My Teacher is My Girlfriend Chapter 3 Final

© jihyuniee Art&Design

Read also :

My Teacher is My Girlfriend Myungzy Version

Title : My Teacher is My Girlfriend | Author : dindareginaa | Genre : Comedy, Romance, School-Life | Rating : Teen | Main Cast : Yook Sungjae & Bae Sooji | Other Cast : Find by yourself!

Sooji sibuk memperhatikan baju yang kini ia jejerkan di atas ranjang. Ia mendengus. Baju apa yang harus ia pakai? Namun, sedetik kemudian ia tersadar. Oh, Tuhan! Bae Sooji! Sadarlah! Kau akan berkencan dengan anak muridmu dan kau malah pusing karena tidak tahu apa yang harus kau pakai?! Yang benar saja!

Sudahlah! Lagipula, ini hanya kencan biasa. Sooji kemudian memutuskan untuk memakai kaus berwarna pink pastel dan juga hot pant berwarna putih. Ya, sebaiknya itu saja yang ia pakai.

Sungjae melirik arlojinya. Padahal jam baru menunjukkan pukul 12:05, tapi kenapa ia merasa sudah menunggu Sooji terlalu lama? Oh, kenapa ia jadi tak sabaran begini?!

“Sudah lama menunggu?”

Sungjae mempoutkan bibirnya lalu melipat kedua tangannya didepan dada. “Kau sudah terlambat selama 6 menit 57 detik,” ujarnya pada Sooji yang kini berada dihadapannya.

Sooji menatap Sungjae tak percaya. Ia hanya terlambat 6 menit, tapi kenapa lelaki itu berlebihan? Sudahlah, Sooji sedang tak ingin ribut sekarang. “Jadi, film apa yang akan kita tonton?”

Sungjae tersenyum lalu menunjukkan tiket yang sudah dibeli sebelumnya pada Sooji.

Sooji mengernyit. “Horor? Kau yakin?”

Lelaki itu mengangguk pasti. “Ayo!”

Sungjae kemudian memegang tangan Sooji lalu masuk ke studio setelah sebelumnya membeli popcorn dan juga minuman.

Sungjae menekuk wajahnya. Padahal ia memilih film horor dengan harapan Sooji akan takut dan memeluknya, atau sesuatu seperti itu. Tapi, yang sedari tadi ia lihat, Sooji menonton dengan santai sambil mengunyah popcorn-nya.

“Kau tidak menonton?”

Sungjae tersentak lalu menoleh. “Hmm,” gumamnya.

Melihat ekspresi Sungjae, Sooji hanya mengidikkan kedua bahunya, tak peduli.

Huh, Yook Sungjae! Kau mengajak kencan gadis yang salah!

“Ada apa dengan wajah mu itu?” tanya Sooji ketika mereka baru saja selesai menonton.

Ya! Apa kau tidak takut dengan film tadi? Aku mengajakmu agar setidaknya kau bersandar padaku!”

Mendengar kepolosan Sungjae, Sooji sontak tertawa terbahak-bahak. “Ya! Aku bukan anak kecil lagi! Dan aku tidak akan bersandar dengan adik kecil sepertimu!”

Sungjae terdiam. Raut wajahnya kali ini berubah serius. “Kau… bisakah kau tidak menganggapku seperti adik kecil? Tidak bisakah kau menganggapku sebagai pria?”

Kali ini giliran Sooji yang terdiam. Ia tiba-tiba merasa bersalah pada Sungjae. Selama ini ia selalu mengatakan Sungjae seorang bocah, anak-anak bahkan adik kecil. Tapi, satu hal yang ia sadari. Sungjae telah memberikan perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya bahkan saat dirinya bersama Minho.

“Maaf. Aku berjanji tidak akan mengatakan hal seperti itu lagi. Jadi, kemana tempat kencan kita selanjutnya, Sungjae-ah?”

Setelah dari bioskop, Sungjae memutuskan untuk mengajak Sooji ke taman hiburan. Disana, Sungjae dan Sooji bermain beberapa wahana seperti Camelot Carrousel, The Adventure of Sinba dan juga Roller Coaster. Awalnya, Sungjae menolak mati-matian menaiki roller coster tapi karena paksaan Sooji – atau lebih tepatnya ancaman karena jika Sungjae menolak perintahnya, nilai Bahasa Inggris Sungjae akan dikurangi – akhirnya Sungjae mengalah. Sooji juga heran kenapa Sungjae sempat menolak permintaannya, dan ternyata setelah mereka selesai menaiki roller coaster, barulah Sooji tahu bahwa Sungjae – lelaki tampan yang memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi – ternyata memiliki phobia terhadap ketinggian.

