Wedding Dress Final Chapter (2/2)

wdfinal

Wedding Dress Final Chapter (2/2)

Love Run

@xianara | Bae Suzy , Kim Myungsoo, Park Jiyeon | Romance, Angst, Drama, AU, Friendship, Family | PG13 | Chaptered : teaser – 1 – 2 –Interlude – 3 – 4 –5 – Shortclip – Final (1/2)

beside the poster and story-line i own nothing!!!

Once again, I run until you come back
To my love, because you’re the one
I can’t forget the memories of you
So I keep love run

Happy reading!

Kerumunan calon penumpang menatap sebal seorang pemuda yang menerobos dan menubruk bagasi mereka sehingga berjatuhan. Myungsoo, penyebab semua itu, hanya bisa melafalkan kata ‘Sorry’ sambil berlalu. Kelakuan Myungsoo di tengah bandara persis orang gila. Dengan tampang yang kusut dan rambut berantakan, pria itu bertolak pinggang di tengah lalu lalang para calon penumpang. Napasnya terdengar putus-putus karena dia baru mengelilingi bandara sambil berlari. Myungsoo melirik layar yang menayangkan seluruh jadwal penerbangan di Dubai Airport. Penerbengan menuju Seoul sudah lewat dari sepuluh menit yang lalu.

“Terlambat.” gumamnya pelan.

Seraya melangkahkan kaki meninggalkan Dubai Airport, Myungsoo pun merogoh ponsel yang ada di kantong celananya. Saat melihat kakinya yang masih terbungkus sandal hotel, Myungsoo semakin mencemooh dirinya. Seharusnya ia bermalam di Dubai Airport kalau tak mau ketinggalan melihat Suzy untuk yang terakhir kalinya. Seharusnya ia berani untuk mengucapkan perpisahan kepada Suzy. Bukan bersembunyi di balik bar kafe hotel, menenggak bercangkir-cangkir kafein tak peduli dengan penyakit maag kronis yang dideritanya. Rasa frustasi dan gengsi benar-benar merugikan.

Ponsel berwarna broken white menempel di telinga Myungsoo. Rupanya, ia sedang menghubungi seseorang. Rahangnya seketika menegang. Dalam hati, Myungsoo merapalkan sejuta doa untuk mendukung keputusan yang akan ia ambil saat ini. Berharap semoga keputusan yang akan ia jalani membawa dampak positif yang besar baginya. Terutama bagi neneknya.

Suara seorang wanita paruh baya terdengar di seberang sambungan telepon Myungsoo. Lebih tepatnya, Miranda Kim yang mengangkat panggilan dari Myungsoo dengan tampang yang sumringah di tengah acara brunch bersama semua kepala divisi OBSTV.

Good morning Myung – “

“Aku akan kembali ke Seoul sore ini lalu segera menanggalkan jabatanku sebagai manager di Red Light. Posisi vice president masih tersediakah, untukku?” tegas Myungsoo, mengabaikan sapaan neneknya yang terputus tadi.

Ne?!” pekik Miranda tak percaya. Sontak membuat seluruh bawahannya memandangnya dengan tatapan ingin tahu.

“Semoga besok aku sudah bisa menempati ruang kantorku yang baru, Halmeoni. Aku menyayangimu, kututup, ya.”

Belum sempat Miranda mengucapkan sesuatu, Myungsoo sudah memutuskan hubungannya. Myungsoo pun segera menghubungi Tariq agar segera membantu keperluan kepulangannya yang tiba-tiba ini ke Seoul.

Sementara itu, Miranda seperti patung yang hidup. Matanya membelalak tak percaya. Dan dalam sepersekian detik kemudain, Miranda tersenyum selebar yang ia mampu. Dengan bangga ia pun berdiri dan memandang seluruh rekan bawahannya yang memandangnya rikuh.

“Cucuku!! Myungsoo akan kembali!” seru Miranda dengan mata yang berkaca-kaca.

Incheon, 03:00 PM KST

Setelah menempuh penerbangan selama enam jam, Suzy tiba di Incehon Airport dengan selamat. Wajahnya yang kusam disertai mata panda di kedua matanya membuat penampilan Suzy terlihat seperti zombie dalam film Residence Evil. Padahal, ia selalu berkhayal kalau dirinya adalah titisan Mila Jovanovich yang dengan gagah berani memerangi para mayat hidup itu, bukan para zombie-nya.

Jikalau kalian mengira Suzy tertidur selama di pesawat, kalian salah besar. Suzy justru membunuh waktu dengan menonton The Bourne Supremacy dan The Bourne Ultimatium secara maraton. Padahal, ia sudah menonton lebih dari puluhan kali trilogi The Bourne yang dibintangi Matt Damon tersebut.

Yaa, kenapa aku merasa seperti ini, ada apa dengan diriku?”

Suzy mengusap wajahnya pelan dan membuang pandang ke sekililing area kedatangan Incheon Airport yang saat itu lumayan ramai. Ia pun meletakkan telapak tangan tepat di atas dada, merasakan detak jantungnya sendiri.

“Oke, sadarlah, Bae Suzy! Kau harus memegang kata-katamu. Tidak, ya tidak. Ya, tentu iya!”

Suzy kembali meyakini bahwa dia sudah berhasil meninggalkan masa lalu dan mulai merangkak menuju masa depan. Dengan langkah tegap, Suzy pun menggeret koper berisi perkakas riasnya meninggalkan area kedatangan dan segera menuju terminal subway.

Namun ketika Suzy baru memasuki pelataran loket subway, dirinya sudah dikejutkan oleh seruan cempreng seorang lelaki.

“Suzy!!!” seru Jinyoung. Di sampingnya, Jiwoo pun melambai pada Suzy.

Suzy merasa terkejut. Ia pun lantas segera berlari, meninggalkan loket terminal dan menghampiri keduanya.

 “Ada apa ini, eo?” tanya Suzy. “Kenapa pakai acara menjemputku segala?” Suzy pun memandangi Jinyoung dan Jiwoo secara bergantian.

“Aku tidak tahu, aku hanya mengikuti arahan bibi saja. Ya, ‘kan?” ujar Jinyoung sambil mengangkat bahu dan melirik Jiwoo.

Yaa, kenapa kau malah berkata seperti itu? Kau tidak merindukanku, eo?”

Suzy menggeleng seraya tersenyum simpul dan bergerak memeluk ibunya. Tentu saja, Suzy merindukan Jiwoo. Tetapi ketika menemukan Jiwoo yang repot-repot menjemputnya di Incheon itu terasa agak janggal.

