Mi Pequeño Hijo, Yoona (5)

Mi pequeno hijo, yoona - dina copy

Title : Mi Pequeño Hijo, Yoona | Author : dina | Genre : Angst, Family, Romance | Main Cast : Kim Myungsoo, Bae Sooji

Disclaimer   :

This story is Mine, all cast belongs to God and their family

Poster by rosaliaaocha

♠♠

Mi Pequeño Hijo, Yoona (My Little Child, Yoona)

.

.

.

“Mistake”

Sooji menginjakkan kakinya dari ranjang rumah sakit. 2 Hari dirinya terpenjara di dalam kamar yang sangat dibenci oleh para pasiennya. Bagaimanapun dokter tetap manusia biasa yang meskipun setiap hari bersentuhan dengan lingkungan rumah sakit tetap saja label pasien tidak dapat lepas dari dirinya suatu waktu.

“Sudah merasa baik dokter Bae?” sapa suster jaga.

“Hem…lebih baik, apa saya sudah diperbolehkan pulang hari ini?”

“Iya, sebelum pulang dokter Kang akan mengecek lagi apakah ada yang masih dibutuhkan”

Ne…”

Ceklek!

“Selamat pagi suster,” sapa Myungsoo.

“Pagi tuan Kim, saya tinggal dulu,” suster berpamit, menutup kembali pintu kamar Sooji.

Sooji menatap Myungsoo yang berjalan mendekatinya, “sepagi ini?” sapanya.

“Hem…” Myungsoo duduk di sisi ranjang, “Kapan kau boleh pulang? Sore nanti aku ingin mengajak Yunji menjengukmu.”

Jinca?!”

“Hem..dia menanyakanmu terus-menerus, aigo..anak itu,” Myungsoo tersenyum mengingat Yunji merengek meminta dirinya untuk membawanya ke rumah sakit, sekedar menjenguk ibu barunya.

Gomawo Myungsoo-ssi..”

“Untuk?”

“Kau berhasil membuat hari-hariku kembali cerah dengan kehadiran Yunji, jeongmal gomawo…” Sooji menatap Myungsoo dengan pandangan teduh. Dada Myungsoo berdegup seketika, ia cukup mengerti dan sadar dengan apa yang ia rasakan. Perasaan tiba-tiba yang hangat menyelimutinya ketika melihat Sooji mengeratkan jemarinya pada Yunji, keinginan tiba-tiba mencium Sooji ketika hanya mereka berdua di tepi sungai Han, dan rasa yang semakin menyakinkannya ketika Sooji menyelamatkan dirinya dari kecelakaan yang hampir mencelakakannya tempo hari.

“Seharusnya aku yang berterimakasih Sooji-ssi, kau menyelamatkanku..” Myungsoo menyentuh pipi Sooji sekali lagi. Mata Sooji mengerjap, skinship ketiga kalinya yang dilakukan Myungsoo dalam 2 minggu terakhir kedekatan mereka.

Eoh..cheonmaneyo.” Sooji menarik wajahnya dari jemari Myungsoo. Ia harus membatasi diri, karena selama ini hanya dia dan pasiennya saja yang melakukan skinship itupun sebatas dokter dan pasien. Lebih dari 8 tahun Sooji tidak merasakan degupan kecil di dadanya selayaknya dahulu ketika ia masih bersuami meskipun kehidupan rumah tangga lengkap hanya ia rasakan tidak lebih dari 5 bulan.

Myungsoo yang seakan mengerti penolakan Sooji, menarik kembali jemarinya.

“Aku pamit..” Myungsoo memegang tengkuknya, menyingkirkan kekakuannya akan sikap Sooji.

“Hem..gomawo, hati-hati di jalan..” Sooji menganggukkan kepalanya, membalas ucapan Myungsoo dengan senyuman.

“Aku akan kembali sore nanti!” Myungsoo membalikkan badannya, menghilang dari balik pintu. Entah mengapa Sooji tersenyum, senyuman yang tercipta sama ketika mendiang suaminya masih hidup.

—–

“Yunji-ya!” Myungsoo melepas jas kerjanya, ia sengaja pulang lebih cepat untuk menjemput Yunji, membawanya ke rumah sakit untuk menjenguk Sooji.

Samchon! Aku sudah siap!” Yunji setengah berlari dari dalam kamarnya, ia memakai kaos kuning dan bercelana jeans, tampak semakin cantik dengan rambutnya yang oleh halemoni-nya dikuncir kuda.

