A WHITE PAPER CHAPTER 07 [I TRY MY BEST…]

untitled-127 (1)

Take with credit ravenclaw @ poster designer

***

A White Paper II Bae Suji; Lee Jongsuk; Kim Soohyun; Kim Myungsoo; Lee Jieun; Jung Soojung; Song Jaerim; Kim Soeun II kyunita11 II genre: melodrama, romance, angst II length : chaptered

*****

07

“I TRY MY BEST…”

******

Tuan jinhyuk mengangguk dan berujar, “abeoji ingin menanyakan sesuatu padamu, jongsuk-ah…”

Jongsuk pun mengangguk, “apa yang abeoji ingin tanyakan?”

Tuan Jinhyuk menatap anak lelakinya itu dengan tatapan serius, “jongsuk-ah, apa kamu serius dengan pertunanganmu dan Bae Suji?”

“wae abeoji?”

“sebenarnya… apa kamu yakin sudah mengenal semua tentang bae suji?… apa kamu yakin tidak ada yang disembunyikan dari bae suji? memang ini masih pertunangan, tapi jangan sampai kamu menyesal, jongsuk-ah…”

“nee? Aku tidak paham maksud abeoji, aku kan sudah mengenal Suji sejak kita pindah ke seoul enam belas tahun yang lalu…”

“jongsuk-ah, ingatlah pepatah ini, tidak semua yang kamu lihat adalah kebenaran. Tapi kebenaran pasti akan terlihat… jadi, apa yang ingin kamu tanyakan padaku tadi?”

“aku… aku lupa pertanyaanku, abeoji… hmm, sebaiknya abeoji istirahat karena ini sudah larut malam…”

“ya, kamu dan jieun juga, jaga kesehatan kalian…” ujar abeoji yang beranjak dari tempat duduknya.

Jongsuk pamit dan memberi hormat pada abeoji-nya, “nee, abeoji, aku permisi pulang dulu…”

******

Nyonya Bae Jonguk berdiri didekat jendela kamarnya dilantai dua. Ia begitu khawatir karena Suji belum juga pulang kerumah padahal waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Beberapa nyonya Bae mencoba menelepon ponsel Suji dan supirnya Howon, tapi selalu saja tidak diangkat. Nyonya bae pun menelepon nomer ponsel Lee Jongsuk.

“anyeong, jongsuk-ah…”

“nee, omonim… ada apa?” tanya Jongsuk yang berada didalam mobilnya.

Nyonya Jonguk pun menjawab, “apa kamu sedang bersama Suji?”

“tidak omonim, memangnya Suji belum pulang dari rumah sakit?”

“rumah sakit? Kenapa Suji pergi kesana? Dia tidak bilang mau pergi kerumah sakit hari ini…” Nyonya Jonguk sama sekali tidak tahu kemana putrinya itu pergi seharian ini.

“nee?” Jongsuk tak menyangka Suji tidak memberitahu ibunya.

“tolong cari tau dimana Suji sekarang, Jongsukah, omonim sudah mencoba menelepon ponselnya tapi selalu mailbox… omonim khawatir…”

“nee, omonim. Aku akan mencari Suji, jangan khawatir omonim…”

******

awhitepaper38

Yoon Mirae – I’ll Hear What You want to Say

Suji dan Soohyun duduk berdampingan di bangku taman pinggir sungai Han malam itu.

“kamu sudah tahu semuanya?” tanya Suji yang sudah bisa menenangkan dirinya.

Soohyun mengangguk, “aku berharap semua yang kudengar tadi adalah cerita karangan abeoji saja…”

Suji tersenyum lemah mendengar ucapan Soohyun. Ia pun juga merasakan hal yang sama, berharap semua yang diucapkan myungsoo dan dokter jaerim tadi adalah sebuah kebohongan.

“apa mataku terlihat bengkak?” tanya Suji sambil menatap Soohyun.

Soohyun membuka kacamata hitamnya dan menyodorkannya kepada Suji, “bukan hanya terlihat, tapi matamu benar-benar bengkak… ini, pakai kacamataku…”

Soohyun mendekatkan dirinya pada Suji untuk memasangkan kacamatanya. Dengan lembut Soohyun membenarkan beberapa helai rambut hitam panjang Suji yang menutupi wajahnya.

Suji berdehem beberapa kali sambil berujar, “gomawo… soohyun-shi…”.

Soohyun mendengus mendengar nama itu, “soohyun?… itu bukan nama asliku, sujiya…”

“itu juga bukan namaku…” balas Suji.

Soohyun pun menatap Suji, “lalu, kamu ingin aku memanggilmu dengan nama apa?”

Suji mengangkat kedua bahunya dan menggelengkan kepalanya, “entahlah… aku masih belum mengingat namaku… jujur saja, aku khawatir untuk mengingat namaku sekarang…”

“wae? Apa karena… produser Lee Jongsuk?” Soohyun terlihat berhati-hati saat mengucapkannya.

Suji mengangguk pelan, “dua hari lalu aku bilang pada dokter Jaerim bahwa aku ingin sekali bisa mengingat siapa diriku sebenarnya empat belas tahun lalu… aku bahkan berkata bahwa aku siap kehilangan semuanya, termasuk… jongsuk oppa…”

“Sujiya, mana yang lebih kamu takutkan, kehilangan lee jongsuk? Atau kehilangan cinta lee jongsuk?” Soohyun menatap Suji yang kini mengenakan kacamata hitam miliknya.

“nee? Hmm… Na molla…” jawab Suji sambil mendesah pelan.

Soohyun mengangguk paham, “arraso. Kamu takut kehilangan cinta Lee Jongsuk rupanya…”

Suji melipat kedua tangannya didada untuk menahan angin malam yang semakin bertiup kencang, “selama empat belas tahun ini, Cuma jongsuk oppa yang begitu perhatian padaku… ia menganggapku sebagai Bae Suji… wanita yang paling dia cintai… hahhh….”

“kurasa kamu harus segera meminta nyonya Bae menceritakan semuanya…”

“I need a courage to do it… aku pasti terlihat lemah ya dimatamu…” Suji tersenyum sinis pada dirinya sendiri. Ia benar-benar merasa lemah sekali.

“aniya Sujiya, apa yang terjadi padamu ini adalah hal yang wajar… siapa yang gak takut menghadapi kebenaran? Kurasa aku pun akan ketakutan sepertimu” Soohyun menggenggam tangan kiri Suji yang dingin, “tenanglah, aku akan selalu mendukungmu…”

“gomawo, Soohyun-shi…”

“panggil aku Tae, Sujiya…”

“nee?”

