Full Moon

image

This poster is created by HRa @    Poster Channel

Title: Full Moon
Author: flcevtp
Main Cast: Kim Myungsoo, Bae Suzy
Genre: Angst
Rating: PG-13

Full Moon

Lelaki itu terlihat berdiri sambil menopang dagu di balkonnya. Dia di sana sudah 45 menit tanpa niat memindahkan badannya seinci pun. Hanya kepalanya saja yang bergerak, terkadang menunduk, kemudian mengadahkan kepalanya ke atas.

50 menit berlalu. Lelah? Tentu. Lelah akan pikirannya? Yep. Pikiran tentang pekerjaan? Nope. Dia kaya dan memiliki segalanya. Kenapa harus memikirkan pekerjaan? Hm, pikiran tentang cinta? Bingo.

Lelaki yang bernama Kim Myungsoo itu kemudian mengadahkan kepalanya, melihat langit yang berwarna hitam mendominasi itu. Terdapat lingkaran penuh berwarna putih, memberi cahaya pada malam hari.

Apapun hari yang memang jadwal bulan itu purnama, itulah hari favorit Myungsoo. Dia selalu menunggu momen di mana bulan itu akan membentuk lingkaran sempurna. Dia selalu menunggu awan malam yang menyejukkan hatinya.

Jika kalian menanyakan apa hobi Myungsoo, jawabannya adalah menunggu. Menunggu di sini bukan berarti suka menunggu seseorang, ataupun hal sejenisnya, melainkan menunggu kepastian.

Kepastian di mana true love nya berada. Kepastian bagaimana keadaan dia sekarang. Dia menunggu semua jawaban yang dia tunggu — hm, mungkin dia tuntut.

Dan semua jawaban yang dia tuntut sebenarnya berada pada sang bulan purnama itu.

***

Dia masih menunggu di balkon dengan posisi sama. Dia tidak merasakan apapun dalam tubuhnya saat berdiri bersandar pada balkon selama itu. Mati rasa? Mungkin.

Detik demi detik.

Menit demi menit.

Dan kini sudah 1 jam.

Myungsoo masih di sana, tak bergeming.

Kini 90 sudah menit berlalu. Dirinya mulai merasakan arti dari rasa lelah. Akhirnya lelaki itu menegapkan tubuhnya, mencoba untuk meregangkan otot-ototnya.

“Kau,”

Myungsoo menghela nafasnya kasar.

“kembali mengingkari janjimu.”kata Myungsoo yang kemudian meninggalkan balkon.

***

Matahari mulai menyorotkan sinarnya kembali menandakan pagi kini menyapa. Lelaki itu masih meringkuk di tempat tidurnya. Mata lelaki itu sembab, rambutnya teracak berantakan dengan sempurna. Terlihat banyak barang berserakan sana sini. Bahkan laci kamar itu terlihat seperti habis dibanting.

Dirinya tidur seakan tidak ada kesalahan yang terjadi. Barang berserakan di mana-mana. Kemungkinan, dirinya berubah menjadi Beast seperti di cerita khayalan Disney itu. Atay mungkin dirinya berubah menjadi Hulk, buktinya bajunya kini robek dan dirinya kini tidur dengan setengah badan terbuka — pervert.

Kini terdengar suara ketukan pada daun pintu itu.

Tok

Tok

Tok

Seakan bunyi itu adalah alarm, Myungsoo langsung membuka matanya lebar.

Tuan Myungsoo.”terdengar suara perempuan dari luar pintu.

Wajah Myungsoo langsung panik. Dirinya kini mencari tempat sembunyi di sekitar kamarnya.

Tuan Myungsoo.”kini suaranya lebih keras.

Myungsoo tetap tidak menjawab panggilan itu.

Tuan Myung–ah jinjja!”

Perempuan paruh baya itu langsung membuka pintu tanpa ijin Myungsoo. Perempuan itu membawa sebuah nampan berisi sepiring roti panggang dan segelas air putih. Tak lupa dengan sebotol kaca kecil berisi kapsul berwarna merah-biru.

