[Chapter-2] High Society

Untitled-10 copy

mainactor

p  r  o  u  d  l  y    p  r e s e n t s

High   Society

a chaptered fanfiction with rating G

starring

| Suzy “Miss A” | L “Infinite’ | Chanyeol “EXO” | Seulgi “Red Velvet”|

| Krystal f(x) | Lay “EXO” | Irene “Red Velvet” | Suga “BTS” |

Untitled-1


~~~and the nightmare comes true~~~

.

“Ibu mu mengalami pendarahan otak dan patah tulang yang cukup parah. Untuk saat ini kami berusaha semaksimal mungkin untuk mengatasi pendarahan di otaknya. Kau harus tabah dan percaya. Doakanlah semuanya lancar.”

—-

Soojung memandang cemas ke arah Suzy yang terduduk diam di depan ruang operasi dengan terpejam dan kedua tangan bertautan. Sudah hampir dua jam sejak Nyonya Bae dibawa masuk ke dalam ruang operasi. Dan Suzy belum bergerak sampai sekarang. Hal itulah yang membuat Soojung cemas. Akan lebih baik jika ia melihat Suzy menangis atau mengamuk dibanding diam seperti saat ini.

Soojung yang memang rencananya malam ini mengunjungi pasien kanker di rumah sakit tempat kakaknya bekerja tak sengaja melihat ambulans datang dan langsung mengenali Nyonya Bae. Saat itu Suzy belum datang. Tahu bagaimana kondisi Nyonya Bae, Soojung langsung memohon kepada kakaknya untuk langsung mengurus administrasi Nyonya Bae dan menjadwalkan operasinya.

“Soojung, bagaimana Suzy?” Tanya Yixing yang baru datang dan masih mengenakan seragam basket sekolah. Saat Soo jung menelpon Yixing tadi namja itu masih ada pertandingan dan sebagai kapten ia tidak bisa meninggalkan pertandingan begitu saja.

Soojung menunjuk ke arah Suzy. “Sudah kuajak untuk duduk di sofa supaya lebih nyaman. Tapi dia hanya mau menunggu di situ,”

Yixing menghela napas panjang. “Ini masih hari Jum’at, kau pulanglah.” Kata Yixing setelah mengecek jam yang menunjukkan pukul tiga dini hari.

Soojung sontak menggeleng cepat. “Kau sendiri masih di sini kan? Aku juga!” Serunya sambil berjalan cepat mendekati Suzy dan duduk di sampingnya. Dengan cepat ia melingkarkan tangannya di tangan Suzy dan ikut memejamkan mata mulai berdoa.

Yixing terkekeh melihat aksi Soojung dan ikut duduk di sisi Suzy dan mengikuti kedua temannya mulai berdoa. Mendengar penjelasan Soojung di telepon tadi, yang bisa membantu Nyonya Bae saat ini hanyalah yang di atas. ‘Suzy kau harus tabah!’

Waktu terasa berjalan begitu lambat sampai terasa seperti bertahun-tahun. Suzy membuka matanya begitu pintu ruangan operasi terbuka. Ia refleks berdiri dan menghampiri dokter yang berjalan keluar ditemani Yixing dan Soojung.

“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mengatasi pendarahan di otaknya. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah berdoa agar Nyonya Bae dapat melewati masa kritisnya.”

Dokter itu lalu berlalu setelah berkata begitu. Meninggalkan Suzy yang merasa tubuhnya lemas seketika. Tidak ada kepastian tentang kondisi ibunya.

“Soojung-a aku ingin mati saja.”

“Bae Suzy! Kau bicara apa sih?” Pekik Soojung kesal karena ocehan Suzy yang tidak masuk di akal.

“Kalau sampai sesuatu terjadi pada ibu—“

Ani! Kau harus berpikir positif!” Bentak Yixing yang ikut panik karena keadaan Nyonya Bae dan tingkah Suzy yang aneh-aneh.

“Suzy-a, lebih baik kau istirahat dulu.” Bujuk Soojung semakin cemas melihat wajah pucat Suzy. Ia memberi kode ke arah Yixing untuk pergi membeli sesuatu yang bisa dimakan.

Suzy menggeleng. “Aku ingin melihat Eomma.” Lirihnya. Soojung mengangguk paham dan membantu Suzy berdiri lalu menuntunnya ke arah ruang ICU.

Suzy merasakan dadanya perih melihat ibunya terbaring dengan berbagai macam selang menancap masuk ke tubuhnya. Bunyi alat ECG membuat Suzy merasa sedikit merinding dan berfirasat buruk. Ia tak pernah menyangka bisa berada di ruangan yang biasanya ia lihat di drama.

