[Freelance] It Must Be Love Chapter 4

it-must-be-love-reni-copy1

Title : It Must Be Love | Author : @reniilubis| Genre :  Drama, Romance | Rating : Teen | Main Cast : Kim Myungsoo, Bae Suzy

Disclaimer: 

All casts are belong to their self and God

Poster by        : rosaliaaocha@ochadreamstories

Happy Reading^^

 

 

Pagi yang indah di sebuah rumah sederhana namun terkesan mewah. Rumah yang ditempati oleh sepasang manusia itu kini terlihat masih sepi. Kelihatannya sang pemilik rumah sama sekali belum ada yang terbangun. Waktu kini tepat menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Lewat beberapa menit kemudian, Suzy tampak sudah terbangun dari tidurnya. Ia bangkit dari tempat tidurnya, kemudian menyibakkan tirai jendela kamarnya. Suzy melangkah ke arah pintu bermaksud akan keluar dari kamarnya, tetapi saat baru melangkah beberapa langkah saja, kepalanya terasa sangat sakit. Suzy memejamkan matanya erat menahan rasa sakit yang menyerang kepalanya, kemudian melanjutkan langkahnya keluar kamar menuju dapur. Sesampainya di dapur, Suzy duduk di salah satu kursi meja makan, menekan-nekan kepalanya sendiri berharap dapat mengurangi sedikit rasa sakit dikepalanya. Ia juga merasa tubuhnya sangat lemah, dan kurang berenergi. Ia sedang kurang enak badan, dan sepertinya ia kurang sehat pagi ini. Suzy merasakan kepalanya sangat sakit seolah-olah bisa meledak kapan saja. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya lemah, dan beranjak ke arah meja dapur untuh membuat secangkir teh hangat untuk dirinya. Tak lupa ia pun membuatkan segelas coklat panas untuk Myungsoo. Kebiasaannya setiap hari. Ia kembali ke meja makan, meletakkan coklat panas itu di atas meja, dan meneguk teh hangat yang ia buat tadi sedikit demi sedikit. Suzy kembali memejamkan matanya. Kepalanya benar-benar sakit. Tapi ia tetap memaksakan dirinya untuk melakukan aktivitasnya. Ia harus memasak. Ia memaksakan dirinya untuk memasak hari ini. Dan Suzy pun tak yakin, akan berapa lama dirinya bertahan dalam keadaan yang sakit seperti ini.

 

 

Skip Time

 

 

Ceklek.

Myungsoo keluar dari kamarnya tepat pukul 8 pagi. Dengan langkah yang agak malas, ia berjalan menuju dapur dan seperti biasa menemukan segelas coklat panas di atas meja makan. Ia meraih gelas itu, dan langsung meneguknya dengan cepat. Selesai minum, ia memperhatikan seisi meja makan. Semua sudah lengkap tersaji di meja makan itu. Mulai dari nasi, ikan, sayur, dan makanan lainnya. Ia kemudian memperhatikan ke sekeliling dapur, mencoba mencari sosok Suzy yang biasanya akan selalu sibuk di pagi hari. Myungsoo mengernyit, sedikit heran karena pagi ini dapur dalam keadaan sunyi. Tak ada tanda-tanda keberadaan Suzy di dapur itu. Myungsoo melihat ke arah kamar mandi, berharap Suzy sedang berada di dalamnya. Tetapi Myungsoo menemukan pintu kamar mandi dalam keadaan terbuka.

‘Kemana anak itu?’ batinnya.

Myungsoo kini mengalihkan tatapannya ke arah kamar Suzy. Dengah langkah yang hati-hati, Myungsoo berjalan mendekati kamar Suzy. Ia menempelkan telinganya di depan pintu. Merasa tidak ada suara apa pun yang terdengar dari dalam kamar Suzy, dengan perlahan Myungsoo membuka pintu kamar Suzy. Ia menyembulkan kepalanya terlebih dahulu untuk melihat keadaan, kemudian mulai memasuki kamar Suzy. Myungsoo melihat Suzy masih tertidur di atas ranjangnya. Masih dipenuhi dengan rasa penasaran, Myungsoo mendekati Suzy. Memperhatikan gadis itu dengan seksama. Ia merasa ada yang kurang beres dengan keadaan Suzy. Tidak biasanya dia akan tertidur kembali sepagi ini. Ia kini lebih teliti lagi memandangi wajah Suzy. Sontak matanya melebar saat menyadari bahwa wajah Suzy sedikit pucat. Ia ingin membangunkan Suzy, namun diurungkannya niatnya itu karena takut mengganggu tidur Suzy. Akhirnya Myungsoo pun duduk di kursi sambil menunggu Suzy terbangun.

