Waiting For Nothing

image

Author : Laakimxo

Title : Waiting For Nothing

Main Cast :
Bae Suzy
Choi Minho
Krystal Jung

Other cast : Find it by yourself

Genre : Sad

Rating : Pg-17

Length : Oneshoot

Poster by : Analeeseu@ArtZone

Disclaimer : Ff ini murni milik author. Cast bukan milik auhtor. Mereka milik Tuhan, Orang tua dan agensi mereka. Author hanya memakai nama mereka untuk keperluan cerita.

Haiiii aku balik bawa ff oneshoot bergenre sad pertama aku:v maaf kalo ga nge feel yaa maklumin sj ini ff sad pertama:’v

Abis selesai baca jangan lupa komen dan like nya ya^^

oke cekidot~

WARNING : SAD GAGAL. TYPO BERTEBARAN.

Komen dan like wajib

Don’t Bash. Don’t like Don’t read

Don’t be plagiator

Happy Reading~

*********

Author Pov

Pagi yang cerah. Matahari menyinari seluruh pelosok kota Seoul dengan sinarnya yang sejuk. Burung berkicau menambah kesan manis pagi ini. Semua insan manusia mengawali pagi indah ini dengan senyuman yang terpantri di wajah mereka.

Lari pagi berkeliling sekitar lingkungan sambil menyapa orang-orang yang lewat. Ada pula yang masih bergelung di tempat tidurnya menyia-nyiakan pagi mereka bersama dengan semangat pagi mereka.

Walau begitu, lebih banyak yang menikmati suasana pagi dan tentunya bersama keluarga mereka.

Terkecuali salah satu anak wanita cantik dari Keluarga Bae ini. Ketika anggota keluarganya yang lain sibuk menikmati hangatnya mentari pagi, wanita cantik ini sibuk dalam pemikiran yang tiada ujungnya di kamar mewahnya. Sibuk dalam memikirkan kisah cintanya yang bisa dibilang miris.

Menunggu sesuatu yang tidak pasti memang menyakitkan. Yang pasti saja sudah sulit apalagi yang tidak pasti?

Bagi seorang Bae Suzy, menunggu adalah asupan sehari-harinya.

Menunggu dan menunggu.

Menunggu seorang pria pujaannya.

Yang bahkan telah menjadi milik orang lain.

Choi Minho.

*******

-Flashback-

“Suzy-ah!”

Seorang pria tampan bermata bulat seperti katak memanggil wanita cantik yang sedang berjalan di depannya. Namun yang dipanggil tetap meneruskan jalannya walau ia mendengar panggilan itu. Seperti menghindar.

Tapi, sang pria tak menyerah. Ia mengejar wanita itu dan berhenti tepat di depannya.

Suzy reflek menghentikan langkahnya dan mendongakan kepalanya menatap pria yang memanggilnya tadi.

“Ada apa sunbae?”

Pria yang dipanggil sunbae itu menyeringit.

“Eoh? Apa itu? Sunbae? Biasanya kau memanggilku Minho Oppa” protes Minho setengah merajuk

Suzy terkekeh kecil walau hatinya meringis.

“Waeyo? Kau kan kakak kelasku”

“Kau benar. Aku kelas 12 dan kau kelas 11. Tapi biasanya kau memanggilku oppa” protesnya lagi

“Akan terkesan memalukan apabila aku memanggilmu ‘oppa’, Sunbae”

“Yak! Apa maksudmu?”

“Ahahahaha aku hanya bercanda, oppa”

“Begitu lebih baik”

Obrolan ringan itu terus berlanjut. Bel pulang memang sudah berdering sejak tadi tapi mereka berdua terus melanjutkan obrolan tak berujung mereka hingga lupa waktu.

Inilah masa masa yang Suzy rindukan. Mengobrol hal yang tak penting hingga lupa waktu dan seakan tak ada hari esok. Tak ada yang menanggu moment mereka.

Tak ada yang menghancurkan hubungan mereka.

Hanya Suzy dan Minho. Dua sejoli yang selalu dianggap memiliki hubungan khusus oleh teman-teman mereka.

Suzy tentu tidak merasa keberatan dengan hal itu. Justru ia sangat senang. Itu berarti ia dan Minho memang sangat dekat.