“Tentu saja aku merindukanmu. Aku setengah mati merindukanmu, Bu. Putrimu yang cantik dan baik ini sudah kembali.”

“Nah, aku juga merindukanmu!!“ Jinyoung ikut menghamburkan pelukan pada Suzy dan Jiwoo namun cepat ditangkis oleh Suzy. Membuat pria berlesung pipi itu mengerucutkan bibir, sok imut.

“Yayaya, singkirkan tanganmu itu, Park Jinyoung!” tukas Suzy masih mendekap Jiwoo.

“Kenapa kau jadi sensitif sekali, sih? Kau salah makan, ya, selama berada di Dubai, eo?” cibir Jinyoung tak terima.

Jiwoo pun hanya tersenyum tipis melihat tingkah laku anak semata wayangnya. Di balik senyuman itu, tentu Jiwoo merasa lega karena masih bisa melihat Suzy tertawa dengan bebas sangat menggoda Jinyoung. Namun Jiwoo juga merasa sedikit bersalah karena sesuatu yang sudah dilakukannya yang sampai melukai perasaan Myungsoo dan Suzy.  Dan yang menjadi pertanyaan, apakah Suzy bahagia dengan keadaan seperti ini?

“Sudah-sudah, hentikan! Lebih baik, kita segera pulang ke rumah dan menyantap makan siang. Ibu sudah menyiapkan bahan makanan favoritmu, Suzy-a. Ayo!”

“Tunggu, kenapa hanya Suzy? Jangan lupakan aku, Bi! Ingat, aku di sini bertugas sebagai supir yang harus mengantar kalian sampai tujuan dengan selamat!” sela Jinyoung sambil menggeret koper Suzy.

“Hei, apa hubungannya? Anak ini, ” komentar Suzy.

“Yayaya, Bae Suzy, kau tidak tahu?” tunjuk Jinyoung, ia pun segera mendahului langkah Suzy. “Tentu saja ada! Sebagai supir untuk mengantarkan penumpangnya sampai tujuan dengan selamat aku harus mendapatkan asupan gizi yang cukup supaya aku bisa fokus mengemudinya, begitu.”

Mwol?” Suzy mendelik malas lantas menyentil dahi Jinyoung. “Tetapi Nyonya Choi Jiwoo itu ‘kan ibuku. Kalau kau mau makan enak, minta saja pada ibumu!”

“Suzy-a!” sentak Jiwoo sambil menjawil lengan Suzy.

Jinyoung menjulurkan lidahnya seperti kucing yang dihadiahi jeweran di telinga oleh Jiwoo. Suzy pun balas menertawakan Jinyoung yang merintih kesakitan.

“Dan kau, Park Jinyoung, jangan meledek Suzy-ku, arra?”

Selama di perjalanan menuju kediaman Suzy, ketiganya hanya sesekali melempar obrolan. Kebanyakan obrolan pun dimulai oleh Jinyoung ataupun Jiwoo kepada Suzy. Jiwoo dan Suzy duduk di kursi penumpang mobil SUV silver milik Jinyoung. Sementara, si empunya bertugas sebagai pemegang setir di bangku pengemudi.

“Kau lelah? Sini, tidur di bahu ibu saja.” tawar Jiwoo sambil mengelus kepala Suzy.

Suzy pun menyenderkan kepalanya di bahu sempit Jiwoo, menggerakan kepalanya guna mencari posisi yang nyaman dan memejamkan kedua matanya. Jinyoung pun melirik keduanya dari balik kaca spion tengah.

Jiwoo pun berusaha bersikap seolah tidak terjadi apa-apa padanya selama ia ditinggal oleh Suzy. peristiwa saat ajudan Miranda datang menjemput dan pertemuan dengan Miranda pun disembunyikan dengan baik oleh Jiwoo. Dan beruntung, Suzy tidak menyadari sesuatu yang aneh padanya.

“Aku lelah, sungguh.” eluh Suzy. Ia pun mengalungkan lengan pada bahu sebelah kiri Jiwoo.

“Wajahmu terlihat pucat. Kau sakit? Apa pekerjaanmu segitu beratnya di Dubai kemarin?” tanya Jinyoung.

Suzy membuka mata dengan spontan. Mendengar kata Dubai, entah kenapa saraf sensoris di dalam tubunya seolah berkata tidak suka. Ya, segala hal yang memiliki sangkut paut terhadap Dubai dan Myungsoo seperti duri yang menusuk jemari Suzy. Perih.

Myungsoo lagi. Bukankah Suzy sudah membakar berkas memori bersama Myungsoo? Namun kenapa dia masih bisa memikirkan seorang Myungsoo? Bahkan sepanjang perjalanan di pesawat, bayangan semu pria itu mengganggu fokus Suzy menonton film. Kenapa bayangan pria itu seperti hantu arwah penasaran? Suka bergentayangan. Memikirkannya saja sudah membuat bulu kuduk Suzy berdiri.

“Tidak.” jawab Suzy cepat.

Suzy tidak merebahkan kepala di atas bahu Jiwoo lagi dan memilih membuang pandang pada jalan yang dipenuhi oleh kendaraan lain.

“Oh ya, waktu itu ‘kan kau pernah meneleponku soal Myungsoo. Kau masih ingat?”

“Ah, yang mana?”

“Myungsoo?”

Jiwoo seperti dihantam badai salju hebat. Dengan kaku, Jiwoo pun menghadap ke  arah Suzy yang terlihat tidak kalah kaku darinya. Ekspresinya tiba-tiba berubah dingin namun Suzy berhasil mengontrolnya.

“Itu bukan apa-apa. Bukan hal penting.” kata Suzy, berusaha terdengar normal.

Suzy pun segera menegakkan tubuh dan membuang pandang ke luar jendela mobil. Padahal, Suzy mati-matian menekan rasa yang mengocok-ngocok isi perutnya dengan tidak bersikap yang mencurigakan.

“Yakin bukan apa-apa, eo?” desak Jinyoung, melirik melalui spion dan menatap Suzy tepat di matanya.

“Yakin. Bukan hal penting, Jinyoung-a. Sudah, fokus saja menyetir sana!” tegas Suzy.

“Baiklah, Nona. Yah, aku benar-benar berlakon sebagai supir di sini.”

