Wedding Dress Final Chapter (1/2)

wd3

@xianara | Bae Suzy and Kim Myungsoo, Choi Jiwoo as Suzy’s Mother, OC | Romance, Angst, Drama, AU, Friendship, Family | PG13 | Chaptered : teaser – 1 – 2 – Interlude – 3 – 4 –5 – Shortclip

beside the poster and story line i own nothing!!

I let my heart go with the ticking time
But love keeps making me go back, running back to you

Jiwoo melangkah keluar dari gedung OBSTV dengan pandangan yang tertuju pada sepasang sepatu cokelatnya yang sudah usang. Kepalanya terasa pening. Kata-kata dari Miranda yang terngiang di kepala Jiwoo mirip kaset rusak yang tidak berhenti berputar.

Kau tahu apa yang sebenarnya terjadi, Jiwoo?

Miranda memandang wanita muda yang bercokol di depannya dengan pandangan yang penuh pengharapan. Ia pun tersenyum kala Jiwoo lebih memilih diam ketimbang menimpali setiap perkataannya.

Myungsoo, cucuku yang satu itu, “ Miranda sengaja melambatkan ucapannya. Menunggu reaksi yang dikeluarkan Jiwoo.

“Well, sebebanrnya aku tak pantas mengatakan ini kepadamu. Jiwoo, asal kau tahu saja, Myungsoo sesungguhnya tidak bersalah dalam kesalahpahaman yang terjadi di masa lalu antara Suzy dan Myungsoo. Maafkan aku, tetapi aku mengatakan hal ini bukan dalam kapasitas sebagai nenek Myungsoo.

Seharusnya kau biarkan saja mereka menyelesaikan sengketa yang ada dengan cara mereka sendiri. Tak peduli lamanya waktu yang harus ditempuh. Satu hal yang perlu kau ketahui, percikan-percikan api dalam kisah persahabatan itu lumrah adanya. Kau pernah muda, ‘kan? Kau pasti tahu, lah.”

Maafkan aku harus mengatakan ini, Eommonim, tetapi aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan sebagai orang tua. Sebagai ibu sudah sepantasnya aku melindungi putriku dari segala hal yang membahayakannya.” bela Jiwoo, masih menundukkan pandangannya dari Miranda yang hanya tersenyum miris mendengarnya.

Jadi, kau pikir Myungsoo-ku membahayakan Suzy?” Miranda menertawakan pernyataan Jiwoo yang begitu konyol.

Bukan begitu, Eommonim.

Lalu?

Jiwoo kelu. Ia sendiri juga tak tahu mengapa, dahulu ia sempat mengeluarkan keputusan sepihak dengan menjauhkan Myungsoo dari jangkauan radar putrinya. Jiwoo melakukan itu sebenarnya hanya karena ingin membahagiakan Suzy. Sesederhana itu. Namun ternyata, Jiwo salah dalam mengambil keputusan.

Kau tidak bisa menjawab ‘kan.” simpul Miranda. “Aku tahu kalau Suzy mengalami amnesia disosiatif.

Jiwoo tersentak di tempat lalu membelalakkan matanya.

“Eommonim, ba-bagaimana kau tahu?!” Jiwoo tergagap. Ia pun memberanikan diri mengangkat kepala dan menatap Miranda. “Apakah mungkin? Kau menguntit kami?

“Maafkan aku, ya aku memang melakukannya. Kau tahu? Ancaman Myungsoo padaku itu tidak mempan soal untuk tidak mencari tahu keberadaan diri kalian. Yaa, aku ‘kan hanya ingin selalu tahu keadaan kalian. Masa, aku dilarang mengetahui kabar dari calon besanku? Apa itu namanya? Eo, “

Gendang telinga Jiwoo berdengung tajam. Apakah ia tidak salah dengar? Ca-calon besan?! Ia pun mencermati dalam-dalam frasa yang dilontarkan Miranda barusan. Apa itu maksdunya? Selagi ia sibuk menelaah maksud terdalam dari perkataan Miranda barusan, tanpa dia ketahui, Miranda beranjak dari duduknya dan menghampiri Jiwoo.

