[Freelance/Vignette] White Dream

white-dream

Title : White Dream | Author: rendevousuz | Casts: miss A’s Bae Suzy and GOT7’s Mark | Genre: AU, Fantasy, Fluff, | Length: Vignette | Rating: General |

Disclaimer:

all names, characters, and incidents portrayed in this story are fictitious. Any resemblance to any person, living or dead, is purely coincidental. As an author, I only own the story-line and poster.

Let’s read!

“Tangkap!!”

Suzy mengejar seekor anak rusa yang berlari. Di tangannya terdapat jaring yang biasa digunakan untuk menangkap kupu-kupu. Senyum sumringah terpancar jelas di bibir mungil Suzy. Langkah kaki kecilnya seperti kuas yang melukis di atas kanvas padang rumput disertai pepohonan yang terbentang luas. Ujung gaun hijau telur asinnya pun berterbangan mengikuti angin yang bersiul.

“Mark, ayo cepat!”

Sesosok bocah kurus melambai-lambai di balik langkah Suzy. Wajahnya pucat pasi ditambah peluh yang bercucuran di pelipisnya. Mulutnya pun megap-megap seperti ikan lohan yang tidak pernah diberi makan. Mark – bocah yang mengenakan kemeja lusuh dan celana bahan itu, menghampiri Suzy sembari memegangi perutnya yang terasa mulas karena dibawa berlari terlalu jauh.

Suzy berjengit kesal karena rusa buruannya sudah tak terlihat. Kedua kakinya mengentak-entakkan rumput dengan keras. Tak ketinggalan, bibirnya yang mengerucut sebal.

“Ma-maaf, “ ucap Mark penuh sesal.

Pipi Suzy menggelembung, mengabaikan permintaan maaf Mark. Dengan kondisi yang mengenaskan itu, Mark pun berusaha mengatur pernapasan yang tersengal. Masih dengan kondisi lambung yang ingin meledak, bocah itu memegangi perutnya.

“Lihat? Rusanya kabur! Ini semua karena ulahmu!” Suzy menyalahkan Mark dengan alasan bocah lelaki itu yang tidak bisa berlari kencang.

“Suzy, maafkan aku. Kamu ‘kan tahu, aku terlalu lama terkurung di sana sehingga aku tidak terbiasa berlari bebas sepertimu.” Mark menunjuk bukit dengan gugusan bunga lavender yang di atasnya terdapat sebuah kastil yang megah.

“Ah, alasan.” cibir Suzy.

“Aku bersumpah, itu benar!” Mark mengangkat telapak tangannya. Ia pun memandang Suzy dengan pandangan yang bersungguh-sungguh. “Sudahlah, bagaimana kalau kita cari hewan lain saja? Seperti kijang. Bagaimana?” tawar Mark pasti.

“Tidak mau. Aku maunya rusa!” Suzy menggeleng.

Mark memelas pada Suzy melalui pancaran kedua matanya. Ia pun sampai-sampai menepuk pundak gadis itu.

“Kau tidak tahu rusa apa yang kuburu?”

“Tidak.”

Suzy pun menepis tangan Mark yang menempel di atas pundaknya. Padang savana yang sunyi dan tenteram itu dijelajahi dengan seksama olehnya. Angin barat yang bertiup. Rerumputan bergoyang seirama arah angin. Samar-samar, Suzy juga menangkap konversasi antara burung koel dan burung kolbi. Benar-benar pemandangan yang menarik.

Suzy mengambil tempat di dekat sebuah batu yang cukup besar. Ia menduduki batu tersebut tanpa rasa jengah. Mark mengikuti  Suzy, menghempaskan bokongnya di atas gulungan rumput gajah yang tidak terlalu lebat dan menggunakan batu sebagai sandaran.

“Ah, Mark, “ Suzy mendesah. Ia memberikan pandangan remeh pada bocah lelaki berwajah kumal dan berambut ikal itu. Kedua kaki beralaskan sepatu but kulit sapi itu digerakkan ke sana-ke mari. “Andai kamu tidak dikurung di kastil itu dari dulu.”

“Ya, andai saja.”

Awan bergulung dengan teratur di angkasa. Sekelompok angsa pembawa surat melintas. Suzy sontak mengangkat telapak tangan dan melambai ke udara. Suara ‘kwak-kwak’ pun mengisi ruang-ruang bebas di langit biru. Kemudian, Suzy kembali meletakkan telapak tangan di atas pangkuannya. Jaring kupu-kupu miliknya pun digeletakkan di atas rerumputan.