Jiwoo pun seperti ikan yang ditempatkan di dalam lemari pendingin bersuhu rendah. Jiwoo masih lekat menatap Suzy, beralih pada jemari Suzy yang meremas lututnya. Tanda bahwa Suzy sedang merasa tidak yakin. Atau tanda gadis itu sedang menutupi sesuatu. Suzy sedang mengelabui Jinyoung dan Jiwoo pun tahu karena ia mengenal Suzy lebih baik dari siapapun.

Jiwoo berani menyimpulkan bahwa Suzy telah mendapatkan kembali ingtannya yang hilang. Tetapi kenapa Suzy tidak segera memberitahukannya? Suzy justru menyembunyikan berita ini darinya. Muncul hipotesa lain di dalam pikiran Jiwoo bahwa masih ada hal-hal lain yang disembunyikan Suzy darinya.

Suzy mencoba mengalihakn perhatian pada tas selempang yang sedari tadi tergeletak di pangkuannya. Ia teringat soal foto yang terselip di dalam bungkusan croissant yang diberi Minho tempo lalu, yang belum sempat ia lihat – rotinya pun belum sempat ia sentuh lagi.

Roti croissant adalah jenis roti yang awet karena teksturnya yang keras di luar namun empuk di dalam. Tetapi kali ini Suzy tidak berniat untuk melahap roti yang belum sempat ia colek tersebut. Suzy merogoh kantungnya dan mengambil  foto yang rupanya terdiri dari dua lembar tersebut.

“Itu apa?” tanya Jiwoo sambil melirik lembaran foto yang terbalik sehingga menampilkan bagian belakangnya saja.

Eung, ini kartu pos, souvenir hotel.” dusta Suzy, menyelipkan kembali foto tersebut ke dalam tasnya.

Jiwoo mengangguk seolah percaya kemudian mengangkat telapak tangannya, menutup mulut yang sedang menguap.

“Duh, ibu mengantuk. Kau tahu? Aku hanya tidur selama satu jam karena terlalu senang mendengar berita kepulanganmu. Kurasa ibu harus tidur sebentar, tak apa ‘kan?”

“Sudah kubilang ‘kan jangan tidur terlalu larut.” kata Suzy.

“Kurasa, Bibi harus tidur sebentar. Gwaenchanayeo, “ timpal Jinyoung di balik kemudi.

Eo, aku tidur dulu kalau begitu.”

Setelah merasa yakin bahwa Jiwoo sudah terlelap tidak memerhatikannya lagi dan Jinyoung yang fokus menyetir, barulah Suzy mengambil dua lembar foto yang tadi. Suzy menimbang sesaat untuk melihatnya. Pasalnya, ia merasa sesuatu yang janggal pada foto-foto tersebut. Suzy sendiri sampai lupa untuk menanyakan langsung kepada Minho kenapa bisa ada foto yang terselip di dalam bungkusan croissant yang diberikannya.

Semoga bukan hal yang buruk, lebih baik melihat foto derp dirinya, pikir Suzy. All too well, everything is well, Suzy mengulang peneguhan tersebut sebanyak tiga kali di dalam hati. Setelah merasa cukup yakin, barulah Suzy memberanikan diri membalikkan foto tersebut.

Setelah membalikkan foto tersebut, betapa terkejutnya Suzy ketika matanya melihat gambar dirinya dan Myungsoo yang berada dalam satu frame. Foto tersebut diambil ketika Myungsoo dan dirinya beradu mulut di Gurun Rub Al-Khali. Menyedihkan. Di tengah pemandangan alam yang luar biasa indah seperti itu justru dia dan Myungsoo merusaknya dengan bertengkar. Suzy melirik Jinyoung yang masih fokus memegang setir melalui spion tengah, mengawasi agar pria itu tidak curiga kepadanya.

Telapak tangan Suzy pun bergetar ketika membalik foto selanjutnya. Sebuah foto candid di mana ia sedang tertawa dengan lebar dan Myungsoo yang tersenyum. Foto berlatar Pantai Jumeirah  itu pun menampilkan Suzy dan Myungsoo yang saling memunggungi. Suzy ingat, saat itu ia dan Minah sedang menertawakan Minho yang merasakan asinnya garam dalam cangkir espresso-nya. Suzy juga tidak sadar bahwa di mana pun ia berada, di situ pasti selalu ada Myungsoo. Telapak tangan Suzy pun terangkat untuk memijat pelipisnya.

“Semuanya akan jadi baik-baik saja. Jangan khawatir.”

Mwol?” sahut Suzy.

Suzy kembali melirik Jiwoo yang masih terlelap di sampingnya lalu memindai pandangan pada kaca spion di mana Jinyoung sedang menyunggingkan seulas senyum tipis di balik kemudi. Jinyoung pun menaikkan alisnya kikuk.

“Sesuatu telah terjadi tetapi aku tidak tahu apa yang terjadi. Kau tahu? Kau memang aktris yang baik, Suzy-a.”

“Jinyoung-a, “

“Sudahlah, aku bukan mendesakmu untuk bercerita kok. Sebaiknya aku tidak tahu saja dan tetap berlakon sebagai supir di sini. Oke?”

Suzy bergerak maju ke kursi pengemudi, mengusap pundak Jinyoung dan meremasnya. Suzy mengangguk tanda setuju. Ternyata topeng yang Suzy pakai tak cukup kuat. Buktinya, seorang seperti Park Jinyoung yang terkesan cuek pun menyadari kejanggalan pada Suzy. Lalu, bagaimana dengan Jiwoo, ibunya? Apakah dia tahu atau sudah tahu?

Suzy pun kembali menyender pada sofa mobil dan mulai memejamkan mata. Mencoba mengendurkan syaraf yang menegang beberapa hari belakangan ini.

“Kadang, kita tidak perlu mengetahui semua hal yang ada di dunia ini. Karena semuanya tak mungkin bisa dimengerti, ada hal yang bisa dan tidak bisa dimengerti namun hanya mampu diterima. Jadi, lebih baik tidak mengetahui apa-apa sama sekali.” ujar Suzy.

“Setuju denganmu.” Timpal Jinyoung cepat. “Wuah, kau makan apa di sana, sih? Kenapa kata-katamu seperti Oprah?”

Juyunghae (tutup mulutmu). Fokus menyetir saja, Sopir Park.”

Jinyoung mendelik malas melalui spion dan mengerucutkan bibir tak suka. Tetapi Jinyoung menurut. Ia menutup mulutnya dan fokus mengemudi. Jinyoung kembali melirik Suzy yang terlelap di belakang. Tanpa sadar, Jinyoung di sana menghembuskan napas dengan lega.

