Mianhae (1/3)

11218708_391142734406888_7947756647505312390_n

Tittle: Mianhae

Length: Threeshoots

Author: Mybabysuzy (RSA)

Main cast: Bae Suzy | Kim Myungsoo | Jung Soojung

Poster by rosaliaocha@ochadreamstories

————————————————-

Sooji, gadis yang melangkahkan kaki jenjangnya mengikuti setiap langkah gadis cantik yang menarik tangannya, menyusuri sebuah lorong yang di penuhi puluhan manusia, Sooji pasrah mengikuti setiap hentakan tarikan yang ia terima, layaknya gadis bernama Sooji itu memasrahkan seluruh hidupnya kepada gadis yang menarik tangannya.

Sooji mulai merasa jengah ketika gadis yang menariknya mulai mengajak dirinya menerobos kumpulan puluhan manusia yang rapi berbaris memenuhi lorong panjang. Dan disinilah dirinya berakhir dengan sahabat satu-satunya itu, di urutan pertama membelangkangi beberapa manusia dibelakang mereka.

Sepuluh menit sudah, Sooji hanya berdiri seperti orang bodoh. Tentu, karena dirinya bahkan tidak mengetahui apa yang sebenarnya sedang ia lakukan? Sooji hanya menuruti ucapan gadis berambut coklat panjang itu, sahabatnya.

“Soojung-ah.” Sahut Sooji.

“Diamlah, Sooji. Tunggu sebentar lagi, kumohon.” Balas gadis yang dipanggil Soojung, sahabat Sooji.

Sooji hanya mendesah pelan. Percuma saja usahanya untuk menghentikan kegiatan konyol mereka, karena sahabatnya yang bernama Soojung itu tidak akan pernah bisa dibantah jika sudah berucap. Jika Sooji masih bersih keras membantah, dirinya lah yang akan mendapat resiko. Rengekan dan ocehan dari Soojung. Itu lebih buruk bagi Sooji.

Sooji menundukkan kepalanya, memandang sneaker putih yang melekat pada kedua kakinya. Hal ini sering gadis itu lakukan jika merasa bosan. Memandang kedua sepatu yang melekat pada dirinya dan menjelajahi dunia khayalannya yang tak menarik.

Sooji mengeryit heran ketika pekikan histeris menyapa indra pendnegarannya. Segeralah gadis itu mendongakkan kepalanya menatap sahabatnya yang tengah tersenyum aneh dengan mata yang menatap kearah belakang tubuhnya.

Sooji segera membalikkan tubuhnya hendak mencari tahu hal apa yang membuat sahabatnya menjadi aneh dan para yeoja yang berteriak tidak jelas seperti itu. Mata almond milik Sooji membulat sempurna, gadis itu terkesiap, jantungnya terasa berhenti saat itu juga. Tubuh Sooji bergetar menatap seorang namja yang tengah berjalan kearahnya.

Sooji sedang tidak bermimpi, kan? Apa gadis itu masih menjelajahi dunia khayalannya? Apa.. ini memang nyata? Seberapa usahanya gadis itu mengelak, tapi.. ia sadar. Kejadia ini memanglah nyata  dan namja itu…. nyata. Bukan halusinasi semata.

“Sooji, inilah yang kumaksud. Namja diujung lorong yang tengah berjalan itu adalah namja yang kuceritakan tempo hari. Namja yang membantuku menangkap pencopet yang mencuri tasku. Sejak itu aku menyukainya. Ia namja yang unik Sooji-ah, sebenarnya namja itu memiliki hati yang sungguh baik akan tetapi ia mencoba menutupinya dengan ekspresi datar dan tatapan datar itu.” oceh Soojung.

Soojung mengeryit heran ketika Sooji tidak membalas ocehanannya, gadis itu segera menolehkan kepalanya hendak melihat keadaan gadis itu. Hampir saja Soojung mengeluarkan sumpah serapahnya jika tidak dirinya melihat keadaan sahabatnya yang tengah bergetar itu.

“Hei,Sooji! Kau kenapa? Yya, gwenchanha?” seru Soojung panic.

Soojung memegang kedua bahu Sooji dan memutar tubuhnya. Dapat Soojung lihat mata almond milik Sooji yang berkaca- kaca hendak mengeluarkan cairan bening. Gadis itu semakin panic melihat keadaan Sooji, terlebih pandangan mata Sooji yang tak focus.

