[Freelance] It Must Be Love Chapter 6

Title : It Must Be Love | Author : @reniilubis| Genre :  Drama, Romance | Rating : Teen | Main Cast : Kim Myungsoo, Bae Suzy

Disclaimer: 

All casts are belong to their self and God

Poster by        : rosaliaaocha@ochadreamstories

Happy Reading^^

-Flashback-

“Saranghae~”

“Mianhae. Aku tidak bisa membalas cintamu, Jongin-ah. Jeongmal mianhae.” ucap Suzy dengan suara bergetar sambil menahan air matanya.

“Tapi kenapa?” tanya namja yang bernama Jongin itu kepada Suzy sambil menggenggam tangan Suzy erat.

“Aku sudah dijodohkan dengan orang lain.” Akhirnya air mata Suzy pun jatuh membasahi pipinya tanpa bisa ia tahan lagi.

“Tapi aku benar-benar sangat mencintaimu, Suzy-ya. Bahkan aku bisa gila bila satu hari saja tidak bertemu denganmu.”

“Sebaiknya kau mencari yeoja lain yang lebih baik dariku.” balas Suzy sambil perlahan-lahan melepaskan genggaman tangan Jongin.

“Jadi….. kau akan meninggalkanku?”

“Mianhae, jeongmal mianhae…..” kemudian Suzy berlari meninggalkan Jongin yang kini sedang menatap kepergian Suzy dengan tatapan kesedihan. Namun, tak lama kemudian ia menyeringai lebar sambil berujar.

“Kita lihat saja nanti. Sampai bertemu lagi, Baby~ Kau tak akan pernah bisa lepas dari genggamanku.”

-Flashback End-

“Hosh…hosh..hoshh….” Suzy menghirup nafas dalam saat merasa paru-parunya  membutuhkan banyak oksigen. Ia kemudian jatuh terduduk di lantai masih dengan air mata deras mengalir di pipinya.

“Ternyata tidak buruk.” ucap namja itu dingin, kemudian berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Suzy yang sedang terduduk di lantai.

“J-Jongin-ah…. k-kau….”

“Oh ya, perkenalkan namaku Kai.” potongnya cepat, kemudian tangannya terulur bermaksud menghapus air mata Suzy yang masih mengalir, namun dengan cepat di tepis oleh Suzy secara kasar.

“Jangan sentuh aku!” teriak Suzy.

“Kau tidak merindukanku, hm? Kau tidak banyak berubah ternyata. Dan oh ya, mana namja yang telah dijodohkan denganmu itu? Aku ingin bertemu dengannya.” katanya dengan nada meremehkan.

“Itu bukan urusanmu!” seru Suzy dengan suara keras. Ia sama sekali tidak mempunyai tenaga untuk bangkit dari duduknya. Hanya menunduk, sesekali menggigit bibirnya sendiri berusaha menahan air matanya agar tidak menetes lagi.

“Oh.. jadi begitu, ya~ hmm…” kali ini Jongin mengelus pucuk kepala Suzy, namun lagi-lagi Suzy menepis tangan itu secara kasar.

“KU BILANG JANGAN SENTUH AKU!” teriak Suzy sekuat tenaganya. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnyapun menetes juga.

“Kau berani berteriak di hadapanku, hm?” Jongin seketika menekan kedua rahang Suzy kemudian mendongakkan kepala Suzy untuk melihatnya secara paksa. Kemudian perlahan-lahan ia mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Suzy, bermaksud untuk menciumnya sekali lagi.

“Yaa! Lepaskan dia!”

Belum sempat Jongin menempelkan bibirnya ke bibir Suzy, secara spontan ia langsung menolehkan kepalanya ke arah sumber suara, yang menurutnya telah merusak moment indahnya dengan Suzy. Ia kemudian melepaskan tangannya dari pipi Suzy, lalu bangkit berdiri menghadap ke sumber suara sambil memandang remeh orang di hadapannya itu.

“Cih! Kau siapa, hmm? Apa kau yang bernama Kim Myungsoo?” tanyanya dengan seringaian lebar menghiasi wajahnya.

“Perbuatanmu sungguh keterlaluan.” balas namja itu dengan suara lantang.

