itu kan?” tanya Howon.

Kening Myungsoo berkerut saat mendengar kata ‘gadis itu’. Seketika pikirannya langsung tertuju pada Suzy yang kini tengah mendekam di penjara. Bagaimana keadaan gadis itu sekarang ya? Mungkin itulah yang ada di pikiran Myungsoo saat ini.

Ne, Choha,” jawab Myungsoo setelah terdiam cukup lama.

“Apa kau mengenal gadis itu? Mengapa dia bisa bersama Putri Mahkota?”

Myungsoo diam sejenak. “Jwesonghamnida, Choha. Saya tidak tahu siapa gadis itu sebenarnya dan darimana dia berasal. Yang saya tahu namanya adalah Bae Suzy. Dan mengenai dia yang sedang bersama Putri Mahkota, saya juga tidak tahu karena saat saya bertemu dengan gadis itu, Putri Mahkota sudah terbaring di kediaman Anda, Choha.”

Kali ini giliran Howon yang terdiam. “Myungsoo, temani aku menemui gadis itu.”

Ne, Choha.”

….

Seorang wanita tua tengah menyeruput tehnya perlahan. Sesekali matanya melirik tajam seorang dayang di hadapannya. Dengan senyum sinis Ia kembali meletakkan cangkir berisi teh tersebut.

“Dayang Song, bisa kau ulangi apa yang baru saja kau katakan?” pinta Ibu Suri Park – wanita tua itu – dengan senyum sinis yang masih tersisa di bibirnya.

Ye, Mama,” sahut Dayang Song. “Yang Mulia Raja baru saja mengeluarkan keputusan sebagai tanggapan dari permintaan para menteri untuk melakukan pemilihan ulang Putri Mahkota. Karena Putri Mahkota telah kembali, maka penggantian Putri Mahkota akan dibatalkan,” jelasnya.

Senyum yang sedaritadi terpasang di bibir Ibu Suri Park menjadi semakin sinis bersamaan dengan tatapan kedua manik matanya yang semakin tajam.

“Putri Mahkota kembali? Apa mereka berusaha membodohiku?” gumam Ibu Suri Park.

Dayang Song hanya menunduk takut tanpa tahu harus bagaimana membalas. Apalagi saat senyum yang sejak tadi terukir di bibir Ibu Suri Park tiba-tiba memudar.

“Dayang Song, beritahu Putra Mahkota aku akan berkunjung di kediaman Putri Mahkota saat ini,” perintahnya. “Aku harus melihat dengan mata kepalaku sendiri.”

Ne, Mama.”

….

Suzy mengerjapkan kedua matanya yang terasa begitu berat saat merasakan kehadiran orang lain di dekatnya. Ia mengangkat kepala dan menatap sekelilingnya, lalu mendesah pelan mengetahui Ia masih berada di penjara. Namun sedetik kemudian Ia mengarahkan pandangannya keluar sel penjara untuk mengetahui siapa ‘orang lain’ yang tiba-tiba hadir itu. Kedua alisnya bertaut heran melihat Kim Myungsoo bersama seorang pemuda yang diketahuinya merupakan Putra Mahkota Howon.

Suzy berdeham pelan lalu menundukkan tubuhnya sedikit. Bagaimanapun Ia tak mau mengambil resiko dengan bersikap tak sopan pada orang yang ‘bisa jadi’ benar-benar merupakan Putra Mahkota.

“Namamu… Bae Suzy, benarkan?”

Ne,” jawab Suzy pelan. Sesekali manik matanya melirik Myungsoo yang hanya berdiri dan tak bergeming sedikitpun di belakang Howon.

Howon menatap tajam Suzy. “Apa tujuanmu menculik Putri Mahkota?” cerca Howon.

“Apa? Aku tidak menculik Putri Mahkota. Gadis yang tidur kemarin adalah temanku,” balas Suzy membantah tuduhan yang dilontarkan Howon.

“Beraninya kau berbohong pada Putra Mahkota!” bentak Howon.

