[OS] Milk and Newspaper

https://i1.wp.com/guideimg.alibaba.com/images/shop/101/12/24/9/milk-bottle-with-a-newspaper-on-the-doorstep-poster-print-18-x-24_2029249.jpg

[OS] Milk and Newspaper

Kiyomizu Mizuki’s Present

Kim Myungsoo [INFINITE’s L] & Bae Sooji [Miss A’s Suzy]

Genre : Romance, Fluff, and Comedy | Rated : General | Length : One Shot

Sooji, seorang pengantar susu dan koran yang manis.

***

Bagi orang awam kebanyakan. Dunia ini akan terasa lebih manis jika sering berdekatan dengan kata ‘cinta’. Mungkin deretan lima huruf tadi memang sudah familiar di telinga kita atau sudah akrab sekali untuk di dengar.

Cinta. Sebuah perasaan yang akan di hinggap di tiap hati manusia yang hidup, bahkan yang sudah berada di dalam tanah sekalipun. Itulah takdir tetap yang sudah di susun oleh Tuhan untuk manusia lemah seperti kita. Semua orang akan merasakannya! Kita tidak bisa mengelak setiap takdir yang sudah di susun oleh Nya, kecuali takdir—mungkin—buruk. Itu semua kebanyakan dari kelalain manusia itu sendiri.

Perasaan itu akan membuat orang lebih bersemangat untuk hidup demi orang yang dicintainya. Walau bertaruh nyawa sekalipun! Perasaan itu akan mengalihkan dunia orang-orang yang meraskannya. Cinta memang terasa beda. Tapi kita harus menerima konsekuensi kalau nanti akan merasa ‘sakit hati’.

Namun ada lain hal nya dengan Kim Myungsoo. Sosok pria yang lahir dengan latar belakang keluarga yang bagus, kaya. Dan sekarang sudah sukses menjadi seorang pengusaha muda di Negeri Ginseng ini, Korea Selatan.

Termasuk pria yang sangat aneh bagi orang-orang berdekatan dengannya. Dia tidak ‘terlalu’ percaya dengan Cinta. Baginya perasaan luar biasa itu hanya sebuah perasaan yang semu dan membuat siapapun merasa malas. Mungkin kata ‘semu’ tadi terdengar menyakitkan, tapi bagaimana kalau kalimat tadi memang berasal dari bibirnya langsung? Jahatnya.

Padahal, di luar sana. Setiap derap langkah kaki yang dijalankan Kim Myungsoo membuat para kaum hawa menatap dengan penuh kekaguman yang berlebih. Dia memang sangat tampan sekali, jadi siapa wanita yang tidak terperosok masuk lubang pesona yang dia punya? Kharisma nya begitu kuat.

Hatinya masih beku. Belum mencair, sangat sulit untuk membuatnya seperti itu. Apalagi sekarang semua itu bertambah dengan niatan nya.

Begitupula sang Ibunda yang sering memaksa Myungsoo untuk segera beristri. Wanita paruh baya itu tidak terlalu suka melihat anaknya terlalu lama menikmati masa single nya. Mengingat umurnya yang hampir mencapat kepala tiga. Namun Myungsoo masih menolaknya, dengan alasan yang sama pula.

.

.

.

Hari ini langit cerah sekali. Biru alami dengan awan-awan yang berarak-arak menghiasa cakrawala. Semakin menambah keindahan alam ciptaan Yang Maha Kuasa saja. Belum lagi udaranya yang sangat menyejukan, walau panasnya sinar matahari begitu menyengat. Tidak akan menyurutkan semangat siapapun untuk melakukan aktifitas hari ini.

Jendela bening masih tertutupi gorden putih. Sinar itu belum bisa masuk sepenuhnya ke dalam ruangan putih ini untuk membuat suhu nya menjadi hangat. Tapi setidaknya dia berusaha dengan cara membuat angin untuk membuat gorden itu tersingkap.

