[Oneshot] Roommate

tumblr_static_tumblr_static_l5zwdwr612oscs0s8kkksgs0_640

Title: Roommate (The Fog Bonus Chapter)

Cast: Mark dan Myungsoo

Author: Little Thief

genre: friendship

length: oneshot

Rating: general

Disclaimer: FF ini adalah bonus chapter dari FF The Fog milikku yang sudah completed ^^ bisa dibaca chapter-chapternya kalau berminat. Tersedia di page ffiction list chaptered. Terimakasih🙂

Myungsoo melangkah pelan ke arah kamar asrama yang sudah ditentukan pihak sekolah. Ia menatap sejenak sebuah kunci di tangannya, kemudian menatap plakat nomor kamar yang tertempel di pintu tersebut.

Dengan helaan napas, ia memasukkan kunci itu ke lubangnya, dan memutarnya. Klik. Pintunya lantas terbuka. Ia melongokkan kepalanya takut-takut. Kamarnya gelap gulita.

“Perlu kubenahi,” gumam Myungsoo. Ia mencabut kunci tersebut dan menyalakan sebuah sakelar tak jauh dari pintu. Lantas, cahaya putih dari lampu langsung menerangi seluruh isi kamar tempat tidurnya.

Cukup luas. Kesan pertamanya, kamar asrama ini persis dengan hotel yang dia kunjungi saat pertama kali mendarat di Amerika beberapa hari lalu. Dan setelah matanya menyapu isi ruangan, dia merasa tak perlu ada yang dibenahi.

Ada dua kasur yang berukuran cukup besar terletak di tengah kamar. Tampak nyaman dengan seprai putih lembut dan selimut berwarna hijau. Juga dua pasang bantal, dan satu buah guling.

Di depan tempat tidurnya, ada dua meja belajar. Satu meja di depan satu tempat tidur. Meja itu masih kosong, tampaknya menunggu dipenuhi oleh buku-buku milik Myungsoo. Ada banyak lacinya. Ada juga kursi putar yang empuk untuk duduk.

Ada banyak nakas di tempat ini. Tergeletak di sudut kanan kamar, juga di sudut kiri. Dan terletak lagi di tengah-tengah dua kasur tersebut. Ada satu buah AC yang tertempel di sudut kamar.

Dan tak jauh dari tempat di mana Myungsoo berdiri, ada satu pintu kecil yang tak perlu diragukan lagi adalah kamar mandi. Melihat warna kayu pintu tersebut, Myungsoo tersadar akan sesuatu.

Mandi. Dia butuh mandi.

Alasan inilah yang membuat Myungsoo meninggalkan ruang makan. Hari ini adalah hari perayaan untuk para murid baru asrama Mushten. Mereka, bersama jejeran senior, makan malam bersama. Tapi Myungsoo langsung kabur ke bagian gedung asrama setelah meminta kunci pada petugas sekolah yang mengurusi kamar-kamar murid dan memberi kunci hari ini.

Myungsoo meletakkan koper hitamnya di sebelah tempat tidur, mengambil baju tidur. Ia kemudian menanggalkan pakaiannya dan masuk ke kamar mandi. Ah, segalanya jadi terasa lebih baik. Pancuran air dingin seperti meleburkan rasa lelah luar biasa di dalam dirinya.

Anak ini baru saja berulangtahun yang kelimabelas beberapa bulan lalu. Baru juga menyelesaikan pendidikan sekolah menengah pertamanya di tempat asalnya, Korea Selatan. Alasan kenapa Myungsoo bisa terdampar di sini adalah karena otaknya yang cerdas.

Ia masih ingat ketika setelah usai ujian akhir, ia berkata pada teman satu kelasnya, Sungyeol, bahwa ia ingin melanjutkan pendidikan di Amerika. Bahasa Inggris Myungsoo bisa dibilang paling bagus dari seluruh sekolahnya, karena Ibunya dulu pernah tinggal di negeri orang, dan juga seorang polygot. Ia dididik dengan kemampuan bahasa yang bagus.

Namun Sungyeol malah menertawakan dan berkata ia terlalu bermimpi tinggi. Kata-kata itu justru membuat Myungsoo semakin semangat menawari beberapa sekolah di Amerika untuk belajar di sana. Sungyeol terpaksa menelan ludahnya sendiri ketika dua minggu kemudian, Myungsoo akhirnya diundang oleh Mushten, asrama berkualitas di negara bagian Oklahoma, sebagai calon siswa baru. Maka sampailah Myungsoo sekarang, berada di gedung asramanya.

Ketika ia menikmati air dingin yang mengalir ke seluruh tubuhnya, ia mendengar sebuah suara dari pintu kamarnya. Myungsoo langsung bergidik. Karena rasa penasaran, ia membuka pintu dan melongokkan kepalanya dari balik pintu.

Rupanya yang datang seorang pemuda berambut hitam. Rambutnya begitu terlihat kasar dan seperti orang tersetrum. Ketika kepalanya muncul dari pintu, orang itu menoleh ke arahnya.

“Oh, hai.” sapanya, ketika tahu ada sosok kepala aneh yang muncul dari balik pintu. “Kau sudah menempatinya duluan?”

“Ya. Aku meninggalkan ruang makan duluan,” balas Myungsoo. “Kau mau pakai kamar mandi?”

“Ya, lebih cepat lebih baik,” gumamnya. “Badanku gatal-gatal karena penerbangan belasan jam.”

Myungsoo mengangguk singkat dan mempercepat durasi mandinya. Ia keluar dengan handuk dililitkan ke pinggang. Melihat ia sudah keluar dari kamar mandi, si orang yang sepertinya bakal jadi teman sekamarnya, langsung masuk ke kamar mandi.

