Deserve It — Prequel

unnamed

Deserve It

flcevtp

Kim Myungsoo — Bae Suzy

Daily — Hurt/Comfort

PreviouslyLove Me Right

— 100% Kim Myungsoo’s point of view —

Disinilah aku, merenungkan hujatan yang kuterima dari orangtuaku. Aku tidak tahu aku ini sebenarnya lelaki bodoh, pintar, atau keduanya. Menjalin cinta dengan asistenku sendiri? Memang kasus itu tidak dilanda padaku saja. Tetapi disini aku sudah berstatus ‘bertunangan’. Bertunangan dengan wanita bermarga Jung yang sama sekali aku tak kenali dan sama sekali tak ada perasaan ‘menggebu-gebu’ berdekatan dengannya. Mungkin perasaan ‘menggebu-gebu’ untuk segera menghapus bersih statusku disini.

Asistenku ini bermarga Bae memiliki paras, tingkah laku, sifat, dan lainnya yang sangat amat jauh berbeda dari si Jung itu. Si Bae bertingkah laku yang termasuk jenis dork kalau bahasa kerennya. Tak ada kata jaim untuk si Bae ini. Jadi itulah satu dari ribuan alasan mengapa aku lebih memilih si Bae.

Si Bae bukan wanita tipikal yang biasa dibilang murahan, melainkan sebaliknya. Kalian tak tahu seberapa beratnya aku mengejar si asistenku ini. Jarang-jarang direktur sepertiku mencurahkan segala usaha hanya untuk merebut hati sang bawahan. Tapi jujur, mengejarnya seperti aku bawahannya dan dia atasanku.

Dari semua teori dan ilmu praktek yang kupelajari tiap saat untuk merebut hatinya, hanya 1 ilmu yang membuatnya luluh dan bodohnya aku yang baru menyadarinya setelah hampir 3 tahun berusaha. Menyumbangkan seluruh boneka–eh, boneka dari bawahan atau penggemar— ke panti asuhan. Kalian tahu apa yang dia lakukan setelah aku menyumbangkan boneka itu? Dia memelukku erat dan menitikkan air mata! Konyol bukan? Padahal sebelumnya aku selalu membelikannya barang-barang baru dengan harga yang tentunya membuat terkejut ibuku melihat transaksiku selama aku mengejarnya. Aku yang mengingatnya masih merasa jengkel saat itu.

Setelah kejadian konyol itu, akhirnya kami mulai mengalami kemajuan. Pulang kantor bersama, makan malam bersama, mengantar jemputnya bekerja, dan masih banyak lainnya. Lambat laun aku mulai menyatakan kembali perasaanku, dan dia menerimanya dengan seluruh hatinya. Aku bahkan menyebutkan bahwa si Bae ini adalah prioritas utama dan tanpanya aku tak bisa bertahan hidup. Well, itulah rayuan yang 80% ampuh untuk para wanita.

2 tahun aku menjalin kasih dengan si Bae, mulailah datangnya para kerikil dan bebatuan. Si Jung datang ke kehidupanku dengan alasan dirinya dijodohkan dengan si Kim — diriku ini. Dan supporter sejatinya adalah orangtuaku. Bang!

Lalu datang lagi pria yang malangnya bermarga sama denganku, Kim. Si Kim ini datang dengan alasan ingin melindungi kekasihku. Dia mengatakan kalau aku ini pria yang suka membohongi wanita – siapapun itu. Bruh, yang ada justru akulah yang melindunginya darimu!

Lama-kelamaan apa yang dituduh si Kim itu benar. Karena perjodohan yang terus dilakukan oleh orangtuaku dan orangtua si Jung jelek itu. Aku tidak mau mengakhiri hubunganku dengan Bae. Aku juga tidak mau membohonginya apalagi menyakitinya. Tetapi sang lucifer memberiku bisikan untuk membohongi Bae, dan bodohnya aku menurutinya.

Selama hampir 6 bulan aku terus membohongi dan mulai menjauhi Bae. Kalian dan diriku tentunya tahu jika itu sama sekali bukan keinginanku. Justru aku ingin jujur dan terus bersama Bae. Malah sekarang aku harus menjalin hubungan palsu dengan si Jung.