Wanita paruh baya yang dipanggil Perawat Sun itu menghela nafasnya kasar. Melihat sekitar kamar anak majikannya itu seperti tak punya harapan hidup sama sekali. Matanya seperti melihat keadaan itu sudah biasa.

“Selamat pagi, tuan. Ayo, keluar dari kolong kasurmu itu sekarang dan kita sarapan bersama.”kata perawat itu dengan suara tenang.

Myungsoo enggan memperlihatkan ujung hidungnya sekalipun.

“Tuan, cepat keluar dari kolong tempat tidur tuan sekarang juga.”kini suaranya mulai menantang.

Masih belum ada respon dari Myungsoo. Perawat itu kemudian menghela nafasnya sebentar.

“Kondisi tuan muda sepertinya semakin parah. Tuan dan Nyonya Kim sudah pasrah dengan keadaan anda. Mereka mempersilahkan saya melakukan apapun pada anda bila anda semakin tidak bisa diurus.”jelas perawat Sun.

“Seperti biasa tuan muda, saya akan menghitung 1 sampai 3. Jika tuan muda tidak keluar, maka anda akan tahu akibatnya.”

1

Myungsoo mendengar hitungan itu.

2

Yep, Myungsoo mendengarnya

3

Myungsoo sangat mendengarnya.

Perawat Sun menghela nafasnya kasar, lagi.

“Jeong-hwi.”panggil perawat Sun.

Panggilan itu mendatangkan 4 pria berbadan kekar ke kamar Myungsoo. Mereka membawa rantai di masing-masing tangannya.

Perawat Sun menunjuk kolong tempat tidur di mana Myungsoo bersembunyi. Pria-pria itu kemudian menyeret Myungsoo keluar dari kamarnya. Myungsoo memberontak dan meronta-ronta tanpa hentinya.

“TURUNKAN AKU!”

“APA KAU TULI?!”

“TURUNKAN AKU SEKARANG JUGA!”

SUZY! TOLONG AKU!”

“MEREKA BOHONG! SUZY MASIH HIDUP!”

“HEI KAU PRIA TUA! TURUNKAN AKU!”

“BERIKAN AKU SUZY SEKARANG JUGA!”

“KAU PERAWAT SIALAN! PERAWAT BRENGSEK!”

“TURUNKAN AKU BODOH!”

“LEBIH BAIK AKU MATI SEKARANG JUGA DARIPADA AKU HARUS BERTEMU KALIAN DAN TERUS TERSIKSA SEPERTI INI!”

“KENAPA KALIAN HARUS BERBOHONG TERUS PADAKU?!”

“TURUNKAN A–”

Myungsoo terus berteriak dan meronta-ronta hingga perawat Sun menutup mulutnya dengan sapu tangan yang sudah diberikan obat tidur. Efek obat itu mulai bereaksi terbukti dengan Myungsoo sudah menutup mata dan mulutnya sementara.

***

Kini mereka sudah sampai di kamar penyembuhan, mereka bilang. Kamar itu terletak tak jauh dari kamar tidur Myungsoo. Mereka bukan di rumah sakit atau sejenisnya, melainkan masih dan tetap rumah keluarga Myungsoo.

Kamar itu berdinding hijau tosca, dipenuhi dengan bingkai foto Myungsoo dengan perempuan yang sering diteriakkan namanya oleh Myungsoo. Perempuan yang selalu dinanti Myungsoo saat bulan purnama.

Yep. Bae Suzy namanya.

Tak hanya dipenuhi dengan bingkai foto, tetapi juga dihiasi dengan tempat untuk merantai yang biasa dipakai untuk orang yang tidak waras — bahasa lembutnya mungkin.

Tempat untuk merantai itu tentu bukan hanya hiasan. Tempat itu akan, mungkin sekarang, dipakai Myungsoo.

