END (1/?)

end-mybabysuzy-copy

*****

END

KIM MYUNGSOO | BAE SUZY | KANG SORA

SAD | HURT

Story line by Mybabysuzy or RSA
And poster by my lovely eonnie rosaliaocha@ochadreamstories

********************************************************************************************************************************

Sinar matahari yang memberi kehangatan bagi sepasang makhluk adam melalui celah- celah jendela kamar, membuat si gadis menggeliat. Perlahan kedua kelopak mata milik si yeoja terbuka sempurna, menampilkan sepasang bola mata kecoklatan yang terlihat begitu indah. Si yeoja menolehkan kepalanya, menatap lembut sosok pria yang terlelap disampingnya.

Senyum hangat terulas di wajah cantik milik si yeoja , tapi senyum cerah  yeoja itu  perlahan memudar. Terganti oleh sebuah senyuman lirih dengan kedua bola mata milik yeoja itu menatap lirih tubuhnya yang dipenuhi bekas luka. Layaknya gadis cantik itu baru menerima sebuah perlakuan kasar.

“Aku merindukanmu, oppa.”

Sang wanita berkata pelan dengan nada lirihnya, membuat gadis cantik itu terlihat sangat menyedihkan. Dengan teramat hati- hati, si yeoja mendudukkan dirinya susah payah. Mencoba menahan ringisan akibat rasa sakit menyerang daerah vitalnya agar pria disampingnya tetap terjaga dalam tidur lelapnya. Jelas, gadis itu sangat mengetahui pria itu teramat lelah saat ini.

Setelah menunggu beberapa saat rasa sakit yang menyerang daerah vitalnya meluntur, gadis itu bangkit dari duduknya. Melangkahkan kedua kakinya dengan kedua tangan milik wanita itu yang sibuk memunguti pakaiannya yang berserakan entah kemana, dan melangkah untuk membersihkan dirinya.

————————————-

“Myungsoo-ssi, sarapanmu sudah siap!”

Seorang wanita berparas cantik lengkap dengan sebuah apron yang melekat ditubuhnya berseru riang. Kaki jenjang miliknya melangkah mendekati seorang pria yang berpakain rapi khas seorang perkerja kantoran. Tangan sang wanita terulur, beniat untuk membenahi dasi si pria yang terlihat berantakan dan tak tersusun rapi.

Tetapi, sebuah niat baik sang wanita seketika lenyap. Dengan kasar pria itu menghempaskan tangan si wanita, dan membuat wanita itu terperanjat kaget. Tanpa ragu pria bernama Myungsoo melayangkan tatapan tajamnya kepada si wanita, membuat sang wanita menundukkan kepalanya takut seperti seorang murid yang sedang dimarahi oleh gurunya.

“Sudah kukatakan, bukan? Apa aku harus mengulanginya lagi, hah?! Jangan pernah bertingkah layaknya kau adalah seorang istri yang baik, arra?! Kau hanya seorang pelacur pilihan orang tuaku untuk menikmati setiap lekukan tubuhmu! Sadarlah!”

Sooji –wanita itu- tersentak. Sekujur tubuhnya bergetar hebat yang disertai oleh derai air mata yang terus mengalir membanjiri kedua pipi milik Sooji, membentuk sebuah aliran sungai tanpa hulu disana. Sooji mengigit bibir bawahnya hingga mengeluarkan cairan berbau anyir. Wanita itu harus menahan air matanya agar tak mendapat prialku kasar oleh suaminya. Myungsoo membenci wanita lemah.

Seulas senyum sinis terukir diwajah tampan Myungsoo, pria itu tanpa ragu mendorong kasar tubuh Sooji hingga terbentur dinding berwarna putih rumahnya. Sooji yang terlalu lemah saat ini hanya memasrahkan semuanya kepada Tuhan yang tak pernah tertidur.

Wae? Kau gugup, chagi?

Myungsoo membelai mesra pipi milik Sooji membuat sang wanita terhenyak akan kelembutan yang pria itu berikan. Seakan Sooji baru tersadar bahwa kelembutan yang pria itu berikan untuknya hanya sebuah drama belaka, wanita itu mengirup nafasnya dalam berharap dirinya bisa mengurangi rasa sakit yang sangat menyesakkan, untuknya.

Geurae, jika kau tak ingin jujur kepadaku tak apa. Sebagai gantinya kau harus menuruti permintaan suamimu yang tampan ini. Tak ada kata penolakan, sayang.