Kukira perjodohan ini akan gagal seperti perjodohanku sebelumnya sehingga aku berpikiran untuk mencoba menjalani perjodohan ini. Sialnya aku membuat si Jung ini memberi perasaan yang lebih padaku. Dan orangtuaku dan Jung baru saja mencari hari–istilahnya–untuk melangsungkan saja pernikahanku dengan Jung.

Kalian tidak tahu perasaanku yang berkecamuk. Aku sudah memberi usaha yang kulakukan selama 3 tahun hanya untuk mendapatkan hatinya. Sekarang orangtuaku malah menghancurkan semua usaha dan rencanaku. Shit.

Aku tidak mau langsung menuruti saja. Hari itu saat aku dan keluargaku sendiri sedang makan malam di rumah. Orangtuaku terus memberi senyum bahagia dan tertawa memikirkan bagaimana nanti aku dan si Jung saat pernikahan. Jika mereka ingin tahu jawaban sebenarnya, bisa saja aku menjawabnya aku akan memuntahkan semua isi perutku di depan Jung. Atau mungkin melarikan diri dari pernikahan nantinya.

Kupikir daripada aku melakukan jawaban tadi lebih baik aku jujur saja jika aku sudah berpacaran dengan Bae, si asisten direktur atau bisa dibilang si asistenku. Perjodohan ku sebelumnya selalu gagal karena aku selalu berasalan kalau aku ingin mencari sesuai hatiku, dan orangtuaku selalu mengiyakan.

Di saat mereka sedang tertawa geli akan pemikiran mereka, aku langsung menceritakan aku sudah memiliki perasaan dengan wanita lain bahkan aku sudah memilikinya. Reaksi pertama orangtuaku hanya menatapku bingung. Lalu saat mereka menanyakan siapa wanita itu dan aku menjawab kalau wanita itu adalah asistenku sendiri, ayahku langsung memberiku ekspresi marah — yang belum pernah aku lihat, dan mungkin ini lebih parah dari ekspresi marahnya dulu.

Kau tahu?! Asistenmu itu dari kantor kita sendiri! Ayah sebagai pemilik kantor kita dan kau direkturnya, dan si Suzy orang kampung itu bawahan kita. Jika kantor kita memiliki rumor konyol itu, dimana ayah harus menaruh muka?!”

Lalu kau ingin membatalkan pernikahan ini dengan Krystal?! Apa alasan yang harus kuberitahu? Kau pikir mudah membatalkan pernikahan ini? Krystal sudah mencintaimu dan kau menyia-nyiakannya? Bodoh!”

Paras Krystal lebih cantik daripada si kampung itu! Krystal itu sudah memenuhi kriteria istri yang baik bagimu. Kau pikir penjelasanmu akan langsung membatali pernikahan ini? Jangan berani-beraninya kau berharap!”

Setelah kemarahan itu ayahku memberi hujatan-hujatan yang sebaiknya tidak usah kuceritakan. Yang pasti hujatan itu lebih membuat telinga perih dan memberi ribuan sayatan di hati. Malah dia mengancamku jika aku masih berupaya untuk membatalkan pernikahan ini, aku akan dicoret dari keluargaku atau mungkin ayahku akan membunuhku sekarang juga.

Disinilah aku, merenungkan hujatan orangtuaku dan kelakuanku yang menyakiti Suzy–si Bae itu. Aku memang menganggap Suzy itu prioritas paling utama bahkan aku memberitahunya bila tanpanya aku tidak bisa bertahan hidup.  Tetapi logikanya bila aku lebih mementingkan Suzy daripada orangtuaku sendiri, mungkin selama sisa hidupku aku dicap sebagai anak durhaka. Salahkan hatiku ini yang jatuh kepada Suzy dan sang lucifer yang memberi ide bodoh.

