[Chapter-1] High Society

Untitled-10 copy

mainactor

p  r  o  u  d  l  y    p  r e s e n t s

High   Society

a chaptered fanfiction with rating G

starring

| Suzy “Miss A” | L “Infinite’ | Chanyeol “EXO” | Seulgi “Red Velvet”|

| Krystal f(x) | Lay “EXO” | Irene “Red Velvet” | Suga “BTS” |


~~ an uh-not-so-perfect-life ~~

.

“Bae Suzy ini sudah jam tujuh!!!”

Pekikan nyaring Nyonya Bae membuat seorang gadis yang sedang asyik terlelap di kamar berukuran 4×4 meter itu melenguh keras. Gadis yang dipanggil Bae Suzy itu membuka matanya dan langsung kembali menutupnya cepat karena sinar matahari yang masuk melalui glassblock sangat menyilaukan.

Gadis itu berguling ke arah kiri lalu berjalan terseok menuju kamar mandi yang terletak bersebelahan dengan dapur sambil mengacak rambut panjangnya yang kusut masai. Ia melewati Nyonya Bae yang sedang sibuk membuat telur gulung dengan cuek.

“Berapa kali Eomma bilang?! Bangun pagi! Bantulah ibumu ini Suzy!” Nyonya Bae kembali berteriak dan memulai omelannya yang selalu rutin ia berikan pada Suzy setiap pagi. “Eomma baru pulang jam tiga pagi tadi kau tahu?! Setidaknya bantu Eomma dengan membuat sarapanmu sendiri!!”

Suzy yang baru keluar dari kamar mandi melengos sambil bejalan menuju kamarnya. “Siapa suruh buka tenda malam-malam?” Untuk membiayai Suzy, Nyonya Bae memang memiliki usaha tenda malam yang berada di Hongdae juga beberapa pekerjaan paruh waktu di siang hari. Dan hal itulah yang paling Suzy benci dari fakta ibunya. Ia takut terjadi sesuatu saat malam, kerena meskipun Hongdae adalah daerah yang ramai tetap saja itu berbahaya. Ia juga sejujurnya takut karena begitu banyak pekerjaan yang dimiliki ibunya dan begitu sedikit waktu istirahatnya. Ia takut sesuatu terjadi kepada ibunya. Hanya ia tidak bisa mengekspresikannya.

“Bae Suzy!”

Suzy mengacuhkan seruan ibunya sambil menyalakan keran air dan mulai membersihkan diri. Nyonya Bae hanya menghela napas sambil mempercepat gerakan tangannya mengocok telur. Sejak Suzy beranjak remaja perkataan gadis itu memang semakin tajam dan sarkastik. Membuat dirinya sendiri tidak begitu disenangi dengan teman sebayanya karena kata-katanya.

Suzy keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dan berjalan ke kamar. Ia mengambil roknya yang tergantung asal di belakang pintu dan memakai kemejanya dengan cepat. Sambil menyisir rambut panjangnya ia mengenakan asal dasi yang merupakan padanan seragamnya.

Suzy lalu kembali ke ruang makan dan mulai sarapan sambil mencari saluran TV yang menayangkan kartun.

***

Myungsoo terbangun karena ringtone ponselnya berbunyi nyaring. Ia membuka matanya dan merasakan sedikit pengar. Ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan dan sadar bahwa ia sudah berada di kamarnya, meski masih mengenakan pakaian sekolahnya yang sekarang kusut. ‘Siapa yang memindahkanku?’ gumamnya bingung lalu berjalan sedikit terhuyung menuju kamar mandi.

Saat air dingin mengenai kepalanya, Myungsoo merasa baikan. Ingatannya akan semalam berputar cepat seperti film lama di kepalanya. Ia teringat setelah membolos kelas tambahan ia masuk ke Granbulen dan meminum beberapa botol lalu tertidur setelah make out bersama salah satu yeoja di sana. Ingatan terakhirnya adalah wajah kesal kakak keduanya.

Beberapa saat kemudian Myungsoo sudah berjalan menuju ruang makan mansion keluarga Kim dengan pakaian sekolahnya minus dasi dan jas. Terlihat ayah, ibu, dan kakak keduanya sudah duduk melingkari meja makan berkapasitas dua belas orang itu. Tanpa mengucapkan apa-apa Myungsoo langsung duduk di samping kakak keduanya dan mulai mengoleskan selai di rotinya.

“Kau sudah bangun? Makan ini.” Kata Kim Jongki, kakak kedua Myungsoo sambil menyodorkan semangkuk sup pengar. Myungsoo hanya melirik mangkuk itu acuh dan mempercepat makannya.

Tuan Kim berdeham sebentar sebelum bertanya ke Jongki, “Hari ini kau berangkat ke Seattle?”

Jongki menelan makanannya dan mengangguk cepat. “Sampai bulan depan aku akan ada di sana Abeoji.”

Tuan Kim mengangguk mengerti. “Hyung-mu kapan sampai di Korea?” Tanyanya lagi menanyakan jadwal kakak pertama Myungsoo.

“Lusa.”

Setelah mendengar jawaban Jongki, Tuan Kim kembali mengangguk-angguk dan melanjutkan kegiatannya membaca koran tanpa melihat ke arah Myungsoo sama sekali. Myungsoo sendiri terlihat cuek sambil menikmati sup pengar untuk membuat pengarnya hilang. Tidak dianggap adalah hal biasa baginya di keluarga ini. Ia sendiri sadar bahkan kucing Ibunya lebih diperhatikan oleh orangtuanya dibandingkan diri sendiri.