Myungsoo tersenyum melihat antusiasme Yunji.

Samchon mandi dulu ne..”

Call!”

20 Menit kemudian.

Kajja!” Myungsoo mengambil kunci mobilnya, Yunji berpamit pada Ny. Kim, kemudian masuk dalam mobil. Sembari memasang seatbelt-nya, ia mengajak Myungsoo membeli bunga sebelum mereka ke rumah sakit. Yunji ingin membeli bunga lily untuk Sooji, karena bunga lily sangat cantik secantik yimo barunya jelas Yunji. Myungsoo yang mendengarkan celotehan Yunji sepanjang jalan hanya tersenyum simpul. Entah mengapa sebuah keinginan terselip di sana, keinginan untuk mempersembahkan Sooji untuk Yunji.

“Kita sampai..” Myungsoo melepas seatbelt-nya dan seatbelt Yunji.

Yimo pasti suka dengan bunga ini, keutchi samchon?”

Myungsoo menganggukkan kepalanya. Yunji yang tidak sabaran mempercepat langkahnya menuju kamar Sooji dirawat. Kedua tangannya sibuk membawa sebuket bunga lily besar yang ia pinta tadi dari toko bunga.

Ceklek!

Yunji membuka pintu, tampak dokter Kang Min Hyuk masih berada di dalam bersama suster, memeriksa lebam di punggung Sooji.

Eoh…annyeonghaseyo!” lirih Yunji sembari membungkukkan badannya, suster yang melihat Yunji segera menutup tirai yang mengelilingi ranjang Sooji, Myungsoo yang telah berdiri di belakang Yunji menatap sekilas punggung Sooji yang terbuka dengan posisi membelakanginya.

Jeosonghamnida..” Myungsoo menarik tubuh Yunji untuk menjauh dari pintu kamar.

“Tunggu dulu di sini, dokter Bae sedang diperiksa.”

“Baik suster,” Myungsoo menganggukkan kepalanya. Sekilas ia masih melihat lebam yang mulai terlihat samar di punggung Sooji walau hanya 3 detik.

“Tadi yimo sedang apa?” Yunji dan Myungsoo duduk di sofa tempat para penunggu pasien duduk.

Yimo sedang diperiksa luka di tubuhnya Yunji-ya.”

Eoh…apakah sakit?”

“Kenapa tidak kau tanyakan sendiri pada Sooji yimo?”

Arrasoyo..” Yunji memainkan kedua kakinya, menggerakkannya bergantian, mengusir rasa bosan.

Tak lama kemudian dokter Kang dan suster berjalan melewati mereka, Yunji bergegas berdiri, berjalan menuju kamar Sooji.

Yimo!” sapa Yunji ketika kepalanya berhasil menyembul di balik pintu kamar.

“Yunji-ya!” Sooji tersenyum cerah, kedua tangannya reflek terbuka menerima pelukan Yunji.

Yimo tadi kenapa?”

“Maksudnya?”

“Aku melihat dokter melihat punggung yimo, keutchi samchon?” pertanyaan tiba-tiba Yunji yang sontak membuat Myungsoo dan Sooji terkejut.

“Iyakan samchon? Tadi samchon juga melihatnya kan?” Yunji memastikan ia tidak salah melihat.

Eoh..ne..” Myungsoo mengalihkan pandangannya ke arah majalah yang terongok di sisi ranjang Sooji.

“Kalian sedari tadi di sini?” tanya Sooji penuh selidik

Aniya..aku membuka pintu kamar namun suster langsung menutup tirai besar ini,” Yunji menunjuk tirai penutup sebagai penutup ranjang tatkala pasien diperiksa, “Lalu suster menyuruh kami menunggu di luar dan menutup pintunya.” Yunji menjelaskan panjang lebar. Sooji tersenyum geli, ia sedikit lega Myungsoo tidak melihat bagian belakang tubuhnya yang terbuka.

Mianhe..” ucap Myungsoo tiba-tiba, ia merasa tidak enak hati dengan penjelasan polos Yunji

Gwenchana..” senyum Sooji. “Kau bawa apa Yunji-ya?”

Ige, bunga lily untuk yimo..” Yunji menyodorkan sebuket bunga pada Sooji.

Gomawo sayang..” Sooji mengelus puncak kepala Yunji, matanya sedikit berair melihat ketulusan Yunji. Demi apapun Myungsoo merasa trenyuh melihat Sooji dan Yunji mengobrolkan banyak hal. Yunji tampak jauh bahagia dibandingkan hari-hari sebelumnya.

