[Ficlet] Flowing Petals

Untitled-1

xianara presents

Bae Suzy and Wu Yi fan / Kris | AU, Romance, Fluff | Ficlet | Teen and up

JUNE, 2015©

‘Biarkan cinta yang kan membawamu kembali padaku.’

Hari ini aku kembali menunggumu. Di tengah rinai hujan berintensitas ringan, di ujung jalan Gwanghwamun yang kesepian.

Setahun, dua tahun, engkau yang kutunggu tak kunjung datang. Kepada dirimu yang dulu memintaku ‘tuk menunggu, apa aku salah berharap kau akan segera kembali? Menuntaskan penantian melankolis ini?

Tunggu aku.” pintamu saat itu kepadaku.

Aku menjawab dengan parau, “akan kuusahakan.”

Aku tidak mengiakan akan menunggunya lantaran rasa ragu yang kelabu itu menyelimuti ruang hatiku. Wajar ‘kan bilamana aku bereaksi seperti itu?

Apakah itu jawaban ‘ya’? Kau akan menungguku?

“Aku tidak tahu.”

Untuk saat itu hatiku benar-benar mencelos. Kebuntuan merajalela di dalam benakku. Aku berusaha tegar, tidak menampakkan ekspresi duka yang mendalam. Tetapi dirimu yang waktu itu meminta kepastian kepadaku malah membuat gamang hatiku. Mana mungkin, kau meminta kepastian kepadaku? Sepertinya ada yang terbalik di sini. Seharusnya ‘kan aku yang menagih kepastian darimu; apakah kau pasti akan kembali untuk diriku?

Perasaan hampa di dalam hatiku, seperti bus yang ditinggal oleh penumpang dan kondekturnya. Di situ, aku berlakon sebagai supir. Aku merasakan kesendirian yang tak berujung.

Pria, apakah kau benar-benar dalam keadaan sadar saat memintaku ‘tuk menunggumu?

Katakanlah, hari ini adalah batas terakhir aku menunggumu. Mulai besok aku tak akan lagi berdiri di ujung jalan ini sendirian.

Ke mana kau pergi selama ini?

Hatiku yang norak dan kecil ini meronta-ronta, mengharapkan percikan kasih dan sayang yang sering kauukir di dalam hatiku itu kembali lagi.

Apa mungkin saat kau berada di perjalanan menuju ke sini, kau berhenti sejenak ‘tuk memetik bunga di pinggir jalan? Apakah bunga pinggiran jalan itu lebih memesona dibandingkan diriku? Oh, mungkin saja!

Ya Tuhan, aku seharusnya sadar diri, toh! Aku memang tidak secantik Si Cinta Pertama Nasional Korea. Aku memang kalah jauh dibandingkan pentolan grup Generasi Wanita itu. Kejeniusanku memang tidak menyentuh strata superior. Aku tahu itu!

Tetapi ingatlah! Aku adalah dandelion-mu. Bunga eksentrik yang menyita seluruh perhatianmu. Aku adalah edelweiss-mu. Kesetiaanku melebihi keabadian kembang terlarang yang tumbuh subur di puncak gunung itu. Aku adalah satu-satunya dan akan selalu menjadi wanita yang bertanggung jawab sebagai peri musim dingin dan musim panas di kehidupanmu.

Kuharap, kaumengetahui semuanya; asa-gemilangku yang semakin biadab karena rasa hampa yang kauberi padaku.

Aku menendang kerikil yang telentang di tengah jalan. Kerikil itu pun terhempas hingga mengenai ujung sneakers berwarna putih bersih di depanku. Kuyakin, orang yang memakai sneakers itu pasti akan langsung memarahiku karena aku menendang kerikil ke arahnya. Namun persepsi itu pun pecah seperti ombak yang menubruk karang. Suara baritone seorang pria yang familier adalah titiknya.

Sue, apa kau sudah lama menunggu?”

Kris?!

Apa aku tidak salah dengar? Seseorang yang suaranya mirip dengan Kris itu barusan menyebut nama panggilanku. Aku mendongak, menatap sosok pria di hadapanku itu.

Mata elangnya serupa, garis muka yang tegas dan rupawan itu juga sama. Jangkungnya apalagi. Akan tetapi ada yang membedakan, surainya yang dipangkas tipis. Berwarna hitam pekat. Seingatku dulu saat Kris pergi, surainya masih gondrong dan berwarna cokelat madu. Namun, siapa sosok pria yang kini berdiri di hadapanku? Apakah ia benar-benar Kris-ku?

“Maafkan aku karena terlalu lama membuatmu menunggu.”

Ya Tuhan! Dia benar-benar Kris-ku!

Aku hampir ambruk. Beruntung, dia segera menahanku. Kedua mata kami saling bertubrukan. Kali ini, aku dapat melihat dengan jelas, senyuman yang takkan pernah pudar dari sanubariku. Senyuman semanis ekstrak madu yang membuatku gila karena efeknya setiap hari.

Mulutku masih terkunci rapat. Aku takut kalau semua yang kurasakan – bahkan kehangatan yang mengunci tubuhku ini – adalah mimpi di siang bolong belaka. Ketika nanti aku bersuara, aku takut semuanya akan menguap menjadi sia-sia. Tetapi ada sesuatu yang mendorongku bahwa semua ini nyata.

“K-kris?”

Dia mengangguk dan semakin mengeratkan dekapannya padaku. Oh baiklah, ini memang nyata. Bahkan aku bisa merasakan deru napas pria Tiongkok itu menembus pori-pori permukaan kulit di tepi leherku. Napasnya terasa hangat. Begitu juga hatiku yang berdesir hebat. Akhirnya, aku bisa merasakan sensasi itu bersamanya lagi.