Maka dari itu, tak mau terlihat semakin menyedihkan Myungsoo bangkit dan meraih jaket varsity hitam putih miliknya lalu berangkat ke sekolah setelah sebelumnya mengetik balasan untuk seseorang.

***

Kang Seulgi keluar dari kamar mandinya dengan mengenakan jubah mandi berwarna putih dan rambut tergelung ke atas. Ia berjalan anggun menuju ruang pakaiannya yang terletak di sisi lain kamar tidurnya. Ruangan berukuran seluas dua puluh lima meter persegi itu menyala secara otomatis saat Seulgi memutar kenop pintunya. Terlihat tiga buah lemari besar berjejer di sepanjang sisi kiri dinding. Sedangkan di sisi lainnya terdapat satu rak raksasa yang memenuhi permukaan dengan beragam macam sepatu mahal berderet dan di sisi satunya dengan sepatu berjejer.

Seulgi berjalan dengan wajah bosan ke arah bagian lemari yang palng dekat dengan pintu dan mengeluarkan pakaiannya. Ia melepas jubah mandinya dan mengenakan seragamnya dengan cepat. Tanpa memakai jas hitam yang merupakan padanan seragam sekolahnya ia berjalan ke sisi lain ruangan dan menarik beberapa helai coat buatan desaigner terkenal. Setelah menimang beberapa saat ia menjatuhkan pilihannya pada coat berwarna jingga. Selesai dengan pakaian, Seulgi berpindah ke arah rak sepatu dan mengambil Jimmy Choo hitam dengan model pantofel dan hak tiga centimeter.

Tak lama kemudian Seulgi sudah keluar dari kamarnya dan sedang menuruni tangga menuju ruang makan. Wajah dinginnya tetap datar saat melihat ruang makan kosong dan hanya terlihat set sarapan lengkap bergaya Amerika di atas meja.

“Sarapan Miss.” Kata salah satu asisten rumah tangga yang baru saja meletakkan piring berisi daging asap.

“Buang saja. Siapa juga yang mau sarapan sebanyak itu sendiri,” Sahutnya tajam lalu berjalan menuju mobil yang sudah siap di depan pintu mansion keluarga Kang.

“Nyonya mengatakan untuk datang ke acaranya sore ini Miss.” Kata seorang ahjussi berpakaian sopir yang berdiri siap di dekat mobil.

Seulgi mendengus, “Sarapan bersama koleganya pagi ini lebih penting daripada anaknya” katanya sarkas sambil melempar sling bag hitamnya ke ahjussi tersebut.

***

Park Chanyeol terbangun saat salah seorang asisten rumah tangganya mengetuk pintu dan mengantarkan sarapan. Ia menoleh ke kanan dan mendapati LED ponselnya yang terus berkedip-kedip. Dengan wajah datar ia meraih benda persegi panjang hitam itu dan membuka kuncinya.

“Ck dasar yeoja kurang kerjaan.” Dengusnya saat melihat notification tab-nya dipenuhi dengan pesan-pesan dari para yeoja yang mengucapkan selamat pagi dan ajakan untuk sarapan bersama.

Tanpa membaca pesan-pesan itu, Chanyeol langsung menghapusnya lalu melempar asal ponselnya dan beranjak ke kamar mandi yang terletak di sisi lain kamarnya. Ia menyalakan shower dan membiarkan air hangat membasahi tubuhnya dan membuat kaca di dekatnya beembun.

Chanyeol selesai mandi beberapa saat kemudian dan sedang sibuk memakai pomade untuk menata rambutnya. Ia menyemprotkan parfum di sekitar tubuhnya dan tersenyum tipis melihat refleksinya di cermin.

Pemuda itu lalu keluar dan memakan sarapannya dengan cepat sebelummenuju mobil sport merah miliknya yang sudah terparkir manis di depan pintu.

“Tuan dan Nyonya mengucapkan selamat pagi dari Tokyo, Sir.” Kata asisten rumah tangga yang tadi mengantarkan sarapan ke kamarnya dan kini sudah siap di dekat pintu sambil memegang ransel Chanyeol.

Chanyeol hanya mengangguk singkat dan meraih ranselnya lalu masuk ke kursi pengemudi. Ia menyalakan mesin dan memasang sabuk pengaman lalu langsung menginjak pedal gas setelah menset alat navigasi menuju SMA Myung Won.

***

Zhang Yixing keluar dari kamarnya dengan seragam lengkap dan rambut tertata rapi. Matanya memandang ke sekeliling ruang TV yang kosong tanpa ada tanda-tanda kehidupan. Bantal-bantal sofa tersusun rapi seperti jarang ada yang duduk di sofa di depan TV itu. Yixing menarik napas panjang lalu berjalan menuju dapur.

Keadaan di dapur tak berbeda dari ruang TV. Sama-sama kosong. Dengan wajah tanpa ekspresi, Yixing menuju kulkas dan mengeluarkan sekotak susu berukuran dua liter dan membuka freezer untuk meraih daging sapi yang terlihat masih segar. Setelah menutup kulkas ia meraih ranselnya dan keluar dari apartement yang ia tempati bersama pamannya yang kini sedang keluar kota.

Pemuda berwajah China itu berjalan menuju lift lalu turun di lobby. Sesekali ia tersenyum membalas sapaan beberapa yeoja di meja resepsionis yang menyapanya dengan ramah. Ia menggumamkan selamat pagi ke arah ahjussi yang merupakan petugas keamanan dan kembali berjalan dengan ekspresi datar menuju gedung apartement yang terletak di sebrang apartementnya.