“itu namaku yang asli, abeoji yang memberitahukannya tadi”

“nama itu… cocok denganmu… Tae…” Suji tersenyum kecil sambil mengulangi nama kecil Soohyun.

******

“soojungah… makanlah ramyeon ini…” Myungsoo menyodorkan semangkuk mie instan pada Soojung yang sedang duduk di meja luar minimarket.

“ gomawao, myungsoo-shi. Hmm… ibuku bilang namaku saat dipanti asuhan adalah reum…”

Myungsoo merasa bersalah juga pada Soojung, “hmm… reum-ah, aku minta maaf…”

“untuk apa?”

“aku tidak memberitahumu dari awal tentang semua ini…” jelas myungsoo.

Soojung menggeleng, “aniya, myungsoo. Kita kan baru dua kali bertemu, mana mungkin kamu bicara hal seserius itu padaku, ya kan?”

“terima kasih, kamu sangat pengertian…” ujar Myungsoo dengan jujur sambil tersenyum.

Soojung tertegun melihat senyum Myungsoo dan merasakan pipinya memerah. Ia pun bertanya pada pria dihadapannya, “myungsoo-ya, apa kamu masih belum tau nama aslimu?”

“aku masih belum mengingatnya… reum-ah…”

“aku tahu namamu, myungsoo. Aku, aku pernah bermimpi tentang dirimu…”

Myungsoo terkejut sekali mendengar pengakuan Soojung, “eh? Kamu bermimpi tentang aku?”

Soojung merasa malu sekali mengakuinya dan mengangguk pelan, “ya, didalam mimpiku, kamu mengatakan bahwa namamu adalah Yang…”

“ahh…” Myungsoo memahami ucapan Soojung. Ia tersenyum kecil melihat Soojung yang salah tingkah karena malu setelah mengungkapkan bahwa dirinya pernah hadir dalam mimpi stylish cantik ini.

“mungkin juga itu bukan namamu… entahlah aku gak yakin, itu kan Cuma mimpi…” Soojung berusaha membela dirinya.

Myungsoo menggeleng dengan cepat, “aniya, mungkin aja Yang adalah namaku… gomawo, Reum-ah…”

“nee?…”

Myungsoo pun tersenyum dan berkata,“mulai sekarang, kita harus selalu bersama..”

Soojung terkejut dengan saran Myungsoo yang blak-blakan, “ne? waee??”

“ya, karena bisa jadi kamu menyimpan kenangan tentangku empat belas tahun lalu, dan kemungkinan juga aku menyimpan masa lalumu…”

“tapi…itu…” Soojung meruntuki dirinya yang tergagap didepan myungsoo.

Myungsoo menyodorkan ponselnya pada Soojung, “beritahu aku nomer ponselmu… mulai sekarang, kita harus sering berkomunikasi untuk mengecek keadaan satu sama lain. Beri aku nomer ponsel Kim soohyun juga. Aku akan memberimu nomer ponsel Bae Suji juga…”

“hmm.. oke…” jawab Soojung sambil mengetikkan nomer ponselnya.

******

Lee Jongsuk melacak jejak ponsel Bae Suji melalui gps yang sengaja ia koneksikan dengan ponsel kekasihnya itu. Hasil pelacakan itu membawa mobil Jongsuk ke tepi sungai Han. Ia pun keluar dari dalam mobilnya dan melihat ke sekelilingnya untuk menemukan Suji.

Sambil terus memperhatikan layar gps-nya, Jongsuk mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru taman yang ada di tepi sungai Han. Langkahnya terhenti ketika ia melihat suara seorang wanita yang sangat ia kenal sedang berbincang dengan seorang pria berjaket hitam di bangku taman yang ada didepannya.

awhitepaper37

Jongsuk memperhatikan Suji yang mengenakan kacamata hitam dan sang pria berjaket hitam tampak akrab. Ia pun mencoba menghubungi ponsel Suji sekali lagi untuk memastikan bahwa dirinya tidak salah orang. Ponsel di samping Suji berbunyi namun wanita itu tidak mengangkatnya. Jongsuk pun melangkah untuk menghampiri Suji ketika dia melihat seorang wartawan sedang mengambil foto Suji dan sang pria berjaket hitam secara diam-diam.

Jongsuk segera mempercepat langkahnya dan berdiri dihadapan Suji untuk menghalangi sang wartawan mengambil gambar lagi.“Sujiya!”

Suji mendongakkan kepalanya dan terkejut melihat Jongsuk berdiri didepannya dengan wajah cemas, “jongsuk oppa..!”

“bangunlah! Ayo kita pergi dari sini…!” Jongsuk meraih tangan kanan Suji.

“oppa, wae?” Suji tidak mengerti kenapa Jongsuk terlihat sangat gusar.

“ada apa Jongsuk-shi?” tanya Soohyun yang kini berdiri disamping Jongsuk.

“Kim Soohyun! Pantas saja mereka kemari…” Jongsuk terkejut melihat pria berjaket hitam disamping Suji ternyata Kim Soohyun, pantas saja sang wartawan mengambil foto mereka berdua dari tadi, “ayo berdirilah Sujiya!”

“tunggu dulu! Aku masih bicara dengan suji, jongsuk-shi…” Soohyun secara reflex menahan tangan kiri Suji agar tidak pergi darinya.

Jongsuk merasa tidak senang sekali dengan Soohyun yang memegang tangan kekasihnya, “lepaskan tangan Suji, Soohyun!!”

“Jongsuk oppa…” Suji berusaha menenangkan Jongsuk.

Jongsuk pun memberitahu mereka, “HAH! kalian berdua diuntit wartawan dari tadi… apa kalian gak sadar?! Soohyun-shi, lepaskan tangan Suji! kajja!”

Soohyun terhenyak melihat Suji melepaskan genggaman tangannya dan menggandeng tangan Jongsuk. Ia pun hanya bisa diam menatap punggung Suji dan Jongsuk yang semakin menjauh darinya. Entah kenapa Soohyun merasakan dadanya terasa sesak melihat Suji melepaskan uluran tangannya tadi. “naega waeire? Kenapa aku merasa gak seneng melihat Suji menggandeng pria lain?” batin Soohyun.

******

Jongsuk mengantar Suji sampai ke depan pagar rumahnya. Sebelum Suji masuk kedalam rumahnya, Jongsuk memanggilnya, “Sujiya…”

“hmm?” Suji membalikkan badannya dan menatap Jongsuk dari balik kacamata hitam milik Soohyun yang masih ia kenakan.