Suzy mendesah pelan. Sepertinya Ia telah salah bicara membuatnya harus merutuki kalimat tak sopan yang tadi keluar dari mulutnya. Bodoh, Suzy! Kalau ini benar-benar di Joseon, pastilah perkataanmu tadi benar-benar tidak sopan! Kau bisa dihukum mati! Sekiranya begitulah kalimat rutukan yang terngiang di kepalanya.

Jwesonghamnida, tapi saya tidak berbohong.. Cho..Choha,” ucap Suzy pelan.

Mau tak mau Myungsoo mengalihkan pandangannya pada Suzy setelah mendengar kalimat gadis itu. Sepertinya ini pertama kalinya Ia mendengar kalimat yang sopan keluar dari mulut gadis itu.

“Kau pikir aku percaya pada perkataanmu? Tidak akan ada penjahat yang mengaku telah melakukan kejahatan!”

“Tapi saya–”

Choha….”

Suara Kasim Hong yang tiba-tiba terdengar sontak membuat ketiga orang yang ada di sana mengalihkan perhatian mereka pada Kasim Hong yang baru saja datang dengan langkah tergopoh-gopoh.

“Ada apa, Kasim Hong?” tanya Howon.

Choha, Yang Mulia Ibu Suri ingin menemui Anda sekarang di kediaman Putri Mahkota,” jawab Kasim Hong.

Kedua pupil Howon melebar. “Apa? Nenek akan ke kediaman Soojung?”

Ne, Choha.”

Howon menatap Kasim Hong dengan tatapan bertanya seolah dengan melakukan hal tersebut dapat membuatnya menemukan jawaban atas tindakan Ibu Suri Park yang tiba-tiba ini. Ia kemudian menatap Suzy yang masih bergeming di tempatnya.

“Aku akan kembali ke istana dan bertemu Nenek,” kata Howon pada Kasim Hong lalu berpaling pada Myungsoo. “Dan kau, Kim Myungsoo, kau bisa kembali ke kediamanmu sekarang karena hari mulai sore.”

Setelah mengatakan itu, Howon pun melangkahkan kakinya meninggalkan Myungsoo yang masih berdiri di depan sel Suzy dan segera menuju istana bersama Kasim Hong untuk menemui Ibu Suri.

Hening.

Selama beberapa menit tak ada satupun yang mengeluarkan suara. Bahkan Myungsoo tak beranjak sedikitpun dari tempatnya.

“Myungsoo-ssi….” panggil Suzy.

Myungsoo yang mendengar Suzy memanggilnya pun segera mendekati sel gadis itu dan merendahkan tubuhnya agar sejajar dengan Suzy. Ia menatap Suzy penuh tanda tanya. “Ada apa?” tanyanya kemudian.

“Krystal… dimana dia?”

Salah satu alis Myungsoo terangkat. “Keuriseutal?”

Suzy menganggukkan kepalanya mengiyakan. Ia pun memajukan dirinya agar lebih dekat pada Myungsoo. “Krystal, gadis yang kalian kira Putri Mahkota,” sahut Suzy. Terlihat Myungsoo yang akan memprotes perkataan Suzy membuatnya cepat-cepat menyela. “Aku tak berbohong. Krystal adalah temanku dan aku tak menculiknya. Dia juga bukan Putri Mahkota. Percayalah padaku.”

Myungsoo terlihat bingung harus mempercayai gadis di hadapannya atau tidak.

“Baiklah kalau kalian tak percaya, tapi… apa Krystal sudah bangun?”

Gelengan kepala Myungsoo sebagai jawaban atas pertanyaan Suzy, membuat gadis itu mendesah kecewa. Sorot matanya terlihat sedih sekaligus bingung.

“Besok adalah interogasimu, apa kau sudah tahu?”

Suzy mengangguk lemas. Mendengar kata ‘interogasi’ membuatnya teringat drama-drama sageuk yang pernah ditontonnya sebelumnya. Ah, Ia tak bisa membayangkan bagaimana jika Ia diberi hukuman besok. Bagaimanapun, hukuman di Joseon sangatlah tidak berperikemanusiaan. Pikirnya.

“Kuharap kau bisa jujur besok.”

Suzy menatap Myungsoo kesal. “Sudah kubilang aku tidak melakukan apa-apa!” tukasnya.

