A WHITE PAPER CH 08 [I NEED A COURAGE…]

awhitepaper79

***

A White Paper

Bae Suji; Lee Jongsuk; Kim Soohyun; Kim Myungsoo; Lee Jieun; Jung Soojung; Song Jaerim; Kim Soeun II kyunita11 II genre: melodrama, romance, angst II length : chaptered

******

08

“I NEED A COURAGE…”

******

flyhigh37

Lee Jongsuk duduk dipinggir lapangan running track untuk mengamati murid-murid yang sedang menikmati istirahat makan siang. Matanya menatap sepasang siswa dan siswi yang berpakaian olahraga sedang latihan lari berdampingan. Jongsuk tersenyum kecil mengingat dirinya yang enam belas tahun lalu juga melakukan hal yang sama dengan dua murid itu.

“Sujiya…!!”

“oh! Lee Jongsuk…”

“kamu ngapain lari pas jam istirahat siang?”

“keunyang… aku pengen refreshing…”

“Yak, kalau pengen refreshing, kamu harusnya duduk dipinggir lapangan sambil makan bareng temenmu…”

Suji menoleh kearah Jongsuk sambil tersenyum menyindir, “kamu lupa? Aku kan gak punya teman…”

“…terus aku? Kamu gak nganggep aku temenmu?”

“entahlah, aku gak yakin kamu bakal betah temenan sama aku… lagipula, mungkin sebentar lagi aku akan segera pergi…”

Jongsuk menarik lengan kiri Suji untuk menghentikan laju gadis dihadapannya.

“Lagi-lagi kamu bilang mau pergi… waktu kita pertama kali bertemu tiga bulan yang lalu, kamu juga mengatakan hal yang sama… memangnya kamu mau pergi kemana, huh?” tanya Jongsuk sambil menatap mata Suji yang membulat karena terkejut.

Suji melepaskan genggaman tangan Jongsuk dari lengannya dan bertanya, “Jongsuk-ah, kamu bawa sapu tangan?”

“nggak… wae?”

“kepalaku pening… kurasa bentar lagi aku bakal mimisan…” ujar Suji sambil memayungi kepalanya dengan kedua tangannya untuk menahan terpaan sinar matahari.

Jongsuk yang tak mengerti arti ucapan Suji pun berujar, “uh?? oh!! Sujiya, kamu beneran mimisan… kok kamu bisa tau?…ah, sudahlah! ayo kuantar ke klinik…” Jongsuk menggendong Suji dengan kedua tangannya dan segera berjalan dengan cepat menuju klinik sekolah untuk mendapat pertolongan pertama.

“Jongsuk-ah…” Suji merasa malu sekali dengan tindakan Jongsuk yang menggendongnya didepan banyak murid-murid sekolah yang sedang istirahat makan siang. Mereka berbisik-bisik saat Jongsuk dan Suji melewati jalan menuju klinik.

“sudah jangan banyak bicara… nanti darahnya masuk ke mulutmu…”ujar Jongsuk sambil terus berjalan.

Didalam klinik sekolah, dokter sekolah membersihkan hidung Suji yang mimisan dan menyuruhnya untuk tidur di ranjang pasien. Jongsuk terlihat cemas menemani Suji yang berbaring di atas ranjang.

“Jongsuk-ah…” panggil Suji.

“Sujiya, kepalamu masih pusing?” tanya Jongsuk yang berwajah cemas.

Suji menggeleng pelan, “masuklah ke kelas… pelajarannya pasti sudah dimulai…”

“tapi kamu…” Jongsuk tidak tega meninggalkan Suji sendirian.

“kalau kamu gak masuk kelas sekarang, nanti aku harus pinjem buku catatan siapa, hmm?” tanya Suji sambil tersenyum kecil.

“neo.. jinjaa..” Jongsuk tak menyangka Suji masih bisa bercanda dengannya meskipun dirinya sedang sakit.

Suji tersenyum sekali lagi untuk membujuk Jongsuk agar mau kembali kekelas, “Jongsuk-ah, kamu tadi bilang kan, kalau kamu itu temenku… apa aku salah denger?”

“aa.. ani… keurae, aku ini temanmu. Aku akan membantumu dengan cara apapun, jadi sekarang aku masuk kelas dulu ya…” ujar Jongsuk

“oke… belajar yang rajin, ya?!… aku akan tanyakan semua hal yang diterangkan bu guru nanti, arraso??”

“arra… istirahatlah, Sujiya…”

Jongsuk merasakan terpaan angin siang siang hari ini membelai wajahnya. Ia tersadar dari sepenggal kisah masa lalunya yang indah bersama Suji. Sesaat kemudian Jongsuk menyadari sesuatu tentang pergelangan tangan kiri Suji.

‘back then… aku yakin gak ngeliat tanda lahir bentuk bintang di pergelangan tangan kiri Suji… apa aku salah?’ batin Jongsuk.

Belum sempat Jongsuk mengingat lagi tentang tanda lahir milik Suji, ponselnya berbunyi, id callernya adalah ketua tim keuangan drama Sky of Heaven. Dengan segera Jongsuk mengangkatnya sambil berdiri dari tempat duduknya.

“Halo, tim leader…”

“produser Lee, kami hanya ingin mengingatkan rapat dengan tim keuangan nanti siang…”

“oh, nee…”

******

awhitepaper74

Bae Suji menangkupkan kedua tangan ke pipinya untuk menghapus sisa airmatanya. Ia menegakkan tubuhnya dan bercermin di kaca besar kamar mandi dan mencoba untuk tersenyum. Setelah merasa sudah selesai cukup menghilangkan sisa airmata di wajahnya, Suji melangkah keluar dari kamar mandi. Ia tak menyangka Kim Soohyun masih menunggunya dengan menyandarkan punggung di depan tembok kamar mandi.