“aku sudah pernah berjanji untuk selalu ada untukmu… jadi kumohon, ceritakan semua yang membebani pikiranmu, aku akan membantumu mencari solusinya…”

Suji hanya diam dan tak bisa menjawab pernyataan Jongsuk.

Jongsuk yang tidak mendapat jawaban pun memegang kedua pundak kekasihnya, “Sujiya, kenapa kamu masih memakai kacamata hitam ini?”

Suji menjawab sejujurnya, “mataku bengkak, jongsuk oppa… aku… aku tadi menangis…”

“waeyo?” Jongsuk semakin penasaran dengan yang terjadi pada kekasihnya.

Suji berusaha mengelak, “oppa, bisa kita bicara besok saja? Aku lelah…”

“jjakaman… ini pertanyaan terakhirku. tadi, kenapa kamu bertemu dengan kim soohyun? Jawablah, baru aku mau pulang…” Jongsuk masih memegang kedua pundak Suji dengan erat. Suji bisa merasakan dari genggaman tangan Jongsuk bahwa kekasihnya ini sedang cemburu pada kim soohyun.

“aku… itu… itu pertemuan yang gak disengaja, oppa. Percayalah…” Suji berusaha tersenyum untuk menenangkan Jongsuk yang terbakar api cemburu.

“Sujiya…” Jongsuk menarik tangan Suji yang gemetaran dan mendekap kekasihnya itu, “jika kamu ada masalah… ceritakanlah padaku… kumohon… jangan selalu membuatku menebak pikiranmu yang rumit, Sujiya… aku ini kekasihmu…” Jongsuk melepas kacamata hitam yang menutupi mata Suji. Dilihatnya dua bola mata Suji yang memerah karena terlalu banyak menangis. Jongsuk pun mencium kedua pelupuk mata Suji dengan lembut, lalu ia pun mencium bibir Suji yang pucat dengan penuh rasa sayang.

Suji merasakan gemuruh didalam dadanya yang membuat dirinya ingin sekali menangis melihat betapa Jongsuk sangat mencintainya sebagai wanita yang bernama ‘Bae Suji’.

“masuklah kedalam rumah… istirahatlah! Besok masih ada banyak urusan yang menantimu…”

“nee oppa…”

******

Nyonya Kim Hera baru saja mengepak dua kardus jeruk saat ia mendengar pintu depan terbuka. Wajah Myungsoo tampak sangat lelah. Nyonya Hera pun menyambut kedatangan anak kesayangannya itu, “myungsoo… kamu baru pulang? Kenapa mukamu pucat begini, huh? Kamu sakit?”

Myungsoo memeluk ibunya dengan erat sambil berujar, “aniya, omma. Naega gwaenchana…”

“oh, keurae… istirahatlah…” balas ibunya.

Myungsoo menahan tangan ibunya dan berkata, “… aku ingin bicara, omma…”

“nee? Bicara tentang apa?” nyonya hera terlihat penasaran dengan wajah serius Myungsoo.

“omma dulu pernah tinggal di daerah gunung taebaek kan?… omma tahu panti asuhan Haneuli disana…?”

Nyonya Kim Hera seolah terlempar kembali ke empat belas tahun lalu saat dirinya terakhir kali bertemu dengan suaminya, “hmm.. wae?”

Myungsoo berusaha menata kalimatnya agar tidak menyinggung perasaan ibunya, “omma pernah bilang, nae abeoji, apa abeoji pernah kerja di Haneuli?”

Nyonya Hera mengangguk pelan, “itu… ya… ayahmu dulu seorang satpam…”

“omma… apa aku ini… anak panti asuhan… Haneuli?”

Nyonya Hera terkejut mendengar pertanyaan Myungsoo. Ia berusaha menutupi kebenarannya dengan berkata, “…itu.. myungsoo-ya, kamu itu anak… omma…”

“jebal omma…jujurlah padaku… aku sudah tahu semuanya, tapi aku ingin mendengarnya dari omma. Jadi, apa benar kalian mengadopsiku?” Myungsoo menggenggam tangan ibunya yang gemetaran, “aku janji omma, aku gak pernah ninggalin omma meskipun aku bukan anak kandung omma… jangan takut… jadi benar?”

“ne… setelah kejadian kebakaran… yang membuat ayahmu pergi selamanya… aku, aku mengadopsimu dari… dari nyonya Lee Jinri…”

“nyonya Lee Jinri? Nuguseyo?”

“neo molla? Dia ibu kandung idol singer terkenal di agencymu itu… Lee Jieun…”

“nee?”

******

“beneran nih kamu mau tidur di apartemenku, Soohyun-ah? Tempatnya lebih kecil dari apartemen dua lantaimu…” tanya Sungyeol yang kini berada didalam apartemennya bersama Kim Soohyun.

“wae? Kamu keberatan, yeol-ah?” Soohyun melihat-lihat keadaan apartemen Sungyeol yang rapi.

“ani… aniya… aku cuma ngerasa heran aja… baru kali ini kamu mau nginep diapartemenku sejak kita kerja bareng… keundae, waeyo? Memangnya kamu gak nyaman sama apartemenmu? Apa ada penguntit di sana?” tanya Sungyeol penasaran.

Kim Soohyun menggelengkan kepalanya, “aniyeyo. Oneul bam… aku hanya merasa suasana di aparetemen terlalu sunyi… aku merasa sendirian…”

“ahh… kalau begitu aku akan mengajakmu bermain uno dan playstation, yaa supaya kamu gak ngerasa kesepian…” Sungyeol tampak excited membayangkan serunya punya teman sekamar.

“gomawo yeol-ah… tapi aku ingin tidur. Besok kan aku ada pemotretan di staragency…” Soohyun mengingatkan managernya.

“ahh… bener banget… yauda, kamu tidur aja… aku mau mandi dulu…” Sungyeol meninggalkan Soohyun sendirian di dalam kamarnya. Soohyun mendesah pelan saat dirinya sendirian. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, dan mulai menangis dalam diam.

******

awhitepaper54

Suji membuka pintu rumahnya, ia melihat kedua orang tuanya sedang menunggunya di sofa ruang tamu dengan wajah cemas.

“Sujiya… kamu sudah pulang? Darimana saja kamu?” nyonya Bae Jonguk menghampiri Suji dengan wajah penuh kelegaan.

“Jonguk-ah… sudahlah… yang penting kan Suji sudah pulang…” ujar tuan Bae Junyoung.