Jiwoo,

Jiwoo tersedak dan langsung menoleh kepada Miranda yang sudah duduk di sebelahnya. Miranda menggenggam jemari Jiwoo erat.

Myungsoo, kurasa dia sudah berkali-kali meminta maaf darimu, bukan?” Jiwoo refleks mengangguk. “Kumohon, maafkanlah Kim Myungsoo atas segala kesalahan yang sengaja ataupun tak disengaja ia perbuat pada Suzy. Kumohon, biarkanlah Myungsoo dan Suzy bersatu kembali. Kau tahu? Kau tidak bisa membelah takdir seperti membelah telur rebus, Jiwoo-ya.

“Eommonim, a-aku, “

Kau tahu apa yang harus kulakukan? Aku harus menyatukan mereka. Bagaimanapun caranya!

“Tidak, bukan seperti itu!” bantah Jiwoo. “Bukankah, Eommeonim  mengatakan bahwa masalah yang terjadi di antara mereka berdua harus diselesaikan oleh mereka sendiri. Tanpa ikut campur urusan mereka, kita sebagai orangtua cukup mengawasi saja, bukan?

Miranda terdiam sesaat lalu mengangguk setuju.

Myungsoo-ku, apakah kau tahu apa yang dia rasakan terhadap Suzy?

***

Oh, maafkan aku yang mengganggu. Silakan diteruskan!

Tariq menatap keduanya dengan salah tingkah dan segera memundurkan langkah. Ia pun tersenyum kikuk seraya menggaruk bagian belakang lehernya.

Suzy yang masih menggelayut pada Myungsoo segera tersadar. Dengan mata yang memerah dan tubuh yang bergetar ia pun melayangkan tangannya menuju pipi Myungsoo.

Plak!

Sebuah tamparan mendarat dengan sadis di pipi Myungsoo. Tariq yang belum jauh melangkah pun membeku di tempat mendengar bunyi nyaring tamparan Suzy pada Myungsoo. Erangan kesakitan pun keluar dari bibir tipis Myungsoo. Entah dorongan dari mana, Suzy segera menepis pegangan pria itu yang melingkar di punggungnya. Membebaskan diri dari pelukan sepihak Myungsoo. Debaran-debaran kecil yang sejak tadi menuai aksi di sekitar rongga dada hingga ke ulu hatinya diberhentikan dengan paksa oleh Suzy. Tidak. Ia tidak boleh sampai jatuh hati pada pria bodoh di hadapannya.

Tunggu, apa tadi?

Jatuh hati?!

Suzy tidak mengeluarkan sepatah katapun. Sepasang matanya menghunjami Myungsoo dengan pandangan yang menjerang. Menandakan cairan bening akan tumpah sebentar lagi. Langkah gentar memaksa Suzy untuk meninggalkan kamar hotel Myungsoo.

Myungsoo kembali menyumpahi kebodohannya. Kenapa ia bisa bersikap lancang kepada Suzy? Kenapa ia sampai nekat mengecup Suzy di bagian pipi? Duh, kadang hormone testosteron yang bergejolak di dalam tubuhnya memang tidak bisa dikendalikan.

Tanpa menoleh pada Tariq dan Myungsoo, Suzy melarikan diri dan meninggalkan kedua pria di belakang dalam keterdiaman.

“Suzy, tunggu!”

Myungsoo yang mau bangkit dari kursi roda segera ditahan oleh Tariq. Pemuda itu memegang pundak Myungsoo.

Lebih baik kau biarkan dia sendiri dulu, Kawan.

Suzy berlari meninggalkan kamar Myungsoo menuju ke taman yang tersedia di hotel tempatnya menginap. Sesampainya di sebuah bangku panjang tak bertuan, ia pun segera mendudukkan bokongnya. Tangannya pun diletakkan di atas dada. Ia merasakan jantungnya berdetak sangat cepat. Jantungnya berdebar tak keruan saat menyadari kecupan hangat mendarat di pipinya. Terlebih, kecupan itu berasal dari seorang Myungsoo. Pemuda bertitel penghianat, mantan sahabat, rekan kerja sementara.