“Ah iya…siapa nama dokter tadi yimo?” tanya Yunji sambil mencomot donat yang Myungsoo beli sepulangnya dari kantor, membawanya untuk dimakan bersama Sooji.

“Dokter Kang Min Hyuk, waeyo?”

“Apa dia sudah punya kekasih?” tanya Yunji lagi, lagi-lagi pertanyaan aneh keluar dari bibir mungilnya. Myungsoo yang masih sibuk membaca tiba-tiba merasa tertarik dengan obrolan mereka kali ini.

Yimo tidak tahu, memang kenapa?”

“Kurasa dokter Kang menyukai yimo..” analisa Sooji.

“Eyy..darimana kau menyimpulkan itu semua?”

“Mungkin saja, dokter Kang cukup tampan untuk berteman dengan yimo..” jawaban asal Yunji yang membuat Sooji tertawa geli, jawaban yang tidak ada kaitannya dengan apakah dokter Kang telah mempunyai kekasih atau tidak. Namun lain halnya dengan Myungsoo yang tiba-tiba alisnya bertaut. Entah apa yang ada dalam pikirannya.

—–

Minggu pagi di kediaman keluarga Kim berjalan seperti biasa. Siang itu eomma Myungsoo akan menjemput saudara sepupu jauhnya yang baru saja tiba dari Daegu. Myungsoo bertugas menjaga Yunji karena tuan Kim masih sibuk dengan kumpulan teman-teman sesama purna tugas.

“Myung kenalkan, Yoo Jiae” panggil Ny. Kim setibanya beliau dengan kedua orang tamunya. Seorang gadis berusia 24 tahun dan ibunya yang tampak anggun di usia senja duduk di ruang tamu kediaman Kim. Myungsoo berjalan menghampiri mereka, “Myungsoo imnida, bangapta” sapa Myungsoo sembari membungkukkan tubuhnya tanda hormat. Gadis itu berdiri membalas sapaan Myungsoo.

Ne…Jiae imnida” senyumnya dengan lesung pipit, semakin menambah menarik pesona dirinya di mata Ny. Kim.

Aigo..kau sopan sekali Jiae-ya!” puji Ny. Kim.

“Ah iya perkenalkan cucuku..dimana Yunji?” Ny. Kim mengedarkan pandangannya.

“Kupanggilkan, “ Myungsoo beranjak dari tempat duduknya, menjemput Yunji yang masih sibuk menggambar di kamarnya.

“Anakmu sudah menikah?” tanya Ny. Yoo

Ajig..wae?” tanya Ny. Kim sembari tersenyum penuh arti.

Ny. Yoo menyambut senyuman eomma Myungsoo, Jiae yang masih tidak terlalu mengerti dengan tujuan ibunya dan ibu Myungsoo hanya mengedikkan bahunya. Ia tidak benar-benar nyaman dengan kehadiran Myungsoo.

“Kau sudah memiliki kekasih Jiae-ya?” tanya Ny. Kim.

Jiae terdiam sejenak, ia tampak berpikir, namun sebuah jawaban cukup mengejutkan kedua ibu mereka. Sebuah jawaban yang akan membuat dirinya terjebak dalam suatu hubungan yang rumit antara dirinya, Myungsoo dan Sooji.

Sementara itu di kamar Yunji, “Yunji-ya, halemoni memanggilmu!”

Ne..”

Yunji berlari kecil menuju ruang tamu. Ia mengehentikan langkahnya, matanya terpaku pada kedua tamu halemoni-nya.

“Sapa Yoo halemoni dan Jiae eonni!” titah N. Kim yang wajahnya tampak semakin berbinar.

Annyeonghasimika, Kim Yunji imnida!” Yunji membungkukkan tubuhnya tanda hormat, sementara Myungsoo memperhatikan mereka dari kejauhan. Sesaat mata tajamnya terkunci oleh pandangan Jiae yang kemudian teralihkan ke Yunji.

“Kita akan lebih sering bersama Yunji-ya” sapa Jiae

“Hem?” Yunji menatap halemoninya tidak mengerti.

“Jiae eonni akan tinggal di rumah kita. Dia akan menemanimu bersekolah nantinya..”

“Mengapa?” Yunji memiringkan kepalanya menatap Ny. Kim.

