[Vignette] An Unfounded Incognito

aui-jpg

An Unfounded Incognito

Bae Suzy (miss A), Wu Yi Fan / Kris Wu (Actor), Victoria Song (f(x)), and others | AU, Fantasy, Surreal, Fluff, slight!Wizard | Vignette | PG 15 (harsh words)

Disclaimer: beside the poster and story-line I own nothing!!!!!

pernah di-publish di blog pribadi.

Wanita itu adalah Victoria – ibunya Li – yang baru saja menambahkan daftar panggilan untukmu, Penyihir Jalang

 

“Sudah kubilang, ‘kan? Dia itu penyihir!! Orang aneh!”

Orang-orang desa menghardikmu. Tatapan setajam silet yang dipenuhi amarah menghunjam tubuhmu. Para pemuda mendesis kepadamu. Para gadis pun turut memaki kata-kata kasar yang tak layak dengar untukmu. Kau tidak bisa berbuat banyak – jelas saja, kedua tangan dan kakimu diikat. Mulutmu disumpal dengan kain yang baunya mirip buncis kadaluwarsa. Lengkap sudah penderitaanmu.

Kau memilih diam, tak mau membalas pandangan jijik mereka. Kau menunduk seraya menyembunyikan lelehan kristal pada kedua matamu. Ketika realita yang memilukan menghancurkan fantasimu, apa yang bisa kau perbuat?

Penyihir, mereka mengklaim dirimu sebagai penyihir. Mentang-mentang kedua bola matamu berwarna merah; surai sebahumu pun demikian, otomatis mereka mengecapmu sebagai titisan Lucifer. Si Pembangkang ‘Kesayangan’ Tuhan. Logikamu pun sungkan tuk menerima simpulan primitif mereka. Mana mungkin itu benar adanya?

“Lebih baik kita apakan gadis sialan ini?”

“Kita jeburkan ke dalam sumur?!”

“Tidak – jangan! Nanti air di dalam sumur itu malah tercemar!”

Seruan-seruan berisi daftar rekomendasi eksekusimu pun terdengar. Berbagai macam jenis pemusnahan sadis pun mulai diungkapkan.

“Bakar saja dia! Beres, ‘kan?”

“Benar!!”

“Setuju!!”

“Ayo guyur dia dengan minyak tanah!!”

Setelah mendengar keputusan final para penduduk untuk menamatkan riwayatmu lantas membuatmu semakin tak berani mengangkat pandangan. Malang benar rasanya guratan takdir yang musti kau tempuh. Sudah berlakon jadi tunawisma, hidup terlunta-lunta tanpa arah, hingga pada akhirnya hidupmu berakhir di atas arang yang menyala dan menjadi Penyihir Bakar. Ralat, Gadis Gembel Bakar.

Belum ada bukti yang menyertaimu kalau benar kau adalah seorang penyihir yang keji. Kalau menyangkut soal kondisi fisikmu, itu belum bisa dijadikan bukti. Soal warna mata dan rambut masih bisa dikaji secara scientific, pengaruh dari pigmen warna mungkin jawabannya.

Sejemang berlalu, guyuran hasil pembakaran fosil yang seharusnya membasahi tubuhmu tak dinyana tak kunjung terasa. Tubuhmu tetap nampak kering. Nyatanya, ada seorang pemuda yang mencegah aksi pembakaran hidup-hidup untukmu – dia mendukungmu. Bahkan, dia sampai membelamu hingga dirinya  dikecam oleh kaumnya sendiri.

“Hei, kau dungu atau apa sih?! Sudah jelas kalau dia itu penyihir!”

“Apakah kau tidak tahu? Semenjak kedatangannya kemari, banyak hewan ternak kami yang ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa setiap fajar menjelang!! Kau tahu kenapa? Karena gadis setan itu yang membunuhnya! Dia menghisap darah mereka untuk kehidupannya!”

“Itu tidak benar! Bisa jadi hewanmu itu terkena virus! Apa kau tidak tahu kalau sekarang penyakit anthrax tengah marak di kalangan hewan ternak seperti sapi-sapimu?!”