Sooji sontak saja menertawai lelaki itu. Ia tak habis pikir lelaki seperti Sungjae ternyata takut dengan yang namanya ketinggian. Lihat! Wajahnya bahkan terlihat pucat. Mendengar ejekan Sooji tersebut, Sungjae merengut.

Hari sudah malam, tapi itu tak berarti kencan Sungjae dan Sooji berakhir. Selanjutnya mereka memutuskan untuk berkeliling sejenak.  Cukup lama mereka terdiam, terrlalu sibuk memperhatikan sekeliling mereka. Dan baru mereka sadari bahwa hampir setiap pengunjung membawa pasangan. Mungkin karena ini adalah akhir pekan.

Sungjae menghembuskan nafasnya perlahan sebelum akhirnya tangannya menggengam tangan Sooji. Sooji sempat terkejut. Tapi, entah kenapa ia senang dengan perlakuan Sungjae tersebut.

“Hei, kalian pasangan yang ada disana!”

Sungjae dan Sooji sontak menoleh ke sumber suara. Disebuah stand yang tak jauh dari tempat mereka berdiri, tampak seorang wanita paruh baya menatap mereka.

“Kami?” tanya mereka tanpa sadar.

Wanita itu tersenyum lembut lalu mengangguk. “Kemarilah,” pintanya.

Sungjae menoleh pada Sooji sejenak lalu mengedikkan bahunya. Tidak ada salahnya mengikuti perintah wanita itu bukan?

“Kalian pasangan yang serasi,” ujar wanita tersebut ketika Sungjae dan Sooji sudah berada dihadapannya.

Mendengar itu, Sooji dan Sungjae tampak salah tingkah.

“Tidak, kami bukan pasangan yang seperti itu,” sanggah Sooji.

“Apa salahnya mengiyakan kata bibi ini?” protes Sungjae. “Lagi pula, bukankah setelah ini kau akan jadi kekasihku?” gerutunya pelan, hingga Sooji tidak dapat mendengarnya dengan jelas.

“Apa? Apa yang kau katakan?” Sooji menyelidik curiga.

“Tidak. Tidak ada.”

“Anak muda, apakah kalian tidak ingin menggantungkan permohonan pada pohon ini?” Wanita itu menunjuk kearah pohon besar yang berada tepat disamping stand miliknya.

“Pohon permohonan?”

“Ya. Banyak pasangan yang menggantungkan permohonan mereka dengan harapan bahwa hubungan mereka akan berhasil. Apa kalian tidak mau mencobanya? Kalian juga bisa membuat permohonan lain.”

Ya, Sooji dan Sungjae bisa melihat dengan jelas bahwa di pohon tersebut banyak kertas berisi permohonan yang digantung.

“Baiklah, aku akan mencobanya,” ujar Sooji kemudian. “Bagaimana denganmu?” Ia menoleh pada Sungjae.

“Aku tidak tertarik. Kau saja.”

Baiklah. Akhirnya Sooji menuliskan permohonannya pada secarik kertas yang diberikan wanita paruh baya tadi. Setelah menggantungkan permohonannya, Sooji dan Sungjae memutuskan untuk pulang naik bis.

Sungjae memaksa untuk mengantar Sooji sampai ke rumahnya. Bagaimanapun, ia khawatir jika gadis cantik seperti Sooji jalan sendirian di malam seperti ini. Maka dari itu, disinilah Sungjae sekarang. Menikmati sejuknya angin malam bersama Sooji.

Saat hampir sampai ke rumah Sooji, Sungjae membuka suara,”Omong-omong, apa permohonanmu?”

“Permohonanku?” Sooji terdiam sejenak sebelum menjawab,”Agar kau bahagia.”

Sungjae tertegun. Ia sontak menghentikan langkahnya. Menyadari hal itu, Sooji menoleh.