“Karena eonni akan mengajar di sekolahmu..” sambut Jiae sembari mengacak pelan rambut Yunji.

Andwe!” tolak Yunji yang sepertinya merasa terancam oleh Jiae. Ia dengan keusilannya di sekolah, hanya Myungsoo yang tahu dengan ulah bar-bar Yunji. Jika Jiae menjadi salah satu pengajar di sekolahnya, dapat dipastikan Yunji akan semakin susah bergerak. Analisa cepat Yunji. Sembari mengerucutkan bibirnya, ia berlari ke arah Myungsoo.

“Ya! Yunji-ya! Bersikaplah yang sopan dengan ibu gurumu!” titah Ny. Kim. Jiae menatap Yunji yang berubah manja pada Myungsoo, sejenak ia berpikir tidak ada salahnya mengenal lebih dekat lelaki yang dibanggakan eomma-nya.

——

Jiae memulai hari-harinya bersama Yunji. Benar saja, Yunji sangat anti dengan kehadiran Jiae. Setiap pagi, Yunji akan langsung meninggalkan Jiae tanpa pamit setibanya mereka di sekolah Yunji. Lagi-lagi Myungsoo tersenyum geli melihat tingkah pemberontak Yunji.

“Maafkan Yunji,” pinta Myungsoo saat ia mengantar Yunji dan Jiae ke sekolah.

Gwenchana..aku sudah biasa menghadapi anak-anak” Jiae tersenyum lembut, ia sangat nyaman berada di dekat Myungsoo. Sepertinya usahanya kali ini berhasil, melupakan Sehoon sementara waktu. Menenangkan dirinya pasca putus dengan kekasihnya.

“Kau langsung pulang nanti sore?” tanya Jiae.

“Mungkin, waeyo?” tanya Myungsoo.

Ani..aku hanya ingin melihat Seoul di malam hari, kurasa aku harus mempelajari jalan-jalannya. Aku butuh bantuanmu jika kau tida keberatan Myungsoo-ssi..”

Myungsoo berpikir sejenak, tadi malam Sooji mengajaknya bertemu dengan Yunji. “Baiklah..nanti malam kita pergi bersama, “ balas Myungsoo.

Jinca?”

“Hem..kau, aku dan Yunji. Kita akan bertemu dengan teman-temanku, otte?” tawar Myungsoo. Jiae mengangguk penuh semangat, setidaknya ia tidak lagi canggung dengan Myungsoo. Dan mungkin saja dengan dirinya pergi bersama Myungsoo semakin mendekatkan mereka berdua.

“Sampai nanti malam..” Jiae keluar dari mobil Myungsoo, menatap mobil yang melaju meninggalkannya dengan sebuah senyuman.

——

Sooji menatap ponselnya ketika sebuah nomer tidak dikenal tertera di caller phone ponselnya.

Yoboseyo..”

Yimo!” suara Yunji terdengar nyaring dan bersemangat.

“Siapa ini? Yunji?” tanya Sooji memastikan ia tidak salah dengar.

Ne..ini aku Yunji!”

Aigoo…ada apa sayang? Bukankah nanti malam kita akan bertemu? Kau dimana sekarang?”

“Aku masih di sekolah yimo-ya, Tae Suk eomma meminjami ponselnya untukku…bogoshippo!” Balas Yunji penuh semangat yang berhasil membuat Sooji tertawa kecil.

“Tutup dulu ponselnya ne, biarkan yimo yang meneleponmu..”

Arrasoyo..” Yunji menutup ponsel. Sooji menelepon balik ponsel eomma Tae Suk, meminta ijin untuk sekedar mengobrol dengan Yunji. Yunji tampak antusias bercerita tentang kehidupan sekolahnya, tak lupa ia menceritakan kehadiran Jiae yang sepertinya akan menjadi pengadu bagi halemoni-nya meskipun kenyataannya Jiae tida melakukan apapun. Semua hanya rasa was-was Yunji yang berlebihan.

“Aku tidak suka jika Jiae eonni berdekatan denganku!” protes Yunji.

Waeyo?” tanya Sooji.

“Aku hanya ingin Sooji yimo..

Aigoo..kau tidak boleh seperti itu sayang, Jiae eonni juga gurumu bukan? Ingat saem harus dihormati. Memang seperti apa Jiae eonni?”

“Seperti guru-guruku…hanya saja dia lebih cantik!” Jawaban polos Yunji.

Yeppo?”