“Sujiya, neo, gwaenchana?”

Suji mengangguk dengan pasti, “maaf ya, aku membuat jasmu basah…”

Soohyun melirik bekas airmata Suji di jas biru mudanya, “tenang saja, ini bukan masalah besar…”

“Soohyun-shi…”

“kenapa kamu bisa tahu aku ada di ruang tangga darurat tadi?”

“ahh… entahlah… sejak aku tahu siapa diriku yang sebenarnya tadi malam, aku gak bisa berhenti mencemaskanmu… Sujiya…”

“naega? Keundae, wae?”

“hmmm… mungkin instingku empat belas tahun lalu perlahan mulai kembali…”

“maksudnya?”

“kamu pernah nonton film the hobbit kan? … entah kenapa, aku merasa seperti naga yang ratusan tahun tertidur pulas diatas tumpukan uang emas dan akhirnya terbangun karena ada sepasang kaki kecil yang berani mengusik ketenangan hatiku…”

“Soohyun-shi, aku harus mempersiapkan konferensi press… kamu selesaikanlah pemotretan poster dramanya dulu…”

“araso.. nanti aku segera menyusul ke ruang press konferensi…”

Suji mengangguk dengan mantap. Ketika ia hendak pergi, Soohyun memegang pergelangan tangan kiri Suji, “Sujiya, ucapan Jieun tadi… jangan kamu masukkan dalam hati…”

Suji hanya tersenyum ramah pada Soohyun dan melepaskan genggaman tangan Soohyun dengan lembut, “Jieun sangat menyayangi Jongsuk oppa… aku yakin Jieun tidak benar-benar bermaksud seperti yang tadi dia ucapkan padaku… jangan khawatir…”

******

Lee Jongsuk sedang menunggu di ruang meeting ABTV untuk membahas budget drama Sky of Heaven bersama tim keuangan. Sambil menunggu beberapa orang yang belum datang, Jongsuk menyalakan aplikasi streaming tv di ponselnya untuk menonton liputan press konferensi Suji dan Soohyun di Staragency mengenai kesalapahaman yang ada didalam artikel.

“saya selaku CEO Staragency, Bae Suji, meminta maaf atas semua kesalapahaman dan kekacauan yang timbul karena artikel tersebut… kami sudah meminta revisi kepada pemilik berita dan akan segera dirilis… jadi saya harap masalah ini tidak lagi diperpanjang… terima kasih…” jabar Suji dalam video.

Jongsuk menghembuskan nafas berat karena merasa kasihan pada Suji. Ia tahu Suji sudah berusaha menghubunginya puluhan kali dan mengirim sms sejak tadi pagi, tapi tak satupun telepon dan sms itu Jongsuk balas. Pikirannya sendiri sedang kacau saat ini setelah melihat Suji bertemu dengan Soohyun semalam. Kali ini, Jongsuk tak yakin bisa membantu Suji menyelesaikan masalah artikel jika hatinya sendiri merasa cemburu.

“Produser Lee Jongsuk!” seorang anggota tim keuangan menegur Jongsuk yang sedari tadi melamun.

“ne?” Jongsuk tersadar dari pikirannya.

“bisa kita mulai rapat untuk membahas budget drama Sky of Heaven?” tanya sang anggota tim.

“oh… ne… mari kita mulai…” balas Jongsuk yang mulai fokus lagi untuk bekerja.

******

Bae Suji sedang duduk di dalam ruang rapat anggota Komisaris Staragency untuk mempertanggungjawabkan artikel mengenai cinta segitiga antara dirinya, soohyun, dan jongsuk. Ia menundukkan kepalanya, mendengarkan setiap dakwaan atas dirinya yang bertindak seenaknya tanpa berkonsultasi dulu dengan lima anggota komisaris, termasuk tuan Lee Jinhyuk dan ibunya, Nyonya Bae Jonguk.

“CEO Bae Suji… anda memang pemimpin perusahaan ini, tapi seharusnya setiap tindakan anda harus dikonsultasikan terlebih dahulu kepada kami selaku lima komisaris tinggi…” ujar Tuan Lee Jinhyuk dengan nada tegas. Nyonya Bae Jonguk hanya bisa diam memandangi putrinya di sidang seperti ini.

“…kenapa anda melakukan konferensi press dan merilis artikel revisi tanpa berkonsultasi? Tindakan anda tidak hanya berdampak pada diri anda sendiri, tapi juga pada kami yang berinvestasi di Staragency. Apa anda paham? Apa pembelaan anda, nona Bae Suji?” tanya Tuan Kim yang juga anggota Komisaris.

Bae Suji menegakkan kepalanya dan menatap satu persatu wajah komisaris dihadapannya, “sebagai CEO Staragency saat ini, saya, Bae Suji, berhak mengambil keputusan dengan cepat untuk mengatasi situasi darurat seperti tadi tanpa berkonsultasi terlebih dulu… bukankah akan sangat merepotkan jika harus menunggu anda berlima hadir dan membahasnya seperti ini? Bisa jadi, ketika kita rapat sekarang, wartawan akan menambahi banyak rumor dari artikel itu dan malah membahayakan perusahaan… apa saya salah?”

Bae Jonguk pun angkat bicara, “hmm.. pikiran anda tidak salah nona Bae Suji…”

“saya pun beranggapan sama… jadi, kenapa saya harus disidang? Bukankah sebaiknya kita mulai mengambil hati para sponsor yang memutuskan kontrak dengan para artis di Staragency ini lagi? Saya yakin, anda berlima tidak ingin menanggung kerugian yang lebih banyak karena satu artikel itu, bukan?” tanya Suji lagi dengan tegas.