“Aku sudah gila!” Suzy menghina dirinya sendiri. Air mata yang merembes dan melewati wajahnya pun dihapus dnegan kasar.

Episode-episode yang melewati harinya selama empat hari belakangan berkelebat di dalam teater memori otaknya. Pertengkaran dengan Myungsoo di pesawat karena rebutan selimut. Jemarinya yang digenggam oleh Myungsoo saat pesawat mengalami sedikit guncangan. Keributan yang dibuat dirinya dengan pemuda itu saat di White Fort. Adu mulut dengan Myungsoo di tengah gurun Rub Al-Khali.

Potongan-potongan bak film itu terus berputar pada layar representative yang terpampang nyata di depan Suzy. Myungsoo yang mendekap Suzy erat. Insiden tertimpa lampu di Burj Al-Arab. Genggaman Suzy pada Myungsoo di kamar rawat. Myungsoo yang duduk di kursi roda berkeliling Miracle Garden bersama Suzy. Sampai pada saat di mana pemuda itu mengecup pipi Suzy.

“Aku harus bagaimana?” tanya Suzy pada dirinya sendiri.

Sekilas, perasaan bersalah hinggap di hati Suzy. Tidak seharusnya ia bersikap seperti ini kepada Myungsoo. Suzy akhirnya menyadari bahwa ia telah membuat kesalahan yang besar di masa lalu; bersikap kekanak-kanakan dalam menghadapi masalah dan memilih lari dari masalah tanpa ada sebersit niat untuk meluruskannya.

Kali ini pun sama saja. Sikap kekanakan yang masih mendominasi. Ego dan harga diri setinggi langit. Pride and Prejudice. Bagai dua mata uang logam. Keduanya tak dapat dipisahkan. Suzy yang menjunjung harga diri setengah mati dan Myungsoo yang menimbun prasangka terlalu lama.

Ponsel yang ada di sakunya pun ia ambil. Dengan cekatan, jemari itu bergerak di atas layar sehingga menampilkan layar panggilan pada ibunya.

“Yeob – “

“Bu, besok pagi aku akan kembali. Urusanku sudah selesai di sini. Apakah kau baik-baik saja di sana?” cerocos Suzy dengan cepat, memotong ucapan halo Jiwoo di seberang sana.

“Ne-ne? Benarkah?! Ah, syukurlah kau segera kembali. Te-tentu, aku baik-baik saja di sini.

 “Um, ya sudah kalau begitu. Kututup ya, Bu.”

“Ne? Ke-kenapa? Suzy-a, “

“Kututup, Bu. Aku menyayangimu!”

“Yaa! Bae Suzy, kau –

Bip!

Kata siapa semua orang harus berdamai dengan masa lalu? Nyatanya, Suzy lebih memilih tetap melawan arus dengan si masa lalu. Cukup melihat ke belakang saja tanpa ada niat untuk kembali. Seumpamanya berkendara, kita melihat ke belakang melalui kaca spion. Masa lalu diibaratkan jalanan yang telah kau lewati dan hanya bisa kau pandangi dari kaca spion. Selagi kau menatap ke belakang, kau juga harus menatap ke depan. Namun jangan terlampau sering menatap ke belakang. Kalau seperti itu, sama saja dengan berjalan di tempat kemudian kau tidak akan sampai pada tujuanmu.

Ironis memang. Ketika Suzy memilih untuk terus melangkah ke depan, ia juga membuang kaca spion yang bertengger di dalam hidupnya sehingga ia pun tidak bisa melihat apa yang sudah terjadi di masa lalu. Sesuatu yang telah membuat Suzy menjadi individu yang sekarang. What happened in the past is what makes people in the present. What will happen in the future is something that people done earlier in the past and present.