“Hem…dia bahkan sering mengobrol dengan Myungsoo samchon!”

Sooji terdiam menyimak cerita kedekatan Myungsoo dengan Jiae. Dalam hatinya terganjal sesuatu yang membuatnya tidak nyaman mendengar nama Jiae. Sooji berusaha menepis perasaan itu jauh-jauh, toh Myungsoo hanya kawan baru baginya meskipun ia dan Myungsoo telah beberapa kali melakukan skinship yang tidak sengaja. Tidak ada waktu bagi dirinya berdua dengan Myungsoo karena Yunjilah alasan mereka bertemu. Otomatis ketika ia bersama Myungsoo, Yunji akan berada di tengah-tengah mereka.

“Sampai bertemu nanti malam Yunji-ya..”

Ne, aku akan memakai baju biru yang yimo belikan kemarin!” lapor Yunji.

Arra…kau pasti akan semakin cantik memakai baju itu..”

“Hem…ghamsahamida yimo-ya!”

Ne..gidarilke sayang..”

Sooji menutup ponselnya, suster memintanya memeriksa pasien yang baru saja mendatangi mereka. Sooji mengambil stetoskop dan jas putihnya, berjalan meninggalkan ponselnya di meja kerjanya. Sebuah panggilan masuk, Myungsoo meneleponnya.

——

Jiae mematut sejenak penampilannya di depan cermin besar, ia memakai atasan sifon dan celana denim. Tampak cantik dengan rambut tergerai. Tangannya mengambil tas bertali panjang miliknya, di ruang tamu Yunji dan Myungsoo telah menunggunya. Dapat ditebak, wajah Yunji tidak lagi marah, ia seakan-akan lupa dengan kehadiran Jiae di dalam mobil mereka.

“Kita mau kemana?”

“Ke rumah temanku, Nam Woohyun. Dia sahabat eomma Yunji ketika masih hidup.”

Eoh..”

“Tapi kita akan tetap bertemu dengan Sooji yimo kan?” sela Yunji.

Ne..setelah menjemput Woohyun samchon..” Myungsoo membelokkan mobilnya ke dalam pemukiman. Nam Woohyun telah menunggu di teras rumahnya.

Myungsoo keluar dari mobilnya diikuti Jiae, Woohyun tersenyum melihat gadis yang bersama Myungsoo. Ia cukup peka dengan maksud Myungsoo memperkenalkan Jiae kepadanya.

“Perkenalkan hyung, Yoo Jiae..”

“Yoo Jiae imnida, bangapta!”

“Nam Woohyun imnida!” balas Woohyun, “jadi kita berangkat sekarang?” tawar Woohyun.

“Hem..Yunji menunggu kita di dalam mobil.”

Aigo anak itu!”

Woohyun berjalan memasuki mobil Myungsoo, menyapa Yunji yang tampak sangat bersemangat akan bertemu dengan Sooji. Woohyun memegang kemudi, sementara Yunji duduk di bangku kedua bersama Yunji.

“Kau membawa apa?” tanya Yunji menunjuk bingkisan di sebelah Yunji.

“Kado untuk Sooji yimo..”

“Sooji yimo? Nugu?” tanya Jiae hati-hati.

“Kata Yerim eonni, Sooji yimo kekasih Myungsoo samchon!” jawab Yunji sekenanya yang membuat Jiae memudarkan senyumannya. Woohyun terkekeh geli, sementara Myungsoo menggelengkan kepalanya atas sikap Yunji.

“Kekasih?” gumam Jiae dalam hatinya.

“Jangan kau masukkan dalam hati Jiae-ya, itu tidak benar,” tolak Myungsoo.

Jinca?” kau benar-benar tidak tertarik dengan dokter Bae?” goda Woohyun.

Myungsoo hanya tersenyum simpul. Dari wajah Myungsoo, Jiae dapat membaca apa yang ada di dalam hati pria yang dijodohkan dengan dirinya.

“Apa dia cantik?” tanya Yunji lagi sembari tersenyum menatap Yunji.

“Hem..neomu yeppo!”

Aigoo! Yunji-ya!” Woohyun tertawa keras mendengar jawaban polos Yunji. Jiae terpaksa tersenyum meskipun di dalam hatinya merasakan sedikit kekecewaan.

——

Woohyun memarkirkan mobil Myungsoo di depan sebuah restoran favorit Yunji. Di sudut restoran, Sooji telah menunggu dengan mamakai baju senada dengan Yunji. Myungsoo tersenyum melihat betapa manjanya Yunji ketika bersama Sooji.