Gedung apartement yang ini terlihat lebih kecil dan pendek. Cat gedungnya berwarna abu-abu terlihat kusam sekali dengan beberapa bagian terlihat sudah mengelupas dan berjamur. Ia berjalan memasuki lobby yang sempit dan menuju lift lalu keluar di lantai tujuh.

Masih dengan ekspresi datar, Yixing berjalan menuju pintu bertuliskan angka 2708. Ia lalu menekan bel tiga kali dan menunggu dengan sabar sampai pintu terbuka. Terdengar beberapa teriakan sebelum akhirnya pintu kayu itu mengayun terbuka. Senyum sudah terukir di wajahnya.

“Langsung masuk saja, Eomma sudah selesai masak.” Kata Suzy sambil meraih kotak susu dan daging yang dibawa Yixing. “Eomma! Yixing membawakan susu dan daging!” Teriak gadis itu sambil berjalan masuk ke dalam dapur. Yixing hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum dan mengikuti gadis itu menuju meja makan.

Sudah hampir enam tahun berlalu sejak Yixing pertama kali menginjakkan kakinyaa di Korea Selatan. Ia masih ingat saat itu di sekolah barunya ia duduk sebangku dengan seorang yeoja yang lebih tinggi beberapa centi darinya dan merupakan salah seorang jagoan. Yixing yang saat itu kesulitan karena belum bisa lancar berbahasa Korea sangat bersyukur mengetahui bahwa Suzy lumayan fasih berbahasa China karena ibunya sendiri memilki darah China. Ditambah fakta bahwa gedung apartement mereka berdekatan, keduanya menjadi dekat sampai bersahabat hingga sekarang. Sejak saat itu juga Yixing selalu sarapan dan makan malam di rumah Suzy dan terkadang membawa bekal buatan Nyonya Bae. Nyonya Bae yang merasa prihatin dengan nasib Yixing selalu memberikan perhatian lebih untuk namja itu. Memperhatikan dan menyayangi anak semanis dan sepintar Yixing bukanlah hal yang sulit.

Aigoo, Yixing berapa kali aku bilang tidak perlu membawakan bahan makanan.” Kata Nyonya Bae sambil mengelus sayang pipi Yixing yang kini sudah duduk di meja makan bersama Suzy.

Yixing terkekeh dan menggeleng, “Gwencanha Omonim, daripada makanan ini beku dan akhirnya dibuang lebih baik kubawa ke sini.”

Nyonya Bae melepas celemeknya dan duduk di sisi lain meja makan berkapasitas empat orang itu dan menambahkan telur gulung ke mangkuk nasi Yixing. “Makan yang banyak. Kau mau dimasakkan apa nanti malam eoh?”

“Samgyetang!” Seru Suzy cepat dengan mulut penuh dan langsung tersedak. Dengan sigap Yixing menyodorkan segelas air putih ke Suzy.

Nyonya Bae menepuk-nepuk punggung Suzy sambil berdecak kesal. “Telan dulu baru bicara. Kau bisa mati tersedak Suzy!” Omel Nyonya Bae.

Suzy menegak air putih yang diberikan Yixing dan menarik napas perlahan. “Eomma doamu jahat sekali,” sahutnya sambil kembali makan dengan cuek.

Nyonya Bae menggertakkan giginya kesal dan memukul kepala Suzy dengan sendok yang ia pegang. “Eomma kan hanya mengingatkan, lagian siapa yang bertanya pendapatmu eoh?”

Gwencanha, aku juga ingin makan samgyetang. Kalau bisa pedas ya Omonim,” Seru Yixing cepat sambil menyumpal mulut Suzy yang sudah terbuka untuk kembali menyahut dengan telur gulung. Menghabiskan begitu banyak sarapan bersama keluarga Bae membuat Yixing tahu betul bahwa lebih baik menengahi perdebatan ibu dan anak itu sebelum orang lain mengetuk pintu apartement 2708 dan protes. Perdebatan memang hal biasa, hanya keluarga Bae sepertinya memiliki napas yang lebih panjang dan suara yang lebih kuat dari orang normal lainnya. Sehingga pedebatan mereka tidak pernah biasa.

Suzy menjulurkan lidahnya ke arah Nyonya Bae lalu mempercepat makannya sambil melirik ke arah jam tangan yang melingkari pergelangan tangannya. Beberapa menit kemudian mangkuknya sudah kosong.

Kajja Yixing-a, aku belum menyelesaikan tugas Mr.Han,” seru Suzy sambil menarik lengan Yixing yang sedang asyik memakan apel. Namja itu mencibir sambil berdiri dan pamit ke arah Nyonya Bae lalu berjalan tergesa mengikuti Suzy.

***

Min Yoongi tersenyum senang begitu melihat Myungsoo menepikan motor sport-nya di depan sebuah gedung pencakar langit yang terletak di kawasan Cheongdamdong. Namja itu langsung meraih helm yang diserahkan Myungsoo dan menaiki motor tersebut. Myungsoo pun langsung kembali menarik gas dan motor kembali meluncur cepat di jalanan.

“Kau terlihat pucat eoh,” Kata Yoongi setelah mengambil selca. Motor yang dikendarai Myungsoo kini tengah berhenti di lampu merah tak jauh dari Myung Won.

Myungsoo membuka kaca helmnya sambil menoleh ke arah Yoongi, “Belum lihat yeoja cantik pagi ini.”