Lain halnya dengan Minho. Jika Suzy hanya tersenyum malu menanggapinya, pria tampan ini mati matian mengelaknya. Ini tentu saja melukai perasaan Suzy. Namun Suzy tetap memakai topeng andalannya.

Pernah dengar Fake Smile?

Topeng itulah yang dipakai Suzy.

Tak ada yang tau hal itu.

Bahkan tak ada yang tau bahwa ada yang memendam rasa.

*******

Taman terlihat sepi hari ini. Hanya ada beberapa siswa yang berada disana.

Oh lihat.

Suzy yang menyendiri di bawah pohon sambil mendengarkan lagu dari earphone nya. Dengan novel tebal beratus-ratus halaman yang di abaikannya terletak begitu saja di sampingnya. Mata yang terpejam menikmati semilir angin lembut yang menerpanya. Benar-benar menenangkan.

“Hey Suzy, kau tau? Ada siswa baru di kelas Minho sunbae dan dia sangat cantik. Dan katanya, Minho sunbae terus memperhatikan wanita itu. Kau benar-benar tidak berpacaran dengan Minho sunbae eoh? Huh syukurlah aku masih memiliki kesempatan. Hahahaha”

Cerocosan yang dilontarkan teman sekelasnya tadi terus menari nari di pikirannya seakan-akan menyadarkannya bahwa Minho bukan miliknya. Bahwa ia dan Minho hanya sebatas teman. Tentu ia sangat terpuruk mendengarnya.

Sejak awal ia masuk ke sekolah ini hanya Minho seorang yang mau mendekatinya dan menerimanya sebagai teman.

Hanya karena ayahnya adalah seorang koruptor dan hal itu sudah tersebar luas maka orang orang menjauhinya. Hanya Minho lah yang mau berteman dengannya.

Ia begitu terlena dengan semua sikap lembut Minho terhadapnya hingga ia memberikan seluruh hatinya pada pria bermata katak itu. Dan ia begitu bodoh menyimpulkan semua sikap Minho kalau pria itu memiliki perasaan yang sama terhadapnya. Begitu idiot menyadari betapa percaya dirinya dia.

“Suzy-ah!”

Lagi-lagi pria itu memanggilnya. Selalu saja ia tidak bisa melarikan diri dari pria dengan sejuta pesona itu. Dimanapun ia berada pasti Minho bisa menemukannya.

Apa ini pertanda jodoh?

Oh ayolah Bae Suzy! Kau mulai ngelantur lagi! Sadarlah!

Suzy tetap pada posisinya walau menyadari Minho mendekat ke arahnya menutupi sinar matahari hingga bayangannya menerpa wajah natural Suzy.

Tanpa ia membuka matapun, ia tau.

Pria ini sedang tersenyum lebar seperti orang yang diterima cintanya.

Eh tunggu? Di terima?

“Bae Suzy, irreona!” Ujar Minho

“Ada apa sunbae?” Suzy mencoba bertanya walau dadanya terasa sesak

“Apa kau tau Krystal Jung?” Tanya Minho sumringah.

“Ah.. anak baru dikelasmu, eoh?” Tebak Suzy sambil memaksakan senyumnya

“Kau benar! Tadi aku mengajaknya jalan jalan minggu nanti, kau tau apa jawabannya?”

Suzy menggeleng. Namun ia tau pasti gadis bermarga Jung itu menerimanya.

Ia hanya mencoba memberikan Minho kesempatan untuk menceritakan kebahagiannya. Itu saja.

“Dia menerimanya!” Pekik Minho kesenangan

Tuh kan.

Suzy tersenyum.

“Chukke Sunbae” Ujar Suzy terdengar lemah.

Sebenarnya ia mati matian mencegah air matanya agar tidak keluar. Ia tidak tega membuat raut wajah senang Minho dengan raut wajah sedih.

Ia sangat menyayangi pria ini.

“Hei kenapa?” Tanya Minho khawatir

Oh Tuhan, Suzy benar benar merindukan perhatian pria ini.

Semenjak kedatangan wanita bermarga Jung itu, Minho lebih sering bersamanya. Suzy tak dapat merasakan perhatiannya lagi.

Ia merasa di buang.

“Gwencaha sunbae hahaha. Lalu apa perkembangan lainnya?” Tanya Suzy setelah dapat mengendalikan kesedihannya.

Minho tau ada yang salah dari wanita cantik di depannya. Namun ia berusaha menghilangkan pikirannya itu.