Oremani Sooji-ssi,” sapa Woohyun.

Ne..apa kabar Woohyun-ssi?”

“Aku baik..”

“Perkenalkan Jiae, saudara jauh eomma..” Myungsoo menarik pelan lengan Jiae, Sooji menatap sekilas tangan Myungsoo yang menyentuh Jiae.

“Bae Sooji imnida!” sapa Sooji dengan senyum lembutnya.

Ne, Yoo Jiae imnida!” balas Jiae dengan senyum tidak kalah cantik dan bersemangat, ia bertekad untuk memenangkan hati Myungsoo sekalipun Sooji menghalanginya untuk mendapatkan perhatian Myungsoo.

“Kau duduk di sini..” Myungsoo mengggeser tempat duduk untuk Jiae yang bersebelahan dengan Woohyun, Yunji duduk di tengah-tengah Myungsoo dan Sooji.

“Kau mau makan apa?” tanya Myungsoo pada Yunji.

Ige..” Yunji menunjuk papan menu.

“Anda tinggal dimana Jiae-ssi?” tanya Woohyun membuka percakapan dengan Jiae.

“Sementara tinggal di kediaman Myungsoo oppa,” jawab Jiae tanpa malu-malu memanggil Myungsoo dengan sebutan oppa.

Oppa?” Woohyun sedikit terkejut.

Ne..sepertinya aku harus membiasakan diri memanggil Myungsoo oppa, tidak apa kan?”

Myungsoo mengangguk, ia tidak terlalu ambil pusing dengan permintaan Jiae. Baginya bertemu dengan Sooji lebih menyenangkan melebihi apapun. Woohyun menatap raut wajah Sooji, ia menyimpulkan sesuatu terjadi diantara mereka bertiga. Sebuah perang dingin ala wanita yang khas, saling meminta perhatian. Namun tidak dengan Sooji yang masih dengan tenangnya menjawab semua pertanyaan Jiae tentang dirinya. Myungsoo yang cukup peka beberapa kali mengalihkan pembicaraan mereka. Ia tidak ingin Sooji merasa tidak nyaman.

“Kau jadi ke Jeju minggu depan?” tanya Myungsoo tiba-tiba kepada Sooji.

“Kurasa..”

“Baiklah..” bibir Myungsoo tersenyum senang

Jiae yang melihat senyuman Myungsoo mendadak kesal. Ia hanya ingin Myungsoo memperhatikan dirinya walau sebentar. Makan malam kali ini tidak cukup mendekatkan mereka berdua.

“Kau masih mau berkeliling Seoul?” tawar Woohyun.

“Hem..tapi sepertinya Myungsoo oppa cukup sibuk.”

Sooji berusaha untuk tidak mendengarkan ucapan Jiae, dia hanya sibuk meladeni celotehan Yunji tentang buku gambarnya.

“Kalau kau tidak keberatan, aku bisa menemanimu..” tawar Woohyun.

“Benarkah?”

“Hem…dengan senang hati!” Woohyun menepuk dadanya.

“Baiklah!” senyum Jiae kembali mengembang, namun entah di dalam hatinya. Setidaknya Myungsoo dapat bernafas lega, dengan dirinya mengenalkan Jiae pada Woohyun, maka ia dengan leluasa dapat mendekati Sooji tanpa terbebani untuk menemani Jiae kemanapun sesuai permintaan eomma-nya.

——

Malam semakin larut, tidak terasa 3 jam mereka bersama. Sooji pulang sendiri dengan mobilnya. Myungsoo yang sepertinya tidak tega memutuskan untuk mengantar Sooji namun ditolaknya. Sooji merasa baik-baik saja untuk pulang sendiri, lagipula Yunji tampak sudah mengantuk.

“Pulanglah..” titah Sooji.

“Kau yakin?”

“Hem…kasihan Jiae membutuhkanmu..” balas Sooji ketika Myungsoo mengantarnya menuju parkir mobil Sooji. Jiae dan Woohyun telah berada di dalam mobil, menemani Yunji yang telah terlelap.

“Jiae?” Myungsoo mengerutkan alisnya.

“Setidaknya perhatikan dia. Kurasa gadis muda itu menginginkan perhatianmu Myungsoo-ssi..” Sooji menatap wajah tampan Myungsoo yang tampak semakin heran.