Sedikit memaksakan senyuman, Suzy berjalan mendekati ranjang ibunya. Ia menggenggam tangan kanan ibunya sambil tersenyum sedih. Ia memejamkan matanya dan mulai bermonolog.

Eomma jangan sakit. Aku sayang padamu. Aku janji tidak akan membuatmu kesal lagi. Aku akan jadi seperti Yixing, Eomma. Aku akan setulus Soojung. Aku akan membantumu di tenda, asal kau bangun Eomma. Eomma bogoshipo…’

Suzy kembali membuka matanya dan tersenyum. Ia hendak melepaskan tangan ibunya saat jemari wanita paruh baya itu bergerak pelan.

“Su..zy,”

Eomma! Eomma, istirahat dulu biar ku—“

“Suzy, uri dal, penuhi janjimu pada Eomma. Buka laci di lemari Eomma dan —“ (dal=putri)

Ani Eomma! Eomma kau harus bertahan aku akan panggil dokter!” Suzy tak mau medengar ibunya. Ia takut itu akan menjadi kata-kata terakhir dari ibunya.

Uri dal, mianhae, saranghae,

Dan benar saja. Firasat Suzy menjadi kenyataan. Tiba-tiba alat ECG berbunyi statis dan garis naik turun di layarnya berubah menjadi lurus. Segalanya berlangsung tiba-tiba saat itu. Pintu ruang ICU yang mendadak terbuka dengan beberapa orang dokter dan perawat dan Yixing serta Soojung yang menariknya keluar dari ruangan.

Andwae, Eomma! Eomma! Eomma! Eomma! Nado saranghae Eomma! Eomma ireona!!!!!”

Dan Suzy merasa dunianya menjadi gelap.

***

Jum’at siang itu terlihat begitu mendung. Terlihat banyak orang berlalu lalang dengan pakaian serba hitam di rumah duka yang terdapat di Rumah Sakit Hwang Mun. Yixing nampak berjalan tergesa dengan jas hitamnya sambil membawa karangan bunga yang lalu ia letakkan di samping beberapa karangan bunga lainnya di depan ruangan duka Nyonya Bae.

Yixing mengintip sebentar dan mendapati Suzy sedang membalas hormat para pelayat lain yang merupakan teman semasa hidup Nyonya Bae. Ia memutuskan untuk masuk ke ruang makannya dan membantu Soojung juga beberapa ahjumma lain menghidangkan makanan bagi para pelayat.

“Apa dari tadi seramai ini?” bisik Yixing ke arah Soojung saat keduanya tak sengaja bertemu untuk mengeluarkan botol Soju.

Nde. Omonim orang yang baik. Jadi tak heran. Ah ya kau yang bertanggung jawab mengurus pemakaman kan?” Tanya Soojung memastikan. Yixing mengangguk sambil kembali melayani pelayat lain yang semakin ramai berdatangan meskipun di luar gerimis mulai turun.

Sementara Suzy berdiri diam di tempatnya membalas salam hormat dari para pelayat dan berusaha untuk tersenyum. Ia merasakan tubuhnya sangat kosong dan mati rasa saat ini. Sejujurnya ia sudah tidak sanggup dan ingin cepat tidur di kamar ibunya. Hanya demi menjaga kesopanan dan mempersembahkan pemakaman yang layak bagi ibunya, ia memaksakan dirinya sendiri.

Setelah rombongan kenalan ibunya di pasar dan tempaat kerja, terlihat beberapa gurunya juga teman sekolahnya. Suzy semakin mati-matian terlihat tabah. Ia tidak mau terlihat lemah di hadapan anak-anak Myung Won.

“Bae Suzy kami turut berduka”

Suzy hanya mengangguk dan tersenyum lalu mempersilahkan mereka untuk menikmati jamuan di ruangan sebelah. Untungnya di saat seperti ini ia masih memiliki Soojung dan Yixing yang mau membantunya.

***

B-Corp Building, Yeongdeungpo-gu

“… kecelakan yang terjadi di Hongdae semalam menewaskan seorang ibu berusia lima puluh tahun yang memiliki tenda makan tak jauh dari tempat kejadian. Menurut saksi, Gong Ae Yeon yang berjalan tergesa menuju minimarket tahu-tahu tertabrak pengendara Ducati 1200S yang memacu motornya dengan kecepatan penuh dan tidak melihat lampu merah. Sekali lagi…”

Kelanjutan berita itu sudah tak terdengar lagi karena layar TV plasma yang menampilkan berita itu sudah dimatikan oleh seorang pria berusia tiga puluhan yang berdiri tak jauh dari seorang nenek dengan setelan blazer berwarna biru muda.

