[Freelance] New Destiny Chapter 8

new destiny psd version 2

Title : New Destiny | Author : danarizf| Genre :  Fantasy – Romance | Rating : Teen | Main Cast : L [Infinite] as Kim Myungsoo, Suzy [Miss A] as Bae Suzy | Support Cast : Hoya [Infinite] as Putra Mahkota Lee Howon, Krystal [F(x)] as Jung Krystal (2015) / Putri Mahkota Jung Soojung (Joseon), Jiyeon [T-Ara] as Park Jiyeon, Irene [Red Velvet] as Bae Joohyun, Minho [SHINee] as  Choi Minho

….

  

 

Joseon, 1365

“Tidak mungkin kau berasal dari keluarga Bae. Di Joseon, kata ahbeoji, hanya kami satu-satunya keluarga Bae yang tersisa dan diketahui keberadaannya. Kau benar-benar dari keluarga Bae?”

Suzy termenung memikirkan percakapannya dengan Bae Joohyun tadi. Ia masih ingat gadis itu mengatakan kalau keluarganya adalah satu-satunya keluarga Bae di dunia ini. Bukankah kakeknya pernah mengatakan sesuatu tentang hutang budi saat masa Joseon. Keluarga Bae yang inikah yang dimaksud kakeknya? Dan gayageum… keluarga Bae Joohyun dan keluarganya sama-sama memiliki bakat memainkan alat musik itu. Bukankah hal itu bisa menjadi bukti kalau keluarga Bae Joohyun memang leluhurnya?

Tapi… Ia masih tak begitu yakin. Jika memang keluarga Bae yang ini yang dimaksud, lalu dimana keluarga Choi? Mereka seharusnya ada juga kan? Bukankah kakeknya juga pernah mengatakan tentang keluarga Choi?

Benar-benar membuat Suzy pusing.

“Apa yang kau pikirkan?”

Suzy tersentak saat tiba-tiba mendengar suara Myungsoo. Ia menoleh dan mendapati Myungsoo kini ikut duduk di sampingnya di depan rumah Myungsoo. Suzy tersenyum tipis. “Eobsoyo,” balas Suzy.

Myungsoo ikut tersenyum melihat Suzy. Ia kemudian teringat akan sesuatu. “Suzy-ssi, ada yang ingin kutanyakan padamu.”

“Apa?”

“Tentang masa depan yang kau katakan. Kau.. benar-benar berasal dari masa beratus-ratus tahun yang akan datang?” tanya Myungsoo.

Suzy menganggukkan kepalanya. “Untuk apa aku berbohong? Aku benar-benar berasal dari masa depan. Krystal juga. Orang yang kalian kira Putri Mahkota itu juga berasal dari tempat yang sama denganku.”

Myungsoo tersenyum simpul. Ia kemudian menatap Suzy lekat-lekat. “Masa depan… seperti apa tempat yang kau tinggali itu?”

“Emm.. tempat yang tak akan pernah kau bayangkan sebelumnya. Masa yang kutinggali sudah begitu maju. Bahkan kau bisa ke luar kota hanya dalam waktu beberapa menit atau jam saja. Maksudku tidak sampai berhari-hari,” jelas Suzy. “Geunde… kenapa kau tiba-tiba menanyakannya?”

Myungsoo menautkan kedua alisnya. Keningnya berkerut dalam menandakan bahwa Ia begitu keras berpikir. “Karena… ada beberapa hal yang masih tak kumengerti seperti tanah yang bergetar tiba-tiba itu. Lalu bertemu denganmu. Temanmu itu juga… aku masih tak mengerti.”

“Apa kau mulai percaya padaku?”

Myungsoo menatap Suzy. Apa Ia mulai percaya pada gadis itu? Ia tak tahu. Semuanya masih terasa buram baginya.

“Entahlah. Mungkin,” jawab Myungsoo.

“Aku senang kau mulai percaya padaku, Myungsoo-ssi,” ucap Suzy sambil menyunggingkan senyum manisnya.

Senyum itu. Entah apa yang menarik dari senyum Suzy hingga membuat Myungsoo ingin terus menatapnya. Bahkan Ia sudah tak peduli jika kelopak matanya tak berkedip melihat senyum manis itu.

“Ehem.” Suzy berdeham pelan. “Sudah malam. Aku masuk dulu,” kata Suzy seraya beranjak dari duduknya.

Myungsoo ikut berdiri. “Eoh.”

“Selamat malam, Myungsoo-ssi.”

….

Langit pagi itu terlihat cerah dengan mentari bersinar tanpa malu-malu di atas sana. Suzy bergegas memakai sepatunya begitu selesai bersiap-siap. Ia pun berdiri begitu selesai memakai sepatu lalu menepuk roknya pelan-pelan seraya merapikannya.

“Kau mau kemana?”