“Kau cemburu?”

Hening.

Senyap.

Sooji hanya mampu membalas tatapan Myungsoo. “Sampai bertemu lagi..” balasnya, tangan kanannya memegang handel mobil bersiap akan membuka pintu.

“Aku menginginkan wanita lain, bukan dirinya,” balas Myungsoo.

“Selamat malam..” Sooji membuka pintu mobilnya, menyalakan mesin kemudian menundukkan kepalanya berpamit dari hadapan Myungsoo.

“Hati-hati di jalan..” pesan Myungsoo.

Ne..ghamsahamida Myungsoo-ssi..” senyum Sooji.

Myungsoo melambaikan tangannya, menatap mobil Sooji yang semakin menjauh darinya.

——

Myungsoo menatap laut lepas pulau Jeju. Hari ini ia bertugas mewakili perusahaannya untuk meliput konferensi yang dihadiri para jurnalis, hampir semua media massa di seluruh Korea Selatan berkumpul di sini. Secara kebetulan Sooji juga berada di Jejudo walau hanya 3 hari karena pihak rumah sakit juga turut mengadakan pertemuan di salah satu resort di sana. Baik Myungsoo dan Sooji sama-sama sibuk sehingga praktis di hari-hari menjelang kepulangan Soojilah mereka dapat bertemu. Myungsoo bahkan menyempatkan diri untuk mendatangi resort tempat Sooji menginap.

“Myungsoo-ssi?” Sooji tampak terkejut tatkala Myungsoo telah berada di lobi hotel menemuinya.

Waeyo?” Myungsoo tersenyum melihat wajah terkejut Sooji.

“Kukira kau tidak jadi ke Jeju..”

“Sudah kukatakan, kita akan bertemu di sini.”

Arra…”

Sooji tampak cantik malam itu, ia dan Myungsoo serta rekan Sooji menyaksikan pertunjukan tari samba yang pihak resort tampilkan. Sebuah hiburan menarik yang sangat Sooji sukai. Bahkan sampagne dan cocktail turut menemani suasana tamu resort malam itu. Sebenarnya Sooji tidak benar-benar mabuk, begitupun dengan Myungsoo. Namun Wonbin, rekan Sooji yang tergila-gila akan minuman menantang Myungsoo untuk bertanding minum bir. Myungsoo yang tidak toleran terhadap alkohol akhirnya kalah telak. Sooji menggelengkan kepalanya melihat rekan kerjanya mengerjai Myungsoo habis-habisan. Ia tidak heran karena terkadang bagi mereka para dokter, melepaskan kepenatan di luar jam kerja sangat diperlukan. Setelah 2 hari berhadapan dengan paper dan presentasi yang membosankan, wajar jika Wonbin dan rekan kerjanya yang lain melampiaskan pada minuman alkohol. Yang terpenting mereka tidak akan memegang pasien setelahnya.

Sooji menepuk pipi Myungsoo yang mulai memerah. “Myungsoo-ssi ireona!” panggilnya.

“Kau bawa saja dia ke kamarmu Sooji-ya!” titah Minhyuk yang masih setengah sadar.

Andwe!”

“Lalu?”

“Kupanggilkan taksi, aku akan mengantarnya ke penginapannya..”

“Terserah kau saja!”

Sooji meminta pelayan memanggilkan dirinya taksi, dengan sedikit terhuyung, Sooji berusaha memapah Myungsoo.

“Aku ingin muntah..” pinta Myungsoo. Sooji bergegas membawa Myungsoo ke toilet pria.

“Huek!” Myungsoo memuntahkan semua cairan alkohol dari dalam perutnya. Sooji meminta ijin pada pelayan untuk membersihkan kotoran di tubuh Myungsoo. Dengan kesulitan, akhirnya Sooji berhasil membawa Myungsoo ke penginapannya.

“Kamar berapa?” tanya Sooji sambil memapah Myungsoo. Dirinya juga tidak sepenuhnya sadar namun tidak juga kehilangan kendalinya.

“Itu..” Myungsoo membuka pintu dengan card-nya. Sooji mengikutinya dari belakang. Myungsoo merebahkan tubuhnya di ranjang besar miliknya, kepalanya sedikit pening. Sooji duduk di samping Myungsoo yang terpejam. Dia menghembuskan nafasnya pelan, menatap wajah Myungsoo.

“Kau harus ganti baju..” Sooji membuka koper Myungsoo, mengambil kaos putih tanpa lengan milik Myungsoo.