Myungsoo menghela nafas panjang. Ia menatap Suzy kasihan. Apalagi jika gadis itu terbukti salah besok. Bisa-bisa Ia dihukum mati karena telah mencoba mencelakai keluarga kerajaan.

Sejenak tempat itu terasa sunyi. Baik Suzy maupun Myungsoo tak tahu harus berkata apa.

“Sebaiknya aku pulang sekarang,” kata Myungsoo tiba-tiba.

“Tunggu!”

Myungsoo mengurungkan niatnya untuk pergi. Ia kembali menatap Suzy yang juga tengah menatapnya. “Ada apa?”

“Eung… Myungsoo-ssi, bisa kau bantu aku? Aku mohon bantu aku bebas dari tempat ini. Aku tak bisa mati disini. Atau paling tidak jika aku diputuskan bersalah dan akan dihukum suatu hari, bisakah kau membantu mengulur waktu hukumanku dilaksanakan sampai Krystal sadar? Aku mohon, Myungsoo-ssi. Hanya kau yang bisa membantuku,” pinta Suzy dengan mata berkaca-kaca.

Myungsoo terdiam.

“Aku tid–”

“Aku mohon, Myungsoo-ssi. Aku benar-benar tidak bisa mati disini.”

“Baiklah, akan kubantu sebisaku. Tapi aku tidak janji.”

Suzy tersenyum mendengar jawaban Myungsoo atas permintaannya. Ia kemudian menatap Myungsoo yang masih menatapnya. “Myungsoo-ssi, thanks.”

“Apa?”

“Terima kasih.”

….

Di kediaman Putra Mahkota, dua orang berbeda generasi tengah saling menatap tajam. Putra Mahkota Lee Howon dan Ibu Suri Park. Pada wajah Howon tak terlukis sedikitpun ekspresi senang. Bahkan untuk menyunggingkan seutas senyum pun Ia enggan. Sedangkan Ibu Suri Park, dengan senyum andalannya menatap Putra Mahkota.

“Bukankah aku meminta bertemu di kediaman Putri Mahkota Jung, Wangseja?”

Howon menatap sengit neneknya. Entah mengapa Ia selalu tak nyaman dan tak suka berada di sekitar neneknya. “Untuk apa kita bertemu disana jika Nenek ingin menemuiku?” balas Howon.

Ibu Suri Park terkekeh. “Tentu saja aku juga ingin melihat bagaimana keadaan cucu menantuku yang telah kembali itu. Aku ingin melihat wajah gadis yang membuat Putra Mahkota begitu memuja-mujanya,” ujar Ibu Suri Park.

“Soojung-ku masih harus beristirahat jadi Nenek tidak bisa menemuinya untuk saat ini,” kata Howon tegas.

“Kau terlalu keras pada Nenekmu ini, Wangseja.”

Howon mendesis pelan. “Jadi haruskah aku perhatian seperti Nenek yang bahkan sampai repot-repot memilihkan pendamping yang jelas-jelas tak kuinginkan?” tukas Howon.

Ibu Suri Park tersenyum sinis. “Kurasa kau terlalu lelah. Lebih baik aku kembali ke kediamanku dan membiarkanmu istirahat,” kata Ibu Suri sambil beranjak dari duduknya. Ia terus berjalan tak peduli saat melihat Howon yang hanya diam tanpa memberi hormat padanya.

“Ah, dan satu lagi!” Ibu Suri Park menghentikan langkahnya. Tanpa membalikkan tubuhnya, Ia melanjutkan berkata, “aku akan tetap menemui Putri Mahkota. Bagaimanapun dia adalah cucu menantuku yang baru saja kembali.”

Setelah berkata demikian, Ibu Suri Park bergegas melanjutkan langkahnya meninggalkan Howon yang tak bergerak sedikitpun dari tempatnya.

“Aku tahu Neneklah dalang dibalik menghilangnya Soojung beberapa hari yang lalu. Karena itu aku tak akan membiarkan nenek menyentuh Soojung-ku.”

….