“Yya, gwenchana? Yya, jangan membuatku khawatir, Bae Sooji!” pekik Soojung sedikit keras sembari menepuk pipi bulat milik Sooji pelan.

Sooji yang merasa seseorang meneriakinya dan menepuk pipinya mengerjapkan matanya. Gadis itu sedikit terkejut melihat sahabatnya tengah dihadapannya, menatapnya khawatir dengan air mata yang hendak keluar. Sejak kapan Soojung ada dihadapanku?Fikirnya.

“Wa.. waeyeo?” Tanya Sooji bingung.

Soojung menghembuskan nafasnya lega, rasa khawatir yang berkecamuk perlahan memudar. Segeralah Soojung menarik sahabatnya kedalam pelukannya. Bahkan Soojung lupa dengan perihal namja yang disukainya.

“Jangan membuatku khawatir lagi, Sooji. Kumohon.” Sooji tersenyum mendengarnya, hal ini yang ia suka dari Soojung. Gadis itu adalah sesosok yang sangat perhatian, dibalik sifatnya yang suka memaksa.

“Arra.” Senyum Sooji sambil membalas dekapan Soojung, mata almondnya masih menatap lirih punggung namja yang baru saja berlalu dari hadapannya.

—————————————

“Ayolah, Sooji. Aku mohon bantulah aku. Kau tahu betul seberapa besar perasaanku kepada Myungsoo? Bahkan saat hari itu dia menolongku dan aku tahu dirinya akan masuk disekolah kita, kau tahu seberapa bahagianya aku, geutchi? Ayolah, kumohon.” Rengek Soojung.

“Aku tidak mau, Soojung. Itu terlalu konyol, jika hal lain yang kau minta aku bersedia membantumu. Tetapi untuk hal ini tidak, itu teramat konyol ,Soojung.”

Soojung melesatkan kedua bahunya lesu, dengan apik gadis itu memasang wajah murungnya. Sementara Sooji menatap Soojung penuh penyesalan. Gadis itu pasti akan menolong sahabatnya jika saja Soojung tidak melibatkan persoalan Myungsoo kedalamnya.

“Baiklah, aku akan melakukannya sendiri, lalu meakukan operasi wajah karena menahan malu akibat Myungsoo melihat wajahku yang seperti kepiting rebus. Heh… baiklah.” Lirih Soojung.

OhGod! Persetan dengan kelihaian Soojung dalam berakting, tak sangguplah Sooji menahan pertahannya untuk menolak permintaan itu. Sooji mendesah pelan sebelum berucap menyetujui.

“Baiklah aku akan menolongmu. Ingat, untuk kali ini saja! Lain kali, aku tidak mau!” ucap Sooji tegas.

Soojung tersenyum lebar mendengarnya, tidak percuma dirinya mengeluarkan tenaganya untuk berakting sebaik mungkin. Gadis itu memekik senang lalu memeluk tubuh Sooji erat.

“Kau memang yang terbaik,Sooji-ah.”

Sooji melangkahkan kakinya ragu menyusuri anak demi anak tangga yang akan menghubungkan gedung sekolahnya dengan atap gedung sekolahnya. Sooji menghentikan langkahnya saat dirinya tepat berada di depan sebuah pintu yang terhubung dengan atap sekolah.

Sungguh, ia tidak ingin melakukan hal konyol seperti ini. Gadis itu menghembuskan nafasnya pelan, menetralkan semua keraguan yang berkecamuk dihatinya. Perlahan, tangan Sooji mengulur menggapai handle pintu. Lalu, mendorongnya pelan.

Sesosok tubuh namja yang membelangkangi dirinya,  yang ia lihat pertama kali ketika pintu yang ia dorong terbuka sempurna. Sooji melangkah pelan menghampiri namja yang tengah terduduk disebuah bangku panjang, yang membelangkangi tubuhnya. Ya, dia adalah Myungsoo, Kim Myungsoo.

“M… myungsoo-ssi?” sahut Sooji sedikit ragu saat dirinya tepat dibelakang namja itu. Myungsoo bangkit dari duduknya, kemudian ia memutar tubuhnya dan menatap gadis dihadapannya datar.

Sooji mengigit bibir bawahnya, keberaniannya meluntur ketika ia mendapat tatapan datar dari namja ini. Sooji memutar kedua bola matanya kesana- kemari mencoba menetralkan perasaan aneh yang mulai menjalar ditubuhnya. Entahlah, ia tidak tahu pasti apa yang dirasakannya saat ini.

