Mesmerize

love

Title : Mesmerize | Author : dina | Genre : Friendship, Romance (?) | Main Cast : Kim Myungsoo, Bae Sooji

Disclaimer

FF ini sudah pernah diposting dengan cast berbeda. Cerita milik saya, semua cast milik Tuhan dan keluarga mereka.

.

.

.

“Apa aku tertarik dengannya?”

Aku mengambil berkas dokumen yang harus dikirim dengan segera dalam bentuk file excel pada Joanna yang tengah berada Seattle. Waktu menunjukkan pukul 23.20 KRT yang berarti Joanna masih mengalami jam kerjanya di siang hari waktu Seattle. Bahkan mungkin Joanna sedang dalam kondisi on fire saat ini. Berbanding terbalik dengan tubuhku yang bisa dikatakan cukup lemah, beradu dengan dinginnya malam. Beruntungnya balutan cardigans sedikit membantu kulitku untuk kembali menghangat.

Ruanganku terletak di lantai 9, satpam berkeliling berkala memeriksa apakah staf yang masih melemburkan dirinya membutuhkan bantuan. Mengirim dan menunggu email menjadi sebuah pekerjaan dadakan yang kapanpun harus siap kulakukan. Bahkan Jaebum masih dengan setianya menunggu aplikasi yang berjalan selama 24 jam full demi keberlangsungan kantor kami. Jaebum sesekali menguap beradu banyak dengan uapan mulutku yang sepertinya tidak kalah cepat bersahut-sahutan selayaknya kereta api. Sebuah analisa konyol otakku yang mulai berjalan melambat.

Yang aku herankan, mata Jaebum yang senyatanya memang sipit masih saja terlihat sipit padahal doping kafein yang ia konsumsi melebihi batas ambang tubuhku. Mungkin saja karena kafein telah menjadi candu bagi Jaebum, maka dua bungkus kopi tidak berpengaruh pada tubuh tambunnya. Bagaimana denganku? Secangkir kopi encer cukup membuatku tetap terjaga, ditemani tekad membara untuk menyelesaikan tugas demi cuti akhir tahun yang kuimpikan menjadi penyemangat khusus nan efektif mata ini. Hanya dengan membayangkan pantai tropis pulai Bali membuatku tersenyum bak orang gila. Kesenangan yang akan kujemput dalam kurun waktu dua bulan ke depan.

Aku meraba meja hendak mengambil bolpoin pink yang setia menemainku sejak dua hari yang lalu, bolpoin gift dari Shinra, keponakan yang tempo hari memberiku hadiah manis di hari ulang tahunku. So cute ala anak kecil.

Oddi?” Gumamku ketika di balik berkas tidak kutemukan presensi bolpoin yang menjadi favoritku saat ini. Setelah mengalah dengan keadaan, tanganku meraih bolpoin yang berjarak cukup jauh, tepatnya di meja Yonghwa. Bolpoinku resmi menghilang entah kemana. Kata teman-teman, memang di ruanganku tepatnya di sebelah pojok berdekatan dengan nakas filling tinggallah seorang wanita berpendar selayaknya ektoplasma yang terkadang menampakkan dirinya di malam-malam tertentu. Kata mereka tidak jarang jika ia –sang wanita-itupun ingin memiliki barang-barang yang dipakai bekerja kami para staf. Jangan heran jika suatu saat bolpoin menghilang setelah kau letakkan, mungkin saja sang wanita hendak meminjamnya namun tidak ingin membuatmu kaget. Sebuah analisa penghilang rasa takutku yang sepertinya berhasil mengusir rasa takutku.

“Apa ini?” Aku membatin dalam hati ketika sekilas kulihat sebuah map kuning yang sepertinya tidak asing di mataku.

Tanganku terulur mengambil map yang entah mengapa seolah-olah menggoda untuk keusentuh, sekedar untuk kuintip apa isinya di tengah kesunyian kantor yang bergema suara lembut Olivia Ong, meng-cover beberapa lagu favoritku.

Rasa ingin tahu berhasil menuntun tanganku untuk membuka map kuning, di dalamnya terdapat coretan seseorang. Aku mengernyitkan alis, coretan-coretan konsep yang tertulis cukup rapi namun bukan tulisanku maupun tulisan Yonghwa.

Aku tersenyum. Kim Myungsoo.

Myungsoo bukan orang asing di kantor tempat kerjaku. Karena berbeda divisi, aku tidak berteman dengannya. Kami bahkan belum pernah berbicara sama sekali. Pagi ini direktur meminta kami dari beberapa divisi berkumpul, sebuah aplikasi IT akan kami gunakan demi keberlangsungan pekerjaan kami. Myungsoo berjalan dengan santainya memasuki ruang rapat, Di mataku, ia sama sekali tidak menarik karena memang aku tidak pernah memperhatikannya sungguh-sungguh.

