Raabta

raabta

Title : Raabta | Author : dina | Genre : Angst | Main Cast : Kim Myungsoo, Bae Sooji

Disclaimer

Beside story i own nothing, all cast belongs to God and their family

.

.

“Jika kau terlahir kembali, akankah aku bersanding denganmu?”

Raabta – With You

 

Sooji menatap awan berbalut mendung di pagi miliknya. Jika orang-orang membenci bagaimana mendung cenderung menintikkan air hujannya ini menganggu urusan mereka yang harus diawali dengan kehiruk pikukkan, justru sebaliknya. Ia sangat menikmatinya, mendung membawa kesejukan tersendiri, membawa dirinya tersenyum menatap jendela yang dihiasi buliran hujan.

“Kau akan menunggunya lagi kali ini?” Minah menatap adik satu-satunya sembari menata kue yang akan dibawa Sooji menuju suatu tempat.

“Kurasa…” Sooji menyisir rambut hitam bergelombang miliknya. Dengan memakai dres pink salem dan sepatu datar kesayangannya, ia berjalan sembari tersenyum. Mengambil keranjang kue yang telah rapi kreasi Minah.

“Sampai kapan?” Minah menatap Sooji dengan wajah sendu, ia sangat ingin menangis di hadapan adiknya yang telah berubah menjadi cantik selayaknya putri yang siap menjemput pangerannya.

“Sampai dia datang eonni..”

“Kau belum menerima kenyataan ini Ji…” sebuah gumaman yang Sooji tidak mungkin bisa mendengarnya, sekalipun ia berada di dekatnya.

……

Sooji masih setia memayungi kepalanya dari rintikan halus buliran hujan di Stasiun Gyeonghwa yang telah berakhir masa operasinya sejak tahun 2006 itu. Sooji menampakkan semburat senyumnya menyambut kereta yang akan melewatinya dan berhenti untuk mengambil atau menurunkan penumpang yang kebanyakan turis. Dres bawahnya indah berkibar tertiup semilir angin, dengan rasa penasaran yang selalu ia jaga, Sooji mendongakkan kepalanya menyusuri deretan gerbong kereta api yang panjang. Matanya mengerjap penuh konsentrasi, berharap seseorang yang sangat ia ingin temui menyambanginya kali ini. Sebuah penantian panjang yang ia jalani selama hampir 4 tahun terakhir.

“Kau masih di sini? Menungguku?” sebuah gumaman hadir di tengah sibuknya Sooji melangkahkan kakinya mencari seseorang.

Sooji menatap kerumunan, tangannya menyusuri gerbong demi gerbong. Melongokkan kepalanya melalui jendela lebar. Ia melihat para penumpang berhingar bingar, kamera mereka meng-capture pemandangan cantik di luar sana meskipun berselimut gerimis, namun karena gerimislah kabut menjadi berkurang karena partikel gas mengendap tersingkirkan oleh air hujan. Sooji masih dengan sabarnya menatap satu persatu pengunjung yang mendatangi kota kecil tempat dirinya menetap selama ini.

Opso…” lirihnya sesampainya ia di gerbong paling akhir.

Sooji duduk di bangku panjang, ingatannya beralih pada memori indah miliknya. Kenangan yang membawa ia mengenal lelaki Kim yang sangat ia kasihi. Ketika Chiko anjing kesayangan lelaki itu menghilang di tengah kerumunan pengunjung. Sooji berhasil menemukan Chiko yang kala itu menuntun tuannya berjalan. Sooji tidak habis pikir mengapa anjing Siberian secantik itu berada di kota kecil tempatnya berada.

“Hachiko!” terdengar suara berat lelaki memecah keheningan stasiun di sore itu. Chiko menyalak setiap ia mendengar suara panggilan lelaki tersebut. Sooji menatap heran kemudian kepalanya ia tolehkan ke arah samping kanannya. Di sana tampak lelaki muda berselimut sweater menutupi tubuhnya yang tampak lemah. Namun dari pancaran matanya, Sooji yakin lelaki itu bukan penduduk setempat karena tampak sedikit keraguan saat Sooji menatap mata lelaki tersebut.

“Kau di sini rupanya…” ucapnya. Chiko kembali menyalak, menghampiri tuannya. Kepalanya ia sodorkan ke tangan tuannya, ia berjalan mengelilingi seolah-olah mengatakan aku di sini, jangan khawatir tuan. Tangan lelaki itu mengelus kepala Chiko sembari bernafas lega. Ia mungkin mengira akan kehilangan Chiko.