“Apa itu benar Ae Yeon? Istri anakku?”

Nde, hwejang-nim.” Pria itu mengangguk sambil menyerahkan map berwarna putih dengan lambang B-Corp ke arah nenek yang ia panggil Hwejang-nim tadi. Ia membuka map itu dan terlihat beberapa lembar kertas seperti biodata dan CV juga beberapa foto Suzy dan ibunya.

***

Yoongi berjalan bersama Chanyeol dan Myungsoo dengan perasaan tidak enak. Setelah mendengar kejadian yang menimpa Nyonya Bae entah kenapa perasaannya jadi tidak enak. Ia merasa ini semua karena kejailan mereka semalam yang sudah keterlaluan. Ia sendiri heran kenapa Chanyeol dan Myungsoo terlihat biasa saja. Ketiganya sampai di rumah duka dan kini giliran mereka untuk menyerahkan bunga dan mendoakan almarhumah.

Selama berdoa, Yoongi merasakan pandangan tajam Suzy yang diarahkan ke arah ketiganya dan merasa semakin bersalah. Maka ketika waktunya bagi mereka untuk membungkuk hormat, Yoongi tak berani untuk melihat mata Suzy.

Yixing yang merasa firasat buruk saat melihat kedatangan tiga orang itu buru-buru berdiri di samping Suzy, takut tau-tau gadis itu histeris karena semalam saat Suzy pingsan ia meracau dan menyebut ketiga nama itu.

“Lebih baik kalian pergi dari sini,” Kata Suzy tajam membuat ketiga pria di depannya terdiam. Yoongi melirik ke arah Chanyeol dan Myungsoo lalu memberanikan diri untuk bicara lebih dulu

“Bae Suzy mianhae, kami turut berduka.” Kata Yoongi takut-takut. Dalam hati ia merutuki Chanyeol dan Myungsoo yang tak membuka mulut sama sekali.

Suzy menarik napas dalam-dalam. “Aku tidak butuh duka kalian.”

Yoongi mendecak pelan, “Tapi Bae Suzy—“

“Ini semua salah kalian! NAGARAGU!!” Suzy menjerit sambil mendorong Myungsoo yang berdiri tepat di depannya.

Soojung yang mendengar jeritan Suzy langsung berlari memeluk Suzy, menahannya agar tidak bertindak lebih jauh. Sementara Yixing dengan wajah datar, menarik ketiga pria itu keluar dari ruangan duka.

***

Pukul empat sore tepat, Suzy dan Soojung selesai menanam bibit pohon dan tempat abu milik ibu Suzy. Suzy lalu memberi kode ke arah Soojung untuk meninggalkannya dan menunggunya di mobil atau apartement. Dengan enggan Soojung meninggalkan Suzy dan mengajak Yixing yang barusan kembali dengan membawa air mineral menunggu di mobil Soojung.

Suzy duduk sambil memeluk lututnya. Matanya yang terlihat kosong terpaku pada rerumputan di hadapannya. Ia membiarkan angin musim semi yang bertiup pelan membuat rambutnya sedikit berantakan. Ia teringat perkataan ibunya dulu. ‘Musim semi adalah musim yang paling indah. Kau bisa bersahabat dengan matahari, angin, tumbuhan, dan hewan sekaligus.’

Detik itu juga Suzy merasakan setetes air matanya jatuh, lalu diikuti ribuan temannya yang lain. Ia mengeluarkan sapu tangan milik ibunya dan menangis sambil memeluk benda itu. Suzy meluapkan semua kesedihannya dengan menangis sekuat-kuatnya.

Eomma…eomma…”

Apa itu benar-benar Suzy?’ batin Myungsoo yang sudah memperhatikan Suzy sedari tadi dari jauh. Pemandangan yang ia lihat saat ini adalah pemandangan yang jarang ia lihat. Seorang Bae Suzy menangis. Diam-diam ia merasa kasihan melihat gadis itu. ‘Aku baru sadar ternyata melihatnya meledak jauh lebih baik dibanding melihatnya seperti saat ini,’

Myungsoo diam-diam menghela napas lega melihat Soojung berlari keluar dari mobilnya lalu memeluk Suzy dan ikut menangis lalu tak lama kemudian disusul oleh Yixing. Ia membalikkan wajahnya dan pergi dari tempat itu. ‘Haruskah aku minta maaf?

Gwencanha Suzy, keluarkan semuanya.” Kata Yixing lembut sambil mengusap punggung Suzy. Membiarkan gadis itu membasahi lengannya. Yixing lebih lega dan senang melihat Suzy menangis sampai meraung seperti ini dibanding diam seperti mayat hidup.