***

Sebuah kafe di Apgujong terlihat cukup ramai. Suzy, terlihat membolak-balikkan buku yang belum sempat ia baca sambil sesekali menyesap secangkir Americano yang masih mengepulkan asap.

Saat ini, Suzy sedang menunggu klien yang akan menggunakan jasanya sebagai make-up artist pernikahan. Namun ternyata, sang klien barusan menelepon Suzy dan memberitahukan bahwa dia akan terlambat karena ada sedikit trouble. Jadi, selama menunggu si klien, Suzy pun berusaha menamatkan novel yang hampir dua bulan ia baca. Sungguh aneh, Suzy tidak biasanya menyelesaikan sebuah novel dalam jangka waktu yang lama. Jangka waktu yang paling lama itu hanya seminggu kalau ia sedang sangat sibuk.

Aroma espresso yang menguar di udara berasal dari mesin espresso yang dimiliki kafe mewarnai indera penciuman gadis itu. Suzy duduk dengan santai dan mencoba fokus pada novel di genggamannya.

“Ya ampun, Suzy.”

Tiba-tiba terdengar suara yang cukup familier di telinganya. Suara seorang wanita. Suzy menoleh ke asal suara dan ia pun melihat teman masa SMA yang paling tidak disukainya berdiri mengantre di depan kasir dengan wajah terkejut. Namun ekspresi itu tidak bertahan lama. Wanita itu tersenyum.

“Jiyeon?” Suzy berdiri dengan canggung.

“Hai, boleh duduk di sini ‘kan?” Jiyeon mengangguk.

Suzy tanpa sadar pun ikut mengangguk. Jiyeon, gadis semampai teman SMA-nya kini sedang duduk dengan manis di hadapannya. Di pangkuannya terdapat setumpuk buku pengantar ilmu hukum. Dan hal itu pun membuat Suzy mengira bahwa Jiyeon adalah seorang mahasiswi fakultas ilmu hukum.

“Apa kabar?”

“Ya, baik.”

Suzy memandang Jieyon tak percaya. Dia masih ingat dengan Jiyeon, gadis yang didaulat sebagai musuhnya dalam hal akademik saat SMA. Seseorang yang merebut posisinya sebagai kandidat utama perwakilan sekolah untuk mengikuti olimpiade.

Jiyeon pun tersenyum manis. Gadis itu tidak berubah. Masih saja bersikap ramah dan hangat terhadap semua orang. Bahkan kepada Suzy, seseorang yang jelas-jelas tidak menyukainya.

“Aku duduk di sini sebentar, tenang saja.”

Bagus, akhirnya dia sadar diri juga.

“Kopinya….?” tanya Suzy seolah mencari-cari alasan agar mereka tidak duduk satu meja bersama.

“Sebenarnya aku datang ke sini hanya karena ingin duduk dan istirahat saja. Aku harus kembali ke kampus, bimbingan skripsi. Untunglah ada kau di sini.” katanya, sembari menunjukkan sebuah kertas yang sudah dijilid rapi yang sebelumnya terselip di lengannya.

Suzy pun mengangguk seraya menutup buku dan meletakannya di dekat cangkir Americano-nya.

“Uh, itu, kau masih tidak – maksudku, sudah ingat Myungsoo?” tanya Jiyeon hati-hati.

Suzy tidak dapat menghindar lagi. Kali ini, ia tidak bisa menghindari Jiyeon yang tiba-tiba muncul ke hadapannya. Tanpa ragu, Suzy pun menganggukkan kepala.

“Syukurlah. Kukira kau akan selamanya melupakan seorang Kim Myungsoo.”

Atmosfer di dalam kafe itu pun menjadi sesak. Tetapi yang merasakannya, tentunya hanya Suzy seorang. Hal itu jelas sekali dengan pandangan yang diedarkan ke sleuruh penjuru kafe ketimbang menatap langsung Jiyeon yang duduk bersedekap di depannya.

“Park Jiyeon, apa kau tahu sesuatu?”

“Ya?”

“Apa kau mengetahui sesuatu yang tidak aku ketahui?”

Jiyeon menatap Suzy sembari menelengkan kepala. Jiyeon mengangkat jemarinya otomatis dan menggaruk hidungnya yang Suzy yakini sama sekali tidak gatal.

Suzy berpikir bahw Jiyeon mungkin mengetahui sesuatu yang tidak dikethauinya. Ya, siapa tahu? Toh, seseorang yang bisa dipercaya untuk saat ini mungkin adalah Jiyeon. Di samping dari lakonnya saat SMA yang menjadi musuh bebuyutan Suzy.

“Maksudmu?” jawab Jiyeon, berusaha tenang.

“Ya, seperti hal yang mungkin aku lupakan saat aku menderita disosiatif dulu.”

Mediasi. Mungkin, dengan menggunakan metode penyelesaian di mana para pihak yang bersengketa menggunakan pihak ketiga sebagai penengah, masalah antara dirinya dengan Myungsoo bisa berjalan menuju titik terang. Jiyeon pun di sini jelas berperan sebagai siapa, si mediator tentunya.

Tunggu, apa yang barusan Suzy pikirkan? Mediasi? Masalahnya dengan Myungsoo? Oh, kenapa sampai sekarang dia masih belum bisa melupakan sejenak si pembuat masalah itu? Ah, Suzy benar-benar benci semua hal yang berawalan M. Masalah dan Myungsoo. Kecuali Makan dan Minum, tentunya.

“Benar kau mau tahu, eo?”

“T-tentu. Kenapa memangnya?”

Aniyo.” tukas Jiyeon cepat. “Jadi, kita mulai dari yang mana dulu? Myungsoo atau – “

“Olimpiade itu.” potong Suzy dengan cepat. “Kau tahu, sejujurnya aku tidak suka saat melihat namamu terpampang di pengumuman. Kenapa harus ada kau? Memangnya kau segitu hebatnya, eo?”

Jiyeon memilih tersenyum membalasnya. Dari ekspresi wajahnya, ia pun tidak terlihat sakit hati mendengar ucapan tajam yang meluncur dengan deras dari mulut gadis itu.

“Aku juga berpikir begitu.” balas Jiyeon ringan. “Tetapi kau melupakan sesuatu, Suzy-a. Sebelum nama kita ada di kertas pengumuman itu, kita ‘kan sudah mengikuti tes. Kau tidak lupa ‘kan? Tentunya, hasil dari tes itulah yang menentukan di mana namamu akan diletakkan. Kandidat utama atau cadangan.”