Pria kekar itu beramai-ramai sedang merantai Myungsoo dengan rantai hitam legam itu. Perawat Sun yang sedang menyaksikan adegan itu sebenarnya tidak tega melihat tuan mudanya diperlakukan seperti orang gila — bahasa kasarnya.

Setelah selesai merantai Myungsoo, 4 pria itu keluar dari kamar siksaan itu. Perawat Sun kemudian jalan mendekati Myungsoo yang sedang terkulai tak berdaya. Peluh keringatnya kini membasahi seluruh tubuhnya. Myungsoo yang saat itu mulai sadar dari tidurnya barusan kini hanya menundukkan kepalanya ke bawah. Air matanya kembali berjatuhan.

“Tuan muda seharusnya menghadapi dan menerima kenyataan jika nona itu sudah tiada.”kata perawat Sun sambil melihat ke arah barisan bingkai yang disusun di dinding itu kamar itu.

“Masih banyak perempuan di sana yang ingin dikasihi oleh tuan muda.”

“Kasihan tuan dan nyonya yang khawatir dengan tuan muda.”

“Tepat hari ini adalah peringatan kepergian nona 1 tahun. Sudah berapa bulan purnama yang tuan muda lewati?”

Myungsoo yang tadinya menunduk kini mengadahkan kepalanya melihat ke arah sebuah bingkai foto besar berwarna merah jambu dengan foto Suzy yang tertampang jelas. Foto Suzy yang sedang tersenyum menunjukkan deretan giginya yang rapi.

“Dia masih ada. Hari ini dia akan menjengukku.”lirih Myungsoo dengan senyum mirisnya.

***

–Flashback ON–

“Sue, kenapa kau tega meninggalkanku di Korea sedangkan kau pergi ke Amsterdam sendirian?”tanya Myungsoo sambil mengendarai mobilnya.

“Aku ke Amsterdam hanya untuk kelulusan kok. Aku di sana paling hanya 3 hari.”jawab Suzy sambil tersenyum.

Myungsoo jengkel saat itu. Jengkel karena harus ditinggal Suzy 3 hari. Mungkin bagi Myungsoo ditinggal 3 hari oleh kekasihnya serasa ditinggal 3 tahun.

Jebal, aku ingin ikut denganmu ke Amsterdam! Siapa tahu aku bisa memfotomu nantinya, atau mungkin liburan di sana. Eottae?”tanya Myungsoo dengan memohon.

“Untuk memfoto, orangtuaku sudah di sana. Jadi tidak usah repot-repot.”jawab Suzy sambil mengacak rambut Myungsoo gemas.

Myungsoo hanya mendengus kesal. Merapikan rambutnya sebentar, lalu melanjutkan perjalanannya.

“Kau sama sekali tidak menginginkanku untuk ikut ke Amsterdam? Kau tidak merindukanku sama sekali? Ah, kau pasti sudah punya pacar sendiri di sana ya? Jika tidak, kenapa kau tega meninggalkanku sendiri di sini? Kenap–”

Cup.

Suzy mendaratkan bibir plum nya itu tepat di bibir Myungsoo, berniat memotong Myungsoo sebelum dirinya menanyakan pertanyaan esai pada Suzy.

“Satu, aku memang tidak ingin kau ikut. Pasti kau akan memalukanku di depan banyak orang.”

“Dua, aku tentu rindu pada dirimu bodoh.”

“Tiga, aku sama sekali tidak punya pacar di sana. Kau bisa menanyakan semua pria dari bayi sampai kakek-kakek sekalipun.”

“Empat, jawabannya sama dengan jawaban pertama.”

Myungsoo tercengang dengan jawaban Suzy. Em, dia lebih tercengang saat Suzy menciumnya lebih dulu. Pertama kalinya dalam seumur hidup, baru kali itu Suzy menciumnya lebih dulu. Pertama kalinya!

Suzy melambaikan tangannya di depan wajah Myungsoo dengan kebingungan. Myungsoo masih tidak percaya dengan kelakuan kekasihnya itu hingga,

Plak.