Kebesokkanya adalah anniversary ku dengan Suzy yang genap 3 tahun. Ayahku tadi pagi memaksaku untuk mengakhiri hubunganku dengan Suzy. Aku tahu itu berat baginya dan amat sangat berat bagiku. Genapnya 3 tahun bukannya aku merayakannya dengan bahagia, malah aku harus mengakhiri hubungan ini. Aku mengajak Suzy ke sebuah taman lalu mulai menceritakan yang menjurus ke arah untuk mengakhiri hubungan kami. Fortunately, Suzy malah menyetujui untuk mengakhiri segera hubungan kami. Kulihat wajah Suzy biasa saja saat itu. Malah dia langsung memberanikan diri untuk memberiku pelukan terakhir kalinya dan langsung pergi tanpa ucapan selamat tinggal dari mulutnya.

Itu terakhir kalinya aku melihat Suzy. Setelah kejadian itu dirinya mengajukan permohonan untuk mengundurkan diri dari jabatannya. Tanpa meminta tanda tanganku, dia langsung menghilangkan dirinya. Bodohnya aku tidak tahu alamat apartment Suzy sampai saat ini. Aku memang hampir selalu mengantarnya pulang, tetapi dia selalu memintaku untuk turun di pinggir jalan. Kutanya alasannya, dia selalu mengalihkan topik pembicaraan.

Hari pernikahanku hampir tiba dan aku mulai menyebar undangan. Aku tentu ingin Suzy mendatangi pernikahanku. Mungkin kalau bisa Suzy yang menggantikan posisi Krystal. Aku tidak tahu aku harus menitip siapa undangan ini. Hingga terbesat pikiranku untuk menitip ke pria Kim itu. Saat aku memberi undangan itu ke pria ini, wajahnya memberikan smirk padaku. Aku tidak tahu maksud dari wajahnya. Dia langsung memalingkan wajahnya dan tertawa kecil, lalu pergi meninggalkanku.

Hari berganti hari pernikahan bodoh itu akan segera dilaksanakan. Selalu aku memohon kepada yang di atas untuk mendatangkan Suzy ke pernikahanku. Dan saat hari pernikahanku tiba, aku tidak bisa kemana-mana lagi. Ayahku selalu mengikutiku kemana saja kupergi–kecuali ke toilet–. Disitu aku hanya pasrah melihat kelakuan ayahku yang sepertinya aku ini seorang maling tingkat kakap.

Aku selalu melihat ke arah pintu masuk berharap untuk melihat Suzy disini. Tetapi kini aku malah melihat pria Kim itu datang dengan pakaian yang tidak rapi, lalu menghampiriku yang ada di panggung disini bersama Krystal dengan ekspresi marah. Dia meraih kerah kemejaku dan menonjok wajahku.

“Dasar pria brengsek!”seru si Kim.

Perlakuannya mendapat reaksi kaget dari semua tamu. Si Kim langsung lari keluar dari tempat pernikahanku. Ku lihat darah mulai mengucur dari hidungku yang lalu segera dilap oleh Krystal dengan punggung tangannya. Seakan tonjokannya itu menyetrum otakku yang sekarang dalam keadaan bingung.

Kurasa tonjokan itu memang pantas untukku.

FIN

a/n: masih ada lanjutannya. Mohon ditunggu🙂

48 responses to “Deserve It — Prequel

  1. masih gantung…apa yang terjadism suzy….gmn hubungan mereka selanjutnya. ..apa myung bnr2 nyerah dapetin suzy lagi…penasaran bgt min…next.

  2. Thr other Kim, nugu???

    Apa yg tjd dgn suzy sampai si other Kim menghajar myung???

    Penasaran??? Sungguh! Yg lain juga???

  3. Woaah jd myung yg buat suzy begituu 8( aku salah ternyata yang sebelumnya tp kalau cowo yg dimaksd myung itu pasti kaikan😀
    Ditunggu lannjutannya ya hwaitingg😀

  4. Jadi myungsoo itu alasan suzy mau bunuh diri?
    Ya ampun.. myungsoo gak tegas bgt c. Shrusnya myungsoo lbh berjuang..
    T.T
    Jadi nanti akhirny suzy sm siapa? Kim Jongin atau ma Myungsoo?
    Atau suzy meninggal? Andwae..

  5. Pingback: All Fakeness Behind Her Pain | Kingdom of Suzy's Fanfiction·

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s