Sooji mendongakkan kepalanya ragu. Sekuat tenaga wanita itu berusaha untuk bisa menatap kedua maniak hitam yang berada beberapa centi darinya. Kedua alis Sooji bertemu ketika menyadari raut menyeramkan suaminya dengan sebuah senyum sinis. Apa mungkin pria ini akan melakukan hal buruk kepadanya lagi?

“Berdandan secantik mungkin, karena aku akan membawa kedua sahabat baikku untuk menikmati indahnya tubuhmu seperti malam lalu. Kau mengerti?”

Sooji membulatkan matanya tak percaya. Hatinya terasa tergores sebuah pisau mendengar penuturan suaminya. Apa selama ini penderitaanya belum cukup untuk menebus kesalahannya? Apa pria ini akan terus berlaku sedemikian rupa hingga membuat dirinya mati tenggelam dengan luka yang terus mendalam?

“K..kk..kau se..”

Myungsoo tersenyum sinis, pria itu terlihat semakin menyeramkan membuat Sooji mengatupkan bibirnya rapat dan menutup matanya. Seiring ketakutan yang Sooji pendam bertambah, wanita itu semakin tak mampu untuk melawan setiap perlakuan suaminya. Menyedihkan.

“Kiss morning, honey.”

Sooji kembali membuka kedua matanya secara perlahan, memberanikan diri menatap sepasang mata elang yang berjarak beberapa centi darinya. Hati Sooji bergetar menatap rindu sepasang elang yang dahulu selalu menatapnya lembut dan penuh kasih sayang.

“Kau tak ingin memberikanku kiss morning?”

Sooji tetap bungkam, masih menatap sepasang elang yang semakin menatapnya tajam. Myungsoo yang terlihat dikuasi oleh hawa nafsu, dengan kasar meraup bibir istrinya hingga membuat cairan berbau anyir keluar dari bibir Sooji akibat ulah sang suami. Dengan penuh nafsu pria itu mulai memberi tanda kemerahan di leher jenjang istrinya, sembari tangan kananya yang sibuk mengelus paha mulus milik sang istri yang hanya terdiam tanpa membalas.

Setelah puas memenuhi hasratnya, Myungsoo menghentikan aksinya dan menjauhkan wajahnya. Pria itu berdecak karena istri cantiknya itu tak membalas setiap perlakuannya, membuat permainan yang pria itu mulai menjadi tak menantang. Membosankan.

“Sudah kubilang balas permainanku, bodoh!”

Sooji menundukkan kepalanya takut. Sooji akan dengan senang hati jika pria itu melakukannya dengan lembut dan dengan seutuh hatinya, bukan karena nafsu yang mengendalikannya. Bagaimanapun Sooji adalah seorang wanita yang berhak mendapat cinta tulus dari suaminya, menurut hokum yang sah.

“Aku tak akan mempersalahkannya untuk saat ini. Berdandanlah yang cantik dan pakailah pakaian seksi yang sudah kubelikan tempo hari, arraseo?”

Sooji tak menjawab, wanita itu memilih untuk tetap bungkam. Selepas sang suami yang mulai menjauh hingga tak terlihat, seketika tubuh Sooji ambruk. Wanita itu mulai kembali menangis hingga menimbulkan isakan kecil yang terdengar begitu menyakitkan. Tapi, isak tangis itu mulai meluntur ketika penglihatan Sooji mulai buram dan kesadarannya yang menghilang. Wanita itu pingsan.

————————————————-

“Uisanim, apakah dia baik- baik saja?”

Seorang wanita paruh baya mengeluarkan suaranya yang bercampur dengan nada kekhawatiran yang sangat kentara. Kedua kaki wanita itu yang mulai melemah akibat factor usianya melangkah secepat mungkin mendekati dokter yang baru keluar dari ruang UGD. Dokter cantik yang terkenal dengan keahlian yang luar biasa.

“Apa anda ibu dari wanita tadi?” Tanya si dokter sopan.

Wanita paruh baya itu menggeleng cepat, menandakan bahwa perkiraan sang dokter salah. “Aniyo, uisanim. Aku hanya tetangga Sooji yang kebetulan aku ingin memberinya cemilan tapi aku menemukannya tergeletak lemah dan sesegera mungkin membawanya kesini. Apa terjadi sesuatu? Apa aku harus menghubungi suaminya?”