Suzy mendaratkan tangannya ke pipi kiri Myungsoo hingga menghasilkan cetakan tangan Suzy berwarna merah.

Yak! Lampunya sudah hijau, kau ingin ditilang lagi hah?”tanya Suzy ketus.

Myungsoo langsung gelagapan lalu melanjutkan perjalanannya menuju bandara.

***

Mereka akhirnya sudah sampai di Bandara Incheon. Myungsoo memparkirkan mobilnya cepat-cepat. Suzy melepaskan seatbelt nya lalu turun dari mobil, kemudian menuju ke arah belakang mobil. Membuka bagasi mobil, lalu menurunkan sebuah koper berwarna silver.

Cha! Terima kasih kau sudah mengantarku ke bandara. Kau boleh pulang sekarang, kasihan orangtuamu di rumah.”

“Kau kira aku anak kecil? Tsk.”dengus Myungsoo kesal.

Suzy menjulurkan lidahnya usil, dirinya gemas melihat wajah Myungsoo bila kesal. Lalu dirinya mencubit kedua pipi kekasihnya itu lama. Myungsoo mengerang kesakitan, lalu menarik paksa tangan Suzy untuk lepas dari pipinya itu. Kemudian Myungsoo meraih tengkuk Suzy, menciumnya lembut. Suzy melebarkan matanya kaget, namun lama-kelamaan dirinya menikmatinya.

Omo! Aku bisa ketinggalan pesawat bila aku masih di sini terus!”seru Suzy.

“Kau melewatkan babak seru tadi”kata Myungsoo sambil menyunggingkan bibirnya nakal.

“Mesum.”kata Suzy sambil memukul pundaknya kasar.

Mereka berdua jalan menuju pintu utama bandara itu, lalu Suzy berpamitan dengan Myungsoo.

“Kau, jaga baik dirimu. Aku di Amsterdam hanya 3 hari, jadi jangan menghubungiku terus-terusan.”

“Kau juga. Titipkan salamku pada orangtuamu. Ingat hanya aku yang ada di ha–”

“Cerewet. Aku sudah tahu dan sudah hafal.”potong Suzy.

Kemudian Myungsoo memeluk Suzy erat. Jujur, perasaan di benak Myungsoo sedari awal tidak enak dengan kepergian Suzy keluar pulau itu. Namun dirinya berusaha menepis perasaan itu jauh-jauh.

Lalu Suzy melepas pelukan itu, melambaikan tangannya ke Myungsoo dengan senyum. Yang bagi Myungsoo merupakan senyuman Suzy yang tercantik di seumur hidupnya.

“Tunggu.”cegat Myungsoo dibarengi dengan meraih perelangan tangan Suxy.

“Kau pulang tanggal 15 kan? Tanggal itu adalah anniversary kita yang ke 5 tahun, dan nanti ada bulan purnama saat anniversary kita. Kau pasti pulang kan?”tanya Myungsoo.

“Tentu. Bulan purnama itu sangat spesial bagi kita. Aku pasti pulang. Tenang saja! Tunggu aku nanti saat bulan purnama.”jawab Suzy sambil tersenyum meyakinkan Myungsoo.

Bye! Ingat, tunggu aku saat bulan purnama!”pamit Suzy.

***

Myungsoo pada tengah malam benar-benar tidak bisa tidur. Memang Suzy telah mengabarinya jika dirinya sudah sampai dengan selamat, namun perasaan buruk yang berada di benaknya benar-benar tidak bisa ditepis. Keringat dingin menjulur di tubuhnya. Rambutnya teracak berantakan memikirkan hal negatif yang akan menimpa kekasihnya.

Jebal,”

“Perasaan apa ini?”

“Aku tidak bisa terus menerus memikirkan hal ini.”

“Suzy akan baik-baik saja.”

“Tenangkan dirimu, Kim Myungsoo. Tenangkan dirimu!”

Myungsoo terus menenangkan dirinya sendiri. Hati dan akal budinya saling beradu. Entah saling mempengaruhi atau saling menepis pikiran itu.

