Between Dream and Future — Chapter 1

image

Poster by americadoo @ Poster Channel

Title: Between Dream and Future
Author: flcevtp
Cast: Bae Suzy, Kim Myungsoo, Kim Jongin, Park Chanyeol, Krystal Jung
Genre: School Life, Daily

Betweem Dream and Future: Chapter 1

“Kau yakin kau akan baik-baik saja di Seoul? Lebih baik kamu tetap di Gwangju sama saudara-saudaramu. Bibi tidak pernah melakukan kekerasan kan padamu? Memang ada yang membuatmu tidak nyaman? Kalau ada bilang sa–”

“Tidak kok. Aku memang ke Seoul untuk mimpiku dan masa depanku bi. Tidak mungkin aku harus bergantung pada bibi sampai aku tua nanti kan?”jawab perempuan muda itu dengan senyum.

“Ah. Kau ini mirip sekali dengan ayahmu. Keras kepala.”kata wanita paruh baya itu sambil menepuk pundak perempuan muda di depannya.

“Kereta apiku sudah mau berangkat. Aku duluan ya?”pamit perempuan itu memeluk bibinya erat.

“Hati-hati! Jika sudah sampai telpon kami!”kata bibi itu yang dibalas dengan anggukan perempuan muda tersebut.

“Semoga kau bisa mewujudkan mimpimu, Suzy.”kata bibi itu sambil melihat kereta api yang menjauh menuju Seoul.

***

Perempuan bernama Suzy itu menopang dagunya menghadap jendela kereta api. Melihat pemandangan luar yang memang harusnya ada suasana summer saat ini, namun masih ada beberapa blossom yang bertahan untuk mencuci mata para penumpang.

Rambut coklatnya mulai berterbangan saat dirinya membuka kaca jendela kereta. Menghirup udara segar di pagi hari dan membuangnya kembali. Dirinya masih memandang apa yang di depannya. Indah, walaupun berlalu sangat cepat.

Jika dari lubuk hati paling dalam, sebenarnya Suzy tidak mau merantau sendirian seperti ini. Dia perempuan. Umurnya masih sangat belia untuk dibiarkan terbang bebas. Jika keadaan tidak menuntutnya, lebih baik dia menyembunyikan dirinya di kamar sambil mendengarkan lagu dan membaca novel.

Dia memang perempuan. Namun dia menjadi salah satu dari ribuan anak yatim piatu di negaranya. Siapa yang tahu rencana apa yang sedang dirancang oleh Tuhan? Siapa yang ingin kehilangan orang yang sangat dikasihinya, apalagi dalam jangka waktu, selamanya?

Suzy yang dulunya perempuan riang kini menjadi perempuan yang tangguh. Dirinya tidak mau diremehkan karena dia tidak memiliki keluarga yang utuh. Memang keluarganya tidak utuh, namun hati nurani dan otaknya masih utuh. Dan juga ambisinya yang tangguhnya melebihi hati dan otaknya.

Hatinya memang selembut sutra. Otaknya juga cerdas. Namun ambisinya dan bakatnya jangan ditanyakan. Jika kau berani menghentikan cita-citanya 1 mm saja, siap-siap kau akan bertanding dengan atlit bela diri Taekwondo. Ayahnya memang sudah pergi, namun warisan ilmu Taekwondonya tak kan pernah pergi darinya.

Merasa puas dengan mencuci matanya melihat pemandangan kilat itu, Suzy mulai meregangkan otot kedua tangannya, lalu mengambil smartphone nya dan menyambungkan earphone nya. Membuka menu music, lalu memilih lagu kesukaannya. Menyenderkan tubuhnya, lalu menutup matanya sejenak menikmati alunan suara di telinganya.

***

“Nona?”panggil seorang penjaga kereta.

Penjaga kereta itu mengguncang-guncang tubuh Suzy pelan. Merasa tidak diberi respon, penjaga itu mengguncang tubuh Suzy lebih kencang. Tetap saja respon yang didapat nihil.

“Nona!”teriak penjaga itu.

Seakan sarafnya tersengat listrik, Suzy langsung melebarkan matanya dan menegakkan tubuhnya.

“Nona kita sudah sampai di Seoul.”kata penjaga itu.

“Ah sudah sampai? Sejak kapan?”