***

Suzy sudah merasa jauh lebih baik saat ini. Ia baru saja selesai mandi dengan air hangat dan kini ia sudah mengenakan piayamanya. Suzy yang malas berdebat mengiyakan saja bujukan Soojung untuk menginap di rumahnya malam ini. Dan lagi ia juga tidak ingin kembali menangis saat kembali di apartement.

“Suez ada yang mencarimu di luar,” kata Soojung yang baru kembali dari dapur untuk mengambil cokelat hangat.

Suzy yang sedang membaca koleksi komik Soojung mendongak, “Siapa?” Tanyanya penasaran. Perasaan Yixing baru saja pulan setengah jam yang lalu.

Molla, ppali nawa.”

Suzy pun keluar menuju ruang tengah dengan wajah bingung. Ia menuruni tangga melingkar dan sampai di ruang tengah. Di ruangan itu ada Nyonya dan Tuan Jung dan seorang nenek dengan pakaian stylish ditemani seorang pria yang menurut Suzy adalah sekretarisnya.

“Suzy, kenalkan ini Kang Hwejang-nim,” Kata Nyonya Jung sambil menarik Suzy mendekat ke arahnya dan ke arah nenek yang dipanggil Kang Hwejang-nim itu.

Suzy mengingat ajaran ibunya dengan baik dan membungkuk sembilan puluh derajat menyapa nenek di depannya yang sepertinya orang penting. “Annyeong haseyo,”

Kang Hwejang-nim tersenyum melihat Suzy. Ia berdiri dan mengelus sayang pipi kanan Suzy. “Kau benar-benar mirip dengan Sang Wook. Benar-benar aku tak perlu ragu lagi.”

Suzy sedikit terkejut saat Kang Hwejang-nim menyebut nama ayahnya. Ia mengerutkan keningnya bingung. “Bagaimana Hwejang-nim tahu nama ayahku?”

Kang Hwejang-nim menoleh dan tersenyum anggun, “Maaf bisakah anda berdua meninggalkan kami berdua sebentar?”

Tuan dan Nyonya Jung mengangguk cepat dan membungkuk hormat sebelum kembali ke kamarnya. Pria yang menurut Suzy adalah sekretaris Kang Hwejang-nim berjalan sedikit menjauh.

“Bae Suzy kenalkan aku adalah Kang Shin Ae, ibu dari Bae Sang Wook, ayahmu. Dan kau adalah cucuku sekaligus pewaris sah B-Corp.”

Mwo?! Pewaris?!”

***

Bae Sang Wook, anak kedua di keluarga Bae. Ya keluarga Bae yang itu. Pemilik bisnis keluarga B-Corp yang bergerak di berbagai bidang dan merupakan keluarga terkaya nomor lima di Asia. Sang Wook jarang sekali mengikuti perintah kedua orangtuanya. Ia selalu dibela oleh kakak pertamanya, Bae Il Wook. Sehingga setelah lulus SMA, dengan di back up oleh kakaknya, Sang Wook kabur dan pergi ke Jerman mengambil jurusan arsitektur. Sang Wook kembali ke Korea dan akhirnya dimaafkan karena ternyata kemampuannya malah membantu bisnis keluarga di bidang perhotelan dan properti.

Sang Wook jatuh cinta pada Gong Ae Yeon, wanita blasteran Korea-China sederhana penjaga perpustakaan di daerah Gangnam. Keduanya menikah bahkan tanpa restu dari keluarga Bae. Sang Wook memutuskan kabur dari keluarga Bae dan hidup mandiri. Bae Il Wook yang dilarang untuk membantu Sang Wook tidak bisa berbuat apa-apa. Sang Wook tidak pernah mau kembali ke keluarga Bae, meskipun saat Suzy lahir sikap kedua orang tuanya melunak. Karena meskipun ada Suzy, kedua orang tuanya tidak bisa menerima Ae Yeon yang hanya anak yatim piatu tanpa kejelasan asal usul.

***

“Wow.”

Hanya satu kata itu yang terus keluar dari mulut Soojung begitu dua jam kemudian Suzy kembali ke kamar Soojung dan menceritakan kisah keluarganya. Teka-teki tentang keluarga ayahnya yang sama sekali tidak ia ketahui kini terjawab.

“Kang Hweja— ani Halmeoni memaksaku untuk pindah ke rumahnya besok.” Kata Suzy sambil memeluk kedua lututnya. Perasaannya terasa aneh saat ini. Entah senang atau sedih ia tidak tahu. Ia baru saja berhasil mengikhlaskan ibunya dan tiba-tiba kabar mengejutkan lain datang.

“Kau harusnya senang Suez, setidaknya kau tidak sebatang kara di dunia ini dan masa depanmu terjamin.” Kata Soojung positif.