Sekali lagi Bae Jonguk mengangguk menanggapi ucapan Suji, “hmm.. benar…”

“baiklah kalau begitu… saya permisi dulu… saya harus mengadakan meeting lain dengan para sponsor Staragency yang ingin membatalkan kerjasama dengan kita…”

Suji pun membungkuk hormat kepada lima orang komisaris tinggi sebelum pergi meninggalkan ruang rapat.

“Nyonya Bae Jonguk, sepertinya, anakmu itu sudah mulai paham tentang tanggung jawabnya sebagai CEO… aku tak menyangka dia bisa setenang itu menghadapi situasi segawat ini…” cerca tuan Lee Jinhyuk.

“dia sudah banyak belajar, Tuan Lee Jinhyuk! Bae Suji bukan lagi gadis muda yang hanya tahu cara bermain-main… ia sudah tumbuh menjadi wanita dewasa dengan pikiran yang matang…” jawab Bae Jonguk.

Tuan Lee Jinhyuk tersenyum kecil mendengar jawaban rekannya itu, “keundae… wae? Kenapa Suji sama sekali tidak menatapmu tadi? Apa terjadi sesuatu diantara keluarga kalian? Atau mungkin dia sudah mengingat…”

Dengan cepat Bae Jonguk memotong ucapannya, “… apapun yang anda pikirkan, Tuan Lee, semua yang anda pikirkan adalah hal yang tidak benar…”

******

awhitepaper86

Istirahat makan siang di ABTV, Lee Jongsuk keluar dari ruang rapat tim keuangan drama untuk menuju kantin. Ketika akan masuk lift, bahunya di tepuk oleh Ahn Jaehyun, “Ya!! Lee Jongsuk!”

“Oh! Ahn Jaehyun! Wae yeogiseo?” tanya Lee Jongsuk yang tak menyangka akan bertemu dengan sutradara drama Sky of Heaven ini.

“aku mau ke ruang editing ABTV…neo, wae yeogiseo? Kamu sama sekali gak muncul di Staragency tadi waktu pemotretan…” cerca Jaehyun.

“ah… aku baru saja selesai rapat dengan tim keuangan drama Sky of Heaven… waeyo? Pemotretan poster dramanya berjalan lancar kan?”

“ya, lumayanlah… sepertinya Lee Jieun sedang badmood tadi, jadi aku agak sulit menemukan foto yang bagus untuk karakternya…”

“hmmm… aku akan memperingatkannya nanti untuk bersikap lebih profesional…”

“…hajima! Kurasa Jieun hanya mengkhawatirmu karena skandal cinta segitiga itu… tapi, apa masalahnya sudah selesai dengan baik? Kamu sudah baikan dengan Suji?”

Jongsuk tak bisa menjawab pertanyaan kawannya itu mengenai dirinya yang masih cemburu. Jaehyun tersenyum mengejek melihat Jongsuk yang tak mau menjawab pertanyaannya, “aigooo… kamu kan bukan anak smp lagi! Sudah hentikan rasa cemburu berlebihanmu ini, datang dan temui Suji! wajahnya gelisah sekali dari tadi pagi karena mencarimu…”

******

Kim Myungsoo masuk kedalam ruang latihan VIXX sambil membawa beberapa botol susu untuk para member yang sedang menikmati makan siang berupa salad buah. Myungsoo agak miris melihat bagaimana keenam pria muda bertalenta itu harus tersiksa tidak bisa makan nasi karena sedang dalam masa diet sebelum debut.

“Ya, Cha Hakyeon! Bagikan susu ini untuk rekan se-tim mu!”

“gomawo, myungsoo hyung!” jawab keenam anggota itu dengan kompak.

“massisoyo??” tanya myungsoo.

“mana mungkin hyung! Rasanya seperti makan rumput,hyung…” jawab Hakyeon.

“emangnya kamu pernah makan rumput? Jangan bicara macam-macam! Kalau CEO Suji tau, dia bisa aja mbatalin debut kalian…” canda myungsoo.

“myungsoo hyung, tadi manager kami memberitahukan rencana membership training di gunung taebaek dua hari lagi… hyung mau ikut?” ajak Hakyeon.

“naega? Hmm… boleh! Aku mau!” balas Myungsoo.

“yesss! Gomawo hyung! Pasti nyenengi banget bisa liburan sebelum debut kayak gini… moga aja nona Bae sering-sering ngadain membership training…”

“sudah, makan dulu! Kita lanjut latihan satu jam lagi, ya?!”

******

awhitepaper68

Bae Suji baru saja selesai rapat dengan beberapa perwakilan dari perusahaan iklan yang menjadi partner untuk melengkapi kebutuhan artis-artis dibawah naungan Staragency. Mereka berhasil dibujuk oleh Suji untuk tetap menangani artis-artis Staragency tanpa perlu khawatir dengan rumor artikel cinta segitiga antara dirinya, Jongsuk dan Kim Soohyun.

“saya harap anda menepati ucapan anda tadi nona Bae…” ujar seorang perwakilan.

“saya tidak akan mengecewakan anda, tuan-tuan dan nyonya-nyonya, terima kasih sudah hadir, mari saya antar sampai ke lift…”, janji Suji sambil menjabat tangan satu persatu perwakilan. Suji membungkuk hormat untuk melepas kepergian para perwakilan perusahaan iklan saat mereka masuk ke dalam lift.

“Hayoung-ah, laporan dari rapat tim keuangan drama Sky of Heaven dan produser Lee Jongsuk sudah kamu terima?” tanya Suji begitu mereka tiba di dalam kantor.