 

 

**********

 

 

“Aku pulang!” Sungjong berseru kurang bersemangat sambil memasuki rumahnya.

“Eh..? Kenapa cepat sekali pulangnya?” tanya Nyonya Kim saat melihat Sungjong menuju dapur sambil membuka kulkas untuk mengambil sebotol air mineral dari dalam.

“Di sekolah diadakan rapat guru.” jawab Sungjong singkat.

“Bagaimana harimu di sekolah tadi?”.

“Tidak begitu baik.” jawab Sungjong sambil duduk di salah satu kursi. Sedangkan Nyonya Kim masih sibuk dengan aktivitasnya.

“Myungsoo hyung tidak datang?” tanya Sungjong.

“Hilangkanlah kebiasaan usilmu yang suka mengganggu hyung mu itu, Sungjong-ah.” Nyonya Kim jelas tahu apa tujuan Sungjong mencari Myungsoo. Nyonya Kim kini mendekati Sungjong, kemudian duduk berhadapan dengan Sungjong.

“Salahkan wajahnya yang selalu datar dan tak memiliki ekspresi hidup, eomma. Ayolah… dia korban yang empuk untuk menerima semua kejahilanku.” Sungjong masih membela dirinya.

“Aku selalu suka mengerjainya.” lanjutnya lagi.

“Tapi sekarang dia sudah mempunyai calon istri. Jadi dia pasti tidak memiliki waktu lagi untuk menerima semua kejahilanmu. Dia akan sibuk dengan hidupnya nanti.” kata Nyonya Kim panjang lebar.

“Aish! Aku pasti bisa menyiksanya lagi. Lihat saja nanti.” Saking semangatnya, Sungjong membalas perkataan eomma nya sambil mengepalkan tangan di depan dadanya.

“Sudahlah. Sebaiknya kau ganti baju. Eomma akan membuatkan cokelat panas untukmu.” Kata Nyonya Kim akhirnya sambil beranjak dari tempat duduknya.

“Ne, eomma.” Sungjong bangkit, dan berjalan menuju lantai 2 tempat kamarnya berada.

 

 

**********

 

 

“Eunghh….” suara lenguhan Suzy menyadarkan Myungsoo dari lamunan panjangnya. Seketika ia langsung menolehkan kepalanya untuk melihat Suzy. Dan tebakannya benar bahwa Suzy sudah terbangun dari tidurnya.

“Suzy..” panggil Myungsoo.

Suzy yang belum sepenuhnya sadar masih terdiam dan bangkit dari posisi tidurnya. Lalu menggeleng-gelengkan kepalanya berharap rasa pusing yang menyerang kepalanya tadi pagi akan hilang. Namun Suzy masih merasakan kepalanya sedikit sakit. Ia kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar, dan sedikit tersentak kaget saat menyadari ada Myungsoo di kamarnya.

“Myungsoo-ya, kau sedang apa di kamarku?” tanyanya dengan suara pelan.

Gwaenchana?” tanya Myungsoo sedikit khawatir. Ingat! Hanya sedikit. Tidak lebih. Bukannya menjawab pertanyaan Suzy, ia malah balik bertanya.

“Eh?” Suzy masih belum mengerti apa maksud Myungsoo menanyakan itu padanya.

“Kau merasa sakit?” tanya Myungsoo lagi.

“Ani. Aku baik-baik saja.” jawab Suzy sambil tersenyum manis, berusaha menutupi kondisi tubuhnya yang sebenarnya pada Myungsoo.

“Kau bohong.” Kata Myungsoo dengan nada datarnya. Matanya tak henti-hentinya memandang Suzy, meneliti tiap inci tubuh Suzy yang menurutnya jauh dari kata ‘baik-baik saja’ itu.

“Aku baik-baik saja, Myungsoo-ya.” Suzy masih berusaha membela dirinya.

“Kau segeralah bersiap-siap. Kita akan ke rumah sakit.” tanpa menanggapi perkataan Suzy barusan, Myungsoo bangkit dari posisi duduknya dan keluar dari kamar Suzy.