Yoongi hanya terkekeh mendengar jawaban Myungsoo dan kembali fokus dengan ponselnya. Ia mem-posting hasil selca-nya tadi ke akun Instagram-nya setelah mengetik caption yang cukup panjang. Dalam caption-nya itu, Yoongi berjanji akan lebih sering meng-update akunnya karena masa promosi album barunya sudah selesai. Sebagai idol, Yoongi memang terbilang perhatian dengan para fans-nya di dunia maya karena pada dasarnya Yoongi sendiri orang yang ramah.

Tadi malam, pemuda itu baru saja menyelesaikan masa promosi albumnya dengan goodbye stage. Sehingga saat ini sampai sekitar dua bulan ke depan, waktunya akan lebih luang dan ia bisa bersekolah seperti biasa karena belum ada rencana untuk comeback lagi. Pihak manajemennya merasa lebih baik membuat para fans sedikit penasaran karena grup Yoongi sudah melakukan tiga kali comeback belakangan ini.

Motor Myungsoo berhenti di pelataran parkir motor yang sudah cukup ramai. Yoongi melepas helm dan sedikit mengeluh karena tatanan rambutnya jadi rusak. “Ck, aku tidak bawa pomade lagi.” Gerutunya sambil berjalan di samping Myungsoo menuju kelas.

Myungsoo menoleh ke arah Yoongi lalu iseng dan mengacak rambut temannya itu. “Sudahlah kau tak setampan itu bahkan dengan tatanan rambutmu.”

Yoongi mendecak kesal dan tak sempat membalas karena beberapa siswi lain mulai mendekatinya dan meminta foto. Myungsoo pun memilih meninggalkan Yoongi dengan menuju ke kelas terlebih dahulu.

“Bae Suzy!”

BUK!

Myungsoo terhuyung ke depan saat seseorang yeoja tak sengaja menabrak punggungnya. Yeoja itu terus berlari tanpa menoleh. Myungsoo berdecak saat sadar siapa yeoja itu. “Dasar yeo—

BUK!

Myungsoo kembali terhuyung saat punggungnya kembali ditabrak. Orang yang menabraknya kali ini adalah seorang namja berwajah China.

Mian!” Seru Yixing cepat dan kembali mengejar Suzy yang tadi menabrak Myungsoo lebih dulu. Ia berlari mengejar Suzy karena gadis itu membawa ranselnya kabur begitu ia bilang tidak akan meminjamkan tugas dari Mr.Han.

“Ck, dasar udik!” Gumam Myungsoo kesal sambil lanjut berjalan dan membersihkan pundaknya seolah-olah ada debu yang hinggap di situ.

Myungsoo sampai dan melempar pandangan sinis ke arah Yixing yang sedang mengomeli Suzy sementara gadis itu sibuk menyalin tugasnya. Ia langsung berjalan ke arah kursinya dan duduk sambil memasang headset. Samar-samar suara Yixing dan sahutan Suzy masih terdengar karena jarak tempat mereka tak terlalu jauh. Ia pun membesarkan volume musiknya.

“Berapa kali kubilang, eoh? Kerjakan tugas di rumah Suzy!!” Omel Yixing sambil duduk bersedekap dan menggeleng kesal melihat Suzy dengan cuek menyalin tugasnya.

Suzy hanya mencibir sambil terus menulis dengan kecepatan penuh. Sebentar lagi bel masuk akan berbunyi. “Apa salahnya membantu teman sih?”

“Ini bukan membantu namanya!”

Suzy hanya terkekeh dan menutup buku tugas Yixing setelah menulis kalimat terakhir. Ia mengembalikan buku itu ke arah Yixing yang sudah merengut kesal. “Gomawo!!”

Yixing hanya mendecak dan memutar kedua bola matanya lalu kembali ke kursinya sendiri yang terletak di bagian depan, sementara Suzy memilih mengeluarkan komik yang ia sewa di kios dekat sekolah dan mulai membaca. Ia harus menyelesaikan komik itu sekarang atau ia akan terlambat mengembalikan dan kena denda.

Suasana kelas semakin ramai mengingat semakin banyak siswa lain yang mulai berdatangan. Ditambah Park Chanyeol sang kingka dan Min Yoongi yang kini sudah duduk di bangku dekat Myungsoo dan mulai mengobrol. Banyak juga para fans yang berdiri memenuhi jendela sambil membawa ponsel masing-masing dan memotret Yoongi.

“Oh ayolah malam ini kita adakan party! Mumpung jadwalku masih kosong!!” Suzy memutar kedua bola matanya mendengar Yoongi mulai membujuk Chanyeol dan Myungsoo.

Chanyeol yang sedang asyik dengan PSP nya melirik Yoongi sebentar lalu mengangguk. “Orangtuaku juga masih di Tokyo. Tapi jangan di tempat kemarin, parkirannya sempit sekali.”

Yoongi terkekeh lalu menunjukkan layar ponselnya. “Ini tempat baru di Hongdae! VIP, jadi kita tidak perlu ribet dengan fans dan paparazi-ku.”

Mendengar kata Hongdae, Suzy sedikit melirik layar ponsel Yoongi dan mengutuk pelan. Tempat yang ada di ponsel Yoongi terletak tepat di sebrang jalan tempat kios ibunya. Dan malam ini adalah jadwalnya untuk membantu ibunya karena hari ini jadwal kerja paruh waktunya kosong, sehingga kemungkinan bertemu mereka di sana semakin besar. Suzy bukan malu atau apa, hanya ia malas saja melihat gerombolan High Society itu berada di sana nanti malam.

Call!”