“Rusa yang gagal kudapatkan itu adalah rusa putih.”

Suzy masih ingat dengan jelas, kilauan bulu-bulu putih si rusa yang diterpa matahari yang menyilaukan mata. Namun anehnya, si rusa putih itu justru hilang begitu saja seperti ditelan awan ajaib. Padahal mereka berada di tengah padang rumput yang luas, seharusnya hal seperti itu mustahil untuk terjadi.

“Kau tahu mengapa rusa itu berbulu putih?”

Mark menggeleng pelan. Ia pun meluruskan kakinya. “Karena pigmen rambut putihnya lebih banyak dari pada rambut cokelatnya.”

Suzy mencemooh jawaban Mark dengan pandangan yang horor. Mark dapat merasakannya. Lekas ia pun meralat jawabannya dengan menambah kata ‘mungkin’.

“Ya, mungkin saja. Kau tahu sains ‘kan?”

“Salah.”

Suzy memejamkan kedua matanya. Senandung penuh sukacita mengisi relung hati gadis itu. Suzy tersenyum. Sementara Mark melempar pandangan ngeri mendapati gadis kecil itu tersenyum sendiri.

White Dream. Mimpi putih.

Suzy percaya pada legenda itu. Sebuah legenda yang menyertakan rusa putih sebagai perlambang mimpi dan cinta. Jika kau membuat permohonan di depan sang rusa, kelak permohonanmu akan terkabul. Suzy ingin hal itu terjadi padanya. Tidak padanya juga sih. Tetapi pada mereka berdua. Suzy dan Mark. Gadis itu ingin membisikkan mimpi termanisnya kepada sang rusa agar mimpi itu menguap menjadi sebuah kenyataan yang manis pula. Sesederhana itu saja.

“Rusa itu berbulu putih karena ia bukan berasal dari sini tetapi dari Selatan.” ucap Suzy pelan.

Samar-samar wangi lavender menguar dan merangsang panca indera penciuman Suzy. Begitu juga dengan Mark, yang sampai menghirup dalam-dalam aroma yang tidak pernah absen dari radar penghidu miliknya.

“Kau tahu salju? Saat hujan salju turun dengan lebatnya di Selatan, kepingan mineral kristal yang dingin itu menempel di kulitnya. Ajaibnya, salju itu tidak mencair ataupun mengelupas. Dan, rusa putih itu hanya ada satu di dunia. Tetapi keberadaannya sungguh tak dapat diprediksi. Maksudku, keberadaan si rusa tersebut tidak pasti.”

“Lalu, kenapa kau bisa yakin kalau yang tadi kau lihat itu adalah rusa putih?”

“Itu karena aku percaya.”

Suzy turun dari singgasana batunya. Ia pun membentangkan kedua tangan seraya memutarkan badannya seperti ilalang yang tergerai angin. “Ayolah, apakah kau tidak mengenal keajaiban di dalam kastil, Mark?”

Bocah lelaki beralis tebal itu mengernyitkan dahi dan menggelengkan kepala. “Well, belum ada formula yang menyertakan kejaiaban selama aku belajar Matematika, Sains, Astronomi, Sastra, Tek – “

“Eksakta. Membosankan. Tidak menarik, sungguh!” potong  Suzy cepat.

“Ke-kenapa?”

“Sudah tahu ilmu pasti tapi masih saja diragukan. Aneh, bukan?” ungkap Suzy sambil terkikik.

Suzy berhenti berputar. Telapak tangannya yang kotor sontak membuat gerakan persis seperti menangkap laju angin. Udara kosong terperangkap di telapak tangannya. Kemudian, Suzy membuka telapak tangannya dan muncullah kelopak bunga tulip berwarna biru kobalt yang menggulung bebas bersama angin. Mark yang melihatnya pun tak bisa mengatupkan mulutnya. Matanya terpana melihat sentuhan pada telapak tangan Suzy.

“Kamu benar.”

“Mark, kenapa kamu tidak pernah membantah?” ceplos Suzy begitu saja.

“Maksudmu?”

Suzy duduk di sebelah Mark, melipat kakinya dan menelaah Mark dengan kedua bola mata hijau zamrud miliknya dengan seksama.

