A WHITE PAPER CHAPTER 06 [I AM NOT ME…]

untitled-127 (1)

Take with credit ravenclaw @ poster designer (THANK YOU SO MUCH^^)

CH.01 II CH.02 II CH.03 II CH.04 II CH.05 II SINOPSIS

****

06

“I AM NOT ME…”

******

A White Paper II Bae Suji; Lee Jongsuk; Kim Soohyun; Kim Myungsoo; Lee Jieun; Jung Soojung; Song Jaerim; Kim Soeun II kyunita11 II genre: melodrama, romance, angst II length : chaptered

******

listen to this song~

*******

Suji membaca dengan cermat dokumen dihadapannya yang berisi surat izin untuk memulai syuting di panti asuhan Haneuli yang berada di gunung Taebaek. Wajah Suji diliputi keheranan saat menatap sang produser film Lee Jongsuk dan sang sutradara Ahn Jaehyun yang kini duduk didepannya, “jadi? Semua kru dan pemain akan pergi ke panti asuhan Haneuli di gunung taebaek lusa, Jongsuk oppa? Mendadak sekali kalian memberikan surat izin ini??!” tanya Suji dengan nada agak tinggi.

Jongsuk tahu Suji pasti akan marah karena pemberitahuan mendadak seperti ini. Ia pun berusaha tersenyum untuk menenangkan bosnya, “mianhae, Sujiya. Seperti yang sudah Jaehyun jelaskan tadi, kami harus segera merampungkan rencana syuting promotional video untuk drama Sky of Heaven dua hari lagi. Kamu tahu sendiri kan, Sujiya, pihak produksi dari ABTV terus mendesak kita untuk segera memulai syuting drama ini. Mereka memajukan slot penayangan Sky of Heaven di awal musim semi karena banyaknya penonton yang sudah penasaran dengan drama ini…”

Ahn Jaehyun pun menambahkan, “nama besar Kim Soohyun dan Lee Jieun benar- benar menarik perhatian banyak pengiklan. Aku sampai pusing menyelipkan satu persatu produk iklan ke dalam setiap scene. Mereka juga banyak menuntut agar kita segera menyelesaikan syuting sebelum akhir bulan ini…” Jaehyun memohon kepada Suji sambil menundukkan kepalanya meminta belas kasihan agar mendapatkan izin agar bisa segera berangkat syuting, “Jadi kumohon nona Suji, tanda tangani surat izin itu,jeballl!!”

“hmm…arraso…!” jawab Suji sambil menandatangi surat izin, “ini terakhir kalinya aku mau dipaksa oleh pihak ABTV! Kalau aku dengar lagi hal mendadak begini, akan kupastikan drama ini tidak akan tayang di ABTV! Aku akan melelang lagi hak siarnya ke stasiun tv lain! Paham??!”

“nee… kami mengerti!” jawab Jongsuk dan Jaehyun bersamaan.

******

Lee Jieun memperhatikan Kim Soohyun yang dengan giat berlatih angkat beban. Sambil lari di atas treadmill, mata Jieun tidak bisa lepas sedetikpun dari otot-otot lengan Soohyun yang tampak kekar. Mengenakan kaos tanpa lengan, Soohyun menjadi eye-candy di mata Jieun yang berbinar senang.

“aku harus sering-sering nge-gym disini mulai sekarang!” batin Jieun. Ia senyum-senyum sendiri melihat Soohyun yang serius berlatih angkat beban dihadapannya.

Fokus mata Jieun beralih kearah lengan kanan atas Soohyun yang memiliki tanda lahir berbentuk bulat sempurna. Ia mengernyitkan dahinya dan membatin, “tanda lahir itu, oh?! Dimana aku pernah melihatnya ya??”

******

awhitepaper19

Setelah Jaehyun pergi sambil membawa surat izin untuk syuting, Jongsuk dan Suji masih duduk saling berhadapan.

“Sujiya…” panggil Jongsuk dengan lembut sambil menggenggam tangan kekasihnya.

“nee, oppa?”

“kalau kamu ada waktu, kita bisa pergi ke gunung taebaek bersama” ajak Jongsuk, “tiga hari lagi kan peringatan tiga belas tahun meninggalnya ibuku…”

“benarkah? Maaf Jongsuk oppa, aku benar-benar lupa kalau sebentar lagi hari peringatan ibumu, oppa”

“tak masalah. Toh sekarang kamu sudah ingat… jadi, kita berangkat ke gunung taebaek tiga hari lagi?”

Suji berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk.

“aku pergi rapat dulu ya dengan pihak ABTV ya?”

“oh, baiklah. hati-hati ya oppa…” ujar Suji sambil tersenyum.

