[Ficlet] Hadiah Tuhan

xianara presents

hadiah

starring Miss A Bae Suzy and INFINITE Kim Myungsoo  genre Alternate-Universe, Angst, Family-life, Sad  length ficlet  rating general

WARNING!! Twisting-age and twisting-plot. Please, don’t expect too much when you read this description or you will be disappointed and turn out to put blame on writer.

Beside the poster and story-line I own nothing.

JUNE, 2015©

‘Hadiah Tuhan yang satu ini tentu adalah hadiah terbaik yang pernah dimiliki oleh Myungsoo, sampai kapan pun itu.’

Happy Reading!

“Ayah!! Bisa ke sini sebentar? Kumohon?”

Seruan seorang yang sarat akan keceriaan mampir di telinga Myungsoo. Sontak membuyarkan fokus bapak muda itu kepada daun bunga dari kembang sepatu yang dijajahnya di sebuah taman kota di sentral kota London.

Myungsoo menghampir putri satu-satunya itu yang nampak ceria bermain ayunan seorang diri. Senyuman selebar dam yang pernah dia tangani proses perbaikannya di Rotterdam terpampang dengan lucu di atas bibir gadis kecilnya.

“Ayah, ayunanku berhenti. Bisa tolong dorong aku?”

“Dengan senang hati, Suzy.”

Tak lupa, Myungsoo mengacak pelan rambut bergelombang sebahu milik Suzy – gadis kecil lucu yang bercokol di atas ayunan – dan segera beralih ke belakang si gadis dan mulai mengayunkan rantai yang menahan papan besi yang diduduki si anak.

Ayunan berwarna biru langit itu pun terbang ke atas. Suzy kecil merasa senang bukan main. Pasalnya, sensasi seperti memiliki sayap di punggung layaknya burung itu pun dirasakan olehnya. Angin membawanya terbang menuju ke angkasa, pikirnya. Begitu juga dengan ayunan yang ditumpanginya ini. Kelak, jika ia punya kekuatan lebih ia akan menyambangi langit tertinggi, menyusul Sang Cahaya yang telah mendahuluinya.

“Bagaimana perasaanmu? Senang?”

“Sangat senang, Yah!! Aku seperti sailor moon bersayap!”

Myungsoo tidak dapat menyembunyikan senyuman akan tutur kata si gadis kecil yang kelewat bahagia. Perasaan sejuk pun merayapi relung pria Korea itu. Sesaat, dia pun menaruh jeda pada ayunan yang terombang-ambing itu. Sontak membuat sang gadis kecil merasa bertanya-tanya dan menoleh ke belakang.

“Ayah, “

Myungsoo menunduk dan masih tersenyum, “iya, Sayang?”

“Mengapa ayunannya berhenti? Apakah aku sudah terlalu berat sehingga angin sudah tidak bisa mengayunku?”

“Bukan-bukan seperti itu.”

“Lalu apa?”

Kenangan.

Semua yang ada di taman kota ini adalah bagian dari kenangan yang sudah tertancap secara permanen di dalam kalbu pria itu. Kenangan itu bermuara pada satu sosok yang absen eksistensinya di antara mereka. Satuan zat yang dipenuhi Alkali; sang penetralisir; cahaya mereka; ibu; mendiang istri.

Sebagai seorang pria, dia pantang menunjukkan kesedihan secara eksplisit. Segala cacat harus tertutupi dengan baik. Bahkan, tak boleh ada kekurangan sedikit pun. Meski dirinya merasa rapuh sekali pun, hal itu tidak boleh sampai dicium oleh putrinya sendiri. Sebagai orangtua tunggal, diirinya harus ekstra kuat dalam menghadapi segala hal. Termasuk mengambil alih peran fundamental seorang ibu yang kini harus diembannya.

“Ah, tidak apa-apa.”

Myungsoo lantas berpindah diri hingga berjongkok di depan sang gadis. Dia pun membelai wajah sang anak penuh sayang. Senyuman itu kembali merekah di atas bibir tipisnya. Menandakan betapa senangnya dia mendapatkan seorang malaikat di sampingnya. Vitamin dalam hidupnya. Cahaya dunianya. Putri satu-satunya.

“Mau makan es krim?”

Sang anak mengangguk senang lantas segera meloncat dari papan ayunan dan memeluk leher Myungsoo erat. Sebuah kecupan manis pun mendarat dengan kilat di atas pipi Myungsoo. Ayah muda dan keren itu mengamati sepasang soca cokelat bening sang gadis. Bahkan, dia pun mewarisi manik penuh magismu. Myungsoo balas mengecup pipi Suzy.