“Jadi, menurutmu aku tidak mengerjakan tes dengan benar, begitu?”

“Mana kutahu. Yang mengerjakan tes itu ‘kan kau sendiri, Suzy-a.” jawab Jiyeon diplomatis sambil mengedikkan bahu. Tak lupa, ia pun masih memasang senyum manis di atas bibir.

“Ah, satu lagi. Hal ini terjadi saat kau dirawat di rumah sakit. Seandainya kau tidak sadarkan diri, mungkin sekarang kau tidak akan berprasangka terhadap Myungsoo dan diriku – aku tahu itu, kok. Karena, keesokan harinya kau bisa melihat namamu tertulis sebagai pemenang juara pertama lomba esai. Kau tidak tahu ‘kan kalau Myungsoo diam-diam mengirim tulisan yang kau muat di dalam tes itu ke Guru Sastra di saat-saat terakhir?”

“Apa katamu?”

Suzy terperanjat di kursinya. Mendengar semua kenyataan yang selama ini terkubur di dalam masa lalunya tak pelak membuatnya merasa kehilangan harapan usia hidup selama sepuluh tahun. Suzy pun menggeleng lemas.

“Aku tidak tahu mengenai hal itu. Tetapi kenapa ibuku tidak memberitahuku?”

“Oh, soal itu aku tidak tahu.” jawab Jiyeon sembari meletakkan buku-buku yang ia pegang di sofa tempatnya duduk. “Yang jelas, walaupun kau menjadi cadangan dalam olimpiade itu, kehadiranmu juga penting. Bagaimana kalau salah satu dari kami berhalangan hadir, siapa yang akan menggantikan kalau bukan kau, eo? Apa kau tidak berpikir sampai ke situ?” lanjut Jiyeon.

Suzy sekali lagi terperanjat di kursinya. Ya, dia tidak memang tidak berpikir sampai ke situ. Dia sungguh egois.

“Ya, meskipun tanpamu kami masih bisa lolos ke tahap selanjutnya, kami gagal bersaing di babak penyisihan tingkat walikota. Karena baik aku dan Youngjae tidak menguasai Sejarah Kesusastraan dan seseorang yang menguasai itu hanya kau, lupa ya? Tetapi aku tidak akan menyalahkanmu, tenang saja.” Jiyeon membubuhi pernyataannya dengan seulas senyum.

“Kenapa aku tidak diberitahu?”

Ne? Memangnya, bibi tidak memberitahumu?”

Suzy menggeleng.

“Oh, soal itu, jangan-jangan, “ Jiyeon juga ikut menggelengkan kepala dengan ekspresi wajah tak percaya.

Semilir angin yang bertiup dari pendingin ruangan seolah berhasil mengusir kabut tebal yang selama ini menutupi tembok beton tinggi dan besar di dalam diri Suzy. Terlebih, setelah mendengar penjelasan dari Jiyeon yang satu ini.

“Sebenarnya, bibi meminta kepada kami sekelas agar tidak memberitahumu. Bibi melarang kami untuk menyinggung soal olimpiade itu dan Myungsoo. Dia bahkan sampai memohon kepada kita semua. Tentu saja kami sulit untuk tidak menolaknya. Yah, aku tidak tahu apa sih alasannya, yang jelas bibi hanya mengatakan bahwa beliau tidak ingin kondisimu semakin parah saja.”

Rasanya seperti terjun bebas di udara dari ketinggian berpuluh ribu kaki di atas permukaan laut. Suzy menganggap dirinya seperti batu yang dilempar dari atap Menara Eiffel dan langsung terhempas jatuh ke dasar sungai kecil yang membelah besi berkaki itu. Jadi, selama ini ibunya tahu dan malah memilih menyembunyikan semua hal yang ia lupakan darinya? Jadi, siapa yang jahat di sini? Myungsoo, Jiwoo, atau Suzy?

“Suzy-a, “ panggil Jiyeon.

Eo, kau, “

“Jangan pernah menyalahkan siapapun. Don’t blame.”

“Ternyata dunia itu begitu kejam.” ceplos Suzy.

“Tidak juga. Tergantung dari sisi mana kau melihatnya. Jika kau mengalami ketidakadilan, maka kau akan berpikiran seperti itu dan sebaliknya.” bantah Jiyeon kalem. Jiyeon pun memajukan bokongnya, mendekat pada Suzy. “Kau masih suka menonton film?”

“Masih.”

Jiyeon pun mengangguk lantas kembali duduk pada posisi pertamanya.

Anehnya, saat ini Suzy tidak melihat Jiyeon sebagai seorang rival lagi seperti pada saat di SMA. Setelah mendengar semua kenyataan yang selama ini membisu dari bibir Jiyeon, Suzy justru melihat Jiyeon sebagai sosok teman lama. Rasa sesal pun hinggap di perasaan Suzy karena dulu pernah tidak menyukai gadis semanis dan sebaik Jiyeon.

“Jiyeon-a, “ Suzy bersuara, nadanya terkesan ramah. Berbeda dengan nada tak suka yang dipakainya saat bertemu dengan Jiyeon tadi.

“Hm?” sahut Jiyeon.

“Mau menonton The Avengers bersamaku?” tawar Suzy dengan suara yang pelan.

“Tentu tetapi sayang sekali aku tidak bisa sekarang.”

“Ah, benar begitu? Sayang sekali.”

Americano yang sedari tadi menganggur itu pun disambar oleh Jiyeon. Tanpa meminta izin dari empunya, Jiyeon langsung menyeruput kopi yang sudah dingin itu.

“Aku malas mengantri lagi.” kata Jiyeon, meletakkan kembali cangkir Americano itu pada meja. “Hm, kopi yang enak. Kuminum ya.” lanjutnya.

Sudah meminum baru meminta izin.

Tetapi Suzy menyesal membiarkan Jiyeon meminum Americano bekasnya yang baru ditenggak dua kali itu. Ingin sekali rasanya ia berlari ke kasir dan memberikan satu cup frapucino dingin khusus untuk Jiyeon saat ini juga.

“Untukmu saja.” tukas Suzy cepat. “Americano-nya.”

Jiyeon refleks mengangkat cangkir plastik Americano itu dan berdiri.

