[Ficlet] Tard

tard

cr: Arcee @ HAD

Title: Tard

Author: Little Thief

Cast: Myungsoo and Sooji

Length: Ficlet

Genre: …..

Rating: G

Disclaimer: pernah dipost dengan tokoh berbeda di sini, dengan beberapa penyuntingan.

.

.

Tard (meaning late, in French.)

Ada satu kejadian di mana Myungsoo merasa putus asa menyembunyikan diri. Lelah mendustakan diri sendiri, lelah memaksakan. Ia harus melakukan sesuatu, atau semuanya bisa jadi sudah terlambat.

Maka, pagi itu, dalam perjalanan untuk mendaftar ke universitas, Myungsoo mengetikkan sesuatu di layar ponselnya. Di layar itu, tertulis dengan jelas untuk siapa pesan tersebut ditujukan.

Setelah lima menit memikirkan konsekuensi yang harus ditanggung, pesan itu terkirim sudah; Hai, Sooji. Aku Myungsoo. Kau sudah mengenalku, bukan? Senang berkenalan denganmu.

Myungsoo perlu menenangkan diri sebelum membaca ulang pesan yang barusan ia kirim. Takut ada kesalahan yang terselip di sana. Untungnya, tak ada. Kemudian Myungsoo baru saja menyimpulkan; oke, ini pesan pertamanya kepada Sooji.

Satu memori manis lewat dengan cepat di dalam pikirannya.

Bertahun yang lalu, saat baru memasuki sekolah menengah atas, Myungsoo sedang melalui perjalanan panjang yang melelahkan. Apalagi kalau bukan masa orientasi? Sudah menjadi budaya di sekolahnya saat itu, bahwa saat orientasi, kau harus mengambil nomor urutan tempat duduk. Myungsoo mendapat angka tujuh belas, di mana Sooji juga mendapat nomor yang sama dan jadilah mereka duduk bersebelahan.

Dugaan Myungsoo saat itu, Sooji adalah seorang gadis yang nyaris bisu. Ketika anak yang lain berusaha mengenali siapa teman sebangkunya, Sooji menatap hampa ke depan tanpa ekspresi. Suaranya bungkam. Dan Myungsoo tak mau repot-repot mengajaknya bicara kalau dia tak mau. Prinsipnya saat itu; kau bicara, maka aku juga akan bicara.

Kemudian ketika sesi perkenalan diri, baru kali itu Myungsoo mendengarnya bersuara. Dari sana Myungsoo tahu, nama aslinya adalah Bae Sooji. Nama yang indah. Lima hari masa orientasi mereka lewati. Dan mereka tak berinteraksi satupun. Sampai akhirnya, masa itu habis sudah dan mereka pun berpisah kelas.

Sialnya, Myungsoo menyesali prinsip hidupnya yang akhirnya membawa rugi pada dirinya sendiri. Dua minggu setelah mendapat kelas barunya, Myungsoo sudah terlalu sering memperhatikan Sooji sampai akhirnya ada rasa menggelora tiap kali melihat gadis itu berlalu di hadapannya.

Dua tahun. Waktu itu seolah tak cukup bagi Myungsoo untuk menjadi seorang pecinta rahasia Sooji. Dan tak ada nyali dalam dirinya. Dia begitu ciut. Kemudian ketika kelulusan, ketika semuanya begitu sempit dan terlambat—Myungsoo baru mengirimkan pesan pertamanya. Itu pun mendapat nomornya secara sembunyi-sembunyi. Myungsoo harus mencuri buku telepon milik salah seorang teman Sooji, saking tak beraninya.

Tiga menit kemudian pesan itu berbalas; Ya. Kim Myungsoo? Teman sebangkuku saat orientasi?

Akhirnya! Dia ingat juga. Myungsoo tersenyum melihat pesan tersebut. Jantungnya terpacu, uratnya langsung menegang. Ia kembali membalasnya; Senang kau masih mengingatku. Kalau boleh tahu, kau akan mendaftar ke universitas mana?

Tak perlu waktu satu menit untuk mendapat kembali balasannya. Membuat Myungsoo senang setengah mati.

Fakultas seni rupa dan desain di Konkuk. Kau sendiri?

Myungsoo membulatkan matanya dan membalas; Serius?

Balasan lagi dari Sooji; Ya. Bagaimana denganmu?

***

Ternyata, ungkapan “tak ada yang terlambat” memang benar untuk Myungsoo. Benar, tak ada yang terlambat. Rupanya, Myungsoo masih punya banyak waktu. Mungkin dia tak melakukan aksi apa-apa saat berada di sekolah, tapi kini dia siap.