Ketika Myungsoo mengamati wajahnya, ia terlihat satu rumpun Asia seperti dirinya. Itu terlihat sangat jelas. Myungsoo hendak menanyakan namanya ketika ia melihat koper warna biru tua milik anak itu tergeletak di sebelah tempat tidur yang lain. Ada label besar tertempel di situ, bertuliskan: “Mark Tuan.”

“Oh, Mark,”  Myungsoo menyeringai  “Nama yang bagus.”

Ketika Mark sudah selesai mandi, petugas sekolah mengirimkan kardus berisi paket-paket buku yang akan mereka dapat untuk pelajaran semester ini. Selagi meletakkan buku ke meja belajar masing-masing, Mark melirik ke arah teman sekamarnya.

“Kau dari Asia?” tanyanya, dalam bahasa Inggris. “Aku tak begitu asing dengan wajahmu.”

“Ya, aku dari Korea. Kau?”

“Taiwan.” Jawab Mark, kali ini senyum lebar tersungging di bibirnya. “Ngomong-ngomong, siapa namamu?”

“Kim Myungsoo,” sahut Myungsoo. “Kulihat dari koper, namamu Mark Tuan, betul?”

“Wah, kau sudah tahu rupanya,” kata Mark. “Jadi, salam kenal ya. Aku teman sekamarmu.”

“Jadi, bagaimana masakan para koki sekolah tadi? Aku malas mencicipi makanan karena aku hanya ingin cepat-cepat istirahat.”

“Yah, hambar. Kau tahu, makanan Amerika,” kata Mark. Keningnya berkerut—“Tak ada bumbu rempah yang spesial. Kau tahu, lidahku suka makanan yang penuh rasa. Jadi aku cuma bisa makan sup tadi. Itupun kutambah lada super-banyak. Hanya lebih enak sedikit sekali.”

Myungsoo tertawa. “Itu namanya culture shock. Kau belum terbiasa saja.”

“Karena aku baru mendarat di sini kemarin. Kau?”

“Aku mendarat dua hari lalu dan menginap di hotel sehari, lalu berangkat ke sini tadi pagi.. Jadi juga belum terbiasa. Yah, kita lihat saja kehidupan ke depan yang akan menanti kita, Mark.”

Mark hanya mengangguk sambil tersenyum seraya merapikan deretan pensil dan pulpennya yang banyak. Myungsoo sudah selesai menata meja belajar. Jadi ia membuka koper miliknya, mengambil salah satu bungkus plastik berisi roti dan melemparnya ke arah Mark.

Penuh reaksi, Mark menangkap sepotong roti bertabur wijen tersebut. Ia menatap Myungsoo penuh tanda tanya.

“Itu roti yang kubawakan dari Korea. Ibuku bilang, aku harus memberikannya pada teman sekamarku. Aku sendiri yang membuatnya.”

Mark menatap Myungsoo ragu-ragu.

“Sudah kuhangatkan semalam di oven hotel,” tambah Myungsoo. Mark tersenyum simpul dan mulai menggigit sepotong. Rasa cokelat dan susu langsung terasa begitu penuh di mulutnya.

“Luar biasa,” komentar Mark. “Kau membuatnya sendiri?”

Myungsoo mengangguk.

“Mana percaya aku. Anak laki seperti kau masuk ke dapur dan membuat roti ini?” ledek Mark.

“Ya, kadang hal itulah yang membuat mereka tak percaya padaku. Tapi aku bersumpah aku membuatnya sendiri. Kau suka?”

“Sangat.” Mulut Mark kini sudah penuh dengan remah roti. “Jadi, biar kutebak, kau masuk Mushten karena jalur undangan, bukan? Sama sepertiku. Apa jurusanmu? Semacam ilmu-ilmu memasak? Kurasa tak ada di sini.”

Myungsoo terkekeh sambil menggeleng. “Fotografi.”

“Ya?”Mark mengerutkan alisnya sampai ke atas—“Astaga, fotografi. Kau itu harusnya jadi koki!”

-end-

Author Note:

Walaupun sudah complete, entah kenapa rasanya kangen sama FF The Fog ini. Jadi, aku membuat bonus chapter, yaitu ketika awal pertemuan myung dan mark. Jadi otomatis tokoh Suzy gak ada di sini, maaf ya😀 namanya juga FF dadakan. Endingnya aja kayak gitu😀

Kritik dan sarannya ditunggu😀

12 responses to “[Oneshot] Roommate

    • Hai, kak sondankh (gak tau manggilnya apa ._.)! Seneng deh kalo liat kak sondankh komen di ceritaku hehehehe😄😄 salam kenal ya. Iya nih, aku aja kangen sendiri jadinya hahaha. Makasih ya sudah menyempatkan waktu buat membaca! ^^

    • hai! Notes mana yang lucu? Author notenya? Plak😄
      btw, terimakasih sudah menyempatkan waktu utk membaca, yah! ^^

  1. Persahabatan yg manis🙂
    Namja itu simple, jd mereka lebih cepat akrab walau baru pertama bertemu. Ini udah sangat bagus untuk ukuran dadakan, feelnya dapet, jd sedih lagi saat inget dengan akhir persahabatan mereka🙂
    Ditunggu karya2 yg lain, gomawo author🙂

    • Hai, Tika!
      Iya, cowok itu emang simple. Meski baru pertama ketemu, asal bisa ngomong mah, akrab-akrab aja.
      Makasih ya, sudah menyempatkan waktu untuk membaca ^^😀

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s