Keesokan harinya. Howon tengah menyeruput tehnya. Di hadapannya ada Kim Myungsoo yang setia menemaninya sedaritadi. Ia tahu hari ini adalah hari dimana Bae Suzy, orang yang menculik Putri Mahkota diinterogasi. Ia berharap keputusan akhir nanti akan sesuai keinginannya. Gadis itu dihukum seberat-beratnya.

Choha, apa tidak sebaiknya kita menunggu hingga Putri Mahkota sadar baru menetapkan hukuman untuk Bae Suzy? Bagaimanapun kita tidak tahu siapa gadis itu sebenarnya dan apa alasannya berada di sini bersama Putri Mahkota saat itu.”

Howon menatap Myungsoo malas. Entah sudah berapa kali pemuda itu membujuknya untuk membebaskan Bae Suzy dari hukuman atau bahkan jika itu hanya sekedar penundaan hukuman.

“Kim Myungsoo, sudah berapa kali kubilang kalau keputusanku sudah bulat dan aku yakin dia pelakunya. Aku hanya ingin dia membuka mulutnya dan mengatakan dalang dibalik semua ini, dengan begitu Ia bisa terbebas dari hukuman. Jadi… itu semua tergantung pada jawabannya,” ujar Howon.

Myungsoo menundukkan kepalanya. “Jwesonghamnida, Choha.”

Cklek..

Tiba-tiba pintu ruangan tempat Howon dan Myungsoo berada terbuka. Kasim Hong masuk dengan sedikit tergesa-gesa. Ia menundukkan sedikit tubuhnya pada Howon sebelum mengeluarkan suara.

Choha, Ibu Suri Park tengah mengunjungi kediaman Putri Mahkota saat ini bersama dengan Putri dari Menteri Park,” kata Kasim Hong.

Kedua mata Howon melotot saat mendengar apa yang disampaikan Kasim Hong. Tanpa mendengar apa yang dikatakan Kasim Hong selanjutnya, Howon bergegas meninggalkan kediamannya diikuti Myungsoo dan Kasim Hong di belakangnya.

Ia segera berlari menuju kediaman Putri Mahkota.

“Nenek!” seru Howon begitu Ia memasuki kediaman Putri Mahkota.

Nafas Howon terengah-engah karena berlari terlalu cepat sedangkan raut wajahnya seketika berubah melihat pemandangan yang ada di hadapannya.

“Soojung-ah…”

….

Suzy menatap nanar keadaan di sekitarnya. Pagi ini Ia akan diinterogasi. Sebenarnya Ia tahu pelaksanaan interogasi dan hukuman jelas akan berbeda. Pelaksanaan hukuman tentu akan lebih berat dari interogasi. Namun tak menutup kemungkinan Ia bisa bebas dari beberapa peralatan yang menyertai jalannya interogasi. Apa Ia akan dipukul jika menjawab tak sesuai keinginan penanya? Atau Ia akan digulung dalam tikar dulu? Memikirkannya saja membuat Suzy merinding.

Ia kemudian berjalan ke area interogasi lalu duduk di kursi tersangka. Kaki dan tangannya diikat pada kursi sedangkan di antara kedua kakinya terdapat dua kayu panjang sebagai alat hukuman.

Manik mata Suzy melirik kesana kemari, berusaha mencari-cari seseorang. Namun tak ada. Ah, Ia lupa. Pada interogasi pasti tidak boleh ada sembarangan orang datang untuk menyaksikan pelaksanaannya. Termasuk Myungsoo.

 “Bae Suzy, kau dituduh atas penculikan salah satu anggota kerajaan yaitu Putri Mahkota dan juga usaha untuk mencelakakan Putri Mahkota. Kau….”

Entah apa yang petugas itu bacakan selanjutnya karena pikiran Suzy sudah tak lagi berada di sana. Ia hanya terus berdoa dalam hati agar seseorang datang membantunya entah itu Myungsoo, Krystal atau siapapun.

Myungsoo. Ya, Kim Myungsoo. Kumohon bantu aku seperti perkataanmu kemarin.

….