“Kenapa? Apa aku tidak bisa membuat permohonan untukmu? Aku sudah puas dengan kehidupanku sekarang. Jadi tak ada yang perlu kuminta. Tapi kurasa, kau punya banyak sekali permohonan.”

Sungjae tidak menjawab. Ia hanya menatap Sooji tajam. Sedetik kemudian, ia menangkup wajah Sooji dan mencium bibirnya lembut.

Sooji sempat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Yook Sungjae yang notabenenya adalah anak didiknya sendiri. Namun, entah sadar atau tidak, Sooji kini sudah memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan lembut Sungjae.

Setelah keduanya merasa kehabisan oksigen, Sungjae melepaskan tautan bibir mereka perlahan. Ia menatap Sooji tepat dimaniknya. “Aku menyukaimu. Tidak. Aku mencintaimu. Aku tahu, usia kita akan menjadi masalah. Tapi, selama kita saling mencintai, usia hanyalah sebuah deretan angka yang tidak berarti. Jadi, maukah kau jadi kekasihku?”

Sooji mengerjapkan kedua matanya. Apa yang harus ia katakan sekarang? Sooji harus akui bahwa ia juga sepertinya mempunyai rasa yang sama seperti yang dimiliki Sungjae. Tapi, apa yang terjadi jika Sooji berkencan dengan siswanya? Sekolah pasti akan gempar!

“Apa kau tidak akan menjawabku?”

Sooji diam.

“Baiklah. Aku akan menunggu jawabanmu. Kalau begitu, aku pulang dulu. Sampai jumpa besok, seonsangnim,” Sungjae tersenyum lalu membalikkan badannya.

Saat sudah berada cukup jauh dari daerah rumah Sooji, tiba-tiba saja Sungjae merasakan ponselnya bergetar, tanda adanya pesan masuk. Dengan segera, ia merogoh saku celananya. Sungjae mengernyit heran begitu membaca nama Sooji dilayar ponselnya. Setelah membuka isi pesan dan membacanya, Sungjae tersenyum lebar. Ia segera melompat-lompat tak jelas. Lalu kembali membaca pesan singkat dari Sooji.

Aku juga mencintaimu, Yook Sungjae!

Sepertinya malam ini ia akan mimpi indah.

Paginya sekolah tampak gempar. Sungjae yang sedari tadi sedang berjalan dengan riang di lorong sekolahnya tersentak kaget begitu kedua sahabatnya – Jackson Wang dan Oh Sehun – berlari menghampirinya.

“Sudah lihat?” tanya Jackson padanya begitu lelaki tampan itu berhasil mengatur deru nafasnya yang sempat memburu.

“Apa?”

Sungjae membulatkan matanya mendengar ocehan Sehun. Sehun bahkan tak sempat menyelesaikan ceritanya karena Sungjae sudah terlebih dahulu pergi menuju ke sumber masalah – majalah dinding sekolah mereka.

Sungjae bisa melihat banyak siswa dan siswi yang berbondong-bondong datang untuk melihat gosip yang menggemparkan itu. Lelaki itu sontak menembus ke puluhan manusia yang sedari tadi sibuk berbisik-bisik melihat kedatangan Sungjae.

Sungjae mengepalkan kedua tangannya begitu membaca berita murahan tentang dirinya dan juga kekasihnya – Bae Sooji.

Seorang guru berkencan dengan muridnya sendiri?!

Dibawah tulisan besar itu, terdapat beberapa foto Sungjae dan juga Sooji yang sedang menikmati kencan manis mereka. Siapa yang melakukan semua ini?! Sungjae lalu menyobek kumpulan kertas tersebut menjadi beberapa bagian. Ia lalu segera pergi mencari Sooji. Ia ingin tahu apa yang terjadi dengan gadis itu.

Saat melewati taman belakang sekolah, Sungjae dapat melihat dari kejauhan Son Naeun sedang berbicara dengan beberapa temannya. Sungjae juga tak tahu apa yang membuatnya begitu tertarik dengan percakapan  Naeun dan juga teman-temannya itu. Maka dari itu, ia segera mendekat secara sembunyi-sembunyi.

Ya! Sudah melihat majalah dinding pagi ini? Sungjae berkencan dengan si guru baru! Miss Bae!”

Son Naeun tersenyum tipis mendengar seruan salah seorang teman sekelasnya yang bernama Jinri.

“Sudah,” jawabnya tak tertarik.