“sudah nona Bae, akan segera saya print…”

“aniya. Kamu istirahat makan siang dulu… kamu pasti lelah karena menemaniku rapat tadi…”

“ba.. baik, nona Bae.. saya permisi!”

Suji mengangguk kecil dan menyuruh sekretarisnya itu pergi untuk beristirahat. Setelah Hayoung menghilang dari balik tangga, Suji mengecek ponselnya untuk melihat apakah Jongsuk membalas sms-nya atau meneleponnya balik. Layar ponsel Suji hanya menampilkan wallpaper saat dirinya dan Jongsuk berfoto bersama di ayunan taman kompleks rumahnya.

“Sujiya…” sapa Soohyun begitu ia membuka pintu kantornya.

“… Soohyun-shi… ngapain kamu masih disini?” tanya Suji

“kamu sudah makan siang?” Soohyun berusaha membujuk Suji untuk istirahat.

“aku… gak lapar… masih banyak yang harus ku urus…”

“Sujiya…”

“Soohyun-shi, untuk saat ini sebaiknya kita…”

“saling menjauh karena artikel cinta segitiga itu?” tebak Soohyun

“itu… sebenarnya… aku bukan bermaksud…”

Soohyun menepuk bahu Suji dengan lembut sambil tersenyum, “arra, Sujiya. Kamu hanya gak ingin Jongsuk semakin cemburu… aku tahu kamu daritadi ngeliatin ponselmu… Jongsuk belum membalas sms-mu kan? Apa kamu mau aku yang meneleponnya?”

“hajima!” cegah Suji.

“wae? Bukannya itu maumu?” Soohyun menyentuh lembut dagu Suji, “keliatan sekali diwajahmu saat ini, kamu butuh seseorang yang bisa membuatmu baikan dengan Jongsuk…”

“Soohyun-shi…”

“tenanglah, Sujiya… walaupun sebenarnya, aku berharap bahwa hanya dengan bertemu denganku lah kamu akan berhenti menangis. Tapi kurasa saat ini berada di pelukan Jongsuk adalah hal yang paling membahagiakanmu kan?…”

******

Jongsuk sedang mengobrol dengan Jaehyun di ruang editing saat ponselnya berbunyi. Ia mengerutkan dahi saat melihat nama Kim Soohyun terpampang di layar ponselnya.

“Halo…”

“Jongsuk oppa…”

Jongsuk tak menyangka dapat mendengar suara wanita yang paling ingin ia hindari hari ini, “Sujiya…!”

“Jongsuk oppa, oediya?” tanya Suji yang kini menelepon dari ponsel kim Soohyun.

“na… aku masih di ABTV…kamu lagi sama Soohyun? Ngapain?”

“nee… karena oppa sama sekali gak peduli dengan sms dan teleponku, aku jadi cemas dan meminjam ponsel Soohyun-shi untuk meneleponmu… bisa kita bicara nanti?”

Jongsuk berusaha menolak ajakan Suji, “aku akan sibuk sampai larut malam di ABTV… ada banyak meeting dengan…”

“… aku akan ada ditaman kompleks jam sepuluh malam nanti… datanglah oppa, aku ingin bicara…”

“akan kuusahakan…” balas Jongsuk sebelum menutup teleponnya.

Jaehyun tersenyum jahil melihat wajah syok Jongsuk, “tuhkan, apa kubilang! Suji itu cintanya ya cuma sama kamu… masih gak percaya aja?”

“Suji nelpon dari ponselnya Soohyun tadi…” ujar Jongsuk.

“ck.. itu kan karena kamu gak ngangkat telpon dari nomernya Suji daritadi…” jaehyun gemas sekali melihat Jongsuk yang cemburu.

“aku gak seneng aja Soohyun jadi dekat dengan Suji akhir-akhir ini…”

Jaehyun tertawa mendengar penuturan Jongsuk, “hahaha… Jongsuk-ah, sejak kapan kamu balik lagi kayak jaman smp dulu?? Si jangkung yang pencemburu, overprotektif, dan pemarah… kukira kamu jauh lebih dewasa sekarang… nyatanya… hmmm…”

******

Didalam mobil van-nya, Jieun yang masih tampak kesal setelah memarahi Suji tadi pagi pun berujar kepada managernya, “Dongwoo oppa, antar aku ke Cocktail Bar…!”

“waeyoo? Kamu mau ngapain… ini masih jam lima sore…” tanya Dongwoo.

“sudahlah oppa… aku cuma mau minum sebentar…”

“jangan buat masalah, Jieunah… Produser Lee bisa marah besar…” saran managernya.

Jieun berdecak kesal, “haahhh… itu kalau Jongsuk oppa peduli padaku… sudahlah, antar saja aku ke Cocktail Bar!”

******

flyhigh21

Suji kini berada di dalam mobilnya. Sopirnya, Howon, pun bertanya tujuan majikannya, “nona Bae Suji… anda mau pulang ke rumah?”

Suji menggeleng, “aniya… antar aku ke rumah sakit seoul, howon!”

“Nee…”

******

Di rumah sakit Seoul, Nyonya Bae Jonguk menemui dokter Song yang sedang berada di ruangannya, “Dokter Song Jaerim!”

“Nyonya Bae Jonguk! Anyeonghasimnika?… silahkan duduk!”

“Dokter Song, anda pasti tahu kenapa saya kemari…” ujar Nyonya Bae sambil meletakkan tasnya di kursi sebelah.

Song Jaerim mengangguk dengan pasti, “arra. sepertinya Suji sudah menanyakan pertanyaan yang paling anda takutkan, ya…?”

