Mi Pequeño Hijo, Yoona (6)

Mi pequeno hijo, yoona - dina copy

Title : Mi Pequeño Hijo, Yoona | Author : dina | Genre : Angst, Family, Romance | Main Cast : Kim Myungsoo, Bae Sooji

Disclaimer   :

This story is Mine, all cast belongs to God and their family

Poster by rosaliaaocha

♠♠

Mi Pequeño Hijo, Yoona (My Little Child, Yoona)

.

.

.

The Truth

Sooji mengerjapkan kedua matanya akibat silaunya cahaya mentari yang menyorot wajahnya di pagi yang cukup hangat ini. Setengah linglung ia meraba selimut yang menutupi tubuhnya.

Deg!

Sooji terpaku tatkala ia menyadari tubuhnya yang terasa sangat lelah dan tak memakai sehelai benangpun di balik selimut. Serta merta ia menarik selimut, jemarinya menggenggam keras. Dengan mengumpulkan keberanian, ia mendudukkan dirinya. Serasa seluruh tulangnya lolos seketika mendapati seorang pria tidur tengkurap di samping kirinya.

“Astaga!” Sooji memekik pelan, dadanya seakan sesak, otaknya tiba-tiba merasakan kekurangan oksigen.

“Myungsoo-ssi!” ingin sekali ia berteriak tapi entah mengapa tenggorokannya seakan tercekat, pita suaranya mendadak tegang dan segala kefleksibelan gerak lidahnya mendadak hilang.

Myungsoo menggeliat ketika tubuhnya merasakan gerakan dari tubuh Sooji yang hendak mengambil bajunya yang berserakan.

“Ergh…” Myungsoo membalikkan tubuhnya kemudian membuka matanya, sejenak ia melihat langit-langit kamar hotel. Masih setengah sadar ia menolehkan wajahnya ketika tatapannya terkunci oleh tatapan Sooji yang entah mengapa terdapat gurat kekecewaan di sana. Serat merta Myungsoo tersadar tatkala ia melihat Sooji hanya bergelung selimut dengan pundak terbuka, dan tubuhnya tidak lagi mengenakan baju.

“Ya Tuhan!” Myungsoo spontan menegakkan tubuhnya.

“Apa yang sudah kita lakukan?” lirih Sooji, matanya mulai berkaca-kaca.

Myungsoo berpikir keras, serpihan demi serpihan ingatannya semalam mulai terkumpul. “Ya Tuhan! Apa yang telah kulakukan!” Myungsoo mengacak rambutnya, rasa bersalah menghampiri dirinya.

Sooji masih menata degupan jantungnya, ia masih sama terkejutnya saat ini.

“Kita melakukannya?” tanya Sooji lagi yang sengaja menghindari tatapan Myungsoo.

“Entahlah…”

“Ini kesalahan Myungsoo-ssi, tidak seharusnya aku di sini bersamamu!”

Hening.

“Dengar Sooji-ssi..semalam kita berdua mabuk, ini di luar kendali kita” Myungsoo mengusap wajahnya kasar.

“Tapi….” Sooji menarik kembali selimut yang menutupi tubuhnya. “Bagaimana jika aku hamil?”

Myungsoo menatap Sooji dalam diamnya. Entah mengapa meskipun ia merasa bersalah, namun hati kecilnya mengatakan ia menginginkan Sooji menjadi miliknya sepenuhnya. “Aku akan bertanggungjawab!”

Sooji terdiam mendengar jawaban Myungsoo, tentu saja Myungsoo akan bertanggung jawab mengingat lelaki yang telah menidurinya semalam merupakan lelaki terhormat dan sangat baik. Namun entah mengapa perasaan janggal dan bersalah melingkupinya. Sooji tidak ingin dianggap wanita murahan yang dengan mudahnya menyerahkan tubuhnya untuk lelaki yang baru dikenalnya tidak lebih dari 6 bulan. Terlebih dalam keadaan setengah sadar. Sooji sangat menyesal, untuk pertama kali dalam hidupnya yang dipenuhi ajaran moral yang tinggi, ia merasa kotor.