“Sial!” desisnya. Lalu ia kembali berjongkok di hadapan Suzy dan mengelus pelan kepala Suzy dan berkata, “Sepertinya sampai disini saja dulu. Orang itu benar-benar mengganggu. Sampai bertemu lagi, baby… aku akan menemuimu lagi nanti. Saranghae~” kemudian ia mencium kepala Suzy dan melenggang pergi dengan tangan masuk ke dalam saku celananya.

**********

“Apa kau baik-baik saja?”

Seketika Suzy menoleh ke samping kirinya saat menyadari seseorang sedang bertanya kepadanya. Kemudian ia berusaha tersenyum untuk menanggapi namja itu bahwa ia baik-baik saja.

“Ah, ya! Perkenalkan namaku Choi Minho.” ucapnya memperkenalkan diri.

“Namaku Suzy.” balas Suzy sambil tetap tersenyum.

“Hmm… margamu?”

“Ah, ne? Oh ya, Kim Suzy.” balasnya.

“Mau makan siang bersamaku?” tanya Minho penuh harap sambil menunduk sedikit untuk melihat wajah Suzy yang masih tertunduk dalam disampingnya.

“Ah, tidak. Terima kasih.” jawab Suzy mendongakkan kepalanya menatap Minho sambil tersenyum manis.

Tak beberapa jauh dari tempat Suzy dan Minho duduk, tampak Myungsoo lewat bersama teman-temannya di salah satu koridor kampus. Matanya tepat menatap sinis Suzy yang kini sedang tersenyum kepada namja di hadapannya itu. Salah satu ujung bibirnya terangkat, dan ia sadar ada yang berbeda dari dirinya saat melihat Suzy sedang bersama namja lain selain dirinya.

*

“Gomawoyo buat semua yang telah kau lakukan padaku hari ini, Minho-ssi.” ucap Suzy tulus kepada Minho saat mereka sedang berjalan menuju halte bis di dekat kampus mereka.

“Ah, tidak perlu mengucapkan terima kasih. Sebaiknya kau panggil aku cukup dengan Minho saja. Tidak usah terlalu formal.” ujar Minho gugup.

Jujur saja, iya sudah terlanjur jatuh hati kepada Suzy sejak pertama kali ia melihat wajah Suzy. Apakah ini yang dinamakan dengan love at first sight? Ah, entahlah. Tapi perasaan ini membuatnya merasa nyaman.

Minho dan Suzy duduk berdampingan di kursi halte yang terlihat sepi karna hari sudah menjelang sore.

“Mau ku antar pulang? Kebetulan aku membawa mobil.” tawar Minho kepada Suzy.

“Tidak perlu repot-repot. Aku sedang menunggu jemputan.”

“Baiklah, aku akan menemanimu sampai jemputanmu datang.” ujar Minho santai sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.

“Tidak perlu, Minho-ya. Sebentar lagi jemputanku pasti akan datang. Sebaiknya kau pulang duluan saja.” tolak Suzy lembut. Dia berharap agar Minho segera pulang.

“Oh, baiklah kalau begitu. Aku pulang duluan. Kau hati hati, ne?” ucap Minho sambil berdiri, lalu perlahan berjalan meninggalkan Suzy dan menuju ke area parkiran kampus.

Suzy menghela nafas sejenak, lalu melihat jam yang melingkar di tangan kirinya.

“Sudah hampir gelap. Apa Myungsoo belum keluar dari kelas sampai sesore ini?” tanyanya entah kepada siapa. Ia menolehkan pandangannya ke arah kampus, berharap ia dapat melihat namja itu atau bahkan mobilnya. Suzy kemudian mengeluarkan handphone dari dalam tasnya, dan menemukan bahwa handphonenya telah mati total.

‘Ah, sial!’ gumamnya dalam hati.

Ia mulai panik,  karena hari memang benar-benar sudah gelap dan beberapa lampu jalan sudah mulai dinyalakan. Suzy tetap menolehkan kepalanya ke arah kampus dengan harap-harap cemas berharap ia segera melihat Myungsoo dan segera pergi dari tempat ini. Jujur saja, halte yang sedang ia tempati ini benar-benar sepi dan itu tentu saja membuatnya merasa takut.