Suzy mendengus, “Terkekang sih iya. Halmeoni dengan jelas tadi menekankan bahwa sebagai anak ayahku aku akan mewarisi bisnis perhotelan B-Corp. Sehingga sepertinya hidupku mulai saat ini akan tertata menuju itu.”

“Jangan skeptis begitu dong. Toh kau juga tidak tahu kan impianmu apa? Yang penting bagi Bae Suzy adalah lulus, bekerja, dan membahagiakan keluarga.” Kata Soojung membuat Suzy tertegun.

Malam itu hal yang paling Suzy ingat adalah ketika Soojung menggenggam tangannya dan berkata, “Being a part of High Society is not that bad. What make you a person is yourself. Don’t blame the society or environment or family. Arra?”

***

Suzy sedikit kaget melihat di depan rumah Soojung terparkir sedan BMW seri 7 seperti milik Soojung dan kebanyakan siswa lain di Myung Won yang siap menjemputnya. Seorang Ahjussi berseragam sopir yang mengenalkan diri sebagai Kwon Ahjussi dan Sekretaris Lee (pria yang kemarin datang bersama Halmeoni) berdiri di sisi mobil.

“Soojung aku duluan ya, sampaikan salamku pada Omonomim dan Abeonim,” kata Suzy sambil melambai ke arah Soojung dan mengikuti Sekretaris Lee memasuki mobil.

Hwejang-nim memerintahkan untuk mengantar anda langsung ke mansion Miss, karena semua barang anda dan almarhumah ibu anda sudah di­pack dan ada di mansion.” Kata Sekretaris Lee sambil menyerahkan kembali kunci apartement lama Suzy yang semalam diminta.

Suzy hanya mengangguk dan mengeluarkan ponselnya. Ia membuka flip ponselnya dan mengirim pesan ke Yixing untuk segera datang ke rumah barunya dua jam lagi. Setelah pemberitahuan bahwa pesannya telah terkirim, Suzy kembali memperhatikan jalanan menuju mansion keluarga Bae yang terletak di kawasan vila di daerah Cheongdamdong.

Suzy mendengus pelan melihat mobil yang ia tumpangi sudah memasuki kawasan perumahan neneknya. Saat kecil Suzy selalu ingin bisa seperti putri dan tinggal di istana. Namun, seiring berjalannya waktu ia tidak lagi menginginkan hal itu. Sejak ayahnya meninggal Suzy merasa bahwa dunia yang sebenarnya tidak sesimpel dunia yang ada dalam bayangannya dan dalam cerita dongeng. Sejak saat itu keinginan Suzy adalah cepat kerja dan membantu ibunya yang sepertinya tak pernah lelah untuk bekerja.

“Kita sudah sampai Miss,” suara Sekretaris Lee menyadarkan Suzy dari lamunannya.

“Panggil aku Suzy saja atau Suez,” Kata Suzy lalu menoleh ke jendela dan melihat sebuah gerbang kayu yang sangat besar terbuka, memperlihatkan rumah besar seperti istana berwarna krem di dalamnya. Suzy tanpa sadar menelan ludahnya melihat jalan masuk berbatu yang begitu panjang. Ia juga terpukau melihat taman yang ada di situ. ‘Kalau Eomma di sini ia pasti akan senang melihat kebun bunga mini ini.’

Mobil berhenti tepat di samping air mancur yang terletak di depan pintu kayu ‘raksasa’ yang menurut Suzy adalah pintu utama. Kwon Ahjussi keluar mobil dengan cepat dan membukakan pintu untuk Suzy, membuat gadis itu merasa tidak enak. “Terimakasih,”

Suzy lalu mengikuti Sekretaris Lee masuk ke dalam rumah dan kembali tercengang melihat interior di dalam mansion itu. Mansion milik neneknya tidak terlihat kuno seperti yang ia bayangkan. Mansion ini terlihat modern dan benar-benar seperti apa yang Suzy sering lihat di majalah di kamar Soojung.

Keduanya sampai di lantai atas dan Sekretaris Lee langsung menyerahkan sebuah kunci lagi ke arah Suzy saat keduanya berhenti di depan sebuah pintu kayu yang sepertinya akan menjadi kamar Suzy nantinya.

“Ini kamarmu Suzy, sekarang istirahatlah. Karena malam nanti kau akan diperkenalkan ke seluruh keluarga.” Kata Sekretaris Lee sambil tersenyum dan membungkuk ke arah Suzy lalu meninggalkan gadis itu.