*******

Seharusnya Suzy tau ia tidak seharusnya berharap lebih pada Minho. Seharusnya ia menjaga perasaannya sama halnya seperti yang dilakukan Minho. Seharusnya ia tidak membiarkan perasaan ini semakin berkembang hingga ia menyerahkan seluruhnya pada pria itu.

Dan sekarang semua tinggal kata ‘Seharusnya’.

Penyesalan selalu datang terakhir dan itu fakta. Fakta yang harus diterima Suzy dengan kesadaran penuh yang dimilikinya.

Di sana. Di lapangan sekolah. Lapangan dipenuhi segerombolan siswa yang mengerubungi satu objek yang menarik perhatian. Dengan penasaran Suzy melangkah mendekati mereka.

Dan ingatkan Suzy untuk membenturkan kepalanya setelah ini.

Terlihat laki-laki yang ia puja sedang berlutut sambil memegang bunga mawar merah yang terlihat cantik sambil menatap intens wanita yang ada di depannya. Dengan senyum yang senantiasa terpantri di wajah nya dan keringat yang bercucuran akibat gugup atau cuaca yany panas ia berkata

“Krystal Jung, Wanna be mine?”

Seharusnya ia tau apa yang terjadi disini. Atau apakah Tuhan menyadarkannya agar melupakan pria ini?

Suara riuh memenuhi lapangan. Ada yang berteriak “Ayo terima!” Atau “Terima saja Krystal-ssi!” “Terima, terima” bahkan ada yang terang terangan menentangnya. Dan Suzy hanya diam sambil mencegah agar tidak ada satu tetespun air matanya.

Satu hal yang pasti. Ia berharap Krystal menolaknya.

“Of Course. I’m Yours.”

JEDEERRRR

Seperti tersambar petir di siang bolong. Ia tak menyangka 2 kalimat yang di lontarkan Krystal membuatnya hancur se hancur hancurnya. Tubuhnya menegang. Mata nya berkaca kaca. Air mata bisa keluar kapan saja. Mulutnya menganga tak percaya.

Seharusnya ia tahu bahwa Krystal akan menerimanya. Siapa yang akan menolak Minho?

‘Minho.. sekarang milik orang lain..‘, batinnya lirih

Semua orang yang mengerubungi tepuk tangan bahagia. Dapat dilihat Minho memeluk erat Krystal sambil tersenyum manis dan mulutnya bergerak mengucapkan kata “Terimakasih. Aku mencintaimu”

Minho pasti sangat bahagia, pikir Suzy

Dan ia pun terkejut ketika Minho menyadari kehadirannya dan menatapnya. Suzy menatap balik Minho dan tersenyum walau sulit lalu mengatakan “Selamat. Kau pantas bahagia.”. Minho tersenyum melihatnya dan mengacungkan jempol sebagai jawabannya.

Tak tahan. Suzy berlari menjauhi lapangan sambil terisak pedih. Tak ada yang menyadari kepergiannya karena memang tak ada yang peduli. Hanya Minho yang menatap lurus ke arahnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan.

‘Ada apa denganmu, Suzy-ah?’

Taman. Tujuan satu satunya adalah taman. Taman belakang sekolah sangat sepi. Cocok untuknya melampiaskan kesedihannya.

Dengan lemah ia menghampiri pohon yang rindang sambil menekukan kedua kakinya dan menenggelamkan kepalanya di sana. Punggungnya bergetar. Isakannya semakin lama semakin terdengar. Hatinya hancur seperti gelas yang di jatuhkan dari ketinggian yang sangat tinggi. Hancur berkeping-keping.

“Hiks.. hikss..”

“Seharusnya aku tidak usah hiks.. mengharapkannya.. hikss”

“Bae Suzy pabbo! Hikss..”

“Dia tidak pernah mencintaimu..hiks.. dia hanya kasihan padamu! Hikss..”

Tangannya tak henti hentinya memukul kepalanya sendiri. Menyalahi perasaannya. Mengutuk kebodohannya. Bahkan ia membenturkan kepalanya ke batang pohon di belakangnya.

Sakit memang. Tapi tidak sesakit yang ia rasakan sekarang. Hatinya sakit. Sangat.

“Eomma.. Appa.. hikss..”