Cukup sudah petuah-petuah usang yang menghantui pikiran Suzy. Dengan hanya memikirkan itu semua, Suzy sudah banyak kehilangan energi. Dengan kata lain, ia akan menyerah dengan semua hal yang ada sangkut pautnya dengan Myungsoo dan Masa Lalu.

***

Lampu-lampu yang menerangi pekatnya malam di Dubai tidak sampai hati memberikan efek terang pada terowongan hati Myungsoo. Terowongan yang gelap gulita dan tak berujung. Dirinya merasa kecil di terowongan yang lebar dan panjang itu. Sunyi dan sepi bagai sub-oksigen yang menjejali pernapasan Myungsoo. Sudah kubilang ‘kan tadi, tak ada setitik cahaya pun yang menerangi. Sekali lagi, Myungsoo kembali terjebak di dalam terowongan itu.

Myungsoo tidak duduk di atas kursi rodanya. Ia duduk di pinggir kasur berukuran King yang menghadap ke jendela. Air mukanya terasa basa bagaikan air tawar di rawa-rawa. Tak ada kehidupan terpancar di wajah kuyu pemuda itu.

Menyadari kemustahilan yang selama ini bergantung ria di depan mata adalah hal yang terlambat. Seharusnya dari awal ia sudah tahu bahwa tiada maaf baginya. Suzy sudah menutup rapat semua pintu bahkan sampai ventilasi hatinya dari sergapan Myungsoo. Gadis itu sudah membekukan hati nurani. Sama seperti Myungsoo. Ia pun terkena imbas dari hati yang beku. Hatinya menjadi hancur berkeping-keping saat mengetahui takdir kusut yang menyeret dirinya dan Suzy harus berakhir dengan menyedihkan. Dia dipertemukan oleh Suzy kembali untuk dipisahkan. Sudah jelas, bukan? Persepsi pemuda itu pun telah menjurus pada pernyataan ‘Suzy dan Myungsoo ditakdirkan untuk tidak bersatu’.

Tariq mendudukkan diri di sebelah Myungsoo. Pemuda itu menepuk pundak Myungsoo yang merosot seperti ditarik gaya gravitasi bumi.

“Myungsoo, dia akan kembali ke Seoul besok. Tadi siang, Suzy memintaku untuk membantu mengurus kepulangannya.

Lalu?

Lalu? Ya, kau tidak ingin menghentikannya atau semacamnya, begitu? Seperti yang ada di melodrama Korea itu. Salah seorang dari pasangan akan mencegah pasangannya untuk pergi.

Myungsoo menoleh kepada Tariq. Ia pun mendengus pelan seraya tersenyum hambar. Bukan karena kekakar Tarig tentang drama roman recehan kampung halamannya melainkan saran pemuda tersebut yang memiliki probabilitas yang seperti sejumput kotoran semut rang-rang. Sangat kecil.

“Kau masih gemar menonton drama, rupanya.”

“Bu-bukan seperti itu. Maksudku, – “

“Ya, aku tahu maksudmu, Kawan. Tetapi kau tahu ‘kan itu tidak akan berhasil. Dia sudah sangat membenciku, mungkin.”

“Mungkin? Lihat, kau saja berkata mungkin yang artinya kau belum yakin 100%!”

“Tariq, kau tidak tahu seberapa dalam jurang yang memisahkan kami.”

“Okay, maafkan aku, “ Tariq mengangkat kedua tangannya. Ia tahu ia sudah melewati batasan sebagai orang luar dari ruang lingkup Myungsoo. “akan tetapi, kau harus mencobanya, Kawan.”

Senyum datar kembali terlukis di atas bibir Myungsoo, ia menyadari nait baik dari Tariq yang berusaha menenangkan kegundahan hatinya. Kini, senyuman tanpa rasa itu pun berganti haluan menjadi senyum tipis yang sarat akan perasaan terima kasih.