******

Jieun sudah berada didalam mobil van-nya untuk berangkat ke studio pemotretan majalah. Setelah berolahraga bersama Soohyun tadi, atau lebih tepatnya menguntit Soohyun berolahraga, Jieun benar-benar kelelahan. Matanya sangat berat dan akhirnya ia pun tertidur. Didalam mimpinya, Jieun mengingat memorinya saat dirinya masih berusia sembilan tahun.

Lee Jieun kecil yang saat itu masih duduk dikelas empat sekolah dasar mendapatkan tugas kelompok untuk berperan sebagai Cinderella dalam drama seni sekolah. Sambil membawa buku skrip dramanya, Jieun berjalan menuju pinggir danau yang ada di samping panti asuhan Haneuli tempat ibunya bekerja. Ia selalu menghabiskan waktunya untuk berlatih drama sendiri sepulang sekolah di tepi danau yang sepi. Hingga satu hari, seorang pemuda yang tiga tahun lebih tua darinya menghampirinya yang sedang duduk di tepi danau sendiri. Pemuda itu selalu memakai kaus tanpa lengan yang memperlihatkan tanda lahir berbentuk bulat sempurna di lengan kanannya serta celana cargo warna coklat. Alisnya sangat tebal dan lesung pipitnya akan muncul saat dirinya tersenyum. Jieun sangat mengenal pemuda itu.

“oh! Tae oppa!! Anyeoong!!” sapa Jieun sambil melambaikan tangannya.

“Jieun-ah! Ngapain kamu disini sendirian? Mana Jongsuk?”

“ini nih Tae oppa, aku lagi ngafalin dialog drama Cinderella untuk drama seni sekolah bulan depan. Jongsuk oppa males banget ! dia gak mau mbantuin aku! Alasannya main basket lah, sepak bola lah!” Jieun benar-benar kesal mengingat kakak lelakinya yang tak perhatian.

“ahh… kakakmu sibuk ya?”

“oppa ngapain kemari? Mau mancing?”

“nee… tapi aku lupa bawa umpan. Maunya nggali tanah buat nyari cacing sih…”

“ahhh…”

“ohya, Mau aku yang nemenin kamu latihan drama?”

“Tae oppa mau nemenin aku? Beneran? Terus nyari cacingnya?”

“beneran Jieunah! Nyari cacingnya bisa kapan-kapan…”

“aayyee! Kalau gitu Tae oppa jadi prince charming, aku jadi Cinderella! Trus kita latihan dansa bareng!”

“da..dansaa?”

“iya, wae?”

“aku… gak…hmm… ituu”

“waeee? Oppa gak mau mbantuin aku latihan drama yaa?”

“ann…aniya… aku mau kok…”

“sip!! Kalau gitu ayo kita mulai, Tae oppa! Berdiri!!!”

Tangan kanan Jieun menggenggam tangan kiri Tae dan tangan kirinya menyentuh bahu kanan Tae.

“maju satu langkah… mundur satu langkah… maju satu langkah lagi…” Jieun memberi arahan kepada Tae untuk mengikuti gerakan dansanya.

Tae yang sama sekali tak paham dengan aturan dansa berkali kali melakukan kesalahan. Jieun hanya tertawa melihat Tae yang sangat kaku gerakannya. Dengan sabar Jieun mengajari Tae berdansa. Mereka pun membuat janji untuk selalu bertemu di pinggir danau setiap pulang sekolah untuk membantu Jieun berlatih drama.

“Jieunah! Jieunah!! Bangun!!” Dongwoo menepuk bahu Jieun yang lelah.

Jieun mengerjapkan matanya dan menguap, “kita udah sampai studio foto?”

“iyaa… makanya jangan sok mau ngikutin kim soohyun ngegym segala…” omel Dongwo.

“udah deh oppa… jangan ngomel lagi!” Jieun menutup kedua telinganya untuk menghentikan omelan Dongwoo.

“kamu masih ngantuk ya, Jieun? Apa perlu aku beliin kopi dulu?” tanya Dongwo.

“hm, ice Americano satu ya, oppa…”

“arrasoyo… kamu tunggu disini dulu…” ujar Dongwo.

Begitu managernya pergi membeli ice Americano, Jieun menopang tangan kanannya dan memikirkan mimpinya tadi.

“itu tadi mimpi? Rasanya nyata sekali…” batin Jieun

******

awhitepaper14

Suji keluar dari kantornya tepat pukul empat sore. Ia ingat harus datang ke rumah sakit Seoul untuk menemui dokter Jaerim setelah menerima teleponnya tadi pagi. Suji penasaran sekali apa yang ingin dibicarakan oleh dokter pribadinya itu. Begitu keluar dari lift di lantai satu, Suji berpapasan dengan Jongsuk yang baru saja selesai rapat dengan pihak ABTV.