Sang dokter mengulum senyum simpulnya. Dokter berbakat sekaligus yang di anugerahi kecantikan yang luar biasa itu sangat yakin bahwa wanita cantik yang baru saja ditanganinya itu pasti sangat bahagia bisa bertemu dengan sosok seperti wanita tua ini. Bertingkah dan mengkhawatirkan wanita itu seperti seorang ibu.

“Anda tak perlu secemas itu, Nyonya. Wanita bernama sooji itu baik- baik saja, hanya saja keadaan mentalnya sedikit terguncang. Saya tidak tahu penyebab pastinya, tetapi Sooji-ssi sepertinya mengalami hal yang berat karena terdapat memar biru disekujur tubuhnya.”

“NE?”

Wanita tua itu tercengang. Memar biru? Setahu wanita itu, kehidupan Sooji terlihat begitu bahagia karena wanita itu selalu tersenyum cerah dengan mata yang berbinar, meskipun beberapa kali terdengar dari rumah sooji dan suaminya teriakan. Tetapi, bukankah pertengkaran sering terjadi di sebuah rumah tangga?

“Nyonya, anda baik- baik saja?”

“Ah, ye. Gwenchanhaseyeo, uisanim. Apa Sooji perlu mendapat perwatan khusus atau Sooji perlu dirawat disini?”

Sang dokter kembali mengulum senyum ramahnya. Rasanya begitu menyenangkan setiap kali melihat seseorang mengkhawatirkan pasiennya berlebihan. Dirinya seperti mengingat sosok ibunya yang selalu mengkhawatirkan keadaanya berlebihan. Sama pesis.

“Anda tak perlu cemas, Nyonya. Ny. Sooji tak perlu mendapat perawatan khusus atau harus dirawat disini, kecuali untuk keadaan janinya yang sedikit lemah. Ny. Sooji harus sering beristirahat dan harus merileksan mental dan tubuhnya. Kami akan membantu menguatkan janinya dengan beberapa obat.”

Lagi dan lagi wanita tua itu tercengang, menunjukkan raut tak percayanya yang begitu jelas terlukis di wajah cantiknya yang mulai mengeriput.

“So.. sooji, hamil?”

Sang dokter mengangguk yakin sembari tersenyum, mencoba sesopan dan seramah mungkin kepada pasien dan keluarga pasien yang menjadikan dirinya sebagai panutan dokter lainnya. Bahkan dokter bernama Kang Sora itu menjadi dokter terbaik seantreo Seoul. Sangat menakjubkan.

“Ne, anda dapat melihatnya kemudian anda bisa menebus obat setelah saya memberi resep. Anda dapat menemui saya diruangan saya setelah menemui Ny. Sooji. Saya permisi.”

Wanita itu menganggukkan kepalanya, lalu mengulum senyum bahagianya sembari beberapa kali mengucapkan terimah kasih kepada sang dokter yang luar biasa itu. Dokter cantik dengan bakat dan keahlian yang diatas rata- rata.

“Jeongmal ghamsahamnida, uisanim.”

——————————————————-

“Sooji, kau sudah sadar?”

Sooji yang sedang memfokuskan penglihatannya yang buram itu mengangguk kecil. Tubuhnya terlalu lemah hanya untuk mengeluarkan suaranya, tenggorokkannya juga terasa sangat kering. Kerutan di dahi Sooji mulai terlihat ketika indra penciuman Sooji menangkap bau obat yang seperti menusuk hidungnya. Tak lupa dengan dinding putih dan perlengkap serba putih yang membuat Sooji semakin bingung ketika kedua matanya terbuka sempurna.

“Han halmeoni, wae naega yeoggisseo?”

Nenek han –wanita itu- mengulum senyumnya, tangan miliknya terulur menggenggam erat tangan mungil Sooji dan membelai pipi Sooji lembut. Sooji yang melihat eksperi tak terbaca nenek han semakin mengeryit. Sebenarnya apa yang terjadi?

“Han halmeoni, wae geurae?”

“Chukkae, Sooji-ah. Setelah sekian lama aku menunggunya, akhirnya keinginanku terkabul. Kau juga tahu semenjak pernikahan kalian satu tahun lalu dan pindah disamping rumahku, aku selalu berharap akan merawat cucu darimu dan suami tampanmu. Kau hamil, Sooji.”