Tiba-tiba, semangat di dalam dada Myungsoo kembali menggelora. Kobaran api yang membara membakar tekad bulat Myungsoo. Matanya mengilat sempurna. Ia pun segera berdiri. Anehnya, untuk ukuran orang yang tungkainya terluka dan dibebat gypsum Myungsoo terlihat baik-baik saja. Tariq yang menyadari kontradiksi pada Myungsoo pun menatap pemuda itu tak percaya.

Ka-kau? Kakimu ‘kan –

“Maafkan aku tetapi aku harus berlakon seperti ini untuk membuatnya peduli padaku. Aku melakukan persis seperti yang dilakukan Hyunbin untuk mendapatkan perhatian Ha Ji Won. Terima kasih sudah menjejaliku dengan drama picisan semasa kuliah dulu!”

Myungsoo segera menyambar jaket yang tersampir bebas di atas meja dan mengangkat kaki keluar dari kamarnya. Meninggalkan pemuda Timur-tengah yang masih terkejut dalam diam. Setelah terdengar bunyi ‘bip’ dari pintu yang tertutup barulah Tariq sadar.

“Oh, man! Kim Myungsoo, fighting!”

Pepohonan berjenis palem yang dililit lampu-lampu kecil itu bersinar terang. Berkelip seperti bintang. Angin musim semi yang menampar wajah Myungsoo tidak terasa dingin. Pria itu mengedarkan pandang ke sekitar taman hotel yang cukup sepi itu. Tiba-tiba, matanya menangkap sesosok perempuan yang duduk membelakanginya. Rambut cokelat madunya yang tergerai melambai ditiup angin.

“Boleh aku duduk di sini?”

Suzy tersentak dari lamunannya. Myungsoo melempar fatis sebelum duduk di bangku panjang itu. Suzy terlihat agak terkejut. Melihat pria itu yang mampu berjalan dengan baik tanpa bebatan gypsum di kakiknya bukan perkaranya. Presensi pria itu yang hadir adalah masalahnya. Tak peduli dengan abai yang ditujukkan Suzy, Myungsoo dengan nyaman memosisikan diri di samping Suzy.

Keduanya pun terdiam. Memilih untuk mengisi konversasi dengan kehampaan.

Tiba-tiba, Suzy berdiri dan bersiap meninggalkan Myungsoo seorang diri. Namun, pergelangan tangannya dicengkeram oleh Myungsoo seakan-akan tidak membiarkannya kabur.

“Mari kita selesaikan semuanya di sini. Bae Suzy.”

Pria itu ikut berdiri. Tangannya dengan bebas meloloskan cengkeramannya pada jemari Suzy. Pasokan oksigen yang menari bebas dihirup dalam-dalam oleh Myungsoo. Kedua tangannya yang bebas pun menelusup ke dalam saku leather jacket biru tua yang dikenakannya.

Suzy membelakangi Myungsoo. Kepalanya sungguh ingin meledak. Begitu juga hatinya. Sungguh, untuk apa Myungsoo menahannya? Sekiranya, perkara bodoh dan sepele itu tak pernah sekalipun menyinggung hidupnya selama ia masih aktif menderita disiosiatif. Tetapi saat dirinya sembuh dari disosiatifnya, Suzy justru dirundung badai yang berkecamuk sangat dahsyat. Myungsoo dan masa lalunya.

“Seminggu kata dokter? Tck, nonsens.” kata Suzy, terdengar pelan dan putus asa.

Myungsoo tidak membalasnya. Ia pun hanya mengamati figur belakang Suzy yang memunggunginya. Ya, semuanya memang terlihat nonsens, omong kosong.

“Tadinya aku ingin terkejut melihatmu bisa duduk di sampingku. Tapi kutelan kembali rasa terkejutku itu, kau, “ Suzy mengambil napas dari hidungnya dengan kesal. Kedua tangannya pun memelintir ujung kemeja flannelnya. “Kau bohong lagi?! Lagi?!”

Suara Suzy terdengar seperti angin yang menampar wajah Myungsoo telak. Pria itu menunduk. Ia tidak bisa membalasnya. Ia akan membiarkan Suzy mengeluarkan segalanya, menghancurkan beton yang sudah mengeras di dalam hatinya. Samar-samar, punggung kecil di hadapan Myungsoo bergetar.