“ARGH!”teriak Myungsoo frustasi.

***

3 hari sudah berlalu. Bagi Myungsoo itu seperti 3 tahun menunggu Suzy. Ditambah lagi perasaan buruknya mengenai keadaan Suzy.

Jadwal untuk hari itu adalah menjemput Suzy di bandara Incheon pukul 10.10 KST. Dan sekarang sudah jam 09.30 KST, dan pria bermata elang itu sampai saat itu juga belum membuka matanya.

Entah seperti listrik yang tersengat di tubuhnya, Myungsoo langsung membuka matanya. Melihat jam digital di sebelah kanannya menunjukkan waktu 09.32. Myungsoo melebarkan matanya menyadari dirinya sangat kesiangan. Dirinya langsung meloncat dari kasurnya, melepas bajunya, mandi, berganti baju, dan lari keluar kamar.

Saat Myungsoo membuka pintu kamarnya hendak keluar, orangtua Myungsoo berdiri di depan pintu kamar Myungsoo sambil terisak, terutama nyonya Kim.

“Kalian, kenapa menangis?”tanya Myungsoo dengan polosnya.

“Myung-ah…”lirih nyonya Kim.

Yeobo, jelaskan padanya.”sikut nyonya Kim pada suaminya.

Tuan Kim menghampiri Myungsoo yang masih berdiri kebingungan, menepuk pundak Myungsoo sambil memberi isyarat untuk tegar.

“Kau,”

“tidak perlu ke bandara.”kata tuan Kim.

Wae appa? Hari ini adalah anniversary kami yang ke-5 tahun. Aku harus menjemputnya sendiri. Apa supir sudah berangkat? Appa–“

Suzy tidak pulang hari ini.”kata Tuan Kim sambil terisak.

Myungsoo mengernyitkan alisnya bingung.

“Jangan bercanda appa. Dia jelas-jelas pulang hari ini! Suzy malah menelponku 12 kali dan mengirimku SMS mengingatkanku untuk menjemputnya hari ini.”kata Myungsoo.

“Pesawat yang Suzy tumpangi untuk kembali ke Korea kecelakaan di udara. Suzy sudah pergi ke tempat yang semestinya sekarang.”jelas tuan Kim dengan paksa yang membuat nyonya Kim tambah terisak.

Kaki Myungsoo langsung lemas seketika. Ternyata perasaan yang berada di benak Myungsoo kini menjadi kenyataan. Senyuman Suzy yang paling cantik itu ternyata adalah senyuman untuk terakhir kalinya.

“Tidak. Suzy bilang padaku untuk menunggunya saat bulan purnama! Dia akan menemuiku saat bulan purnama, appa! Dia sudah berjanji!”teriak Myungsoo.

“Suzy sudah tiada, Myung. Suzy sudah pergi!”yakin tuan Kim.

Tuan Kim dan Myungsoo terus beradu mulut. Myungsoo bertekad untuk pergi ke bandara guna mencari Suzy. Tetapi langsung dicegah oleh para guide tuan Kim. Myungsoo terus meronta-ronta, berteriak, dan menyalahkan dirinya.

“Kenapa aku merelakannya pergi ke Amsterdam?”

“Kenapa aku tidak bangun lebih awal untuk menjawab telponnya?”

“Kenapa aku tidak mencegah Suzy waktu itu?”

“Kenapa kau rela meninggalkanku Suzy?”

“Kenapa?”

Myungsoo terus menangis dan menangis memikirkan Suzy. Hingga lama-kelamaan kewarasannya terganggu. Dia terus mencari Suzy dan menanyakan keberadaanya. Sampai sekarang.

–Flashback OFF–

***

Myungsoo yang terkulai lemas dengan rantai yang masih menempel di tubuhnya kini menangis. Memang kewarasannya sudah rusak dan melewati batas, namun hati kecilnya masih utuh. Dirinya masih menyalahkan dirinya yang bodoh saat kejadian setahun yang lalu.

