Mianhae (2/3)

11218708_391142734406888_7947756647505312390_n

Tittle: Mianhae

Author: Mybabysuzy

Main cast: Bae Suzy, Kim Myungsoo, Jung Soojung

Length: Threeshoots

Genre: Sad, frienship

Poster by rosaliaocha@ochadreamstories

—————————————

“Oppa! Kemarilah!” Seru Soojung.

Myungsoo mengulum senyumnya sembari menganggukkan kepalanya mengiyakan ucapan calon gadisnya itu. Kemudian, namja tampan itu mendudukkan dirinya di samping Soojung dan meletakkan nampan makanannya.

“Aigoo, kau semakin sering memperlihatkan senyum mu itu, oppa. Jauh berbeda saat pertama kali kita bertemu, waktu kau membantuku mencuri pencopet sialan itu.”

“Aku hanya memamerkan senyumku untukmu saja, jangan khawatir.”

Soojung tersipu malu, kedua pipinya bersemu merah seperti kepeting rebus yang dijual di pasar. “Aish, oppa kau selalu membuatku seperti ini! Menyebalkan!”

“Kyeopta.” Myungsoo mengacak rambut Soojung lembut, membuat sang korban mengerucutkan bibirnya dengan manjanya, “Jangan menggodaku, Jung Soojung! Jika kau teruskan, aku tak segan- segan menciumu saat ini juga.”

“Jinjja? Kau berani? Coba saja jika kau berani melakukannya, oppa. Aku akan memberimu balasan jika kau berani melakukannya.” Kekeh Soojung.

“Geurae? Apa yang akan kudapatkan?”

“Morning Kiss everday.”

“Call!”

Soojung menghentikan tawanya seketika, kedua mata miliknya menatap terkejut calon namjanya yang sedang mengulum senyum nakalnya. Soojung sontak memundurkan tubuhnya saat Myungsoo mencondongkan tubuhnya ke arahnya. Kedua mata indah miliknya mengerjap perlahan, hatinya tak berhenti mengeluarkan decakan kagum akan kesempurnaan namja di hadapannya.

“Ka.. kau serius?” Tanya Soojung gugup.

Myungsoo lantas mengulum senyumnya yang di iringi anggukan mengiyakan. Soojung yang melihatnya sontak membulatkan matanya sempurna. Hei, Tuan Kim dirinya hanya bercanda tadi! Mengapa kau menganggapnya serius?

“Bersiaplah!”

Soojung menelan salivanya berat, kepalanya menggeleng kaku sekaku balok es. Hatinya bergemuruh hebat akibat ulah Myungsoo, dirinya benar- benar gugup saat ini. Bahkan, tubuh dan seluruh sarafnya tidak mampu ia gerakan sedikit pun.

“Andwae!” Serunya sambil mendorong tubuh Myungsoo.

Myungsoo berdecak kecewa. “Ah, waeyeo? Bahkan kau yang menantangku, Soojung. Kau tidak seharusnya menghentikanku, menyebalkan!”

“Aniya, oppa. Kita harus menghargai Sooji, kita sudah terlalu sering melupakan keberadaannya. Kita tidak boleh seperti itu, oppa. Aku jadi merasa bersalah kepadanya, bagaimana pun dialah yang mempersatukan kita.”

Myungsoo melirik gadis yang duduk di depannya dengan ekor matanya. Seulas senyum dibibirnya mengembang apik, melihat tubuh Sooji yang menegang dan bergetar. Entah apa alasannya, rasa senang bergemuruh di benaknya. Bahkan sangat kuat rasanya.

“Kau tidak merasa terganngu, kan? Sooji-ssi?”

“Ne?”

“Aku yakin kau tidak akan merasa terganggu dengan dunia kami. Sebagai sahabat pasti kau akan memakluminya. Bukankah begitu?”

“Ah.. gwenchanha. Aku tak merpermasalahkan, gongjongkmaseyeo.”