Satu persatu kami diperdengarkan penjelasan dari Tuan Ock yang berpengalaman serta pencetus ide penggunaan aplikasi baru. Yonghwa membetulkan letak kaca matanya yang hampir merosot saking berkonsentrasi pada penjelasan Tuan Ock. Aku mengetukkan bolpoin di tangan, otakku berisi banyak hal yang hampir overload melebihi kuota pentium yang sepertinya perlu untuk di upgrade –konsep Yonghwa ketika ia melihat wajahku berubah merengut setiap kali mendengar penjelasan yang awam.

Mirae menyenggol lengan kananku, ia membisikkan sesuatu di telingaku yang membuatku menyeletukkan “Jincayo?”. Sebuah bisikan yang mengatakan jika Myungsoo mencuri pandang padaku. Mirae menganggukkan kepalanya berusaha meyakinkanku, mataku beralih ke arah Myungsoo. Dia tidak terlihat aneh, tatapannya masih fokus ke depan, aku memiringkan kepalaku berpikir jika anggapan Mirae salah.

“Kau bercanda!” ucapku kembali membalas kekehan Mirae yang terkesan mengada-ada.

“Aku serius Ji!” ucapnya berusaha meyakinkanku, tak lama tuan Ock sang pemimpin rapat memanggil nama Myungsoo untuk dipersilakan maju ke depan, memaparkan masukannya yang telah terkonsep di dalam map kuning.

Myungsoo memaparkan idenya dengan gamblang, meninggalkan kesan arogansi nan cerdas. Aku masih tidak terlalu mempedulikan dirinya karena aku yakin apa yang dibisikkan Mirae itu salah hingga sebuah kertas berhenti di hadapanku, tulisan Yonghwa yang menyuruhku bertanya. Karena Yonghwa yang lebih pintar memintaku, dengan berat hati aku mengangkat tanganku, bertanya.

Myungsoo menaikkan alisnya memandangku yang bertanya perihal ketidaktahuanku akan penjelasannya. Tangannya ia lipat, memegang dagunya sembari menatapku. Gerakan sederhana ini entah mengapa mencuri perhatianku, dia tersenyum ketika aku mengakhiri kalimat panjangku. Sembari menaikkan lengan kemejanya, ia beralih ke flow chart, menjelaskan padaku dengan kalimat sederhana dan runut. Menarik.

“Apa masih ada yang membuatmu tertarik Sooji-ssi?” sebuah pertanyaan yang membuatku mendongakkan kepala, setelah tadi sibuk dengan catatan kecilku.

Eoh? Sudah…” Aku menjawab dengan nada aneh yang tidak pernah kualami. Mirae Jung menertawaiku, tertawa yang mirip dengan bisikan. Aku menatapnya seolah-olah mengatakan “wae?” pada Mirae.

Myungsoo dipersilakan untuk kembali ke tempat duduknya setelah menjawab pertanyaan Jinki sang tangan kanan Tuan Ock yang lumayan pintar dibandingkan diriku, namun tidak lebih pintar dari Yonghwa.

Suasana sunyi sejenak, masing-masing divisi saling berinteraksi dengan rekan masing-masing. Myungsoo tampak santai menggigit ujung bolpoinnya yang entah mengapa tiba-tiba mengalihkan konsentrasiku. Dia tertawa kecil, menepuk pelan pundak Jaebum yang ikut tertawa dengannya.

“Sooji-ya!” Aku tersentak ketika mendengar namaku dipanggil, Yonghwa memintaku untuk mengemukakan pendapatku yang telah kami diskusikan tadi di tengah-tengah rapat. Aku berdiri di depan menjelaskan dengan sedikit gugup, ayolah aplikasi baru ini meskipun masih dalam taraf sosialisasi cukup memeras fungsi otakku lebih keras lagi.

Berkali-kali aku memandang wajah Yonghwa yang mengangguk, tanda jika penjelasanku sama dengan penangkapan dirinya. Dari depan, semua wajah dapat kulihat dengan jelas termasuk wajah Myungsoo. Ia mengernyitkan alisnya, terkadang mengangguk, sesekali tersenyum. Aku tidak mengerti maksud dirinya memasang wajah demikian, yang aku lakukan hanya mempertahankan konsentrasiku menjelaskan hasil diskusiku bersama Yonghwa.

Tibalah pada saat sesi tanya jawab, Myungsoo tiba-tiba mengacungkan tangan kanannya. Aku terdiam sesaat, kemudian diawali berdehem, aku mempersilakan ia bertanya. Sekedar pertanyaan yang entah mengapa terdengar seperti pertanyaan saat aku mengalami ujian thesisku.