“NE?”

Sooji membulatkan matanya tak percaya. Apa mungkin diirnya sedang bermimpi aneh? Bukan. Jika memang ini adalah nyata, Sooji sangat bahagia karena semenjak dirinya lulus kuliah harapannya adalah membesarkan seorang anaknya. Tetapi, bagaimana kelanjutan hidupnya dan calon anaknya jika keadaan buruk seperti ini? Apa Sooji bisa melakukannya?

“Aigoo, kau pasti belum mengetahuinya. Mulai sekarang kau harus menjaga kesehatanmu karena kau sedang bertanggung jawab dengan satu nyawa lainnya. Dokter bilang kau harus mengkonsumsi obat untuk menguatkan janinmu. Kau harus mematuhinya, arrasseo?”

Sooji hanya mengangguk lemah sambil tersenyum kikuk. Sepertinya suama ini memang kenyataan, bukan khayalan atau sebuah mimpi saja. Kehidupan Sooji mungkin akan lebih sulit setelah ini. Takdir sepertinya sangat tak berpihak kepadanya.

Ne, halmeoni. Hajiman, berapa lama aku pingsan?”

“Geullsae, aku menemukan jam 8 pagi. Dan sekarang sudah jam 3 sore, sepertinya kau tertidur sangat lama. Mungkin kau kelelahan, maka dari itu mulai sekarang kau harus lebih menjaga kesehatanmu, Sooji. Kau harus menurut.”

Sooji tersenyum tipis sembari mengangguk kecil. Sebenarnya kebahagian akan calon anaknya dan perhatian dari tetangannya ini begitu membuncah didalam hatinya. Tetapi, setiap kali Sooji mengingat kehidupannya kebahagian itu seketika meluntur terganti dengan ketakutan dan kekhawatiran.

“Sooji-ya.”

“Ne? Wayeo, halmeoni?”

Nenek han tersenyum tulus, tangannya kembali terulur menggengam dan membelai pipi Sooji lembut. Mungkin selama ini wanita tua itu telah tertipu oleh kederian dan kebahagian yang Sooji selalu tunjukkan ketika mereka bertemu dan saling berbincang. Bahkan nenek han baru sadar jika pernyataan Dokter kang benar, beberapa memar biru terdapat dilengan Sooji.

“Aniya, gwenchanha.”

Sooji tersenyum menanggapinya, sembari mengangguk mengerti.

“Ahya, aku harus menemui Dokter Kang dan menebus obatmu.”

———————————————-

Sooji mengalihkan pandangannya dari ponsel canggihnya ketika decitan pintu kamarnya terdengar. Meskipun Sooji tak dirawat, karena Sooji terlalu lama pingsan. Nenek han memutuskan untuk memindahkan Sooji keruang ICU agar Sooji merasa nyaman. Sooji mengeryit ketika pintu putih itu terbuka menampilkan sosok wanita yang berbalut jas putih dengan senyum ramah yang membuatnya terlihat begitu cantik.

“Nuguseyeo? Apa anda Dokter Kang?”

Sora mengangguk sambil tersenyum, kemudian wanita cantik itu mendekati ranjang Sooji dan duduk disamping ranjang sementara Sooji hanya melihat dokter cantik itu dengan tatapan herannya. Mengapa Sooji merasa dokter cantik ini bertingkah sedang mendekatinya?

“Ne, saya Dokter Kang yang menangani kau tadi, Sooji-ssi. Bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik?”

Sooji mengangguk seraya tersenyum kikuk karena dugaannya semakin membesar bahwa dokter cantik ini sepertinya sedang bertingkah mendekatinya. Bahkan dokter itu tak memanggilnya dengan embel- embel nyonya, karena dirinya disini berperan sebagai seorang pasien.

“Hoksi.. “

Sooji menggantungkan kalimatnya. Wanita itu ragu untuk melanjutkan kalimatnya, takut jika dokter cantik ini tersinggung dengan perkataannya. Di sisi lain, Sora mengulum senyum simpulnya seraya mengangguk membuat Sooji membulatkan matanya sempurna. Apa wanita ini bisa membaca pikirannya atau semacamnya?

“Ne, aku sedang mendekatimu. Aku ingin kita berteman, dan menurutku usia kita tak berbeda jauh. Mungkin aku lebih tua daripada dirimu beberapa tahun, bukankah aku benar?”