“Jadi apa yang ingin kau katakan?” ujar Myungsoo dingin sambil melempar sebuah kertas dihadapannya.

Sooji terperanjat, gadis itu menatap memo yang ia tempelkan di loker Myungsoo. Hanya itulah cara yang bisa ia lakukan untuk bertemu dengan Myungsoo secara diam- diam seperti ini. Jika tidak? Sooji dapat dipastikan akan menjadi bahan gossip dan cemohan.

“Jadi…. Ah, begini….”

Sooji merutuk dalam hati karena kebodohan yang ia lakukan. Sementara Myungsoo hanya berdecak sambil menatap datar Sooji. “Cepat katakan, aku tak punya banyak waktu untuk meladeni gadis sepertimu.”

Sooji yang sedari tadi menunduk, mendongakkan kepalanya menatap namja dihadapannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Sooji mengulaskan senyum kecilnya sebelum berucap.

“Sahabatku mengajakmu untuk berkencan denganmu. Ia sadar ini adalah hal konyol, maka dari itu ia menyuruhku yang berbicara denganmu. Dan ia mengatakan jangan menjawab atas pernyataan cinta secara tak langsung ini, ia memintamu menjawab setelah kau melakukan kencan dengannya.” Ujar Sooji sebiasa mungkin.

“Dan untuk masalah tempat dan waktu, ia akan mengabarkanmu. Jika tidak kau tak setuju dengan usulannya, kau boleh memilih sesuka hatimu. Jadi, kau mau atau tidak?” lanjut Sooji.

“Soojung yang kau maksud?”

Sooji menatap terkejut Myungsoo. Bagaimana bisa tahu apa yang ingin dia katakana? Ani, apa Myungsoo mengenal Soojung? Bagaimana bisa?

“Kau mengenalnya?”Tanya Sooji.

“Tentu, siapa yang tidak mengenal Soojung. Gadis populer yang cantik, ramah, ceria, kaya, dan pintar yang menjadi impian semua pria di Jeil High School. Ah, dan memiliki seorang sahabat yang selalu mengikutinya. Tapi, sayangnya ia tak sepopuler Soojung dan dianggap hanya sebagai budak atau semacam penggemar. Bukankah aku benar?” ujar Myungsoo dengan nada remehnya.

Sooji terdiam. Dadanya terasa sesak mendnegar setiap kata demi kata yang terlontar dari bibir milik Myungsoo. Apa namja itu masih membenci setelah sekian lama? Tentu saja, babo. Rutuk Sooji dalam benaknya.

“Geurae, kau benar, Myungsoo-ssi. Jadi, apa jawabanmu?” sahut Sooji dengan nada setenang mungkin. Gadis itu mati- matian menahan rasa aneh yang menjalar ditubuhnya.

Myungsoo menarik ujung bibirnya, membentuk senyum sinisnya. “Tentu, aku akan menerimanya. Namja mana yang menolak kesempatan emas ini?”

Sooji tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya setuju. Memang benar, bukan? Soojung adalah kesempatan emas bagi setiap pria.

“Baiklah, tempat dan waktunya akan kuberitahukan lagi. Geurom.” Sooji membungukkan badannya sedikit, lalu memutar tubuhnya dan melangkah pergi meninggalkan Myungsoo yang hanya diam menatap punggung Sooji.

———————-

“Sooji-ah.” Sahut Soojung yang sedang merapihkan bukunya.

Sooji menoleh, menatap sahabatnya yang tengah tersenyum aneh. Sooji kembali mendesah pelan mengerti maksud gadis itu.

“Apa lagi?” Tanya Sooji jengah. Soojung tersenyum manis menunjukkan aegyonya sebelum membuka suaranya.

“Temani aku berbelanja baju untuk kencan akhir pecan nanti, ne?”

Sooji memutar bola matanya malas. Ayolah, hanya kencan bukan? Mengapa Soojung harus membeli pakaian baru? Menurut dirinya gadis itu memiliki segudang baju. Apa belum cukup?

“Soojung bajumu sudah menumpuk, dan kau membeli pakaian lagi? Ayolah, hanya sekedar kecan. Dan kau tahu,kan? Aku tak menyukai berbelanja dan berkeliling mall sebesar itu. Terlalu melelahkan.” Jelas Sooji sebisa mungkin.