Suzy mengangkat kepalanya saat didengarnya suara yang familiar di telinganya. Ia tersenyum melihat Myungsoo kini berada di hadapannya. “Ada sesuatu yang harus kulakukan,” jawab Suzy.

Kening Myungsoo berkerut samar. “Melakukan apa?”

“Sesuatu,” jawab Suzy lagi dengan jawaban yang sama. “Apa kau akan ke istana nanti?”

Myungsoo menganggukkan kepalanya. “Kau mau aku menjemputmu seperti biasa?”

“Tidak usah. Aku sudah hafal jalan pulang. Sampaikan salamku untuk Krystal kalau kau bertemu dengannya,” balas Suzy yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Myungsoo. “Aku pergi dulu ya. Annyeong!”

Myungsoo tersenyum simpul melihat Suzy yang berlari-lari kecil keluar dari rumahnya.

….

Suzy mengintip kediaman keluarga Bae, berusaha mencari-cari seorang gadis yang tengah memainkan gayageum. Namun walaupun Ia terus berjinjit-jinjit untuk melihat ke dalam karena pagar yang tinggi, Ia tak dapat melihat gadis itu.

“Suzy?”

Suzy memalingkan pandangannya saat dirasanya seseorang mengajaknya bicara. Kedua matanya melebar senang saat melihat seseorang yang dicari-carinya sedari tadi kini berada di hadapannya.

“Ah… annyeonghaseyo,” sapa Suzy.

Matanya tak sengaja menangkap sosok wanita paruh baya dengan perutnya yang besar di samping Joohyun. Sepertinya wanita itu tengah mengandung.

“Ah, ini ibuku.”

Annyeonghaseyo.” Suzy kembali mengucapkan salamnya pada wanita paruh baya itu sambil membungkukkan tubuhnya dan menyunggingkan seutas senyum.

Wanita paruh baya yang merupakan ibu dari Joohyun itu tersenyum menanggapi sapaan Suzy. “Joohyun-ah, bawa dia masuk ke dalam. Kasihan jika Ia terus berdiri di luar seperti itu,” kata Ny. Bae pada Joohyun yang segera diangguki gadis itu.

“Ayo, Suzy-ssi…”

Suzy pun segera mengikuti Joohyun memasuki kediaman keluarga Bae.

….

“Jadi kau ingin bermain gayageum makanya pergi kemari?” tanya Joohyun begitu Ia mempersilahkan Suzy untuk duduk di depan kamarnya.

Suzy yang mendengarnya hanya tersenyum malu. Bagaimanapun Ia baru saja mengenal keluarga Bae Joohyun tapi sudah lancang ‘menumpang’ bermain gayageum. Namun walaupun malu, Suzy tetap menganggukkan kepalanya, mengiyakan apa yang ditanyakan Joohyun.

Terdengar tawa pelan dari bibir Joohyun. “Geure? Aku senang mendengarnya.”

Ne? Kau senang?”

Ne. Jarang-jarang ada seorang gadis seusia kita yang suka menghabiskan waktu dengan bermain gayageum. Biasanya mereka lebih suka bersolek dan menyulam,” kata Joohyun.

Suzy menganggukkan kepalanya mengerti. Jaman dulu dan sekarang sama saja. Bukankah di tahun 2015 lebih parah? Gadis-gadis seusianya lebih banyak yang tidak pernah menyentuh alat musik itu. Bahkan melihat pun mereka jarang sekali.

Perlahan jemari tangan Suzy mulai bergerak, menari-nari di atas senar gayageum hingga mengalir sebuah melodi indah dari gayageum yang Ia mainkan. Tanpa sadar, kedua sudut bibirnya tertarik mengukir senyuman. Rasanya sudah lama Ia tak memainkan alat musik itu. Padahal jika diingat, beberapa hari yang lalu Ia masih memainkannya untuk berlatih di Joseon’s Festival.

Ah, ngomong-ngomong tentang Joseon’s Festival, Ia jadi ingat kakeknya. Bagaimana keadaan kakeknya? Apa kakeknya tahu kalau Ia menghilang? Atau tidak?

Emm.. dan mengingat kakeknya membuat Suzy juga teringat cerita kakeknya tentang keluarga Bae dan keluarga Choi di masa lalu.

Suzy menghentikan gerakan tangannya tiba-tiba membuat alunan musik yang sedaritadi terdengar tiba-tiba lenyap. Joohyun yang tengah menikmati musik Suzy mengernyitkan keningnya bingung.

“Ada apa, Suzy-ssi? Kenapa tiba-tiba berhenti?” tanya Joohyun.

Suzy menoleh pada Joohyun lalu menggelengkan kepalanya. “Animnida.”

Ia terdiam. Ingin sekali dirinya bertanya pada Joohyun tentang keluarga Bae dan Keluarga Choi tapi Ia merasa tak enak untuk menanyakannya. Ia tak mau dianggap gadis aneh. Tapi Ia penasaran.