Suzy memutar kenop pintu kamarnya dan sekali lagi tercengang melihat ruangan yang luasnya tiga kali kamarnya di apartement. Ruangan yang akan menjadi kamar Suzy seperti terdiri dari dua bagian. Karena bagian belakang yang berisi ranjang Suzy lebih tinggi lima anak tangga dari bagian depan. Bagian depan sendiri lebih seperti ruang santai karena terdapat rak buku dan beberapa sofa serta TV dan komputer.

Mata awas Suzy menangkap tiga kotak kardus dan dua koper di sudut ruangan. Gadis itu segera bergegas mendekati barang-barang dari apartement lamanya. “Ternyata barang berhargaku hanya sebanyak tiga kardus,” gumamnya dengan nada sarkas seperti biasa.

Suzy mengecek kardus itu satu persatu dan tersenyum tipis melihat barang-barangnya. Air matanya kembali meleleh saat menemukan barang-barang kesayangan ibunya dan album foto. Ia menghapus air matanya cepat dan menarik napas dalam-dalam lalu kembali membongkar isi kardus itu.

Ige..

Suzy menepis debu dari permukaan buku tebal bersampul cokelat yang terletak di dasar kardus cepat dan merasakan detak jantungnya meningkat. ‘Apa mungkin ini diary?’

Pertanyaannya terjawab saat ia membuka halaman demi halaman buku itu. Tulisan tangan ibunya memenuhi lembaran-lembaran buku tua itu.

***

Soojung sedang menunggu supirnya datang di depan sebuah mall saat seorang anak kecil menghampirinya dengan setumpuk koran. Anak kecil itu terlihat polos sekali saat menawarkan korannya ke arah Soojung, membuat Soojung merasa tersentuh.

Nuna, mau beli koran?” Tanya anak kecil itu sambil sesekali mengelap peluh yang berjatuhan di keningnya.

Soojung menatap iba anak kecil di depannya dan berjongkok, “Semuanya berapa?” Tanya Soojung sambil mengeluarkan dompetnya.

Nuna mau beli semua?” Tanya anak kecil itu semangat sambil mulai menghitung koran yang ada di tangannya.

“Kalau semuanya laku biasanya kau dapat berapa?”

“Dapat tujuh puluh ribu won,”

Soojung tersenyum dan mengeluarkan tiga lembar uang seratus ribu won. “Ini ambil semua, jangan dipakai untuk beli mainan ya, beli roti. Arra?”

Nde! Gamsahamnida nuna!!” Seru anak kecil itu semangat dan menyerahkan koran-korannya ke arah Soojung. Soojung tersenyum melihat anak kecil itu membungkuk hormat dan langsung menuju ke penjual kimbap.

“Lalu sekarang apa kau akan membuang koran itu?”

Soojung hampir saja menjatuhkan koran-koran yang ia pegang karena terkejut mendengar suara familiar di belakangnya. Ia membalikkan badannya dan mendapati Park Chanyeol. Refleks Soojung mundur beberapa langkah dan memasang wajah jutek yang jarang sekali terlihat di wajah cantiknya. Sebelumnya, Soojung merasa biasa saja terhadap Chanyeol meskipun pria itu sering mematahkan hati para yeoja sebelumnya. Hanya saja kejadian yang merenggut nyawa Nyonya Bae membuat Soojung tidak bisa tidak benci melihat Chanyeol.

“Bukan urusanmu,” serunya tajam sambil berjalan mendekati petugas keamanan. Ia menyerahkan koran-koran itu ke setiap petugas keamanan sambil tersenyum.

Chenyeol mengerutkan keningnya tidak suka saat melihat Soojung mengacuhkannya. Ia mendekati lagi gadis itu. “Tetap saja tidak akan habis,” Sesuatu dalam dirinya merasa tidak terima melihat perlakuan Soojung yang jutek dan mengacuhkan dirinya yang seorang kingka.

“Nyawa orang saja kau tidak peduli apalagi hanya setumpuk koran seperti ini. Jadi jangan penasaran denganku dan lanjutkan saja urusanmu.” Seru Soojung tajam lalu meninggalkan Chanyeol yang terdiam menuju mobilnya yang sudah datang.

***

“Hyunnie-a,” panggil Yoongi ke arah Joohyun yang sedang asyik berlari di atas treadmil di gym langganan mereka. Yoongi yang sedang tidak ada kerjaan memutuskan untuk menemui Joohyun dan Seulgi yang sedang berolahraga bersama di gym untuk membicarakan masalah Suzy.

Joohyun menoleh ke arah teman sejak kecilnya itu dan memasang tampang jutek, “Kalau kau hanya ingin membicarakan masalah yeoja itu lebih baik kau pulang sebelum dumbell itu melayang.”

Seulgi yang juga berada di treadmil di samping Yoongi mengangguk setuju sambil melemparkan pandangan tajamnya ke arah Yoongi.