“Ayolah,Sooji. Aku harus pergi dengan siapa,eoh? Hanya kau satu-satunya sahabatku, aku tak menyukai pergi dengan yang lainnya. Jebal, Sooji-ah.” Rujuk Soojung.

Sooji menghembuskan nafasnya pasrah lalu menganggukkan kepalanya pelan pertanda dirinya setuju. Sudah Sooji bilang, bukan? Dirinya tak mampu membantah ucapan Soojung.

“Bae Sooji, jjang!”

————————

“Sooji-ah, eottae?” Tanya Soojung sembari memutar tubuhnya bermaksud memperlihatkan dress yang ia kenakan.

Sooji mengealihkan pandangannya dari layar handphonenya, lalu melihat Soojung sebentar dan berkutat lagi dengan layar ponselnya. “Lumayan.” Ucapnya sekenanya.

Soojung mendnegus kesal, sedari tadi hanya kata lumayan dan lumayan yang Sooji ucapkan. Ayolah, Soojung butuh pendapat.

“Yya, aku butuh pendapatmu bukan kata lumayan.”

Soojung melangkaah menghampiri Sooji yang duduk di sebuah sofa putih, semntara Sooji hanya mendesah.

“Itu pendapatku, babo.”

“Terserah kau saja, aku akan memilih dress ini. Gerigooo…”

Sooji menatap gadis disebelahnya heran. Mengapa Soojung menyeringai seperti itu?

“Kau juga harus membeli dress, okey?”

“Mwo? Nan shirreoyeo.”

“Aish, Sooji-ah. Lihat sejak aku mengenalmu kau hanya berpakaian seadanya seperti ini, tak modis sama sekali. Ayolah, sekali-kali kau bersikap lebih feminism. Hanya satu dress, eoh? Aku yang akan membayarnya, tenang saja.” Oceh Soojung.

“Heh… baiklah. Percuma aku membantah ucapanmu, yang ada aku yang kena ocehanmu. Bae Sooji babo.” Soojung tertawa mendengarnya.

——————–

“Sooji-ah!” pekik Soojung sambil menghampiri Sooji lalu memeluk tubuh Sooji erat. Sooji yang sulit bernafas, melepas pelukan sahabtnya paksa.

“Kau ingin membuatku mati muda,eoh?” dengusnya, sementara Soojung malah tertawa mendengarnya.

“Kajja, kita kekantin. Aku harus bercerita denganmu.” Ajak Soojung.

Belum gadis bemarga Bae itu menjawab, nona Jung pemaksa itu langsung menarik tangannya, menggiringnya kekantin.

——————–

“Sooji-ah, gomawo berkat bantuanmu hidupku kini terasa bahagia. Aigoo, kau memang sahbaatku yang terabaik. Bae Sooji, jinjja jjang!” oceh Soojung dengan nada super bahagianya.

“Mwo? Apa ini berhubungan dengan kencanmu dengan Myungsoo?” sahut Sooji. Soojung menganggukkan kepalanya cepat.

“Kau benar. Kau tahu? Dia berkata ia akan menjawab perasaanku setelah kita melakukan tiga kencan. Bukankah itu pertanda bahwa setelah ini kami akan sering pergi berkencan? Dan kau tahu…..” Soojung menghentikan ucapannya karena tersipu malu.

“Ada apa?” Tanya Sooji heran.

“Kami.. sudah berciuman. Aigoo, pipiku tak bisa tidak merona ketika mengingatnya.”

Sooji terdiam, kedua matanya mengerjap. Ia tidak salah dengar, bukan? Mereka… berciuman? Gadis itu menahan nafasnya, hatinya terasa sakit ketika otaknya mengingat sepotong kenangan yang pernah terjadi..

“Sooji-ah.” Seru seorang namja.

Sooji, gadis remaja itu menoleh lalu tersenyum manis. “Waeyeo, oppa?” Tanya gadis itu.

“Aku berjanji jikapun takdir memisahkan kita, dan disaat masa depan kita bertemu lagi. Aku akan menjaga bibir dan hati ini untukmu, ani seluruh jiawa ragaku hanya untukmu seorang. Kau mau berjanji juga?”

Sooji mengerjapkan matanya, tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh namja dihadapannya. Hatinya berdesir mendengar perkataan yang memuatnya terhanyuh.

“Tentu,oppa. Aku juga berjanji menjaga jiwa ragaku hanya untukmu.”sahut Sooji membuat namja itu mengulaskan senyum manisnya.