Kamar penyiksaan yang gelap saat malam hari memang mengerikan. Namun Myungsoo tidak merasa takut sama sekali karena 4 lampu kecil yang seakan membentuk benteng di sekeliling bingkai-bingkai foto Suzy. Myungsoo memandangi bingkai itu dengan senyum.

Myungsoo.”panggil seorang wanita dengan lembut.

Myungsoo hafal suara itu. Sangat hafal. Suara itu bagai sebuah melodi favoritnya setiap hari setiap saat.

“Suzy?”tanya Myungsoo sambil mengedarkan pandangannya.

Aku disini.”

Myungsoo mencari sumber suara itu dengan seksama. Hingga dirinya menemukannya di depan matanya, dan di depan persis bingkai-bingkai itu.

“Kau.. ke mana saja? Aku tahu semua orang berbohong tentang berita sampah itu. Buktinya kini kau masih ada di sini, bersamaku.”bangga Myungsoo.

Suzy berjalan pelan-pelan ke arah Myungsoo sambil menunjukkan senyumnya yang tenang. Senyum yang membuat psikis Myungsoo mulai tenang.

“Mereka tidak berbohong Myung.”kata Suzy sambil mengelus kepala Myungsoo lembut.

“Pesawat yang kunaiki saat pulang ke Korea itu meledak. Aku duduk di daerah belakang pesawat, dan kebetulan bagian pesawat yang meledak itu di bagian belakang, jadi aku tidak keburu untuk menyalamatkan diri.”jelas Suzy sambil mengusap air mata Myungsoo.

“Hari ini tepat kau pergi setahun, Suzy. Dan hari ini tepat anniversary kita yang ke-6 tahun.”

“Aku tahu. Makanya aku datang menjengukmu.”jawab Suzy sambil meraba rantai yang masih menempel pada tubuh Myungsoo.

Suzy terlihat seperti memakai wedding dress yang sangat indah di mata Myungsoo. Dress putih dengan motif bunga mawar, rambut Suzy yang dikepang miring. Semua yang dikenakan Suzy seperti obat bagi Myungsoo.

“Aku harus pulang, aku sudah ijin untuk menjengukmu hanya sebentar.”pamit Suzy.

“Jangan pergi. Jebal Suzy-ah.“cegah Myungsoo.

“Aku hanya pulang sebentar kok. Tapi aku tidak akan meninggalkanmu. Tetap ingat kalau aku ada di hatimu. Selalu.”

“Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu bila kau menuruti 1 hal.”kata Suzy.

“Apa itu? Aku pasti menurutimu. Pasti!”

“Jagalah kesehatanmu. Aku tidak mau melihatmu meronta-ronta seperti orang gila. Aku tidak mau kau menangisiku terus menerus. Buatlah orangtuamu bahagia, jangan buat dia menangisimu terus. Aku mau Myungsoo yang bahagia, bukan yang suram sepertimu. Carilah wanita yang lain untuk kau nikahi, lalu punyalah anak setelah itu. Buatlah keluarga yang bahagia untuk aku lihat di atas nanti. Janji?”

“Aku hanya mencintaimu seorang. Kukira kau sudah tahu hal itu.”kata Myungsoo sambil memegang kedua tangan Suzy erat.

“Aku memang tahu. Sangat tahu. Tapi itu janji kita berdua dan kau harus menurutinya. Arraseo?”

“Kalau aku ingin bertemu denganmu atau aku ingin bercerita padamu, aku harus bagaimana?”tanya Myungsoo.

Suzy tersenyum, “tunggu aku saat bulan purnama. Aku pasti menghampirimu.”

Suzy mengecup puncak kepala Myungsoo lembut, lalu menghilang bagai diterpa angin. Baik Myungsoo maupun Suzy kini mereka sudah tenang. Kesehatan Myungsoo lama-kelamaan membaik, dan sembuh total.

“Aku mencintaimu Suzy. Sangat.”

***

9 tahun kemudian.