Suara decitan pintu yang berasal dari dorongan tangan seseorang. Pintu semakin lebar terbuka, menampilkan sosok tampan nan tinggi dari dalam sana. Lilitan handuk di pinggang nya berhasil membuktikan kalau dirinya baru saja selesai menjalankan ritual pembersihan diri. Buliran air mengalir dari lehernya.

Sosok itu melangkahkan tungkai panjangnya. Menuju nakas yang berada disamping ranjang. Sedikit membungkukan tubuhnya untuk mengambil sebuah benda pipih canggih di masa kini, yang bernama ponsel.

Ruas jemarinya menyentuh mode sentuh disana, mengetik sebuah nomor yang dia hapal di luar kepala. Mendekatkan sang benda pada telinga kanan nya. Sorakan kecil timbul, setelah mendengar telepon nya tersambung dengan cepat.

“Halo! Nona Jung, tolong siapkan semuanya dan juga pastikan ruangan itu sudah bersih tanpa ada butiran debu disana! Jangan sampai mataku melihat itu.”

“Tentu Tuan Kim. Semuanya sudah saya atur dengan baik. Rapat para pemegang saham akan di mulai beberapa jam dari sekarang.”

“Baiklah. Beberapa jam lagi aku akan sampai disana. Dan, kalau perlu tolong panggilkan tukang service itu membetulkan alat pendingin ruangan itu! Ingat Nona Jung, semuanya sudah selesai saat aku sampai disana!”

“B-baik Tuan Kim, akan segera saya laksanakan.”

Jauhkan ponsel itu dari telinga nya setelah memutuskan telepon secara sepihak. Percakapan kecil antara Myungsoo dengan Soojung—sekretaris pribadinya. Sekedar memastikan saja kalau semuanya terkendali dengan baik. Di taruhnya kembali ponselnya ke tempat asal.

.

Aroma parfum mahal yang menguar dari tubuh Myungsoo. Di taruhnya secara pelan, mendaratkan sebuah piring marmer putih. Permukaan nya terhias oleh sepasang pancake, di laburi dengan sirup maple. Sang makanan berteman dengan gelas bening yang di dalamnya ada cairan putih yang manis. Susu vanilla. Pilihan Myungsoo untuk menu sarapan nya, pagi ini.

Ruas jemarinya memegangi knop pintu utama. Memutar pelan, sedikit celah kecil yang bisa kita manfaatkan untuk melihat isi dalamnya. Tak perlu menunggu lama, pintu itu sudah terbuka lebar. Myungsoo sedikit memajukan kakinya.

Desisan keluar dari mulutnya. Arah pandangnya sudah tidak bersahabat lagi. Biasanya sudah dari pagi sekali di depan pintunya terdapat setumpuk Koran dengan berita yang masih fresh dan tidak basi untuk kita baca. Ah, jangan lupakan temannya. Botol-botol bening berjejer rapi dengan susu di dalamnya.

Sekarang? Tidak ada penghias disana.

Myungsoo menghela napas. Mungkin orang yang biasa mengantarkannya telat, tapi entahlah. Yang pasti, sudah tertanam dalam hatinya untuk mengomeli orang itu. Menyebalkan sekali! Inilah salah satu faktor yang membuat Myungsoo untuk tidak menyewa pembantu rumah tangga, dia tidak suka terhadap orang yang sering berbuat kesalahan. Maka dia melakukan semuanya sendiri.

Tangan itu kembali menutup pintu dengan sedikit kasar. Suara bising itupun keluar dan mengacaukan keheningan. Myungsoo melangkah kembali masuk ke dalam. Memilih memakan sarapan nya dahulu sebelum dingin karena terlalu lama dia membiarkannya.

Pria Kim memegangi kaca yang melapisi meja makan ini. Tangan nya mengepal, mata elang itu berubah menjadi dingin dan menengok ke kanan dan kiri. Merah, warna darah itu berhasil menguasai nya sekarang. Entah kenapa dia malah kesal sekali dengan sang pengantar Koran dan susu itu, tidak kunjung datang! Padahal, Myungsoo ingin segera membaca berita pagi ini.