“apa anda tahu dokter song, bagaimana beratnya kehilangan putri satu-satunya yang sangat kusayang?… wae? Kenapa anda mengatakan semuanya pada Byul tentang masa lalunya?!” Nyonya Bae tak bisa menyembunyikan rasa marah didalam hatinya.

“nyonya Bae, saya, sebagai dokter… tugas utama saya adalah menyembuhkan pasien yang sakit…” Dokter Song Jaerim melipat kedua tangannya ke dada,  “Bae Suji adalah pasien kanker pertama saya di rumah sakit Amerika empat belas tahun lalu, saat dia meninggal dunia di depan mata saya sendiri… saya merasakan kesedihan yang sama dengan anda… tapi, apa yang bisa saya perbuat untuk membuat Bae Suji kembali hidup? Tak ada, nyonya Bae…”

Nyonya Bae menatap wajah dokter Song yang mulai memerah.

“jika anda berpikir bahwa menganggap Byul sebagai Bae Suji akan membuat anda bahagia, maka sejujurnya saya katakan saat ini, apa yang anda lakukan pada Byul merupakan siksaan bagi saya… melihat Bae Suji kembali hidup??? Saya tidak pernah bisa tidur dengan tenang selama ini, Nyonya Bae…”

“Dokter Song, anda marah pada saya karena menggunakan Byul sebagai pengganti Bae Suji?”

“ya… saya sangat kecewa pada anda nyonya Bae… saya yakin, Bae Suji pun akan mengatakan hal yang sama…”

“keuraeso… anda menganggap saya adalah orang tua yang jahat selama ini?”

“ani… saya menganggap anda orang tua yang perlu dikasihani, Nyonya Bae Jonguk…” jawaban dokter Song Jaerim membuat nyonya bae Jonguk terdiam.

******

Setelah Nyonya Bae Jonguk keluar dari ruangannya, dokter Song Jaerim teringat sepenggal kenangan yang tak bisa ia lupakan bersama Bae Suji, empat belas tahun lalu.

“hai…! Aku dokter muda Song Jaerim…!”

“oh?! Anyeonghaseyo! Dokter Song!” sapa Suji yang saat itu masih berusia empat belas tahun. Gadis manis itu duduk diatas ranjang pasiennya dengan tenang.

“hari ini aku yang akan melakukan pemeriksaan rutin karena dokter Kwon Sangwon sedang meeting dengan dewan direksi…” ujar dokter Song sambil mengeluarkan stetoskop.

“aah… arraso…” jawab Suji.

“apa kamu merasa sakit di bagian tubuhmu? Apa efek kemoterapinya membuatmu pusing, Sujiya?” tanya dokter Song.

Suji menggeleng, “Ani.. na gwaenchana…”

“keurae… bagus kalo gitu… kamu minum obat herbalnya dengan rutin kan?”

“obat itu… dokter Song yang meraciknya?” tanya Suji.

“nee… obat penekan efek samping kemoterapi ini adalah obat pertama yang berhasil kubuat…apa obatnya pahit?”

“obatnya gak pahit kok, dok… rasanya semanis senyum dokter…” canda Suji yang berhasil membuat dokter Song tersenyum.

“haha.. kamu bisa saja…”

“aku tahu dokter Song, anda pasti dapat banyak pressure dari dokter Kwon Sangwon untuk bisa menemukan obat yang mampu menyembuhkan sakit kankerku… kurasa, sedikit apreasiasi seperti tadi bisa membuat dokter Song lebih bersemangat… percayalah dok, efek obat yang dokter buat membuatku merasa lebih sehat… dokter berhasil membuat obat ini…”

“gomawo, Sujiya… kamu memang gadis yang baik…”

Suji tersenyum memandang dokter muda dihadapannya itu, “dokter Song pasti akan jadi dokter hebat yang bisa menyembuhkan banyak pasien…”

Song Jaerim melihat seperangkat alat rajut dan tumpukan benang wol di atas laci disamping ranjang Bae Suji, “oh! Kamu belajar merajut ya?”

“nee… aku mau mengirimkan hadiah untuk temanku dikorea…” ucap Suji dengan riang.

“teman pria atau wanita?” goda Song Jaerim.

Suji tersenyum mengingat Jongsuk, “temanku satu-satunya, dok… temanku yang sukarela mengajariku tentang rumus segitiga selama tiga jam tanpa lelah… temanku yang selalu mendorong ayunanku setiap kali kuminta…”

Jaerim mengelus lembut kepala Suji yang tak lagi bisa ditumbuhi rambut, “dia pasti teman yang sangat berharga untukmu…”

“dokter Song, nanti kalau scraft ini jadi, tolong pos kan ya…”

“arrasoyo… sekarang kamu harus istirahat dulu…”

Dokter Song Jaerim mengeluarkan dua buah kotak coklat berukuran sedang. Didalam setiap kotak berisi satu buah scraft rajutan berwarna biru langit yang telah dirajut oleh Suji dulu. Ada sebuah kertas kecil yang menempel di scraft dengan tulisan tangan Suji.

To. Dokter Song Jaerim

Gomapseupnida dok untuk obat yang manis dan senyum dokter yang tak kalah manis hehehe… Aku sudah merasa lebih sehat sekarang. Jangan menangis dok! Aku ini pasien pertama dokter Song kan? Kuharap aku bisa menjadi pasien yang membuat dokter semakin bersemangat menyembuhkan banyak pasien lainnya.

Scraft biru langit ini adalah hadiah yang khusus kupersembahkan untuk dua orang yang sangat menyayangiku tanpa perlu banyak bertanya, salah satunya dokter Song.