“Sujiya, kenapa kamu? Mataku bengkak begitu… kamu habis nangis ya? Waeyoo? Malhaebwa…” nyonya Bae mencerca Suji dengan banyak pertanyaan.

Suji menatap mata ibunya dan menggenggam kedua tangannya, “omma… aku bukan bae Suji kan?… nae jinjja ireum, nugugayo?”

“Sujiya…” nyonya Bae merasa tidak percaya dengan ucapan Suji barusan.

“omma, appa… mian, da arraso… aku ini cuma anak adopsi dari panti asuhan Haneuli kan? Keundae, kenapa harus aku? Kenapa aku yang kalian adopsi?” Suji memandangi kedua orang tuannya secara bergantian, “…Apa karena wajahku mirip dengan anak kalian?…”

“Sujiya… siapa yang memberitahumu?” tuan Bae berdiri dari sofa dengan wajah tegang.

“itu bukan masalah penting, appa… sekarang yang penting adalah, kenapa harus aku yang kalian adopsi?” Suji kembali bertanya dengan nada lebih tinggi.

Nyonya Bae Jonguk menitikkan airmatanya memandangi Suji yang masih berdiri dihadapannya. Ia sama sekali tak menyangka bahwa gadis yang ia sudah anggap sebagai anaknya sendiri kini telah mengetahui kebenaran tentang identitas aslinya.

“Sujiya… mianhapnida… kami berdua hanya orang tua yang egois…” tuan Bae tak berani menatap mata Suji yang mulai berlinang airmata.

“kami… aku… aku ini tetap ibumu, Sujiya… meskipun orang lain berkata bahwa… bahwa anakku sudah tiada… aku tetap… aku tetap memilikimu, Sujiya…” nyonya Bae memegangi kedua lengan Suji dengan erat dan tak ingin melepaskan anaknya itu.

Suji benar-benar syok mendengar pengakuan ibunya, “Bae Suji… sudah meninggal?! Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa kalian menyembunyikannya???!”

Tuan Bae Junyoung hanya menundukkan kepalanya sambil mengusap punggung istrinya yang menangis.

“Sujiya… duduklah dulu… kami butuh waktu untuk menceritakan semuanya padamu…”

“arasso. Keundae, nae ireum… aku ini… siapa namaku?” Suji duduk di sofa yang berhadapan dengan kedua orang tuanya.

Nyonya Bae menghela nafas berat sebelum berujar, “byul… waktu itu, Lee Jinri bilang, namamu sebenarnya adalah byul karena tanda lahir di pergelangan tangan kirimu…”

“Lee Jinri? Ibu dari Jongsuk oppa?” Suji tidak menyangka bahwa ibu dari Jongsuk adalah pemilik panti asuhan tempatnya dibesarkan.

“nee… sujiya…”

Suji memejamkan matanya sejenak, mencoba mencerna semua ucapan kedua orang tuanya. Ia pun menyadari satu hal, “jakkaman… lalu, jongsuk oppa? Dia sama sekali tidak tahu bahwa Bae Suji sudah tiada? Kalian tidak memberitahu jongsuk oppa tentang Bae Suji yang asli?”

Tuan bae menjawab lirih, “Sujiyaa… kami tak sanggup melakukannya…”

Nyonya Bae menambahkan, “kami masih menganggap kamulah Bae Suji kami hingga detik ini…”

Suji menggelengkan kepalanya, “kalian memanfaatkanku untuk membohongi Jongsuk oppa??!”

“Sujiya… dengarkan dulu…” nyonya Bae mencoba untuk menenangkan Suji yang mulai naik pitam.

Suji mengelak, “aku sudah mendengarkannya… aku bisa menarik kesimpulan dari ucapan kalian…”

Tuan Bae mencoba membujuk Suji, “ini tidak seperti yang kamu pikirkan, Sujiya…”

Suji mulai meradang mendengar pengelakan dari kedua orang tuanya, “aku tak tahu apa yang kalian pikirkan, tapi aku yakin kalian menyembunyikan kematian Bae Suji karena perusahaan Staragency… kalian ingin menguasainya setelah menyingkirkan tuan Lee Jinhyuk dari kursi CEO…”

Tuan Bae dengan cepat menjelaskan, “Sujiya… perusahaan itu dari awal milik ibumu… Lee Jinhyuk menduduki jabatan CEO berkat ibumu…”

Suji menarik nafas berat. Kini airmatanya sudah meleleh dan mengalir di kedua pipinya, “keurae… lalu sekarang… bagaimana dengan Lee Jongsuk oppa? Kalian tega membohonginya…!”

“tapi dia tetap mencintaimu, Sujiya…” ucap Nyonya Bae.

Suji benar-benar meradang dengan ucapan ibunya, ia pun berteriak didepan kedua orang tuanya, “TAPI LEE JONGSUK OPPA MENCINTAI BAE SUJI!! BUKAN AKU!!!”

Tuan dan Nyonya bae menundukkan kepalanya, tak berani menatap Suji, “Sujiyaa…mianhae…”

“aku… aku ini Byul… bukan Suji…” Suji bangkit dari sofa dan berjalan menuju kamarnya.

“Sujiya…” panggil Tuan bae

“sekarang, aku hanya ingin kalian jujur dan menceritakan semua yang kalian tahu… jika kalian sudah siap menceritakan semua tentang anak kandung kalian, bae Suji, padaku… aku akan mendengarkan semuanya…”

******

Salon Classic Beauty di pagi yang cerah ini sangat ramai pengunjung. Banyak pelanggan wanita yang sedang menata rambutnya. Sambil menunggu giliran, mereka mengobrol dan bergosip tentang selebriti yang sedang popular saat ini. Seperti dua orang yang sedang menunggu giliran untuk dipotong rambutnya, satu diantara mereka memegang ponsel dan membuka sebuah artikel yang sedang hangat pagi ini.

Wanita pertama yang memiliki ponsel memekik setelah melihat dua buah foto yang ada di artikel, “Astaga!! Yang benar saja, Kim Soohyun terlibat cinta segitiga dengan CEO-nya sendiri?? Aigoo!!

Wanita kedua yang berambut panjang pun bertanya dengan heran, “Lho! Bukannya CEO Bae Suji dan produser Lee Jongsuk akan bertunangan tiga minggu lagi?”

“kudengar begitu… tapi kalau melihat artikel ini, kurasa pertunangan itu akan batal!” ujar wanita pertama dengan penuh keyakinan.

“wanita kaya raya seperti Bae Suji benar-benar tidak tahu malu yaa!” omel wanita kedua.