Bukan hanya itu saja, pemuda jangkung itu juga dikira sinting oleh ibunya sendiri karena bersikeras menentang semua persepsi negativ penduduk kepadamu. Ada kalanya, kau memberanikan diri tuk menggelontorkan tatapan pada pemuda itu. Kau pun menemukan sepasang bola mata berwarna kelabu yang tegas itu balas menatapmu walau sekilas.

“Itu namanya prasangka!”

“Tetapi gadis itu selalu ditemukan tertidur di dalam kandang ternak kami!!”

“Bung, dengar dulu!! – ” seru si pemuda membalas sangkaan penduduk kepadamu.

Kakinya yang yang jenjang menyeruak ke arahmu, menatap para penduduk yang membentuk lingkaran yang mengelilingimu. Dia pun mengunggah sebuah tatapan yang patut dipertanyakan secara cuma-Cuma kepadamu.

– apa kalian memiliki bukti kuat – selain warna mata dan rambutnya – yang melandasi prasangka kalian!?”

“Mungkin, di kelingkingnya tersemat cincin batu akik!’ celetuk salah seorang pria dengan suara yang serak.

Kau menoleh ke asal suara dan menemukan seorang pria yang tidak kalah tinggi dengan pemuda yang menuai lakon menjadi kuasa hukum atas dirimu. Dari sosok tersebut, kau pun mengenalinya. Dia adalah Max – penjahit sepatu kulit lembu – yang sempat mengusirmu karena penampilanmu yang kucelnya minta ampun. Max menatapmu penuh hina. Mulutnya pun bergerak-gerak kecil, merapalkan serapah kejam untukmu.

“Ya, ya! benar!!”

“Coba periksa!!”

“Kudengar, batu bachan adalah element terkuat! Pasti dia memilikinya!”

Selentingan tak masuk akal dijaring oleh indera pendengaranmu. Di balik sumpalan kain yang membekap mulutmu, kau memaksakan seulas senyum hambar. Apa mereka tidak salah? Batu akik? Ck, untuk makan saja aku harus mengais sisa-sisa makanan di tumpukan sampah. Cintin batu akik? Hah, bahkan ini lebih buruk dibandingkan memburu rusa bermoncong babi.

“Kalian barusan bilang apa? Hei, harusnya kali – “

“Hentikan, Li! Aku sudah muak!” suara wanita menginterupsi pemuda yang sekarang diketahui bernama Li. “Kumohon, kembali saja ke sini. Tak usah kau repot-repot pakai segala membela penyihir jalang itu!”

Wanita itu adalah Victoria – ibunya Li – yang baru saja menambahkan daftar panggilan untukmu, Penyihir Jalang. Surai cokelatnya pun dibiarkan menjuntai hingga menyentuh punggungnya sehingga membuat aura kecantikan Victoria mengintimidasi siapa saja yang berada di dekatnya kecuali dirimu, tentunya.

“Ibu!!!” Li menggertak. “Ini tidak adil! Perempuan ini berhak untuk membela diri, sesuai dengan asas praduga tak bersalah! Bukankah, Kakek Montesquie pernah bilang – “

“Kevin Li, diam!!” lengking Victoria sambil berusaha menarik Li namun segera ditepis oleh pemuda itu.

Li tidak gentar membela tersangka sepertimu meski Victoria sudah menyumpahi puteranya sendiri dengan sumpah-sumpa neraka. Li tetap berdiri sebagai tameng di depanmu. Dia pun menoleh padamu, mengangguk seraya mengangkat kedua ujung bibirnya. Oh, apakah baru saja pemuda itu melempar senyum padamu?

Tahu-tahu, pemuda itu berjalan ke arahmu dan berjongkok di depanmu. Tangannya terulur menuju wajahmu. Kau menatap tangan itu seolah-olah itu adalah ular sendok yang siap menggigitmu makanya kedua matamu terpejam. Nyatanya, Li membebaskan sumpalan pada mulutmu. Kau pun membuka mata, memandangnya kikuk walau sesaat.

“Kau tidak apa-apa.” Li melontarkan pernyataan untukmu. Kentara dari intonasi yang dipakai Li dalam kalimatnya.