“Kenapa reaksimu biasa saja? Kupikir kau menyukainya. Apa aku salah?” Kali ini temannya yang lain yang ikut bersuara.

“Aku memang menyukainya. Maka dari itu, aku yang memasang foto-foto itu.”

Keduanya tampak terkejut dengan apa yang baru saja Naeun katakan. “Bagaimana?”

“Bukankah semalam aku mengatakan bahwa aku akan menonton film? Disana aku melihat Sungjae dan Miss Bae! Karena penasaran, aku mengikuti mereka dan ternyata mereka menghabiskan waktu berdua sepanjang hari! Karena kesal, aku mengabadikan momen tak penting itu.”

“Jadi kau penyebab semua ini?”

Ketiga tukang gosip itu sontak menoleh pada Sungjae yang kini sudah berada dihadapan mereka.

“Yook Sungjae… Aku bisa…”

“Kau…”

Naeun meneguk salivanya begitu Sungjae menarik kerah bajunya. Ia tak pernah melihat Sungjae mengerikan seperti ini sebelumnya.

“Jangan menganggunya atau aku akan membunuhmu.”

Gadis berambut panjang itu terjengkang ke belakang begitu Sungjae mendorongnya sedikit keras. Ia hanya mendengus kesal melihat kepergian Sungjae.

“Guru Kim!”

Guru Kim baru saja berniat duduk di kursinya sontak menoleh pada salah seorang guru yang berjalan menghampirinya.

“Sudah dengar?”

“Apa?” tanya wanita itu tak mengerti.

“Bae Sooji… Dia berkencan dengan Yook Sungjae, si anak nakal itu!”

Mata Guru Kim membesar. “Apa?”

Pantas saja. Kemarin ia merasa ada yang aneh dengan kedua orang itu. Ternyata…

“Itu dia.”

Lamunannya buyar seketika begitu melihat Sooji baru saja tiba di ruang guru. Guru lain menghampiri gadis itu.

“Sooji-ssi, kau dipanggil kepala sekolah.”

Sooji tersenyum lalu mengangguk. “Baiklah.”

Sepertinya gadis itu tak tahu apa yang sebentar lagi akan menimpanya.

“Ada apa Anda memanggil saya, Tuan Park?”

Tuan Park selaku kepala sekolah Jaeil High School menatap Sooji tajam. Sooji tak tahu ada apa dengan lelaki tua itu. Terakhir kali Sooji berbicara dengannya, lelaki tua itu tampak ramah. tapi, kenapa sekarang…

“Lihat ini.”

Tuan Park melemparkan tabletnya kearah Sooji. Sooji mengernyit heran. Namun, ia tetap mengambil benda tersebut. Manik Sooji membesar. Melihat perubahan ekspresi Sooji, Tuan Park membuka suara,”Kau sudah menjadi pembicaraan di seluruh penjuru sekolah. Di sekolah kita, tidak pernah ada seorang guru mengencani anak didiknya sendiri. Dan kau? Kau baru beberapa hari mengajar disini, berani sekali kau menggoda seorang bocah?”

Sooji terdiam. Ia tak berniat membantah. Seharusnya ia tahu, ia tak boleh menantang Sungjae dan membuat dirinya berkencan dengan lelaki itu. Jujur saja, awalnya Sooji hanya ingin menjahili Sungjae. tapi, ternyata lelaki itu serius dan ia berhasil membuat Sooji benar-benar jatuh cinta.

Tuan Park menarik nafasnya panjang. “Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain mengeluarkanmu dari sekolah. Aku tidak mau kau merusak nama baik sekolah. Dan kau harus melakukannya dengan diam-diam. Kau mengerti?”

Sooji tersenyum kecut lalu mengangguk. “Kalau begitu saya pergi dulu,” pamitnya.

 “Apa yang dikatakan lelaki tua itu?”

Sooji tersentak kaget mendengar suara Sungjae tepat ditelinganya. Ia menatap tak percaya kearah Sungjae yang sepertinya sedari tadi menunggunya keluar dari ruang kepala sekolah. “Kau… sejak kapan kau disini?”

“Sejak tadi. Jadi, apa yang dikatakannya padamu?” Sungjae mengulang pertanyaannya.

“Tidak ada,” bohongnya.

“Kau yakin?”