Terima kasih sekali lagi dokter Song karena sudah mau mendengarkanku mengoceh dan sudah mau menemaniku merajut. Aku senang dokter Song pernah mengajariku bahwa aku tak kan pernah dilupakan meskipun raga ini pergi. Aku yakin dok, jiwaku akan tetap ada bersama scraft biru langit ini sampai kapanpun. Kuharap scraft ini bisa menghangatkan jiwa anda, dokter Song Jaerim.

Salam sayang, pasien pertama dokter Songjaerim, Bae Suji ^^

p.s.: lain kali, obatnya diberi rasa coklat, ya… hehehe…

******

“selamat sore, nyonya Kim Soeun!” sapa Suji yang kini berdiri di depan pintu kamar pasien Kim Soeun.

“Bae Suji! ada apa kamu kemari? Kamu ingin bertemu dengan dokter Jaerim?” Soeun tak menyangka Suji datang menemuinya. Soeun bisa melihat wajah Suji yang pucat dan tak bersemangat.

Suji menggeleng pelan, “aniya… aku ingin bertemu dengan anda nyonya Kim…”

“denganku? Waeyo?”

“aku ingin mengajukan ide untuk episode terakhir drama Sky of heaven yang anda tulis… saya tahu anda belum menulisnya karena… anda ingin saya yang menentukan ending-nya…”

Soeun terkejut karena Suji mengerti alasan kenapa dirinya belum menulis ending drama Sky of Heaven, “nona Bae… darimana kamu tahu…?”

Suji menyerahkan amplop coklat besar yang berisi naskah drama, “Nyonya Kim… ini ide yang saya buat… skrip ini, saya akan melakukan semua yang saya tulis di skrip ini… anda boleh mengeditnya… tapi saya akan tetap melakukannya… ending dari diri saya ini…”

“nona Bae…” Soeun mencoba untuk mencegah Suji melakukan sesuatu yang hanya akan menyakiti dirinya sendiri, “sebuah fiksi tetaplah fiksi, kamu tak perlu mempercayainya, Sujiya…”

“nae ireum Byul ipnida, Nyonya Kim…” Suji menatap Soeun yang tak bisa menyembunyikan wajah syok-nya, “anda kan yang memberi nama itu pada saya dulu saat saya ditemukan di depan pagar panti asuhan haneuli?”

“Byul-ah…” Kim Soeun merasakan matanya mulai berair.

“nyonya Kim… ani… guru Kim Soeun… gomawoyo…” Suji menunduk penuh hormat kepada Soeun sebelum melangkah meninggalkan kamarnya.

Soeun segera membuka skrip yang ada dalam amplop itu dan membacanya. Soeun tak kuasa menahan airmata saat membaca kalimat terakhir dalam skrip yang ditulis Suji

“Byul Epilog : apa yang menarik dari sebuah kebenaran? Apakah perasaan lega? Kurasa tidak. Aku merasa tak bisa bernafas sedetikpun setelah mengetahui kebenaran mengenai identitasku… buatku, yang menarik dari sebuah kebenaran adalah melepaskan diri dari segala yang mengukung kita… termasuk kehidupan ini…”

******

Suji menekan tombol ‘buka’ di lift rumah sakit. Ia memejamkan matanya sebentar untuk menenangkan dirinya yang hari ini mengalami banyak sekali cobaan berat. Saat pintu lift terbuka, Suji melihat ibu yang sudah empat belas tahun ini merawatnya berdiri dengan wajah syok menatapnya. Suji pun tak mampu mengatakan apapun kecuali, “Ommonim…”

“Sujiya…”

Suji memberanikan diri naik kedalam lift. Begitu pintu lift tertutup, Suji menoleh kearah ibunya dan bertanya, “wae yeogiseo, ommonim?”

Nyonya Bae Jonguk hanya diam dan tak mampu menjawab pertanyaan Suji.

Suji menghela nafas berat dan menebak, “omma bertemu dengan dokter Jaerim kan?”

“Omma hanya ingin bicara denganmu, Sujiya…” sela Nyonya bae pada putrinya.

Suji menggelengkan kepalanya dan berujar, “Omma, aku sudah bilang kan, aku hanya ingin mendengarkan semua tentang Bae Suji…”

Nyonya Bae menutup matanya sekejap dan akhirnya dengan berat hati berkata, “arra… omma akan menceritakan semuanya sesuai keinginanmu…”

“ne?” Suji tak percaya ibunya akan menceritakan semua padanya.

Nyonya Bae menatap Suji dan berkata dengan mantap, “ya, ayo kita pulang… omma akan menceritakan semuanya… tentang Bae Suji…”

******

Jongsuk baru saja selesai rapat di ABTV saat ponselnya berbunyi dari manager Jieun, “wae Dongwoo-ya?”

Manager yang sudah bekerja selama tiga tahun dengan Jieun ini bicara dengan nada yang cemas, “Produser Lee! Adik anda dari tadi masih ada di dalam Cocktail bar…”

Jongsuk bangkit dari tempat duduknya, “kenapa Jieun ke sana? Bukannya dia harus siap-siap buat berangkat ke gunung taebaek?”

“Lee Jieun tadi bilang hanya ingin mampir untuk minum di Cocktail Bar… tapi dia sudah ada didalam selama tiga jam…”jawab Dongwoo, “saya tak bisa masuk ke ruang vvip tempat Jieun biasa minum, produser Lee…”

“arraso… kamu tunggu dulu disana! Aku akan segera menyusul!”

******

Didalam rumah keluarga Jung kini sedang kedatangan tamu. Myungsoo datang untuk makan malam bersama dengan nyonya Jung dan Soojung. Mereka bertiga duduk dikursi makan sambil menikmati makan malam.