“Saya pikir anda cukup mengerti dengan penjelasan saya Myungsoo-ssi..” ucapku setelah sedikit berdebat dengannya selama 20 menit, sialnya Yonghwa tidak banyak membantuku menjawab pertanyaannya. Myungsoo tampak serius, seakan-akan forum hanya diisi perbincangan serius diriku dan dirinya. Hingga akhirnya ia mengatakan sebuah kalimat pamungkas yang mengejutkan tatkala aku mendebatnya jika kita bekerja tidak sebagai saingan namun aliansi. Kau tahu apa yang ia katakan?

“Kurasa kau tahu seperti apa diriku Sooji-ssi, bukankah kita pernah berhubungan sebelumnya?”

Suasana mendadak hening, otakku berusaha menelaah kalimatnya yang entah mengapa kurasa tidak berhubungan dengan kalimat yang dua detik yang lalu kuucapkan.

Don’t say like that!” Aku spontan tersenyum gagu menjawab dibalik kegugupanku.

Jaebum menyeletuk, “Hei jangan bawa kisah romantis kalian di sini!” godanya yang sontak membuat gaduh ruang rapat dengan tawa geli. Tuan Ock tersenyum sembari menggoyangkan jari telunjuknya ke arah Myungsoo yang dibalasnya dengan senyuman di balik wajah serius.

“Jadi…bagaimana Myungsoo-ssi?” tanyaku menetralisisr suasana yang sungguh aku tidak ingin melanjutkan perdebatan diantara kami yang em..membuatku tiba-tiba tidak nyaman.

Okay! Saya bisa menerimanya, jeosonghamnida!” ia berdiri membungkuk padaku tanda meminta maaf diakhiri dengan senyuman tulus. Aku membalasnya pelan, lalu Tuan Ock mempersilakan aku duduk.

Daebak Sooji-ssi!” pujinya tepat di hadapanku.

Ghamsahamida!” jawabku.

Dan sekarang aku kembali tersenyum mengingat gurauan kecil ala Kim Myungsoo. Sebuah tanda tanya bergejolak kecil di pikiran yang tidak selaras dengan hatiku.

“Kau tipikal wanita to the point Sooji-ssi!” ucapnya saat kami kembali berpapasan di dalam lift.

“Sejak kapan kau tertarik padaku?” tanyaku tanpa tendensi apapun.

Myungsoo tetaplah Myungsoo dengan gaya flamboyan, sebelah tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya. Ia memindahkan map kuningnya ke tanganku.

“Sejak kau menginjakkan kaki di kantor ini 37 bulan lebih 7 hari, 14 jam dan 10 menit yang lalu.”

Aku hanya melongo mendengar jawabannya, entah mengapa pipiku memanas tanpa sebab.

Shall we lunch?” tawarnya yang semakin memeronakan seluruh wajahku. Demi Tuhan aku bergumam dalam hati menyesali kerja tubuhku yang enggan mendengarkan otakku untuk berhenti mengagumi sosok Myungsoo yang tiba-tiba terlihat sangat keren di mataku.

“Makan siang?” tanyaku dengan hati-hati, mencoba mengulang jika dia tidak salah mengucap dan aku tidak salah mendengar.

“Hem..halkka, uri?”

Jeosonghamnida, aku sibuk siang ini..” tolakku yang berseberangan dengan inginku.

“Baiklah..” Myungsoo menghela nafasnya masih mempertahankan senyumnya.

Dan sekarang tepat pukul 00.00 dini hari, aku terdiam sambil mengingat dirinya seperti orang gila. Sebuah note bertulis nomor bersama dengan pesan pendek, “Feel free to know me Sooji-ya!”

Paboya!” aku mengetuk kepalaku, bahkan hanya dengan mengingat ajakan makan siangnya yang tadi kutolak ikut membunyikan perutku. Alih-alih menghiraukan rasa laparku, aku mencoba memejamkan mata.

1 menit.

2 menit.

10 menit.

30 menit.

…..menit berlalu.

Tuk!

Aku merasakan sebuah jari menekan pipiku. Perlahan mataku terbuka, demi apapun aku seakan-akan melihat seorang malaikat berada di hadapanku. Menatapnya tidak lebih dari 3 detik, aku tersenyum kecil kemudian kembali memejamkan mata.

Wake up Ji!”setelah kulihat malaikat, kini kudengar suara lelaki yang menari-nari di otakku sedari tadi.

“Kim Myungsoo?” sahutku sambil tetap memejamkan mata.

“Yap!” sebuah balasan atas pertanyaan semi sadarku.

“Kau bercanda..” kekehku sambil masih tetap memejamkan mata.

