[Freelance/Oneshoot] Pamflet Cinta

pamflet-cin

Title : Pamflet Cinta | Author: Rendevousuz | Cast: Bae Suzy and Kim Myungsoo | Genre: AU, Romance, Angst, Drama | Rating: PG 17

Diadaptasi dari sajak karangan W.S. Rendra dengan judul yang sama.

Membaca ff ini dibutuhkan sikap bijak dalam mendalami cerita. Buang semua jauh-jauh imej yang melekat pada idol kalian. Semua hal yang yang ditulis di dalam ff ini bersifat rekayasa, dibuat tidak untuk menyinggung orang lain apalagi penarikan komersil. Ff ini ditulis hanya untuk hiburan semata.

Fragmen sajak yang digunakan sepenuhnya milik (Alm.) W.S. RendraPamflet Cinta.

Harapan adalah karena aku akan membelai rambutmu.
Harapan adalah karena aku akan tetap menulis sajak.
Harapan adalah karena aku akan melakukan sesuatu

Selamat membaca!

Harapan adalah karena aku akan membelai rambutmu.

Myungsoo menyesap mentari dari balik tirai jendela yang tampak nyata di kamar perseginya. Di sebelahnya terbaring wanita nan jelita. Paras putihnya terguyur sinar mentari pagi yang kaya akan Vitamin D. Meskipun dalam keadaan tertidur, Myungsoo dapat menemukan senyuman apik di atas bibir gadis itu yang merah muda merona.

Selimut yang agak tergulai itu dibenarkan oleh Myungsoo, dinaikkan kembali untuk menutupi tubuh semampai wanita itu yang tak tertutup sehelai benang pun, sama seperti dirinya.

Myungsoo mengangkat jemarinya, menyusuri surai cokelat kayu yang tumbuh sebahu itu. Pelan-pelan dia membelainya, takut-takut kalau gerakannya membuat si gadis terjaga.

“Myungsoo, “

Pria itu mendengar seruan yang mengudara, berasal dari alat tutur si wanita. Kedua matanya masih terpejam. Myungsoo pun mengeratkan sebuah dekapan padanya, menyesap lembut bibir gadis itu penuh damba.

“Apa kau tidur nyenyak?”

Alih-alih menjawab, sang gadis malah menyeruk ke dalam leher Myungsoo, merasakan denyut nadi si pria. Merekamnya dalam rekorder yang takkan pernah kehabisan baterai.

Si wanita mengangguk. Dia pun membuka tirai yang membungkus kedua bola matanya yang indah itu. Balas mengamati pahatan wajah Hercules pada wajah Myungsoo yang minim kelalaian. Sempurna, melebihi kesempurnaan itu sendiri, batin gadis itu.

Myungsoo menelurkan sebuah kecupan di atas pucuk kepala si gadis. Meraba punggung bak pualam itu terlanjur lembut. Lagi, dia pun membawa si gadis ke dalam pelukannya.

“Selamat pagi, Duniaku. Aku semakin mencintaimu, “

Wanita yang bersimbuh di atas dadanya itu termenung, enggan merespon. Myungsoo memaksakan diri untuk menelan bungkam itu di pagi hari. Kendati demikian, bungkam yang berkumandang itu lebih baik dibandingkan dusta yang berteduh.

“Aku tahu, Myung, hanya saja bisakah kita tetap seperti ini?”

“Seperti?”

“Sama seperti dirimu yang akan selalu kulihat di saat kumembuka mata, sama seperti dirimu yang akan selalu menggelung kehangatan bersamaku seorang.”

Myungsoo mengibarkan senyum setipis lapisan cheese di atas gerimis bukit. Dia mengangguk seolah yakin dan kembali membelai surai si gadis yang terasa selembut sutra Kasmir.

“Aku berjanji, kita bisa, Suzy.”

Harapan adalah karena aku akan tetap menulis sajak.

Di atas perlintasan kereta api, angin membumbung tinggi dan menerbangkan sejenak beban yang terengkuh secara diam-diam. Desau dedaunan yang jatuh ke bumi, rerumputan yang terinjak kumbang banteng, rel perlintasan yang bernyanyi, tak pelak menjadi sebuah instrumen penggerak risau.