Mendengar kata itu Suzy semakin terkulai. Ia memutuskan untuk fokus saja dengan komiknya dan mengabaikan pembicaraan Chanyeol dan Yoongi yang kini sedang asyik membahas yeoja-yeoja yang mereka temui saat weekend kemarin di Osaka. ‘Kurasa liburan akhir tahun nanti mereka akan ke Antartika’ gumam Suzy sarkas.

Oh my god! Apa kau gila?! Ini kan edisi terbaru!!”

Baru saja Suzy berhasil mengabaikan pembicaran Chanyeol dan Yoongi, konsentrasinya kembali terpecah saat Bae Joohyun, salah satu princess Myung Won memekik keras dari ujung ruangan begitu Kang Seulgi, another princess, datang menggunakan tas baru yang belum pernah Suzy lihat berwarna biru muda polos. Suzy mengenali brand tas itu dari majalah yang biasa ia pinjam kalau bermain ke rumah Soojung.

“Ibuku kemarin mengirimkan ini karena peringkatku naik.” Kata Seulgi datar sambil membiarkan Joohyun memeriksa tas barunya.

Suzy kembali mendengus. Seulgi hanya naik satu peringkat dari dua puluh lima saja mendapat hadiah tas, sementara ia yang tidak pernah keluar dari sepuluh besar hanya beli tas dua tahun sekali. ‘Life is not fair’

“Aaah aku akan meminta Jonghyun Oppa untuk membelikannya. Mumpung ia sedang di Italia.” Seru Joohyun sambil buru-buru mengeluarkan ponselnya.

Suzy memutar kedua bola matanya. Meski sudah hampir dua tahun selalu mendengar percakapan semacam ini, Suzy tetap selalu kesal melihat bagaimana para High Society itu bertingkah snob dan melakukan hal yang dangkal dan tetap bisa enak hidup. Sementara dirinya harus bersusah payah dan tetap tidak bisa hidup enak.

“Wajahmu terlihat ungu tahu?” Suara familiar dan tepukan di pundaknya membuat Suzy menoleh dan mendapati Soojung sudah duduk di sampingnya sambil memakan roti lapis. Suzy tertawa sambil melempar penghapus ke arah Soojung dan memutuskan untuk lanjut membaca komik mengacuhkan sahabatnya yang kini mulai bercoloteh tentang anak kecil yang ia temui di taman.

Jung Soojung. Satu-satunya sahabat yeoja yang dimiliki Suzy. Merupakan salah satu High Society yang tidak pernah bertingkah snob. Sangat sederhana dan lembut. Perhatian dan suka menolong. Jauh lebih baik dibandingkan Joohyun ataupun Seulgi.

Tak lama kemudian bel berdering. Para murid kembali ke tempatnya masing-masing. Dengan enggan Suzy memasukkan komiknya ke laci dan mengeluarkan buku Matematikanya.

Mr.Han yang terkenal disiplin masuk ke kelas 3-2 begitu dering bel berhenti berbunyi. Namja berusia paruh baya dengan kepala setengah botak itu masuk sambil membawa beberapa buku dan map serta tongkat sepanjang lima puluh centimeter kebanggaannya. Para murid menghentikan aktivitas masing-masing dan kembali hening. Termasuk Myungsoo. Namja itu melepas headset yang sedaritadi menyumpal telinganya dan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Terlihat bosan dan malas.

“Sebelum kita mulai pelajaran silahkan kumpul tugas yang saya berikan minggu lalu,” Kata Mr.Han sambil menyiapkan materi yang akan ia berikan hari ini.

Yixing, yang merupakan ketua kelas, mulai mengumpulkan buku tugas milik murid lainnya. Ia sampai di meja Suzy dan mengambil kasar buku gadis itu. Masih kesal karena kejadian tadi. Setelah itu ia meletakkan tumpukan buku ke meja Mr.Han.

“Siapa yang tidak mengerjakan?” Tanya Mr.Han sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.

Myungsoo menatap ke sekeliling dan mendapatkan sebuah ide untuk membuat paginya tidak terlalu membosankan. Ia menegakkan duduknya dan mengangkat tangannya. Kilat jail terlihat di matanya.

Mr.Han menghela napas panjang. Ia berdeham sebentar, “Lari keliling lapangan sepuluh kali lalu kembali ke kelas.”

Senyum jail terukir di wajah Myungsoo. “Tapi tadi Bae Suzy juga belum mengerjakan dan hanya mengerjakan tugasnya di sekolah Sir,”

Suzy yang mendengar namanya disebut sontak melotot dan menegakkan tubuhnya. Ia menggigit bagia bawah bibirnya kesal sambil melempar pandangan tajam ke Myungsoo, yang hanya dibalas senyum mengejek.

“Bae Suzy, kau lari delapan putaran.”

“Sir! Tapi kan aku mengerjakan dan kau tidak bilang tidak boleh mengerjakan di sekolah!” Protes Suzy kesal.

“Lari delapan kali atau kugandakan?”

Suzy mendengus lalu berdiri sambil mendorong kursinya kesal dan berjalan keluar. Diikuti Myungsoo yang bersusah payah menahan ketawa. Keduanya berjalan bersisian menuju lapangan.

“Kau pikir ini lucu?” Pekik Suzy kesal sambil meninju keras lengan Myungsoo. Tawa namja bermata sipit itu pun pecah seketika. Bae Suzy memang objek paling menyenangkan baginya untuk dijaili. Gadis itu tidak akan pernah menangis dan selalu meledak-ledak. Dan itu menjadi tantangan tersendiri bagi Myungsoo untuk membuat gadis itu menangis.