“Bisakah kau menghadap ke sana? Aku ingin mengambil pakaianku..” pinta Sooji.

Reflek Myungsoo memunggungi Sooji, entah mengapa ia merasa menjadi pria yang sangat brengsek, mengambil milik wanita yang ia sayangi tanpa disadarinya. Mengingat status Sooji yang telah menjanda semakin membuatnya kalut, bagaimanapun Sooji wanita terhormat sekalipun ia tidak memiliki pasangan.

Sooji telah selesai berpakaian, ia dengan cepat mengambil tasnya. Serta merta tanpa mengatakan apapun, ia berjalan menuju pintu keluar.

Geumanhe Sooji-ssi!” Myungsoo buru-buru melilitkan selimut di tubuh bagian bawahnya.

“Ini kesalahan..kuharap aku tidak melihatmu dalam waktu dekat, maaf..” Sooji enggan menatap Myungsoo. Enggan membalikkan tubuhnya, namun tangis menyeruak perlahan dari pelupuk matanya, dadanya tiba-tiba sesak, seperti dihimpit batu karang besar. Ia tidak tahu bagaimana harus menyikapi ini semua.

“Dengarkan aku…” Myungsoo menahan tangan kiri Sooji. Ia melihat tubuh Sooji bergetar hebat.

“Jangan pergi, kita harus berbicara..bisakah? Beri aku waktu memakai pakaianku,” pinta Myungsoo .

Sooji hanya menunduk, entah mengapa hanya dengan kalimat pendek Myungsoo membuat tubuhnya tidak kuat untuk melangkah.

Myungsoo telah selesai memakai pakaiannya yang berserakan. Dengan langkah ragu, ia berjalan memutari Sooji. Berdiri di hadapan wanita yang sangat ia sayangi.

“Maafkan aku yang tidak bisa menjaga kehormatanmu, sungguh aku tidak tahu jika diriku yang bejat ini mampu melakukannya padamu…” Myungsoo mengusap wajahnya kasar.

“Katakan sesuatu Sooji-ssi…”

“Apa kau menyesal?” Sooji mendongakkan kepalanya, memberanikan diri menatap Myungsoo.

Ani…aku tidak pernah menyesal mengenalmu, menyukaimu, mencintaimu…”

Air mata Sooji lolos seketika, tangan Myungsoo terulur memeluk tubuh Sooji yang kembali bergetar hebat.

“Aku akan menikahimu…secepatnya..” bisik Myungsoo yang entah mengapa semakin membuat Sooji terpuruk dalam gelombang kasih sayang yang Myungsoo berikan padanya.

—-

Jiae sibuk membereskan bukunya ketika Myungsoo dengan langkah cepat memasuki kamarnya selepas kerja.

Oppa?” Jiae tersenyum cerah, hari ini ia akan memasak makan malam yang istimewa menyambut calon kekasihnya , mungkin. Namun langkahnya terhenti, mengingat beberapa hari terakhir ia dan Woohyun menghabiskan waktu bersama.

“Kau memiliki kekasih oppa?”

“Nega?” jari telunjuk Woohyun terulur ke dadanya.

“Hem…”

“Tidak..”

“Jinca? Kukira kau memiliki kekasih, mengingat sepertinya kau piawai memperlakukan wanita dengan sangat baik.”

“Jeongmalyo?” wajah Woohyun pura-pura terkejut. “Apa kau baru saja memujiku Jiae-ssi?”

“Mungkin..” senyum Jiae sembari mengemut es krim yang ia beli sedari tadi.

“Lihat..belepotan!” Woohyun mengambil saputangannya, dengan cekatan ia membersihkan sisa es krim di sudut bibir Jiae.

“Aigoo…seperti ini tidak memiliki kekasih? Kau benar-benar MVP oppa!”

“Arra..” kekeh Woohyun. “Jadi? Apa tujuanmu sebenarnya di sini? Apa karena perjodohanmu dengan Myungsoo?”

Jiae menolehkan kepalanya, menatap wajah Woohyun dengan senyuman heran. Ia tidak pernah mengatakan pada siapapun rencana perjodohan dirinya dengan Myungsoo.