“Apa Myungsoo sudah pulang duluan dan meninggalkanku? Ah, iya. Tadi pagi dia tidak mengatakan akan pulang bersama dan menjemputku disini. Dasar bodoh!” Suzy memukul-mukul kepalanya sendiri merutuki kebodohannya. Salahkan dirinya kenapa tadi pagi ia tidak bertanya pada Myungsoo mengenai hal itu. Dan sekarang ia tidak tahu harus bagaimana lagi. Ia sama sekali tidak tahu jalan pulang, dan handphonenya mati tentu saja tidak bisa menghubungi siapa pun. Entah sejak kapan cuaca malam ini terasa semakin dingin, dan itu membuat suasana semakin mencekam saja. Suzy dengan perlahan memperhatikan sekelilingnya dengan seksama, takut bila ada seseorang yang akan berbuat jahat kepadanya secara tiba-tiba. Ia pun membenarkan posisi duduknya senyaman mungkin, dan menyandarkan kepalanya di salah satu tiang besi yang ada di sampingnya. Suzy memasukkan tangannya ke dalam sakunya berusaha mendapatkan kehangatan walaupun tidak banyak membantu, namun dapat mengurangi sedikit rasa dingin yang semakin menusuk kulit.

**********

Ini sudah yang kesekian kalinya Myungsoo memperhatikan jam dinding. Sesekali ia pun melihat handphonenya berharap yeoja itu menghubunginya.

“Aish! Kemana anak itu?” gumam Myungsoo pelan. “Menyebalkan” lanjutnya.

Sebenarnya, ia ingin sekali menghubungi gadis itu, tapi sialnya ia tidak memiliki nomor contact-nya di hanphonenya. Ia berencana akan meminta nomornya kepada eommanya, tapi diurungkannya niatnya itu. Ia tahu pasti eommanya akan memarahinya panjang lebar, kenapa sampai saat ini Myungsoo belum menyimpan nomor menantu –calon– nya itu. Apa ia minta saja pada Sungjong? Itu sama saja, karena ia yakin Sungjong akan mengadu pada eommanya dan ia akan dimarahi habis-habisan nantinya. Ia tidak mau itu terjadi pada dirinya. Setelah sudah hampir satu jam ia berpikir, dengan secepat kilat ia mengambil kunci mobilnya yang terletak di atas meja, mengenakan jaket, lalu bergegas keluar rumah.

*

Beberapa meter dari halte bis di dekat kampusnya, Myungsoo memperlambat laju mobilnya. Dan secara tiba-tiba ia melajukan mobilnya dengan cepat, dan tepat berhenti di depan halte tersebut dimana ia melihat seorang gadis sedang tidur terlelap di sana. Ia menurunkan kaca mobilnya, memperhatikan Suzy dengan seksama. Beberapa detik kemudian, Myungsoo turun dari mobilnya dan menghampiri Suzy yang masih tertidur. Ia berdiri tepat di hadapan Suzy, lalu mengulurkan tangannya untuk mengelus kepala gadis itu pelan. Myungsoo kemudian duduk di sebelah Suzy, lalu dengan gerakan sepelan mungkin ia menarik kepala Suzy yang bersandar di tiang halte dan meletakkannya di bahunya. Ia berpikir lebih baik kepala Suzy bersandar di bahunya daripada bersandar di tiang besi. Myungsoo mengelus-elus kepala Suzy yang ada di bahunya saat ini, dan perlahan-lahan mengecup pucuk kepala Suzy lembut. Ia menundukkan kepalanya sedikit untuk melihat wajah Suzy yang masih tertidur pulas di bahunya. Myungsoo tersenyum tipis. Entahlah, ada sesuatu yang membuat perasaannya nyaman saat bersama gadis ini.

Hingga hampir setengah jam lamanya, akhirnya Suzy sudah mulai terbangun. Myungsoo yang menyadari ada gerakan yang berasal dari Suzy, segera menolehkan tatapannya kepada Suzy. Perlahan-lahan, Suzy membuka matanya lalu menegakkan posisi duduknya. Beberapa detik kemudian, Suzy terlonjak kaget saat menyadari ada Myungsoo di sampingnya.

“Myungsoo-ya, sejak kapan kau ada disini?” kepulan uap putih keluar dari dalam mulut Suzy saat ia berbicara.

“Kenapa kau tidak menghubungiku, hm?” bukannya menjawab pertanyaan Suzy, Myungsoo malah balik bertanya.

“M-mianhae… ponselku ku mati.” ucap Suzy pelan.

Beberapa saat kemudian, Myungsoo melepas jaketnya lalu dengan cepat sudah meletakkan jaket itu di tubuh Suzy.