Suji merasa sedikit gemetaran karena tak tahu harus mengatakan apa kepada Jongsuk mengenai kepergiannya ke rumah sakit. Suji masih belum siap untuk jujur mengenai sakit yang dideritanya kepada Jongsuk. Ingin rasanya Suji berbalik arah dan masuk kedalam lift lagi untuk menghindari kekasihnya, namun tangan kanan Jongsuk telah lebih dulu menariknya. Jongsuk mencoba untuk mencari kedua manik mata Suji yang tak mau menghadapnya.

“Sujiya, kamu mau kemana?”  tanya Jongsuk dengan suara lembut sambil menyentuh kedua bahu Suji.

“hmm… itu, aku mau… hmmm…”

Jongsuk mengernyitkan dahinya, “wae? Ada apa? kamu mulai menyembunyikan sesuatu dariku ya?”

“aniya, Jongsuk oppa. Hmm…. Aku cuma mau ke rumah sakit”

“rumah sakit? Kamu kenapa memangnya?? Sakit?” Jongsuk meletakkan telapak tangan kanannya ke dahi dan pipi Suji untuk mengecek suhu badan kekasihnya itu.

“aniya. Aku cuma check up biasa dengan dokter Jaerim…” Suji berusaha setenang mungkin.

“kuantar ya?” tawar Jongsuk yang mulai khawatir.

“gak perlu, oppa…!” Suji menggenggam kedua tangan Jongsuk dengan erat.

“eh?? Wae?” Jongsuk agak terkejut mendengar Suji menolak untuk diantar.

“hmm… itu… aku bisa ke rumah sakit dengan sopirku Howon, oppa. Lagipula, oppa kan masih harus segera menyusun persiapan keberangkatan tim drama ke gunung taebaek…. Aku akan bantuin oppa setelah pulang dari rumah sakit, okee?”

“baiklah. Tapi janji ya sama aku, kamu harus ngasih tau aku hasil check up mu hari ini. Aku khawatir kamu udah memforsir badanmu akhir-akhir ini…” Jongsuk masih belum bisa menghilangkan kecemasannya.

“neee…. Jangan khawatir oppa… aku pergi dulu yaa…” Suji berusaha menenangkan Jongsuk yang masih cemas dengan cara mencium pipi kanan Jongsuk sebelum berlalu pergi.

Jongsuk tersenyum kecil setelah mendapatkan ciuman pipi dari Suji.

tumblr_njihvifsyl1sl7awmo1_1280

******

Ponsel Kim Soohyun berbunyi setelah dia berganti pakaian di ruang ganti gym. Begitu melihat id callernya, Soohyun langsung mengangkatnya dengan nada gembira, “yoboseyo, abeoji!”

“oh! Soohyun! Kamu dimana sekarang?”

“abeoji sudah pulang ke rumah? aku baru selesai olahraga, abeoji.”

“nee… pulanglah ke rumah, Soohyun. Kita makan malam bersama bertiga!”

Soohyun tersenyum senang sekali karena akhirnya ayahnya yang sudah lama di amerika pulang dan mengajak bertemu, “hmm… nee, abeoji. Aku akan segera pulang!”

Soohyun segera mengepak tasnya dan bergegas pulang ke rumah kedua orang tuanya.

******

awhitepaper07

Dokter Jaerim mengajak Kim Myungsoo masuk kedalam kamar pasien tempat Kim Soeun dirawat. Soeun sedang duduk di sofa yang berada disamping ranjang pasien sambil membaca novel Sky of Heaven.

Dokter Jaerim pun mengenalkan istrinya pada pemuda berambut hitam kelam itu, “perkenalkan myungsoo, ini istriku, kim soeun!”

“saya kim myungsoo! Senang bertemu dengan anda nyonya kim soeun!” sapa myungsoo sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.

Soeun membalas uluran tangan myungsoo sambil tersenyum, “nado, myungsoo-shi… duduklah!”

“terima kasih” balas myungsoo sambil duduk di sofa yang berhadapan dengan soeun dan jaerim.

“boleh aku bertanya sesuatu?” Soeun menatap myungsoo dengan tatapan penuh rasa tak percaya bahwa salah satu dari pemuda yang mengalami hilang ingatan karena AMD kini berada dihadapannya dan telah tumbuh dewasa layaknya orang normal lainnya.

“nee… silahkan nona soeun” balas myungsoo dengan sopan.

“siapa nama ayah dan ibumu?”

“nama ayah saya kim minsoo…”

Soeun terkejut mendengar nama pria yang tak asing baginya. Kim Minso, pria yang telah mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan ibu Soeun dari kebakaran itu.