“Aku tahu ini sangat kekanak-kanakan. Sikapku itu di masa lalu sangat konyol! Tapi mau bagaimana lagi? Aku tidak dapat mengubah masa lalu itu. Aku mengaku salah, Myungsoo.” kata Suzy dengan suara yang nyaris tenggelam. Punggungnya bergetar karena berusaha menahan suara isak tangisnya.

“Seharusnya aku ‘kan tidak bersikap konyol seperti itu. Aku seharusnya tidak lari dari masalah, mengabaikanmu. Seharusnya aku mendengarkanmu, membiarkanmu menjelaskan semuanya padaku. Tetapi, saat itu emosi sudah menguasai akal sehatku. Ambisi bodohku untuk mewakili sekolah dalam olimpiade itu membuatku melupakan mana yang terpenting bagiku; olimpiade konyol atau kau, sahabatku.”

Lonceng yang selama ini membisu di dalam kepala Myungsoo berdenting kembali. Tangan yang bersedekap di dalam saku jaketnya pun dikeluarkan untuk mengusap bahu Suzy.

Bukankah, ini juga termasuk ke dalam daftar pengharapan Myungsoo kepada Suzy? Gadis itu memberikan kejelasan terhadap masa lalu kepadanya. Tatapi bukan ini yang Myungsoo mau. Bukan Suzy yang menolak kembali padanya. Kenapa harapan seorang manusia itu tidak bisa menjadi kenyataan yang utuh? Kenapa kenyataan yang diterima Myungsoo rasanya harus sepahit biji jeruk nipis? Lidah Myungsoo menjadi kelu. Ia tidak mampu membalas ledakan yang terjadi di dalam diri Suzy.

“Jadi, apa kau sudah bisa memaafkanku?”

Sungguh, Myungsoo ingin menampar keras-keras mulut besarnya itu sampai terjatuh dari tempatnya. Kenapa di saat genting seperti ini, ia tidak bisa menahan keinginan mulut besarnya berkata hal yang bisa memicu api-api kecil lainnya.

Suzy membalikkan badannya lalu tersenyum pada Myungsoo. Tangan Myungsoo yang menyentuh bahunya pun dihempaskan dengan halus. Suzy menyentuh tangan Myungsoo, meremasnya, dan melepaskannya. Sementara, pria itu membatu. Bukan karena sentuhan Suzy yang bagai siraman minyak panas di kulitnya, melainkan senyuman gadis itu padanya. Suzy tersenyum kepada Myungsoo. Sebuah senyum yang pilu.

“Yah, ma-maksudku mungkin kau masih bisa mempertimbangkan untuk itu. Mungkin.”

Myungsoo pun mengeluarkan sesuatu dari balik saku jaketnya. Tangannya pun terulur ke hadapan Suzy. Sebuah bracelet yang menandakan persahabatannya dengan Suzy. Bracelet yang dibuang gadis itu dari atap gedung sekolahnya.

Kini, minyak panas itu gentian menyiram kulit kepala Suzy. Suzy mematung menyaksikan benda keramat yang dulu sempat melingkar di pergelangan tangannya. Bracelet yang ia buat sendiri untuknya dan Myungsoo, yang juga dilempar oleh Suzy sendiri. Tubuh Suzy menjadi seperti tak bertulang dan siap ambruk kapan saja.

Bracelet itu masih apik penampilannya walaupun sudah termakan usia enam tahun lamanya. Myungsoo memberanikan diri mengambil pergelangan tangan Suzy dan memasang bracelet tersebut. Anehnya, Suzy tidak memberikan penolakan sama sekali. Bracelet hasil swakarya Suzy sendiri itu pun kembali pada si empunya.

“Lihat? Aku masih menyimpannya.” kata Myungsoo setelah selesai memakaikannya. Ia pun mengeluarkan tangannya yang satu yang sedari tadi bersembunyi di balik saku jaketnya. Tangan kurus itu juga tersemat bracelet serupa. “Apakah ini kurang cukup bagimu?”