“Ya, setiap kali aku berbicara – yang kuyakin berlawanan dengan persepsimu, kau hanya bilang ‘Kenapa?’, ‘Iya, memang.’, ‘Kamu benar.’, dan ‘Setuju’. Tidakkah itu membosankan?”

“Tidak.” jawab Mark cepat.

Suzy mendengus geli mendengarnya. Lantas Mark memutar posisi duduknya sehingga berhadapan dengan Suzy yang termangu sembari mencabuti rumput-rumput halus.

“Dengar, Suzy, aku bukan orang yang supel sepertimu.”

“Itu tidak bisa jadi alasannya.”

“Aku tahu. Aku juga tidak sehebat dirimu. Kau mampu menilai segala hal di muka bumi ini dengan pandangan yang berbeda. Bisa melewati batas tanpa merusaknya. Kau membuat semua orang merasa nyaman dan aman di dekatmu.”

“Aku memang hebat.”

“Kau memiliki gudang imajinasi yang besar.”

“Itu hal yang mutlak, Mark.”

“Jadi?”

“Apa?”

“Yah, kau juga bocah lelaki yang berbeda. Dibandingkan belajar memanah kau lebih suka mengotak-atik mesin penggerak traktor. Dibandingkan waktu bermain, waktu mandi kau saja lebih lama. Benar-benar tipikal calon penerus kerajaan. Kau ingin jadi perdana menteri atau penasihat kerajaan?” Suzy mengangkat kedua bahu untuk memastikan.

“Kuanggap itu pujian. Well, terima kasih, Suzy.” balas Mark.

Suzy  kembali mencibir kepasrahan Mark dalam menyikapi hal.

“Kembali pada rusa putih, kau tahu kenapa aku ingin sekali membisikan mimpiku pada si rusa tersebut?”

“Aku tidak tahu. Memangnya apa?”

Masa bodoh dengan tampang Mark yang minim antusiasme. Suzy kembali menutup kedua matanya. Jalan layang lingkar imajinasinya seperti dipenuhi kereta kuda yang berpacu dengan kecepatan tinggi. Ringkihan para kuda menggema di setiap sudut. Ia dapat merasakan bau kotoran kuda di mana-mana. Namun itu semua ditebas habis oleh seberkas cahaya putih yang mengirimkan sinarnya. Cahaya itu terletak di ujung jalan. Persis seperti pemberhentian terakhir. Sesuatu yang bisa dikatakan manis.

“Hm.” Suzy mendengung seperti lebah yang tersesat di dalam labirin tembakau. Ia pun menatap dalam-dalam sepasang manik kokoa milik Mark yang berkilauan diterpa sang mentari sore.

“Keajaiban itu berasal dari sebuah mimpi.”

Mark menjilat bibirnya. Otaknya masih belum dapat bekerja dengan cepat jika mendengar kata keajaiban. Teori-teori dari buku dan guru besar yang membusuk di dalam otaknya menjadi tak berguna sama sekali.

“A-aku tidak mengerti.”

“Mark!“ Suzy melotot pada bocah lelaki itu. “Kau tidak bisa memikirkan keajaiban dengan pendekatan mimesis!!”

Suzy kembali membuat gerakan menangkap angin dengan telapak tangan. Ia pun mendekatkan tangannya tepat di hadapan wajah Mark. Dengan sekali gerakan, Suzy membuka telapak tangannya sehingga kelopak kembang serunai turquoise berterbangan di udara.

“Su-suzy, “

Mark tahu, Suzy ini memang gadis ajaib namun entah kenapa ia masih saja terpukau dengan aksinya barusan. “Kau sudah penuh dengan keajaiban. Sepertinya kau tidak butuh rusa putih magis itu untuk mengabulkan impianmu.”

“Eh, maaf. Aku pernah bilang begitu, ya? Mengabulkan impianku dengan bantuan rusa putih.” sembur Suzy.

Ekspresi lucu Suzy membuat Mark mengeluarkan sepaket senyuman rikuh beserta garukan di tengkuk yang seperti habis diterkam selusin semut kerengga. Susah payah, bocah lelaki itu mengatur air muka agar tidak terkesan terlalu terpesona oleh sukma Suzy yang begitu memikat.

“Tidak sih. Aku hanya menggunakan patokan dari legenda White Dream.”

“Benar begitu? Rupanya kau juga tahu White Dream, toh. Kupikir kamu tidak tahu, lho.” goda Suzy dengan mata yang menyipit lucu.

