Wanna Love You

wly

Wanna Love You

@xianara | Casts: Bae Suzy [miss A] and Kai [EXO] | Genre:  AU, College-life, Romance, Fluff | Rating: Teen and Up | Length: Vignette | disclaimer: beside the poster and story, I own nothing!!

Bait puisi yang digunakan sepenuhnya milik Sapardi Djoko DamonoAku Ingin

WARNING!! Minim konversasi, lebih menitikberatkan narasi. Waham yang klise dan terdapat berbagai macam pengulangan perasaan. Menggunakan sudut pandang orang ketiga yang menyinggung sisi tokoh si pria.

I wanna love you in a simply way

with a word that never be spoken

as well as timber  to the fire who turn into dust

Enjoy Reading!

Pemuda ini memilih tempat di mana dia hanya bisa mengagumi seorang gadis. Hanya mengagumi. Hanya mengingkan. Hanya mencintai. Tanpa berharap ingin dicintai kembali.

Perpustakaan terkenal dengan suasana yang anti-gaduh, usang, berdebu, dan menyeramkan. Dari gambaran sebelumnya, hanya nomor satu yang benar, sisanya tidak selalu benar. Nyatanya, seorang mahasiswa tingkat enam terlihat menikmati momen di mana ia terjebak bersama jutaan buku sambil menatap lama-lama seorang gadis manis berperilaku minus. Pikir pemuda itu serasa berada di surga dan ditemani seorang bidadari imut tapi pelit senyum dengan rambut dikuncir kuda.

Kai, pemuda bermata sayu itu tidak benar-benar mendalami jurnal milik seorang kurator Perpustakaan Nasional London terbitan tahun 1965 yang berada di tangannya. Matanya justru sibuk mengagumi wajah serius Bae Suzy yang tenggelam dalam istilah-istilah Inggris kuno yang kurang dipahaminya. Kai tidak pernah absen memindai wajah Suzy yang semakin memesona setiap detik. Setiap pemuda itu menggerakkan kelopak matanya, kadar kecantikan Suzy terus meningkat. Bahkan, pedometer pesona seorang Bae Suzy itu selalu menyentuh status overload. Daya pikat seorang  Bae Suzy itu memang tak terbatas, pikir Kai.

“Kai, sudah sampai mana?” bisik Suzy dengan suara pelan.

 “Ah, oh, “ Kai tergagap.  Surai legamnya yang agak gondrong, bahkan sampai menutupi mata bergoyang ke sana – ke mari. Matanya pun sibuk bergerak mencari halaman dari jurnal yang belum dibaca sama sekali. Soalnya Kai hanya menyentuh sampul depannya saja.

“Kau bahkan hanya menyentuh sampulnya saja.“ ujar Suzy dengan nada yang datar.

Suzy menggeleng lantas kembali menyelami jurnal usang yang kulit sampulnya yang sudah mengelupas. Kemungkinan pulang cepat setelah mengerjakan laporan ini sangat kecil, yakin Suzy dalam hati. Mendapati partner yang lamban macam Kai memang bukan akhir yang bagus, sama sekali.

Namun, apa yang dirasakan Suzy berbeda dengan apa yang dirasakan Kai saat ini. Yakin. Mengerjakan laporan ini sampai dua hari dua malam, Kai pun rela. Asalkan, ia bisa bersama dengan gadis sederhana yang mampu memorak-porandakan taman bermain di hatinya. Ya, gadis itu setara dengan efek angin puting beliung yang mampu menerbangkan Kai ke atas awan dan menghempaskannya dengan sekali gerakan tanpa ampun. Gadis yang sudah menjadi teman satu kelas dengan Kai semenjak kegiatan pengenalan kampus sampai sekarang. Gadis dari klan Bae penggemar fanatik klub sepak bola yang bermarkas di Camp Nou. Bae to the Su and zy,

Bae Suzy.

Kalau melihat alasan mengapa Kai bisa memasrahkan diri pada pesona seorang Suzy, kau akan dibuat tidak percaya. Aku sudah memeringatkanmu, lho.

Suzy jarang tersenyum.

Suzy tidak suka menggerai rambutnya seperti tipikal gadis pada umumnya.