“Aku benar keutchi? Aigoo..kau dan Sooji sama saja. Myungsoo beruntung sekali diperebutkan oleh kalian!”

“Yya! Aku tidak seperti itu oppa!” protes Jiae yang dihadiahi kekehan Woohyun.

“Myungsoo sangat menyayangi Yunji..” lanjut Woohyun, pendangannya lepas ke arah hamparan taman kota.

“Dan dia menyukai wanita yang menyayangi Yunji, keutchi oppa?” lanjut Jiae.

“Molla..”

Suasana mendadak hening.

“Sejujurnya, aku hanya ingin melepaskan diri dari bayang-bayang seseorang..” Jiae kembali membuka suaranya, nada suara yang perlahan berubah sendu.

“Nugu?”

“Pria brengsek yang hampir mengambil kehormatanku..” tatapan Jiae berubah nanar.

Woohyun terdiam, berusaha menelaah perkataan Jiae.

“Argh! Aku benci mengatakan ini!” Mata Jiae mulai memerah.

“Jangan ucapkan kalau itu membuatmu kembali sakit..” Woohyun menepuk pelan punggung Jiae, berusaha menenangkan.

“Aneh bukan? Mengapa aku dengan mudahnya mengatakan padamu oppa?” Jiae tersenyum masam, berusaha menyembunyikan rasa sakit hatinya.

“Dia kekasihmu?”

“Ani…calon suamiku.” Pandangan Jiae kembali menerawang bebas, meskipun ia berusaha tersenyum, tetap saja trauma percobaan perkosaan calon suaminya masih membekas.

“Aku hanya ingin keluar dari keterpurukan ini..” Jiae membuang sisa es krimnya, perlahan ia berjalan meninggalkan Woohyun.

“Kau sangat mirip dengannya..” gumam Woohyun, tanpa terasa ia hanya menatap punggung Jiae yang perlahan menjauhinya.

“Jiae-ya!” pekik Woohyun.

“Eoh?” Jiae membalikkan tubuhnya.

“Kau mau kemana lagi?”

Lamunan Jiae buyar ketika air di kran meluber, dengan cekatan ia menutup kran. Tangannya menyandar pada sisi meja dapur, ia mengurungkan kembali niatnya untuk membuatkan makanan untuk Myungsoo.

“Sebaiknya aku ke kamar saja, Yunji dan omonim tidak akan pulang dalam waktu dekat..” gumamnya.

“Jiae-ya!” panggil Myungsoo ketika Jiae melewati kamarnya.

Ne oppa?”

“Yunji pergi kemana?”

“Bersama omonim, sepertinya perpisahan di sekolah. Waeyo?”

Ani…kau sendirian dari tadi?”

Ne..abhoji pergi dengan paman Kang, bermain catur mungkin..”

Aigoo..” Myungsoo mengusap rambutnya yang basah dengan handuk.

Oppa…apakah kau mau menemaniku pergi?”

“Kemana? Kapan?”

“Menemui Woohyun oppa, bisakah? Aku ingin membuatkannya masakan..”

Eoh?”

“Bisakah?”

Ne..” Myungsoo menganggukkan kepalanya berkali-kali, menatap heran punggung Jiae yang telah menjauhinya.

“Aneh..”

“Jika ada lelaki lain yang lebih memperhatikanmu dibandingkan Myungsoo, apa kau mau mempertimbangkannya?”

“Hem…mungkin.” Jiae menatap Woohyun dengan senyum cantiknya.

—–

Sooji menatap pintu ruang prakteknya yang terbuka. Selepas kedatangannya dari Jeju, ia dihantui rasa bersalah. Entah mengapa ia merasa berat bertemu dengan Yunji, sekalipun ia sangat menginginkannya. Myungsoo dengan senang hati mengantarkan Yunji padanya, namun sepertinya ia belum bisa menerima ketulusan hati Myungsoo.

Yimo-ya!” Yunji berlari menghampiri Sooji, sebelah tangannya membawa bungkusan makanan.

“Kau dengan siapa kemari?”

Halemoni!”

Sooji terkejut ketika melihat Nyonya Kim telah berdiri di depan ruang prakteknya.