Kedua pipi tirus Mark bersemu merah. Nyatanya, bocah yang hatinya selembut permen kapas itu memang termakan godaan Suzy. Telunjuk gadis itu pun menekan-nekan pipi Mark dengan pelan, tersurat Suzy sangat menikmati ekspresi Mark saat ini. Kepala mark yang ditumbuhi surai cokelat madu itu pun tertunduk dalam. Malu, hei!

“Kau harus mengikuti hatimu. Mantapkan perasaanmu. Imajinasi yang bersarang di dalam pikiranmu tidak akan pernah terwujud kalau kau juga tidak merasakannya di dalam hatimu.”

Mark mengangkat kepalanya yang tertunduk dan mematut Suzy dengan sungguh-sungguh. Manik cokelatnya tak luput menelusuri galur-galur tipis yang tercetak jelas ketika Suzy menggerakkan mulutnya yang mungil.

“Sederhana saja, “ seru Suzy. Ia pun menanggalkan alas duduknya, berdiri, dan menarik lengan Mark agar ikut berdiri. “Tanpa mimpi dan angan-angan, manusia seperti kita tidak akan menjadi apa-apa. Keajaiban itu nomor sekian, yang penting bermimpi setinggi-tingginya. Tapi awas jangan terlalu tinggi! Nanti kalau terpeleset kemudian terjatuh akan sakit rasanya.”

Seperti disiram oleh segerobak air Sungai Seine yang membeku di musim dingin, Mark terbangun dari tidur panjangnya. Lontaran motivasi Suzy penyebabnya. Mark sadar, selama ia dikurung di dalam kastil kelabu itu ia hanya mengikuti jalan yang digariskan orang lain untuknya. Ia tidak menentukan jalannya sendiri! Ia tidak berani untuk bermimpi. Menjumpai akhir, bocah ringkih itu baru merasa bahwa selama ini ia membelenggu dirinya sendiri. Menjauhi impian dan keajaiban. Untungnya, ia tidak perlu memutar waktu untuk membetulkan kesalahannya. Suzy, seorang gadis manis telah datang dan mereparasinya dengan baik.

Jemari Mark terangkat untuk menyentuh dan membelai paras Suzy dengan lambat dan canggung. Suzy yang mendapati itu pun tersenyum, jemarinya juga tersengat untuk menyinggung telapak tangan Mark  yang lebar pada wajahnya. Terakhir, gadis itu membawa jemari Mark ke dalam genggamannya. Keduanya pun saling bersobok pandang, bertukar sapaan seribu makna, dan berakhir dengan lengkungan lucu pada manik kepunyaan masing-masing.

“Kurasa ada hal yang kau lupakan.” bantah Mark dengan halus. Ia pun membiarkan Suzy memasang tampang penasaran. “Kau melupakan doa. Di setiap langkah untuk mewujudkan impian, kau harus menyertakan sepucuk doa. Impian, doa, kebahagiaan, dan, “ suara Mark tertahan di tenggorokan.

“Dan?” Suzy menuntut lanjutan dari Mark yang sengaja menggantukan ucapannya.

“Cinta.”

Mark segera mengatupkan mulut rapat-rapat. Ia pun mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru padang savana. Menghindari semburan tawa yang keluar karena  ekspresi menggelikan Suzy yang tertahan selama beberapa detik.

“Mark, kau juga melewatkan satu hal, “ pesan Suzy di sela-sela kekehan bernada gelinya. “banyak-banyak latihan berlari! Untuk ukuran lelaki, kau terlalu lambat kalau diajak berlari!”

***

“White Dream hanyalah nonsens belaka. Tak butuh semua itu, mimpiku sudah terwujud, yakni bersama denganmu. Sesederhana itu.”

***

FIN.

Note:

Pertama-tama, terimakasih buat kakak admin udah bersedia ngepost dan nampung ff pertamaku. terima kasih jg buat readers yg udh nyempetin baca. semoga gak aneh ya, hehe.. last, salam kenal buat semua readers di sini^^

Shots,

Rendevousuz.

8 responses to “[Freelance/Vignette] White Dream

  1. Salam kenal Juga thor.. ^^ aku suka ffnya thor, apalagi genrenya fantasy lgi jadi seru bacanya, imajinasi ku tambah berkembang😀
    Ditunggu ff author lainnya, Fighting!! ^^

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s