Rasa emosi itupun mereda. Sorak gembira ruangan dan benda-benda ini kembali mencairkan dan tidak tegang seperti tadi, menyorak keberhasilan Myungsoo yang bisa meredam emosi nya sekarang.

Desisan keluar dari bibir nya lagi. Tangannya merangkap pisau serta garpu berwarna perak. Memegangi ujung nya. Sang pria mengangkat kedua alat makan itu. Sebelum makanan itu masuk ke dalam mulut, hendaklah Myungsoo memotongnya menjadi bagian-bagian kecil. Ini kebiasaan nya.

Dia menancapkan ujung lancip garpu yang berjumlah empat buah pada pancake yang sudah terpotong. Di lahapnya makanan yang sudah di olah dan berwarna kecoklatan. Gigi Myungsoo berfungsi dengan baik, berarti dia tidak sedang sakit gigi saat ini.

Setelah merasa kalau pancake-nya sudah menjadi potongan yang lebih kecil lagi dan merasa halus, juga layak untuk di telan. Myungsoo hanya ingin memudahkan alat percernaan nya untuk lebih menghaluskannya. Rasa manis nya begitu terasa. Jujur, baru pertama kalinya Myungsoo bisa memasak dengan se-enak ini rasanya.

“Tumben sekali aku bisa memasak makanan se-enak ini? Apa lidahku yang salah atau aku memang sedang beruntung?” gumam Myungsoo. Heran, itu pikirannya.

Bruk~!

Sebuah suara demtuman merambat masuk ke telinga Myungsoo, menerima suara itu untuk dirangsang di otaknya agar sang pria bisa mengetahuinya. Kepalanya kontan menoleh, insting-nya berkata kalau sumbernya berasal dari luar rumah dan tepat di depan pintu.

Pergesekan antara kaki kursi dan lantai marmer ini menimbulkan suara. Sebab Myungsoo yang melakukannya. Ia melangkahkan tungkai panjangnya dengan sedikit cepat. Mungkin itukah si pengantar susu? Dia mengangkat salah satu sudut bibirnya, sepertinya sasaran nya telah tiba. Semoga saja tidak salah.

“YA—“

Pekikan lantang Myungsoo kontan langsung berhenti. Tanpa di perintahkan. Pria ini hanya merasakan ada sebuah petir yang menyambar tubuhnya sekarang. Jari telunjuknya yang mengacung tepat di wajah sang pengantar susu—dia seorang gadis. Tiba-tiba melemas dan jatuh ke tempatnya kembali, menggunakan gerakan slow-motion pula.

Sang gadis menunduk, wajahnya yang masih tersembunyi di balik helaian rambut itu dan juga topi yang dipakainya. “Ma-maaf ‘kan saya Tuan,” kata gadis itu dengan lirih, ketakutan kian melanda nya. Memegang kuat ujung pakaian nya menggunakan tangan.

Myungsoo mengambil napas panjang. Menetralkan napasnya yang berburu. “Kalau berbicara dengan lawan bicaramu, tatap dia! Tidak pernah di ajarkan seperti itu kah pada orang tua mu?” Dia berkata dengan dingin, namun sangat menusuk bagi siapapun yang mendengarnya.

Gadis berambut cokelat itu mendongakan kepalanya. Sarat kegugupan serta ketakutan sangat terlihat dari wajahnya yang sudah berhiasi peluh berupa keringat. Menggigit bibir bawahnya sebagai pelampiasan ketakutan. “Ma-maafkan Tuan, saya tidak bermaksud.” Dia tidak berani menatap mata elang sang pria yang dipenuhi oleh api disana.

Alis tebal yang bersembunyi di balik poni magenta-nya yang menutupi dahinya saling mendekat satu sama lain. “Kau pengantar susu yang baru ‘kah? Aku baru pertama kali melihatmu.”

