The Moribund [Chapter 4]

HYUNFAYOUNGIE & JALILFUNNY PRESENT

starring Suzy, Chanyeol, Sehun & Myungsoo support cast Lee Min Ho genre Romance, Angst length Chaptered rating PG

Previous: [Prolog] [1] [2] [3]

Credit: Leesinhyo @ PosterChannel

The Moribund2

Namun parahnya, dorongan pintu dari orang tersebut mampu membuat tubuh Sehun terdorong ke depan. Sehingga bibirnya menyentuh tepat di bibir Suzy—dan itu semua terjadi begitu saja.

Sehun mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar. Tiba-tiba saja ia terperangkap dalam sebuah ruangan yang dipoles putih pucat. Bau khas rumah sakit lantas menyeruak masuk ke dalam indera penciumannya.

Matanya langsung dihujam cahaya lampu ketika terbuka lebar. Tahu-tahu saja ada sesosok wanita tengah menatap cemas dirinya. Dahinya mengkerut melihat seorang lelaki jangkung di sebelah wanita itu.

“Siapa dia?” Sehun akhirnya bertanya, matanya mengerling ke arah lelaki yang ia maksud. Sedangkan Suzy, wanita itu, tersenyum simpul lantas menjawab, “Namanya Kris. Dia yang membawamu kesini.”

Sehun hanya mengatakan ‘oh’ singkat lalu kembali ke tujuan utamanya. Ia ingin bertanya sesuatu pada gadis itu. Namun belum sempat mulutnya mengeluarkan suara, si laki-laki jangkung bernama Kris itu berpamitan pada Suzy juga dirinya dengan alasan ingin mengunjungi ayahnya yang juga dirawat di rumah sakit yang sama. Suzy sempat mengatakan terimakasih padanya dan lelaki itu mengangguk. Sehun tidak mengatakan apapun, ia menganggap ucapan Suzy itu sudah mewakili dirinya.

Sehun kembali memfokuskan dirinya pada Suzy, ada rasa cemas yang terpancar dari matanya, “Kau baik-baik saja kan?” Suaranya pelan -bahkan terdengar seperti bisikan di telinga Suzy.

Alih-alih membalas pertanyaan Sehun, Suzy justru diam tak bergeming. Matanya berair melihat Sehun yang kacau seperti itu. Hatinya merasa bersalah, ia sudah berhutang diri pada Sehun.

“Suzy..” Sehun kembali membuka mulutnya, bingung dengan respon Suzy yang hanya diam. Saat itu, Suzy menggeleng pelan dan menghapus airmata yang mengambang di pelupuknya. Ia maju beberapa langkah mendekati Sehun, “Aku tidak apa-apa. Harusnya kau mengkhawatirkan dirimu..” Ujarnya kemudia ia duduk di kursi dekat ranjang Sehun yang telah disediakan.

Suasana hening seketika mengergap mereka. Menghanyutkan mereka dalam pikirannya masing-masing. Sampai sebuah suara menghancurkan segalanya.

“Kenapa harus aku yang menjadi korban..” Cicit Suzy pelan—nyaris tidak bersuara. Ia menghela napas berat lalu menghembuskannya, “kukira Myungsoo berubah.”

Sehun mengubah pandangan ke arah Suzy, mulai tertarik dengan apa yang akan Suzy jelaskan selanjutnya,”Dia mengajakku kencan, sekitar jam tujuh malam. Sebenarnya aku ingin menolak, tapi aku tidak mau membohongi perasaanku sendiri—aku masih menyukainya. Jadi aku putuskan untuk berkencan dengannya.”

Masih dalam posisi yang sama—dan wajahnya yang mulai memerah, ia melanjutkan, “Tapi saat kami berada di suatu tempat; tempatnya sepi, tiba-tiba saja dia mendekapku dari belakang, menutup sebagian wajahku dengan kain yang sudah dipenuhi parfum. Saat itu aku tidak tahu lagi apa yang terjadi karena aku langsung pingsan. Dan ketika aku membuka mataku, tahu-tahu aku sudah disekap oleh Myungsoo.”

Pelupuknya lantas menjatuhkan tumpukan kristal bening yang ia tahan tepat setelah ia menyelesaikan kalimatnya. Sehun yang tadinya berbaring, sedikit membangunkan tubuhnya agar lebih dekat dengan Suzy. Meski awalnya sakit, ia berhasil mencapai wajah gadis itu. Ia menghapus aliran airmata yang membasi pipi Suzy, membisikkannya beberapa kata untuk sekedar menenangkan gadis itu.

Sedangkan yang bersangkutan hanya membiarkan Sehun menyentuh wajahnya. Ia merasa aneh—jelas, karena biasanya siapapun itu yang berani menyentuh wajah atau anggota tubuhnya yang lain, ia pasti akan merasakan panik. Tapi kali ini tidak, Suzy justru merasa nyaman dengan lelaki itu. Senyuman yang terpampang di wajah Sehun juga terasa begitu damai di hatinya.

Mereka cukup lama dalam keadaan seperti itu. Sehun sibuk memberikan kata-kata menenangkan untuk Suzy sedangkan Suzy masih terus menahan tangisnya. Karena ia juga tahu, terlalu banyak luka di hatinya hingga sulit untuk tidak merasa sakit.

Sehun mengerlingkan maniknya-memperhatikan sekitar ruangannya saat itu. Matanya spontan membulat begitu melihat Myungsoo beserta beberapa komplotannya melalui jendela kamar. Ia yakin saat ini Myungsoo pasti akan mencarinya dan Suzy. Terbukti dari mereka yang terus berlari sambil menolehkan kepalanya—mencoba menemukan sosok Sehun dan Suzy.

“Sehun.. ada apa?”