“Wah, terima kasih atas kopinya. Dan, omong-omong aku harus pergi.” ujar Jiyeon saat melirik arlojinya. “Satu lagi, kurasa, kita masih bisa menonton bersama akhir pekan ini. Kita janjian di bioskop distrik Yongsan, bagaimana? Oke, call!” tegas Jiyeon tanpa meminta persetujuan Suzy.

“Apa? Minggu depan? Eo, ya ya, oke call!”

“Oke, sampai jumpa. Senang bertemu denganmu lagi, Suzy-a.”

Suzy pun memilih tersenyum dan membiarkan Jiyeon melenggang pergi meninggalkan kafe dengan buku-buku yang dijepit di lengan kanan dan satu cup Americano di tangan kirinya.

***

Dubai, 100 days later

Setelah merampungkan konferensi akbar bersama para tetinggi stasiun televise se-Asia di salah satu ballroom mewah di Burj Khalifa, Myungsoo memilih menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan di sekitar Burj Khalifa Lake, lokasi berlangsungnya pertunjukan Fountain Show. Myungsoo melirik arlojinya yang sudah dilirik lebih dari ratusan kali, di mulai saat konferensi berlangsung. Dia yang tidak terlalu suka bekerja di dalam ruangan merasa jemu sehingga berharap konferensi yang rutin diadakan selama setahun sekali itu cepat selesai. Namun naas bagi Myungsoo karena konferensi yang dimulai pukul sepuluh pagi itu harus berakhir pada kisaran pukul setengah enam petang. Astaga. Hampir saja Myungsoo pingsan di dalam gedung.

Arloji hitam di pergelangan tangannya menunjukan pukul enam kurang dua puluh menit. Hari sudah petang. Myungsoo dapat melihat semburat jingga yang menghiasi langit kota Dubai. Kaca-kaca yang membiaskan sinar mentari itu pun nampak silau. Sebentar lagi pertunjukan air mancur pukul enam petang akan dimulai. Myungsoo yang tak ingin melewatinya pun bergegas mengerubungi jembatan persis di depan Burj Khalifa Lake.

Kenangannya bersama rekan-rekan kerja sewaktu dia masih menjadi manager di Red Light mengusik keterdiaman pria itu. Lampu-lampu jalan yang berdiri di sampingnya pun mulai menyala, menyinari pelataran jembatan. Sama halnya dengan kenangan seseorang yang tak pernah luput dari ruangan di dalam hati Myungsoo, di sini. Di dubai, seratus hari yang lalu.

Apa yang dilakukan gadis itu saat ini, ya?

Myungsoo kerap membatin seperti itu. Padahal, dia bisa dengan gampangnya menyewa seseorang untuk mencari tahu keberadaan Suzy sekarang namun dia tak ingin seperti itu. Myungsoo harus memegang kata-katanya kepada Suzy, yang diucapkan tepat seratus hari yang lalu.

“Myungsoo, aku ingin kau berjanji satu hal kepadaku.”

“Apa itu?”

“Jangan pernah sekali-kali mencari tahu tentang keberadaanku. Kumohon..”

Myungsoo menatap gadis yang tengah tersenyum pahit itu,  mengangguk pelan.

Kedua tangan yang bertumpu di atas pegangan besi jembatan itu pun melorot. Diikuti Myungsoo yang bersedekap menghadap ke Burj Khalifa Lake.

Semuanya terlihat sangat klise. Namun tidak bagi Myungsoo. Pemuda itu justru melihatnya ironis. Rentetan peristiwa yang ada di dalam hidupnya; ironis. Dilahirkan dari keluarga yang berada memang membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang suka bergantungan pada orang lain; tidak mandiri; tidak independen. Hanya segelintir orang saja yang bisa bersikap independen di keluarganya: neneknya dan hyeong-nya, Kim Heechul.

Myungsoo mirip dengan ayahnya. Bersifat lemah-lembut dan sedikit kekanak-kanakan. Memandang semuanya skeptic. Myungsoo berbeda dari sang ibu yang sudah lama meninggal. Sosok ibunya itu tiga ratus enam puluh derajat berbeda darinya; ceria, mandiri, berpikir positif dan kreatif. Semua sifat sang ibu mirip sekali dengan Suzy hingga pada akhirnya pemuda tersebut pun nyaman bila berada di dekat Suzy.

Ah, Suzy. Gadis itu.

Myungsoo kembali melampaui batasnya sebagai seorang manusia. Dia bukanlah dewa melainkan manusia biasa. Segala usahanya terbuang sia-sia. Semua yang dilakukannya untuk mendapat kata maaf dari Suzy tidak membuahkan hasil.

“Aku menyerah.” kata Myungsoo.

Kedua tangannya pun semakin erat memegang pegangan besi jembatan. Di kedua irisnya nampak pemandangan air mancur yang mulai meliuk-liuk di atas Burj Khalifa Lake. Lampu-lampu cantik di sekitarnya pun mulai menari. Rupanya, sudah pukul enam petang. Pantas saja.

“Nyatanya, aku masih memikirkanmu. Aku masih menyayangimu. Karena itulah aku menyerah.”

Langit sudah menjadi gelap. Sang surya telah kembali ke peraduan. Kini, langit yang gelap itu tak selamanya gelap. Cahaya dari lampu-lampu yang terletak di selasar danau menembakkan cahanya ke udara. Suasana di Burj Khalifa Lake menjadi semarak.

Myungsoo yang tersadar dari kesedihannya pun melihat sekeliling. Orang-orang berkerumun di depan jembatan guna melihat atraksi air mancur. Kebanyakan dari mereka didominasi oleh turis. Hal itu dapat dilihat dari rambut pirang mereka. Berbagai macam jenis kamera pun siap dipakai untuk menangkap keindahan air mancur yang menari diiringi musik yang mengalun.

Dentingan piano lamat-lamat terdengar, melodinya terdengar famlier di telinganya. Rupanya, River Flow in You milik Yiruma santer diperdengarkan. Myungsoo pun mengalihkan perhatian dari kerumunan menuju danau. Dia melihat air yang meliuk-liuk dengan indah, seperti ekor naga yang dibawa puluhan orang dalam festival imlek yang biasa ia lihat semasa kuliah di Pecinan di New York. Air mancur yang menari itu juga disertai lampu-lampu yang menembakkan laser ke segala arah. Benar-benar pertunjukan yang apik.

Sekilas, pemuda itu mengangkat kedua sudut bibirnya. Myungsoo tersenyum. Setidaknya, masih ada yang bisa melipur lara di dalam hatinya.