“Ne?”

“Wae? Shirreo?”

Sooji yang masih terpengarah, seketika mengeleng reflex. Sooji bingung harus melakukan apa, jika ia menolak pasti dokter yang menanganninya akan tersinggung. Lagipula sepertinya dirinya membutuhkan sosok teman. Terlebih Dokter kang terlihat seperti sosok yang menyenangkan.

“Jinjja? Kau mau berteman denganku?”

Sooji menggaruk tengkuknya tak gatal, sembari mengangguk lagi.

“Ne.”

“Omo! Gomawo!”

————————————————

Terlihat Sooji, wanita malang yang sedang mendekap lututnya erat. Kedua bola matanya menerawang kosong tanpa tujuan, seiring cairan bening yang menerobos keluar dari kelopak matanya membasahi kedua pipinya membentuk aliran sungai kecil di sana. Seperti inilah keadaan wanita itu setiap kali sang suaminya pergi. Meratapi kebodohan dan nasib sialnya. Menyedihkan.

Kebodohan? Kebodoahn terbesar yang Sooji miliki adalah setiap kali Sooji mencoba untuk pergi meninggalkan segala yang lukanya, Sooji tak mampu dan tidak akan bisa. Hanya karena sebuah alasan bodoh yang ia miliki.

Yaitu cinta. Meskipun berulang kali sang suami memperlakukannya kasar dan sangat buruk, bahkan menganggapnya hanya seorang pelacur. Perasaan dan hati Sooji tak berubah sedikit pun. Cinta yang Sooji miliki tak pernah meluntur sekali pun, bahkan cintanya semakin besar dan membuatnya ingin mati ketika menyadari kebodohannya. Kebodohan yang membawanya ke jurang luka dan sialnya Sooji terjebak di jurang itu.

‘Cklek’

Seakan Sooji adalah seorang wanita tuli. Sooji mengabaikan suara decitan pintu kamarnya, dan lebih memilih untuk melanjutkan kegiatannya. Meratapi nasibnya yang hanya menghasilkan air mata yang tak pernah mengering. Seolah Sooji memiliki puluhan liter air mata yang ia simpan.

“I’m here, honey. Let’s play the game.”

Sooji terkesiap sejurus kepalanya yang mendongak pelan hendak mengetahui keberadan suaminya dan memastikan pria itu sendirian. Helaan nafas lega Sooji hembuskan ketika ia dapat melihat jelas pria itu sendirian mendatangi kamarnya. Sepanjang hari ini Sooji memang berdoa disela wanita itu meratapi nasibnya, agar sang suami membatalkan rencana konyol yang akan meluaskan luka yang Sooji miliki.

Seketika sekujur tubuh Sooji merinding ketika Myungsoo mengeluarkan smirknya yang membuat pria itu terlihat menyeramkan. Sooji jelas tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Jika biasanya dirinya hanya menerima semua perlakuan Myungsoo, tetapi bukankah keadaannya yang sekarang membuatnya harus menolak mala mini?

“Sebelum kita memulai permainan ini, aku akan memperingatimu. Terlalu bosan jika kau hanya diam seperti patung, kau harus mengikutinya, okey?”

Sooji tak menjawab. Wanita itu menundukkan kepalanya dan menenggelamkan kepalanya dikedua lututnya. Kedua tangannya Sooji gunakan untuk memeluk lututnya, diirnya tak mau meladeni nafsu Myungsoo. Yang ia tahu ketika seseorang wanita mengandung, tidak boleh melakukan hubungan intim untuk menjaga kesehatan kandungannya. *author hanya ngarang,hehe.

Myungsoo menatap tak percaya istrinya yang sedang bertingkah seakan menolak perlakuannya. Meskipun pria itu jelas tahu Sooji tak pernah menginginkan setiap perlakuannya, tetapi sang istri tak pernah bertingkah menolak dan selalu hanya menurut.

“Wae? Kau menolakku?”

Myungsoo melangkah mendekati Sooji dan duduk disamping Sooji. Kerutan didahi Myungsoo nampak sesaat isak tangis tertahan terdengar oleh indra pendengaranya. Wanita ini menangis? Yang benar saja. Apa Sooji berfikir seorang Kim akan luluh dan memberikan belas kasihan kepada wanita seperti Sooji?