Myungsoo tersenyum, lalu kembali mengarahkan pandangannya kepada Soojung. “Bukankah kau sudah mendengarnya? Kau tidak perlu khawatir.”

“Ne, oppa. Gomwo, Sooji. Kau memang yang terbaik!”

————————

Soo ji POV

Sial. Mengapa mulutku tidak bisa membantah sama sekali seperti ini? Mengapa mulutku selalu terasa keluh saat hendak membantah ucapannya? Mengapa hati dan otakku selalu tidak bisa sejalan? Mengapa aku tidak kuat melihat wajah lirihnya itu? OhTuhan, tolong berikan diriku kekuatan untuk membantahnya! Jebal!

Dan disinilah aku berakhir. Di sebuah café bertema prancis bersama sahabatku, Soojung. Sedari tadi aku hanya melekuk wajah kusutku, sementara Soojung selalu menunjukkan senyum manis. Tentu, dirinya hendak bertemu dengan namjanya, Kim Myungsoo.

Well, sepertinya nasibku benar- benar sial. Mengapa Soojung harus mengajak diriku terjebak dengan kencan butanya? Dan mengapa Soojung harus membuatku memakai baju aneh ini! OhGod, jika ada took baju di dekat sini, sekarang sudah kupastikan aku akan membeli baju saat ini juga!

“Soojung, bisakah hentikan kegiatan gilamu itu?” sahutku kesal melihat senyum aneh yang terukir diwajah cantiknya.

Ya, akui Soojung memang gadis yang cantik. Bahkan sangat cantik, jadi tidak heran jika semua namja menginginkannya, termasuk…. Yeah,Kim Myungsoo. Tetapi, aku berani bersumpah jika Soojung menunjukkan senyum menjijikan itu, mampu membuat kecantikannya luntur seketika. Ugh, menggelikan.

“Kegiatan gila? Apa maksudmu?” tanyanya dengan raut wajah bingungnya.

Aku mendesis mendengarnya. Astaga, apa gadis ini tak sadar dirinya sekarang terlihat seperti orang idiot?

“Senyum menggelikanmu, babo. Kau seperti manusia yang baru saja keluar dari rumah sakit jiwa!” dengusku.

Soojung mengerucutkan bibirnya kesal, lalu kembali membuka suaranya yang cempreng itu. “Karena kau tidak pernah berkencan, jadi kau takkan bisa merasakan perasaan ini. Berkencanlah, aku jamin kau akan bertindak bodoh juga!”

Seketika aku membungkam mulutku. Berkencan? Tentu, aku pernah melakukannya. Bersama dia, namja yang sampai saat ini aku cintai. Tetap apa yang dikatakan Soojung, apa aku bisa melakukannya? Berkencan? Bagaimana aku bisa berkencan jika namja yang kusukai berkencan denganmu? Aku tak bisa melakukannya, Soojung. Karena… aku menyayangimu. Aku tidak mungkin menyakitimu.

Kami kembali membungkam mulut kami, Soojung yang sibuk tersenyum aneh, sementara aku sibuk dengan ponsel canggihku. Sebenarnya, tak ada yang kulakukan. Aku hanya membuka aplikasi dan menutupnya kembali, hanya sekedar menghilangkan rasa bosanku.

Aku terperangah ketika tanganku dengan sendirinya menyentuh icon gallery dan membuka satu persatu foto disana. Hei, mengapa tanganku lepas kendali seperti ini?

—————————-

Author POV

Sooji hampir menjerit ketika tangannya masih asik menarik dengan lincah merombak galeri ponselnya. Tangannya seketika berhenti ketika tangan gadis itu menyentuh sebuah foto hingga menunjukkan foto itu dengan jelas.

Sooji terpaku. Mata gadis itu mengerjap dengan indahnya, hatinya berdesir melihat foto yang mengingatkan akan kenangan itu. Rasa rindu akan kenangan lampau itu menyeruak di dalam hatinya. Bagaikan bak film, kenangan- kenangan dimasa lampau kembali berputar memenuhi kepalanya.