“Sooji-ah! Wae  urro?” Tanya Soojung panic melihat setetes air mata keluar dari mata sahabatnya. Segera, Sooji sadar dari ruang nostalgianya ketika mendengar pekikan Soojung.

“Ah.. aniya. Siapa yang menangis? Aku hanya kelilipan debu.” Elaknya sambil tersenyum.

Sementara Soojung hanya mengangguk mengiyakan, meskipun hatinya berkata ada sesuatu yang aneh dari Sooji. Tetapi segera gadis itu tepis pemikiran konyolnya. Tidak mungkin Sooji menyembunyikan sesuatu darinya.

—————————-

“Aigoo, ramainya.” Keluh Soojung sambil membawa nampan makananya.

Sooji hanya mengangguk setuju. Gadis itu mengedarkan pandangannya mencari meja kosong, begitupun dengan Soojung. Sedetik kemudia, kedua sudut bibir Soojung membentuk sebuah senyuman manis.

“Kajja,Sooji-ah.” Ajak Soojung.

Sooji hanya menurut mengikuti langkah gadis dihadapannya, tanpa berfikir kemana dirinya akan dibawa oleh sahabatnya itu. Sooji menghentikan langkahnya tepat dihadapan namja pemilik mata elang itu.

“Gomawo, oppa. Sooji duduklah, tak perlu takut menjadi obat nyamuk. Setengah hatiku tetap untukmu.” Kekeh Soojung.

Sooji hanya mengangguk, lalu mendudukkan dirinya disamping Soojung. Sooji mulai menyibukkan dirinya dengan makananya, berniat untuk menghiraukan namja dihadapannya. Sementara kedua manusia itu asik bersenda ria.

“Sooji-ah, menurutmu tempat kencan yang bagus dimana?” sahut Soojung membuat Sooji mendongakkan kepalanya.

“Molla, aku tidak pernah berkencan. Kau tahu itu dengan baik.” Sooji tersenyum kecil sesudah menyelesaikan ucapannya. Tak pernah berkencan? Ayolah, Sooji hanya berbohong.

“Ah, mian aku lupa, hehe. Lalu, kita akan kencan kemana minggu ini,oppa?”

“Lotte world, eottae?”

“Call.”

Sooji kembali menarik ujung bibirnya membentuk senyum lirih. Bohong! Jika gadis itu tak merasa sakit. Bohong! Jika gadis itu tidak menahan tangis saat ini. Bohong! Jika gadis itu tak menaruh perasaan ke namja dihapannya, Kim Myungsoo.

Kerutan di dahi Sooji terlihat, saat dirasanya rasa sakit yang menjalar tubuhnya. Kepalanya berdenyut kencang membuat ringisan kecil keluar dari bibir mungilnya. Pandangannya buram, kaki dan tangannya terasa mati.

Dentingan sumpit jatuh karena ulah Sooji membuat Myungsoo dan Soojung menoleh kea rah Sooji. Rasa khawatir seketika menghantu Soojung saat ia melihat keadaan sahabatnya, begitu pula dengan Myungsoo yang sedikit bingung melihat keadaan Sooji.

“Yya, Sooji-ah. Gwenchanha?” Tanya Soojung cemas, gadis itu memegang kedua bahu Sooji.

Sooji mengerjapkan matanya, mencoba memfokuskan kembali penglihatannya buram. Samar, gadis itu bisa melihat Soojung tengah berucap, tetapi gadis itu tak bisa mendnegarnya. Seakan dirinya ialah pasien bisu.

“Yya, Sooji!”

“Sooji-ssi?”

Myungsoo lantas bangun dari duduknya dan menghampiri gadis itu, perasaannya berkecamuk. Namja itu dilanda kecemasan saat ini.

“Soojung-ah, mengapa tiba- tiba dia seperti ini?” Soojung menggelengkan kepalanya tidak tahu. Ia tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi dengan sahabatnya.

“Sooji-ssi? Sooji-ssi? Sadarlah. Ikuti suara ini, bangunlah. Jebal,eoh? Jangan membuat orang lain khawatir. Sooji-ssi?”

Myungsoo menepuk-nepuk pipi Sooji pelan berharap gadis itu akan tersadar kembali. Merasa seseorang menepuk bagian tubuhnya, gadis itu mengerjapkan matanya. Alangakah terkejut dirinya melihat Myungsoo dan Soojung yang tepat dihadapannya dengan raut wajah khawatir.