Ingat, bukankah tadi aku sudah mematahkan kaca spion hidupku? Seharusnya hal yang satu ini bisa kuselesesaikan dengan mudah! Suzy pun membuat peneguhan hati. Suzy menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, melebihi kapasitas maksimal paru-parunya. Dengan satu tarikan napas, Suzy berharap semua masalahnya bisa terselesaikan dalam satu tarikan juga.

“Maafkan aku, sungguh.” Suzy menjatuhkan pandangan dan menggeleng samar, tidak berani menatap tepat di manik mata seorang Myungsoo. “Maafkan aku yang tak bisa memaafkan kesalahanmu. Aku ini wanita yang berpegang teguh pada perkataanku. Sampai kapanpun itu.”

Memang, hanya Man with Words saja? Woman with Words juga ada, Suzy. Tetapi tanpa disadari, Suzy mengatakan hal itu pada Myungsoo dengan suara yang sedikit gamang. Keraguan sebenarnya terdapat di setiap hembusan napas gadis itu saat ini. Ia sendiri ragu apakah ia benar-benar tidak bisa memaafkan Myungsoo atau sebaliknya?

“Maksudmu?”

“Aku sudah mematahkan kaca spion yang berada di dalam hidupku, aku sudah tidak akan bisa melihat ke belakang lagi. Jadi, aku tidak akan melihat kesalahan kita berdua di masa lalu. Bukankah, itu lebih menyenangkan? Dan, jika kau berpikir kita bisa memulai semuanya dari awal, itu juga bukan ide yang buruk. Tetapi lebih baik begini saja, kau tahu? Memilih jalan yang saling berlawanan, saling memunggungi sehingga kita tidak akan berpapasan, seperti itu.”

Nekad. Suzy terlanjur nekad untuk berlaku seperti itu. Manusia tidak bisa merubah takdir namun masih mampu untuk membelokkan nasib. Mungkin, begitulah kira-kira yang coba dilakukan gadis itu. Takdir yang mempermainkan garisnya sendiri untuk mempertemukan keduanya yang akan dipisahkan oleh Suzy seorang.

“Ini ide yang buruk.”

“Tidak, justru kebalikannya, Myungsoo.”

Ke mana perginya semangat yang menggelora di dalam hati Myungsoo tadi? Kala dia harus menghadapi ini, penolakan gamblang Suzy kepadanya, apa yang harus ia lakukan? Dalam hati, ia menjerit bahwa ia tidak bisa. Sampai kapanpun tak akan bisa.

“Setidaknya, lihat dululah.” tawar Myungsoo dengan gurat pesimis di wajah.

“Bagian apa dari ‘tak bisa memaafkan kesalahanmu’ yang tidak kau mengerti?”

Semangat di dalam hati Myungsoo pun terasa semakin padam. Ekor matanya pun menukik tajam ke jurang kesedihan. Ia memang pria berhati kerupuk. Jadi, takdir yang mempermainkan mereka pun sudah berakhir. Myungsoo mencoba menguasai dirinya dengan membuat peneguhan hati seperti tokoh Rancho yang diperankan Aamir Khan dalam 3 Idiots; Aal Iz Well, sebanyak tiga kali. Tidak mempan. Peneguhan hati yang seperti itu tidak mampu menggerus perasaan risau di hati Myungsoo.

Suzy mencoba untuk terlihat tegar, lha, memangnya selama ini dia tidak merasa tegar? Ia pun melempar semua memori yang sudah terjadi selama lima hari ini. Potongan mozaik hidupnya bersama Myungsoo di masa lalu juga berkumpul. Kumpulan memori itu seperti kertas yang menggunung lalu Suzy mengguyur gunung kertas itu dengan minyak tanah. Pemantik api sudah berada di tangannya, dengan sekali gerakan, Suzy melempar pemantik api itu ke gundukan kertas memorinya sehingga api dengan hebat menyulut dan membakar seluruh memori itu. Dalam diam, Suzy menyeret sebuah kursi dan mendudukinya. Lalu, menonton kertas memori masa lalunya terbakar sampai hangus.