“10 menit yang lalu. 2 menit lagi kereta kami akan berangkat menuju tujuan berikutnya.”

Suzy yang masih setengah sadar dari alam mimpinya hanya mengangguk. Hanya menggaruk-garuk lehernya, meregangkan ototnya sebentar, dan mengosongkan pikirannya sebentar.

“Nona? 1 menit lagi kita akan berangkat ke tujuan selanjutnya. Anda kereta tujuan Seoul kan?”tanya penjaga itu heran.

“Iya. Aku tujuan Seoul.”jawab Suzy terlewat polos.

“Kita sudah sampai ke Seoul nona.”

Suzy memandang wajah penjaga itu sebentar. Tak tahu dirinya terpesona atau terheran dengan wajah sang penjaga kereta.

Otaknya mulai menyalakan sistem sarafnya barusan, hingga–

“Ah! Aku terlambat!”teriak Suzy.

Suzy cepat-cepat membereskan tasnya dan mengambil kopernya. Dirinya berlari menuju pintu keluar kereta. Namun karena sempitnya kereta, hingga membuat dirinya terjatuh di lantai kereta.

“Aish! Appo.“erang Suzy.

“Nona gwencanha?”tanya penjaga itu sambil membantu Suzy untuk bangun.

“Ah iya aku baik-baik saja. Terima kasih!”balas Suzy sambil melanjutkan larinya untuk keluar.

“Aish. Perempuan ceroboh.”cibir penjaga itu sambil melihat punggung Suzy yang berlalu.

***

Suzy berlari keluar menuju pintu keluar stasiun Seoul. Dia berlari seperti anak hilang. Hingga semua orang yang ada di stasiun menatapnya heran.

Suzy memang memiliki bakat dan ambisi yang tangguh serta memiliki kelebihan tak terhitung. Tapi dia memiliki 1 kekurangan — namanya juga manusia.

Kekurangannya yaitu kecerobohannya tingkat tinggi.

“Permisi permisi.”

“Maaf aku buru-buru.”

“Ah maaf aku menyenggolmu.”

“Maafkan aku.”

“Permisi aku harus buru-buru.”

Suzy terus mengulang kalimat-kalimat itu seperti kaset rusak. Stasiun itu sedang ramai dan dirinya terus mendesak keramaian itu untuk membuka jalan baginya layak seorang artis terkenal.

“AH!”

Suzy berteriak saat dirinya menabrak seorang laki-laki berseragam sekolah. Kecerobohannya ini membuat barang-barang yang dibawa Suzy dan laki-laki itu berserakan di mana-mana. Membuat semua pasang mata tertuju pada kedua insan itu.

Jeongmal mianhae. Aku tadi buru-buru sekali hingga tak melihat orang di sekitarku.”kata Suzy sambil membereskan barangnya.

Laki-laki itu hanya diam saja melihat kelakuan Suzy membereskan barang-barangnya — barang milik Suzy sendiri.

Setelah selesai membereskan barangnya yang berserakan, Suzy hanya membungkukkan badannya ke pria itu sebentar lalu langsung melesat keluar stasiun.

Pria itu baru membereskan barangnya setelah melihat punggung gadis itu menghilang. Lalu menemukan sebuah kartu pelajar milik gadis itu.

“Gwangju Junior High?”kata pria itu melihat bagian paling atas kartu pelajar.

Pria itu melihat biodata sang pemilik kartu pelajar dan membaca bagian nama pemilik.

“Bae Suzy?”tanya pria itu heran.

“Kau,”

“Akhirnya kembali.”kata pria itu sambil tersenyum memandangi kartu itu.

***

Ahjussi, jika aku harus pergi ke Guro-gu aku harus naik bis yang mana ya?”tanya Suzy kepada seorang supir bis itu.

“Kau bisa naik yang ini kok.”jawab supir itu ramah.

“Ah, kamsahabnida.“kata Suzy dengan senyum sumringah.

Suzy menaiki bis itu dan memilih kursi paling belakang. Dirinya pergi ke daerah Guro-du karena di sana ada apartment bibinya yang kosong. Di daerah itu juga dekat dengan sekolah barunya nanti.

Sebenarnya keluarga besar Suzy termasuk keluarga yang sangat berpunya, termasuk keluarga kecil Suzy. Hanya saja orangtuanya mengalami kecelekaan yang harus membawa mereka ‘pergi’ untuk selamanya.

