[PROLOG] JUST ONCE

tumblr_lscltpyCp81qf6la4o1_500.png

Title     : Just Once

Genre  : AU, Romance, Marriage Life, Sad

Main Cast: Kim Myungsoo as Infinite L, Bae Suzy

Other Cast : Find by your self

Rating : PG

Length : Multichapter

Auhtor : Nidhyun (@nidariahs)

***

 

Suzy tidak pintar. Suzy juga tidak memiliki prestasi yang sebegitu menjulang, seperti laki-laki yang berjarak kini tengah duduk dan mendengarkan penjelasan Suzy dengan raut tidak senang. Jujur saja, Suzy cukup merasa tersinggung dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh Myungsoo saat ini. Mereka sudah saling mengenal sejak lama, lama sekali. Bahkan Suzy tidak lagi menghitung berapa lama waktu telah membawa nama laki-laki itu ke dalam hidupnya.

“Aku tidak menyangka kau akan mengambil Jurusan Bahasa Jepang,” kata Myungsoo sedikit melenceng dari obrolan mereka sebelumnya.

Suzy hanya terkekeh kecil, menyembunyikan rasa kecewanya. Ia tahu seberapa besarrasa cintanya pada Myungsoo yang tidak pernah berubah semenjak pertama ia merasakannya pada Myungsoo. Ada banyak cerita, tentang perkenalan mereka yang tidak lazim, tentang persahabatan mereka yang selalu diwarnai oleh senyum dan air mata, tentunya janji-janji semu yang hancur karena perasaan Suzy…

Oh, itu sudah lama sekali. Bahkan Suzy sudah berjanji untuk tidak menyangkut pautkan masalah itu ke dalam bisnisnya hari ini, bisnis yang akan dilakukannya dengan Kim Myung Soo saat ini.

“Jangan berpikir bahwa aku mengejarmu karena tahu kau akan pergi ke Tohoku University,” Suzy pun menjawab dengan nada sedikit datar, “Aku dan usia 17 tahunku mungkin akan berpikir seperti itu,” Suzy memutar bola matanya dan menjatuhkannya tepat di retina mata Myungsoo, “Tapi sekarang usiaku sudah menginjak 21 tahun. Bahkan, Desember nanti aku sudah berusia 22 tahun. Aku tidak senaif itu lagi.”

Myungsoo mengangguk dengan tarikan senyum tak berarti, “Jadi, kenapa kau tiba-tiba menawariku bisnis semacam ini?” Tanya Myungsoo akhirnya. Akhirnya Suzy bisa mulai membahas masalah bisnis mereka, dan bukannya masa lalu mereka. Masa lalu yang hanya berkesan bagi Suzy, dan bukannya Myungsoo.

Suzy melipat tangannya di atas meja, membiarkan music halus berbahasa jepang menyentuh gendang telinganya lembut. Selembut sentuhan rasa kopi yang dipesannya, juga sentuhan angin musim gugur yang telah dinantikan Suzy sejak jauh-jauh hari sejak perencanaannya ke Jepang.

“Tidak ada. Aku hanya tertarik dengan semua perjalananmu. Bagaimana kau memulai mimpimu sejak sekolah menengah pertama, lalu tiba-tiba kau harus menghentikan mimpimu sebagai dokter saat dokter memvonismu mengalami buta warna parsial. Lalu kau masuk sekolah ternama di Taipei, dan semua mimpimu mulai tertaea kembali di sana. Kau terkenal, semua orang mengagumimu, dank au berhasil menembus Tohoku. Itu semua menarik di mataku,” jelas Suzy dengan jujur. Mungkin kedengarannya sedikit tidak masuk akal, terlebih Suzy mengetahui perjalanan hidup seorang Kim Myung Soo, setidaknya sampai perpisahan tanpa kata yang dilakukan oleh mereka berdua.

Tapi ini berbeda. Suzy sudah merencanakan tentang penulisan buku ini. Dan karena sekarang ia sudah berhasil dengan perusahaan penerbitan sekaligus percetakan buku yang didirikannya –tentunya ia juga telah menjual banyak tulisannya—ia rasa ini adalah waktu yang tepat untuk memulai impiannya.

“Ini bukan tentang biografi biasa. Semuanya akan disusun berbentuk novel. Itu rencanaku. Aku akan mernjelaskannya padamu secara detil jika kau sudah sepakat. Kau bisa menceritakan atau bahkan menuliskannya, tentang perjalanan hidupmu, mimpimu, persahabatan, percintaan, atau hal-hal berkesan lainnya. Aku akan menyusunnya dengan baik,” Suzy kembali meyakinkan Myungsoo yang mulai terlihat menimbang-nimbang keputusan yang akan diambilnya.

“Kau tahu banyak tentangku, kenapa tidak langsung kau tulis saja?”

Suzy tersenyum kecut, “Kau pernah bilang, aku tidak tahu apa-apa tentangmu. Dan…kau benar. Saat ini kita bertemu bukan sebagai teman lama ataupun teman satu sekolah, aku benar-benar menemuimu karena sekarang kau sudah bekerja di bidang pendidikan. Aku datang sebagai tamu, sebagai penggemarmu dan seseorang yang tengah menawarimu sebuah bisnis, Tuan Kim.”