Pertunjukan air mancur masih belum selesai. Pengunjung yang berdatangan pun semakin bertambah. Untaian melodi dari tuts-tuts piano yang diciptakan Yiruma juga masih diserukan. Malah hampir mencapai klimaksnya.

Myungsoo memejamkan mata. Di saat dia menutup mata, Myungsoo dapat melihat Suzy. Gadis itu sedang tersenyum lalu tertawa. Dia juga dapat melihat dirinya yang sedang tertawa bebas. Melihat seragam SMA yang menempel di tubuh keduanya sontak menyadarkan Myungsoo bahwa lorong waktu melempar dirinya kembali ke masa paling bahagia dalam hidupnya; masa SMA.

Di masa itu, Suzy nampak mengikat rambutnya yang panjang dan berwarna cokelat. Dia tersenyum dnegan lebar. Kedua pipinya yang gembil membuat Myungsoo tidak dapat menahan untuk mencubitnya. Pemuda itu terkekeh. Diikuti Suzy yang mendorong dahinya keras-keras hingga ia terjatuh ke dalam lubang yang dalam gelap. Myungsoo pun berteriak dengan kalut. Saat dia membuka kelopak matanya, Myungsoo melihat semua cahaya berbagai warna yang ikut menari bersama pancuran air.

Myungsoo tidak dapat berkata apa-apa lagi. Rasa rindu pada gadis itu yang menggerogot sampai ke ulu hatinya tak pernah meragu. Rasa itu kini sudah seperti gugusan pegunungan yang mengelilingi Gunung Alpen. Apalagi rasa cintanya yang tak ikut lekang oleh waktu. Myungsoo rela, meskipun dia tidak dimaafkan oleh gadis itu, setidaknya dia dapat melihat wajah itu sekali saja. Ya, sekali saja.

Matanya pun kembali menelusuri pada kerumunan orang di sekitar. Ketika dia menoleh ke arah kirinya, Myungsoo mendapati sosok gadis yang mirip dengan Suzy. Myungsoo tersenyum kecut.

“Apa aku sebegitu rindunya dengan dia? Aku bahkan sampai berhalusinasi!!” kecamnya pada diri sendiri.

Tentu saja, gadis yang dilihatnya bukan Suzy. Mana mungkin Suzy rela memangkas rambutnya sampai sebatas bahu begitu? Dia ‘kan sangat menyayangi rambut panjangnya itu. Myungsoo sekali lagi menilik gadis yang berdiri dalam radius kurang dari lima meter dengannya itu. Gadis itu nampak sedang mengangkat ponselnya untuk merekam air mancur yang menari.

“Cantiknya!!”

Myungsoo membulatkan kedua matanya. Apa pendengarannya mengalami degradasi fungsi? Barusan, dia mendengar gadis itu menggumamkan kosakata Korea ‘kan? Myungsoo menggeleng guna mengusir ilusi yang berkecamuk di dalam otaknya. Dia bukan Suzy, tentu saja!

Gadis itu tersenyum. Myungsoo kembali dibuat terperangah di tempatnya berdiri. Senyuman itu juga nampak tidak asing baginya. Senyuman gusi yang dimiliki oleh  seseorang yang berasal dari masa lalunya – Suzy.

Gadis itu lantas mulai mengotak-atik layar ponselnya. Gadis bersurai sebatas bahu dan berwarna hitam itu nampak antusias melihat layar ponselnya. Tentu saja, dia bukan Suzy. Setahu Myungsoo, gadis itu tidak  suka memakai kaos berwarna cerah yang agak kedodoran dengan rok di bawah lutut seperti yang dikenakan si gadis tersebut.

Myungsoo pun memberanikan diri meretas jarak dengan si gadis yang masih sibuk dengan ponselnya itu. Tiba-tiba, keduanya bertemu pandang. Myungsoo tidak dapat melanjutkan langkah sejenak, ia terpaku setelah memerhatikan dengan seksama wajah si gadis itu tersebut.

Itu, Suzy. Ya, gadis itu Suzy.

Keduanya pun tercekat. Baik Suzy ataupun Myungsoo sama-sama tidak bisa mengalihkan pandangan. Keduanya terpaku menatap satu sama lain.

Lagi-lagi, takdir mempertemukan mereka.

Tanpa sadar, keduanya pun saling menautkan langkah. Baik Suzy maupun Myungsoo sama-sama memusatkan kedua soca mereka untuk mengunci satu sam lain. Myungsoo memberanikan diri untuk tersenyum. Masa bodoh dengan interpetasi Suzy kepadanya, yang penting dia dapat tersenyum untuknya.

Keduanya pun berhenti tepat di tengah jembatan. Suzy mengunci rapat-rapat mulutnya, matanya pun tidak menyorotkan apapun kecuali sosok Myungsoo yang berada di depannya. Sesungguhnya, dia sendiri merasa terkejut bukan main. Setelah seratus hari lamanya, di mana dia memutuskan untuk membuang ‘kaca spion’ hidupnya dan melanjutkan kehidupan seperti sebelum mengenal Myungsoo, dia malah kembali dipertemukan Tuhan dengan pemuda itu.

Setelah dia bekerja sebagai stylist boyband kawakan macam EXO, dia pun tak mengira bahwa perjalanan bisnis ke Dubai ini untuk mengikuti pagelaran Korean Music Wave in Dubai dia akan kembali bertemu dengan Myungsoo. Sungguh, dia sendiri tidak habis pikir. Padahal, sebelumnya pun dia bersikukuh bahwa sehabis perjanjian mereka sebagai rekan kerja antara manajer dan make up artist, mereka tidak akan mencoba untuk menghubungi satu sama lain. Dia bahkan sampai mengancam Jinyoung agar tidak memberitahu Myungsoo tentang keberadaannya. Walaupun dia tahu, tanpa melakukan itu Myungsoo tetap bisa melacak keberadaannya. Secara, dia adalah seorang chaebol dari perusahaan televisi terbesar se-Korea selatan.

“Hai.”

Myungsoo mengulurkan tangan kepada Suzy, bermaksud untuk mejabat tangannya. Namun gadis itu enggan untuk membalasnya, dia lebih memilih menelusupkan kedua tangannya dalam-dalam pada kedua saku roknya.

Myungsoo pun tersenyum samar, “apa kabar?” dan masih menggantungkan tangannya, menunggu sambutan dari Suzy.