Suzy terlahir sebagai seorang yang melankoli namun terlukis abstrak. Tergenggam sebatang pena dan sebuah nota bergaris berukuran sedang. Dirinya memandang ke arah nun jauh di sana. Pandangannya tak terasa, seakan memangku segenggam tanda tanya. Akankah semua rutinitas tak berpolanya mampu mengonvergensikan segala pucuk permasalahan yang akan berakhir di lembah penyelesaian?

Guratan dawat menodai telapak tangan gadis itu. Suzy tidak pandai dalam hal bersembunyi. Dia selalu dengan mudah ditemukan dalam dolanan petak umpet. Tidak bisa menyembunyikan materi contekan dengan apik. Menyembunyikan hati dari seorang pria juga termasuk salah satunya.

Suzy memandang pilon sekelebat memori dirinya bersama Myungsoo yang berputar di layar bioskop dalam kepalanya. Kehidupan cintanya bersama pemuda Kim itu menjadi tontonan hangat. Seperti memakan permen kapas, semuanya terasa manis di awal namun tenggorokan akan menjadi gatal di akhir. Tak ada happy ending karena memang tidak ada ending. Drama absurd itu berubah menjadi drama dukaria minus kebahagiaan.

“Myungsoo, itulah sebabnya, “

Myungsoo hanya melontarkan sebuah statement. Dalam pernyataan itu, Suzy tidak merasakan peneguhan. Setiap hari Myungsoo selalu menyatakan cinta yang makin-makin padanya. Tetapi pria itu tidak memberikan feedback padanya. Layaknya komunikasi satu arah yang menghasilkan zero feedback. Dia tidak menanyakan apakah Suzy juga mencintainya meskipun tanpa harus ditanya, tentu dia mencintainya. Akan tetapi remah biskuit yang dibiarkan saja tentu akan mengundang semut untuk berkoloni bukan? Kontradiktif yang sangat menyimpang.

“Aku akan tetap menulis sajak untukmu, untukku, untuk kita.”

Suzy menurunkan setitik gerimis di atas wajahnya tanpa ada niatan untuk mencegahnya.

“Aku yang meninggalkanmu, seharusnya kau yang bersedih. Tetapi yang ada malah kebalikannya.”

Jadi, konklusinya pun bermuara pada satu titik: sesal itu seperti minyak yang tidak dapat larut dalam air. Tidak ada gunanya menyesal selain melakukan sesuatu.

“Karena itu, aku akan terus menulis sajak.”

Harapan adalah karena aku akan melakukan sesuatu

Biasanya tidak pakai prolog. Biasanya tidak begini. Namun di malam yang sunyi itu, Myungsoo memberi sebuah isyarat kepada Suzy. Pria itu ingin membuat iri bintang dan bulan di angkasa gelap.

Semuanya terjadi begitu saja. Myungsoo memeluk wanitanya dari arah belakang, menempatkan dagu di atas bahunya. Membiarkan aroma tubuh Suzy memenuhi indera penciumannya, menimbun wangi itu sampai ke diafragma. Dia berbisik pakai intonasi andante, terdengar menggoda. Suzy yang tahu betul karsa di balik bisikan sensual itu hanya bisa terkekeh lantas berbalik dan menyesap bibir pria itu lembut.

Tak ada ritme apalag jeda. Setelah itu, semuanya menjadi biru. Sandangan terlucuti, erangan terealisasi, untaian kronik terkulai maksi. Sambung raga itu terasa begitu nikmat karena didasari oleh cinta. Ya, cinta. Keduanya sudah mendeklarasikan itu, di atas sajak putih.

Namun, apa yang terjadi pada keesokan siangnya menjadi pukulan telak yang tak terhindarkan bagi Myungsoo. Dia pun seperti berbagi kisah sedih di hari Minggu bersama Pacquiao yang terjerembap oleh keculasan panelis yang memihak kepada Mayweather.

Semalam terangkat ke Langit Sembilan, siangnya dirinya terempas begitu saja sampai menyentuh inti bumi.