“…ibu saya bernama kim hera”

“nyonya kim hera? Pemilik toko buah FRESH?” tanya Jaerim yang mengenal nama ibu myungsoo.

“betul sekali dokter. Bagaimana dokter bisa tau?” myungsoo mengernyitkan dahinya.

“rumah sakit seoul sudah hampir satu tahun ini mendapat pasokan buah untuk menu makanan pasien dari toko buah FRESH milik ibumu” jelas Jaerim.

“oh begitu…” balas myungsoo.

Soeun yang sangat penasaran pada myungsoo pun bertanya kembali, “apa benar kamu baru kembali dari amerika, myungsoo-shi?”

Myungsoo mengangguk,“benar nyonya Soeun. Saya tiga tahun tinggal di amerika untuk belajar dance”

“lalu, gimana caranya kamu bisa bertemu dengan dokter Kwon Sangwon?” tambah Soeun.

“ahh… setahun yang lalu, saya mengalami cedera di leher dan lengan karena terlalu memaksakan diri saat berlatih dance. Dokter Kwon menyarankan saya untuk melakukan scan MRI di seluruh tubuh. Dan kemudian… dokter Kwon menemukan sebuah penggumpalan darah di otak saya” jelas myungsoo yang masih ingat dengan jelas peristiwa yang mengubah hidupnya.

Dokter jaerim mengerutkan dahinya karena penasaran, “penggumpalan darah? memangnya kamu sama sekali tidak merasakan sakit kepala sebelum bertemu dengan dokter Kwon?”

“saya memang sering migraine dok. Jadi saya sama sekali tidak mencemaskannya dari dulu” ujar myungsoo.

“itu bukan migraine biasa, myungsoo. Sakit kepala yang kamu rasakan selama empat belas tahun itu adalah salah satu efek samping dari pil Anti Memory Depressant. Dokter kwon pasti sudah memberitahumu kan…” jelas dokter jaerim.

“benar dokter Jaerim…” angguk myungsoo.

“dan dokter kwon juga bilang bahwa kamu tidak bisa mengingat semua kenangan sebelum kamu berumur empat belas tahun…” tambah dokter jaerim.

Myungsoo merasa tidak yakin dirinya pernah bermimpi atau mengingat sesuatu tentang masa lalunya dan hanya menjawab, “saya masih berusaha mengingatnya, dok… tapi saya tahu bahwa saya bukan satu-satunya orang yang mengalami hal ini karena pil AMD”

“darimana kamu tahu bahwa ada tiga orang lain yang mengalami hal yang sama denganmu, myungsoo shi?” Soeun benar-benar merasa iba kepada myungsoo.

“hmm… sebenarnya itu rahasia, nyonya soeun. Tapi saya punya bukti foto bahwa Bae Suji, Kim Soohyun , dan Jung Soojung juga kehilangan memori mereka…” jelas myungsoo sambil menyodorkan tiga foto yang ia terima dari mark sebelum kepulangannya ke korea.

Dokter jaerim melipat kedua tangannya dan berujar dengan tenang, “sebenarnya, hari ini saya sudah menyuruh Bae Suji datang ke rumah sakit…”

Myungsoo membelalakkan matanya mendengar ucapan dokter Jaerim, “nee??”

“Suji sangat ingin sekali menemukan jati dirinya yang sebenarnya sebelum kehilangan memori empat belas tahun lalu. Dan dengan mempertemukannya denganmu, aku berharap Suji bisa mulai mengingat sesuatu…” jelas jaerim sambil menatap myungsoo dengan tatapan penuh perhatian.

“jadi suji sudah tahu mengenai pil AMD itu…” ucap Myungsoo pelan kepada dirinya sendiri.

“kalian pasti bisa saling membantu untuk memulihkan memori masa kecil kalian, myungsoo” ujar dokter jaerim dengan nada penuh harap.

“tapi dokter Jaerim, kami berdua sudah berteman sejak tiga tahun lalu dan sama sekali tidak bisa mengingat apa yang terjadi sebelum usia  kami empat belas tahun. Bagaimana bisa dokter berharap kami bisa saling mengingat sesuatu dari masa lalu yang tersimpan rapat dalam kotak bergembok tanpa kunci?…” myungsoo menggelengkan kepalanya karena merasa frustasi dengan kondisinya saat ini.

Soeun menenangkan myungsoo dengan berujar, “tenanglah myungsoo-shi, akulah kuncinya… Aku yang akan membuka memori kalian berempat!”

******

“Soojungah, kamu sudah pulang! kamu mau makan jajangmyeon? Hari ini Bomi ulang tahun dan dia mentraktir kita semua… makanlah!” ajak nyonya Jiah kepada anak perempuannya yang baru saja datang ke salon setelah pulang bekerja pada Jieun.