Bis itu kemudian berhenti di sebuah halte. Suzy lalu turun sambil membawa tas-tasnya. Orang yang melewatinya melihat Suzy keheranan. Wajah yang cantik dan masih muda membawa koper dan tas layaknya orang berpetualang.

Suzy jalan menuju apartment itu, membuka kunci dan memasuki ruangan itu. Mewah? Mungkin bagi bibinya biasa saja, namun bagi Suzy itu mewah. Dia hanya tinggal sendiri, tapi tinggal di ruangan semewah dan seluas ini? Maldo andwae.

***

Tepat hari itu Suzy berangkat dan pindah ke Seoul, tepat hari itu juga tes masuk sekolah seni dambaan semua orang itu diselenggarakan. Makanya Suzy sempat-sempatnya dari terjatuh di kereta sampai bertabrakan dengan banyak orang di stasiun.

Suzy cukup berjalan kaki menuju sekolah itu. Berpakaian casual dengan flat-shoes hitam membuat semua pasang mata memberikan pandangan tanya dan kagum pada Suzy. Suzy yang menjadi sorotan malah tidak menyadarinya sama sekali.

“Nama?”tanya seorang panitia sekolah itu.

“Bae Suzy.”

“Tempat dan tanggal lahir?”

“Gwangju, 10 Oktober 1994.”

“Kau jauh-jauh dari Gwangju untuk masuk sekolah di sini?”tanya panitia itu.

“Iya, tapi aku sudah pindah dekat sini.”jawab Suzy.

“Nomor peserta 49910.”

Ne, kamsahabnida.

Suzy mengambil kartu pesertanya dan masuk ke ruang tunggu. Dia melihat peserta lain membawa properti lainnya seperti gitar, biola, saxophone, harmonika, dan speaker sendiri yang mungkin alasan pribadi.

Suzy lalu mengintrospeksi dirinya sendiri. Dia datang ke sini dengan tangan kosong tanpa membawa apapun. Hanya dompet dan smartphonenya yang dia bawa ke sini.

“Kau ini mau belanja atau mau tes sih?”rutuk Suzy pada dirinya sendiri.

Suzy lalu mengedarkan pandangannya ke ruang tunggu itu. Ruang tunggu itu sangat ramai dan lumayan luas. Di dinding terdapat televisi yang memperlihatkan peserta yang sedang melakukan tes.

Di televisi itu sedang diputar peserta perempuan dengan biola di tangannya. Peserta itu memainkan biolanya dengan sangat indah. Hingga–

Hiks hiks hiks

Seluruh peserta di ruang tunggu itu langsung sunyi. Semua mata mereka melihat peserta yang baru saja selesai tes. Peserta itu menangis sejadi-jadinya. Padaha dia membawa biola bersamanya.

“Ah, dia tidak lulus. Kim seonsaengnim itu kan selektif sekali.”bisik salah satu peserta.

“Dia tadi latihan bersamaku. Padahal permainannya indah sekali loh.”bisik peserta lain.

Suzy yang mendengar bisikan-bisikan itu menjadi nervous seketika. Dia saja yang membawa biola dan bermain dengan baik saja ditolak, bagaimana dirinya yang dengan tangan kosong.

“Peserta 49910.”panggil seorang panitia.

Suzy kini gelagapan. Setidaknya aku membawa properti satu saja, pikirnya. Dia sudah jauh-jauh dari Gwangju untuk mengejar mimpinya. Lulus tes masuk School of Performing Art Seoul merupakan salah satu mimpinya.

“Peserta 49910!”panggil panitia itu dengan lebih lantang.

“Ah iya tunggu sebentar!”jawab Suzy.

Suzy menemukan 2 gelas Starbucks bekas di sebuah bangku kosong. Terlintas suatu pikirannya, dirinya langsung mengambil gelas itu yang membuat orang sekitarnya keheranan.

“Mau apakan gelas kertas bekas itu?”

“Mungkin dilemparkan ke Kim seonsaengnim.”canda salah satu peserta.

Suzy tanpa menggubris orang sekitarnya kini memasuki ruang tes itu. Dengan membawa 2 gelas bekas di tangannya.

“49910, Bae Suzy?”tanya salah satu guru.