“Joohyun-ssi…”

Ne?”

….

Di lain tempat masih di sudut kota Hanyang, Joseon, Putra Mahkota Howon tengah tersenyum lebar saat manik matanya menangkap kehadiran gadis pujaannya di kediamannya. Ia terus memandang gadis itu, seolah tak ingin kehilangan kesempatan sedikitpun untuk dapat memandanginya.

Choha, berhenti menatapku seperti itu,” kata Krystal sambil menundukkan kepalanya membuat Howon terkekeh pelan.

“Tidak bolehkah?”

“Bukan seperti itu.”

Lagi-lagi Howon terkekeh melihat tingkah Putri Mahkota-nya. Ditariknya perlahan lengan gadis itu hingga bergeser ke hadapannya. Kedua sudut bibirnya terangkat membentuk secarik senyuman saat dilihatnya Krystal yang menunduk, mencoba menghindari tatapan matanya.

“Apa kau malu pada suamimu sendiri?” goda Howon.

Krystal mendongakkan kepalanya seraya menatap Howon dengan kikuk. “Su..suami? Eo.. itu… animnida.. geunyang-”

Cup!

Kedua bola mata bening Krystal membulat saat merasakan sebuah sapuan lembut di bibirnya. Manik matanya tepat terarah pada pemuda di hadapannya yang kini tengah menghapus jarak antara mereka berdua sembari memejamkan kedua kelopak matanya.

Krystal mengangkat kedua tangannya, mencoba mendorong tubuh Howon namun apa daya karena kekuatannya tak sebesar pemuda di hadapannya hingga Ia tak dapat melepaskan diri dari Howon.

Cho..ha…,” kata Krystal di sela-sela ciuman mereka.

Tak lama kemudian, sebuah decakan pelan terdengar bersamaan dengan lepasnya tautan bibir dari kedua orang itu. Krystal segera beranjak dari duduknya mencoba menjauh dari Howon.

“A..aku.. aku harus kembali ke kamarku.”

Setelah mengatakan sebaris kalimat itu, Krystal pun mengayunkan kakinya dengan segera keluar dari kediaman Putra Mahkota tanpa peduli pada Howon yang bingung melihat tingkah Krystal.

“Ada apa dengannya? Tak biasanya Soojung menolakku seperti itu.”

….

Krystal melangkahkan kakinya keluar dari kediaman Putra Mahkota dengan terburu-buru. Pikirannya terus melayang pada kejadian saat Howon tiba-tiba menciumnya. Tidak, hanya kecupan. Tapi tentu saja Krystal tak bisa melupakannya begitu saja.

“Yang Mulia Putri Mahkota….”

Krystal mendongakkan kepalanya saat mendengar seseorang memanggilnya. Rupanya Myungsoo. Sepertinya pemuda itu ingin menemui Howon, yah.. seperti biasa.

Myungsoo membungkukkan tubuhnya, memberi hormat pada Krystal – yang dianggap Putri Mahkota.

Eoh, Myungsoo-ssi, kau ingin menemui Putra Mahkota?” sapa Krystal.

Ne. Apa Putra Mahkota ada di kediamannya?” tanya Myungsoo.

Krystal menganggukkan kepalanya pelan. “Kau masuk saja. Dia ada di dalam. Mungkin sedang-” Krystal menghentikan kalimatnya saat tiba-tiba kejadian barusan muncul di kepalanya.

Anida, kau langsung masuk saja. Aku pergi dulu, Myungsoo-ssi.”

Krystal buru-buru melangkahkan kakinya menjauhi Myungsoo. Namun Ia harus kembali menghentikan langkahnya saat Myungsoo memanggilnya. “Yang Mulia!” panggil Myungsoo membuat Krystal segera membalikkan tubuhnya menghadap Myungsoo.

“Ada apa?”

“Itu… apa benar Anda berasal dari masa depan?” tanya Myungsoo.

Kedua bola mata Krystal membulat saat mendengar kalimat yang keluar dari bibir Myungsoo. Bagaimana pemuda itu tahu kalau Ia berasal dari masa depan? Apa jangan-jangan Myungsoo yang membawanya dan Suzy ke masa ini? Tidak.. tidak. Itu tidak mungkin. Jika Myungsoo yang membawanya, pemuda itu tak mungkin menganggapnya putri mahkota.

“Kau.. darimana kau tahu?”

“Suzy… dia yang mengatakannya. Jadi benar?”

Krystal terdiam. Kalau Ia mengatakan yang sejujurnya, apa Myungsoo akan menceritakan hal tersebut pada Putra Mahkota? Bagaimana kalau Ia dipenjara dan dihukum karena telah berpura-pura menjadi Putri Mahkota? Ia bisa dihukum mati. Tapi kalau Suzy menceritakannya pada Myungsoo, bukankah seharusnya Ia menjawab dengan jujur?