Sooji tersenyum lalu mengangguk. “Kau tenang saja. Bagi Tuan Park, hal ini bukanlah masalah besar.”

Entah kenapa Sungjae tak tenang dengan pernyataan Sooji. Ia lalu memegang kedua bahu gadis itu. “Jika ada sesuatu yang mengganggumu, katakan saja padaku.”

“Aku mengerti. Masuklah. Jangan sampai kau terlambat.”

“Baiklah. Kalau begitu, aku pergi dulu,” Sungjae masih sempat mengacak lembut puncak kepala Sooji sebelum pergi.

Sooji mendengus seraya merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Sebenarnya siapa yang lebih tua? Kenapa jadi Sooji yang terkesan seperti anak-anak? Namun, sedetik kemudian, raut wajah Sooji berubah. Mungkin ini adalah hari terakhirnya bertemu dengan lelaki itu. Lelaki yang bisa membuatnya jatuh cinta.

Keesokan harinya, Sungjae melangkahkan kakinya malas disepanjang lorong sekolahnya. Ia mendengus. Sejak Sungjae berbicara dengan Sooji didepan kantor Tuan Park kemarin, tak sekalipun Sooji mengangkat ponselnya. Gadis itu seolah hilang ditelan bumi. Sungjae jadi curiga. Kenapa sepertinya gadis itu menghindarinya?

Ia kemudian menggelengkan kepalanya. Tidak. Ia tidak boleh berpikiran buruk. Bukankah kemarin Sooji mengatakan ia baik-baik saja? Ya, seharusnya Sungjae percaya dengan gadis itu.

Ya! Yook Sungjae!”

Sungjae menatap bingung kearah Sehun dan Jackson yang berlari kearahnya. Kenapa kedua orang itu suka sekali menganggunya pagi-pagi seperti ini. Tiba-tiba saja Sungjae merasakan de javu. Ini sama seperti semalam. Apa ini ada hubungannya dengan Sooji?

“Ada apa?” tanya Sungjae langsung, tak sabaran.

“Apa Miss Bae mengundurkan diri karena kasus semalam?”

Sungjae membulatkan matanya. Ti… Tidak mungkin!

Melihat reaksi Sungjae, Jackson sontak bertanya. “Kau tidak tahu?”

“Aku… harus pergi!”

Ya! Kau mau kemana? Sebentar lagi kelas akan dimulai!”

Ya! Bae Sooji!”

Sungjae mengatur deru nafasnya yang tak teratur karena  berlari mengejar bis yang baru saja melaju. Ia baru saja kerumah Sooji dan orang rumahnya mengatakan bahwa gadis itu sudah pindah ke luar kota untuk memenuhi panggilan kerja. Maka dari itu disinilah ia sekarang, menatap bis yang melaju itu tanpa bisa melakukan apa-apa.

“Bae Sooji, kenapa kau meninggalkanku?”

 ∞

Ini sudah enam bulan semenjak Sooji memutuskan pindah ke Gangwon untuk mengajar. Kebetulan sekali saat Sooji keluar dari Jaeil High School, ia mendapat tawaran mengajar di salah satu sekolah disini. Sooji senang mengajar disini. Meskipun tergolong daerah pedesaan, tempat ini tidak terlalu buruk untuk mengajar.

Tiba-tiba saja pikirannya melayang pada Sungjae. Apa yang sedang lelaki itu kerjakan? Semenjak Sooji pindah, tak sekalipun ia berkomunikasi dengan lelaki tampan itu. Sooji memang mengganti nomor ponselnya setelah itu.

“Guru…”

Sooji menoleh ke arah seorang muridnya yang kini berada dihadapannya. “Ada apa?” tanyanya lembut.

“Ini… bisakah kau menjelaskannya padaku? Aku tidak mengerti.” Gadis berambut sebahu itu menyerahkan bukunya pada Sooji.

Sooji tersenyum lalu mulai mengambil pensilnya dan mulai mengerjakan soal.

Sooji tersenyum memandangi sekelilingnya. Udara disini beda sekali dengan di Seoul. Tidak banyak kendaraan membuat udara lebih sejuk dibanding di Seoul.

Sooji tersenyum melihat laut yang terbentang luas. Daerah ini memang terkenal dengan lautnya makanya banyak penduduk yang mencari uang dengan menjadi nelayan.