Pria berkacamata itu terlihat membawa sebuket bunga mawar, bunga kesukaan kekasihnya 15 tahun yang lalu. Dirinya berjalan menuju sebuah batu nisan yang terukir nama wanita yang sangat ia cintai, sampai sekarang.

“Hai Suzy.”sapa Myungsoo pada batu nisan yang berada di depannya.

“Hari ini peringatanmu yang ke-10 tahun. Dan hari ini juga anniversary kita yang ke-15.”kata Myungsoo sambil menahan tangisnya.

“Seperti perjanjian kita, kini aku sudah menikah dengan Park Jiyeon. Kami menikah karena perjodohan.”

“Aku juga sudah punya 2 anak. Yang pertama Myungbae, laki-laki. Kedua Myungji, perempuan.”

“Aku sudah menuruti janjiku, semoga kau di atas sana melihatku dengan bangga.”

“Aku berharap semoga kau tenang di atas sana.”

Myungsoo mengadahkan kepalanya ke atas menghadap langit. Menutup matanya sejenak menikmati terpaan angin sepoi yang lembut. Air matanya kini menetes menjulur ke wajahnya. Dirinya langsung mengusap air matanya dan tertawa kecil.

“Seharusnya aku bahagia karena hari ini anniversary kita Sue.”

Namun batinnya mengingat masa lalunya dengan Suzy. Myungsoo langsung berlutut, menundukkan kepalanya, menutup wajahnya dengan 2 telapak tangannya. Menutupi air matanya yang mengalir dengan deras.

Merasa puas menangis, Myungsoo berdiri dan mengusap wajahnya yang basah. Kini dirinya tersenyum melihat batu nisan Suzy dan hendak berpamitan.

“Aku akan melakukan apa saja untukmu hingga aku benar-benar bertemu denganmu nanti. Aku akan selalu menunggumu saat bulan purnama. Tunggu aku, Suzy-ah! Janjilah kepadaku!”teriak Myungsoo yang berakhir dengan senyum tipisnya.

Suzy yang melihat Myungsoo sedari tadi dari atas kini tersenyum bangga kepadanya.

Pasti. Aku selalu menunggumu di sini, Myung-ah.

–FIN–

a/n: apa kabar! Ini ff myungzy dan one shot aku yang pertama kalinya. Jadi maaf kalau bahasa blepotan hehehe. Untuk ff Nuna, aku ga dpt dukungan cukup kayaknya. Yang baca juga makin lama makin turun kyk perosotan. Jadi mungkin aku ga update dulu ff itu sampe mood ku balik. Atau mungkin aku gantungin aja itu ff :’)

Terima kasih sudah membaca!🙂

-read, comment, and like as always-

36 responses to “Full Moon

  1. salut sama myungsoo dia benar2 cinta banget sama suzy sampe bisa gila gitu, sampe udah punya anak pun dia tetap mencintai suzy🙂

  2. ya ampun.. aq bnr” nangis baca ff ini dr awal smpe akhir.. hiks hiks!! myungppa cinta bngy sama suzy.. tp dyng zyeon harus ninggal.. bahkan stlah 10 tahun suzy ninggal pun dy msh cinta bngt sama suzy😥

  3. Jdi sedih dan nyesek bacanya Suzy meninggal dan Myung d siksa gitu sampe di ikat pke rante -_- yaa Myung menikah dgn wanita lain makin nyesek-_-

    Terus berkaya,
    good luck^^

  4. Pingback: Whisper | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

  5. Kasian bgt mreka g bisa bersatu…hikhikhik
    Andai aja myung ikut pasti mereka akan tetap bersama
    Ah sungguh…author buqt aku gaslau sajjahhhh hAhaha

  6. Ya ampun ini sad ending kah?
    Heh kasihan myungsoo sampe depresi gitu kehilangan suez, dan tetep anggep suez masih hidup. Tapi dya nepatin janjinya untuk bahahi, dan itu karna suez. Heh bikin galau, ff nya jjang thor🙂

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s