Soojung menghampiri ibunya dan berujar,“omma, aku mau bicara sebentar, bisa? Ini penting…”

“nee… ayo ikut omma ke ruang pegawai..” ajak nyonya Jiah yang bisa merasakan ada hal yang mengganggu pikiran Soojung.

“baiklah…” jawab Soojung.

Begitu berada di dalam ruang pegawai, nyonya Jiah segera bertanya kepada anaknya, “ada apa soojungah?”

“omma kenal nona Bae Suji?”

“neee??? Hmmm… nugu?”

“bae suji, dia presdir Staragency saat ini. Apa omma pernah bertemu dengannya, atau apa aku dulu pernah mengenalnya? Aku merasa sangat mengenalnya omma, tapi ingatanku seperti kabur setiap kali aku ingin mengingat tentang bae suji…”

“Soojungah…”

“nee, omma…”

“omma tahu suatu hari kamu akan menanyakan hal ini. Dan omma sudah menyiapkan semua jawabannya…”

“mwo?? Apa sebenarnya yang terjadi, omma?”

“omma ingin sekali menceritakan semuanya. Tapi apa kamu benar-benar siap mendengarkannya?”

Soojung menegakkan kepalanya dan berujar dengan mantap, “ceritakan semuanya, omma…”

******

Suji duduk dihadapan dokter Jaerim dengan wajah tegang, “Dokter Jaerim, sebenarnya kenapa anda memintaku datang?”

Dokter jaerim memandangi wajah Suji sambil tersenyum,“ada seseorang yang ingin aku pertemukan denganmu…”

“nee? Nugu??”

Suara pintu kantor dokter jaerim terbuka, Suji menoleh kearah pintu dan terkejut melihat myungsoo berdiri dihadapannya dengan wajah penuh senyuman, “anyeong, Sujiya…!”

“Myungsoo!!!”

******

“aku tahu, kamu pulang kekorea karena sudah tak ingin lagi menjalani pengobatan kanker itu” ujar Kim Sungryung kepada suaminya didalam kamar mereka.

“Sungryungah, aku ini dokter. Harusnya aku yang menyembuhkan orang, bukan sebaliknya” ucap Kwon Sangwon sambil merapikan kemejanya di depan cermin.

“tapi kamu tidak dalam kondisi sehat, Sangwon. Kemoterapi itu pasti membuatmu cepat lelah”

“aku pulang karena aku harus, Sungryungah”

“harus apa?”

“aku harus memberitahu kim soohyun mengenai pil AMD itu…”

“kenapa baru sekarang, sangwon?”

“setelah aku mempelajari kasus pasien lain yang juga menelan pil itu, hampir bisa dipastikan mereka mengeluh sakit kepala. Hanya kim soohyun yang jarang mengeluhkan hal yang sama”

“kamu sudah bertemu dengan tiga orang anak panti itu??”

“ssshh! Jangan keras-keras sungryungah! Kalau kim soohyun datang dan mendengarnya gimana?”

“lalu, menurutmu itu pertanda baik atau buruk?”

“itu pertanda buruk, sepertinya sistem kekebalan kim soohyun menekan efek samping sakit kepala itu hingga detik ini…”

“bukankah itu bagus? Ia jadi tak harus merasa kesakitan karena tidak bisa mengingat masa lalunya sebagai anak panti…”

“tidak sungryungah. Ada efek yang lebih besar dari sakit kepala yang terus ditekan itu. Sama seperti saat kamu menekan gas yang ada dalam balon tiup, gas yang ditekan itu mengembang sebelum akhirnya meledak. ketika Kim soohyun merasa benar-benar frustasi, maka ia bisa langsung collapse dan koma karena tekanan yang keluar tiba-tiba….”

“collapse? Kenapa bisa mengerikan begitu? Lagipula, kenapa sih teman wanitamu itu, si kim solbi, kenapa dia harus membuat pil yang membahayakan itu?”

“kamu tahu yang terjadi diantara lee jinri, kim solbi dan lee jinhyuk dulu kan?”

“arra. Kisah mereka itu seperti kenangan pahit yang akan selalu tumbuh subur dan tidak akan bisa dikubur…”

Seorang pembantu mengetuk pintu kamar dan berkata, “tuan muda kim soohyun sudah hadir di ruang makan, tuan dan nyonya!”

******

awhitepaper8

“apa maksud dari  ini semua, dokter Jaerim??! Myungsoo! Ada apa ini sebenarnya? Aku sama sekali gak paham!” nada suara Suji mulai tinggi. Ia benar-benar clueless melihat myungsoo yang duduk disampingnya dan dokter jaerim yang menatapnya dengan penuh arti.