Eoh? Myungsoo? Kau sudah datang?”

Kedua kelopak mata Krystal kembali melebar saat telinganya menangkap suara yang familiar, suara Lee Howon.

“Myungsoo-ssi, aku akan menjawabnya lain kali tapi tolong jangan katakan apapun tentang hal ini pada Putra Mahkota. Kau mengerti?” kata Krystal tiba-tiba membuat Myungsoo menatapnya bingung.

Ne?”

“Katakan saja kau mengerti.”

N..ne.”

“Kalau begitu aku pergi.” Krystal segera melangkahkan kakinya menjauhi Myungsoo begitu melihat Howon semakin mendekat. Sedangkan Myungsoo hanya mematung karena tak mengerti dengan tingkah Krystal yang aneh.

“Hmm? Bukankah itu Putri Mahkota?”

Myungsoo menolehkan kepalanya saat mendengar suara Howon. Ia segera membungkukkan tubuhnya memberi hormat.

“Tadi itu Soojung kan?”

Ne? Ne,” jawab Myungsoo.

“Kalian membicarakan apa?” tanya Howon.

“Hanya membicarakan teman Putri Mahkota, Bae Suzy, yang hari ini tidak ikut bersamaku ke istana, Choha.”

Howon hanya menganggukkan kepalanya mengerti seraya mengajak Myungsoo untuk masuk ke kediamannya.

….

“Suzy-ssi, kau mau mengatakan apa tadi?”

Ne?”

Suzy mendongakkan kepalanya dan menatap Joohyun yang juga tengah menatapnya penuh tanya. Pasalnya Ia tadi sempat memanggil nama Joohyun tapi tak mengatakan apa-apa setelahnya. Tentu saja hal itu membuat Joohyun bingung.

“Apa yang ingin kau katakan tadi?”

“Eung.. itu….” Suzy bingung harus mengatakan apa. Ia masih bingung apakah Ia harus menanyakannya atau tidak pada Joohyun. “Aku boleh memanggilmu Eonnie, kan? Sepertinya kau lebih tua beberapa tahun dariku,” kata Suzy yang mau tak mau membuatnya merutuk dalam hati karena malah mengeluarkan kalimat itu, bukannya bertanya tentang keluarga Bae dan keluarga Choi.

Joohyun yang mendengar permintaan Suzy menyunggingkan seutas senyumnya. “Tentu saja boleh. Kalau begitu aku boleh memanggilmu dengan akrab kan, Suzy-ah?”

Ne,” balas Suzy.

Kali ini giliran Joohyun yang mulai memetik senar-senar gayageum hingga menghasilkan lantunan musik yang membuat siapa pun betah mendengarnya.

Eonnie, aku ingin bertanya sesuatu,” kata Suzy saat Joohyun telah menghentikan permainannya. Ia kemudian menatap Suzy penuh tanya. “Eung.. kemarin.. Eonnie bilang hanya ada satu keluarga Bae karena keluarga kalianlah satu-satunya yang tersisa. Apa maksudnya?”

Joohyun terdiam sejenak sembari berpikir.

“Aku tidak terlalu mengerti tapi yang kutahu, keluarga kami itu hanya mempunyai satu anak laki-laki setiap generasinya dan sisanya perempuan. Ayahku juga putra satu-satunya jadi hanya beliau yang membawa marga keluarga kami saat ini. Kakekku juga putra satu-satunya. Sebenarnya aku tak begitu yakin apakah ada keluarga Bae yang lain tapi sepertinya tidak ada. Kalaupun ada hanya perempuan dan keturunannya tak akan bermarga Bae. Atau kalau tidak adalah anak angkat jadi bukan keluarga Bae asli,” jelas Joohyun.

Suzy termenung mendengarnya. Benarkah perkataan Joohyun? Kalau benar, berarti keluarga Joohyun memang leluhurnya. Tapi bukannya di jamannya ada banyak yang bermarga Bae? Ah, mungkin karena adopsi dan sebagainya jadi hanya keluarganyalah satu-satunya keluarga Bae yang asli.

“Ada apa kau bertanya begitu?”

Eoh? Animnida. Hanya penasaran,” jawab Suzy. “Ah, satu lagi. Apa keluarga kalian ada yang mengenal keluarga Choi atau seseorang bermarga Choi?”

Joohyun memiringkan kepalanya sembari berpikir. “Sepertinya tidak. Mungkin hanya tahu tapi tidak kenal. Aku pernah dengar salah satu penginapan di dekat sini itu milik keluarga Choi tapi aku tidak tahu apa itu benar.”

Lagi-lagi Suzy terdiam. Bisa jadi keluarga Choi itu kan yang dimaksud kakeknya?