Yoongi menarik napas panjang dan mendecak kesal. “Tidakkah kalian merasa bersalah?” Serunya kesal sambil berdiri.

“Penyebabnya bukan kita tapi pengemudi mabuk itu Yoongi!” Seru Seulgi dengan nada final. Membuat Yoongi menggertakkan giginya kesal.

“Terserahlah.”

Yoongi lalu kembali mengenakan masker hitam dan kacamatanya lalu berjalan keluar gym menuju game center yang terletak di satu gedung dengan gym itu. Menurut pesan yang ia terima dari Myungsoo tadi, temannya itu sedang berada di sana.

Yoongi sampai dan langsung menuju tempat favorit Myungsoo di bawah AC. Ia mendapati pria bermata sipit itu sedang memainkan game perang tanpa ekspresi sama sekali. Beberapa cup ramyun dan kaleng cola bersebaran di atas dan bawah meja tempat Myungsoo.

“Dua princess itu tidak merasa bersalah. Apa kau juga?” Tanya Yoongi to the point sambil memasukkan ID-nya di komputer sebelah dan mulai bermain game yang sama dengan Myungsoo.

“Ya.” Jawab Myungsoo datar membuat Yoongi terdiam. Myungsoo yang sensitif saja tidak merasa apalagi Chanyeol yang egois.

Berteman sejak kecil dengan Myungsoo dan Chanyeol membuat Yoongi tahu pasti jalan pikiran keduanya jika ia sudah mengetahui salah satu. Myungsoo yang troublemaker sebenarnya adalah anak yang sensitif. Sama seperti dirinya. Sedangkan Chanyeol, dia benar-benar seorang ‘pangeran’. Heartless. Maka saat ia mendengar jawaban Myungsoo harapannya pupus. Itu berarti tak ada satupun temannya yang merasa bersalah. Dan itu berarti ia harus minta maaf sendiri.

***

Yixing menutup buku harian milik almarhumahah Nyonya Bae. Ia sedang berada di kamar Suzy dan sudah tahu semua cerita Suzy dan keluarganya. Di sampingnya, Suzy duduk dengan mata bekas menangis sambil merapikan buku tabungan milik ibunya yang sudah disiapkan oleh almarhumah untuk kehidupan Suzy kelak kalau-kalau sesuatu terjadi.

Sejak awal Nyonya Bae telah menduganya. Ia merasa hidupnya tak akan panjang dan mulai menabung untuk Suzy. Ia juga sudah menulis surat tentang kebenaran keluarga ayah Suzy. Dan hal inilah yang membuat Suzy semakin sedih karena tak bisa berbuat banyak hal baik untuk ibunya.

­“Jadi, uhm, selamat karena kau telah menemukan keluargamu.” Kata Yixing sambil mengulurkan sebatang cokelat favorit Suzy yang ia siapkan untuk menghibur Suzy.

“Yeah, aku menemukan keluargaku dengan mengorbankan ibuku.”

“Suzy kau tahu bahwa ini semua sudah diatur oleh langit. Kau tidak salah dan bertemu dengan keluargamu bukan berarti kau mengkhianati ibumu.” Seru Yixing tajam. Di saat seperti ini Suzy butuh sekali nasihat agar tidak selalu berprasangka buruk.

“Tapi mereka membenci ibuku Yixing!”

Yixing menghela napas dan menghadap ke Suzy. “Apa yang selalu diimpikan ibumu?” Tanyanya cepat.

Suzy mengerutkan keningnya bingung. Yixing memberi kode untuk menjawab. “Hidup bahagia dan tidak memikirkan tentang uang lagi.” Jawabnya lirih. Perlahan otaknya mulai bekerja dan membuat hatinya terasa lebih ringan.

“Kau mengerti? Dengan bertemu keluargamu, ibumu sudah mewujudkan impiannya. Sekarang yang perlu kau lakukan hanya tumbuh dengan baik Suez,”

Suzy mengangguk sambil tersenyum sedih. Ia memeluk Yixing sebentar dan membisikan ucapan terimakasih.

Yixing tersenyum senang dan menepuk kepala Suzy beberapa kali. “Ah cham, apa Yoongi sudah menghubungimu?”

Gerakan tangan Suzy yang sedang membuka bungkus cokelat terhenti. “Untuk apa?” Tanyanya dingin.

“Dia hanya ingin minta maaf,”

“Hah! Mereka yang menyebabkan ibuku meninggal Yixing!”