Annyeonghasimika omonim..” Sooji membungkukkan tubuhnya.

Ne…bangapta Sooji-ssi..” senyum eomma Myungsoo.

“Kita makan bersama ne yimo?”

“Oke..” Sooji tersenyum, tangannya reflek membelai rambut Yunji.

—–

“Yunji selalu bersemangat menceritakan tentang dirimu Sooji-ssi.”

“Benarkah? Aigoo jeosonghamnida omonim, saya merepotkan anda. Seharusnya Yunji menelepon tadi, saya bisa menjemputnya.”

Aniya…kami baik-baik saja, dia tadi yang memaksaku ke sini.”

Ne…” Sooji kembali tersenyum.

“Kudengar kau dari Jeju beberapa minggu yang lalu..”

Ne…”

“Myungsoo juga dari sana, aigoo..kasihan Jiae, dia tidak punya teman kemana-mana. Anak itu susah sekali diatur.” Keluh Nyonya Kim.

Sooji terdiam, otaknya menangkap warning dari eomma Myungsoo.

Yimo sudah bertemu dengan Jiae eonni omonim!” celetuk Yunji.

Eoh? Jincayo? Onje?

“Beberapa minggu yang lalu, kami makan bersama. Saya, Yunji, Myungsoo, Jiae dan Woohyun oppa..”

“Ah…geure, bagaimana menurutmu Jiae? Apa dia cocok dengan Myungsoo?” tanya Nyonya Kim dengan penuh rasa penasaran.

Shirreo! Jiae eonni tidak boleh berdekatan dengan Myungsoo samchon!”

Waeyo Yunji-ya?”

“Karena Myungsoo samchon menyukai Sooji yimo, keutchi yimo?” Yunji dengan lugunya menjelaskan dengan detail ketertarikan pamannya terhadap Sooji.

Nyonya Kim sedikit terkejut, namun Sooji buru-buru meralatnya.

Aniya omonim…saya dan Myungsoo hanya berteman biasa.”

“Hem…” Nyonya Kim berusaha tersenyum, merasakan sesuatu yang janggal dari jawaban ragu-ragu Sooji, perlahan ia meletakkan sumpitnya, memandang lekat Yunji yang tengah bersenda gurau dengan Sooji selayaknya ibu dan putrinya.

“Seperti apa putrimu Sooji-ssi?”

Sooji menolehkan kepalanya, menjawab dengan senyuman masih tersungging di bibirnya.

“Jika dia masih hidup, dia sangat mirip dengan Yunji.”

“Berapa usia putrimu?”

“Seharusnya 8 tahun bulan November nanti..”

“November? Kebetulan sekali, Yunji juga lahir di bulan yang sama. Tanggal berapa?”

“8 November?”

“Eoh..kebetulan sekali..” Nyonya Kim sangat terkejut, entah mengapa ia merasa sebuah suratan takdir jika Sooji dan Yunji bertemu.

“Yunji mirip dengan putri saya omonim..”

“Yunji sebenarnya terlahir kembar, namun saudarinya telah meninggal sesaat setelah dia dilahirkan. Lalu eomma-nya satu tahun kemudian menyusul.”

“Kalau saya boleh tahu, apa yang terjadi dengan eomma Yunji?”

“Dia mengalami eklamsi saat proses melahirkan, kemudian otaknya mengalami pendarahan. Menjadikan tubuhnya lumpuh hingga Tuhan memanggilnya.” Mata Nyonya Kim memerah, tanpa dirasa ia menitikkan airmata.

“Semua telah terjadi omonim, yang terpenting Yunji telah menemukan orang-orang yang menyayanginya..”

Arra..seperti dirimu,” puji Nyonya Kim.

Ghamsahamnida omonim, telah memberi saya kesempatan menemui Yunji..”

—–

Myungsoo memarkirkan mobilnya di salah satu café kegemaran Yunji, eomma-nya memintanya menjemput setelah makan malam.

Samchon!” pekik Yunji sembari mengibaskan tangan kanannya ke udara tinggi-tinggi.