“Sebaiknya kita pulang.” dengan nada datar Myungsoo berbicara, lalu berjalan duluan menuju mobil dan masuk ke dalamnya.

Suzy pun segera mengikuti langkah Myungsoo dan dengan berlari-lari kecil menuju mobil. Setelah Suzy masuk dan duduk, Myungsoo menyalakan mesin mobilnya lalu menoleh ke arah Suzy. Suzy yang merasa diperhatikan Myungsoo pun memberanikan diri untuk bertanya.

“Myungsoo-ya, ada apa? Kenapa melihatiku seperti itu?” tanyanya gugup.

Myungsoo yang masih memperhatikan Suzy pun dengan perlahan-lahan mencondongkan tubuhnya mendekati Suzy, wajah Myungsoo semakin lama semakin mendekat ke wajah Suzy. Suzy yang tidak mengerti apa yang dilakukan Myungsoo pun semakin merapatkan kepalanya ke sandaran kursi. Wajah mereka sangat dekat, hanya berjarak 2 centimeter saja. Suzy yang semakin gugup pun sontak memejamkan matanya kuat, takut memikirkan apa yang akan dilakukan Myungsoo pada dirinya. Hingga beberapa detik setelah Suzy memejamkan matanya-

Srekkk

Sebuah suara tertangkap oleh telinga Suzy. Ia sontak membuka matanya, lalu melihat ke arah Myungsoo yang sedang memakaikan sabuk pengaman Suzy. Suzy yang merasa sangat malu, sesegera mungkin ia mengalihkan wajahnya ke luar jendela. Sangat jelas terlihat bahwa ia luar biasa malu hingga wajahnya sudah merah merona. Bagaimana mungkin ia berpikiran bahwa Myungsoo akan menciummya?

‘Apa yang ku pikirkan? Aish!’ kesalnya dalam hati.

“Kau kenapa?” tanya Myungsoo tiba-tiba dengan suara datarnya.

“E-eh… aku tidak apa-apa. Hanya mengantuk saja.” jawab Suzy gugup tanpa benar-benar menatap Myungsoo.

Myungsoo menyalakan mesin mobilnya, kemudian melaju dengan kecepatan normal. Setengah mati ia menahan diri agar tidak tertawa terbahak-bahak hingga perutnya sakit menahan tawa. Tentu saja adegan tadi sudah direncanakan Myungsoo sebelumnya untuk mengerjai Suzy. Wajah Suzy tadi lucu menurutnya, hingga ia ingin tertawa, namun ia tahan. Ia kemudian menyalakan tape, untuk mencegah tawanya yang siap meledak kapan saja.

Di suatu tempat tak jauh dari halte tempat Suzy tertidur tadi, tampak seorang pria berdiri sambil tersenyum sinis.

“Tunggu kejutan dariku…” katanya dengan nada dingin.

-Skip Time-

 

Keesokan harinya di kampus, tidak sengaja Minho bertemu dengan Suzy di koridor.

“Suzy!” teriaknya memanggil Suzy.

Suzy yang merasa namanya di panggil segera menoleh ke arah sumber suara. Kemudia ia tersenyum saat melihat Minho sedang berjalan ke arahnya.

“Senang bisa bertemu denganmu lagi.” kata Minho saat ia sudah berada tepat di hadapan Suzy sambil tersenyum lebar.

“Kau mau kemana?” tanya Minho.

“Aku berniat akan pergi ke kantin.”

“Kalau begitu, ayo makan bersama. Kebetulan aku juga sudah lapar.” kata Minho, lalu berjalan duluan sambil memberi kode pada Suzy agar segera mengikuti langkahnya.

Suzy dengan senang hati menerima ajakan Minho. Ia sangat senang akhirnya ia bisa mendapatkan teman di hari keduanya berada di kampus.

Setelah mereka sampai di kantin, Minho melihat seisi kantin, mencoba mencari meja yang kosong yang bisa mereka tempati. Minho menemukan satu meja kosong di sudut kantin, lalu mengajak Suzy.

“Kau mau pesan apa?” tanya Minho tiba-tiba sambil memasukkan handphone ke dalam tasnya.

“Aku sama saja seperti yang kau pesan.” kata Suzy sambil melihat-lihat ke sekitar kantin.