Selembar kertas ditemukan Myungsoo di selipan lampu tidurnya. Dan itu dari Suzy.

‘Aku pergi dan tebak apa yang selanjutnya? Aku takkan kembali. Katakanlah, aku lalim terhadapmu namun kujanjikan kita takkan pernah bertemu kembali. Terima kasih atas semuanya, cintamu, cintamu, cintamu, cintamu, dan cintamu.’

Myungsoo merasakan kehilangan tempat untuk menggantungkan harapan; terban bumi, tempat berpijak. Simulasi dalam hidupnya tiba-tiba berhenti di tengah jalan karena simulatornya telah pergi meninggalkannya.

Dia tidak mencari, tidak gusar juga tidak gempar. Myungsoo meraih kaus oblongnya yang terlempar tak jauh dari ranjang, mengenakannya dengan segan. Mata kucingnya kembali menatap jendela yang sama namun yang membedakan adalah space kosong di sampingnya.

Harapan berubah menjadi semu. Myungsoo tahu dirinya pasti berbuat sesuatu yang menyeleweng hingga membuat Suzy pergi meninggalkannya. Myungsoo tidak ingin berspekulasi ria mengenai alasan yang dipijak gadis itu untuk meninggalkannya. Dia hanya senantiasa intropeksi diri.

“Harapan, aku benci ketika kau melakukan sesuatu kepadaku, apapun itu karena semuanya berubah menjadi bukan harapan melainkan kesakitan.”

Tetapi bukankah kehidupan sendiri adalah bahagia dan sedih?
Bahagia karena nafas mengalir dan jantung berdetak.
Sedih karena fikiran diliputi bayang-bayang.
Adapun harapan adalah penghayatan akan ketegangan.

Sepuluh tahun sudah Suzy berkelana ke berbagai pelosok negeri. Memburu matahari terbenam di benua hitam, menyergap kemilau terang dari gedung-gedung pencakar langit di New York, membelai historis di daratan Prancis, menangkap jejak hujan di Victoria Park, hingga menjaring harapan dan doa di Manali.

Dalam kurun waktu segitu, Suzy berjalan mengitari dunia dengan punggung yang tegak. Membawa dan menitip sejuta kisah klasik di balik lensa kamera. Sekarang, dia memilih pulang kampung ke Korea. Entah apa yang akan ditemukannya di sana.

Kenangan yang bertendensi kepada seorang Myungsoo, tiba-tiba mematuk keheningan malam di Bandar Udara Incheon. Masih teringat tentang dirinya mencintai seorang Kim yang mendapuk dua sisi dalam sekeping koin; mencintainya adalah bahagia dan sedih; bahagia karena sempat mempunyai dan dipunyai oleh Myungsoo di dalam kalbunya; sedih karena pakai memisahkan diri darinya.

Ma, nyamperin matahari dari satu sisi,

Memandang wajahmu dari segenap jurusan.

Kertas yang lusuh itu tergenggam di antara jemari Myungsoo yang terasa kasar dan kapalan. Aksen kental dari seorang tukang kayu yang merangkap jabatan sebagai kontraktor. Dia masih memaku sebuah sekrup abadi di atas nama seorang gadis. Gadis itu masih bernama Suzy, masih kok. Myungsoo sukar untuk mengalihkan haluan dari gadis itu, gadis yang tanpa tendeng aling-aling pergi meninggalkannya bersama nikmat sesaat di malam hari.

Besi yang dingin menyalami bokong pria itu saat memutuskan untuk duduk di atas bangku panjang, letaknya di ruang tunggu keberangkatan menuju Wina. Kertas lusuh itu dilipat rapi dan dimasukkan ke dalam saku mantelnya.

Langit senja di Incheon telah berkamuflase menjadi angkasa yang gelap gulita, diterangi lampu-lampu futuristik menara pantau dan lampu kedap-kedip dari ekor burung raksasa yang siap mengudara.

Myungsoo sekonyong-konyong mendapati wajah familier itu dari kejauhan. Berjalan seorang diri mengitari sepi.