Myungsoo tersenyum, dengan langkah penuh semangat ia menghampiri meja dimana Sooji dan eomma serta Yunji duduk menyantap makan malam mereka. “Kalian sudah selesai makan?” tanya Myungsoo sembari duduk di bangku yang berhadapan dengan Sooji.

“Sudah!” Yunji tak kalah semangat menjawab pertanyaan Myungsoo.

Eomma dari mana saja?”

“Menjemput Yunji, mengajaknya sebentar ke rumah Jung Mirae, kemudian ke rumah sakit menemui Sooji.”

Aigo..kalian sibuk berjalan-jalan rupanya eomma?”

“Hem..begitulah!” kekeh Nyonya Kim.

“Ah iya, kau tidak mengajak Jiae?”

“Tidak, dia malas keluar rumah.” Myungsoo mengambil sepotong roti yang tersisa di piring Yunji. “Kau pulang dengan siapa Sooji-ssi?”

Sooji tampak terkejut mendengar sapaan Myungsoo.

“Aku membawa mobil sendiri.”

Eoh..baiklah. Jadi mau kemana kita setelah ini?” tawar Myungsoo pada eomma dan Yunji.

“Menjemput abhoji?” usul Yunji.

Call!!” Myungsoo mengacak pelan rambut Yunji. Sooji tersenyum kecil, ia kembali teringat pertemuannya dengan Myungsoo dua hari sebelumnya. Pertemuan yang sengaja Myungsoo pinta.

“Kau menghindariku Sooji-ssi?”

“Aniya..”

“Lalu? Mengapa kau menolak bertemu Yunji?”

“Aku hanya sibuk Myungsoo-ssi, mengertilah..”

Myungsoo menatap Sooji, lagi-lagi ia membawa Sooji di tepi sungai Han. Suasana malam yang sunyi menyelimuti keduanya.

“Jiae telah menunggumu, kau harus menjemputnya sekarang.”

“Dia aman bersama hyung, mengapa kau mengalihkan pembicaraan kita?” Myungsoo semakin merapatkan dirinya. Sooji memundurkan kakinya, berusaha menghindari tatapan teduh lelaki Kim yang telah berhasil merasuki hati dan pikrannya akhir-akhir ini.

“Apa kau merasakan sesuatu yang aneh akhi-akhir ini?”

“Maksudmu?”

“Mual misalnya?”

“Aku tidak hamil Myungsoo-ssi!”

“Darimana kau yakin?”

“Aku tidak perlu mengatakannya padamu, aku tahu betul tubuhku!”

Myungsoo membalikkan tubuh Sooji, kedua tangannya menahan bahu Sooji untuk tetap menatap lepas hamparan sungai Han.

“Apa yang kau lakukan?” Sooji menautkan alisnya, heran mengapa Myungsoo membalikkan tubuhnya hingga memunggungi Myungsoo.

“Aku merindukanmu, sangat!” Kedua tangan Myungsoo beralih ke pinggang Sooji, meraba perut Sooji perlahan. “Aku memimpikan sesuatu tumbuh di sini, di rahimmu Sooji-ssi” bisik Myungsoo.

Sooji segera memejamkan kedua matanya rapat-rapat. Entah mengapa kehangatan kembali menjalar di hatinya, pelukan Myungsoo yang berakibat fatal pada kinerja jantungnya.

“Aku ingin memulai hubungan ini, lebih serius. Bisakah?”

Hening. Perlahan Sooji menempelkan kedua telapak tangannya di lengan Myungsoo yang masih setia memeluknya dari belakang.

“Gomawo Ji..” Myungsoo mengecup pipi Sooji dengan lembut. Menempelkan dagunya di bahu Sooji. bersama Sooji menatap kerlap-kerlip lampu yang menghiasi sungai Han.

—–

Sooji berlari menuju menyusuri koridor rumah sakit setelah ia mendengar kabar eomma-nya mengalami serangan jantung. Myungsoo terpaksa menjemputnya karena Sooji tidak mengangkat ponselnya. Setelah berhasil mengetahui keberadaan Sooji yang berada di luar ruangan prakteknya, serta merta Myungsoo menarik Sooji untuk ikut dengannya. Tuan Bae telah memberitahunya terlebih dahulu perihal kondisi kritis Nyonya Bae.