FLASHBACK

“Oppa, bagaimana jika takdir tidak berpihak kepada kita?” Tanya Soo ji.

Namja berparas tampan itu mengalihkan pandangannya dari gulungan obat ke gadis disampingnya. Ia menatap gadisnya bingung, tak mengerti dengan pertanyaan gadisnya yang sedikit aneh.

“Apa maksdumu?”

Sooji mengulum senyum simpulnya. “Kau pasti tahu, terkadang takdir tak sesuai dengan harapan kita. Dan hal itu membuatku sedikit takut, dan membuatku terus menerus memikirkannya.”

Myungsoo- namja itu- semakin mengerutkan dahinya. Mengapa gadisnya berkata hal yang tidak ia mengerti seperti ini?

“Hoksi.. kau berfikir takdir akan memisahkan kita?” Ujar Myungsoo.

Soo ji menganggukan kepalanya pelan. “Entahlah, aku juga tidak mengerti. Akhir- akhir ini aku sering didatangi mimpi- mimpi yang begitu aneh. Mimpi ku selalu berakhir tentang perpisahan kita. Isahange, geutchi?”

Myungsoo tertawa seketika. Ia tak habis fikir mengapa yeojanya memiliki pemikiran seperti itu. Ayolah, mimpi hanyalah mimpi. Tidak mungkin menjadi kenyataan, ia yakin.

“Wae?” Tanya Soo ji sedikit kesal.

“Soo ji, dengarkan aku. Jangan terlalu memikirkan hal seperti itu, okay? It’s just dream. Dan mimpi takkan menjadi kenyataan, kau mengerti?”

“Aish, oppa aku pernah bermimpi dan menjadi kenyataan. Ayahku juga pernah mengalaminya, kau harus percaya dengan mimpi.”

“Sudahlah, mau benar atau tidak. Yang terpenting jangan kau fikirkan, okey? Jalankan semuanya seperti air mengalir dan selalu berdoa untuk kebaikan kita semua. Lebih baik kita foto saja, kita kesini untuk bersenang- senang,kan?”

Soo ji akhirnya mengangguk setuju. Segera gadis itu mengambil ponselnya, dan bersiap- siap untuk mengambil foto. Keduanya lantas tersenyum dan berpose dengan berbagai macam gaya , dan memotret setiap moment.

“Eo,Oppa! Wasseo?”

Sooji, gadis itu terperanjat mendengar seruan itu, sontak dirinya mendongakkan kepalanya. Kembalilah dirinya terpaku. Mata hazel miliknya bertemu dengan sepasang mata tajam bak elang milik namja itu, Kim Myungsoo.

Disisi lain, Myungsoo ikut terpaku menatap mata hazel milik Sooji, solah terkunci dengan sorot mata yang begitu menenangkan hatinya. Terlebih, melihat gadis itu yang berbeda dari biasanya. Soo ji benar- benar terlihat sangat cantik.Dress selutut bercorak pulkadot, rambut indahnya yang tergerai apik, bibir ranumnya yang terpoles lip balm membuat gadis itu terlihat sangat menawan.

“Oppa, bukankah Soo ji terlihat sangat cantik?” Seru Soojung membuyarkan lamunanya.

Myungsoo mengusap hidungnya dengan jari telunjuknya, lalu namja itu berdeham pelan. “Geurae? Menurutku kaulah yang paling cantik.” Senyumnya.

“Aigoo, kau membuatku tersipu, oppa.”

“Aku serius, dan tak berbohong.”

Keduanya lantas mulai menjelajahi dunia mereka, seolah tak menyadari keberadaan Sooji disana. Sooji yang melihatnya hanya mampu tersenyum. Ia harus bahagia melihat sahabatnya bahagia, bukankah itu namanya sahabat yang baik?

—————————-

“Soo ji-ah?”