“Sujiyaa… tenanglah! Aku akan menjelaskan semuanya..” jawab dokter jaerim yang berusaha menenangkan situasi dihadapannya.

“jelaskan sekarang, dok!” pinta Suji.

“sebenarnya, Myungsoo datang kemari karena ia juga didiagnosa meminum obat Anti Memory Depresant, sama sepertimu…” ujar dokter jaerim

“gak mungkin!” Suji menggelengkan kepalanya karena tak percaya.

“aku tahu kamu syok, Sujiyaa! Aku juga syok saat pertama kali tahu kamu mengalami hal yang sama denganku…” ungkap myungsoo yang sedari tadi menatap muka Suji yang merah padam.

“kapan kamu tahu?!” bentak Suji.

“hmmm… itu…”myungsoo mulai ciut nyalinya menghadapi Suji yang sedang marah.

“oh, kamu uda tahu dari lama ya, myungsoo! kenapa kamu gak bilang saat kita pertama kali bertemu di kantor?!” Suji menatap tajam mata myungsoo.

“aku… aku ga bisa njelasin situasi ini sendirian tanpa seorang ahli yang paham tentang kondisi kita ini, Sujiyaa… kumohon, mengertilah..” jelas myungsoo gemetaran. Ia benar-benar merasa bersalah pada Suji.

“Sujiya, kamu bisa sedikit lega karena bisa menemukan salah satu kunci untuk membuka masa lalumu…” sela dokter jaerim.

Suji mengernyitkan dahi, “salah satu? Maksud dokter, berarti ada orang lain lagi yang mengalami hal yang sama denganku dan myungsoo?”

“nee, sujiya… ada dua orang lagi yang meminum pil AMD…” jawab myungsoo.

Suji mencengkeram bahu myungsoo dan bertanya, “dua orang? Nugu?? Katakan sekarang Myungsoo!”

“Kim Soohyun… dan Jung Soojung…” jawab myungsoo sambil menatap wajah Suji yang terlihat langsung syok begitu mendengar kedua nama itu.

“mworago?!”

******

“abeoji ingin mengatakan sesuatu padamu, Soohyun…” dokter Kwon Sangwon yang juga ayah Soohyun membuka pembicaraan mereka di meja makan. Ibu Soohyun, Kim Sungryung menatap suaminya dengan tatapan penuh kepasrahan.

“ada apa ini abeoji? Kenapa kalian terlihat serius begini? Bukankah kita berkumpul disini untuk makan malam?” Kim Soohyun merasakan ketegangan yang terpancar dari kedua orang yang sangat ia kagumi di dunia ini.

Dokter Kwon Sangwon menghela nafas berat sebelum akhirnya mengungkapkan sebuah kebenaran kepada pria yang sudah ia anggap anak lelakinya sendiri, “Kim Soohyun… bukanlah namamu yang sebenarnya…”

Soohyun terhenyak dari tempat duduknya, ia benar-benar tidak percaya dengan ucapan ayahnya, “nee? Apa maksudnya? Abeoji? Omma?”

Kim Sungryung menatap mata Soohyun yang berkaca-kaca dan berujar, “Soohyun, aniya, namamu yang sebenarnya adalah…”

******

“Tae?” Jongsuk mengulang lagi nama yang diucapkan adiknya, Lee Jieun, dari seberang telepon. Produser tampan ini masih berada di Staragency dan sedang menerima telepon adiknya.

Jieun pun menjawab, “iya, oppa ingat tidak? Aku yakin sekali pernah bertemu dengannya dulu di panti asuhan Haneuli”

“darimana kamu yakin, Jieunah?” tanya Jongsuk yang penasaran.

“dari tanda lahir berbentuk bulat di lengan kanannya…” balas Jieun.

“hmm… kita sudah lama sekali pindah ke seoul, aku tak yakin bisa mengingat wajah Tae, Jieunah” ujar Jongsuk.

“benarkah? kita terakhir kali melihat mereka kan saat usiaku sembilan tahun oppa?, ya kira-kira, enam belas tahun yang lalu sebelum kita pindah ke seoul bersama abeoji. Kurasa itu bukan waktu yang lama…”

“tuh kan! Enam belas tahun itu waktu yang lama untuk melupakan seseorang, Jieunah!”

“aniya, oppa. Abeoji saja tidak bisa melupakan omma yang sudah meninggal dunia beberapa belas tahun lalu…” Jieun beragumentasi pada kakaknya.

“Tapi, tunggu dulu… kenapa kamu repot-repot meneleponku hanya untuk bertanya mengenai hal seperti ini? Bukannya kamu harus foto untuk iklan? Fokuslah bekerja, Jieunah!”