Wanita pertama pun menambahkan, “mungkin Lee Jongsuk kurang perhatian pada Bae Suji! Lee Jongsuk pasti malu sekali!”

“KALIAN BERDUA LEBIH MEMALUKAN!!” Lee Jieun berteriak dari belakang kedua wanita itu. Kedua wanita itu terkejut bukan kepalang begitu melihat adik kandung Lee Jongsuk mendamprat mereka.

“OH?? LEE JIEUN!! Kamu.. kamu…” keduanya tergagap dihadapan Jieun.

“KALAU KALIAN BERANI, HINA BAE SUJI DIDEPAN WAJAHNYA!!! JANGAN MENGGANGGU DI SALON INI!!! KKOJORAGO!!” Jieun memelototi kedua wanita itu.

Soojung datang melerai dengan wajah bingung, “nona Jieun! Tolong jangan berbuat kasar pada pelanggan salon kami!”

Jieun mendengus kesal, “Soojung-ah, sebagai putri dari pemilik Salon ini, aku minta tolong satu hal, TOLONG AJARI PELANGGANMU CARA MENUTUP MULUT DENGAN BENAR! BAU MULUT MEREKA BUSUK!!”

“Nona Jieun!!” Soojung menunduk penuh hormat kearah kedua pelanggannya untuk meminta maaf.

******

Tuan Bae Junyoung meneguk segelas kopi yang dihidangkan oleh pembantunya. Ia pun bertanya kepada pembantunya, “bibi, mana Suji? dia belum bangun?”

“Nona Suji sudah berangkat ke kantor dari jam enam pagi, tuan Bae…” jawab sang pembantu.

“nee?” tuan Bae Junyoung mengecek jam tangannya yang menunjukkan pukul delapan pagi, “apa Suji tidak menitipkan pesan padamu?”

“nona Suji hanya mengatakan akan pulang larut malam lagi hari ini…” jawab si pembantu.

“ahh… baiklah…” tuan Bae menyadari bahwa Suji masih marah karena masalah semalam.

“permisi tuan…” pamit si pembantu.

“yeobo…” Nyonya Bae baru saja selesai berdandan dan kini menemani suaminya sarapan.

“Jonguk-ah… kamu pasti lelah karena memikirkan Suji semalaman… minumlah teh apel ini dulu..” tuan Bae menyodorkan segelas teh apel kearah istrinya.

“yeobo, apa yang akan suji lakukan sekarang?… dia.. tidak akan meninggalkan kita lagi kan?… sejak kematian anakku satu-satunya, bae Suji, Byul sudah menggantikan perannya dengan baik… aku tak mau kehilangan dia, yeobo…” nyonya bae benar-benar merasa takut.

Tuan bae menyentuh tangan istrinya dengan lembut, “Jonguk-ah… kurasa saat ini yang terbaik adalah mempersiapkan diri menghadapi segalanya… kita tidak hanya membohongi Suji, tapi juga semua orang….”

“ah, seandainya lee jinhyuk tidak pulang ke korea…” nyonya Bae teringat pada rivalnya itu.

“kamu mencurigainya? Sudahlah Jonguk-ah… aku yakin lee jinhyuk pun belum tahu tentang kembalinya ingatan Suji… dia pun tak akan tega mengatakan yang sejujurnya pada Jongsuk…” jawab tuan Bae untuk menenangkan istrinya.

Nyonya Bae khawatir kepada calon menantunya, “Lee Jongsuk… apa dia akan membatalkan pertunangan?…”

Tuan Bae Junyoung mengangkat kedua bahunya dengan lemah. Matanya menatap foto keluarga saat Suji lulus kuliah yang terpajang rapi di dinding.

******

“ige mwoyaa?? Banyak sekali wartawan di depan Staragency!!” Sungyeol berdecak kesal melihat banyak juru pena yang ada di halaman depan kantor.

Kim Soohyun menoleh sekilas sebelum akhirnya dia ingat bahwa dirinya semalam berada di taman sungai Han dengan Suji dan Jongsuk, “yeol-ah, kamu sudah mengecek media online pagi ini?”

“belum.. wae?”

“kurasa, wartawan itu sudah menulis sesuatu tentangku…” jawab Soohyun sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya.

“benarkah? Jjakaman.. aku akan berusaha menerobos mereka sampai ke parkir basemen…”

Soohyun membuka website di ponselnya dan mengetik namanya di kata pencarian. Ia pun menemukan sebuah artikel yang baru dipos tadi pagi lengkap dengan dua buah foto dirinya dan bae Suji di taman Sungai Han semalam. Ia berdecak kesal saat membaca artikel yang menyebarkan gossip bahwa dirinya sedang terlibat cinta segitiga dengan CEO Staragency, Bae Suji.

Tepat saat Soohyun akan meninggalkan komentar di artikel itu, ponselnya berbunyi.

“Bae Suji…” gumam Soohyun sebelum mengangkat telepon dari bosnya.

“nee, Sujiya…”

“kamu sudah dikantor? Datanglah keruanganku… Soohyun-shi… ini tentang artikel itu…”

“arrasoyo…”

******

awhitepaper60

“moodku buruk sekali hari ini, dongwoo oppa!!” wajah Jieun merah padam didalam mobil van-nya yang sudah terparkir di depan kantor StarAgency.

“itu karena kamu marah-marah di salon Classic beauty tadi! Harusnya kamu diam saja… jangan ditanggapi!” sergah Dongwo sambil menatap Jieun.

Jieun memelototi Dongwo sambil berujar, “… jadi oppa mau aku diam saja saat mereka menghina jongsuk oppa??”

“tapi kamu kan tahu bahwa artikel itu bisa saja hanya tipuan, Jieunah!” bentak Dongwo.

Jieun mengelak, “aniya… itu Jongsuk oppa! Aku tahu dari jaket yang dia pake semalam… aku yang membelikannya…”

Soojung angkat bicara, “maaf nona Jieun, harusnya saya datang ke rumah nona untuk menata rambut tadi pagi..”

Jieun berdecak kesal, “dwaessooo…! Aku sudah terlanjur badmood, Soojungah!”

“mianhae…” Soojung menundukkan kepalanya.

“oppa, bisakah pemotretan poster drama ini ditunda? Bicaralah pada Jaehyun oppa…” rengek Jieun.

“aigoo! Jieunah… yang benar saja… lusa kan kita sudah harus ke gunung Taebaek untuk syuting… mana mungkin sutradara Jaehyun mau menundanya…” Dongwo tak ingin menanggapi rengekan Jieun.