Myungsoo mengangguk pelan. Ia pun menarik gelas kopinya dan menatap Suzy beberpa saat. Ini sudah lama sekali sejak pertemuan terakhirnya dengan Suzy. Juga pertengkaran terakhirnya. Myungsoo mendesah pelan dan kembali meletakkan gelasnya setelah menyesap isinya. Ia tidak tahu kenapa ia merasa perlu menjauhi Suzy dulu. Myungsoo tahu Suzy sudah menyukainya sejak lama –sejak SMP. Tapi di akhir jenjang sekolah menengah atasnya, Myungsoo rasa semua perasaan Suzy salah. Myungsoo merasa kehilangan Suzy sahabatnya. Gadis itu tiba-tia penuh obsesi, penuh posesif dan…entahlah, Myungsoo tidak terlalu nyamand engans emua itu.

Myungsoo menjauhi Suzy. Itu benar, Myungsoo takkan menyangkalnya. Dan Myungsoo juga dengan sengaja menutuo mata dari rasa sakit yang dialami gadis itu setelah pertengkaran hebat mereka, tentang persahabatan, dan cinta yang dimiliki Suzy.

Tapi hari ini, entah kenapa ia tidak suka dengan cara bicara Suzy yang seolah memojokkannya. Benar, mereka memang bertemu saat ini bukan sebagai teman, tapi setidaknya Suzy bisa melihat Myungsoo dengan kaca mata teman, bukannya sebagai relasi kerja yang benar-benar belum saling mengenal.

Myungsoo tidak nyaman. Terus terang. Ia harap, ia bisa sedikit lebih cair dengan suasana aneh saat itu, tapi Suzy sudah berubah. Dia bukan lagi gadis culun yang berpenampilan asal-asalan. Dia wanita sekarang. Meskipun tetap berpenampilan santai –gadis itu tetap menyukai hal simpel—tapi Suzy terlihat lebih…apa ya? Yang pasti, itu tidak biasa. Dia juga lebih menarik, mulai dari cara bicaranya, cara menatapnya. Dulu, Myungsoo hanya bisa mendapati tatapan itus aat Suzy tengah mendebat sesuatu –gadis itu suka mendebat, dan juga saat Suzy menceritakan sebuah filosofi ataupun tengah mengomentari sebuah filosofi, ataupun politik. Ah, gadis itu benar-benar membuatnya harus mengabsen kenangan masa lalunya.

“Jika aku menolak?”

Suzy mengedikkan bahunya, “Itu terserah padamu. Aku tidak memaksa.”

Myungsoo pun memajukan tubuhnya sedikit, “Apa kau menjamin buku ini akan laris?”

Suzy mendesah pelan, “Tidak ada jaminan seperti itu. Aku tidak terlalu suka menjamin sesuatu. Terkadang, aku merasa puas dengan tulisanku, atau beberapa tulisan dari novelis yang tertarik untuk menerbitkan bukunya di tempatku. Tapi pembaca justru kadang tidak memiliki sudut pandang yang sama denganku. Jadi itu tergantung nanti. Yang bisa kujamin saat ini, aku akan mempromosikannya dengan sebaik mungkin. Membuat pembaca tertarik.”

Myungsoo mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke atas meja, “Berapa yang akan kudapat dari penjualan buku itu?”

“10%,” jawab Suzy tegas, “Aku anggap kau sebagai penulisnya. Jadi aku akan memberimu 10%.”

Myungsoo pun memutar kepalanya ke arah kaca besar di sampingnya, kaca tembus pandang yang memperlihatkan aktivitas orang-orang yang sebagian besar mulai memakai baju hangat –atau mungkin semua memang sudah menggunakan baju hangat. Dan yang benar-benar menarik perhatian Myungsoo, adalah pohon-pohon yang mulai menjatuhkan dedaunannya ke atanah. Sebuah pemandangan tercantik setelah bunga yang bermekaran di musim semi nanti.

“Jika kau tidak…”

“Aku terima,” Myungsoo pun menyela ucapan Suzy tanpa menatap gadis itu, “Sepakat. 10% dari setiap buku yang terjual,”

Suzy hanya membalas ucapan Myungsoo dengan sebuah senyuman.

 

***

 

Suzy kira, pertemuannya dengan Myungsoo 6 bulan lalu akan menjadi pertemuannya yang terakhir. Karena setelah pertemuannya itu, Suzy langsung kembali ke Korea, ke kota kelahirannya, Daegu. Dan, semua urusan bisnisnya dengan Myungsoo telah ia serahkan pada orang kepercayaannya. Semuanya. Ia tidak ingin lagi ada alasan untuk melihat Myungsoo.

Semuanya lancer. Buku yang bertemakan biografi Myungsoo yang ditulisnyapun akan dirilis lagi yang kedua kalinya bulan depan. Dan tentu saja, Suzy harus menahan patah hatinya saat membaca kisah cinta Myungsoo yang tak terendus Suzy. Suzy harus mendengus geli saat membaca tulisan itu –Myungsoo sempat menulisnya dulu sebelum menyerahkannya pada Suzy, semua itu membuat Suzy yakin bahwa selama ini ia hanya benalu bagi hidup Myungsoo.