Krystal terduduk dengan kepala yang begitu pusing. Di hadapannya ada beberapa orang yang entah siapa itu. Seorang wanita tua, seorang gadis cantik yang mungkin seumuran dengannya, dan dua orang pemuda.

Ia mengernyit heran melihat pemandangan aneh di hadapannya. Apa aku bermimpi? Pikirnya.

“Soojung-ah…”

Kerutan di kening Krystal semakin dalam saat mendengar salah satu pemuda di hadapannya menyebut sebuah nama yang asing. Namun belum sempat Ia mengeluarkan suara, pemuda itu telah mendekatinya dan menariknya ke dalam pelukan pemuda itu, Howon.

“Soojung-ah…”

Lagi-lagi Howon menyebutkan nama itu.

Entah mengapa Krystal hanya diam dan tak berbuat apa-apa saat Howon tiba-tiba memeluknya. Melepas pelukan itupun tidak. Ia hanya masih bingung dengan keadaan saat ini.

Akhirnya Howon melepas pelukannya. Ia menatap Krystal penuh tanya.

“Soojung-ah, gwaenchanhayo?”

Eoh? Eoh,” jawabnya linglung.

Krystal bingung. Mengapa pemuda di hadapannya memanggilnya Soojung? Dan mengapa semua orang disini memakai pakaian kerajaan? Pakaian yang Ia kenakan pun sudah berubah. Hanya berupa hanbok bagian dalam yang biasa dipakai untuk tidur. Bukannya sebelumnya Ia memakai hanbok milik Ibunya? Suzy juga memakai han– dimana Suzy?

“Suzy… dimana?”

Keempat orang lain yang ada di hadapan Krystal terdiam. Hanya Howon yang akhirnya menjawab pertanyaan itu. “Suzy? Bae Suzy maksudmu? Dia sedang diinterogasi. Mungkin sebentar lagi dia akan dihukum,” jawabnya.

Kedua mata Krystal melotot kaget. “Apa? Dihukum? Kenapa Suzy dihukum? Aku ingin menemuinya,” kata Krystal seraya bangkit berdiri namun langsung ditahan oleh Howon.

“Dia yang telah menculikmu, Soojung.”

“Menculik apanya? Dia temanku. Aku ingin menemuinya!”

Howon terlihat kewalahan menahan Krystal. Ia kemudian menatap Myungsoo yang masih berdiri di tempatnya.

“Myungsoo, beritahu petugas interogasi untuk menunda interogasinya. Katakan padanya ini perintah!”

Mendengar titah Howon, Myungsoo bergegas pergi dari kediaman Putri Mahkota tanpa sadar sepasang mata tengah memperhatikan kepergiannya.

“Soojung, tenanglah. Aku akan membawanya kesini. Lebih baik kau beristirahat dulu,” kata Howon.

Setelah mengucapkan kalimat itu, Howon dapat bernafas lega karena Soojung akhirnya diam dan kembali duduk. Namun sejurus kemudian pandangannya berubah tajam saat melihat Ibu Suri Park masih berdiri di tempatnya.

“Lebih baik Nenek kembali ke kediaman Nenek. Bukankah Nenek sudah melihat Soojungku?” tukas Howon.

Tanpa berkata apa-apa, Ibu Suri Park pun segera pergi meninggalkan kediaman Putri Mahkota diikuti Putri Menteri Park di belakangnya.

“Soojung-ah, gwaenchanha?” Howon kembali bertanya pada Krystal yang terdiam.

“Siapa Soojung?”

….

Suzy menatap kesal petugas di hadapannya. Entah sudah berapa kali petugas itu melemparkan pertanyaan dan dijawabnya dengan jujur namun petugas itu justru menuduhnya berbohong dan menghukumnya dengan menarik kayu yang ada di sekitar kakinya hingga Ia berteriaka kesakitan.

“Aku akan bertanya sekali lagi dan kuharap kau akan menjawab dengan jujur karena jawabanmu akan menentukan keputusan akhir interogasi ini.”

Suzy menggigit bibirnya menahan sakit masih sambil menatap tajam petugas itu. Matanya berkali-kali melirik pintu masuk, berharap Myungsoo datang seperti janjinya dan membantunya bebas dari hukuman.