Alih-alih menjawab pertanyaan yang ditujukan padanya, Sehun lebih memilih untuk segera turun dari ranjang rumah sakit. Sebelah tangannya menggenggam tangan Suzy, memberi isyarat pada gadis itu untuk mengikutinya. Namun tidak seperti harapan, Suzy melepaskan genggaman tangannya pada Sehun dan melemparkan pertanyaan yang sama, “Ada apa, Oh Sehun?”

Sehun menghembuskan napas panjangnya, ia kemudian menjelaskan alasan mengapa ia tampak panik sekarang. “Suzy.. Myungsoo dan komplotannya sedang mencari kita. Ikut saja aku, ini darurat.” Suzy lantas terkejut mendengarnya. Ia membiarkan Sehun yang kembali menggenggam tangannya. Kali ini lebih erat dari sebelumnya.

Mereka berlari keluar ruangan. Tidak berlari sebenarnya, namun mereka melangkah lebih cepat dari berjalan yang biasanya. Di tengah aktivitasnya, Sehun sempat menanyakan satu hal pada Suzy, “Oh ya, biaya rumah sakit bagaimana?” Suzy hampir saja melepas tawanya jika tidak ditahan, “Tenang.. Kris sudah mengurus semuanya.”

Mereka menggerakkan kaki mereka dengan cepat supaya keluar dari rumah sakit. Tak diduga—ketika mereka baru mencapai pintu utama, Myungsoo dan komplotannya tepat sedang berlari di depan mereka. Sehun spontan menarik Suzy untuk bersembunyi.

Dan disinilah mereka—di tempat sepi yang hanya mendapat cahaya dari sinar bulan. Kedua remaja itu menggunakan mata mereka untuk memperhatikan sekitar. Suzy adalah orang pertama yang terkejut-matanya terbelalak dan mulutnya terbuka lebar. Tidak menyangka Sehun akan membawanya ke tempat mengerikan ini.

“Bodoh!” Sahut Suzy cepat, merutuki Sehun dengan puluhan sumpah serapah dalam hati. Bagaimana bisa dia membawanya ke tempat ini? Tempat yang dipenuhi mayat orang-orang yang telah mati. Sehun membawanya ke kamar mayat. Bodoh.

“Eh, kenapa?” Sehun merespon Suzy yang mengatainya bodoh. Pandangannya mengitari sekitar mereka, namun matanya tak menangkap apapun—karena hampir tidak ada cahaya sama sekali—kecuali deretan ranjang rumah sakit yang berjajar secara horizontal. Ada sehelai kain putih yang menutupi seluruh tubuh orang di masing-masing ranjang. Oh, pantas Suzy mengatainya bodoh-toh karena dia sendiri membawa gadis itu ke tempat yang salah.

Sehun hanya melantunkan ‘hehehe‘ kecil lantaran Suzy yang masih sebal terhadap dirinya. Ia mencoba menghibur Suzy dengan tingkah konyolnya yang belum pernah Suzy pikirkan sebelumnya. Usaha Sehun berhasil—meski gelap, Suzy bisa melihat jelas tingkah Sehun yang terlampau konyol dan itu sangat berhasil karena Suzy tertawa untuk waktu yang cukup lama, bahkan sampai perutnya sakit. Keadaan ruangan yang tadinya senyap pun mereka sulap dengan tawaan mereka yang menggema di setiap sudut ruangan.

Sehun sendiri puas karena sudah berhasil membuat gadis yang dicintainya tertawa lepas seperti itu. Keinginannya hanya satu; dia mau membuat Suzy sembuh dari penyakitnya—atau paling tidak, Suzy tak lagi merasa panik saat bersama dirinya, itu saja sudah cukup.

Ternyata momen itu tidak bertahan lama, karena tiba-tiba saja ada suara derap langkah kaki seseorang menuju kamar mayat—tempat mereka bersembunyi sekarang.

Sehun spontan mendorong Suzy pada dinding, mengunci tubuhnya dengan kedua lengan kekarnya. Mereka berdiri tepat di balik pintu, berharap orang yang menuju ke sini tidak menyadari keberadaan mereka.

Beberapa detik kemudian, pintu terbuka lebar—menandakan orang tersebut sudah masuk dalam ruangan. Namun parahnya, dorongan pintu dari orang tersebut mampu membuat tubuh Sehun terdorong ke depan. Sehingga bibirnya menyentuh tepat di bibir Suzy—dan itu semua terjadi begitu saja.

Wanna read more? Just click
Password : hfyoungie


23 responses to “The Moribund [Chapter 4]

  1. haha hunzy kenapa kissing di kamar mayat coba ngga ada tempat yang lebih terang dikit? hunzy jjang!!!

  2. Aduh suzy ama sehun kenapa kissing nya di kamar mayat kayak nggak ada tempat lain aja deh tapi nggak papa tetep seru kok authornim

  3. aigooo.. kissingnya d tempat yg nggak pas tuh.. hhaha
    aduh aduh aduh jgn smpe deh myung nangkep suzy lagii..
    chanzy ato hunzy aku sih suka smua.. sbenernya lbih suka myungzy, tpi brhubung myungsoo nya jhat y udh ga jadi.. haa

  4. Pingback: The Moribund [Chapter 5] | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

  5. aaaaaaaaa
    romantisme di kamar mayat wkwkwk
    kereen aku sukaa
    aku jdi binggung mau support chanzy atau hunzy
    duaduanya sama kereen

  6. Yaaah lagi serunya” tiba” dicut 8(
    Aku berharap hunzyyy yeaay aku lebih suka hunzy dari awal cerita ini aku suka sifatnya dan cara dia mencintai suzy 8(

  7. Pingback: The Moribund [Fraction Next Chapter] – Ulasan | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

  8. Pingback: The Moribund [Chapter 6] | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s