“kalau begitu aku yang akan menelepon Jaehyun oppa…” ujar Jieun sambil membuka ponselnya.

Dongwo mencoba merebut ponsel Jieun, “Hajimaa! Jieunah!!”

Soojung mengambil ponsel Jieun dan berkata dengan tegas, “jebal, nona Jieun! Tolong bersikaplah professional!”

Jieun menatap Soojung dengan wajah kesal, “HAAH? Kamu menyuruhku bersikap professional?? Aku ini Lee Jieun!”

Soojung tergagap melihat Jieun yang semakin marah karena sikapnya, “ar..arra…”

“keuraee… akan aku buktikan kalau aku ini seorang idol professional!!! Neo babwaa!” ancam Jieun sambil merebut kembali ponselnya dari tangan Soojung.

******

“artikel tidak masuk akal itu membuat saham Stargency jeblok…” Suji membaca laporan saham pagi ini didepan Soohyun.

“Sujiya, kamu baik-baik saja? jangan paksakan dirimu…” Soohyun khawatir melihat wajah Suji yang tegang.

“na gwaenchana…” jawab Suji. ia pun menyodorkan kacamata hitam pada Soohyun, “gomawo, aku harus mengembalikan kacamata ini padamu…”

“Sujiya…” Soohyun merasa kecewa karena ia baru menyadari satu hal setelah menerima kacamata itu, Suji hanya menganggapnya sebagai teman dan rekan kerja, tidak lebih.

“aku akan mengadakan press konferensi nanti jam Sembilan pagi… kamu datanglah, Soohyun-shi… kita harus selesaikan ini secepatnya…” pinta Suji.

“produser Lee Jongsuk akan datang juga?” tanya Soohyun yang penasaran.

Suji mendesah berat, “aku… aku belum bisa menghubunginya hari ini…”

“nee?” Soohyun merasa iba melihat wajah Suji yang cemas.

******

Soojung baru saja keluar dari kamar mandi saat dirinya berpapasan dengan Myungsoo, “oh, soojung-ah…. Anyeong!”

“myung.. myungsoo…” Soojung tidak menyangka bahwa bertemu dengan Myungsoo dapat membuat jantungnya deg-degan.

“hari ini Staragency sibuk sekali ya… aku cemas pada Suji…” Myungsoo melihat banyak wartawan yang berusaha masuk kedalam kantor.

“karena artikel itu? Kurasa suji bertemu dengan soohyun untuk membicarakan tentang ingatan mereka juga semalam…”

Myungsoo mengangguk setuju, “tapi, Soojungah… kamu yakin Soohyun gak memiliki perasaan khusus ke Suji?”

“nee? Mana aku tahu… waee? Kamu cemburu? Kamu naksir juga sama Suji?” Soojung merasakan nyeri di dadanya saat menanyakannya.

Myungsoo mengerjapkan matanya untuk menghindari kegugupan, “hmm… itu… itu… mana mungkin kan Suji mau sama aku…”

“entahlah… nona Suji sepertinya hanya menganggap semua laki-laki itu teman biasa, ya kecuali produser Lee jongsuk…” Soojung mengangguk pasti.

Myungsoo terkejut mendengar ucapan Soojung, “darimana kamu tahu?”

Soojung tersenyum palsu karena ia tak menyangka Myungsoo mempercayai ucapannya, “aku cuma menebak… sudah ya, aku harus kembali ke ruangan pemotretan…”

“tunggu dulu Soojungah…” Myungsoo menahan tangan kanan Soojung.

Soojung terkejut dan menatap tangan Myungsoo yang menyentuhnya, “wae?”

“kamu sudah tahu mengenai nyonya Lee Jinri? Pemilik panti asuhan Haneuli…”

“a…arra…” jawab Soojung dengan terbata-bata.

“benarkah? Lalu, apa kamu tahu gimana orangnya?”

“myungsoo-ya, kamu mau bertemu ibuku, Jung Jiah? Ibuku dulu pernah bekerja sebagai pengasuh di Haneuli bersama nona Kim Soeun…”

“benarkah?…”

******

Dokter Jaerim mengajak istrinya Kim Soeun berjalan-jalan mengelilingi taman rumah sakit dengan kursi roda. Saat di taman, dokter Jaerim melihat Lee Jongsuk sedang duduk sendirian, “oh! Lee Jongsuk-shi!”

“dokter Song Jaerim… apa dokter sibuk? Aku tadi ke ruangan dokter, rupanya dokter disini…” ucap Jongsuk ramah.

“tidak… aku baru selesai mengantar Soeun jalan-jalan pagi… ada perlu apa kamu kemari?” tanya dokter jaerim pada Jongsuk.

Jongsuk mengumpulkan keberaniannya dan bertanya, “dok, apa yang terjadi pada Suji kemarin? Kenapa dia menangis setelah check up dengan dokter? Apa Suji sakit?”

“Jongsuk-shi… duduklah…” ajak Kim Soeun pada adik tirinya itu dengan sopan.

“terima kasih nona Soeun…” jawab Jongsuk, “aku benar-benar khawatir pada Suji karena semalaman wajahnya pucat sekali…”

“Jongsuk-shi, boleh aku bertanya satu hal?” tanya Soeun sambil menatap wajah Jongsuk yang diliputi kecemasan.

“silahkan nona Kim… apa itu?” Jongsuk tersenyum menatap Soeun.

“apa kamu sangat mencintai Bae Suji yang sekarang?”

Jongsuk tidak paham dengan maksud penulis novel Sky of Heaven ini, “nee? Maksudnya yang sekarang?”

“jawablah dulu, jongsuk-shi…” pinta Soeun dengan lembut.

“nona Kim Soeun… aku mencintai Bae Suji sejak kami sama-sama berusia dua belas tahun, sampai sekarang perasaan cinta ini belum pernah menghilang sedetikpun…”

Soeun tersenyum mendengar ucapan Jongsuk, “kalau begitu, tunggulah Suji yang menjelaskan semuanya…”

Jongsuk semakin tidak paham, “menjelaskan apa?”

Dokter jaerim menjelaskan, “semuanya… semua yang telah terjadi… cintamu untuk Suji akan diuji untuk menanggapi semua penjelasannya nanti…”

Jongsuk mengerutkan dahinya, “kenapa bukan kalian saja yang menjelaskannya padaku?”

Dokter Jaerim menggeleng mantap, “karena kamu mencintai bae suji yang sekarang… kami tak punya hak mencampuri urusan kalian….”