“Tidak perlu, Myungsoo-ya. Aku baik-baik saja.” Suzy sedikit panik kemudian bangkit dari ranjangnya dan berlari kecil untuk menghampiri Myungsoo.

“Aku akan menunggumu di luar.” tanpa memperdulikan Suzy sama sekali, Myungsoo langsung keluar dari kamar Suzy dan menuju kamarnya sendiri.

Suzy hanya diam mematung di depan pintunya sambil memandangi kepergian Myungsoo. Ia pun mau tidak mau menuju kamar mandi untuk bersiap-siap sebelum Myungsoo akan marah padanya.

 

 

Skip Time~

 

 

“Sebaiknya pasien lebih banyak beristirahat. Dia hanya terkena demam biasa. Dan untuk stres ringan yang di deritanya, itu disebabkan pasien mungkin mempunyai banyak pikiran. Sebaiknya jika dia mempunyai masalah, jangan terlalu di pikirkan. Dia bisa berbagi dengan orang-orang terdekatnya atau pun dengan anda. Anda kekasihnya, kan?” tanya dokter yang menangani Suzy itu kepada Myungsoo setelah ia selesai menjelaskan tentang penyakit Suzy.

“Emm… saya saudaranya.” jawab Myungsoo sedikit kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.

“Oh, baiklah. Jangan lupa minum obatnya, dan semoga dia cepat sembuh.” kata dokter itu ramah sambil tersenyum kepada Myungsoo.

“Terima kasih banyak, Dokter.” Ujar Myungsoo sambil tersenyum.

Ia kemudian keluar dari ruangan dokter tersebut setelah berpamitan, dan menghampiri Suzy yang duduk di kursi ruang tunggu dan mengajaknya untuk segera pulang setelah selesai membayar semua administrasi rumah sakit.

 

 

***

 

 

“Apa kau menderita selama tinggal bersamaku?” tanya Myungsoo akhirnya memecah keheningan diantara mereka. Perkataan sang dokter tadi yang mengatakan Suzy mengalami stres ringan masih terngiang-ngiang di kepalanya.  Saat ini mereka sedang berada di dalam mobil dalam perjalanan pulang ke rumah mereka.

“Eh? Tidak. Tidak sama sekali.” jawab Suzy sedikit lemah. Itu jawaban yang jujur dari dalam hatinya. Ia bahkan sangat senang bisa mengenal Myungsoo.

“Kenapa kau menerima perjodohan ini?” tanya Myungsoo lagi sambil mata tetap fokus pada jalanan yang sedang mereka lalui.

“Aku bahkan merasa lebih nyaman tinggal seorang diri dari pada harus tinggal bersama mereka.” Jawab Suzy lirih. Terlihat ada nada kepedihan disetiap ucapannya.

“Mereka? Maksudmu, keluargamu yang lain?” tanya Myungsoo memastikan, sambil sesekali melirik Suzy yang duduk disampingnya.

Suzy mengangguk, walaupun ia tidak yakin Myungsoo akan melihatnya.

“Mereka terkadang sama sekali tidak mengaggapku sebagai keluarga mereka semenjak orang tuaku meninggal. Dan aku merasa hanya hidup sebatang kara saja di dunia ini. Aku hampir saja mengakhiri hidupku kalau saja appa dan eomma mu tidak mencegahku waktu itu.” jelas Suzy panjang lebar. Ia memejamkan matanya, mencegah air matanya agar tidak keluar.

“Dan aku merasa sangat bahagia saat appa dan eomma datang menjemptku. Mereka bagai malaikat di hidupku. Aku jadi merasa bahwa aku kini telah memiliki keluarga.” Suzy masih tetap menutup matanya, dan kini ia menggigit bibirnya untuk kembali menahan tangisnya yang siap meledak kapan saja.

“Kau masih mempunyai keluarga. Kau masih memiliki kami. Kami tidak akan meninggalkanmu.” ucap Myungsoo lembut. Ia sedikit iba dengan kisah masa lalu Suzy yang menurutnya sangat suram itu.

Myungsoo kemudian melajukan kembali mobilnya setelah melihat lampu lalu lintas sudah berganti warna manjadi berwarna hijau telah manyala di pinggir jalan itu.