Gadis cokelat mengangguk. “Saya baru bekerja hari ini Tuan, jadi sedikit terlambat. Maaf telah membuat anda merasa kesal dengan sikap saya.” Dia membungkukan tubuhnya, sebagai permohonan maaf yang lebih sopan.

Sang pria tertegun sejenak, menatapi paras wajah manis yang dimilik gadis pengantar susu yang baru itu. Rasa aneh semakin terasa, aliran darah merah yang bersembunyi di balik kulit pucat nya mengalir dengan deras sekali, Myungsoo bisa merasakan itu. Juga, jantung yang berdetak tidak normal, maksudnya lebih cepat dan tidak terkontrol.

Keringat dingin mulai mengalir dari sekitar pelipisnya. Di aturnya napas itu yang tidak beraturan itu dan berusaha mengontrol detak jantungnya. Takut kalau sang gadis sampai mendengar. Keheningan melanda mereka. Bagi Myungsoo sekarang dunia terasa berhenti dan berhentinya perputaran bumi pada porosnya. “Y-ya, lain kali tolong lebih tepat waktu.”

“Baiklah Tuan. Maaf atas ketidaknyaman anda.”

Tubuh gadis cokelat itu berbalik. Wajah manis serta cantiknya tidak bisa di tatap langsung oleh mata Myungsoo, hanya bisa melihat punggung sang gadis. Entah kenapa, Myungsoo merasa berat melihat kepergiannya.

“Nona,”

Suara berat khas seorang pria menyapa gendang telinga sang gadis. Kali ini terasa lebih lembut ketika mengalun di indera pendengaran nya. Di tolehkan kepalanya, sebagai jawaban.

“Setelah mengantar, tolong datang ke rumahku lagi!”

Gadis cokelat mengernyit. Rasa heran terhadap perubahan sikap sang pria terhadapanya semakin mengental. Dia tidak bisa mengulur waktu lebih lama, masih banyak susu dan Koran yang harus dia antar. Sehingga hanya ada dua jawaban, yakni ‘ya’ atau ‘tidak’.

“Saya usahakan Tuan!”

Myungsoo mengangguk. Walau rasanya dia ingin benar-benar mengajak sang gadis itu ke rumahnya lagi. Jawaban yang terlontar dari bibir mungilnya, bagi Myungsoo terasa tidak pasti. Semoga saja masih ada harapan kalau si gadis akan datang lagi.

Sepeda berwarna putih yang mendominasi warna biru milik sang gadis pengantar susu menghilang di tikungan rumahnya. Helaan napas sedikit kecewa keluar. Myungsoo berbalik, hendak kembali ke rumahnya.

Tangan miliknya menutup pintu rumah dengan pelan, sedikit suara yang timbul namun tidak bising. Myungsoo bergegas ke kamarnya, hendak mengganti pakaian formal nya menjadi casual. Di ambilnya ponsel yang tergolek cantik diatas meja makan. Untuk menelpon Soojung.

“Hallo!”

“Ya Tuan Kim?”

“Nona Jung, tolong batalkan rapatku hari ini. Aku ada urusan yang lebih penting daripada itu.”

“T-tapi Tuan? Hari—“

“Dengar, batalkan atau kau, ku pecat?!”

“B-baiklah.”

Sedikit ancaman seperti biasa untuk membuat sang sekretaris nya menurut dengan sangat patuh. Sesudah pemutusan telepon secara sepihak, di taruhnya kembali benda itu sehingga mendarat di meja lagi.

.

.

.

Tok~ Tok~

Ketukan pintu.

Oh, ketukan itu bagaikan bel dari surga bagi Myungsoo. Di tariknya kedua sudut bibirnya, sebuah senyuman tulus dan senang terpahat di wajah Myungsoo. Semakin menambah kadar ketampan nya. Segeralah dia bergegas.

Tangan sang pria menarik knop pintu. Di depan nya sudah menampilkan sesosok gadis berambut cokelat sudah berada disana. Banyak peluh yang menghiasi wajah manisnya, namun bagi Kim Myungsoo kadar kecantikan dan kemanisan yang dia punya tidak akan pernah hilang dan akan terus melekat.