-End of flashback-

********

Dan disinilah ia. Di pinggir sungai Han dan dibawah pohon sambil menatap kosong pemandangan yang ada di depannya.

Setelah tadi ia dengan sekuat tenaga bangun dari tidurnya, ia memutuskan pergi ke Sungai Han untuk menenangkan pikirannya dan juga hatinya. Seharusnya Sungai Han ramai bukan mengingat ini hari minggu? Tapi tidak. Di tempat yang Suzy tempati ini keadaan sepi. Hanya beberapa orang yang lewat sambil berlari.

Kenapa berlari?

Hujan. Akan turun hujan.

Meskipun cuaca pagi tadi sangat cerah namun sekejap mata berubah menjadi gelap dan mendung. Hujan pun segera turun. Tak ada yang mau bukan basah kuyup demi berjalan-jalan di sekitar sungai?

Keadaan inilah yang dipergunakan Suzy. Meskipun beresiko tersambar petir itu tak masalah. Yang penting ia hanya ingin ketenangan. Lagipula jika ia mati tak ada yang peduli bukan?

Suzy tertawa miris memikirkannya. Tentu saja tak ada yang peduli. Ayahnya di penjara, ibunya juga berubah semenjak saat itu dan pria yang ia cintai menjadi milik orang lain. Benar benar sempurna.

Jika ia mati mungkin akan mengurangi beban hidup orang-orang di sekitarnya.

Tapi ia tak akan melakukannya. Setidaknya izinkan ia mengakui perasaannya sebelum meninggalkan dunia ini.

******

Fajar menyingsing. Semua bangun dari tidur nyenyak mereka dan beraktifitas seperti biasa. Bagi pelajar tentu aktifitas pagi ini pergi ke sekolah untuk menuntut ilmu.

Suasana sekolah saat ini seperti biasa. Tak ada yang spesial atau berbeda.

Dengan gontai, Suzy berjalan menuju kelasnya. Tak memperdulikan tatapan sinis dari orang-orang disekitarnya. Pandangan lurus kedepan dengan muka datar sedatar papan triplek.

Biasanya sih pagi-pagi seperti ini ada sapaan atau gurauan dari dia. Tau siapa yang aku bilang dia?

Tapi sudahlah. Dia sudah menjadi milik orang lain.

Lagi-lagi Suzy tertawa miris. Kenapa akhir-akhir ini ia lebih sering tertawa miris? Sepertinya Minho berpengaruh banyak pada hidupnya.

Oke stop. Kita harus berhenti membicarakan pria itu. Minimalisirkan menyebut namanya.

“Bae Suzy!”

Suara itu. Suara yang sangat dirindukan Suzy. Sontak Suzy menghentikan langkahnya.

Namun sedetik kemudian, ia berjalan lagi dan kali ini langkahnya dipercepat. Berusaha menghindar.

Oh ayolah ia belum siap menemui Min.. eh pria itu untuk saat ini. Tidak dengan wajah yang sembab dan pucat.

“Yak! Suzy-ah!”

Pekikan Min.. Pria itu semakin membuatnya mempercepat langkah. Tentu pria itu tidak menyerah. Jika Suzy berjalan cepat maka ia berlari. Mencegat langkah Suzy dengan memblokir jalannya.

“Yak! Kau ini kenapa?” Tanya Minho

Oh cukup!

“Annyeong sunbae” sapa Suzy yang menghasilkan decakan remeh dari Minho

“Kau ini kenapa?” Tanya Minho lagi

“Gwenchana sunbae. Permisi aku harus memasuki kelasku” ucap Suzy sopan dan berniat melanjutkan perjalanannya.

Tidak semudah itu.

Minho mencekal tangan Suzy.

“Ada apa lagi, sunbae?”

“Bisakah kau lepaskan peganganmu padaku?” Tanya Suzy sambil menatap tangan kanannya yang dipegang erat oleh Minho

“Tidak sebelum kau menceritakan apa yang terjadi. Selama beberapa bulan akhir ini kau menjauhiku benar? Dan itu terjadi setelah aku dan Krystal resmi menjadi sepasang kekasih”

Skak mat!

Suzy diam. Minho menyadarinya. Minho mungkin tau segalanya. Tentang perasaan bodohnya.

Suzy menatap Minho dan tersenyum lembut.

“Itu hanya perasaanmu sunbae. Aku tidak menjauhimu. Bukankah kita.. teman?”