“aku gak bisa fokus karena mimpiku tadi, oppa!” teriak Jieun dari seberang telepon. Dongwo yang berada di dekat Jieun sampai terkejut mendengar teriakan Jieun yang kencang.

Jongsuk menjauhkan telepon dari telinganya dan mendesah pelan, “arraso… arraso… Kalau begitu, apa lagi yang membuatmu gak bisa fokus? Kamu bilang tadi di gym ada pria dengan tanda lahir di lengan kanannya. Memangnya siapa?”

Jieun pun segera menjawab dnegan mantap, “Soohyun oppa… Kim Soohyun!”

“nee?? Kim Soohyun?!” Jongsuk tidak kalah terkejut mendengar ucapan adiknya.

“aneh kan Jongsuk oppa? Tidak ada orang didunia ini yang memiliki tanda lahir sama persis, bulat sempurna di lengan kanannya seperti itu… apa mungkin…?”

“tunggu dulu! Kalau Kim Soohyun itu Tae, kenapa dia tidak mengingatmu dan aku?” tanya Jongsuk yang semakin penasaran.

Jieun setuju dengan ucapan kakaknya, “nah! Itu dia, Jongsuk oppa! Tae jadi seperti orang amnesia sekarang, oppa. Apa yang sebenarnya terjadi di Haneuli setelah kita pindah ke seoul, oppa?”

“Jieunah, aku akan bicara pada abeoji tentang panti asuhan Haneuli saat pulang kerumah nanti. Kamu kembalilah bekerja! Ok?”

******

“apa kalian benar-benar membenciku?” Soohyun sekuat tenaga menahan airmatanya agar tidak jatuh ke pipi setelah mendengar pengakuan dari kedua orang tuanya.

“bukan begitu, Soohyun-shi…” dokter Kwon kehabisan kata-kata didepan Soohyun.

“lalu kenapa kalian tiba-tiba mengatakan bahwa nama asliku adalah Tae?!” bentak Soohyun.

Sungryung menatap tajam mata Soohyun, “jangan membentak kami! Harusnya kamu bersyukur kami mau mengadopsimu!!”

“adopsi?!! Aku ini… anak adopsi??” Soohyun tidak habis pikir dengan ucapan ibunya.

“Sungryungah!” dokter Kwon merasa terlambat menghentikan ucapan istrinya.

“kamu bilang dia bisa koma jika terlalu tertekan kan? Aku tidak mau dia merepotkan kita, Sangwon-ah!” ujar Sungryung pada suaminya.

“apa maksud kalian? Kenapa aku bisa tertekan? APA YANG SEBENARNYA KALIAN BICARAKAN INI?!!” Soohyun tidak bisa lagi menahan airmata yang menumpuk di kedua matanya.

“kamu pasti sudah membaca novel dari Kim Soeun yang berjudul Sky of Heaven tentang pil Anti Memory Depressant… pil itu… bukanlah fiksi, Soohyun…” jelas dokter Kwon.

“APA??” Soohyun tidak menyangka sama sekali bahwa novel yang sangat ia gemari itu adalah kisah tentang dirinya.

“.. dan kamu menelan pil AMD itu… empat belas tahun yang lalu…” lanjut dokter kwon.

“kalian bohong kan?…” Soohyun berusaha mengelak kenyataan.

“aku pun berharap cerita Sangwon adalah kebohongan, tapi dia mengatakan yang sebenarnya padamu…” jawab Sungryung.

“lalu, kenapa? Kenapa aku menelan pil itu?” tanya Soohyun.

Dokter Kwon pun menjelaskan, “pil AMD adalah proyek dari teman penelitianku, Kim Solbi, empat belas tahun lalu. Ia sepertinya menguji cobakan pil itu kepadamu dan…”

Soohyun memotong ucapan ayahnya dan bertanya, “…dan? Maksudnya ada orang lain juga?”

“… nee. Ada empat orang yang menelan pil itu, termasuk dirimu…” ungkap dokter kwon.

“siapa saja mereka?…” tanya Soohyun dengan airmata berlinang.

******

s3

Bae Suji menatap pemandangan malam kota Seoul dari balik jendela mobilnya dengan tatapan penuh kebingungan. Ia masih berusaha mencerna ucapan myungsoo dan dokter jaerim mengenai empat orang anak yang menelan pil Anti Memory Depressant.

“nona Bae, haruskah kita pulang ke rumah?” tanya supir Suji, Howon.

“aku ingin ke sungai Han… aku butuh udara segar…” ucap Suji pelan.

******

Kim Soohyun keluar dari rumah orang tuanya dan berjalan melewati managernya, Sungyeol, yang sedang bermain ponsel di depan pagar rumahnya.

“ya.. yaa… Soohyun-ah…” Sungyeol mengejar Soohyun yang masih terus berjalan dan tak memperdulikan sekelilingnya.