“Mianhae….” kata Myungsoo kepada Suzy. Setidaknya ia merasa sedikit bersalah kepada Suzy karena tanpa sengaja ia telah memaksa Suzy untuk kembali mengingat masa lalunya, yang mungkin tidak ingin ia ingat lagi.

Suzy membuka matanya, melihat Myungsoo sejenak dan tersenyum manis ke arah Myungsoo kemudian mengalihkan pandangannya ke luar untuk melihat jalanan ramai Seoul.

 

 

***

 

 

“Oh, jadi disini kau rupanya. Dan tinggal dengan orang itu? Cih! Beraninya kau melupakanku begitu saja. Kita lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan padamu, Baby~” orang itu melepas kacamata hitamnya kemudian menampilkan seringaian lebar dibibirnya sambil terus memperhatikan gerak-gerik Myungsoo dan Suzy. Ya, dia sedang memperhatikan mobil Myungsoo berhenti tepat di depan rumah mereka, dan mereka masuk ke dalam rumah. Ia kemudian meninggalkan komplek perumahan tempat Myungsoo dan Suzy tinggal, sambil tetap seringaian lebar menghiasi wajahnya.

 

 

**********

 

 

“Sebaiknya kau makan dulu.” kata Myungsoo kepada Suzy tanpa benar-benar melihat ke arah Suzy.

“Ne. Gomawo, Myungsoo-ya.” kata Suzy pelan. Ia masih merasakan sakit di kepalanya.

“Kau tidak makan?” tanya Suzy.

“Aku akan ganti baju dulu.” jawab Myungsoo singkat, lalu masuk ke kamarnya untuk berganti baju.

Tak beberapa lama kemudian, Myungsoo keluar dari kamarnya dengan baju rumahannya, lalu berjalan menuju Suzy yang kini sudah terlebih dahulu duduk di kursi. Tampaknya ia sengaja menunggu Myungsoo hingga selesai untuk mengajaknya makan bersama.

“Myungsoo-ya, mianhae kalau masakanku tidak enak pagi ini.” Kata Suzy membuka percakapan.

“Memangnya kau pikir masakanmu yang lalu-lalu itu enak?” tanya Myungsoo sarkastis, membuat Suzy yang mendengarnya tertohok. Ia hanya menunduk, tak berani menatap wajah Myungsoo. Hatinya sakit mendengar pernyataan Myungsoo barusan.

“Aku bercanda. Masakanmu selalu enak.” Kata Myungsoo cepat saat melihat Suzy masih saja menunduk tak menggubris kata-katanya sama sekali.

“Hei… jangan dipikirkan. Tidak usah dimasukkan ke dalam hati. Aku hanya bercanda tadi. Sungguh.” Melihat Suzy tetap tak bereaksi seperti itu membuat Myungsoo semakin merasa bersalah.

“Suzy….” panggil Myungsoo.

Suzy mendongak menatap Myungsoo. Ia berusaha untuk tetap tersenyum dihadapan Myungsoo. Apapun yang terjadi.

“Kau marah?” tanya Myungsoo sesaat setelah Suzy sudah melihat ke arahnya.

“Mianhae, kalau selama ini masakanku tidak enak. Aku akan lebih berusaha lagi.”

“Aku tidak bermaksud berkata seperti itu, sungguh. Aku hanya bercanda. Masakanmu selalu enak.” Kata Myungsoo lagi berusaha meyakinkan Suzy bahwa perkataannya yang tadi semata-mata hanya candaan. Masakan Suzy selalu enak menurutnya. Bahkan ia berani bersumpah masakan Suzy adalah masakan terenak setelah masakan eommanya tentunya. Dan Myungsoo merutuk dirinya sendiri karena telah mengatakan hal bodoh seperti tadi.

“Aku hanya bercanda. Kau percaya padaku, kan?” tanya Myungsoo pada Suzy sambil menatap lekat kedua bola mata indah milik Suzy.

Suzy hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya pelan.

“Mianhae…” kata Myungsoo akhirnya. Ia benar-benar merasa bersalah pada Suzy.

“Lupakan saja.” Suzy bangkit dari duduknya sambil mengangkat piring-piring kotor mermaksud akan mencucinya. Namun tiba-tiba gerakannya terhenti karena Myungsoo mencegahnya.