Wae? Kau takut rambutmu lepek? Takut betismu besar?” Ejek Myungsoo dengan wajah paling jail yang ia miliki. Kini namja itu membalik tubuhnya menghadap Suzy dan berjalan mundur.

Suzy menghela napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Ia teringat bisikan Soojung tadi untuk ‘jangan meledak’. Ia mengipasi dirinya sendiri dengan kedua tangannya.

“Kenapa tidak meledak, eoh?”

Suzy kembali menghela napas panjang. ‘Tenang, tenang, tenang’ batinnya.

Keduanya sampai di lapangan. Suzy menunduk dan mengencangkan tali sepatunya. Melakukan pemanasan sebentar lalu mulai berlari. Toh hanya delapan keliling, tidak terlalu berat baginya.

Myungsoo menghela napas melihat Suzy mulai berlari. Rambut panjangnya yang diikat asal bergoyang ke kanan dan ke kiri seiring kaki gadis itu melangkah. Membuat Myungsoo mendecak kesal. ‘Kenapa susah sekali membuatnya menangis?’

***

Suzy sedang tertidur lelap saat bel pelajaran Ms.Do selesai. Soojung yang melihat Ms.Do sudah keluar mengguncang lengan Suzy yang dijadikan gadis itu bantal dengan kuat.

Ppali, kita harus ke lab biologi.” Serunya sambil meringkasi buku-buku di atas mejanya.

Suzy mengerjapkan matanya sebentar dan melihat ke sekeliling dan mendapati sudah pergantian pelajaran. Ia bersyukur tiga jam penuh pelajaran tentang oksidasi yang membosankan akhirnya berakhir.

Suzy lalu mengikuti Soojung menuju loker untuk mengambil jas lab dan berjalan berdampingan menuju lab biologi yang terletak di sayap kiri bangunan sekolah. “Apa yang akan kita bedah hari ini?” Tanya Suzy semangat.

Soojung dengan lesu menjawab, “Ikan mas.” Soojung memang seorang pecinta binatang dan paling tidak tega ketika sudah harus disuruh membelah binatang-binatang untuk memperoleh nilai.

Suzy yang mengerti arti wajah mendung Soojung menepuk pelan pundak Soojung sambil tersenyum. “Sudahlah masih banyak kok populasi ikan mas.”

“Seharusnya kau berpikir positif dan semangat di semua mata pelajaran.” Seru Yixing yang tahu-tahu sudah berjalan di samping Suzy.

Suzy terkekeh lalu menyahut, “Kalau itu terjadi aku yang akan jadi peringkat pertama dan ketua kelas.”

Yya, bahkan kalau kau rajin pun, otakmu tak akan sampai setengah dari Yixing.” Seru Soojung sambil tertawa lalu ber-high five dengan Yixing yang juga ikut tertawa

“Woah, kalian berdua bersengkongkol di belakangku, eoh?”

Ani. Kami bersengkongkol di sampingmu.”

Suzy mendengus kesal sebelum akhirnya ikut tergelak bersama kedua sahabatnya. ‘At least, in my uh-not-so-perfect-life I have wonderful friends.’

Ketiganya sampai di lab biologi dan berpisah menuju kelompok masing-masing. Yixing yang sekelompok dengan Seulgi dan Joohyun berjalan menuju meja yang masih kosong. Kedua princess itu belum terlihat. ‘Apa mereka bahkan perlu touch-up untuk pelajaran membedah hewan ini?’ batin Yixing sedikit kesal sambil menyiapkan sendiri bahan-bahannya.

Soojung sedikit lebih beruntung daripada Yixing. Ia sekelompok dengan Jeon Jungkook yang rajin dan suda siap di meja kelompok mereka. Dan yang membuat keberuntungannya itu hanya sedikit adalah anggota kelomponya yang lain, Park Chanyeol, yang juga belum datang. Atau mungkin tidak datang.

Dan yang paling sial adalah Suzy (menurut Suzy sendiri), ia sekelompok dengan dua anggota dari kelompok yang ia juluki High Society. Kim Myungsoo dan Min Yoongi. Meskipun keduanya sudah siap di meja kelompok mereka, Suzy tak sedikitpun merasa senang. Tetap saja baginya dua orang snob itu tidak bisa kerja dan merepotkan.

“Woah, Bae Suzy! Kenapa kau terlihat jutek sekali, eoh?” Seru Yoongi yang baru saja kembali setelah mengambil peralatan. Suzy hanya mendengus dan duduk di kursinya.

Ms.Wang masuk ke lab sambil membawa nampan berisi es batu dan beberapa ekor ikan. Ia memberi kode ke arah para murid untuk mengambil ikan tersebut dan mulai menuliskan langkah kerja di papan tulis.

Suzy menoleh ke arah Myungsoo dan Yoongi yang suda lebih dulu menoleh ke arahnya. Ia menghela napas. “Kalian ini namja atau apa? Ambil ikan saja harus aku.” Gerutunya sambil berjalan ke depan dan mengenakan sarung tangannya. Tanpa ragu ia mengambil seekor ikan mas yang sudah tidak bergerak lagi itu dan kembali ke mejanya.

“Jangan dekat-dekat” Desis Yoongi sambil memperlebar jaraknya dengan Suzy. Sontak Suzy tertawa dan dengan kilat jail mendekatkan ikan itu ke arah Yoongi, membuat namja itu memekik.

“Bae Suzy hentikan! Lihatlah langkah-langkahnya banyak!” Seru Yoongi kesal sambil memakai maskernya.

Suzy masih tertawa saat membaca instruksi yang ada di papan tulis. Ia mengangguk paham dan mengenakan maskernya sendiri.