“aku ingin sendiri, yeol-ah… jebal…” ucap Soohyun tanpa menoleh kearah Sungyeol.

“baiklah, aku mengerti…” Sungyeol melangkah mundur dari Soohyun. Ia hanya bisa menatap punggung Soohyun yang gemetaran.

******

Jung Soojung duduk di kursi paling belakang bus kota nomer 008 dan menatap pemandangan malam Seoul yang ramai. Ia masih tak percaya dengan semua yang diceritakan ibunya tadi di salon mengenai dirinya yang sebenarnya.

Kim Myungsoo naik ke dalam bus 008 yang berhenti tepat di halte depan rumah sakit Seoul. Ia memilih duduk di bangku paling depan. Tangannya masih gemetaran setelah mengatakan yang sejujurnya pada Suji tadi.

******

Bae Suji duduk salah satu bangku yang berada di tepi sungai Han. Ia beberapa kali menghembuskan nafas berat untuk mengeluarkan beban pikiran yag menumpuk di kepalanya. Ia memejamkan matanya, airmata mulai mengalir membasahi kedua pipi pucatnya.

Kim Soohyun berjalan di sepanjang tepi sungai Han dengan memakai jaket warna hitam bertudung dan kacamata hitam. Ia menundukkan kepalanya agar tidak menarik perhatian banyak orang.

Langkah kaki Soohyun berhenti saat dia melihat seorang wanita yang sedang memejamkan matanya dan menangis duduk di bangku didepannya. Ia pun melepas kacamatanya dan melangkah mendekati wanita itu.

Bae Suji membuka matanya perlahan. Ia sangat terkejut melihat Kim Soohyun berdiri dihadapannya. Suji bisa melihat dengan jelas mata sembab Soohyun dari balik tudung jaketnya.

Kim Soohyun  merasa iba pada Suji yang terlihat sedang menangis dihadapannya.

Bae Suji menundukkan kepalanya, menangkupkan kedua tangan ke wajahnya dan mulai menangis lagi dengan lebih keras dihadapan Kim Soohyun yang masih berdiri didepannya. Tangisan keduanya seolah sebuah isyarat untuk mengeluarkan semua beban dalam pikiran dan hati mereka saat ini.

******

Kim Myungsoo turun dari bus kota 008. Jung Soojung pun ikut turun dari bus kota 008. Myungsoo berjalan pelan di sepanjang trotoar yang sepi malam ini. Soojung berjalan tak jauh dibelakang Myungsoo dengan kepala menunduk.

Kim Myungsoo menghentikan langkahnya. Ia bisa mendengar suara langkah sepatu yang tak asing dibelakangnya. Ia pun membalikkan badannya perlahan.

Jung Soojung menghela nafas berat beberapa kali. Langkahnya terhenti saat dia ingin menghapus airmata yang jatuh ke pipinya. Saat itulah mata Soojung tidak sengaja menatap mata Myungsoo yang berada di depannya.

Keduanya saling bertatapan dalam kebisuan di pinggir trotoar. Bisu yang lebih dalam artinya daripada kata-kata yang terucap.

******

Jongsuk melihat ayahnya sedang memandangi foto istri tercintanya di ruang keluarga.

“abeoji…” sapa jongsuk.

Tuan jinhyuk menoleh kearah anaknya dan menyilakannya, “oh, jongsuk-ah… duduklah kemari…”

“abeoji, sebenarnya aku ingin menanyakan sesuatu…” Jongsuk duduk di sofa dihadapan ayahnya.

Tuan jinhyuk mengangguk dan berujar, “abeoji juga ingin menanyakan sesuatu padamu, jongsuk-ah…”

Jongsuk pun mengangguk, “kalau begitu, abeoji saja dulu yang bicara… apa yang abeoji ingin tanyakan?”

Tuan Jinhyuk menatap anak lelakinya itu dengan tatapan serius, “jongsuk-ah, apa kamu serius dengan pertunanganmu dan Bae Suji?”

******

THE TENSION IS VERY HIGH FOR THIS CHAPTER

KEEP CALM AND READ THIS FF

DON’T FORGET TO COMMENT AND LIKE!

SEE YOU….

33 responses to “A WHITE PAPER CHAPTER 06 [I AM NOT ME…]

  1. akhirnya mereka semua udah pada tau, tinggal jongsuk nih yg belum, gimana cerita kedepannya yaa? apa pertunangan masih tetap terjadi?

  2. Hai selamat pagi🙂 Aku cuma may bilang KSF membebaskan pereblogan asalkan berlaitan dengan ff yang main castnya Suzy. Jadi aku harap kamu mengerti🙂 Thank you

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s