“Sepertinya aku perlu melakukan ini..” suara gumaman balasan terdengar. Setelahnya, aku merasakan sesuatu yang lembut menekan pipiku. Dalam sekejap aku membuka mataku.

Omo!!” pekikku melihat Myungsoo tersenyum geli seraya menarik wajahnya dari wajahku, lalu duduk dengan tenang menghadapku. Spontan tubuhku membeku menatapnya sembari mengerjap tidak jelas.

Mianhe Ji!” Myungsoo tertawa geli tanpa rasa bersalah.

“Ini benar kau?” Aku menekan tubuh pria di hadapanku, kemudian kepalaku menoleh ke kanan dan ke kiri. Menyakinkan jika pria di hadapanku juga manusia bukan mahluk jadi-jadian. Aku berdiri menatap Jaebum dari kejauhan, kemudian berteriak.

“Jaebum-ah! Apakah dia nyata?” tunjukku pada Myungsoo yang dijawab anggukan oleh Jaebum.

Wae?” tanya Jaebum yang ikut berdiri melongokkan kepalanya ke meja kerjaku. “Dia Kim Myungsoo Ji!” Jaebum memperjelas ucapannya.

“Aku sudah bertemu dengannya tadi..” senyum Myungsoo sambil melambaikan tangannya ke Jaebum.

“Memang kalau dia bukan Myungsoo, siapa lagi?” Jaebum menggelengkan kepalanya, terheran.

Gwisin..mungkin..” jawabku sekenanya sembari berkacak pinggang menatap wajah Myungsoo.

Aigoo..” Myungsoo semakin tertawa geli menatapku.

“Mengapa kau di sini?” tanyaku.

“Mengajakmu pulang, ini terlalu larut malam untuk seorang wanita pulang sendiri dari kantor.”

Heol~!” sungutku yang sebenarnya dalam hati aku bersorak gembira.

“Darimana kau tahu aku masih di sini?” tanyaku seraya membereskan berkas-berkasku.

“Jaebum meng-upload fotonya tadi bersama status lemburnya, lalu aku melihatmu di belakangnya..”

Eoh…” jawabku sekenanya dibalik kesanjunganku akan perhatiannya.

“Jadi, kau mau menginap di sini?” tanyanya lagi.

“Tentu saja tidak,” jawabku dengan cepat.

“Apa kau termasuk golongan wanita takut gemuk?”

“Hoh? Maksudmu?”

“Kita makan, eotte? Aku tahu tempat yang menarik untuk mengisi perut di malam yang menjelang pagi ini..” ajaknya.

“Makan?”

“Aku mendengar suara aneh dari perutmu Ji..” godanya.

Omo! Yya!” pekikku yang membuat Jaebum berjengkit kaget. Myungsoo semakin tertawa keras, ia benar-benar membuatku malu kali ini.

Geure…aku tunggu di depan!” Myungsoo berdiri mengambil jaketnya, mengobrol sejenak dengan Jaebum. Aku hanya melihatnya dari kejauhan sambil tersenyum, meskipun sebenarnya aku ingin marah karena kelancangannya mencuri popo pipiku, bahkan mengejekku namun entah mengapa otakku ini lagi-lagi enggan memproses perintah hatiku untuk memarahinya. Kurasa tidak ada salahnya mengenal lebih jauh dirinya. Setidaknya aku akan memiliki teman pulang kerja nantinya.

**

Another abal story, komen juseyo, ghamsahamida!!

39 responses to “Mesmerize

  1. aigooo suzy baru suka sekarang tapi myungsoo udh suka dari lama banget aigooo poor myungsoo kk. eonnie kenapa eonnie kalo bikin ff suka bikin ngefly trs kerasa banget kalo baca senyum sendiri selalu so sweet udah deh eonnie mah emang jjang!!!!!

  2. Wah daebak…
    Cuuri…curi curi panandang
    Jd ingat lg itu eonnie🙂 ,emang so sweet myungzy ini (y yang paling so sweet mah eonnie dina atuh kan secara yg nyiptain alur ceritanya🙂 ),saking cool nya myung sooji sampe g ngerasa kalo selalu d perhatiin

  3. Ketemu lgi sama ff menarik karya kak dina^^
    haha awalnya sooji nggk tertarik sma sekali eh pas mengenal lebih jauh sma myung akhirnya timbul rasa suka itu wkwkwk
    siapa coba yg nggk tertarik sma myung kekekeke~
    Ya ampun cara myung ndeketin sooji sumpah gentle banget langsung nunjukin suka sma sooji hmmm jhoa;)
    Good ff
    Good story
    Good Author😀

  4. Heh..ada” aja sih myung,,maen popo aja..
    Ahh sweet ff, momentnya itu loh berasa nyata aja..myungsoo yg terang”an ke sue…

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s