Eh? Tapi kenapa Ia yakin sekali kalau keluarga Bae dan keluarga Choi yang dimaksud kakeknya itu ada di tahun ini? Bisa saja keluarga yang dimaksud itu ada di masa pemerintahannya cucu dari Raja yang sekarang?

“Ada apa, Suzy-ah?”

Ne? Ah, tidak. Sepertinya aku harus pulang sekarang.”

“Begitukah? Sayang sekali.”

“Maaf. Lain kali aku akan kemari lagi. Aku pulang dulu, Eonnie.”

Joohyun menyunggingkan senyumnya pada Suzy yang mulai berjalan keluar dari rumahnya. “Hati-hati!”

….

Seorang gadis dengan pakaian berjahitkan benang berwarna emas tengah mendudukkan dirinya di atas alas tidur yang tak kalah mewahnya. Jemari dari tangan kirinya mengetuk-ketuk  pelan meja di hadapannya, sedangkan jemarinya yang kanan tengah menopang dagunya. Gadis itu sedang melamun. Sesekali keningnya berkerut dengan mata yang sedikit menyipit. Atau kepalanya yang terkadang bergerak ke kanan dan ke kiri, menepis bayangan-bayangan yang mampir di kepalanya.

“Arghh! Putra Mahkota itu bisa membuatku gila!” umpat gadis itu yang tak lain merupakan Krystal. “Apa dia gila? Bisa-bisanya dia mengambil ciumanku tanpa seijinku! Iiihhh… ciuman pertamaku yang berharga!”

Krystal terus saja menggerutu dan sesekali mengumpati lelaki yang dengan seenaknya menciumnya tadi. Diusapnya wajah cantiknya itu dengan kedua telapak tangannya, berharap hal tersebut bisa membuatnya lupa tentang ‘ciuman’ dari sang Putra Mahkota.

“Mama, Yang Mulia Ibu Suri ingin menemui anda!”

Krystal membulatkan kedua matanya saat mendengar suara dayangnya. Ia pun segera menegakkan duduknya dan merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan.

Seorang wanita tua dengan angkuhnya memasuki ruangan dimana Krystal berada. Gadis itu segera berdiri dan membungkuk hormat pada Ibu Suri sebelum akhirnya mempersilahkan wanita tua itu duduk di tempatnya tadi.

“Yang Mulia Ibu Suri, ada apa Anda tiba-tiba datang mengunjungi saya begini?” tanya Krystal, berusaha sesopan mungkin.

Ibu Suri Park melirik Krystal sekilas. Matanya menyipit, menelisik setiap detail baik rambut, wajah, hingga pakaian yang dikenakan gadis itu. Tiba-tiba kedua sudut bibirnya membentuk seutas senyum sinis.

“Siapa kau?”

Krystal mengerjapkan kedua matanya. “Ne? Sa..saya.. Pu..putri Mahkota Jung Soojung, Mama,” jawab Krystal sedikit tergagap.

“Jung Soojung? Kau yakin kau adalah Putri Mahkota?”

Ne? Jwesonghamnida, apa maksud Anda, Mama?”

“Cih.. Jangan harap kau bisa menipuku! Mungkin cucuku yang malang itu bisa tertipu olehmu, tapi aku tertipu dengan mudahnya olehmu! Kau… jelas bukan Jung Soojung!”

Krystal menelan ludahnya. Apa Ibu Suri Park tahu kalau Ia bukanlah Putri Mahkota? Tapi darimana beliau tahu?

Jwesonghamnida, Mama. Saya tidak mengerti apa yang Anda bicarakan,” kata Krystal.

Ibu Suri Park menatap tajam tepat pada manik mata Krystal. “Aku yakin kau mengerti maksudku.”

Setelah mengatakan itu, wanita tua itu beranjak dari duduknya dan segera keluar dari ruangan Putri Mahkota sedangkan Krystal, gadis itu terdiam cukup lama. Ia mulai menggigiti bibir bawahnya setelah menyadari sesuatu.

Eotteokhae? Ibu Suri Park tahu aku bukan Putri Mahkota? Bagaimana kalau Putra Mahkota tahu? Aku akan dihukum mati.”

….

Suzy berjalan dengan riang di tengah-tengah keramaian pasar. Ia baru saja pulang dari rumah Joohyun. Entah mengapa bermain gayageum membuat hatinya senang. Bahkan sekarang Ia tak menyadari kalau Ia telah menjadi tontonan sepasang mata tajam milik seorang pemuda yang berjalan tak jauh di belakangnya.

“Apa yang kau lakukan?”

Eoh! Kapjagi!” pekik Suzy saat merasakan tepukan pelan di bahunya. Ia menolehkan kepalanya ke kiri, mencaritahu si pemilik tangan yang berhasil membuatnya terkejut barusan.

Suzy tersenyum senang saat melihat orang tersebut adalah seseorang yang dikenalnya. “Waaa… Myungsoo-ssi. Sedang apa kau disini?” tanya Suzy.