“Biar aku saja.” kata Myungsoo sambil memegang tangan Suzy agar berhenti mengangkat piring-piring kotor itu.

“Tidak usah. Biar aku saja, Myungsoo-ya.”

“Kau mau aku menyeretmu ke kamarmu?” kata Myungsoo sedikit mengancam dengan wajah yang serius.

“Bukan begitu. Biar aku saja yang membersihkannya. Ini hanya sebentar saja.” Suzy berlalu begitu saja dari hadapan Myungsoo, meninggalkan Myungsoo yang kini telah menyeringai di balik punggung Suzy. Ia kemudian berjalan pelan mendekati Suzy, lalu dengan gerakan cepat ia merebut secara paksa piring-piring kotor yang ada di tangan Suzy lalu cepat-cepat meletakkannya kembali di atas meja. Ia kembali menghampiri Suzy yang masih berdiri terdiam, dan dengan mudahnya ia sudah menggendong Suzy ala Brydal Style menuju kamar Suzy dan sama sekali tidak memperdulikan Suzy yang kini sedang meronta digendongannya.

“Myungsoo-ya, apa yang kau lakukan? Turunkan aku. Kumohon.” kata Suzy sambil terus meronta-ronta.

“Kau tahu kan aku tidak pernah main-main dengan ucapanku.” Myungsoo terus saja berjalan menuju kamar Suzy, tanpa menggubris semua kata-kata Suzy.

“A-aku bisa berjalan sendiri, Myungsoo-ya. Tolong turunkan aku.”

“Aku tadi sudah menyuruhmu dengan baik-baik. Tapi kau tidak mendengarkanku.” Akhirnya mereka kini telah sampai di kamar Suzy. Myungsoo meletakkan Suzy di atas tempat tidurnya secara perlahan.

“Kau tunggu disini, dan jangan kemana-mana. Kalau kau tetap tidak menurutiku, aku akan mengambil tali lalu mengikatmu. Arraseo?” kata Myungsoo mengancam Suzy. Suzy yang sedikit takut dan tahu bahwa Myungsoo tidak pernah main-main dengan ucapannya hanya mengangguk patuh saja. Ia tidak mau membuat Myungsoo marah. Ia kemudian menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, saat Myungsoo sudah keluar dari kamarnya.

Beberapa menit kemudian, Myungsoo kembali masuk sambil membawa segelas air putih, dan beberapa obat Suzy yang tadi pagi mereka beli di rumah sakit.

“Minum obat ini.” kata Myungsoo sambil menyerahkan beberapa butir obat ke telapak tangan Suzy beserta segelas air putih yang ia bawa tadi.

“Gomawo…” balas Suzy sambil memerima obat yang diberikan Myungsoo, kemudian detik berikutnya ia menelan obat-obat itu satu persatu. Setelah selesai, ia meletakkan gelas kosong itu di atas meja riasnya, kemudian membaringkan tubuhnya bermaksud untuk tidur.

“Baiklah, sebaiknya kau beristirahat. Jika kau membutuhkan sesuatu, kau panggil saja aku. Arraseo?” Myungsoo meraih selimut Suzy, lalu memakaikannya ke tubuh Suzy, menutup tubuh Suzy hingga sebatas leher.

“Gomawo, Myungsoo-ya…”

“Berhentilah mengucapkan terima kasih. Dari tadi kau hanya mengucapkan itu saja.” balas Myungsoo.

“Ta-tapi aku benar-benar berterima kasih padamu.”

“Terserah kau saja. Lebih baik kau tidur.” kata Myungsoo akhirnya, lalu tanpa menoleh ke arah Suzy lagi ia segera keluar dari kamar Suzy, lalu menutup pintunya.

Suzy menatap kepergian Myungsoo sambil tersenyum, lalu memegang pipinya yang sejak tadi sudah merona merah. Ia sungguh senang dengan perlakuan Myungsoo hari ini. Ia merasa sikap Myungsoo kepadanya akan segera berubah seiring berjalannya waktu.

“Myungsoo-ya~ kenapa kau tampan sekali~~ bahkan dalam keadaan marah pun kau tetap tampan…. aish!!” Suzy menggeleng-gelengkan kepalanya sedikit kuat, merasa heran dengan sikap anehnya sendiri. Kemudian ia segera memejamkan matanya, sambil senyum tak lepas dari wajah cantiknya.