Nyonya Jung Jiah menatap Kim Myungsoo yang sedang duduk di kursi makan rumahnya, “jadi… apa yang ingin kamu tanyakan myungsoo-shi?”

Myungsoo menatap Soojung yang duduk disebelah ibunya sekilas sebelum menjawab, “hmm… itu… saya ingin tahu mengenai hubungan kami berempat… apakah kami berempat memang berteman dekat dulu di panti asuhan?”

“nee… kalian berempat sangat akrab… terutama kamu dengan Kim Soohyun…” jelas nyonya Jung.

Myungsoo mengernyitkan dahi, “nee?”

“kim soohyun memiliki nama Tae, Myungsoo-shi punya nama Yang. jika digabungkan adalah ‘TaeYang’ yang artinya matahari… kalian adalah dua pemuda yang sangat energik dan memberi kehangatan buat kawan-kawan kalian dulu di Haneuli…” jawab nyonya Jung.

“jeongmalyo?” Myungsoo tak percaya bahwa dirinya dulu berteman baik dengan seorang hallyu star seperti Kim Soohyun.

“iya… saking akrabnya kalian sering bertengkar karena menyukai hal yang sama…”

“menyukai hal yang sama?” tanya Myungsoo dengan nada heran.

Nyonya Jung tersenyum dan mengangguk, “iya… kalian berdua sering sekali terlibat pertengkaran karena ingin menyenangkan hati Byul…”

“Byul?” Myungsoo mencoba memahami maksud dari gurunya di Haneuli ini.

Nyonya Jung tersenyum kecil, “nama Bae Suji dulu… Byul…”

“hmmm..” Myungsoo memberanikan diri untuk bertanya, “lalu, siapa yang biasanya menang dan bisa menyenangkan hati Byul?”

“itu…” Nyonya Jung Jiah melirik Soojung yang duduk disampingnya. Wajah Soojung berubah gelisah dan tak nyaman. Nyonya Jung tersenyum kecil sambil menatap Myungsoo, “tak ada yang memenangkan hati Byul… karena dari dulu biasanya Byul selalu direpotkan dengan melerai pertengkaran kalian…”

“ahhh….” Jawab Myungsoo yang tak bisa menahan rasa kecewa dari jawaban nyonya Jung.

******

Lee Jongsuk menggendong Lee Jieun kedalam kamarnya. Adiknya yang mabuk berat ini mulai mengigau tak jelas sehingga membuat Jongsuk mengomel, “neo, jinjja, Jieunah… kamu sama sekali gak berubah… masih aja suka mabuk..!”

Jieun merasakan kepalanya pusing mendengar omelan Jongsuk, “oppa, shhh!! Berisik banget sih!! Aku ngantuk, nih!”

Jongsuk geram sekali pada adiknya, “HAHH?!”

“sshhh!!” Jieun menutup mulut kakaknya supaya tak bisa bicara.

Jongsuk pun segera membaringkan adiknya di atas ranjang, “arraso! Tidurlah!!”

Jieun memanggil kakaknya itu sambil menggenggam tangannya, “oppa..”

“wae?” tanya Jongsuk yang kini duduk disamping ranjang Jieun.

“oppa… aku tadi… tadi aku ngelabrak Bae Suji…”

“mworago?!” Jongsuk tak percaya mendengar penuturan adiknya yang mabuk.

Jieun pun menjawab, “aku benar-benar membenci Bae Suji, oppa… aku membencinya…”

“keundae wae? Dulu sebelum Suji pergi ke amerika, kamu selalu menanyakan kapan dia mau main kerumah kita lagi…”

“itu dulu oppa… sebelum Suji berubah seperti saat ini…” jelas Jieun.

Jongsuk mengernyitkan dahinya, “berubah? Maksudmu?”

Jieun memandangi kakaknya dengan mata setengah mengantuk, “oppa, neo jeongmal paboya!… oppa, benar-benar dibutakan cinta ya?… apa oppa gak ngerasa… oppa beneran gak ngerasa Suji yang dulu beda sama yang sekarang??”

Jongsuk tak tahu apa maksud Jieun, “bicaramu ngelantur… udah, tidurlah Jieunah!”

“oppa…” panggil Jieun lagi

“hmmm?”

Jieun pun berujar dengan nada memelas, “oppa, batalin pertunanganmu… dengan bae Suji… jebal oppa…”

Jongsuk membelalakkan matanya, “neee?”

******

Setelah makan malam bertiga dengan Myungsoo, kedua wanita yang sudah sangat dekat seperti ibu dan anak ini duduk berdua di teras rumah mereka. Nyonya Jung Jiah pun menoleh dan memanggil nama anaknya dengan lembut, “Soojungah…”

“nee?”

“neo, Myungsoo-shi johayo?” tanya nyonya Jung.

Soojung tergagap mendengar pertanyaan ibunya, “aa…a..ni..”

Nyonya Jung pun mengangguk, “majja… Soojungah, kamu ternyata suka pada Myungsoo-shi…”

Soojung tampak kesal dengan ibunya, “omma…!”

“wae? Apa yang kamu takutin Soojungah? Kalian berdua cocok kok…”

“aniya, omma… myungsoo gak mungkin suka padaku…dia selalu khawatir pada nona bae Suji..”

Nyonya Jung tersenyum melihat Soojung yang cemburu, “memangnya kalau ada orang yang khawatir dengan orang lain itu tandanya cinta? Hmm?”

“molla…” Soojung berusaha mengelak.