Myungsoo memiringkan sedikit kepalanya. “Aku bertanya lebih dulu.”

“Memang kau bertanya apa?”

“Apa yang kau lakukan?” tanya Myungsoo, mengulangi lagi apa yang Ia tanyakan pada Suzy tadi.

“Aku? Tidak sedang apa-apa. Hanya berjalan pulang,” jawab Suzy dengan entengnya. Ia kemudian menolehkan kepalanya ke Myungsoo. “Kau sendiri? Kau baru saja dari istana kan? Apa kau bertemu Krystal?” lanjut Suzy.

Myungsoo menganggukkan kepalanya. “Aku bertemu dengannya. Dan.. menanyakan sesuatu,” kata Myungsoo.

“Bertanya apa?”

Myungsoo terdiam sejenak. “Emm… tentang masa depan yang kau katakan itu.”

Suzy mengangguk tanda mengerti. “Lalu dia jawab apa?”

“Dia belum menjawabnya.”

Geure…,” gumam Suzy. Tiba-tiba Ia menghentikan langkahnya membuat Myungsoo yang berjalan di sampingnya ikut berhenti, lalu menoleh ke arah gadis itu dengan pandangan bertanya. “Myungsoo-ssi, kau… mulai percaya padaku?”

Myungsoo mendengus pelan. Ia kira apa. Namun sejenak kemudian, Ia menggerakkan kepalanya membentuk sebuah anggukan. “Mungkin. Karena aku ingat pernah bertemu denganmu sebelumnya jadi kukira benar kau dari masa depan. Tapi…,” kata Myungsoo menggantung kalimatnya.

“Tapi?”

“Kalau kau dan Putri Mahkota–”

“Krystal! Namanya Krystal!” potong Suzy.

Ne, kau dan Krystal berasal dari masa depan, berarti Putri Mahkota yang asli belum ditemukan,” lanjut Myungsoo.

Suzy berpikir sejenak. “Oh… kau benar.”

“Dimana kira-kira Putri Mahkota yang sebenarnya?”

Suzy mengedikkan kedua bahunya. “Mollayo.”

Kedua orang itu pun segera melanjutkan langkahnya hingga sampai di depan sebuah rumah dengan pintu kayu yang sedikit terbuka. Myungsoo mengerutkan keningnya saat melihat rumahnya terlihat lebih ramai dari biasanya.

“Myungsoo, kenapa ramai sekali?” tanya Suzy bingung.

Myungsoo menggelengkan kepalanya. Terlihat jelas dari raut wajahnya yang sama bingungnya dengan Suzy. “Ayo masuk dulu!”

Baru saja Myungsoo dan Suzy menginjakkan kaki mereka di halaman rumah Myungsoo, seorang pria paruh baya tiba-tiba saja menyerukan sebuah kalimat sambil menatap kedua orang yang baru saja tiba itu.

“Waahh.. ini dia yang sedari kita tunggu!”

Myungsoo dan Suzy menatap beberapa orang yang berada di sana dengan bingung.

“Eung.. jwesonghamnida, kalau boleh saya tahu ada apa?” tanya Myungsoo pada orang-orang yang ada di sana, termasuk ayahnya dan si pria paruh baya tadi.

“Ah, Myungsoo kemarilah. Mereka adalah keluarga Park. Dan beliau ini adalah Menteri Park Haejun,” kata ayah Myungsoo.

Myungsoo mengerutkan keningnya bingung. Untuk apa keluarga Park bertandang ke rumahnya? Matanya menyipit saat melihat sesosok yang sedikit familiar tengah duduk di antara orang-orang itu. Bukankah dia Putri Menteri Park yang biasa bersama Ibu Suri Park? Gumam Myungsoo sambil mengamati seorang gadis yang berada di antara keluarga Park.

“Myungsoo, kemarilah. Jangan hanya berdiri disitu! Beri salam pada keluarga Park.”

Myungsoo pun segera menghampiri mereka setelah menyuruh Suzy untuk masuk ke dalam rumah.

Annyeonghaseyo, Kim Myungsoo imnida,” sapa Myungsoo sambil membungkukkan tubuhnya memberi hormat.

“Lihat! Lihat! Betapa sopannya calon menantu kita!”

Myungsoo menatap Park Haejun tak mengerti. “Kalau boleh saya tahu apa maksudnya calon menantu kita?”

“Duduklah dulu Myungsoo-ya.”

….

Seorang gadis tengah menyulam dengan tenangnya saat tiba-tiba pintu tempatnya berada di buka lebar oleh seorang gadis lainnya. Sohyun tersenyum melihat Suzy yang akhirnya pulang setelah pergi keluar seharian.

Eonnie, kau darimana saja?” tanya Sohyun.

Eoh? Mengunjungi seseorang,” jawab Suzy.