Kau yang tidak punya pilihan, mengangguk. Selanjutnya, pemuda itu berdiri.

“Aku ada ide, – “ usul Li sembari melempar pandang ke sekeliling. Li memberi jeda pada kalimat yang akan diucapkannya. Membuat para penduduk mau tak mau membayar atensi kepada Li. Tanpa tahu harus berbuat apa, kau mendongak pada Li seraya menahan napas.

– bagaimana kalau aku yang membuktikan kebenaran pada gadis ini? Apakah dia penyihir atau bukan? Dengan metodeku.”

Hening sesaat. Kemudain terdengar koor berisi teriakan setuju. Para penduduk yang setuju pun mengacungkan telunjuk beserta garpu rumput dan tombak ke arahmu tak sabaran. Agaknya, kau mengalami kesusahan menelan air liur. Kau tidak mengerti dengan apa yang baru saja terjadi. Li berbalik untuk menghadap padamu, sorot mata yang patut dipertanyakan itu pun kini terbukti benar.

Dasar licik!

Bibirmu serasa digembok. Perlakuan Li barusan sukses menggondol separuh jiwamu. Benar-benar tak terduga. Victoria yang sebelumnya mengutuk Li, kini mengelu-elukan nama Li seperti orang suci. Kau masih tercengang. Macam kehabisan stok kosakata untuk menggambarkan perasaanmu terhadap situasi sekarang.

“Tenang!! Semuanya harap tenang!!” Li berteriak sembari menggerakan kedua tangan.

Para penduduk terdiam, yang jelas tidak denganmu. Kaku menampar punggung Li dengan sorot yang tajam. Percikan yang sempat mengguris seujung hatimu akibat perlakuan Li di awal sekejap telah menghilang tak berbekas.

“Kuberi tahu satu hal . . .”

Kau membiarkan organ tuturmu terkunci rapat. Dalam hati, kau merapalkan milyaran kutukan kepada pemuda rubah di hadapanmu.

“Seorang penyihir itu pasti . . .”

Seperangkat antibodi tak kasat mata mulai terpasang mengitarimu. Iris matamu melebar, menyala terang. Kau dapat merasakan aliran cakra yang menyebar ke seluruh syaraf dalam tubuhmu, membentuk pusaran energi.

“Memiliki  darah berwarna hijau.”

Li memasang setitik senyum congkak. Sepucuk belati tipis tahu-tahu sudah tergenggam pada jemari Li. Para penduduk melenguh takjub. Kau mendecakkan lidah, meremehkan.

“Jadi, aku akan, “ Li mengelus permukaan ujung belati itu dengan gerakan yang demonstratif. “menggambar burung-burung kecil di atas kulitnya, bagaimana?!” gurau Li, diimbuhi dengan kekehan yang terdengar ganjil.

Li berjalan mengitarimu, berusaha menyabotase kekuatanmu; melelehkan keberanianmu; melunturkan semangatmu; menggerus karsa yang terasa kokoh di dalam hatimu.

Li membuang langkah di depanmu, membungkuk padamu. Li kembali meretas jarak denganmu, maunya sih dia mengecup puncak kepalamu – untuk-mengejek – akan tetapi kau berhasil menghindar. Pandanganmu kau angkat untuk menjilat arogansi dalam kedua manik Li yang berubah menjadi kelam.

“Aku lebih suka gambar pemandangan, sayangnya.” Kau menjawab dengan sarkasme yang tersirat.

“Well, apapun yang kau mau, Dear – “

Diam-diam, belati itu mengarah ke rusukmu. Namun keberuntungan masih berpihak padamu. Kau berhasil menghindar dengan jeda seujung rambut. Kalau saja kau telat, mungkin punggungmu sudah terkoyak dan parahnya lagi –

“Kenapa menghindar, dear?”

– Li mungkin akan merasa jumawa karena berhasil melukaimu. Atau sebaliknya, kau harus melawan pemuda itu.

“Dasar licik! Manusia kotor dan licik!!” bisikmu tepat di sebelah telinga Li. Sekilas, kau dapat melihat Li yang kegelian karena napasmu yang menyentuh pori-pori kulitnya tadi.