Oh teman. Suzy ingin berteriak ketika ia mengatakan ‘teman’ yang kenyataannya perasaan yang dimilikinya lebih dari teman. Rasanya ia ingin menangis saat ini juga.

“Teman? Kita lebih dari itu”

Bolehkah Suzy berharap?

Suzy memejamkan matanya menunggu kelanjutan dari kalimat Minho.

“Kita ini sahabat, Bae Suzy. Kau tau itukan?”

Sakit. Tentu sakit. Sahabat. Kita adalah sahabat.

Rasanya ia ingin sekali menghapus kata Sahabat dari dunia ini.

“Tunggu aku di taman. Seperti biasa. Nanti sepulang sekolah.”

“Aku harap kau mengatakan semuanya padaku.”

***********

Dengan idiotnya, Suzy menuruti permintaan berupa perintah dari Sunbae kesayangannya itu.

Ia sempat berfikir. Untuk apa dia kesini? Untuk apa dia menuruti ucapan Minho? Apa tujuan Minho menyuruhnya ke sini? Apa Minho mengetahui perasaannya?

Tak kunjung mendapat jawaban maka Suzy memutuskan untuk duduk di bawah pohon, tempat favorite nya. Dengan earphone yang seperti biasa bersarang di kedua telinganya dan segelas bubble tea rasa strawberry kesukaannya ia menunggu Minho.

5 menit

10 menit

15 menit

Ah sial! Sudah 15 menit Suzy menunggu tapi si pemeran utama pria dari cerita ini tak kunjung datang. Apa ia lupa dengan janji yang dibuatnya dan malah menghabiskan waktu dengan Krystal?

Tidak! Minho tak seperti itu! Minho pasti menepati janjinya. Ia hanya perlu menunggu sebentar lagi. Iya. Sebentar lagi.

Suzy memutuskan untuk mengirim pesan ke Minho. Semoga Minho membacanya.

To : Minho Sunbae

Sunbae, kau dimana? Ingatkah janjimu tadi pagi untuk menemuiku di taman sepulang sekolah ini?

Tak ada balasan. Hmmm mungkin Minho sedang dalam perjalanan ke sini. Ya semoga saja.

Baiklah menunggu beberapa menit tak masalah bukan?

Hari semakin sore tapi Suzy masih setia menunggu Minho. Tak ada orang satupun di sana. Hanya ada dirinya. Sendirian. Seperti biasa.

Menunggu seperti ini tidaklah asing lagi baginya. Biasanya ia bisa menunggu sesuatu yang lain yang lebih lama.

Tau apa yang ku maksud?

“Bae Suzy!”

Akhirnya setelah satu jam lebih Suzy menunggu, Minho datang juga. Perasaan Suzy menghangat. Ia belum melihat Minho, ia hanya mendengar suaranya. Tapi ia tau Minho ada di belakang pohon tempatnya bersandar.

“Suzy-ah..”

Lirihan Minho menyadarkan Suzy bahwa sang pria pujaannya tidak dalam keadaan baik. Reflek ia memutar tubuhnya dan terkejut.

Di sana, di depannya. Berdiri sang pangeran impian dengan wajah yang berantakan bercucuran air mata. Dengan tubuh yang bergetar menahan tangis ia berjalan menghampiri Suzy.

Terlihat sangat hancur. Suzy tak kuasa melihatnya. Siapa yang membuat Minho menjadi sehancur ini?

“Sunbae kau..”

Tidak. Suzy tak bisa melanjutkan kalimatnya. Sebelah tangan menutup mulutnya takut ia menganga berlebihan. Dengan langkah cepat, Suzy mendekat ke arah Minho dan memeluknya.

Terasa hangat tapi ini bukan saatnya untuk terlena.

“Suzy-ah maafkan aku..”

Ucapan Minho kepadanya membuatnya megerutkan dahinya tak mengerti.

“Untuk apa, Sunbae?” Tanya Suzy

“Aku tau semuanya..”

Deg

Apa ini? Bukankah tujuan mereka kesini hanya membahas mengapa Suzy menjauhi Minho? Apa sudah berubah menjadi pertemuan kejujuran?

“A..Apa?”

Apa Minho tau tentang perasaannya?

“Aku tau mengenai alasanmu menjauhiku..”