Suzy mengeratkan mafela rajut berwarna putih yang melilit lehernya. Musim dingin terlalu cepat datang, pikirnya begitu. Titian langkah yang mantap terajut itu tiba-tiba terhenti, sepatunya seperti dipeniti bersama marmer bandara. Alasannya sederhana; sepasang netra yang mengamatinya dari kejauhan menghisap seluruh kesadarannya.

Ransel hitam itu ditenteng tanpa disandang, Myungsoo menghampiri Suzy yang bereinkarnasi menjadi Roro Jonggrang di Prambanan yang pernah ia renovasi. Langkah pria itu pun nampak seringan bulu ayam.

Tidak ada konversasi, semuanya terisi sunyi.

Suzy menggigit lidahnya keras-keras, menahan rasa gegap yang siap meriuhkan suasana. Kedua tangannya pun meremas tali tas kameranya, mencegah supaya tangan itu tidak menarik Myungsoo ke dalam pelukannya.

Menit dan detik terbuang. Tak ada temu kangen apalagi basa-basi, semuanya terasa hambar seperti sup rumput laut kadaluwarsa.

Saat penyeru menuju Wina diperdengarkan, Myungsoo enggan membebaskan diri dari belenggu geming yang memenjarakannya. Begitupun dengan Suzy yang tidak bergerak sama sekali dari tempatnya.

“Kamu muncul di sini, “

Akhirnya, keheingan itu terpecahkan.

Suzy tidak tahu harus menjawab apa. Dia terlalu terkesima.  Dia disergap oleh kejadian yang tak terduga. Pukul sepuluh seperempat malam, Myungsoo lahir dari rembulan yang bunting. Munculnya pria itu bagaikan hujan. Membuat Suzy merasa segar dan menggigil secara bersamaan.

“Kamu juga.”

Ini klasik namun tidak akan pernah berubah seperti plastik.

Myungsoo merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya. Dia memeluk matahari yang sudah lama terbenam dari satu sisi yang selama ini ditunggunya. Matahari yang terlalu lama bersembunyi itu akhirnya ketahuan juga.

Gadis itu sudi membalas dekapan Myungsoo yang masih penuh dengan rasa damba. Setelah itu, terbitlah senyum yang kembali menyinari Dunia Myungsoo.

“Maaf, “

“Maafkan aku, “

Ibu benar, matahari memang tidak bergerak; menghampirinya dari satu sisi bukanlah perkara sulit. Paras putih itu tidak berubah sama sekali, masih sangat elok dan menggairahkan. Setelah kata maaf terucap, keduanya mengerti; itulah sebabnya para muslim senang merayakan Hari Raya dengan saling memaafkan.

Myungsoo melupakan peduli dan menangkup wajah Suzy dengan segenap hati. Sejurus kemudian, Myungsoo melepas rindu pada bibir itu, mengecupnya singkat namun memikat. Suzy menahannya, memaksa pria itu untuk memperdalam tautan.

“Terima kasih, “

“Thanks, “

Harusnya memang begini akhirnya, toh.

TAMAT.

a/n:

*tutupmuka*ahhh!ff apa ini?!

well, ini ff kedua yang Ren buat sekaligus kirim ke sini^^. Ren kira, ff ini masih jauh dari kata bagus, kan ya. harap maklum aja, Ren juga baru sekarang2 ini kok nulis ff, hehe.. jadi, kritik, saran, dan komentar silakan dilempar ke sini, Ren dengan senang hati akan menerimanya.

Pesan Ren: kelakuan Suzy dan Myungsoo di atas jangan diikutin, ya!

Thanks for reading ^^ and for kak dina, thanks for posting my ff❤

Love, xx

23 responses to “[Freelance/Oneshoot] Pamflet Cinta

  1. 10 tahun dan masih sama” single itu waw.. dan hati mereka msh terikat 1 sama lain

  2. Pingback: [Freelance/Ficlet] The Moon Has Disappeared from The Sky | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

  3. Suzy ngeri bangey knp dia tega meninggalkan myung segitu lamanya demi obsesinya u keliling dunia…/kalau ga salah sih hehe *)
    Terus myung juga … kl laki2 normal kykx udah cari cewek lain deh.. 10 th gt loh..
    Yp untungnya happy ending hehe.. thanks ya

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s