“Siapa yang mau melakukan langkah pertama?” Tanyanya sambil membersihkan pisau bedah dengan tisu. Baik Myungsoo maupun Yoongi tak ada yang menyahut. Sambil terkekeh Suzy mulai menusukkan pisau itu ke bagian yang diperintahkan dan mulai mengerjakan langkah pertama dengan santai.

Myungsoo memalingkan wajahnya tak mau melihat dan sedikit terkejut. Hanya di kelompoknya yang melakukan langkah pertama adalah seorang yeoja. Di kelompok lain terlihat para namja melakukannya dengan berbagai ekspresi dan kebanyakan yeoja memasang ekspresi jijik. Ia kembali memperhatikan Suzy. Yang kini sedang bertepuk tangan senang karena berhasil membuka ikan itu tanpa merusak organ dalamnya.

Daebak!” Seru Yoongi sambil menepuk pundak Suzy beberapa kali. “Kok bisa?” Tanyanya penasaran.

Suzy menjawab dengan senang, “Seperti ini sih biasa saja. Aku sering membantu ibuku untuk membuat filet sih.”

Yoongi hanya mengangguk-angguk dan malah mengeluarkan ponselnya untuk memotret ikan itu. Suzy sendiri kembali membaca instruksi dan mulai melakukan semuanya tanpa bertanya lagi apakah Myungsoo atau Yoongi mau melakukannya. Karena jawabannya pasti sama. Ia yang harus melakukannya.

Myungsoo sendiri hanya diam dan memperhatikan Suzy. Diam-diam merutuki dirinya kenapa bisa kalah berani dengan seorang yeoja. Bae Suzy pula, yang selalu ia jaili dan ia pandang sebelah mata.

***

“Suez, kau mau ikut tidak nanti malam?” Tanya Soojung ke arah Suzy. Keduanya sedang berada di toilet wanita untuk mencuci tangan karena bau amis setelah membedah ikan tadi.

“Tidak. Aku harus membantu ibuku.” Jawab Suzy sambil meraup air dan mencuci wajahnya. Sepulang pelajaran tambahan ini sepertinya ia akan langsung menuju tenda ibunya. Entah mengapa belakangan ini perasaannya tidak enak.

Soojung mengarahkan tangannya ke mesin pengering. “Kalau begitu aku juga tidak ikut deh. Aku mau ikut Soohyun Oppa ke rumah sakit saja.”

Suzy mengangguk-angguk sambil tersneyum kecil. Diam-diam bangga dengan Soojung. Gadis itu lebih memilih bermain bersama penderita kanker yang kurang mampu dibanding ikut berpesta bersama kelompoknya.

***

“Bukankah itu Bae Suzy?” Tanya Seulgi ke Joohyun. Keduanya baru sampai di depan 7HN, tempat yang direkomendasikan Yoongi siang tadi.

Joohyun menyipitkan matanya dan mengangguk. “Nde, setauku gadis itu memang anak pemilik tenda makan itu.”

Seulgi masih penasaran saat Yoongi dan Myungsoo datang. “Kajja Seulgi-a, di dalam sudah ramai.” Kata Yoongi yang mengenakan kacamata hitam dan masker. Ia tidak bisa diam dan terus menerus melihat ke sekeliling, takut-takut ada paparazi.

Seulgi lalu mengendikkan bahunya dan menggandeng Joohyung lalu mengikuti Yoongi dan Myungsoo masuk ke dalam 7HN. Keadaan di dalam sudah cukup ramai dengan musik EDM yang memekakkan telinga dan pengunjung yang membludak. Yoongi berjalan paling depan, menggiring teman-temannya menuju ruangan VIP yang terletak di lantai dua.

Di ruangan VIP yang disewa Yoongi, terlihat wajah-wajah murid Myung Won yang lebih familiar. Seru-seruan dan gelak tawa memenuhi ruangan itu. Terlihat Park Chanyeol sedang asyik di tempat DJ memainkan Boy Oh Boy milik Diplo dan GTA.

Yoongi melepas masker dan kaca mata hitamnya lalu mengangkat salah satu botol minuman tinggi-tinggi, “Let’s get party!!!

***

Suasana tenda milik Nyonya Bae malam itu cukup ramai. Sudah tak terhitung berapa kali Suzy bolak-balik dari satu meja ke meja lain, menambahkan daging atau sayuran, menuangkan Soju, dan mengganti tempat bakaran.

Nyonya Bae sendiri terlihat sibuk di balik penggorengan membuat nasi goreng Kimchi yang merupakan special dish di tendanya. Dengan cekatan tangan itu menggoyangkan penggorengan dan mencampur bahan makanan di atasnya dengan spatula.

Suzy mencatat pesanan segerombolan ahjumma yang baru datang dengan sabar karena beberapa ahjumma itu terus menerus mengganti pesanan dan menambahkan banyak permintaan. Suzy dapat merasakan keringat berjatuhan di keningnya. Susah payah ia memaksakan senyuman dengan kondisi tubuh yang sudah sangat letih.

“… baik kurasa itu saja pesanan kami.”

Suzy mengangguk dan dengan cepat menghampiri ibunya untuk menyerahkan kertas pesanan para ahjumma itu dan mulai menyiapkan set Samgyupsal di atas nampan berbentuk lingkaran lebar. Ia membawa nampan itu ketempat para ahjumma dan menatanya dengan hati-hati di atas meja. Setelah itu ia bergegas ke mesin pendingin dan mengambil beberapa botol Soju juga gelas dan kembali menatanya di meja para ahjumma itu.