Gaya berpakaian gadis itu jauh dari kata feminin. Kaos berlengan panjang ataupun kemeja yang yang dipadupadankan dengan kaos oblong beserta celana jins tak pernah absen sebagai outfit wajibnya. Seperti identitas diri yang sudah melekat pada Suzy.

Namun semua hal itu justru seperti magnet yang menarik kuat Kai untuk selalu mengikutinya. Kai sudah terlanjur jatuh terlalu dalam, cepat, dan membabibuta kepada Suzy.

Tetapi di balik rasa cinta dan kagumnya kepada Suzy yang melebihi persentase air di muka bumi, pemuda itu enggan menunjukkan perasaannya kepada Suzy. Jangankan hal itu, mengirim sinyal-sinyal kecil saja, Kai tidak berani.

Kai seperti tokoh utama pria dalam novel karangan Ko Gidden – You Are The Apple of My Eyes; Ko Jin Teng yang mencintai Shen Zia Yi secara diam-diam; Kai yang mencintai Suzy secara diam-diam dan sembunyi-sembunyi. Mirip dengan pergerakan bawah tanah bangsa Korea yang berusaha melawan imperialisme Jepang di masa lalu.

Ada satu hal yang juga perlu diketahui di balik perasaan terpendam Kai terhadap Suzy, yakni ia hanya ingin mencintai Suzy dengan sederhana. Ya, tidak perlu berbuat event-event norak seperti kawan-kawannya untuk menyatakan cinta dan menyenangkan hati para gadis. Tidak perlu mengobral janji-janji dan mengumbar kata-kata manis yang berujung pada jurang yang di dasarnya terdapat jutaan paku yang siap menancapmu kala terjatuh. Cukup dengan menyuarakan kata-kata yang tak terucap namun tersalurkan melalui tindakan. Seperti mata kobra yang menghipnotis lawannya, yang mampu berbicara seribu kata dengan mulut yang terkunci rapat.

“Kai, “ panggil Suzy dengan menggoyang-goyangkan bahu pemuda itu.

“Ah, i-iya?”

Kai yang tersentak dari lamunannya pun memasang senyum kaku pada Suzy yang menggelengkan kepala melihat kelakuannya.

“Sebentar lagi jam operasional perpus akan berakhir,”

“Jadi?”

“Ya, laporan ini dikerjakan kembali besok saja. Aku mau pulang.”

“Oh, “ Kai pun hanya bisa membalas oh saja.

Suzy mengemasi kertas yang berserakan di meja beserta tumpukan jurnal dan modul yang harus dikembalikan ke tempat semula. Kai tidak bisa memalingkan mata barang sedetik pun dari Suzy yang menjejali kotak pensilnya dengan bolpoin dan pensil. Sepotong penghapus yang tercecar di dekat kertas laporan Kai pun ia sodorkan kepada Suzy yang terlihat mencari penghapusnya. Suzy membalas perbuatan Kai dengan menggerakan bibir secara impulsif, menggumamkan ucapan terima kasih.

Seperti nyamuk yang disambar seekor cicak di dinding diam-diam merayap, Kai tidak bisa membebaskan diri dari jeratan seorang Bae Suzy. Adegan Suzy yang menyemplungkan binder dan modul ke dalam ransel saja bisa menjadi tontonan menarik, melebihi pertandingan final Liga Champion, Barcelona vs Manchester United yang pernah Kai tonton langsung di Wembley, empat tahun yang lalu.

Wanita racun dunia. Suzy ialah efek sekaligus impact mematikan bagi diri seorang Kim Kai. Entahlah sudah berapa banyak racun yang menyebar dan mengendap pada seluruh sel di dalam tubuh Kai sehingga ia tidak akan bisa lepas dari pesona seorang Dewi Es Batu bernama Bae Suzy, sampai kapanpun.

Matahari senja yang menghiasi angkasa di ufuk barat mengantarkan keduanya keluar dari pelataran kampus dan menyusuri jalan menuju halte bus. Suzy sudah berjalan jauh di depan dan meninggalkan Kai yang memilih setia mengulum senyum, mengikuti punggung Suzy yang bergerak semakin jauh.

Kai tak pernah tahu bagaimana rasanya cinta yang mendapatkan sambutan. Bagaimana rasanya menjadi alasan di balik senyuman seseorang – Suzy. Bagaimana rasanya menghabiskan waktu jalan-jalan bersama Suzy menyusuri Gwanghwamun pada musim gugur dan melewati dedaunan pohon maple yang menguning dan jatuh berguguran. Bagaimana rasanya melakukan ini dan itu bersama Suzy.