Aku membalas dekapan Kris dengan menyerukkan kepalaku ke dadanya. Tanganku mengusap punggungnya yang ringkih dan terasa makin kurus itu. Tanpa kusadari, air mataku meleleh dengan sendirinya dan membasahi bagian depan sweter rajut pria itu. Kecupan-kecupan dari puncak kepala sampai ke leherku pun aku nikmati kala Kris mulai melepas rindu yang membelenggu itu kepadaku.

Aku mendongak, melonggarkan sedikit pelukan dan meraba dagu pria itu, “kukira tadi itu bukan kau. Well, aku tak peduli sekalipun kau jadi botak. Yang jelas, terima kasih sudah menepati janjimu untuk kembali.”

“Kau masih saja menggemaskan, Sue.” Kris mengecup ujung hidungku. Dia pun mendekatkan wajahnya kepadaku. Jemarinya yang besar itu membelai halus tulang pipiku.

“Kau tahu? Aku hanya mengikuti jalan cinta kita yang selalu membawaku kembali padamu.”

Senyuman permen kapas itu kembali merekah di atas bibirnya. Mau tak mau – memangnya aku tidak mau? – aku ikut tersenyum dan melingkarkan kedua tanganku pada lehernya. Tak peduli dengan tatapan orang di sekitar kami, yang jelas fokusku hanya tertera pada lelaki yang kini merengkuhku seutuhnya. Lelaki yang mengikuti jalan cinta untuk kembali. Ah, Kris, kau benar-benar.

“Well, karena aku sudah kembali, aku akan merealisasikan janji kita waktu itu. Kuharap kau masih ingat, “ Kris melepaskan pelukan kami.

Aku mengikuti jemarinya yang terjulur ke dalam saku celananya. Tiba-tiba, sebuah kotak beludru berwarna merah terulur di hadapanku. Kris membuka kotak itu dan memperlihatkan sebuah cincin dengan aksen berlian di atasnya.

Intuisiku sebagai seorang wanita tiba-tiba menajam. Oh well, jangan bilang kalau Kris akan –

“Bae Suzy, “

Kris tahu-tahu berlutut di hadapanku dengan jemarinya yang menggenggam erat jemariku. Tatapan teduhnya itu lagi-lagi menyihirku.

“bersediakah kau menghabiskan sisa waktu hidupmu bersama denganku dan anak cucu kita, kelak?” Kris menatap tepat kedua mataku. Senyum di atas bibirnya nampak grogi. Oh, ternyata lelaki perfeksionis sepertimu bisa grogi juga!

“Bae Suzy, would you marry me?

Oh well, tanpa kau meminta aku sudah pasti akan menikahimu! Aku lupa pada rasa terkejut yang seharusnya muncul secara alami. Aku justru menikmati proses lamaran ini. Tatapan pria itu yang harap-harap cemas seperti efek komikal yang jarang diperlihatkannya. Well, sepertinya tak baik mengabaikan lamaran seorang pria, terlebih dia adalah calon suamimu, aww!

Yes, I do!!!

TAMAT.

6/7/2015 10:30 PM


a/n:

hai, maaf ya kalau saya keseringan membuang racun di tulisan sya akhir2 ini….. anggap aja ini word-vomit nomor sekian dari saya…

bagi yang sudah menyempatkan baca, terima kasih banyak🙂

19 responses to “[Ficlet] Flowing Petals

    • Sooo sweet.. walaupun suzy tidak yakin penantiannya akan berakhir bahagia setidaknya dia berusaha meyakinkan dirinya kris akan kembali.. dan penantiannya tdk sia2 akhirnya kris kembali dan melamarnya.. ahhh jadi pengen dilamar Jaejoong #ngayal.. komawo and Hwaiting

  1. So sweet…, pas pertama baca kira suzy dikhianatin kris, ternyata kris seperti itu…😀
    Daebak thor!!! Ditunggu ff author lainnya..

  2. So sweet…, pas pertama baca kira suzy dikhianatin kris, ternyata kris gk seperti itu…😀
    Daebak thor!!! Ditunggu ff author lainnya..

  3. Ugghhhh..so sweet..penantian panjang suzy yg ga sia2..buah kesabaran tuhh..nice story xia..

  4. so sweet sekalii😀 akhirnya penantian suzy tidak sia2 walau awalnya dia mau mengakhiri penantiannya akhirnya kris datang😀

  5. Sudah ketebak dari awal, pasti kris kembali. Karna pada akhirnya, sejauh apapun orang itu pergi, pasti bakal kembali ke rumahnya. Maksudnya rumah disini kayak orang yang dijadikan tempat buat selalu pulang. Hahahaha ngomong apa aku ini.

    Well, keseluruhannya good. Tapi aku nggak begitu suka sih baca ff yang pake sudut pandang ‘aku’. Tapi itukan suka2 penulisnya hahaha. Yasudahlah, semangat terus thor. Aku mendukungmu olwes

    • sebenernya, saya juga ga sering2 banget nulis pakai sudut pandang aku jadi ya mungkin kesannya jadi gini, ya, kurang lah, haha, santai saja sama saya mah😉
      and terima kasih sudah menyempatkan mampir🙂

  6. Yang namanya kesabaran pasti berbuah manis Dan gak Ada Hal baik yang sia sia , duh ini simple tapi Bener bener meresap seperti biasa xianara selalu keren😀

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s