“Myungsoo-ssi ireona!” Sooji memaksa Myungsoo untuk duduk kembali.

Wae?” tanya Myungsoo yang kembali tersadar namun masih berada di bawah pengaruh alkohol.

“Kau harus mengganti kemejamu..” Sooji membantu Myungsoo melepas kancing kemejanya. Myungsoo menatap dalam diam ketika Sooji berhasil melepas kemejanya, menggantinya dengan kaos putih miliknya.

“Sudah..” Sooji bernafas lega. Ia beranjak ke kamar mandi, merendam kemeja Myungsoo yang kotor dan berbau alkohol. Ketika ia keluar dari kamar mandi, Myungsoo tengah berdiri menatap jendela luar. Tampak lampu mercusuar berkerlap-kerlip memberikan sinyalnya.

“Kau sudah baikan?” tanya Sooji sembari mendekati Myungsoo. “Kemejamu sudah kurendam, aku pulang ne..” Sooji mengambil tas miliknya, Myungsoo masih terdiam menatap Sooji.

“Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Jiae,” ucap Myungsoo tiba-tiba.

Eoh?” Sooji menautkan kedua alisnya, tidak mengerti arah pembicaraan Myungsoo.

“Kau masih enggan menjawab pertanyaanku?” balas Myungsoo.

“Adapun tidak masalah untukku..” Sooji berusaha menenangkan pikirnya. Ia juga berada di bawah alkohol sama halnya dengan Myungsoo. Ia tidak ingin merancau tidak jelas di hadapan Myungsoo.

“Kau yakin?”

“Hem..kurasa sudah saatnya aku pulang,” Sooji menghindari tatapan tajam Myungsoo, segera ia membalikkan tubuhnya, namun langkahnya tertahan, Myungsoo memeluk Sooji dari belakang.

“Tapi tidak denganku..” bisik Myungsoo tepat di telinga Sooji.

Tubuh Sooji tiba-tiba membeku tatkala Myungsoo melingkarkan lengan kokohnya di tubuhnya. Nafas berat Myungsoo menerpa pipi Sooji.

“Myungsoo-ssi, geumanhe..”

“Aku menyukaimu Sooji-ssi..” Myungsoo membalikkan tubuh Sooji menghadapnya.

“Kau mabuk..” tanpa sempat Sooji menyelesaikan kalimatnya, Myungsoo telah mengunci bibirnya dengan lembut. Sungguh suasana diantara mereka menggiring keduanya melewati batasan yang tidak seharusnya dilakukan seorang kawan. Myungsoo memeluk Sooji erat, seakan-akan enggan untuk meninggalkan segala yang telah Sooji berikan untuknya. Sooji mendorong pelan tubuh Myungsoo, menyisakan jarak diantara mereka.

Mianhe..” ucap Myungsoo menyadari kekurangajarannya di bawah pengaruh alkohol.

Sooji memberanikan diri menatap Myungsoo, setengah sadar, ia seakan terlena dengan tatapan teduh yang Myungsoo berikan. Dalam relung hati Sooji tergelitik, bukan karena ketampanan Myungsoo, bukan pula karena Yunji, namun karena keikhlasan menerima dirinya dalam kondisi terpuruk.

“Myungsoo-ssi..” dalam sekejap mata, Myungsoo kembali merengkuh tubuh Sooji dalam dekapannya.

……

Jaljayo…” Myungsoo menyelimuti tubuh keduanya dalam keheningan. Ia mencium lembut bahu wanita yang tertidur membelakanginya, Sooji tersenyum dalam tidurnya.

TBC

Setelah saya pikirkan dalam-dalam, saya posting part ini dengan revisi di beberapa bagian. Tinggalkan komen kalian ne, ghamsahamida ^^

61 responses to “Mi Pequeño Hijo, Yoona (5)

  1. ini salah satu ff yg q tunggu”
    si jiae itu smoga cepetan kembali kerumah.a sndiri jangan numpang lagi dirumah.a kluarga kim
    dan smoga jga perjodohan itu dibatalkan #amin
    apa yg dilakukan myungzy di jeju? Apapun itu smoga stelah kembali.a dari jeju hub myungzy semakin lengket dan q yakin pasti yunji bakaln seneng banget kalo liat samchon.a dan yimo kesayangan.a semakin dekat dan slalu bersama-sama

    next.a ditunggu banget author Fighting

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s