“Maaf…” lirihnya sembari menatap Sooji.

Eoh? Saya tidak melakukan apapun..” Sooji mengerjapkan kedua kelopak matanya, pancaran indah mata lelaki itu menenggelamkan Sooji dalam sebuah fatamorgana di tengah dinginnya hawa stasiun yang kerap ia tahan. Hal yang lucu karena sejatinya fatamorgana merupakan efek dari panasnya cuaca di tengah padang pasir, namun itu semua tergambar di dalam hati Sooji. Lelaki itu perlahan mengisi rongga hatinya. Bahkan mengisi penuh dengan kenangan yang menetap sempurna di ingatan Sooji. Sejak hari itu hari dimana Sooji mengenal lelaki pemilik Hachiko, hari-hari Sooji lebih berwarna. Hingga sebuah peristiwa terjadi tanpa sepengetahuan Sooji, lelaki itu harus meninggalkan kota kecil mereka.

“Kapan ia akan kembali ke sini tuan? Sooji memberanikan diri menanyakan eksistensi lelaki pengisi hatinya pada seorang pria tua yang biasa dipanggil Harabhoji oleh lelaki itu.

“Mungkin dia akan kembali di bulan Oktober nanti..”

“Baiklah..” Sooji tersenyum. Sebuah asa tersimpan di relung hatinya.

Oktober ini merupakan Oktober ke-empat penantian dirinya. Beberapa saat kemudian peluit panjang petugas berbunyi. Ia menatap nanar kepergian kereta yang sekali lagi meninggalkannya. Air mata Sooji menggenangi pelupuk matanya. Selayaknya rintikan hujan yang berubah deras, Sooji menangis, berusaha menyadarkan dirinya sendiri untuk menerima dengan ikhlas takdir yang telah Tuhan gariskan.

“Kim Myungsoo telah meninggalkan kita..” Kakek Kim mengabarkan berita tatkala Minah meladeninya saat kakek Kim mengunjungi toko kue miliknya. Minah hampir saja menjatuhkan roti tart-nya mendengar berita mengejutkan yang ia terima siang itu.

“Tidak mungkin…” Sooji yang ikut mendengar ucapan kakek Kim termangu, ia menggelengkan kepalanya berkali-kali.

……

Mianhe….” Lagi sebuah suara gumaman yang Sooji tidak mampu dengar sekalipun ia berada lekat di dekatnya.

Sooji membuka matanya yang sedari tadi terpejam, hari berganti petang, stasiun beranjak sepi. Hanya beberapa petugas stasiun yang berada di sana, mereka tidak asing lagi dengan kehadiran Sooji.

“Kau datang…” Sooji tersenyum menatap lelaki yang telah duduk di sampingnya. Sooji mengamati lekat wajah tampan Myungsoo. Tangannya terulur mengusap pelan pipi lelaki Kim yang selalu ia tunggu.

“Mengapa kau baru datang?” tanyanya.

“Relakan aku….”

“Haruskah?” Sooji memiringkan wajahnya yang berubah sendu. Lelaki itu mengangguk pelan, perlahan telapak tangannya menutup kedua mata Sooji.

Hening.

Sunyi.

Sooji membuka matanya, ia tersenyum. Penantiannya tidak sia-sia, lelaki itu mengunjunginya walaupun hanya sekejap. Sooji beranjak dari bangku panjang penantiannya, payungnya ia jinjing, keranjang kue ia letakkan di almari nakas milik petugas stasiun.

“Selamat tinggal oppa…”

FIN

Ini versi lain dari ff Serenade yang bergenre beautiful sadness, tinggalkan komen kalian ya, ghamsahamida!!

55 responses to “Raabta

  1. Nyesek banget bacanya kak,, menyentuh banget. kesetiaan, cinta, penantian, adakah mmang seseorang yg bisa brtahan mengalami semua itu? Terenyuh banget bacanya kak. Setiap kata di ff.a kkak mmang tak diragukan lagi selalu berhasil membuat pembaca seakan ikut merasakan.
    Thx kak untuk suguhan ff nya.

  2. Tes tes tes air matakuuu;(
    nyesek kalau jdi sooji selama 4 tahun menunggu myung yg kembali2 dan ternyata myung udh meninggal Huaaaaaa

  3. Ya ampun kak dian,jago banget bikin ffnya.
    Sumpah deh ff ini bikin aku nangis,huuu ngabayangin dan seakan kebawa sama atmosfernya…haft sedih,,sedih,,,

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s