Tapi semua prediksinya salah. Dan tanyakan saja pada ayah Suzy yang tiba-tiba mengajak Suzy pergi ke Seoul. Bertemu teman katanya. Entah teman yang mana, saat itu (tepatnya seminggu lalu) Suzy sama sekali tidak penasaran dengan teman yang akan ditemui ayahnya. Tapi ternyata, teman yang diaksud ayah Suzy adalah ayah dari Kim Myung Soo. Dan…itu buruk.

“Bagaimana bisa ayahku mengenal ayahmu? Bahkan profesi mereka berbeda, mereka juga tidak pernah satu sekolah, lalu kenapa tiba-tiba…” Myungsoo menghentikan ucapannya dan justru menggaruk kepalanya frustasi. Ini benar-benar hamper membuat Myungsoo gila.

Suzy merasa sangat tidak nyaman dengan kondisi sekarang. Ia juga sama frustasinya, tapi Suzy hanya bisa beridiri di depan pintu masuk apartemen Myungsoo sambil memandangil kakinya yang sama sekali tidak menarik.

“Kau tidak merencanakan ini semua, kan? Kau tidak mencari ayahku dan berusaha membuat kita dijodohkan seperti sekarang, kan?” Myungsoo tiba-tiba bersuara.

Dengan gerakan cepat, Suzy mengangkat kepalanya dan menusuk mata Myungsoo dengan tatapan dinginnya. Apa dia bilang? Suzy yang merencanakan ini semua? Perjodohan mereka? Myungsoo kira siapa dirinya sampai Suzy harus melakukan hal tidak berguna semacam ini? Myungsoo kira Suzy perempuan macam apa yang harus mengejar cinta Myungsoo sampai harus berbuat hal konyol seperti itu?

Jika Suzy mau, Suzy bisa melakukannya sejak dulu Suzy memang gadis nekat,tapi Suzy tahu batasan nekat yang dimilikinya. Terlebih saat ini Suzy bukan lagi remaja yang udah termakan perasaan, Suzy memang mencintai Myungsoo, tapi sekarang Suzy lebih tertarik untuk mengurusi bisnisnya, semua tulisannya, juga meneruskan rencananya untuk kuliah di Shanghai Jiao Tong University.

“Kau tahu? Ini tidak masuk akal. Dan anehnya kau…”

Suzy langsung melangkahkan kakinya untuk mendekat ke arah Myungsoo, dan tanpa rasa segan Suzy langsung melayangkan telapak tangannya ke pipi Myungsoo. Suzy tahu Suzy bukan gadis yang memiliki tabiat baik, ia hanya gadis biasa yang juga punnya banyaks ekali kekurangan dan sangat sering melakukan kesalahan. Ia tidak sempurna, terlebih jika dibandingkan dengan Myungsoo yang kini tengah meneruskan S2-nya di bidang Kimia, Myungsoo yang dulunya menjadi idola sekolah karena terus-terusan mengikuti olimpiade Kimia. Suzy sama sekali bukan gadis seperti itu. Ia hanya penulis biasa.

Suzy tidak mengatakan apapun dan justru langsung mengambil ponselnya di dalam saku celananya dan menyentuh layar ponselnya, menghubungkannya pada seseorang, “Yoo Minah? Ini aku Suzy. Aku ingin rencana percetakan kedua buku Falling Star dibatalkan…tidak, Yoo. Aku ingin semuanya dibatalkan. Semua yang berhubungan dengan buku itu.”

Myungsoo mengerjapkan matanya beberapa kali. Apa barusan? Suzy menyebutkan uku berjudul Falling Star? Myungsoo bahkan tidak sadar napasnya sempat tersendat dengan nada dingin Suzy saat bicara pada seseorang bernama Yoo Minah tersebut. Falling Star adalah buku tentangnya.

“Kau bercanda?” desis Myungsoo tak habis piker. Suzy mengambil keputusan seolah hal itu adalah hal tersepele, “Kau telah melakukan kesepakatan denganku dan…”

“Kau brengsek Jong,” Suzy mati-matian menahan desakan air matanya, “Sejak dulu, sejak kau menjadi murid terfavorit di Seoul, kau benar-benar menjadi seorang yang brengsek. Dan aku tidak perlu repot-repot mengatakannya, kan?”

“Suzy…”

“Aku mencintaimu? Ya. Aku akan menjawabnya dengan tegas, Jong. Tapi aku tidak suka cara bicaramu tadi. Kau bukan apa-apa. Aku bisa melupakanmu, aku bisa hidup tanpamu, aku baik-baik saja. Kau harus tahu itu,” Suzy pun berbalik hendak meninggalkan Myungsoo, “Aku hanya menghormati keputusan ayahku. Jika kau ingin membatalkan pernikahan kita bulan depan, lakukan saja. Aku akan mencari hotel menginap malam ini. Aku akan kembali ke Seoul besok.”

 

***

 

20150520

54 responses to “[PROLOG] JUST ONCE

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s