Para penduduk terkesiap. Mereka pun memilih untuk bungkam, menunggu aksi apa yang akan dilakukan Li selanjutnya.

“Suaramu, “ Li terlihat sedang berpikir mengenai kata-kata yang cocok. Belati yang siap menerjang seonggok lehermu terhenti di udara. “terdengar menggoda.” lanjut Li. Seringai tipis pun tercetak di bibirnya.

Sepasang soca milikmu menjerang tak terima. Dalam sekejap, tali tambang yang membatasi ruang gerakmu terlepas begitu saja. Sontak membuat para penduduk kembali terkesiap. Sedetik kemudian, kau pun bangkit dan mulai memersiapkan kuda-kudamu.

“Teknik penyamaran yang tidak buruk, lumayanlah.” Ujar Li , meremehkanmu.

“Kau juga, ck.”

“Benar begitu?”

“Yaa! coba saja kunyah kain busuk ini!” tantangmu kepada Li.

Selanjutnya, kau membentangkan seutas kain yang sebelumnya membekapmu. Ajaibnya, kain itu berubah menjadi sangat panjang. Kau menatap balik pemuda congkak itu dengan tatapan yang merendahkan. Kau tidak tinggal diam. Secepat kilat kau pun menyerang Li dengan jotosan yang bertubi-tubi pada ulu hatinya.

Li yang tidak sempat menghindar pun jatuh tersungkur dan mengerang kesakitan. Kendati demikian, dalam sekejap tahu-tahu pemuda blonde itu bangkit kembali dan tertawa mengejek.

“Lihat! Apa kubilang tadi, wanita itu benar-benar penyihir!!”

“Iya, memang! Tapi si Kevin Li juga penyhir, tahu!!!!”

“Selamatkan diri kalian, lariiii!!”

Para penduduk pun sontak berlarian, meninggalkan dirimu dan Li. Si pemuda arogan itu pun membalas seranganmu dengan melempar selusin jarum tipis ke arahmu. Beruntung kau berhasil menghasil menghindar dengan membentangkan kain untuk melindungimu.

Tiba-tiba, udara di sekitar Li berputar, seperti putaran gasing. Kau pun menatap geram pemuda itu dan bersiap-siap melemparkan serangan udara kepadanya. Sudah jelas bukan, kau adalah pengendali udara. Sejurus kemudian, kau melemparkan serangan udara kepada Li tanpa ampun.

Swinggg!!

Blussss!

Meleset. Sial! Rupanya, pemuda licik itu berhasil meloloskan diri. Akan tetapi gesekan udaramu berhasil mengenai siku pemuda itu sehingga membuatnya tergores, cukup lebar. Dan, darah berwarna hijau terang pun mengucur dalam intensitas kecil. Dan dalam sekejap, luka goresan itu pun menutup dengan sendirinya. Ha, kau tidak mungkin berpikir kalau si Li ini memiliki leukosit yang sejuta kali lebih banyak daripada manusia pada umumnya, ‘kan? Ya, kecuali kalau kau berpikir kalau Li itu adalah seorang –

“Oops, kau meleset, Nona.” ejek Li.

“ – Penyihir busuk! Darah hijau?!”

“Kevin Li!! Putraku!!!”

Kau menoleh ke asal suara. Victoria masih berdiri di sana dan menatap Li ‘gadungan’ dengan linangan air mata. Ketika Victoria hendak menghampiri Li, kau terlebih dahulu menahan ibu jelita itu dengan berpindah tempat secepat kilat.

Kau menahan lengan Victoria, “Jangan mendekat, Vict!!”

“T-tapi, dia ‘kan anak – “

“Dia bukan anakmu, dia iblis. Iblis itu memakai jasad anakmu yang untuk mengelabui kita semua.”

Victoria kalap, tak dapat menahan tangis lebih lama lagi. Kau pun refleks, mengusap punggung wanita itu, berusaha tuk menenangkannya.