“Aku tau alasan mengapa kau sering murung belakangan ini..”

“Aku tau alasanmu menangis..”

“Itu semua karena kau mencintaiku. Benar?”

DEG

Suzy menegang dalam pelukan Minho. Ia tak menyangka Minho mengetahui sebanyak itu. Alhasil, Suzy bungkam. Ia tak tau harus mengatakan apa.

“Maafkan aku yang tidak menyadarinya, Bae Suzy”

Minho mengeratkan pelukannya membuat detak jantung Suzy semakin tidak terkendali. Wajahnya memerah menahan malu.

“Bahkan aku mendengar jantungmu yang berdetak keras memanggil namaku..”

Memalukan!! Ini benar-benar memalukan! Minho mendengar detak jantung sialan ini.

“Seharusnya aku tak menyingkirkan perasaan ini..”

“Aku mencintaimu, Bae Suzy”

Deg

Adakah yang lebih membahagiakan dari ini?

Air mata siap keluar kapan saja dari kelopak mata Suzy. Sudah menggenang bak bendungan yang terisi penuh. Bukan ini bukan air mata kesedihan.

Ini air mata kebahagian

Suatu pengakuan yang mengejutkan. Minho mencintainya! Minho memiliki perasaan yang sama dengannya!

Setelah sekian lama menunggu, akhirnya pria impiannya memiliki perasaan yang sama dengannya. Seperti mimpinya setiap malam.

“Dan aku ingin kau menjadi milikku”

**********

Bisakah ia merasakan kebahagian ini sedikit lebih lama? Apa ada larangan anak dari seorang koruptor untuk bahagia?

Baru saja ia merasakan yang namanya bahagia namun secepat itu pula ia kehilangannya. Apalagi kehilangan dengan cara yang menyakitkan seperti itu.

******

Flashback

“Dan aku ingin kau menjadi milikku”

Inilah yang disebut kebahagian. Inilah impiannya. Inilah mimpinya.

Menunggu Minho memintanya menjadi miliknya adalah sesuatu yang sangat menyakitkan namun sangat indah.

Lihatlah sekarang! Minho mengatakannya. Minho mewujudkan mimpinya. Mimpi terbesar seorang Bae Suzy. Mendapatkan kebahagiaan dan sumber kebahagiaannya adalah Minho sendiri.

Siapa yang tidak senang mendengarnya?

“Be.. benarkah itu sunbae?” Tanya Suzy sambil menahan isakannya.

Minho menangkup wajah cantik Suzy dan menatap Suzy tepat di matanya.

Lalu tersenyum manis.

“Tentu saja Suzy-ah. Tentu saja”

“Hiks Hiks..”

Lepas sudah tangisan Suzy. Air mata jatuh dengan deras dari mata indahnya. Wajahnya memerah dan tubuhnya bergetar karena isakannya.

“Wae? Kenapa menangis?” Tanya Minho sambil menghapus jejak air mata Suzy

“Hikss.. aku menangis karena bahagia sunbae hikss”

“Hahahahahaha.. aku begitu berarti untukmu eoh?”

“Sunbae! Hiks..”

“Ahahahaha”

Bisakah kebahagiaan ini abadi?

“Sudah selesai bersenang-senangnya?”

Suara asing mengejutkan mereka. Dan Minho lah yang paling terkejut.

“Kr..Krystal?”

Sepertinya kebahagian abadi itu tidak ada ya?

Oh astaga! Kenapa kita bisa melupakan Krystal?! Tentu saja wanita itu masih berstatus kekasih Minho bukan?

“Annyeonghaseyo Krystal sunbae” sapa Suzy sambil membungkukan tubuhnya

“Tak usah bersikap sopan padaku jika dibelakangku kau merebut kekasihku!!” Bentak Krystal marah.

“Ti..tidak seperti itu sunbae” cicit Suzy

Krystal tertawa meremehkan. Lalu ia berjalan mendekati Minho dan Suzy.

“Chagi ini tidak seperti yang kau pikirkan!” Ujar Minho tegas

Tunggu.

Chagi?

“Aku tau.” Jawab Krystal singkat lalu kembali menatap Suzy. “Bisa kau jelaskan apa maksudmu di hadapan kami, Minho-ya?”

Tubuh Minho menegang. Suzy mendongkan kepalanya menatap Krystal dengan pandangan bertanya.