 

 

**********

 

 

Ceklek.

Suzy membuka pintu kamarnya lalu memperhatikan sekelilingnya dengan seksama. Tidurnya sedikit terganggu karena merasa mendengar suara ribut-ribut yang berasal dari arah dapur. Suzy merasa bahwa kepalanya masih terasa sedikit sakit. Ia perlahan berjalan menuju dapur, dan sesampainya di dapur ia menemukan Myungsoo sedang melakukan sesuatu disana.

“Myungsoo-ya…” panggil Suzy.

Kibum menghentikan kegiatannya sejenak lalu menoleh pada Suzy.

“Eh, kau sudah bangun? Duduklah. Tunggu sebentar, aku akan membuatkanmu teh panas.” Jawab Myungsoo sambil kembali melanjutkan kegiatannya.

Suzy tertegun sejenak, dan tampak berfikir. Suzy ingat eomma nya pernah mengatakan bahwa Myungsoo selama hidupnya tak pernah menyentuh dapur. Tapi kali ini mungkin ini adalah pertama kalinya Myungsoo menginjakkan kakinya di dapur dan memegang alat-alat dapur yang sama sekali tidak ia mengerti. Suzy menoleh ke arah Myungsoo. Ia kemudian tersenyum tipis melihat Myungsoo sedikit kesusahan bahkan hanya membuat teh dan cokelat panas saja.

“Myungsoo-ya, perlu ku bantu?” akhirnya Suzy menawarkan dirinya.

“Tidak perlu. Ini sudah hampir selesai.” Jawab Myungsoo singkat.

Suzy kali ini tersenyum lebar.

‘Apakah Myungsoo melakukan ini untukku?’ batin Suzy.

Suzy melihat ke arah meja makan dan baru menyadari sudah ada makanan yang tersedia disana. Suzy mengernyit heran melihatnya.

“Aku hanya memanaskan masakanmu yang tadi pagi. Sayang kalau dibuang.” ucap Myungsoo tiba-tiba saat menyadari wajah bingung Suzy. Ia kemudian meletakkan teh panas yang ia buat tadi ke hadapan Suzy, lalu segera menarik kursi dan duduk tepat berhadapan dengan Suzy.

“Gomawoyo, Myungsoo -ya~” ucap Suzy tulus sambil tersenyum lebar ke arah Myungsoo.

“Hm” balas Myungsoo singkat.

Suasana acara makan malam mereka sama seperti biasa. Tenang. Tak ada percakapan yang terjadi di antara mereka.Bahkan Myungsoo sama sekali tak ingin menanyakan bagaimana kondisi Suzy saat ini. Suzy menghentikan makannya saat melihat sesuatu ditangan Myungsoo.

“Myungsoo-ya, tanganmu kenapa?” tanya Suzy sambil menatap Myungsoo.

“Tidak apa-apa.” jawab Myungsoo cuek.

“Aku akan mengambil obat.” Suzy beranjak dari duduknya, namun gerakannya terhenti saat mendengar suara Myungsoo.

“Tidak perlu. Aku hanya terkena air panas tadi.” Kali ini Myungsoo menatap Suzy.

“Kau serius?” Suzy berbalik, lalu kembali duduk di kursinya.

“Ne.” Seperti biasa, jawaban Myungsoo selalu singkat dan…datar.

Suzy pun hanya menghela nafas. Iya kembali memakan makanannya dengan tenang, sambil sesekali melirik wajah Myungsoo.

Beberapa saat kemudian, mereka pun selesai makan.

“Jangan sentuh piring-piring itu, dan segeralah kembali ke kamarmu.” Myungsoo berucap dengan nada datar dan dingin sambil menatap Suzy yang hendak mengangkat piring-piring kotor yang ada di atas meja. Suzy sedikit tersentak dengan teguran Myungsoo, dan mengurungkan niatnya untuk mencuci piring.

“Kalau begitu, letakkan saja di dapur. Besok aku akan mencucinya.” Suzy menatap wajah dingin Myungsoo sambil berusaha tersenyum semanis mungkin kepada Myungsoo.

“Kalau begitu aku kembali ke kamarku dulu.” pamit Suzy kepada Myungsoo dan langsung bergegas meninggalkan Myungsoo yang masih enggan untuk beranjak dari duduknya.