Hadiah Tuhan yang satu ini tentu adalah hadiah terbaik yang pernah dimiliki oleh Myungsoo, sampai kapan pun itu. Senyum polos yang setiap hari ditawarkan Suzy kepada Myungsoo adalah penawar dari segala racun kehidupan yang kian memberatinya, tawa renyahnya adalah mukjizat terindah dari Tuhan, semua hal yang ada pada diri putrinya itu adalah bagian dari  penyembuh mujarab yang menyegel segala pedih yang membebat Myungsoo selama ini.

Oleh karena itu, sefrustasinya seorang Kim Myungsoo ketika menghadapi pekerjaan yang menuntunya, dia akan segera beralih fokus kepada Suzy yang selalu ada untuknya. Ketika depresi mulai mengendap-endap untuk mengunci hari-hari pria itu, dia akan segera bermain dengan gadis kecilnya yang selalu ceria. Kehadirannya benar-benar berkah tersendiri. Bahkan di saat dia kehilangan Cahayanya, Suzy menggenggam erat jemarinya. Wajah kecil itu sembab parah melebihi Myungsoo sendiri namun cercah senyum itu seolah tak luput dari bibirnya. Meski saat itu usianya baru menginjak tahun ke-8.

“Suzy mau es krim rasa cokelat dan vanilla!! Taburannya choco-chip-nya harus banyak, Yah!”

Myungsoo kembali pada jembatan di atas realita yang harus dititinya bersama Suzy. Jemarinya yang kokoh membelai pipi bulat itu penuh kasih sayang.

“Baik! Ayo kita pesan satu bucket besar es krim rasa cokelat dan vanilla lengkap dengan taburan choco-chip dan saus strawberry!”

Suzy tersenyum senang. Rambutnya yang bergelombang ikut bergerak ke sana-ke mari.

“Ayo ke kedai es krim Paman Robert sekarang! Sebelum kehabisan!!”

Myungsoo menggandeng jemari mungil itu, membawanya ke dalam selter ternyamannya di dunia. Jalan setapak di tengah aliansi kembang sepatu dan dandelion yang menguar di kedua sisi jalan mengucapkan kata perpisahan sekalian harapan agar mereka kembali bertandang ke taman. Kepada Suzy yang berjalan dengan riang di sisi Myungsoo, pria itu menghanturkan seulas senyuman hangat yang selama ini tak kunjung luntur dari atas wajahnya.

“Ah, jangan lupa beli es krim rasa strawberry dengan saus cokelat juga, Yah!  Es krim favorit ibu. Hari ini, kita belum mengunjunginya, ‘kan?”

“Siap, Tuan Puteri!”

“Okay, Kapten!” balas Suzy tak mau kalah sampai dia pun terkikik geli. “Aku rindu dengan ibu setiap hari, masa. Kalau Ayah sendiri, bagaimana?”

“Tidak…”

“Ayah?!!?”

“Ibu ‘kan selalu berada di samping kita. Selama ini, dia juga ada di samping Suzy, menjaga Suzy ketika bermain dan belajar. Bahkan menemani Suzy kala terlelap. Tapi, sejujurnya ayah selalu merindukan ibumu. Meskipun dia berada di samping ayah sekalipun….”

***

***

“For My Sweetest Wife above there, we miss you more than summer haze. Your presence was the most influential virus that sweetening our bitter and blank space. Our daughter has the most gorgeous smile as well as you, even more. You must be happy up there. As the time flies like an arrow, we’re not going to leave memories over you behind. We keep it in our deepest heart. Your morning sunrise smile likes our reminiscence to keep our pace. My Wife, Mother of our daughter, your remnant is never falling away from our breaths. Thanks for everything, we love you, eternally.”

***

***

TAMAT.

6/16/2015 10:54 PM

a/n

huweeeee, maaf, ya kalau feel-nya kurang atau malah gak ada sama sekali T_T but i wrote with full of heart in every characters,lho. 

lalu, saya juga ucapkan selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan! Mari berbenah diri di bulan suci ini agar bisa menjadi lebih baik di sebelas bulan ke depan.

Saya pribadi atas nama xianara, mohon dibukakan pintu maaf selebar-lebarnya atas segala kealahan saya baik dalam tutur kata ataupun attitude ketika bercengkerama dengan teman-teman sekalian🙂

Fighting untuk ibadahnya, teman-teman😀

Dan bagi yang tidak menjalankan, ayo kita bersama-sama memupuk kebaikan dan tetap semangat, ya!😀

46 responses to “[Ficlet] Hadiah Tuhan

  1. Sedih sumpah huaaaaaaa
    Suzy udah meninggal, dia ninggalin suzy kecil dan suaminya myung huaaaaa
    Fellnya dpt bangetttt

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s