“Apa maksudmu sunbae?” Tanya Suzy kepada Krystal

“Kita akan dengarkan penjelasan langsung dari Minho, Suzy-ssi” jawab Krystal dingin.

Dan Suzy pun tak dapat menahan tangisnya setelah mendengar penjelasan Minho.

End of flashback

******

At Incheon Airport

Korea menyimpan berbagai kenangan. Sangat banyak kenangan hingga ia pun harus meninggalkan kenangan kenangan itu.

Kenangan saat ia dan keluarganya menghabiskan waktu bersama dengan uang halal mereka. Kenangan saat ayahnya selalu menjadi orang terhormat di matanya. Kenangan saat ayahnya kehilangan harga dirinya. Kenangan saat ia dikucilkan. Kenangan saat ia kehilangan kelurga bahagiannya. Kenangan akan sosok cinta pertamanya dan sebagainya.

Sudah di putuskan. Ia akan meninggalkan korea demi masa depan dan harga dirinya. Walaupun itu harus meninggalkan cintanya.

Ia akan tinggal dengan pamannya di sana dan memulai hidup baru. Membuka lembaran baru dan membakar lembaran yang lama.

Ia akan menjadi sosok Bae Suzy yang lain disana. Sosok Bae Suzy yang dipuja orang, yang dihormati orang dan dihargai orang. Sosok Bae Suzy yang tidak dapat ditindas dengan mudah. Sosok Bae Suzy yang tidak lemah. Dan sosok Bae Suzy yang tak mengenal cinta.

Kegagalan pada cinta pertamanya mempengaruhi segala aspek kehidupannya. Itulah remaja. Dan Suzy menyesali itu.

Ia akan merubah segalanya. Menjadi lebih baik.

Selamat tinggal korea

Selamat tinggal.. Minho-ya

End

Epilog

“Annyeonghaseyo Minho oppa. Ini aku Bae Suzy, orang yang mencintaimu. Jika kau mendengar pesan suara ini, artinya aku sudah tidak ada di korea. Aku pergi jauh ke tempat dimana kau tidak bisa menemukanku. Kau sudah tidak perlu khawatir aku akan mengganggumu, terutama hubunganmu.

Aku hanya ingin meminta maaf kepadamu jika selama ini aku merepotkan dan maafkan aku karena sudah lancang mencintaimu. Kau boleh memakiku kapan saja, oppa. Maaf karena memberatkanmu dengan air mata bodohku. Maafkan aku karena memberatkanmu dengan perasaanku.

Apa kau tau aku memiliki penyakit hati? Tentu saja tidak. Aku merahasiakannya darimu hehe.

Terimakasih sudah ingin menjadi sahabatku. Kita bersahabat bukan? Astaga sahabat. Hhh aku benci kata-kata sahabat.

Maaf pesan suara ini terlalu panjang. Intinya maafkan aku dan terimakasih.
Selamat tinggal Minho oppa. Semoga kau selalu bahagia.”

Pip

Oh iya apa kalian penasaran apa yang dikatakan Minho saat itu?

“Emm.. ituu.. maafkan aku Suzy-ah. Ini tidak benar. Maksudku, aku tidak benar-benar mencintaimu. Aku hanya emm.. maaf aku hanya menjadikanmu taruhan dengan teman-temanku. Maafkan aku. Dan jangan pernah berfikir aku mencintaimu. Aku hanya mencintai Krystal, kekasihku.”

Bisa bayangkan rasa sakit yang di alami Suzy?

“I’m waiting for your love..”

“But it feels like i’m waiting for nothing..”

Totally End!!

HUAAAA MAAF YA KALO GA DAPET FEEL NYA-,_-

Ini aku bikin lama banget, lamaa banget. Abisnya aku susah bikin suasana sad.

Maklumi ya ff sad pertama aku:”v jangan marah ya:”v

Maaf banyak typo:3

Sudah pernah di post di blog pribadi. Click it!

Okeee RCL yaaaaaaa muah

Rcl wajib!-_-

13 responses to “Waiting For Nothing

  1. aaaaaaa jahat bangett minhoo oppa thor i neeed squel buat minho oppa menyesal dgn menyandingkan suzy sama luhan yg notabene adalah anak orng kaya, cerdas,dan tampan serta suzy yg juga menjadi sukses dan semuh dari penyakitnya😀

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s