“Tenanglah, aku hanya sekedar berakting agar kalian tak menganggapku sebagai obat nyamuk. Aigoo, kalian tertipu dengan aktingku. Bukankah aku pandai berakting, Soojung-ah?” kekeh Sooji mencoba membuat kedua manusia tak khawatir lagi.

“Mwo? Akting? Aku tak suka dengan candamu,Sooji. Jika kau ingin mengalihkan perhatianku, jangan seperti ini. Kau membuat jantungku berhenti berdetak, arra?!” kesal Soojung.

“Arra, mianhae. AKu tak akan mengulanginya lagi, yagsogi.” Senyum Sooji , lalu menarik Soojung kedalam pelukannya dan mengelus rambut Soojung pelan. Mencoba menenangkannya.

Myungsoo melihatnya segera kembali ke tempat duduknya dan melanjutkan makannya dalam diam. Tak ingin mengganggu dunia kedua gadis itu.

————————

Myungsoo melangkah keluar dari toilet pria sehabis dirinya membuang sisa metabolism tubuhnya. Namja itu melangkah menapaki lorong sepi tak bernyawa tanpa arah. Saat ini dirinya tidak memiliki tujuan yang pasti, kemanakah dirinya akan melangkah pergi.

“Akh….”

Myungsoo menghentikan langkahnya, mata tajam miliknya memicing menangkap sesosok bayangan wanita yang sedang meringkuk di ujung lorong. Myungsoo menajamkan pendengarannya untuk memastikan apa gadis itu sedang merintih kesakitan.

“Akh, jebal! Andwaeyeo!” Pekik sang gadis.

Myungsoo terkesiap. Bukan karena pekikan kesakitan gadis di ujung lorong, namun karena suara gadis itu. Ia kenal suara gadis yang sedang merintih kesakitan. Tidak mungkin jika pendengarannya keliru, dirinya sangat hapal dengan suara gadis itu. Gadis di masa lalunya.

“Solma.. jinjja neo?” Gumamnya.

Perlahan, kedua kaki milik Myungsoo melangkah pelan, hendak menghampiri gadis yang sedang merintih. Sekujur tubuhnya seketika bergetar saat indra penglihatannya dapat melihat dengan jelas sosok gadis itu. Geurae, gadis itu adalah…

“So.. soo ji?” Gumamnya.

Soo ji menurunkan kedua tangannya yang sedang meremas kepalanya, tubuhnya dengan ragu memutar sempurna. Gadis itu terperanjat melihat sosok namja yang kini berada dihadapannya, segeralah ia bangkit dan berdiri tepat di depan Myungsoo.

“Mian, jika mengganggu kau. Geurom.” Ujar Sooji.

Sooji hendak melangkah pergi, namun niatnya kembali terurung karena seseorang terlebih dahulu menahan tangannya. Gadis itu kembali memutar tubuhnya menghadap namja yang memiliki wajah  tampan yang selalu ia puja hingga saat ini.

“Waeyeo, Myungsoo-ssi?” Tanyanya.

Myungsoo yang menyadari perbuatannya kemudian melepaskan tangannya dari lengan si gadis, lalu ia menggeleng kaku. Namja itu merutuk akan sikapnya yang di luar kendali seperti itu. Memalukan.

“Ani.” Ucapnya singkat,

“Ah, geuraesseo? Aku pergi dulu.”

Sooji mengulum senyumnya lalu berlalu pergi meninggalkan sang namja yang sedang merutuki kebodohan akan sikapnya itu.

——————————-

Suzy POV.

Sial. Mengapa hujan turun hari ini? Padahal ramalan cuaca memperkirakan hujan tidak akan turun hari ini. Dan buruknya, aku tidak membawa payung karena telah tertipu dengan ramalan pembohong itu. Dan lebih buruk, Soojung hari ini sudah pulang jadi aku tak bisa menumpang dengannya. Huh, menyebalkan!

Dan ah, jangan berfikir aku berangkat sekolah diantar jemput oleh supir pribadi. Aku bisa saja seperti itu, tetapi aku tidak mau. Menaik bis dan menikmati pemandangan sendir itu lebih menyenangkan. Lagipula, ayahku tinggal di luar negeri 6 bulan ini, entah kapan pulang ke kampong halamannya. Aku sempat berfikir, ayahku lebih cocok jadi orang luar dari pada orang Korea.