“Jongsuk-shi… percayalah pada bae suji…” ujar Kim Soeun sambil tersenyum ramah.

******

Jieun baru saja selesai mengganti pakaiannya saat dirinya melihat saingan beratnya berdiri dihadapannya, “neo?! Irene! Wae yeogiseo?”

Irene menunduk hormat dan menyapanya, “oh! Jieun unnie! Anyeonghasimnika? Aku bermain di drama Sky of Heaven juga seperti unnie… aku akan jadi saingan Jieun unnie di drama… aku dan Park Bogum oppa..”

Jieun mendengus kesal mendengar ucapan Irene, “neoo? Yang benar saja! Kemarin kamu bahkan gak hadir di acara script reading…”

Irene tersenyum penuh kebanggaan, “ahh, mian unnie… kemarin aku dan grupku Red Velvet ada schedule fanmeeting di Beijing…”

“Park Bogum juga main didrama ini?! Kamu yang mengajaknya ya?!” Jieun tak menyangka akan bertemu dengan mantan pacarnya selain Kim Myungsoo.

“nee… unnie… pacarku itu ikut ambil bagian dalam drama ini… bukankah ini menarik? Bogum oppa, Mantan pacar Jieun unnie, kini aku yang memilikinya…” jawab Irene dengan bangga.

Jieun tak habis pikir dengan Irene yang semakin berani menantangnya, “haah…! Kamu merasa terkenal ya?! kamu sekarang mulai pamer padaku tentang popularitas setelah albummu menang juara satu di acara music!”

Irene mengangguk dengan mantap, “tentu saja Jieun unnie, sejak unnie meninggalkan training di SM dan memilih Staragency, aku berlatih lebih keras untuk menyamai… ani, aku berlatih sampai berdarah untuk bisa mengalahkanmu, Jieun unnie!”

Jieun mendekatkan wajahnya kearah Irene dan berkata dengan nada sinis, “Waah! Irene, mulutmu tidak berubah ternyata… tetap saja busuk…”

“jieun unnie juga tidak berubah sedikitpun…” balas Irene yang tak mau kalah.

Jieun mulai naik pitam, “neoo…!!”

Ahn Jaehyun mengetuk pintu wardrobe dan melihat kedua aktrisnya sedang berbicara, “Jieunah! Irene! Ayo kita mulai pemotretannya!”

“nee, Jaehyun oppa!!” jawab Jieun dan Irene bersamaan sambil memasang senyum palsu mereka.

******

awhitepaper62

“oh! Suji-shi… ada apa kamu meneleponku?”

“direktur Shin, aku yakin anda sangat senang sekarang dengan artikel yang baru anak buah anda pos di media online mengenai diriku dengan kim soohyun…” ujar Suji yang berusaha dengan tenang menyelesaikan masalah artikel itu.

Direktur Shin tertawa senang dari seberang telepon, “kamu sudah membacanya? Mian! Kamu tahu sendiri kan, kami butuh berita yang bagus seperti ini untuk menarik pengiklan…”

“aku paham itu… tapi, tolong tulis revisi untuk artikel itu… anda tahu kan, Kim Soohyun adalah salah satu asset berharga di korea selatan! Sebagai hallyu star, dia adalah pembawa devisa terbesar untuk Negara ini! Anda mau menghancurkannya?” Suji berusaha mati-matian untuk tidak membentak pemilik media online itu dengan mengepalkan tangan kirinya.

“aigooo… mana mungkin aku berani melakukannya, Suji-shi…” jawab direktur Shin.

Suji pun menawarkan kesepakatan, “baiklah kalau begitu… anda rilis artikel revisi ini, dan aku akan mengirimkan uang tutup mulut ini untuk anda…”

Direktur Shin tertawa keras, “oke… apa saja untukmu, Suji-shi… gomawo…”

******

Jaehyun mengarahkan gaya empat pemain drama utamanya, “bagus! Pose sekali lagi! Yak! Lebih natural lagi, Jieun! Irene! Soohyun! Bogum!”

Begitu selesai, Jaehyun pun menyuruh keempatnya berkumpul untuk mengecek hasil foto, “oke sip! Kita break dulu lima belas menit! Kalian ganti baju dulu ya!”

Soojung menghampiri Jieun dengan membawa sebotol air putih, “nona Jieun, baju untuk pemotretan selanjutnya sudah saya rapikan, mari saya bantu memakainya!”

“jjakaman! Aku mau ke kamar mandi sebentar!” ujar Jieun sambil berlalu.

“oh, baiklah nona Jieun!” balas Soojung.

******

Lee Jongsuk memarkir mobilnya didepan sekolah smp Hanyang, tempat dirinya belajar bersama dengan Suji dulu. Ia masuk kedalam sekolah dan menyapa beberapa satpam yang mengenalnya. Jongsuk sering sekali ke smp Hanyang untuk menemui seseorang yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri, tempatnya menceritakan semua yang membebani pikirannya.

“Lee Jongsuk!” sapa seorang guru wanita yang sudah paruh baya namun masih terlihat cantik.

Jongsuk memberi hormat kepada mantan wali kelasnya itu, “seongsaenim… anyeonghasimnika? Anda terlihat awet muda, nyonya Han!”

“keurae? Aku harus tetap awet muda supaya kalian tidak melupakanku… ada apa kamu kemari? Aku khawatir saat kamu mengirim pesan padaku tadi…” guru Han menggandeng lengan Jongsuk dan berjalan beriringan.

“keunyang… aku rindu sekali saat anda mengajari kami kelas melukis… masa-masa smp dulu sangat menyenangkan…” ujar Jongsuk sambil mengamati beberapa murid sedang bermain sepak bola. Siswi-siswi duduk dipinggir lapangan dan bercengkerama dengan riang.

“ahh… kamu mau ke galeri seni? Aku masih menyimpan semua lukisan waktu kalian membuatnya untuk ujian akhir semester kelas tiga smp…” ajak guru Han.

“benarkah? Aku yakin lukisanku pasti yang paling buruk…”

“lukisan itu merefleksikan dirimu yang sebenarnya, Jongsuk-ah… jangan khawatir, tak ada standar khusus mana lukisan yang bagus atau buruk… semua berdasarkan selera orang yang melihat…” jawab guru Han sambil tersenyum.