Nyonya Jung merangkul bahu anaknya itu dan berujar, “haebwa, Soojungah… kalau kamu sendiri gak yakin, gimana kamu bisa nuduh Myungsoo suka pada Bae Suji, hmm? Bisa aja kan, mereka hanya saling menyayangi sebagai teman… kalian berempat itu akrab banget dulu, jadi tak ada yang aneh kalau myungsoo sayang pada Suji…”

“omma… aku tak ingin bicara tentang myungsoo lagi hari ini…” ujar Soojung sambil bersandar di bahu ibunya.

“himnaeseyo, Soojungah… membuka memori masa kecilmu perlu proses… kadang proses itu membuatmu tersiksa dan tak sanggup menahan deritanya… tapi percayalah, semuanya akan indah setelah kamu tahu kebenarannya…” jawab nyonya Jung Jiah.

******

flyhigh23

Setelah menidurkan adiknya, Jongsuk keluar kamar dan bertemu dengan bibi yang membantu mengurusi rumahnya. Bibi itu menyerahkan sebuah kotak kepada Jongsuk, “Tuan Lee Jongsuk, tadi sore ada paket untuk anda… saya tak tahu dari siapa tuan lee, karena saya melihat kotak ini sudah ada didepan pintu rumah tadi sore…”

“oh, gomapseupnida…” jawab Jongsuk yang kini menerima kotaknya.

“nee… saya pamit pulang dulu, tuan Lee…”

“nee…”

Jongsuk mengernyitkan dahinya begitu membuka kotak dan melihat sebuah scarf biru muda didalamnya, “apa ini?!”. Wajah Jongsuk berubah menjadi pucat pasi begitu membaca surat dengan tulisan tangan yang sangat ia hafal empat belas tahun lalu.

******

awhitepaper83

Bae Suji menahan udara dingin yang menerpanya malam itu dengan merapatkan jaket yang ia kenakan. Sambil terus berayun, Suji memandangi sekeliling taman kompleksnya yang sepi malam ini. Begitu mendengar suara langkah sepatu, Suji segera berdiri dan menghampiri Lee Jongsuk. Setelah mereka berdua berdiri berhadapan, Suji mulai bicara sambil menatap wajah Jongsuk yang tampak lesu, “Jongsuk oppa…”

“Sujiya…” Jongsuk merasakan tangannya gemetaran disampingnya.

“oppa, apa yang akan kuucapkan setelah ini, oppa percayalah pada kalimat pertamaku saja, arraso?” pinta Suji dengan tatapan sungguh-sungguh.

“ne?” Jongsuk merasa tak berdaya menahan Suji. Tangannya gemetaran dan tak mampu memeluk wanita dihadapannya ini untuk menghentikannya bicara.

Suji menghela nafas sebelum akhirnya berkata dengan jujur, “Jongsuk oppa, nae jinjja ireum… na neun, Byul ipnida…”

“apa maksud… ucapanmu?” Jongsuk berusaha tetap tenang dengan situasi dihadapannya.

“Jongsuk oppa, sebaiknya kita putuskan hubungan ini… let’s break up!” suara Suji terdengar bergetar di telinga Jongsuk.

Produser tampan ini hanya bisa memanggil nama wanita dihadapannya dengan sedih, “Sujiya…!”

“oppa… ani… Produser Lee Jongsuk… selama empat belas tahun ini, aku sama sekali tak mencintaimu…” Suji mengucapkan kebohongan yang membuat airmatanya mendesak keluar. Jongsuk hanya bisa berdiri diam mendengar ucapan Suji. ia tahu bahwa wanita dihadapannya ini berbohong padanya saat ini.

Suji yang melihat Jongsuk tak bereaksi apapun pada ucapannya pun akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan Jongsuk sendirian di taman kompleks.

Begitu Suji pergi, Jongsuk mengambil sapu tangan yang seharusnya ia berikan kepada Suji empat belas tahun lalu yang hingga kini masih ada didalam saku celananya. Jongsuk pun menggunakan sapu tangan itu untuk menutupi kedua matanya yang mulai menetaskan airmata. Tangisan seorang pria yang menyadari bahwa cinta pertamanya kini telah pergi untuk selamanya.

******

please leave a comment or like… thank you

28 responses to “A WHITE PAPER CH 08 [I NEED A COURAGE…]

  1. Wlopun aq dukung myungzy couple rasanya sedih bgt ngliat perpisahan suzy sama jong suk…btw myungzy atau hyunzy??? Aq sih brharap myungzy…klo gak myungzy myungsoo g usah sama siapa2…g relq myung sama siapapun…ahhahaha evillaugh…

  2. duhh sedihh :(( apa suzy jongsuk beneran akan batalin pertunangannya? tapi kayaknya jongsuk juga udah nerima suzy yg sekarang deh dan suzy juga suka sama jongsuk

  3. Setelah sekian chap terlewat dan blum kebaca..hehe..maaf ya..tapi bener makin seruuu ceritanya..next partnya d tunggu ya..

  4. Apa keputusan yg akan diambil Jongsuk? sedih😦
    Penasaran dengan ending yg dipilih sama Byul, akan seperti apa nantinya akhir masalah ini, semoga yg terbaik untuk mereka semua…
    Next partnya ditunggu author, gomawo🙂

  5. Akhir’y ke empat org yg hlang ingatan udah mengeyahui masing. Akankah suzy n jongsuk bneran putus?gmn nsib msing2

  6. Akhirnya semua udah tau jati diri masing-masing, suzy putus beneran sama jongsuk?? Jangan doong sedih bacanya, walau harapannya hyunzy sih

  7. Sadness????

    Sudah kabar menyebalkan trus cerita sedih… Lalu malamku jadi kelam… Kepalaku sakit…

    Part ini emosiku membuncah… Poor Byul..

    Keren makin ke sini makin penasaran…

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s