Entah sejak kapan, air mata mengguyur wajah kuyu Suzy. Ia sudah kalah. Kalau ia sampai menangis, itu artinya dia sudah kalah. Myungsoo memberanikan diri untuk mengusap air mata yang mengalir di pipi Suzy, tangannya gemetar. Suzy meraih tangan Myungsoo yang menyentuh pipinya dan melepaskannya. Senyum hambar itu kembali menghiasi bibir Suzy.

“Semuanya sudah selesai sampai di sini, Kim Myungsoo.”

***

Hotel’s restaurant, three hours after kissing’s accident,

Tariq menyerahkan amplop cokelat berisi tiket penerbangan pertama menuju Seoul pada Suzy. pemuda itu dapat melihat kedua mata Suzy yang bengkak dan memerah. Jelas sekali kalau Suzy habis menangis.

“Benar, kau bisa pulang sendiri?” tanya Tariq tanpa memindahkan perhatiannya dari gadis yang lebih sering menunduk di depannya itu.

“Tentu saja, jangan khawatir.” balas Suzy pendek.

Cangkir berisi espresso yang masih mengepulkan asap itu diputar-putar pegangannya oleh Suzy. Pikiran gadis itu benar-benar kacau. Jiwa dan raganya sudah meronta-ronta ingin kembali ke Seoul, menjalani kehidupannya yang normal, dan melupakan semua yang pernah terjadi di Dubai.

“Suzy, “

“Ya?”

“Maafkan aku karena mengatakan ini padamu.”

“Tariq, ada apa?”

Suzy memasang atensi pada pemuda yang terlihat gusar di tempat duduknya. Sementara di seberang meja, Tariq berusaha untuk menyampaikan sesuatu yang selama ini mengganjal di hatinya kepada gadis Asia di hadapannya ini.

“Aku sebenarnya tahu siapa kau, Suzy. Apa fungsimu bagi Myungsoo. Candu apa yang kau berikan pada Myungsoo. Kenangan yang menaungi kalian. Sampai, posisimu di dalam hidup seorang Kim Myungsoo. Maafkan aku karena harus mengatakan ini tetapi dari dulu sampai sekarang hanya kau yang ada di hatinya. Bukan orang lain.” kata Tariq tanpa memberikan jeda sekalipun.

Suzy mematung di kursinya sembari memegang cangkir espresso-nya. Tatapannya membeku. Prosesor di dalam hati dan pikirannya pun berusaha mencerna apa yang barusan dikatakan Tariq.

“Maafkanlah.”

***

Perlahan, roda burung raksasa itu bergerak meewati landasan terbang. Suzy merasakan dirinya ikut terbang bersama angin meskipun di pinggangnya terikat sabuk pengaman. Ia melihat runaway yang ditinggalkan pesawat yang akan membawanya kembali ke Seoul itu dengan pandangan yang melegakan sekaligus memilukan. Suzy memejamkan kedua matanya, mencoba merelaksasikan pikirannya yang lelah.

Double M – Masa lalu dan Myungsoo.

kedua hal itu sudah melebur menjadi satu dengan butiran pasir yang membentang luas di gurun. Suzy memastikan bahwa ia akan kembali ke Seoul membawa secercah perasaan yang baru.

What a ‘good’ bye.

Still to be continued.

Advertisements

55 responses to “Wedding Dress Final Chapter (1/2)

  1. childish tidak mau mengalah egois terlalu gengsi persis seperti anak remaja yang baru saja mengalami pubertas kemudian malah menjadi boomerang sendiri yang akhirnya meng-alibikan kata “teguh pada pendirian” atau yang dia sebut “woman with words” yang padahal hanya gengsi yang sudah tak tertolong lagi eksistensinya. dasar wanita. eh/? 😀
    eniwei all iz well 😀

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s