Sooji yang sedari tadi menundukkan kepalanya lantas mendongak, menatap kedua sejoli yang tengah bergandengan tangan itu. Ia mengulum senyumnya sebelum membuka suara.

“Waeyeo?” Tanyanya.

“Kau terlihat murung hari ini. Apa terjadi sesuatu? Omo, apa karena kami terlalu sibuk dengan dunia kami? Astaga, mianhae Sooji-ah. Seharusnya aku membuatmu senang bukannya murung seperti ini.” Sesal Soojung.

Bodoh! Astaga, nona Jung. Mengapa kau masih bertanya, eoh? Sedari tadi sahabatmu yang berpura- pura tegar itu menahan rasa sakit yang menggerogoti hatinya. Dan sekarang kau masih bisa berbicara seperti itu? Jangan bercanda.

“Aniya, gwenchanha. Aku tak masalah mengenai hal itu, aku hanya merasa lelah.” Senyum Soo ji.

See? Aku tak berbohong, kan? Gadis itu benar- benar bertingkah seolah dirinya baik- baik saja, namun melihat kenyataan? Gadis itu kini sangatlah rapuh. Gadis bodoh!

“Geuraeyeo? Bagaimana kalau kita beristirahat dahulu. Kau tak keberatankan, oppa?” Tanya Soojung kepda Myungsoo.Myungsoo mengulum senyumnya. “Ne, gwenchanha. Apapun yang kau minta, aku takkan menolaknya, sayang.”

“Aish, kau mulai merayu lagi, oppa. Kajja, Sooji-ah.”

Sooji lantas kembali mengulum senyumnya mengiyakan.

————————————————–

“Oppa, aku ingin bertanya sesuatu.”

Myungsoo menoleh kea rah Soojung yang disampingnya, kemudian seulas senyum ia ukir di wajahnya begitu apik. Ah, mungkin bagi siapapun yang melihatnya akan jatuh dalam pesona sang namja yang begitu mencolok.

“Marhaebwa, aku akan menjawabnya.”

Soojung lantas mengulum senyum lebarnya, lalu barulah ia membuka suaranya. “Oppa, jika menurut pendapatku, ah ani sudah pasti banyak gadis yang mendekatimu, matchi? Nah, yang menjadi pertanyaanku adalah berapa banyak gadis di luar sana yang berstatus sebagai mantan kekasih mu, eoh?”

Myungsoo terdiam sejenak, ekor matanya melirik gadis yang tengah mengaduk makananya dengan pandangan tak focus. Namja itu mengulum senyum manisnya sebelum menjawab pertanyaan calon gadisnya.

“Eobseo, aku tidak memiliki kekasih sekalipun. Ah ani, lebih tepatnya aku memiliki kekasih saat aku duduk dibangku smp. Tetapi, hubungan kami kandas begitu saja karena gadis itu telah hilang entah kemana. Mungkin di telan bumi atau tenggelam di laut, yang pasti aku tidak mempedulikannya dan tak menganggapnya. Begitulah.”

Soo ji terperanjat mendengarnya. Sekujur tubuhnya menegang, perasaannya berkecamuk hingga rasanya air matanya kini memberontak menerobos keluar dari persembunyiannya. Gadis mengerpakan matanya menahan cairan bening yang terus membrontak.

“Jinjjayeo? Kau tidak boleh seperti itu, oppa. Bagaimana pun dia pernah mengisi hatimu kala itu dan membahagia kan mu. Gadis itu pasti memiliki alasan, oppa.”

Myungsoo tersenyum kecut. “Kebahagian? Percuma saja jika ia meninggalkan rasa sakit akhirnya, hal itu malah membuatku muak. Gerigo, alasan? Alasan macam apa? Hanya hal klise yang ia ucapkan kala itu.” Ujarnya.