Baru saja kakiku hendak melangkah menerobos hujan yang membasahi kota Seoul, tetapi niatku terhenti karena sebuah payung hitam berada diatas kepalaku. Aku mendongakkan kepalaku untuk mengetahui siapa geragan yang berbaik hati berbagi payungnya denganku.

Mataku membulat sempurna ketika indra penglihatan milikku yang masih bisa digunakan dengan sempurna melihat seorang namja yang kuhindari tepat berada disampingku. OhMyGod! Aku tidak bermimpi,geutchi?

“Jangan berfikir aneh-aneh. Ikuti langkahku agar kau tak kebasahan. Jika kau tidak mau, aku bisa pergi sendiri.” Ucapnya datar.

Aku mencibir pelan mendengarnya. Sebenarnya namja ini berniat menolongku atau tidak? Mengapa terkesan tidak ikhlas. Menyebalkan sekali.

“Arrasseo.”

Myungsoo menganggukkan kepalanya tanpa menoleh kearahku, dan mulai melangkah pergi. Kami mulai melangkah menerobos derasnya air hujan.

————————

Author POV

Hening. Itulah gambaran yang tepat untuk menggambarkan atmosfir yang berkeliaran di Antara keduanya. Kedua manusia yang melangkah menerobos derasnya hujan seolah mereka adalah manusia bisu yang tak mampu berbicara. Keduanya membungkam mulutnya, tidak ada niat didalam benak mereka untuk memulai percakapan.

Sebenarnya, Sooji merasa sedikit tak nyaman dengan suasana yang mencekam seperti ini. Rasanya dirinya ingin mengoceh seperti sedia kala, tetapi itu tidak mungkin. Ia tahu hal itu dengan pasti. Namja disampingnya terlalu membencinya.

Dan bisakah dirinya jujur? Banyak pertanyaan dan pernyataan yang ingin ia ucapkan sekarang juga kepada namja itu. Tetapi… Sooji harus bertanya kepada dirinya sendiri. Apakah dirinya bisa melakukan itu semua? Oh, tentu tidak.

“Myungsoo-ssi. Bisakah aku menanyakan suatu hal?” Sahut Sooji menyerah dengan keraguan dihatinya.

Myungsoo menghentikan langkahnya membuat gadis itu ikut menghentikan langkahnya. Namja pemilik mata elang itu memutar tubuhnya kesamping, menatap datar gadis disampingnya. Begitupun sebaliknya, hanya saja Sooji menatap ragu Myungsoo.

“Neo… kau benar- benar tulus kepada Soojung, kan?” ucapnya ragu. Jujur, ia takut jika Myungsoo akan mempermainkan Soojung. Meskipun hatinya harus teriris melihat mereka, tetapi bagaimanapun Soojung adalah sahabatnys. Berhak memiliki Myungsoo seutuhnya.

“Tentu, untuk apa aku bermain- main dengannya? Dia adalah emas, nona. Dan aku tidak akan menyiakan apapun yang ia miliki, termasuk hatinya. Aku akan tulus membalas perasaannya. Geundae, wae? Kau berfikir aku bersamanya hanya ingin membalas perbuatanmu, begitu?” balas Myungsoo skrakatis.

“Aniya, hanya saja… aku mohon kepadamu untuk menjaganya dan jangan pernah kau menyakitinya. Soojung seperti setengah dari jiwaku, dia adalah sahabat terbaikku. Aku tak ingin seorang pun menyakiti perasaannya. Dia terlalu baik.”

“Arra.”

Hanya percakapan itulah yang menemani kedua manusia yang melangkah pulang kerumahnya. Taka da percakapan lainnya, keduanya kembali membungkam mulut mereka. Hanya deras hujan yang menjadi saksi bisu mereka.

————————

Annyeong~

This my first post, right? I’m new author. Jika kalian mau lebih kenal sama aku, kalian bisa buka di page intro dengan nama ‘mybabysuzy’. Aku author di Myungzyfanfictionland jugaa, dan aku pernah ff ini sebelumnya. Sebenarnya aku juga masih penulis baru dan mohon maklum jika masih banyak kesalahan.

Gomao😀 (BOW)

27 responses to “Mianhae (1/3)

  1. Deabaaakkkkk super deaaabbbaakkkk….
    ff nya keren abiz…..
    suzy sakit apa…???
    Semoga sakit nya bisa Di sembuhin…pokoknya jangan sampe mati thor…

    Next part

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s