Ne.“jawab Suzy gugup.

“Apa yang akan kau perlihatkan agar kami meluluskanmu?”tanya salah satu guru lainnya.

“Aku akan menyanyikan lagu Cups dari Anna Kendrick.”jawab Suzy.

“Menyanyi begitu saja?”tanya guru yang duduk di paling tengah.

“Aku memakai gelas bekas ini.”jelas Suzy.

Guru yang terdiri dari 7 orang itu tampak menahan tawanya. Merasa diremehkan, Suzy langsung duduk di lantai ruang tes itu dan memulai pertunjukannya.

Suzy meletakkan kedua gelas kertas itu terbalik di lantai. Lalu mulai mengetukkan gelas itu di lantai dan mulai bernyanyi.

I’ve got my ticket for the long way ’round

The one with the prettiest of views

It’s got mountains, it’s got rivers

It’s got sights to give you shivers

But it sure would be prettier with you

When I’m gone, when I’m gone

You’re gonna miss me when I’m gone

You’re gonna miss me by my walk

You’re gonna miss me by my talk, oh

You’re gonna miss me when I’m gone

Suzy menutup nyanyiannya dengan mengetuk kembali gelas bekas itu di lantai. Setelah selesai, dirinya berdiri kembali dan menunggu keputusan para guru.

Peserta lain yang menonton dari luar pun dibuat cengang oleh pertunjukan Suzy tadi. Singkat, namun terlihat keren dengan permainan gelas kertasnya itu.

“Nona Bae, nyanyianmu tadi bagus sekali. Tak ada sedikit nada yang sumbang.”

“Apa kau tidak bisa bermain instrumen lain selain gelas kertas itu?”tanya Kim seonsaengnim yang duduk di paling tengah.

“Aku bisa bermain piano. Hanya saja aku ingin memberi tahu jika musik bukan hanya saja dari alat khusus, namun bisa dari barang bekas seperti gelas kertas ini.”jelas Suzy.

Para guru merasa terhipnotis dengan penjelasan Suzy. Singkat, namun terlihat keren.

Guru-guru akhirnya melakukan penilaian. Penilaian itu bisa terbilang paling lama dari semua peserta biasanya. Biasanya para guru sudah bisa menebak langsung. Namun untuk Suzy, dia memiliki banyak bakat yang masih dilambangkan dengan tanda tanya.

“Kau,”

“Lulus tes masuk School of Performing Art, Seoul. Selamat.”

***

Tak ada yang menyangka sama sekali jika Suzy lulus dengan bernyanyi bersama 2 gelas bekas itu. Sama sekali tak ada yang menyangka.

Suzy tentu sangat bergembira kini salah satu mimpinya terwujud. Yang ingin dia lakukan sekarang adalah pulang, menelpon keluarga bibinya di Gwangju, dan merayakan keberhasilannya dengan memasak ramyun berbungkus-bungkus untuk dirinya sendiri. Saking gembiranya hingga dia menabrak seorang pria di depannya — lagi.

Mianhae, jeongmal mianhae.”kata Suzy sambil membungkukkan badannya berkali-kali tanpa melihat pria itu. Lalu Suzy langsung melesat pergi.

“Kelakuanmu, masih sama seperti Suzy yang dulu.”lirih pria itu sambil tersenyum dan melihat punggung Suzy yang berlalu.

-To be Continued-

Notes:

1. Maafkan aku di chapter ini lebih ke Suzy. Tapi ini ada si pria yang ditabrak Suzy kok. Siapa ya? Mari ditebak hihi

2.  Anna Kendrick – Cups itu adegan dari Pitch Perfect pas Anna lagi audisi buat masuk klub a capella gitu. Liat deh di youtube.

a/n: AHAI uda di update. Terima kasih buat respon kalian yang melebihi dugaanku sebelumnya hahaha(?) Maafkan aku kalo update nya kelamaan. Gara-gara kelamaan liburan soalnya #iyainaja. Rabu nanti aku pengumuman kelulusan SMP :’) semoga yang sama-sama nunggu pengumuman kita lulus semua ya aminnn ><

-rcl as always-

Advertisements

60 responses to “Between Dream and Future — Chapter 1

  1. Pingback: Between Dream and Future — Chapter 4 | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

  2. Pingback: Between Dream and Future – Chapter 5 | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s