Sohyun melepaskan peralatan menyulamnya lalu bergeser mendekati Suzy yang kini tengah duduk di atas tempat tidurnya. “Seseorang? Apa seorang pria? Eonnie, kau sudah punya kekasih?”

Suzy menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku mengunjungi temanku.”

Sohyun menganggukkan kepalanya tanda mengerti.

“Eung.. Sohyun-ah, di depan itu… siapa mereka?”

“Mereka adalah keluarga Park.”

“Keluarga Park?”

Sohyun kembali menganggukkan kepalanya. Ia kemudian menatap Suzy, bersiap untuk bercerita lebih panjang. “Ne. Jadi tadi saat Eonnie dan Orabeoni sedang keluar, tiba-tiba keluarga Park datang dan berkata ingin menemui ayah. Dan saat aku mengantarkan minuman tadi, aku tak sengaja mendengar perkataan Menteri Park pada ayah.”

“Menteri Park?”

Ehm. Pria paruh baya yang seusia ayahku itu Menteri Park. Aku juga baru tahu tadi. Katanya mereka ingin menjodohkan Orabeoni dengan putrinya. Eonnie tadi lihat kan ada gadis cantik yang duduk di sana. sepertinya dia yang akan dijodohkan dengan Orabeoni.”

“Kenapa mereka tiba-tiba menjodohkan kakakmu?” tanya Suzy.

Mollayo, Eonnie. Padahal yang kudengar, putri dari keluarga Park adalah salah satu calon Putri Mahkota. Tapi sepertinya Ia tidak terpilih sebagai Putri Mahkota makanya sekarang dijodohkan dengan Myungsoo Orabeoni. Tapi… apa Orabeoni benar-benar akan menikah?”

Suzy terdiam. Keningnya berkerut semakin dalam saat mendengar bahwa putri keluarga Park merupakan calon Putri Mahkota. Ia benar-benar tak mengerti dengan semua yang terjadi. Pertama Ia dijodohkan, lalu terdampar di Dinasti Joseon, kemudian Krystal yang dikira merupakan Putri Mahkota karena Putri Mahkota yang sebenarnya menghilang, dan sekarang Myungsoo dijodohkan dengan mantan calon Putri Mahkota? Astaga! Sebenarnya Ia ini tinggal di dunia apa?

….

Pagi hari yang cerah namun sepertinya hati Myungsoo sedang tidak sinkron dengan cuaca hari itu. Terlihat dari bagaimana Ia terus duduk sambil melamun di tempatnya bahkan tak menyadari Suzy yang kini tengah melangkah menghampirinya.

“Selamat!”

Myungsoo menolehkan kepalanya ke arah Suzy dan menatapnya bingung. “Untuk?”

“Apalagi? Tentu saja pernikahanmu. Kudengar kau dijodohkan dengan putri keluarga Park. Benarkan?” balas Suzy yang membuat Myungsoo menganggukkan kepalanya pelan.

Eoh.”

“Kenapa lesu begitu? Apa dia tidak cantik? Bukankah gadis yang kemarin duduk disana cantik? Apa aku salah lihat? Atau ternyata bukan yang kemarin yang dijodohkan denganmu?” cerocos Suzy.

“Bukan itu. Dia cantik. Sangat cantik. Tapi… aku tidak ingin dijodohkan dengannya. Aku tidak menyukainya dan… aku ingin menikah dengan seseorang yang kucintai, Suzy,” jawab Myungsoo.

Suzy termenung. Tiba-tiba saja Ia mengingat perjodohan yang dilakukan kakeknya.

 “Tentu saja. Dari dulu aku ingin menikah dengan orang yang kucintai. Semua orang juga pasti begitu. Tapi kalau aku menikah karena dijodohkan, itu berarti aku menikah karena terpaksa. Walaupun mungkin nanti aku bisa menerimanya dan mulai menyukainya tapi tetap saja aku menikah bukan karena mencintainya.”

Sama seperti Myungsoo, Ia pun ingin menikah dengan seseorang yang Ia cintai. Bukan menikah karena dijodohkan begitu.

“Kenapa kau diam?” tanya Myungsoo sambil mengibaskan tangannya di depan wajah Suzy.

Gadis itu mengerjapkan matanya perlahan hingga akhirnya Ia kembali tersadar dari lamunannya. “Aniya. Aku hanya berpikir. Kenapa orang-orang suka sekali memaksakan kehendak mereka. Sama sepertimu, aku juga ingin menikah dengan seseorang yang kucintai. GeundeHarabeoji tak mau mengerti sama sekali dan tetap memaksaku.”

Kening Myungsoo mengernyit mendengar perkataan yang diucapkan Suzy. “Apa yang kau bicarakan?”

Ne? Tidak, lupakan saja.”

“Suzy…”

“Hmm?”