Lalu, kau berbalik menghadap pemuda sinting yang mengalirkan tawa secara tidak nyata. Li bahkan sampai memegang perutnya segala, biasanya itu terjadi karena terlalu banyak tertawa. Namun kau menganggap kelakukan pemuda itu rancu.

“Suzy, Si Peri Abu-abu.”

“Kris, Pangeran Iblis.”

Dalam sekejap, kau memindahkan Victoria ke tempat yang aman. Si Kevin Li Gadungan alias Kris menjahit segaris senyum miring untukmu. Kedua bola mata kelabunya sontak berubah corak-rupa menjadi merah menyala. Tanpa secuil rasa gentar, kau pun menantang iblis itu dengan menggurik manik kelamnya lekat-lekat dengan kedua manikmu.

Baju lusuh yang dikenakan Kris (alias Kevin Li, seterusnya akan kutulis Kris) berganti menjadi pakaian serba hitam, dilengkapi aksen jubah bertudung dengan warna serupa. Corak pada surai blonde-nya pun bertransformasi warna menjadi silver.

Kau tidak mau kalah pamor darinya. Kau juga menukar sandangan jembelmu dengan setelan kebangganmu, berupa baju zirah berwarna putih bersih. Begitupun dengan rambut merah delimamu yang kini lenyap digilirkan oleh surai berwarna hitam yang diikat seperti ekor kuda. Tak ketinggalan, corak pada socamu yang berganti-ganti warna setiap kau mengejapkan kelopak mata.

“Baju yang bagus. Lumayan, aku suka potongannya.” komentar Kris.

Kau membuang decakan malas,  “potongan celanamu oke juga.”

“Menurutku tidak juga. Jujur, agak sempit di bagian pangkal paha.” jawab Kris dengan memasang ekspresi yang aneh.

Gerakan muntah-muntah seketika tercetus oleh tubuhmu. Kris di sana pun kembali memasang senyum miring disertai sorotan yang mengunci setiap pergerakanmu. Merasakan awal dari sebuah serangan, kau pun kembali mengusung hawa di sekitarmu dengan pengendaliaan udara. Kau balas mengunci pemuda itu dengan dua pusaran angin di kedua sisi Kris.

Bluss!!

Kris lagi-lagi berhasil menghindar. Tahu-tahu, pemuda itu pun muncul di belakangmu, bersiap untuk menikam punggungmu dengan belati berukuran sedang. Namun ternyata kau masih cukup tangkas untuk mengelabui aksi tikaman pemuda itu sehingga kau bebas dari tusukan belati beracun itu, sekali lagi.

“Yaa, beraninya menusuk dari belakang. Kau itu wanita, ya. Dasar pengecut! Beraninya hanya menyerang wanita sepertiku!”

“Oh, aku pengecut? Memang sih, hehe.” Li menukas dengan sederet tawa mengejek.

“Satu lagi, kau terlalu banyak bicara!!”

“Maaf, itu memang bawaanku sejak orok. Jangan salahkan bunda mengandung, Su!”

“Tck, banyak omong!!”

Dirimu pun kembali bersiap dengan memasang kuda-kuda. Lalu muncul sebuah tongkat berwarna silver yang kini mengisi ruang kosong di ruas-ruas jemarimu. Lama-kelamaan tongkatmu pun mengeluarkan cahaya yang berpendar. Kris melihatnya dan menampiknya dengan ikut memasang kuda-kuda. Pun demikian dengan tongkat berwarna hitam mengkilat yang diayunkan pria itu kepadamu.

“Kris!!”

“Suzy!!”

BLAM!

***

Dug!

Suzy mengaduh kesakitan. Kedua jemarinya yang sedari tadi berselancar di atas keyboard laptop pun otomatis terhenti di tengah jalan. Tangannya itu kini disibukkan untuk mengusap dahinya karena hantaman keras bantal Winnie The Pooh yang mendarat dengan seenak jidat di atas dahinya tanpa permisi.

Kedua sudut matanya pun menjaring sesosok bocah Tiongkok yang menjulang sambil bertelekan pinggang. Cengiran puas terpeta dengan jelas di atas bibirnya seakan berbicara ‘Haha, kena kau!’.