Sooji menarik nafasnya dalam, lalu menghembuskannya perlahan. “Bagaimana jika sang namja yang memintanya untuk pergi? Lalu, apa yang bisa dilakukan gadis itu saat namja yang dicintainya memintanya menghilang dari kehidupan si namja,eoh?”

Baik Myungsoo maupun Soojung menatap Sooji terkejut. “Apa maksudmu, Sooji- ah?”

“Aniya, tidak ada maksud tertentu. Aku hanya berfikir, jika benar si namja yang menyuruhnya menghilang. Lalu, apa yang harus dilakukan gadis itu? Bertahan? Meskipun sang gadis terus bertahan, bagaimana jika perasaan si namja berubah menjadi kebencian? Apakah hal itu tak menyakitkan untuk si gadis?”

Myungsoo menatap Sooji dengan tajamnya. Amarahnya entah berasal dari mana seketika mendidih begitu saja, bahkan rasanya amarahnya hampir saja meledak sebentar lagi. Kedua telapak tangannya mengepal kuat dan menggeram.

“Cih, sakit? Setelah apa yang dilakukan sang gadis hingga merebut sesuatu yang paling berharga untuk si namja, gadis itu masih bisa merasakan sakit? Apa gadis itu gila atau semacamnya?”

“Dia juga sakit, bodoh! Bahkan sangat sakit rasanya! Bukankah kau juga ikut andil dalam kecelakaan tersebut? Kau juga menyetujuinya bodoh! Bukan hanya dia yang membuat rencana itu! Semua hal itu murni kesalah mereka berdua! Bukan hanya dia, bodoh!”

Soojung menatap keduanya bergantian. Hei, sebenarnya ada apa ini?

“Mworago?! Salahku?! Jangan aniya! Gadis gila itu yang terlalu mencintaiku hingga memohon membuat rencana itu! Dan membuat wanita yang paling berharga untukku menghilang untuk selamanya! Dan di saat aku membutuhkannya, dia kemana, hah? Dia pergi! Pergi! Gadis bodoh itu pergi!!”

“Kau yang memintanya! Bukan sekedar kemauan sang gadis! Kau yang membentaknya, dan memintanya untuk pergi! Lalu, apa yang bisa di lakukan sang gadis, hah?! Dan asal kau tahu, Myungsoo-ssi, gadis itu memiliki alasan lain! Neo arra?!”

Sooji mulai menitihkan air matanya, membuat Soojung semakin bingung dibuat oleh sahabatnya itu. Di sisi lain, Myungsoo terperanjat melihat cairan bening yang selalu dihindarinya selama ini. Air mata dari gadis yang ia cintai.

“Alasan? Mwondae?” Tanyanya sakratis.

Soo ji terdiam. Lidahnya keluh seketika. Bukan, ia bukan tidak bisa mengucapkan satu kata itu. Hanya saja, hatinya enggan untuk mengungkapkan hal yang sebenarnya ia alami.

“Aniya, aku pergi ketoilet dahulu.”

—————————-

Sooji membasuh wajahnya kasar, ia memijit pelipsnya pening. Gadis itu baru saja menyelesaikan tangisan bodohnya yang tak beralasan. Karena geu namja? Astaga, berapa bodohnya dirinya! Bahkan namja itu tidak lagi mempedulikannya. Mengapa dirinya masih saja menangis namja sialan itu?

“Babo saram.” Lirihnya.

Soo ji mengusap wajahnya dengan tissue di tasnya. Gadis itu menatap pantulan dirinya di cermin, lalu ia menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya kasar. Sooji segera melangkah keluar dari toilet wanita setelah menyelesaikan urusannya.

Gadis itu melangkah dengan gontainya menuju ruangan khusus yang sengaja mereka pesan karena ruang umum sangat dipenuhi oleh puluhan manusia. Sooji menghentikan langkahnya tepat di depan pintu berukuran besar yang menghubungkannya dengan ruang khusus yang ia pesan.