“Ah, neo urro? Kau fikir aku akan mengasihanimu? Kau sepertinya telah melupakan apa hal yang paling kubenci, chagi. Kau tahukan aku sangat membenci wanita lemah seperti mu, terlebih jika wanita itu adalah pembawa sial yang mengemis belas kasihan. Hentikan atau kau akan mendapat hukuman dariku!”

Seketika Sooji menghentikan tangisannya sejurus kepalanya yang mendongak, tak lupa wanita itu menyeka kasar air mata yang membanjiri pipinya. Sooji mengigit bibir bawahnya, tak tahu apa yang harus ia lakukan. Keadaannya sangat rumit.

“Good job, let’s play baby.”

Sooji menggeleng cepat, meski keraguan menggelayuti hatinya. Sepasang bola mata milik Myungsoo menatap wanita lemah itu tajam. Pria itu menggeram kesal, dan mencengkram bahu Sooji. Secepat kilat Myungsoo mendaratkan bibir tipisnya diatas bibir ranum milik istrinya dan melumatnya kasar.

Sooji memberontak, wanita itu memekik dalam hati. Tangannya yang lemah ia gunakan untuk memukul bahu sang suami, berharap bisa melepaskan tautan yang suaminya buat. Bukannya berhenti melakukan aksinya, Myungsoo semakin kasar dalam permainanya. Kedua tangan milik Myungsoo mulai melakukan aksi nakalnya, mencoba melucuti pakaian sang istri dari tubuh ideal Sooji.

Sooji menggeleng kuat sejurus memekik dalam hati mencoba untuk mengumpulkan seluruh tenagannya untuk menghentikan aksi suaminya. Susah payah Sooji berusaha untuk menendang perut suaminya hingga Myungsoo terdorong ke ujung Kasur.

“Ak.. aku tak bisa melakukannya!” Pekik Sooji.

Myungsoo terlihat menggeram hingga mengepalkan kedua tangannya. Pria itu melayangkan tatapan tajam kepada Sooji yang merinsung memeluk kedua lututnya dengan tubuh yang bergetar. Myungsoo tak mengerti bagaimana bisa istrinya yang lemah bertingkah seperti ini?

Amarah Myungsoo yang hampir meledak, pria itu dengan kasar menarik tangan Sooji yang sibuk memeluk lututnya. Sekasar yang Myungsoo bisa, pria itu hempaskan tubuh Sooji dan mulai melanjutkan aksinya. Sooji terus merontak, tetapi tenganya terlalu lemah untuk melawan seorang pria kuat seperti suaminya.

“An.. dwae..” Lirih Sooji.

Myungsoo tak menghiraukannya, pria kejam it uterus melanjutkan aksinya tanpa ampun. Amarah dan nafsunya telah mengendalikan seluruh tubuhnya. Hati Myungsoo seakan buta, tak menghiraukan lirihan dari bibir Sooji. Tak mempedulikan seberapa banyak luka yang ia berikan kepada Sooji. Karena menurutny, Sooji pantas mendapatkan semua ini.

Wanita yang menghancurkan kehidupan dan masa depannya.

Sooji meringis ketika Myungsoo semakin mencengkram kedua bahunya hingga terdapat tanda merah disana. Selepas pria itu menyantap bibir ranum Sooji, pria itu mulai mencumbui leher jenjang Sooji. Sooji yang di beri kesempatan untuk berteriak lantas memekikan suaranya.

“AKU SEDANG HAMIL! AKU HAMIL!”

Myungsoo menghentikan aksinya. Pria itu menatap wajah Sooji yang basah karena air matanya yang terus berjatuhan, dengan pandangan yang sulit diartikan. Sebuah smirk khas Myungsoo ulaskan, membuat pria itu terlihat menakutkan. Sangat.

“Lalu?”

——————————

Okay, okay. Maafkan author yang buat cerita ini sedikit dewasa dan banyak kata yang kurang berkenan. Untuk mnext part author usahakan secepatnya dan lebih baik. Terimah kasih.

Give me comment and like:)

33 responses to “END (1/?)

  1. aku baru sempet baca hehe….
    wah myungsoo kejam banget. oh tidak…. kasian banget suzy nya janinnya lemah juga poor suzy😦

  2. heehh ,, myung kok kejem bgt ma suzy.. sedih bgt itu..
    myung nyeremin ahh,, myung jelek!

    tp bagus ceritanya thor nim. good job!

Comment, Please!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s