Sooji membuka sepatunya lalu berlari kearah laut tersebut. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali Sooji merasa sebebas ini. Entahlah. Setiap saat Sooji memikirkan Sungjae, Sooji pasti pergi kesini. Lagi-lagi, wajah Sungjae muncul dibenaknya. Sooji benar-benar merindukan tingkah konyol lelaki itu. Sooji masih ingat bagaimana pertama kali mereka bertemu dan saat Sooji menjadi guru privat-nya hingga saat kencan pertama – dan mungkin yang terakhir – mereka.

Tiba-tiba saja, Sooji merasakan seseorang mumukul kepalanya pelan. Merasa kesal, Sooji sontak menoleh. Namun, gadis itu membulatkan matanya begitu melihat siapa orang yang membuyarkan lamunannya.

“Ya! Kenapa kau melihatku seperti itu? Apa karena sudah lama tak bertemu kau lupa dengan wajah tampanku?”

Sooji masih tak percaya dengan apa yang ada dihadapannya kini. “Yook… Sungjae…” lirihnya.

Lelaki itu tersenyum mendengar Sooji menyebut namanya. “Syukurlah kau masih ingat denganku.” Lelaki itu menghambur ke pelukan Sooji.

Setelah merasa puas memeluk tubuh ramping Sooji, Sungjae melepaskan pelukannya. Menatap lekat wajah gadis yang setengah mati ia rindukan.

“Kenapa kau ada disini?” tanya Sooji akhirnya bersuara.

“Kenapa? Kau tak senang aku kesini? Atau jangan-jangan kau sudah menikah disini?”

“Bukan… Bukan begitu… Hanya saja…”

“Ini,” potong Sungjae, lelaki itu kemudian memberikan buku – atau lebih tepatnya ijazah pada Sooji.

Sooji langsung menerimanya. Ia kemudian membuka buku tersebut dan melongo tak percaya. Yook Sungjae menjadi lulusan terbaik di Jaeil High School dengan nilai sempurna! Sooji tersenyum “Selamat! Akhirnya kau berhasil!”

Sungjae tersneyum simpul lalu menatap Sooji lengkap. “Sooji-ah… Bolehkan aku memanggilmu seperti itu?”

Sooji terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk.

“Aku…” Sungjae kembali membuka suara. “Tujuanku kemari sebenarnya karena aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Selama kau pergi, aku banyak berubah. Aku tidak lagi suka membolos, aku mengerjakan semua tugas yang diberikan guru, aku bahkan mulai akur dengan ayahku. Katanya dia bangga padaku.” Sungjae terdiam sejenak. “Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa menjadi lelaki yang mapan, yang tepat untukmu. Aku ingin dipandang sebagai lelaki sejati olehmu. Sebenarnya dari dulu, aku bisa saja datang padamu, tapi saat itu tak ada yang bisa kubanggakan. Maka dari itu, tunggu aku. Tunggu aku hingga selesai melanjutkan kuliahku dan melanjutkan bisnis keluargaku. Sampai aku berhasil, aku mohon tunggu aku, Bae Sooji.”

Sooji terdiam. Ya, Sooji memang melihat banyak perubahan pada Sungjae. Ia bahkan bisa melihat ketulusan di manik lelaki itu. Sooji tersenyum sebelum akhirnya berjinjit dan mengecup lembut bibir Sungjae.

“Aku akan menunggumu, Yook Sungjae.”

Kali ini giliran Sungjae yang tersenyum. Ia menangkup kedua pipi Sooji dan menepis jarak diantara mereka. Ya, jika dua insan saling mencintai, umur yang harusnya menjadi penghalan dapat ditembus dengan mudah dan menjadi deretan angka yang tak berarti.

“Sooji-ah, kalau aku melamarmu sekarang, kau mau bukan menghidupiku?”

YAK, YOOK SUNGJAE! KAU GILA?!”

THE END

13 responses to “My Teacher is My Girlfriend Chapter 3 Final

  1. Kyaa happy ending, yeyeyeye~
    Suka thor ♥
    Kata – kata Sungjae sweet ya thor udah kayak gulali di pasar malem😀
    Sungjae – Sooji jjang!
    Author dinda juga jjang kkk
    Ditunggu karya lainnya ya thor, hwaiting!

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s