“Baiklah. Kau tunggu disini sebentar, ne? Aku akan memesan ke sana.” Minho bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menjauhi tempat Suzy berada.

Suzy sedang asyik memainkan game di handphonenya saat tiba-tiba seseorang mencengkram pergelangan tangannya dengan kuat, lalu menarik Suzy dan membawanya keluar dari kantin. Suzy sangat tahu siapa namja yang sedang menariknya ini. Kim Jongin.

“Yaa!” teriak Suzy. “Ya! Lepaskan aku! Sebenarnya apa mau mu?” tanya Suzy sambil berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Jongin.

“Sebaiknya kau diam, dan ikuti aku.” katanya datar.

“Lepaskan aku!” teriak Suzy lagi, namun sama sekali tidak dihiraukan oleh Jongin. Ia terus menarik tangan Suzy, tidak peduli dengan orang-orang yang melihat mereka.

Suzy yang memiliki tenaga yang tidak cukup kuat untuk melawan Jongin, hanya pasrah saja saat namja itu menariknya dengan paksa. Sesekali Suzy meronta-ronta sambil menarik-narik tangannya agar terlepas, namun usahanya sia-sia.

Di tempat lain, Myungsoo tanpa sengaja melihat Suzy sedang dibawa paksa oleh namja asing. Myungsoo yang saat itu sedang berada di lantai 2, dapat melihat dengan jelas adegan yang terjadi dilantai 1 itu. Secara spontan, ia segera melangkah cepat menuruni tangga dengan sesekali tatapannya fokus pada Suzy, takut akan kehilangan jejak mereka. Dengan tergesa-gesa, saat ia sudah sampai di lantai 1, ia kembali melihat ke arah Suzy. Namun ia tidak melihat Suzy lagi. Dengan langkah lebar-lebar Myungsoo menyusuri jalan tempat ia melihat Suzy tadi. Tetap saja ia tidak menemukan gadis itu.

Ia terus berjalan dengan menolehkan kepala ke kanan dan ke kiri, berharap ia dapat menemukan Suzy. Tepat saat ia sampai di sebuah belokan, ekor matanya menangkap sosok Suzy yang sedang berlari menaiki sebuah tangga menuju lantai 2. Tak beberapa jauh di belakang Suzy, Myungsoo dapat melihat seorang namja yang berjalan dengan cepat namun pasti sedang mengejar Suzy. Myungsoo yakin pasti namja itulah yang tadi menarik Suzy secara paksa. Myungsoo memutar tubuhnya lalu berlari menuju tangga di sudut gedung. Bermacam-macam pertanyaan sudah muncul di pikirannya. Sebenarnya apa hubungan Suzy dengan namja itu? Kenapa Suzy terlihat seperti ketakutan dengan namja itu? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul di pikirannya begitu saja.

Myungsoo sampai di lantai 2, tepatnya di sebuah koridor yang sepi. Dengan langkah cepat Myungsoo mencari-cari sosok Suzy. Sayup-sayup Myungsoo dapat mendengar sebuah suara laki-laki. Ia kemudian dengan cepat bersembunyi di balik tembok.

“Suzy! Jangan coba-coba lari dariku!” teriak Jongin kepada Suzy.

Suzy terus saja berlari sambil menangis. Jujur saja ia sangat takut sekarang. Ketakutannya semakin bertambah saat menyadari koridor tempat ia berada benar-benar sepi. Ia semakin mempercepat laju larinya. Suzy berbelok ke arah kiri, tepat saat itu seseorang menariknya ke balik tembok dan membekap mulutnya kuat.

“Mmph!” erang Suzy kaget di selimuti dengan rasa takut.

“Diamlah.” kata namja itu pelan, suara yang sangat Suzy kenal siapa pemiliknya.

“Suzy! Mau lari kemana kau!” teriak Jongin lagi dengan suara yang benar-benar kesal. Ia menggeram saat ia melihat ke sekelilingnya, ia tidak melihat Suzy lagi. Sambil menahan amarahnya, Jongin berlari menuruni tangga untuk mengejar Suzy yang menurutnya sudah jauh berlari menghindarinya.

T

B

C

51 responses to “[Freelance] It Must Be Love Chapter 6

  1. Ohhhhhh kaiiiiiiiiiiiiiiiiii
    Nappeun

    Myungsoo lambat dueechhhhhhhhh

    ( sudah scenario’s—- heheheheheheh)

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s