“Kau tahu Suzy bahwa itu karena pengendara mabuk dan jika kau mau menyalahkan mereka maka salahkan dirimu juga kenapa tidak bisa memilih kimchi dengan baik”

Suzy menghela napas panjang. Ia benci fakta yang disampaikan Yixing seratus persen benar dan otaknya pun mengakui itu.

“Lihat nantilah,”

Ganti Yixing yang menghela napas panjang. Tahu betul Suzy adalah tipe keras kepala dan susah untuk dibilangin.

***

Joohyun baru saja membaringkan tubuhnya di ranjang saat ponselnya berdering. Terlihat ‘Eomma´ tertulis di ID caller. Buru-buru Joohyun mengangkat panggilan masuk itu.

Nde Eomma,

“Cepat mandi dan ganti baju. Kita akan makan malam di rumah Halmeoni. Putri dari Sang Wookie telah ditemukan.”

Jinjja? The lost princess?” Seru Joohyun kaget mendengar berita bahwa putri pamannya terlah ditemukan.

Nde. Jam lima tepat kau berangkat ya. Eomma dan Appa berangkat dari kantor.”

Klik. Sambungan terputus.

Joohyun buru-buru menuju kamar mandi dengan rasa penasaran akan siapa gerangan yang akan menjadi sepupunya sekaligus pewaris bisnis perhotelan milik B-Corp. Sejak kecil ia sudah tahu bahwa bisnis perhotelan B-Corp akan jatuh pada anak pamannya, sedangkan bisnis lainnya akan jatuh pada anak ayahnya dan anak pamannya yang lain. Dan kini ia sangat penasaran bagaimana rupa sepupunya itu? Apakah lebih cantik dari dirinya atau apakah ia kuper dan sebagiannya.

***

Suzy keluar dari kamar mandi dan memasuki ruangan pakaiannya yang bahkan lebih luas dari ruang tv-nya di apartement dulu dengan takjub. Sejak siang tadi Sekretaris Lee telah mewanti-wanti untuk memakai pakaian yang ada di ruang pakaiannya. Sehingga di sinilah dia sekarang.

Ia membuka salah satu lemari dan mendecak kagum melihat koleksi pakaian yang ada di sana. Tanpa ambil pusing, ia menarik dress simple berwarna putih selutut dengan model kimono dan meraih flatshoes putih yang terletak paling dekat dengannya.

Tak sampai lima belas menit Suzy selesai dengan pakaian dan dan rambutnya. Ia lalu berjalan keluar dan mendapati Sekretaris Lee sudah berada di depan kamarnya sambil tersenyum ramah. “Kau terlihat cantik Suez,”

Suzy terkekeh, “Pengaruh pakaian.”

Keduanya lalu berjalan menuju tangga. Suzy dapat mendengar percakapan ramai dari ruang tengah dan seketika jantungnya berdegup semakin cepat. Sekretaris Lee menepuk pundak Suzy beberapa kali lalu memberi kode untuk menunggu di tempat Suzy berdiri sebentar sebelum turun ke ruang tengah.

Suzy bisa melihat dan mendengar Sekretaris Lee yang berdeham di mulut tangga dan suasana menjadi hening seketika. “Dan, here come, putri tunggal almarhum Bae Sang Wook sekaligus pewaris sah bisnis perhotelan dari B-Corp,”

Suzy merasa ini saatnya dia turun. Dengan detak jantung meningkat dan keringat dingin, Suzy menuruni tangga itu perlahan dan akhirnya sampai di ruang tengah.

What the heck, Bae Suzy?!”

Pekikan familiar itu membuat Suzy menoleh dan tercengang kaget melihat snob princess Myung Won, Bae Joohyun sedang duduk di sofa di ruang tengah.

“Bae Joohyun?!” Pekiknya tak kalah kaget.

To be continued…

 


Hai! Aku lagi mood banget nih buat ngelanjutin fanfic ini hehehe😀 Thanks buat my readers yang udah komen dan menyemangati aku^^

Sebagai author aku butuh banget komen kalian sebagai vitamin dan penyemangat wkwk, jadi ayo dong komen hehe😀 Entah deh mungkin kalau masih banyak yang siders aku bakal ngeprotect beberapa chapter😦

So kasih tau aku kalau ada sesuatu yang mengganjal dan janggal dalam ff ini demi kebaikan dan kelancaran ff ini nantinya😀

 

155 responses to “[Chapter-2] High Society

  1. ku suka ff mu ini! ^^ good thor udh buat banjir mataku! wkwkwk ku harap konfliknya makin seru yawww dan momen2 dr msing2 kopel nya jugaaa wkwk semangat thorrrr

  2. suka suka sama ceritanya, hahaha joohyun saudaraan sama suzy, aaaah penasaran sama moment chanyeol soojung hahaha

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s