Myungsoo menghela nafas sejenak, lalu menatap punggung Suzy yang kini semakin menjauh dari pandangan matanya, dan menghilang di balik pintu. Ia akhirnya beranjak dari duduknya kemudian membersihkan meja makan sebentar, lalu menuju ke kamarnya sendiri. Sebelum ia sempat menyentuh kenop pintu, Myungsoo melirik pintu kamar Suzy sekilas. Ada dorongan dari dalam hatinya untuk melihat Suzy walaupun hanya sebentar. Sedikit menjauh dari pintu kamarnya, Myungsoo pun akhirnya mendekati kamar Suzy, dan perlahan mengetuk pintu bercat putih itu.

 

Tokk…tokk…

 

“Ah! Waeyo, Myungsoo-ya?” Myungsoo sedikit terkejut dengan kemunculan Suzy yang secara tiba-tiba sudah menampakkan wajahnya diambang pintu. Ia mundur selangkah untuk menjauhkan tubuhnya dari tubuh Suzy yang menurutnya jarak mereka terlalu dekat.

“Kau mengagetkanku.” kata Myungsoo pelan sambil menatap Suzy.

“Mianhae~” ucap Suzy dengan wajah memelas, namun justru mendapat dengusan kecil dari Myungsoo.

“Kau butuh bantuanku?” lanjutnya.

“Emm… aku hanya ingin bertanya, bagaimana keadaanmu?” tanya Myungsoo sambil menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.

“Aku jauh lebih baik sekarang.” jawab Suzy ceria sambil tersenyum lebar. Ia senang bukan main sekarang karena Myungsoo masih punya perasaan hanya untuk sekedar menanyakan keadaannya saat ini.

“Gomawo sudah menanyakannya~” Suzy menundukkan kepalanya, merasa malu sendiri dengan ucapannya barusan. Rona merah mulai tampak menjalari pipi tembamnya.

“Ya sudah. Sebaiknya kau tidur.” setelah Myungsoo selesai mengatakan itu, ia langsung melangkahkan kakinya untuk menuju kamarnya, dan meninggalkan Suzy yang masih tersenyum-senyum diambang pintunya. Setelah ia mendengar suara pintu tertutup yang berasal dari kamar Myungsoo, ia pun langsung menutup pintu kamarnya dan menuju ranjangnya untuk beristirahat.

 

 

*

*

 

 

“HUWAAAAAAA……………..”

Myungsoo langsung membuka matanya saat mendengar suara teriakan seorang perempuan yang sangat jelas terdengar. Ia yang hampir tertidur sempurna itu pun berusaha mengumpulkan kembali kesadarannya.

“HUWAAAAAAA………. PERGIIIIIIII!!!!!!!”

Myungsoo langsung bangkit dari posisi tertidurnya saat ia mendengar suara teriakan itu untuk yang kedua kalinya. Ia segera bergegas turun dari ranjangnya, dan dengan tergesa-gesa segera keluar dari kamarnya.

“PERGIIIIIIII………….. PERGIIIIIIIIIII!!!!!!”

Spontan Myungsoo langsung menolehkan kepalanya ke kamar Suzy, saat menyadari suara teriakan yang ia dengar tadi ternyata adalah suara teriakan Suzy. Dengan panik ia kemudian menggedor-gedor pintu kamar Suzy dengan tenaga berlebihan, hingga menghasilkan suara ribut-ribut di tengah malam itu.

“Ya! Suzy! Ada apa? Kau kenapa?” teriak Myungsoo dengan suara keras berharap Suzy mendengarnya.

“MYUNGSOO-YA! TOLONG AKU!!!” balas Suzy dari dalam kamarnya dengan berteriak juga.

“Ya! Ada apa? Cepat buka pintunya!”

“MYUNGSOO-YA! KUMOHON CEPAT TOLONG AKU!!!”

 

 

T

B

C

 

 

56 responses to “[Freelance] It Must Be Love Chapter 4

  1. Dlu tokoh yg dipake itu kibum yah? Wkwkwkwkwk..
    Bbrp kali menemukan nama kibum, Ren..
    Myungsoo mkin lama makin baik..

    Knp suzy panik? Ad kecoa? Wkwkwkwk. Atau kodok?

  2. Omona …. Cast baru yg mysterious .. Nugunji ?????????
    Sooji kenapa ….. Ada penculikkah??? Atau tikusssss

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s