Suzy dapat melihat pergelangan tangan Myungsoo yang dilingkari bracelet persahabatan mereka berdua. Suzy pun lantas mengeluarkan tangan kirinya, diikuti dengan tangan kanannya perlahan.

“Hai, Myungsoo.”

Dan, betapa terkejutnya Myungsoo saat menyadari bracelet juga tersemat di pergelangan lengan kanan Suzy.

“I-itu, “ Myungsoo tergagap. Dia pun enggan melepaskan tatapannya pada sepasang netra gadis itu dan bracelet persahabatan mereka. “Wanita cantik itu relatif. Tetapi, wanita yang manis, hangat, menggoda, imut, lucu, pokoknya segala keindahan Aphrodite dia punya! Bahkan lebih! Hanya siapa? Kau tahu ‘kan siapa?”

Suzy melongo mendengar penuturan Myungsoo yang tiba-tiba tersebut, melapskan dengan paksa tautan mereka. Mendengar kuesioner retorikal pemuda itu yang tanpa tending aling-aling, refleks Suzy pun hanya menggeleng.

“A-apa maksudmu?”

“Kau, tentu saja.”

“Maaf?”

Myungsoo melempar secuil senyum pada bibir tipisnya.

“Kau tidak tersipu? Kau baru saja kubilang cantik, tahu.”

“Tentu saja tidak. Untuk apa aku harus tersipu?” jawab Suzy ketus.

Sungguh, pertemuan macam apa ini. baru beberapa menit mereka bersua namun pemuda itu sudah melempar fatis recehan kepada dirinya. Gombal. Myungsoo yang suka berbicara seenaknya, dia memang tidak pernah berubah. Tunggu, berubah?

Suzy mendekam di tempatnya, menjatuhkan tatapan pada kedua sneakers-nya.

“Saranghae.”

Suzy mengankat pandangannya, melebarkan kedua kelopak matanya. Membiarkan dirinya menghujat pemuda itu dengan tatapan yang penuh tanda tanya.

“Kau mabuk?”

Myungsoo menggeleng, “aku tidak bisa minum alkohol, Nona. Aku ‘kan punya penyakit maag parah. Aku masih ingin hidup lebih lama.”

“Tetapi kau suka makan yang pedas-pedas, Tuan Kim. Kau – “

Suzy refleks menutup mulutnya dengan kedua tangan. Kenapa aku malah jadi keceplosan begini?

“Wah, ternyata kau masih mengingatnya, ya.”

“Bukan begitu!! A-aku cuma – “ Suzy menggantungkan perkataanya.

“Balas aku dengan saranghae juga, dong.”

“Apa?!!”

Suzy melotot ke arah Myungsoo. Sejurus kemudian, dia pun melayangkan pukulan kepada pria itu namun cepat ditangkis oleh pemuda itu.

“Dengar, Matt Damon ibarat setitik noktah di atas kain putih yang terbentang seluas gurun sahara, dia tidak ada apa-apanya dibandingkan diriku. Your bestfriend. Jadi, Bae Suzy, maukah kau berteman denganku?”

Suzy tergeming menatap Myungsoo. Tangannya mencengkeram ponselnya erat. Tanpa terasa pelupuk matanya terasa basah. Duh, kenapa dia menjadi melankolis begini, sih? Perasaan waktu SMA dia tidak secengeng ini. Tentu, dia tidak cengeng ataupun bersedih karena selama itu dia selalu bersama dengan, Myungsoo.

“Kau tahu kenapa ada Ya dan Tidak di dunia ini? Karena, ‘Ya, aku mencintaimu’ dan ‘Tidak, aku tidak mencintaimu’ jadi kuharap kau tahu mana yang pantas untukmu.” Suzy pun mengulurkan tangannya seraya mengatakan, “Kim Myungsoo, mari berteman lagi.”

Suzy tersenyum. Myungsoo yang tidak dapat menahan rasa terkejutnya pun tahu-tahu mendekap gadis itu erat-erat. Luapan bahagia yang tak terkira pun terpancar jelas pada parasnya yang bersinar. Suzy yang dipeluk tiba-tiba itu pun membalas pelukan Myungsoo.

Ya, ternyata memafkan seseorang itu mudah. Sangat mudah. Tetapi Suzy dulu sudah terlanjur buta oleh amarah yang menjalar hebat sehingga ia pun melupakan indahnya persahabatan antara dirinya dengan Myungsoo. Tuhan saja bisa memafkan, kenapa hambaNya tidak?

Myungsoo masih mendekap Suzy erat, bahkan sampai tertawa dengan air mata yang berlinang. Akan tetapi, gadis itu pun merasakan sesuatu yang lolos dari genggamannya karena dekapan pria itu. seketika, matanya pun terbelalak. Apalagi, ketika menyadari ponsel barunya yang jatuh dari genggamannya dan kau tahu apa yang selanjutnya terjadi? Ponsel itu terjebur ke dalam kolam.

“Yaa! BAGAIMANA INI!? PONSELKU!”

Sepertinya, Suzy memang harus bisa lebih bersabar lagi. Tuhan, tolong berikan gadis ini kesabaran dan ponsel yang baru.

TAMAT.


a/n

hiyaaaaaaaaaaaaah!! akhirnya, Wedding Dress ini selesai juga di tengah-tengah kendala dan UTS yang menggila!! wah!! *sujud syukur*🙂

pertama-tama, saya mau ucapin terima kasih kepada teman-teman yang udah setia nungguin ff chapter abal ini, demi, deh, terima kasih banget atas dukungan, saran, kritik, serta komenan yang hanya sekedar “lanjut, thor”!hehe. semuanya berarti banget untuk saya. terima kasih!!

teruntuk kepada, kak aya, kak serty, kak adiezty, kak lavenderia, dan GIRL_HMSR, terima kasih atas komentar super kalian, kakak-kakak tercinta😀

well, saya kira masih terdapat banyak kekurangan pada ff ini jadi, saya minta maaf juga atas ketidaksempurnaan itu. begitupula dengan kualitas cerita yang disuguhkan pada ff ini masih jauh dari kata sempurna. ya, karena sesuatu yang sempurna hanya milik kesempuraan itu sendiri🙂 untuk ke depannya, yakin kalau saya bisa menulis lebih baik lagi😀

udah deh, kebanyakan cuap-cuap, haha. thank you, love you, and see ya!!

xianara-sign

45 responses to “Wedding Dress Final Chapter (2/2)

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s