“Kris!!” teriak Suzy geram.

“Iya, Sayang?” jawab Kris sambil mengerling.

Pemuda itu malah menggodanya. Setelah berhasil memecah fokus gadis itu, Kris pun kembali melancarkan sebuah akis yang mampu membuat Suzy menaikkan frekuensi gelombang suaranya sampai sembilan oktaf. Terlebih karena menyadari layar laptop-nya yang dibenamkan oleh tangan usil pemuda itu.

“Ah, kau menyebalkan!!” seru Suzy.

Gadis itu pun langsung mencengkeram pundak lelaki eksentrik itu dan memberi ‘kecupan sayang’ melalui telapak tangannya. Kris yang tidak mau kalah pun membalas dengan memiting tangan gadis itu, memberikan efek kupu-kupu kepada Suzy berupa gelitik di sekitar perut gadis itu.

“Hyaaaaa!! Kris! Hentikan! Ahhahaha! Ah, hen-hentikan! I-ini geli sekali! Ahahah!”

Suzy meronta-ronta seperti bayi Hulk, bermaksud untuk meloloskan diri dari serangan maut pria itu. Cakaran bahkan pukulan pun tidak mempan. Yah, mau bagaimana lagi? Suzy akhirnya hanya bisa memasrahkan diri terhadap gelitikan super seorang Kris Wu.

“Astaga, Kris Wu!! Kubilang hentikan!!”

“Tidak mau!”

Lima menit kemudian..

“Kenapa kau menutup layar laptop-ku?!”

“Karena kau terlalu lama mematung di depan layar yang bisa merusak daya penglihatanmu.”

“Tapi ‘kan cerita itu baru mencapai komplikasi! Belum mencapai klimaks, Kris.”

“Aku tak peduli.”

“Tapi aku peduli!”

Well, berhenti terlalu fokus kepada cerita fantasi setengah gilamu itu, Sayang. Cobalah, kau sedikit menyisihkan perhatianmu kepadaku juga. Seharusnya kau tidak menganggurkan pria tampan sepertiku, tahu.”

“Apa?!!! Kau menyebut cerita fantasiku setengah gila?! Well, terima kasih, Kris! I love you!!

“A-apa?! Kenapa kau berterimakasih?”

“Aku juga tidak tahu. Yang jelas, aku akan membuat cerita ini menjadi seutuhnya, gila!!”

“Tuhan, ampunilah dia dan juga aku..”

TAMAT.

16 responses to “[Vignette] An Unfounded Incognito

  1. Aigoo hampir aja eonni protes knp xia bikin cerita ngenes ternyata fantasi aja #elus dada sunggyu kkk…

    Ah iya xia kayaknya suka kris ga sih? Eonni rekomen wp saladbowldetroits

    di sana bnyk cerita anak2 exo terutama yifan dan cast yeoja oc smua, lbh krasa feel nya, eonni udh baca bbrp sih dan bagus mnrt eonni

    Kl ada wktu bolehlah blogwalking ke sana #promo kkk…maklum blm kesampaian posting ff di sana, ga lolos sm editornya hehe, but ttp kog saladbowl ini wp favorit eonni

    • haha, iya ceritanya semuanya adalah seutas ilusi dari mbak suzy yang sampai ngelupain mas fanfan :””) hehe
      ohya? wah, okay-okay, akan aku cek ke sana! lho kalau mau ngepost di sana harus lolos dulu gitu?wah!!! okee, thanks rekomendasinya, eon ^^

  2. Ya ampun aku kira itu beneran..haha..nice story..suzynya gokil d sini..huhu..pokonya sukses bikin salah sangka baca bagian awalnya..

  3. Kyaaa~ kirain bener bener full fantasy thor ternyata itu semua hasil tulisan Suzy kkk
    Dan di dunia nyata mereka bersama omona bikin blushing thor😀
    Joah neomu joah ♥
    Ringan tapi dapet banget feelnya thor^^

  4. Wow ternyata itu hanya sebuah ceritaa? O.O
    Hahahaha ada” aja kris dan suzy xD
    Ditunggu ff yang lainnya hwaitingg😀

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s