Rupanya, beberapa minggu lalu dia dan Sooji mendaftar di fakultas yang sama dan di universitas yang sama juga. Myungsoo sudah mengikuti tesnya. Jantungnya meloncat ketika tahu Myungsoo berada di satu ruang tes dengannya.

Akhirnya, setelah tes usai, Myungsoo memberanikan menyapa gadis tersebut dengan sapaan “hai”. Walaupun setelah itu langsung melesat pergi setelah dibalas. Sooji tak tahu, sih, sepulang ke rumahnya, Myungsoo sudah meloncat senang.

Dan tiga hari lalu, dia sudah mendapat hasil tesnya. Lulus, dan diterima. Sempurna. Myungsoo dapat nilai A. Begitupun Sooji yang letak namanya tak begitu jauh dari Myungsoo di tabel. Sooji dan Myungsoo, akan masuk satu fakultas yang sama. Satu ruang kelas yang sama.

Myungsoo tahu esok adalah waktunya untuk menjadi mahasiswa baru, jadi dia sudah mempersiapkan segalanya. Termasuk mental untuk orientasi. Semenjak mengetahui akan jadi teman satu fakultas, Myungsoo dan Sooji jadi sering bertukar pesan. Akhirnya, sebelum tidur, Myungsoo mengirim pesan singkatnya.

Esok adalah hari orientasi kita. Semangat, Soo. Sampai bertemu besok.

Myungsoo sudah membungkus tubuhnya dengan selimut, siap tidur dengan mimpi indah, ketika Sooji membalas pesannya dengan cepat.

Aku tak jadi kuliah di Konkuk.

Ekspresi Myungsoo langsung campur aduk melihatnya. Sebelum ia bisa membalas, Sooji sudah mengirim pesan yang baru lagi.

Saat menunggu hasil tes, salah satu universitas di Finlandia menawariku untuk kuliah di jurusan yang sama. Ayahku menyetujui dan menyuruhku belajar di sana. Aku akan berangkat dalam dua hari ke depan.

Ekspresi Myungsoo langsung berubah. Jantungnya seperti diledakkan. Ada amarah yang ingin ia lampiaskan, tapi Myungsoo tak tahu bagaimana harus menyampaikannya. Myungsoo mengetikkan kata-kata dengan jari yang kaku, namun ia kalah cepat dengan pesan Sooji yang kembali muncul.

Maafkan aku, Myung. Semoga sukses. Jaga dirimu baik-baik. Senang bisa berkenalan denganmu.

Dan kebalikan dengan apa yang ia rasakan, Myungsoo mengirim pesan tersebut; Wah, selamat kalau begitu. Sukses juga buatmu. Jaga diri baik-baik. Aku ikut senang.

Seolah ini adalah malam yang terburuknya. Ia menarik pernyataan bahwa ia tak terlambat. Ia terlempar oleh fakta bahwa sesungguhnya semua kesenangan tentang Sooji    yang akan satu kuliah dengannya    adalah palsu.

Dengan perasaan marah, sedih dan penyesalan yang bercampur, Myungsoo mengirim satu pesan terakhirnya.

Aku belum terlambat untuk mengenalimu, bukan?

Setelahnya, Myungsoo tak peduli. Dia tak mau melihat balasannya lagi.

-fin-

Yep, akhirnya, setelah rehat…mulai nulis lagi di KSF, yey!

Kritik dan sarannya selalu kutunggu.

71 responses to “[Ficlet] Tard

  1. Uuuu..😭kasian myung udah seneng2 bakalan ketemu sooji terus.. ehh taunya sooji mau pindah ke LN..hmm tapi kira kira sooji balas apa ya pesan terakhir dari myungsoo??

  2. Kasihan myung… baru ngerasain terbang melayang.. ehh udah jatuh lagi aja. Heh simple tapi bikin greget banget

  3. Pingback: [Vignette] Recall | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

  4. Kasihan myung udh dibela2 in sampe mau masuk di fakultas yg sm..ternyata suzy malah ga jd kuliah disitu ..penasaran gmn perasaan suzy… Soalnya liat sikap suzy tiap bls pesan myung baik bgt…izin baca next nya… Fightinh

  5. Eyy kasian amat sih myungie, baru juga pedekate setelah bertahun2 main kucing2-an, mana belum sukses pula eh suzynya malah pergi. , udah myungpa sama aku aja oke:-*

  6. ini udah lama banget yaaaa… ngga nyadar ada ff ini… malah kebaca yang recall dulu.. langsung buka ff ini wkwk
    sooji pergi.. myungsoo sedih

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s