“Kemarin… ah, aku tidak enak mengatakannya.”

Suzy menolehkan kepalanya ke arah Myungsoo dan menatapnya penuh tanya. Menuntut pemuda itu untuk melanjutkan kalimat yang baru saja Ia ucapkan. “Apa? Katakan saja.”

“Eung… kemarin… Tuan Park bertanya tentangmu,” kata Myungsoo.

“Bertanya tentangku?”

Ehm. Dia bertanya siapa kau dan mengapa kau berada disini juga mengapa kau pulang bersamaku kemarin,” lanjut Myungsoo.

Suzy menggerakkan sedikit tubuhnya mencari posisi yang nyaman untuk mendengarkan cerita Myungsoo. “Lalu?”

“Dia bilang.. eung… kalau aku dan putrinya menikah, dia tidak ingin kau tinggal disini lagi.”

Suzy memiringkan kepalanya sedikit lalu mengangguk pelan. “Geure? Kalau begitu aku harus pergi. Bagaimanapun Tuan Park benar. Calon istrimu pasti tidak nyaman dengan keberadaanku. Aku kan bukan bagian dari keluarga ini.”

“Tapi… kau tidak punya siapa-siapa di sini.”

“Aku punya Krystal.”

“Dia di istana dan kau tak bisa tinggal di sana kecuali kau bekerja di istana.”

Suzy menatap Myungsoo. Ada yang aneh dari tatapan Myungsoo. Entahlah, Ia tak terlalu mengerti. Apa Myungsoo merasa kasihan padanya karena akan kehilangan tempat untuk tinggal? Atau… khawatir? Entahlah.

Geokjeongmaseyo. Aku bisa tinggal dimanapun itu asal bukan tempat para Gisaeng.”

Geunde….”

“Tidak perlu khawatirkan aku. Lebih baik kau menyiapkan pernikahanmu saja.”

Myungsoo terdiam. Ada sesuatu yang tak dimengertinya. Mengapa Ia begitu khawatir pada gadis itu? Bagaimana nasib gadis itu nanti? Apakah akan baik-baik saja atau tidak? Dimana dia akan tinggal? Siapa yang akan menolongnya?

“Sudah, jangan dipikirkan!”

Tidak. Entah mengapa Myungsoo tidak bisa berhenti memikirkannya.

….

TBC

….

HUAAA jeongmal mianhe~~~~

Aku update-nya lama banget ya? Maaf beneran. Maaf juga kalau ceritanya semakin kesini malah semakin ngebosenin atau jadi aneh. Buat readers yang selalu setia nunggu cerita abal-abal ini makasih yaaa. Sebenernya nggak nyangka juga ada yang suka cerita ini.

Lagi-lagi aku bikin cover baru hehe… Maaf ya ganti-ganti mulu. Saya mah labil orangnya.

Dan hemm.. yahh ini emang telat tapi Happy #INFINITE5thBirthday!!!!!!!! Aku emang Inspirit akut jadi maklumin aja kalau sering ngomongin Infinite tiap update ff (nggak tahu juga ding aku lupa saking lamanya nggak update ㅠㅠㅠㅠ)

Buat yang lumutan nungguin lanjutan ff ini bisa baca dulu ff aku judulnya CRAZY, walaupun ceritanya absurd tapi semoga bisa menghibur hati *ceilah* Ini link-nya… https://fanficofmissasuzy.wordpress.com/2015/06/08/freelancevignette-c-r-a-z-y/

Terakhir, jangan lupa RCL yaaaaa😀

BONUS PIC

ND Cast Complete

81 responses to “[Freelance] New Destiny Chapter 8

  1. myung di jodohin…sprtinya myung g suka…ibu surikah dalang penculikan putri mahkota…suzy kpn ktmu keluatga choi….next

  2. Andwae myungsoo ga blh nikah sm jiyeon ntar sooji gimana?
    Bener kaya myung, sooji ga kenal siapa2 di joseon ug ada nyat dia luntang lantung ga jelas
    Yeeayu myungsoo udh mulai care sm sooji ntar lg jg myung psti bakalan yakin sm perasaanya ke sooji geunde kpn sooji bs menyukai myung ya?
    btw krystal kasian amat ya cheot kisseu nya di rampas oleh howon hahaha lucu bgt deh
    Ceritanya bener2 bikin penasaran

  3. Myung sama jiyeon? Ahh andwaee myung buruan dong suka sm suzy kkkk😀. Gimana nasib suzy ntar? Dia akan tinggal dimana coba?

  4. benar dugaan aku jiyeon suka sm myung…ahhh…mau nikah lg mrk…
    krystal kepikiran howon terus tuh…
    makjn seruuuu….!!!

  5. Ahh.. Myung dijodohin dg jiyeon? Apakah suzy akan tinggal di moyangnya atau istana jadi pelayan disana? Penasaran xD

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s