“Apa tujuanmu menculik Putri Mahkota dan siapa yang menyuruhmu melakukan itu?”

Suzy mendengus sebal. Lagi-lagi pertanyaan itu. Kalau Ia menjawab jujur seperti sebelum-sebelumnya, petugas itu pasti menghukumnya lagi. Tapi Ia tak mungkin berbohong dan mengatakan kalau Ia menculik Putri Mahkota kan?

“Kalau kau tidak menjawab, aku akan menyuruh petugas itu untuk menghukummu lagi!”

Mata Suzy melirik petugas di sampingnya yang sedaritadi tega menghukumnya tanpa belas kasihan. Ya Tuhan, apa yang harus Suzy lakukan.

“Aku tidak pernah sekalipun menculik Putri Mahkota!” jawab Suzy dengan tegas akhirnya.

Petugas yang sedaritadi menginterogasi Suzy pun tersenyum sinis. “Sudah kubilang untuk berkata jujur,” gumamnya. “Hukum dia!”

Bersamaan dengan perintah petugas itu, lengkingan teriakan Suzy kembali menggema di setiap sudut area interogasi. Ia benar-benar tak bisa menahan sakitnya hukuman ini. Bahkan air matanya sudah tumpah berkali-kali.

“AAAAAAHHHH!!!”

“HENTIKAN!”

Teriakan Suzy berhenti saat hukumannya tiba-tiba dihentikan. Seorang pemuda tengah mendekati petugas dan memberitahukan sesuatu padanya. Suzy tersenyum tipis kala melihat pemuda itu. Kim Myungsoo menepati janjinya.

“Hentikan interogasi sekarang juga. Ini perintah Putra Mahkota!” kata Myungsoo.

Petugas itu menatap Myungsoo dari atas ke bawah lalu kembali ke atas lagi. “Siapa kau?”

“Aku Kim Myungsoo, pengawal pribadi Putra Mahkota Lee Howon. Aku disini untuk menyampaikan perintah Putra Mahkota agar interogasi ini dihentikan sekarang juga,” jelas Myungsoo.

Tawa petugas yang ada di hadapan Myungsoo sontak meledak mendengar perkataan Myungsoo. “Jangan bercanda! Menghentikan interogasi? Hei… kau pikir aku akan percaya dengan perkataanmu begitu saja? Mana mungkin Putra Mahkota mengirim pengawal pribadinya untuk menyampaikan perintah penting seperti itu!”

“Ini benar-benar perintah!”

“Lebih baik kau pergi.”

Tanpa mengindahkan perintah Myungsoo, petugas itu kembali menyuruh petugas lainnya untuk melanjutkan hukuman pada Suzy membuat gadis itu kembali berteriak.

“AAAAHHHH!!!”

Myungsoo? Pemuda itu tak tahu harus berbuat apa. Ia hanya dapat menatap Suzy dengan perasaan bersalah.

“Maafkan aku…”

….

TBC

….

Maaf ya buat update-nya yg lama bgt soalnya aku lagi sibuk bgt beneran deh. Masih ada yg nungguin cerita ini ga? Semoga masih ada. Maaf ya kalo ceritanya makin kesini makin aneh.

Terus makasih buat yg udah baca sama yg udah ninggalin komen di chapter2 sebelumnya. Komen kalian bener2 bikin semangat buat nulis (syg aja waktunya yg ga ada T_T).

Aku gatau chapter selanjutnya kapan aku update soalnya bentar lagi aku Ujian + beberapa minggu ini bakal full sama Try Out jd ya gitulah… ditunggu aja ya update-annya. Kalo ada waktu, sebelum ujian aku update chapter selanjutnya. Tapi kalo bener2 ga ada, kemungkinan april akhir baru bisa update.

Ah, maaf banyak bgt omong2nya, langsung aja deh jangan lupa RCL yaaa😀

78 responses to “[Freelance] New Destiny Chapter 6

  1. Kasian suzy huaaa pen nangis rasanya. Era dinasti joseon emang kejam aigoo, salah sedikit langsung kena hukuman. Myungsoo tolong suzy😦

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s