Appa!” nafas Sooji terengah, dengan cepat ia menggelengkan kepalanya ketika appa-nya bersimpuh di depan pintu kamar ICU.

“Tidak! Tidak! Ini pasti mimpi! Katakan padaku appa!” Sooji dengan cepat memasuki kamar ICU, dokter Kim menghampiri Sooji, menepuk pelan punggung Sooji.

EommaIreona!” Airmata Sooji tumpah seketika, memecah kesunyian.

“Ya Tuhan!” Myungsoo menatap nanar Sooji yang menangis di samping tubuh kaku Nyonya Bae.

“Kami turut berduka Tuan Bae!” satu per satu dokter rumah sakit menyalami Tuan Bae yang tampak rapuh sama halnya dengan Sooji.

Eomma!!” Sooji menagis histeris ketika dokter Kim melepas semua peralatan medis dari tubuh Nyonya Bae.

“Kau harus kuat Ji..” Myungsoo memeluk tubuh Sooji.

“Kau harus kuat!”

—–

Susana duka menghiasi kediaman keluarga Bae, Myungsoo berjalan memasuki ruang tamu yang telah berisi para pelayat. Tuan Bae sengaja membawa jenasah istrinya di rumahnya sebelum dikremasi. Ia masih ingin mensemayamkan jenasah istrinya di kediaman mereka. Tuan Kim menggandeng lengan Yunji, memberikan tanda hormat untuk terakhir kalinya di depan peti jenasah. Sooji berkali-kali pingsan, ia benar-benar terpuruk, sulit menerima kepergian tiba-tiba orang yang sangat disayanginya.

“Kami turut berduka Tuan Bae..” Appa dan eomma Myungsoo menyampaikan rasa duka cita yang mendalam. Jiae menemani Yunji di taman depan bersama Woohyun. Ia tampak berpikir keras.

“Kau kenapa?”

Oppa..apa aku salah lihat?”

“Maksudmu?”

“Kau lihat foto keluarga di ruang tengah tadi?”

“Tidak, wae?”

“Aku seperti melihat Yunji..” Jiae menatap Yunji yang tampak tidak tahu menahu, mengerjapkan kedua matanya.

Eoh? Myungsoo pernah mengatakan mereka mirip..”

“Tapi, mereka seperti kembar…” lanjut Jiae.

Sementara itu di saat yang bersamaan, Tuan Kim terperangah menatap foto keluarga yang dilihat oleh Jiae. Dadanya berdegup kencang, sebuah rasa menggelitik hatinya. Rasa keterikatan batin ketika melihat Yoona berdiri di samping Tuan dan Nyonya Bae, sementara Sooji duduk di bawah.

“Yunji?” gumam Tuan Kim yang terdengar oleh Pak Cho.

Eoh..dia nona muda kami, Yoona aghassi…putri nona Sooji.”

“Tidak mungkin…” Tuan Kim menatap tidak percaya ketika lagi-lagi ia melihat wajah Yunji di foto-foto lain yang terpajang di nakas dekat piano. Kumpulan foto berbingkai Sooji dan Yoona.

“Berapa usia Yoona?” tanya Tuan Kim lagi.

“Jika belum meninggal, 8 November nanti dia berusia 8 tahun. Mengapa Tuan?” tanya Pak Cho yang sontak membuat kepala Tuan Kim pening.

“Ya Tuhan, apa ini?” lirih Tuan Kim yang semakin mengeratkan genggaman tangannya.

TBC

Readers annyeong ^^

Akhirnya perlahan saya berusaha menyelesaikan ff ini. Jika ada yang komen alurnya lambat sebenarnya bukan itu, tapi saya yang terlalu lambat ngepostnya. Jadi hargai saya dengan meninggalkan komen dan like kalian, ghamsahamida!!

83 responses to “Mi Pequeño Hijo, Yoona (6)

  1. Ya ampun eomma’nya suzy meninggal ,hubungan suzy sn myungsoo semakin mendekat, apa semua rahasia appa suzy terbongkar

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s