“Menunggu lama Tuan?”

Kepalanya bergerak ke kanan dan kiri, menggeleng. “Silahkan masuk.” Myungsoo meminggirkan tubuhnya, sehingga terdapat sebuah jalan yang memudahkan gadis itu untuk masuk.

Sepeninggal sang gadis yang sudah memasuki ruang tamu miliknya. Pintu sewarna dengan kayu itu juga langsung tertutup. Langkah Myungsoo kembali bergerak, mengikuti langkah sang gadis dari belakang dengan pelan. Senyuman itu bahkan tidak pernah hilang menghiasi wajahnya.

“Kalau boleh tahu siapa namamu?” Myungsoo membuka percakapan diantara keduanya. Sebelum itu, keheningan melanda dan membuat suasana menjadi sangat canggung. Maklum, mereka baru melakukan sebuah perbincangan singkat tadi pagi. Sekarang, keheningan itu kacau digantikan dengan suara berat Myungsoo.

“Bae Sooji.”

Myungsoo kembali mengangguk.

.

.

Sekitar sepuluh menit semenjak percakapan singkat mereka (lagi). Keheningan melanda. Hanya terdengar gumaman mereka berdua, walau lebih terdengar sebagai bisikan sebenarnya. Juga, desau angin yang tiba-tiba masuk lewat jendela rumahnya yang terbuka lebar. Memudahkan sang angin juga sinar matahari yang hangat untuk menyinari ruangan ini.

“Sooji-ssi,” seperti tadi. Sang pria yang membuka perbincangan mereka berdua. “Kau manis, maukah menjadi pasangan hidupku? Maksudnya istri ku?”

Sooji terperengah. “APA?!”

Karena kejadian yang tidak di sengaja ini berhasil membuat sebuah benang merah berhasil mengikatkan mereka berdua. Dan keduanya berhasil masuk ke dalam sebuah permainan takdir yang melibatkan antara kedua manusia berbeda jenis ini.

Dan, Kim Myungsoo sekarang sudah gila.

Sepertinya..

Hanya karena gadis pengantar susu yang baru saja di temuinya pagi hari ini.

END

Hallo semuanya~~~~!!!! *teriak pake TOA* Aku dateng dengan one shot singkat lagi. Krenyes-krenyes banget kan kayak yang sebelumnya? *kedip-kedip GJ #huekkkk* Tapi semoga terhibur ^^

42 responses to “[OS] Milk and Newspaper

  1. Haha…..aigoo Myung sekalinya jatuh cinta langsung ngajak Suzy Nikah. Pesonanya Suzy benar2 tak di ragukan. Keke… Ff yang bagus dan menghibur.

    Gomawo.

    *BOW*🙂

  2. waah daebak thor, nan joha..
    so sweet banget, ya ampun myung baru ketemu aja udah ngajak nikah kekeke
    author jjang
    myungzy jjang

  3. Kya.. Krenyes bgt author.. suka.. kkkk..
    Myungsoo jatuh cinta pd pandangan pertama.. Langsung diajakin married aja.. Daebak.. Myungsoo jjang!!

  4. aigooo myungsoo cinta pada pandangan pertama kkk, duh kayanya ff ini perlu sequel deh thor sampe mereka menikah deh kkk

  5. eeeh? baru pertama ketemu belum kenal baik myung main ngajakin jadi istri. woah wajar aja sooji shock.

  6. Jyaaahh si myung ktnya ngga percaya sm cinta.. lah? Wktu ketemu yg cocok(read:suzy) lgsung lamaran saat itu jugaa!!!

  7. Haaah myung yg dingin, baru saja lihat dan berkenalan sama suzy udah ngajak mnjdi istrinya saja. ah suzy hebat mmpu menaklukan hati myung

  8. Omg… myung yg dingin dan arogan jatih cibta pd pandangan pertama dg gadis pengabtar susu… sweet☺

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s