Sayangnya, Kai hanya mengetahui bagaimana cara mencintai Suzy dengan sederhana. Hanya itu. Mencintai seseorang dengan sederhana, menyeluruh tanpa melewatkan sedikit hal pun yang ada pada diri orang tersebut.

Dari kejauhan, pemuda itu masih bisa melihat Suzy yang menyandang ransel biru laut di punggungya, menunggu bis hijau untuk datak menjemput. Kai menempatkan telapak tangannya di atas kedua alisnya guna menghalau sinar mentari senja yang menyilaukan mata. Kai tidak rela barang satu noktah pun menghalangi dirinya untuk menatap Suzy lekat-lekat.

Setelah memastikan Suzy sudah berada di dalam bus hijau yang akan mengantarnya pulang, barulah Kai berpamitan pada Suzy sembari melambaikan tangan ke udara,  mengumbar senyum ekspresif tanda kegirangan, secara diam-diam.

Aku ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat terucap

kayu kepada api yang menjadikannya abu.

 

***

 

Dengan memandang pantulannya di kaca jendela bis, Suzy tersenyum simpul mengingat bagaimana ia mengagetkan Kai dari kegiatan melamunnya di perpustakaan sebanyak dua kali. Suzy mendekap erat ransel yang berada di pangkuannya.

Suzy mencoba mendalami apa yang sebenarnya dia rasakan setiap memergokki Kai yang mencuri pandang ke  arahnya. Kai yang sering muncul dengan tiba-tiba seperti ninja jikalau Suzy berada di situasi yang sulit. Dia yang berpura-pura tidak tahu setiap Kai ‘mengantarnya’ ke halte bus dan memastikan apakah Suzy kebagian tempat duduk atau tidak? Suzy yang selalu berakhir dengan Kai sebagai partner in task setiap pembagian kelompok.

Entah kenapa setiap Kai memandang Suzy, dia merasa bahwa tatapan pemuda itu berbeda ketika Kai sedang menatap sepatunya di saat Kai diceramahi Profesor Yoo karena terlambat. Berbeda jauh. Tatapan mendambakan. Setiap punggungnya dihujani oleh pandangan Kai itu, sebenarnya Suzy dapat merasakan hangatnya sinar mentari musim panas yang menembus punggungnya. Setiap Kai melemparkan lelucon garing kepada Suzy di saat ia sedang dalam mood yang buruk, Suzy dapat merasakan kucuran perhatian yang tak pernah ia dapat sebelumnya.

Jadi,

Apakah yang Suzy rasakan sama dengan apa yang dirasakan oleh Kai?

Jawabannya hanya satu. Dan jawaban itu pun hanya Suzy yang tahu.

Dengan isyarat yang tak sempat  disampaikan

awan kepada hujan yang menjadikannya tiada,

“Aku merasakannya juga.”

END.

a/n

haha, saya gak bisa buat ff full romance 😦 jadi kalau hasilnya gak memuaskan seperti di atas, just feel free to tell me where do I should begin to make it better 😀

btw, ide nulis ff ini muncul saat saya lg berjuang melawan rasa kantuk di siang bolong, pas pikiran lagi dipusingin sama ceramah dosen dan deadline ff lain yg belom kelar. dan, voom! saya langsung nulis kerangka ff ini di notes sakti punya saya.haha…….

so, adakah yang seperti Kai atau Suzy di sini?? 😉

Advertisements

44 responses to “Wanna Love You

  1. Sweet sih tp terus terang aku malah nyesek ya bacanya,saling cinta tp gag mau mengungkapkan,saling suka tp tidak mau mengatakan,saling rindu tp tidakbmau mengungkapkan,bulshit dgn apa yg jongin katakan dgn mencintai secara sederhana tidak perlu di katakan,gemezz bingits 5 kaizy

    • maaf sudah buat kamu nyesek, padahal saya gak maksud gitu 🙂 di sini, mencintai dengan sederhana hanya metafora saja. memang banyak yg bilang itu omong kosong sih, tpi itu kan penilain orang jdi waja^^
      eniwei terima kasih udh baca ya^^

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s