Tangan Sooji terulur ragu memegang gagang pintu berwarna coklat tua itu, perlahan ia mendorong pintu berkayu dengan tenaganya. Seketika tubuh gadis itu menegang menangkap pemandangan di balik pintu berkayu berwarna coklat itu.

Mata gadis itu mulai berair, mengeluarkan cairan bening yang selama ini ia terus tahan. Hati gadis itu sakit, sangat sakit rasanya. Memang ia sudah mengetahui akan hal ini, tetapi mengapa harus dirinya sendiri yang melihat pemandangan sesakit ini? Tuhan, apa salah dirinya?

Sooji mengeryit saat rasa sakit menjalar di kepalanya, gadis itu meringis saat kepalanya terasa berdenyut. Kedua mata gadis itu mengerjap saat pemandangannya sedikit buram, dan semakin buram. Bahkan saat ini semuanya terlihat berputar.

“Akh… “ Jeritnya.

Jeritan Sooji sontak membuat kedua insan yang sedang berumbu melepaskan tautan mereka. Keduanya sontak mengalihkan pandangannya kea rah Sooji. Baik Myungsoo maupun Soojung kedua mata mereka membulat sempurna melihat Sooji yang sedang meringkuk dan merintih dengan tangan yang memegangi kepalanya.

“SOOJI?!”

Keduanya lantas bangkit dan hendak menghampiri gadis itu, namun langkah keduanya terhenti ketika Sooji sontak bangkit dari duduknya dan membuka suaranya dengan tenang.

“Aku pergi terlebih dahlu, ne? Gongjongkma, nan gwenchanha. Nan kanda.” Ujarnya lalu berlalu.

Soojung dan Myungsoo mendesah melihat kepergian Sooji. Baik keduanya kini dilanda kekhawatiran yang begitu berkecamuk, namun keduanya bingung untuk melakukan apa? Keduanya nampak seperti orang bodoh.

“Oppa, kejarlah Sooji. Kumohon, aku mengkhawatirkannya.” Ujar Soojung.

“Arraseo, nan galkae.”

———————————-

Myungsoo, namja itu mengikuti setiap langkah gadis yang berada tak jauh darinya. Tujuan awalnya memang hendak menghampiri sang gadis dan menemaninya pulang. Namun, hatinya merasa enggan tanpa ada alasan. Apa mungkin karena masa lalu mereka? Hajiman, apa sekarang hal itu penting untukmu, tuan Kim?

“Geu yeoja, gwenchanha.” Gumamnya.

Myungsoo seketika menghentikan langkahnya saat gadis itu menghentikan langkahnya. Mata tajam milik Myungsoo memicing tajam saat menangkap gerak- gerik aneh yang dilakukan gadis bernama Suzy itu. Namja tampan itu sedari tadi terus menerus berucap dalam hatinya, berharap gadis itu baik- baik saja.

Mata sipit milik Myungsoo membulat sempurna ketika di lihatnya Suzy yang menjerit, kemudian kehilangan keseimbangan tubuhnya dan terjatuh lemah di atas tanah itu.

“Suzy!”

——————————-

Eottae? Eottae? Aneh yaaaa? Semoga kalian sukaaaa yaaaaaa

Ohya, janang lupa beri comment dan likee readersss

And please visit my real blog http://mybaebsuzy.wordpress.com/

Gomawoo:D

(BOW)

29 responses to “Mianhae (2/3)

  1. Duh pasti bener bener susah diposisi suzy unnie diantara sahabat dan cinta yg belum usai. Duh Suzy unni strong Suzy unnie bisa … Seburuk apa masa lalu kalian

  2. OMG.. suzy kuat banget liat sahabatnya sm org yg dy cintai..
    Suzy sahabat yg baik, moga gk sad end buat suzy..
    Apa prasaan myung skrg emang biat soo jung !!

  3. Ahhhhhhhh. thor jinja! tanggung jawab bikin air mataku leleh huaaaa, sedih liat suzy nya huhu. next chapnya jgn lama2 ne

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s