Sesampainya di galeri lukisan sekolah, Jongsuk terperangah melihat banyaknya lukisan yang unik dan menarik karya siswa smp Hanyang dari tahun ke tahun. Ia pun berdiri didepan dinding utama yang dipajangi dua lukisan bunga, “oh? Ini kan, lukisan bunga krisan kuning… milik bae Suji kan? anda memajangnya di tempat yang strategis…”

“iya, lukisan Bae Suji adalah yang paling menarik diantara milik kalian karena terlihat realistis, aku memajang dua lukisannya sekaligus, yang satu adalah lukisan bunga krisan, yang satu lagi ia melukis bunga matahari… lihatlah! makanya aku memajangnya di tempat utama galeri seni sekolah untuk menunjukkan bahwa murid sekolah ini bisa menghasilkan karya yang semenarik ini…” jelas guru Han, “Suji apa kabar? Dia pasti sangat sibuk karena masalah artikel itu…”

“hmm… itu…” Jongsuk bingung tak tahu harus mulai darimana menceritakannya.

Guru han menepuk punggung Jongsuk dengan lembut, “aku tahu Jongsuk-ah… kamu sangatlah perhatian pada Suji sejak kalian sekolah bersama. Aku ingat sekali kalian itu sama sekali tak terpisahkan…”

“aku pasti jadi bahan pembicaraan kalian ya dulu…” canda Jongsuk.

“tentu saja… semua guru suka bergosip tentang muridnya, jongsukah…” guru Han menggandeng lengan jongsuk, “tenanglah jongsuk-ah, apapun masalahmu… aku sebagai mantan wali kelasmu berharap kamu dan suji bahagia…”

“terima kasih seongsaenim…” jawab Jongsuk sambil tersenyum ramah. Ia merasa sedikit lega karena bisa bicara dengan gurunya.

Guru han membalas senyum Jongsuk dan berujar, “aku yang harusnya berterima kasih kamu masih menganggapku sebagai pengganti ibumu… sering-seringlah datang kemari lagi… ibu senang sekali bisa mengobrol denganmu…”

“arrasoyo…”

******

awhitepaper39

Kim Yeon Woo – To be With You

Jieun baru saja keluar dari kamar mandi saat dia melihat Suji berjalan menuju lift. Dengan langkah cepat Jieun menarik tangan Suji dan membawanya ke ruang tangga darurat, “Ya, neo, Bae Suji!! aku mau bicara!”

Suji terkejut dengan tindakan adik Jongsuk ini, “Jieun-ah! Ada apa? apa pemotretannya berjalan lancar?”

Jieun meremas pergelangan tangan Suji dengan kasar, “jangan berlagak baik didepanku! Kamu bisa menipu orang lain, tapi aku tidak akan termakan tipuanmu!”
Suji melepaskan tangannya dari cengkeraman Jieun, “apa… maksudmu?”

“SUJI, kamu itu NYEBELIN!” hardik Jieun dengan mata melotot.

Suji mencoba memahami sikap Jieun, “hmm… aku tahu kamu pasti marah karena artikel tentang kim soohyun dan aku… aku paham…”

Jieun membantah Suji, “jangan sok tahu! aku marah karena kamu tega nyakitin jongsuk oppa…!”

Suji terperangah mendengar ucapan Jieun, “nee? Itu…”

Jieun menggelengkan kepalanya karena kesal, “…aku gak habis pikir kenapa semua pria diperusahaan ini termasuk oppaku, terlalu mencintaimu! Aku benar-benar membencimu!”

Suji mendesah pelan, ia sangat paham sekali bahwa suasana hati Jieun sedang tidak baik, “arraso…”

Jieun membentak Suji, “mwo? Kamu tahu apa, hah?! Jangan berlagak sebagai korban didepanku, Suji! kamu harus menyelesaikan masalah ini secepatnya dan membuat jongsuk oppa tersenyum lagi… asal kamu tahu, jongsuk oppa sejak semalam sama sekali gak tidur dan terus bekerja sampai matanya memerah.. aku yakin itu gara-gara kamu!!”

Suji mencoba menenangkan Jieun dengan menyentuh kedua bahu adik kekasihnya itu, “arra, tenanglah, jieunah. Aku sudah mengirim revisi ke media online yang memposting artikel itu… mereka akan segera merilisnya… aku juga akan mengadakan konferensi press…”

Jieun menjauhkan tangan Suji dari kedua bahunya, “Suji-shi, masalahnya bukan pada artikel!! Masalahnya adalah kenapa harus kamu yang bersama dengan Soohyun oppa?! Dan kenapa jongsuk oppa datang ke taman itu demi kamu??!” Jieun mendekatkan wajahnya ke telinga Suji dan mengancam, “Pikirkanlah! Apa setelah kejadian semalam kamu masih benar-benar pantas mencintai jongsuk oppaku atau nggak…!”

“Jieun-ah…” Suji berusaha memanggil Jieun yang sama sekali tidak peduli.

Suji menghela nafas berat, ia berusaha menahan airmatanya agar tidak tumpah. Perasaannya hari ini benar-benar kacau karena banyaknya masalah yang membebani pikirannya. Dengan langkah berat ia melangkah keluar dari ruang tangga darurat. Suji terkejut saat melihat Soohyun berdiri dihadapannya dengan wajah khawatir.

Myungsoo yang baru keluar dari lift terkejut melihat Suji dan Soohyun yang saling bertatapan didepan ruang tangga darurat.

Soojung yang sedang mencari perginya Jieun dari kamar mandi menghentikan langkahnya saat melihat Myungsoo yang sedang menyandarkan tubuhnya di pinggir lift. Soojung melongokkan kepalanya, ia membulatkan matanya melihat Suji dan Soohyun.

Tangan kanan Soohyun menyentuh pipi Suji yang basah karena airmata. Tangan kiri Soohyun mendekat ke tubuh Suji untuk memeluknya. Soohyun mengusap punggung Suji dengan lembut dan membiarkan Suji menangis dipelukannya.

Soojung memejam matanya, Myungsoo mengalihkan pandangannya dari Suji, Soohyun memeluk Suji dengan erat. Ketiganya terdiam disaat bersamaan dan ikut merasakan kesedihan yang ditanggung oleh Suji.

******

*******

awhitepaper38

heloo, author lagi naksir berat sama karakternya kim soohyun di producer, Baek Seungchan! ada yang nonton Producer juga???

Coba mbacanya sama ndengerin lagu rekomendasi dari aku ya~~~~

terima kasih ya untuk semua komen dan like^^ …

jangan lupa untuk meng-like dan komentar lagi ya~~~

gimana nih chapter 07 ini?? moga kalian puas yaaa!!!

see you next chapter!!!

38 responses to “A WHITE PAPER CHAPTER 07 [I TRY MY BEST…]

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s