Aku di sini bersusah payah menghasilkan uang yang bahkan tak mencapai setengah dari yang akan mereka habiskan dalam pub itu.’

***

Waktu semakin larut dan kini ruangan VIP itu tak seramai tadi. Hanya terlihat beberapa orang yang masih asyik mengobrol di sofa yang mengelilingi meja kecil berisi snack dan beberapa minuman serta es krim.

Myungsoo duduk di sudut sofa sambil menikmati minumannya dan tertawa melihat tingkah konyol Yoongi yang mendapat dare dari Son Naeun. Lelah menari dan bersenang-senang, Yoongi mengusulkan untuk bermain truth or dare. Dan kini mereka sedang menyaksikan Yoongi yang mendapat giliran melakukan dare dari Naeun yang menyuruhnya untuk menarikan tarian Sistar.

“Sekaran Myungsoo,” Seru Joohyun sambil terkekeh. Kulitnya yang putih terlihat bersemu kemerahan akibat cairan yang sedari tadi ia tegak.

“Dare.”

“Pesan 20 porsi nasi goreng kimchi di depan lalu batalkan.” Kata Joohyun lalu tergelak diikuti seruan heboh dan tepuk tangan dari yang lain.

Myungsoo terkekeh. “Call.

***

Nde! Secepatnya!!” Seru Nyonya Bae senang. Ia baru saja mendapat pesanan dua puluh porsi nasi goreng kimchi. Dengan gesit ia menyalakan api dan memasang wajan serta menyiapkan semua bahan-bahannya.

Eomma ada yang memesan tiga set Samgyupsal di depan, tapi daging kita habis. Dan tambahan 2 porsi nasi goreng kimchi.” Kata Suzy sambil bersiap menuju supermarket di blok sebelah.

Ani..ani.. kau lanjutkan saja ini tinggal menambahkan kimchi dan buat lagi, kurang sepuluh porsi. Eomma yang beli. Lagipula kimchi kita juga habis untuk pesanan yang ini dan kau tidak tahu cara memilih kimchi dengan benar.” Seru Nyonya Bae cepat sambil bergegas ke luar tenda.

Eomma tap—“

Bayangan Nyonya Bae menghilang di jalanan. Suzy pun melanjutkan pekerjaan ibunya dengan perasaan tidak enak. Entah kenapa dadanya terasa sakit dan sesuatu seperti mengocok perutnya, membuatnya ingin muntah.

Sekitar setengah jam kemudian, Suzy selesai dengan kotak nasi goreng kimchi ke-dua puluh. Ia menyusun kotak-kotak itu dengan rapi ke dalam empat plastik. Ia melihat sticky note di dekat ponsel ibunya dan merasa tidak enak begitu melihat yang memesan adalah Kim Myung Soo di 7HN.

Setelah pamit sebentar dengan para pelanggan, Suzy menyebrang memasuki 7HN. Seorang penjaga menemaninya karena ia masih mengenakan seragam sekolah. Kepala Suzy terasa sedikit pusing dengan aroma aneh yang memenuhi ruangan itu. Suzy sampai di ruangan VIP saat Chanyeol sedang melakukan dare-nya bersama Joohyun.

“Pesanan kalian sudah datang. Semuanya dua ratus ribu won.” Kata Suzy sambil meletakkan plastik-plastik itu di meja terdekat.

Myungsoo berjalan mendekati Suzy dengan langkah sedikit sempoyongan. Suzy mengerutkan keningnya saat mencium aroma alkohol yang kental. “Kami tidak pernah memesan.”

Suzy menggigit bagian bawah bibirnya kesal sambil menunjukkan sticky note. Ia sudah tahu jadinya akan begini.

“Ah mian, kurasa aku mabuk dan melakukan kesalahan.”

Mendengar jawaban Myungsoo, Suzy merasakan tubuhnya bergetar hebat karena marah dan kesal. Ia merasakan matanya memanas. Dengan geram Suzy berbalik dan berlari keluar. Ia tidak menoleh meski ia mendengar gelak tawa riuh dari ruangan VIP itu.

I fuckin’ hate those bastards!’

“Astaga Suzy!!” Seorang ahjussi berseragam petugas keamanan menghampiri Suzy begitu Suzy hendak masuk ke dalam tenda. Ahjussi ini adalah petugas keamanan di bank yang terletak di samping 7HN dan merupakan pelanggan setia Nyonya Bae. Di belakang ahjussi itu terdapat seorang polisi lalu lintas.

Suzy merasakan kakinya melemas. Otaknya bekerja dengan cepat menebak apa yang terjadi sebelum polisi itu menjelaskan segala sesuatunya.

“Nyonya Bae mengalami kecelakaan dan sekarang dalam perjalanan menuju rumah sakit.”

Dan Suzy merasa dunianya berhenti.

To be Continued…

 


 

—–PREVIEW—–

“Ini semua karena kau! Nagaragu!!!”

“Suzy, kau harus tabah!”

Andwae Eomma, Eomma!!”

“Kau Bae Suzy?”

Mwo? Pewaris?!”

“Suzy kau harus tinggal dengan halmeoni!”

“Bae Suzy mianhae,

“Soojung-a aku ingin mati saja.”

 


So, how is the first chap? Tuliskan pendapat kalian ya!! Dan apa di first chap ini karakterisasi setiap tokoh udah kena atau belum, apa alurnya membingungkan atau tidak, atau ada sesuatu yang membuat kaliany tidak nyaman hehehe… Bantu aku supaya terus semangat nge-post ya!!🙂

110 responses to “[Chapter-1] High Society

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s